Wilayah Adat

Ompi Kotib - Tebilai

 Terverifikasi

Nama Komunitas Bidoih Mayao Ompi Kotib - Tebilai
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SANGGAU
Kecamatan Bonti
Desa Tunggul Boyok
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.416 Ha
Satuan Ompi Kotib - Tebilai
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Wilayah Adat Ompi Petuo desa Tunggul Boyok, Tanda batasnya: Nsidek, Keladon Kudok, Poya Bolao, Dorik Sopapon't Wilayah Adat Ompi mamal desa Sami, Tanda batasnya: Poya Bolao, Sungi Sonomong, Jorining Sonomong, Nongi Sungkor, Utak Bolao Wilayah Adat kampung Sedua desa Bahta Tanda batasnya: Nongi Sungkor, Utak Paloh Sago, Nalo Obao, Tolok Polabos, Utak Sobulu
Batas Selatan Kampung Bahta, desa Bahta, kecamatan Bonti Tanda batasnya: Towung Joronang, Dorik Oris, Nalo Sobakng/Usak Sereban, Dungkan't Sonalokng/Pulao Tingang, Jorinikng Morunti, Utak Ngkaros, Utak Sobulu, Utak Sungi Narot
Batas Timur Wilayah Adat Ompi muara Ronai, desa Sebombat, Kecamatan Jangkang, Tanda batasnya: Utak Sungi Narot, Tapokng Borimai, Jerining Salur
Batas Utara Ompi Boyok, desa Tunggul Boyok,kecamatan Bonti Tanda batasnya: Keladan Kudok/Utak Muaro, Jerining Sakur, Tatae Mowek, Saka Dua, Songkut, Amun Monok, Sungai Urap, Sotutn, Mosu, Sungai Mosu, Entiop, Dadongk, Engkamp, Dampoh Tunam.

