Wilayah Adat

Ngata Powatua Winatu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Powatua Winatu
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi
Desa Winatu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 10.154 Ha
Satuan Ngata Powatua Winatu
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Tovulu Tanda batasnya: Ulu Hupui, Bulu Langko, Ulu Ue Kasimpo, Bulu Ranomajolo, Bulu metuwu
Batas Selatan Desa Lempelero Tanda batasnya: Bulu loka, Bulu Hamutia, Bulu Matantimali, Batas Jalan Lama, Ue Hupui
Batas Timur Desa Makuhi Tanda batasnya: Ulu Ue, Dangko, Lempelero, Kalina, Poparua, Lantabanga wongko, Bulu Tutu Baliane, Bulu Tomoru
Batas Utara Desa Lonca Tanda batasnya: Uwe Uma dan Bulu Simek

Kependudukan

Jumlah KK 380
Jumlah Laki-laki 435
Jumlah Perempuan 468
Mata Pencaharian utama Bertani ( ladang basah dan Kering )

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Menurut masyarakat setempat dan mereka sangat meyakini bahwa Desa winatu atau masyarakat adat Powatua itu Sudah ada sejak 700 tahun yang lalu, ini ditandai dengan 8 kalinya Lobo ( Bahasa setempat adalah Rumah Adat ) berpindah dan diperbaiki. Masyarakat winatu atau masyarakat adat Powatua sendiri meyakini bahwa Lobo ( Rumah Adat ) akan diganti atau diperbaiki setelah berumur kurang lebih dari 100 tahun. Jauh sebelum kedatangan Kolonial Belanda di Kulawi, maka dulunya Desa Winatu dikenal dengan Ngata ( Penyebutan nama Desa dengan bahasa setempat ) To Powatua. Hingga pada akhirnya masyarakat Adat Powatua berganti nama desa menjadi Desa Winatu atas Prakarsa Kolonial Belanda agar mereka bisa lebih mudah mengucapkan dan mengingat.
Penamaan Desa Winatu berasal dari nama panggilan seseorang yang dikenal dengan nama Tomanatu. Menurut bahasa setempat ( Bahasa Moma ) Tomanatu artinya adalah Bapaknya Natu, yang mana kata Toma ( Bapak ) disandangkan bagi seorang laki-laki yang sudah menikah dan memiliki anak. Oleh masyarakat setempat dan masyarakat desa tetangga tidak asing lagi dengan nama Tomanatu tersebut karena si Tomanatu tinggalnya tepat berada di perbatasan masuk ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) dan tepat pula diujung pendakian. Karena letak rumah yang strategis membuat orang yang akan masuk atau keluar Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ), menjadikan rumah Tomanatu untuk tempat peristirahatan sementara. Hingga pada akhirnya masyarakat setempat dan masyarakat tetangga menganggap nama Tomanatu sama halnya dengan Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) dan menganggap Tomanatu adalah bagian dari Ngata ( Desa ) tersebut. Misalnya, jika seseorang ingin pergi ke kampung lain cukup hanya dengan mengatakan kepada orang atau pamitan kepada keluarga untuk turun ke rumahnya Tomanatu, maka dengan sendirinya orang – orang dan keluarga akan paham jika dia ingin keluar Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) untuk ke Desa tetangga yang lain. Begitupun sebaliknya jika seseorang ingin mau ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ), cukup hanya dengan mengatakan mau pergi naik kerumahnya Tomanatu, maka dengan sendirinya pula orang – orang atau keluarga tahu bahwa dia ingin ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ). Penyebutan nama Tomanatu sebagai gambaran Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) terus dilakukan sampai pada saat kedatangan bangsa kolonial belanda. Hingga akhirnya bangsa kolonial belanda mengganti nama Ngata ( Desa ) To Pewatua menjadi Ngata ( Desa ) Winatu hingga sekarang ini. Dan juga penduduk winatu dulunya berpindah-pindah tempat.
Berawal dari (1)Longku (tempatnya banyak penyakit, lalu berpindah ke (2)Bulu Langa/Gunung Panjang (karena tempatnya sering terjadi perang antar kampung) lalu berpindah lagi ke (3)Bolahai (karena tempatnya terbakar) lalu berpindah lagi ke (4)Panakea (kerana seperti mendapat petunjuk dari mimpi lalu mereka berpindah ke (5) winatu(sampai sekarang). Sebelum tahun 1916 Agama Injil sudah mulai masuk ke perkampungan dan dibangunlah Sekolah Dasar (SD) untuk menambah pengetahuan masyarakat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang menurut aturan adat yang berlaku di komunitas Powatua ( Desa Winatu ) meliputi beberapa bagian, yaitu :
Wanangkiki
adalah Hutan lebat yang berada sangat jauh dari pemukiman penduduk yang tak pernah diolah tapi bebas kalau ada yang mengolah.

Wana
adalah Hutan lebat yang berada kurang lebih dari 5 kilometer dari pemukiman penduduk. Wana diyakini adalah hutan yang memberi penghidupan bagi masyarakat dan harus dijaga kelestariannya. Dan sumber penghidupan masyarakat desa Winatu, yang mana pemanfaatannya adalah sebagai sumber mata air, untuk mencari damar, mengambil kayu untuk pembangunan rumah, mengambil rotan dan obat-obatan.

Punulu
adalah hutan atau lahan yang sengaja diperuntukan untuk keberlangsungan hidup masyarakat setempat, yakni hutan atau lahan yang sengaja dipersiapkan untuk areal perkebunan atau perladangan.