Kependudukan

Jumlah KK 132
Jumlah Laki-laki 273
Jumlah Perempuan 235
Mata Pencaharian utama Berladang , Menoreh Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Dayak Mayao berasal dari daerah sungkung di kabupaten sambas. Pada mulanya mereka mengembara untuk mencari daerah yang subur yang dianggap cocok untuk berladang. Dalam pengembaraanya selama bertahun- akhirnya sampailak ke daerah Mayao di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Daerah yang mereka temukan hutannya penuh dengan hewan buruan dan aneka ragam tumbuhan baik untuk bahan bangunan maupun tanaman obat tradisional, dan sungainya banyak ikan. Setelahnya merasa cocok ditempat tersebut mulailah mereka mendirikan pemukiman yang di beri nama kampung Tamputn Romun. Tidak diketahui berapa lama tinggal di kampung tersebut Kemudian berpindah ke suatu tempat di sekitar sungai Tebilai. Akan tetapi karena terserang wabah penyakit sampar akhirnya sebagian dari mereka menuju tempat ke wilayah yang terdapat banyak pohon kotib di sekitar sungai kotib. Disini terjadi perpecahan tempat tinggal. Ada yang masih menetap di Tebilai dan sebagian lagi menetap di Kotib. Di wilayah Tebilai sebelumnya bermukim di Panci, Monggut dan Libok Koraow. Sehingga tempat-tempat tersebut saat ini sudah menjadi tomawakng. Tidak diketahui secara pasti tahun berapa terjadi perpindahan tersebut. Adapun alasan perpindahan karena terserang wabah sampar dan mencari tempat untuk memudahkan bercocok tanam. Sedangkan di wilayah kotib sebelumnya di Kobilai dan Muntuh.
Dalam sejarahnya tercatat beberapa peristiwa penting yang dialami oleh komunitas setempat. Interaksi yang terjadi antara komunitas adat dengan Belanda pada waktu itu bersifat netral artinya tidak ada perlawanan atau peperangan yang terjadi. Pada zaman penjajahan Belanda juga masuk tanaman karet. Belanda memberikan tanaman karet untuk ditanam di lahan masyarakat. Siapa yang mau menanam diberikan upah (Koput) walaupun nantinya tanaman karet tersebut akhirnya menjadi milik masyarakat.
Sekitar tahun 1940 Tentara Jepang datang ke wilayah adat Ompi Kotib – Tebilai. Saat itu tidak ada perlawanan yang terjadi antara masyarakat dengan tantara Jepang. Pada zaman Jepang terjadi kekerasan terurama pada anak perempuan yang belum menikah. Mereka dipaksa untuk dibawa oleh tentara Jepang. Orang tua pada zaman itu banyak yang mengawinkan anaknya walaupun masih dibawah umur. Ini dilakukan supaya tidak ada anak perempuan yang dibawa paksa. Tahun 1943 sudah ada pembuatan jalan yang menghubungkan wilayah Bonti ke Bodok. Ini dikerjakan oleh masyarakat setempat dibawah pengawasan tantara jepang.
Peristiwa penting lainnya setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1946 seorang misionaris bernama Pastor Yoseft Herman masuk ke wilayah Kotib untuk menyebarkan Agama Khatolik. Pastor Yoseft Herman kemudian mendirikan sekolah misi. Sekolah Misi merupakan sebutan untuk sekolah yang diselenggarakan oleh misionaris khatolik. Adanya sekolah misi banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Hampir setiap hari di Ompi Kotib dididik atau dibina secara Khatolik. Sejak masuknya ajaran agama kepercayaan yang mereka anut sebelumnya hampir hilang. Namun demikian saat ini masih ada beberapa orang yang tetap bertahan pada adat dan tradisi yang telah diwariskan.
Terjadi perubahan dalam tatanan pemerintahan. Awalnya sebutan kecamatan disebut dengan Damang. Sedangkan tingkat Kabupaten disebut dengan Kewedanan. Sehingga pada waktu itu Kecamatan Bonti bernama Kedamangan Bonti. Tahun 1940 mulai terbentuk dusun sehingga kepala adat waktu itu otomatis menjadi kepala dusun. Tahun 1989 terbentuk Desa Tunggul Boyok yang menaugi 4 dusun diantaranya: Dusun Kotib, Dusun Tebilai Dusun Tetuo, dan Dusun Boyok. Tahun 1970 kembali terjadi pergantian sebutan dari damang menjadi camat. Sehingga Namanya menjadi Kecamatan Bonti.
Kelembagaan adat yang ada mulanya hanya satu dibawah kepemimpinan Ketua Adat Lahat. Namun karena akses yang jauh dan tidak maksimal dalam memberikan pelayanan dalam bidang adat maka sejak tahun 1973 dipecahlah kelembagaan adat menjadi dua namun tetap satu dalam kewilayahan Ompi Kotib-Tebilai.
Tahun 1940 dibangun Rumah Betang atau Rumah Panjang. Dimana Rumah Betang tersebut merupakan rangkaian tempat tinggal bersambung yang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya. Bagi masyarakat Rumah Betang menjadi cerminan kehidupan masyarakat adat yang penuh rasa kekeluargaan. Penghuni Rumah Betang sangat taat dan patuh pada adat istiadat yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun. Namun sekitar tahun 1962 keluar sebuah peraturan dari pemerintah yang mengharuskan Rumah Betang dibongkar. Alasannya rumah betang tidak sesuai lagi dengan program pembangunan. Rumah betang dianggap tidak sehat dan apabila terjadi kebakaran pada rumah yang satu maka semua rumah ikut terbakar. Hal ini merugikan masyarakat sendiri. oleh sebab itu masyarakat dengan terpaksa membongkar Rumah Betang yang sudah ada bertahun-tahun.
Tahun 2007 masuk PT Finantara Entiga yang mengantongi ijin HGU salaam 35 tahun. Sebelum masuk Sudah ada sosialisasi dari pihak perusahaan kepada masyarakat. Dengan masuknya perusahaan tersebut sempat terjadi negosiasi antara perusahaan dengan pemimpin adat waktu itu. Perusahaan berusaha mendekati dengan cara memberi uang atau menyuap agar menyerahkan lahan garapannya menjadi lahan perluasan bagi perusahaan. Keinginan tesebut tidak mendapat respon dari pimpinan adat kala itu. Awal dibukanya HTI seluas 184 Ha. Tahun 2015 – 2016 ditanami hanya 60,20 Ha. Selebihnya 120 Ha diambil kembali oleh masyrakat untuk ditanami karet. Saat ini sudah ada pembagian hasil yang diterima oleh masyarakat dari pihak perusahaan. Melalui kepala dusun masing-masing KK menerima Rp. 800.000 dalam sekali panen.
Pada tahun 1980, terjadi konflik lahan yang berfungsi sebagai lahan pertanian dan kebun karet antara orang melayu Sedua Desa Bahta dengan masyarakat Ompi Kotib – Tebilai.
Mdiasi yang dilakukan dengan mengadakan perundingan yang dilakukan antara Ompi Kotib – Tebilai dengan dan Melayu Sedua. Perundingan ini yang dilakukan di lapangan tempat lahan yang disengketakan. Hasil perundingan itu ada pembagian wilayah. Sebagian masuk wilayah Bahta dan sebagian lagi tetap ada di wilaayh Kotib. Penyelesaian sengketa ini disaksikan oleh apparat pemerintah seperti Camat, Danramil, dll .
Saat ini wilayah yang ada di Ompi Kotib -Tebilai berada pada fungsi Kawasan Hutan Produksi. Belum pernah ada konflik dengan apparat pemerintah terkait dengan status Kawasan tersebut. Saat ini masyarakat melihat peluang yang diberikan Pemerintah dengan mengajukan skema hutan adat. Ini dilakukan untuk mengamankan wilayahnya sehingga dapat dikelola kembali oleh masyarakat adat setempat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Kubotn ( kebun)
Merupakan kebun yang dibuat di bekas ladang atau jameh. Jenis tutupan lahannya berupa: Mayoritas tanaman karet , sawit dan nyatu. Beberapa juga terdapat jenis tanaman lainnya seperti: Kayu medang, kompas, aun, tikar, ubah, bingan, bentangon, tantong, Uwi padi, uwi lowak, uwi sigi, uwi damon, uwi tikus, uwi sompon, bambu buru, poring, pusak, muntek, poring anyuh, poring potong, akar ongkah, nguring, ongkah bodu, ongkah pida, ongkah kompas. Terdapat tempat hidup satwa seperti: Poronok, musang, tupai, berinsi/kukang, monok tomogok, empuro, tincah, kutatuk, konobuang. Di dalam kubotn juga ditemukan tempat-tempat yang dianggap keramat seperti: Kuburan muntuh, kuburan temowong mungut, tatai mulun

2. Tomawakng ( Tembawang )
Merupakan bekas perkampungan yang oleh karena alasan tertentu ditinggalkan oleh penduduknya. Di Ompi Kotib – Tebilai terdapat 3 Tomawakng diantaranya:Tamowong Panci, Tamowong Monggut, Tomowong libok koraow. Pohon dian, engkayu, kawai, kelupai, sibau, porit, entawa, tobudak, duku, entaan, asam mantan, pauh, muwung, ramunia, ramai, koronyik, kelawit, engkawung, rotan (sigi, lowa, padi, sompun), akar (bedu, mika, kompar, ongkah ngurung,) terdapat beberapa jenis satwa seperti: tupai, perunguk, engsang, galing, jonguat, nyoyim, calau, jorak, angkis, bintung, bidak, trenggiling.

3. Lobak ( Ladang basah )
Merupakan lahan yang tergenang air yang merujuk pada sawah tetapi belum dicetak. Loba difungsikan sebagai tempat menanam padi yang masih mengandalkan air hujan sebagai sumber air. Adapun jenis padi yang ditanam di Loba antara lain: Padi sarebu, padi bimas, padi jalo, padi selasih, palomak, dan sinam. Terdapat tanaman sayur seperti kangkung, kudu, dan genjer. Selain itu juga ada ikan seluang, bauk, empangin, patung bongko, patik, belantuk, emporas, mangus, tobalung, baung, rosip, tuman, katak, togoro, koper, engkang, raung, ular rupung, ular sawa, nyipih sagu, dan kura-kura.

4. Rima (Rimba)
Merupakan Kawasan hutan atau lahan yang belum dibuka yang difungsikan sebagai cadangan lahan masyarakat. Didalam rima terdapat kayu-kayu besar yang bisa ditebang oleh masyarakat secara terbatas dan tidak untuk diperjual belikan. Masyarakat adat setempat juga menyebut rima dengan sebutan pulau untuk luasan yang lebih kecil. Walaupun secara fungsi dan tutupan lahan yang ada sebenarnya juga sama. Adapun jenis tanaman yang ada di rima seperti: pohon juak, nyantuk, tikar, janung, owan, ngundang, bingan, ubah jamu, ubah lapot, ubah samuk, tapung, koladan, komosu, entowa, tobudek, tasong, tapai, ceriet, entaan, bangkul, komoyo. Jenis akar seperti: bedu, mika, kompar, ongkah, ngurung. Juga terdapat satwa antara lain: tupai, perungguk, engsang, galing, jonguat, nyonyim, calau, jorak, angkis, bintung, bidak dan trenggiling. Di dalam rima terdapat tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat yaitu: Uta Sungi Koniyu dan Pongaret atau kuburan Somanokng.

5. Ompi’( pemukiman/ kampung)
Merupakan pemukiman atau perkampungan yang fungsinya dimanfaatkan untuk tempat tinggal, Pekarangan, dan tempat beternak sekala rumah tangga. Dalam Ompi terdapat beberapa fasilitas umum seperti: balai penodat (tempat untuk membuat parang), SDN 25 Bonti, Gereja Khatolik Santo Yohanes, GKO, Gereja Khatolik Tebilai, sarana air bersih, jalan rabat beton, posyandu. Terdapat juga tempat keramat seperti: keramat podagi sunge guna dan keramat podagi nek jore.

6. Jameh ( bekas ladang )
Merupakan lahan bekas ladang. Ada beberapa sebutan untuk jameh antara lain:
• Domun: Lahan yang baru dibuka yang digunakan sebagai tempat perladangan dan ditinggalkan selama 7-8 setahun.
• Bawas: Lahan yang digunakan sebagai tempat perladangan dan ditinggalkan selama kurang lebih 1- 5 tahun keatas.
• Jameh: lahan yang digunakan untuk perladangan yang sudah ditinggalkan selama 9 tahun. Pada tahun ke 10 bisa digunakan untuk perladangan kembali dengan sebutan Miih atau ladang.

7. Miih ( Ladang)
Merupakan lahan yang sudah ditebas, ditebang dan dibakar yang difungsikan sebagai lahan produksi dan budidaya. Miih atau ladang merupakan sumber dari kebutuhan hidup masyarakat terutama untuk menanam padi dan sayuran. Adapun jenis padi yang ditanam di miih berupa: padi polonia dosan, engkawung, songan, janggut, padi mas, padi miih, padi sangak, padi sangau, kertas, maja dan nyerungkup. Sedangkan tanaman lainnya yang ada di miih seperti: enggala, jagung, timun, labu, paringgi, rampai, jagur, engsau, selasih, tobu, kudu, tobuh suwat, cangkok, takur, tiyong madu, tiyong jawa, tiyong gung.
 
Pemilikan atas tanah dapat diperoleh setiap warga dengan cara: membuka hutan milik umum, pewarisan dari orang tua atau orang yang mewarisi dan jual beli atau tukar menukar dengan sesame warga setempat. Rima merupakan lahan yang belum dibuka dan difungsikan sebagai cadangan lahan. Saat ini kepemilikannya Bersama dibawah pengaturan kepala adat. Ompi atau Pemukiman merupakan subjek hak komunal yang dimiliki Bersama-sama oleh masyarakat Bidoih Mayao Ompi Kotib – Tebilai. Sedangkan bangunan rumah atau bilik menjadi milik pribadi. Pemindahtanganan yang terjadi merupakan warisan dari orang tua yang disaksikan dalam lingkup keluarga. Ompi bisa juga dihibahkan atau penyilo dengan orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Misalnya paman dengan keponakan. Kubotn atau kebun dalam system kepemilikannya biasanya sudah dimiliki secara pribadi. Bahkan ada masyarakat yang sudah membuatkan sertifikat hak milik. Kubotn dapat dikerjakan baik secara pribadi maupun secara berkelompok dengan system kerjasama atau gotong royong. Miih atau ladang system kepemilikannya dimiliki secara pribadi. Cara memperolehnya tergantung dari siapa yang membuka miih terlebih dahulu lahan ini bisa diwariskan kepada generasi penerusnya tetapi tidak bisa untuk dijual belikan. Loba Sistem kepemilikannya dimiliki secara komunal. Pengelolaanya diatur oleh ketua adat. Jameh kepemilikannya pribadi yang bisa digunakan secara Bersama. Orang yang hendak berladang di jameh hendaknya terlebih dahulu memberi tau kepada orang yang pernah membuka ladang di lokasi tersebut. Tetapi hak kepemilikan tetap berada pada orang yang pertama kali menggarap di lahan tersebut. Tomawakng dari segi kepemilikan ada dua jenis yaitu: Tomawakng warisan dari keluarga tertentu dan Tomawakng Umum. Tomawakng warisan merupakan hak waris keturunan keluarga tertentu. Jika musim buah maka yang berhak memetik buah tersebut hanya warga yang masih punya hubungan keluarga dan keturunannya. Sedangkan tomawakng umum berarti hak milik Bersama. Hasilnya bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang biasanya pengaturannya dilakukan oleh ketua adat. 

Kelembagaan Adat

Nama Sesuai dengan cakupan wilayahnya, kelembagaan adat yang ada di Ompi Kotib – Tebilai ada 2 yaitu: 1. Kelembagaan Adat Bidoih Mayao Kotib 2. Kelembagaan Adat Bidoih Mayao Tebilai. Dimana kedua Lembaga adat tersebut berada dalam ketemenggungan Mayao.
Struktur - Kepala adat - Ketua RT - Let Perkara dan Masyarakat adat Kepengurusan adat dipilih oleh masyarakat adat.Tidak ada periode masa jabatan selama yang bersangkutan masih mau dan mampu dalam menjalankan tugas maka belum diadakan pergantian kembali. Syarat untuk menjadi ketua adat salah satunya bisa mengatur adat, tau batas wilayah adat dan dilihat dari silsilah keturunan pemimpin adat sebelumnya. Cara pengesahan atau pengukuhan dengan dibuatkan ritual adat pada saat gawai.
Kepala adat:
- Mengatur masalah adat seperti menentukan hukum adat, mengurus ritual dan mengatur lahan ditingkat Ompi atau dusun.
Ketua RT:
- Mengatasi permasalahan adat di tingkat RT
Let Pokara:
- Perwakilan masyarakat yang ditunjuk pada saat terjadi perkara untuk mengumumkan keputusan terhadap sanksi yang dijatuhkan.
 
Mekanisme dalam pengambilan keputusan: “Musyawarah Adat: yang disebut dengan Ngudung atau Bopokara.
Adapun tujuan dari ngudung antara lain:
1. Melaksanakan ritual adat yang terkait dengan perkawinan, kematian, bercocok tanam, dll.
2. Memutuskan peradilan adat
3. Mengatur system perladangan.
Yang bisa hadir dalam melakukan musyawarah adat adalah semua masyarakat adat. Ini biasa dilakukan di Balai dusun atau balai ompi.
Tahapan-tahapan dalam melakukan musayawarah adat:
1. Berundung: Mengumpulkan pengurus atau perangkat adat.
2. Nyelo Agah: Penyampaian informasi oleh pegurus adat ke semua masyarakat.
3. Pemukak Kata: pengarahan dari ketua adat
4. Pengurai /Penitih: pegurus adat menyampaikan maksud dan tujuan.
5. Bepisik: Proses Diskusi
6. Jehputus: Pengambilan keputusan oleh ketua adat.
“Jehputus kai bisa kate” artinya keputusan yang diambil tidak bisa diubah, kecuali ada hal-hal yang tidak terduga.
 

Hukum Adat

• Dilarang menebang pohon tapang. Apabila melamggar akan dikenakan sanksi berupa denda 6 tael (Rp. 600.000), babi, tuak, piring dan ayam.
• Dilarang mengambil anak ikan silok (arwana) di sungai. Apabila melanggar dikenakan baik orang luar ataupun masyarakat setempat akan dikenakan sanksi adat berupa denda 3 tael.
• Dilarang mengotori hulu sungai yang hilirnya digunakan sebagai tempat permandian masyarakat. Apabila melanggar akan dikenakan sanksi berupa denda adat 3 tael.
• Dilarang menuba di sungai. Apabila dilakukan di sungai sedua akan dikenakan sanksi berupa denda adat 12 tael. Apabila dilakukan di sungai Komuan akan dikenakan sanksi adat 6 tael. Apabila dilakukan di sungai-sungai lain selain dua sungai yang telah disebutkan maka akan dikenakan denda adat 3 tael.
• Dilarang membakar lahan yang apinya menjalar ke kebun orang lain. Apabila melanggar dikenakan denda adat 3 tael ditambah dengan ganti rugi tanam tumbuh diatas lahan kebun yang terbakar.
• Pelanggaran batas wilayah adat diberlakukan sanksi adat setempat sesuai dengan kesalahannya yaitu: 3 tael sementara kayu atau barang yang dirusak harus dibayar atau diganti.
 
1. Pencurian. baik yang dicuri berupa barang dan hasil pertanian akan dikenakan denda adat berupa: mangkok, tempayan, piring, tuak, babi dan ayam.
2. Perkelahian. Dikenakan denda adat berupa mangkok, tempayan, babi, beras, tuak, piring, dan ayam.
3. Pembunuhan. Apabila tidak disengaja maupun sengaja kena sanksi adat berupa: 24 tael, mangkok, tempayan, piring, babi, tuak, ayam. Pelaku pembunuhan wajib membayar alat mati.
4. Perzinahan. Apabila terjadi antara orang yang masih memiliki ikatan keluarga dikenakan sanksi denda adat 9 tael. Apabila dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dikenakan denda adat 9 tael.
5. Perkawinan yang dilakukan dengan paman atau bibi kena denda adat 3 tael. Bila dilakuakn dengan sepupu kena denda adat 1,8 tael. Bila pernikahan yang terjadi seorang adik melangkahi kakaknya akan dikenakan sanksi adat pongkoras minu (penguat semangat) dengan rincian: tempayan, piring, besi baja, mangkok berisi beras.
6. Menuduh atau memfitnah orang lain tanpa bukti dikenakan denda adat sebanyak 3 tael, mangkok, tempayan, piring, babi, ayam.
 
1. Tahun 2017 terjadi kasus seseorang yang akan menikah dan pada saat puncak acara besannya tiba-tiba meninggal akhirnya Lembaga adat mengambil keputusan: Acara pernikahan tetap dilangsungkan tetapi yang bersangkutan kena denda adat penyapat sebesar 1,5 tael.
2. Tahun 2011 terjadi pengerusakan lahan oleh PT Fimantara Entiga. Lembaga adat menjatuhkan sanksi adat berupa denda 6 tael.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidat : Padi (padi), Jogukng (jagung), Ngala (ubi kayu), Kudok (keladi ) dan sago (sagu). Protein Hewani : Siap (ayam), Jane’ (babi), Kuyu’ (Anjing), ikan rosip, ikan tengadak, ikan baung, ikan tapah, Ikan belida, ikan lais, ikan podim, angok (udang), ciuk (kepiting), Bolut (belut), bongko (lele), Ikan tuman, Poyu (rusa), Ular sawa, ular rupong, Tupai, musang, peronok ( kancil), jorak ( kijang) Buah2an : Diatn (durian), Kawai, Koyet, Bora’ (pisang), Rosat (langsat), Kitip (Jenis langsat), Ruku (Langsat), Rambai, Tampai, ceria, umma, ntantn ( jentaan), kemoyu, kala’, peroju, engkuakng, borunai, kecamang, kecomi, magar, nanas, buntatn kelapa), peruntatn, puduh, terap, asam mantan, asam maca, asam mowakng, asam dadokng, asam, asam mba kuyu’, asam romunia, asam kumakng, asam bubuk, asam buru, asam kuini, asam pelam, beliti (rambutan), kelotok, kedupai, sibu mbakol, poret, tajar (jenis rambutan), ngkorih, kancokng, rotan joroyatn, terisim, rotan marau, maram, buah setela, Sayur : daun ngala, cangkok, setela ( pepaya), pokuh , pakis ikan, cokai, humbut rua, umbut aping, sogah ( rebung), tiung kobutn, tiukng porat, timun, peringgi, malai, labu, bawakng miih, takor, kacang panjang, poluntan, jorikng, potai,
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Kocomut untuk obat sakit mata 2. Akar bodu: sakit perut/mencret 3. Akar gamut: obat sakit perut/mencret 4. Belangai: obat sakit perut 5. Keladi+ daun eleban: sakit maag 6. Gelinggang: obat sakit kulit 7. Sirih: obat sakit kulit 8. Rajung: obat sakit kepala 9. Daun jambu cacing: menghaluskan kulit 10. Belimbing: mengkilapkan kuku 11. Polomer padi: menghitamkan rambut
Papan dan Bahan Infrastruktur - Bahan untuk Tiang Rumah atau bangunan : kayu tas (belian), kayu jonjer, kayu jomai, - Bahan untuk Dinding dan lantai : Kayu Engkawakng, juah, nyotuh, bayor, poroju, modakng, mbulu, gurak, majau, terenak, - Bahan untuk Atap : Daun sagu
Sumber Sandang Kajang untuk sorowung Bamboo buru: untuk sorowung Bamboo pusak: untuk sorowung Tiyok: untuk baju dan celana
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kanis, bungkang, kacong, kopen, kalong, donrisa, donleban, engkubak, kunyet, roih, serai, lengkuas, senggang kaluk, selasah
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet. Rata-rata 5 ton pertahun/kk. Harga 6500.kg