Oma
adalah lokasi perkebunan masyarakat yang sementara diolah yang tanamannya merupakan tanaman tahunan dan tanaman bulanan (jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran dll)

Balingkea:
bekas kebun yang masih baru dan belum sepenuhnya ditinggalkan oleh pemiliknya karena masih ada tanaman yang mungkin masih berbuah, seperti rica, tomat, terung dan kacang panjang. Balingkea dibagi lagi menjadi 3 yaitu:
- Oma Nete: bekas kebun yang sudah mulai berumur 1 sampai 5 tahun.
- Oma Ntua: bekas kebun yang sudah mulai berumur 6 sampai 12 tahun.
- Pahawa Pongko.Pengale: bekas kebun yang sudah berumur 12 sampai 25 tahun dan sudah kembali menjadi hutan lebat
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Powatua ( Desa Winatu ) dibagi menjadi 3 yakni :
1. Pepunulua adalah kepemilikan perorangan atau perkeluarga.
2. Panguru adalah kepemilikan secara bersama-sama atau biasa dikenal dengan Komunal. Contohnya adalah pembukaan kebun secara berkelompok atau secara bersama-sama dan hasil panennya pun dibagi secara merata.
3. Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya. Molamara yang dimaksud adalah sebuah kandang ternak.
 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Ada Winatu
Struktur Struktur kelembagaan adat terdiri dari : 1.Maradika/ketua 2.Topo uki/wakil ketua 3.Galara/Utusan,Pembicara 4.Pabisara/Penasehat 5.Tondo/Keamanan 6.Tina Ngata/Ibu Kampung
Tugas dan fungsi masing-masing adat adalah :
1. Maradika: pemimpin atau kepala adat, mengatur masalah adat, baik ritual maupun pradilan adat dan juga mengatur tentang lahan

2.Topo Uki: wakil ketua yang berfungsi menggantikan kepala adat jika tidak berada ditempat.
3. Galara: orang yang dipercayakan sebagai penghubung dan komunikasi.

4. Pabisara: orang yang dipercayakan sebagai pembicara dalam proses peradilan sampai pembacaan kuputusan.

5. Tondo: orang yang dipercayakan sebagai penjaga keamanan, baik dalam proses sidang adat maupun kemanan Ngata ( desa )

6. Tina Ngata: sebagai penengah atau mendinginkan suasana jika didalam sidang mulai beradu argumen.
 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Megombo Ada
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercock tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb:
1.Motangara/Morapa(membicarakan masalah,tukar pikiran)
2.Molibu(membahas perkara),
3.Motutu(memediasi secara sepihak)
4.Mototo(merumuskan masalah tanpa ada yang bermasalah didalam rapat),
5.Mobotohi ( Membicarakan Masalah, Menganalisa Masalah, Menimbang Masalah Secara Bersama dan Pengambilan Keputusan ).
Proses Pengambilan Keputusan di Ngata Winatu dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

1. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, seperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
2. Memperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua.
 
Aturan adat yang mengatur pranata sosial adalah :
1. Ada Mpojama: pengaturan kerja, Baik itu kerja bakti desa atau kerja kebun
2. Ada Mpompinaturu: aturan untuk penggembelaan, baik secara kelompok maupun secara perseorangan. Penggembelaan secara komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut dengan Lamuru. Juga mengatur perselisihan kepemilikan hewan ternak.
3. Ada Mpopanta: aturan untuk mekanisme pembagian harta, baik harta orang tua maupun harta suami istri
4. Ada Mometulungi: aturan yang mengatur tatanan social, seperti gotong royong dan saling tolong menolong.
5. Ada momepopone jamoko: aturan yang mengatur perkawinan
6. Ada Mpampontumpu: aturan yang mengatur tentang kepemilikan lahan atau tanah
Contoh:
- Masuk kedalam kamar wanita yang belum kawin tanpa permisi atau tanpa persetujuan tuan rumah ( orang tua wanita ) dan wanita tersebut. Maka akan dikenakan sanksi berupa 1 ekor kerbau atau 1 ekor babi. Sanksi yang akan dikenakan tergantung berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan.

- Mosalara ( berzina ) : akan dikenakan denda 4 ekor kerbau. Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahui melakukan perzinahan atau disebut biasa dengan selingkuh, maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau tersebut akan dibagi yakni 3 ekor buat istri pelaku dan 1 ekor buat suami pelaku

- Perpisahan suami istri, jika pihak istri yang menggugat maka wajib membayar sanksi uang 3juta yang diberikan kepihak laki-laki dan masing masing membayar 1.500.000 untuk diberikan ke lembaga adat.
 
Bila masyarakat melanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan adat yang berlaku.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu singkong, labu, tomat, timun, bawang, rica, langsat, rambutan, durian, alpokad, nanas, manggis, kelapa,mangga, pisang,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tainyara : untuk penyakit dalam Tavo’o : Penurun panas (bisa diminum semua usia) Pakumba : Untuk menyembuhkan bisul dan panas tinggi. Lumut : untuk menghentikan darah atau pendarahan. Katumbara : untuk luka dalam. Tomanara : Diperuntukan bagi ibu yang selesai melahirkan.
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun Rumbia untuk atap rumah adat, kayu bulat untuk tiang, Kayu Uru, Kayu Cempaka, Kayu Kumir, Kayu Jati
Sumber Sandang 1. Kulit kayu Umayo dan Kuva untuk pakaian 2. Buah pohon Ula: Pewarna alami (Coklat muda dan coklat tua)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun Lemon, Arogo, Onco, Rampantobu, Bombo Rempah-rempah tersebut digunakan untuk penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kelapa, padi cengkeh dan vanili

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No. 15 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan MHA 15 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan MHA Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 Keputusan Bupati No: 189.1.521 tahun 2015 tentang PPHMA To Kaili dan To Kulawi 189.1.521 tahun 2015 PPHMA To Kaili dan To Kulawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen