Wilayah Adat

Lewolema

 Teregistrasi

Nama Komunitas Lewolema
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota FLORES TIMUR
Kecamatan Lewolema
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 9.498 Ha
Satuan Lewolema
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir
Batas Barat
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Utara

Kependudukan

Jumlah KK 1806
Jumlah Laki-laki 4208
Jumlah Perempuan 4035
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Lewolema adalah sebuah istilah setempat dalam bahasa Lamaholot untuk menggambarkan lima kampung yang berada di Kabupaten Flores Timur. “Lewo” berarti kampung dan “lema” berarti lima. Kelima kampung tersebut adalah Kampung Belogili, Kawaliwu, Leworahang, Lewotala dan Lamatou, yang merupakan kampung-kampung tua. Masyarakat etnik Lamaholot yang berdiam di lima kampung ini umumnya mengidentifikasi diri sebagai ‘orang Lemolema’. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Lewolema adalah rumpun bahasa yang digunakan hampir di seluruh Flores Timur, dan dikenal sebagai Bahasa Lamaholot.

Dari cerita rakyat setempat, khususnya dari masyarakat Lewotala, disebutkan kelompok masyarakat pertama berdiam di daerah Lewolema adalah suku Ile Jadi. Dalam bahasa setempat biasa disebut Ata Ile Jadi (Ata = orang). Menyusul kemudian penduduk yang baru datang dari luar yang dikenal sebagai orang-orang Tena mao yang berlayar dari pulau seberang, yang disebut Keroko puken lepan batan, berasal dari sekitar pulau-pulau kecil di Lembata dan Alor. Paling jauh berasal dari kepulauan Maluku.

Diceritakan, Kampung Lewotala merupakan kampung tua yang didiami suku Ile Jadi, dengan nama pemimpinnya Nara Eban. Lalu datang penduduk baru dari daerah Alor, dengan pimpinan bernama Tega Lusi. Kedatangan suku-suku dari sekitar Lembata dan Alor disambut acara adat ’kenape’ untuk menerima Tega Lusi dan pengikutnya.

Perkembangannya, Tega Lusi menurunkan Ama Koten dan Ama Kelen, sedangkan turunan Nara Eban adalah Ama Hurit yang memiliki Suku Hurit. Turunan merekalah yang menjadi pemimpin dalam komunitas setempat.

Sebelum adanya sistem dan kelembagaan adat Koten, Kelen, Hurit dan Maran dalam Komunitas Lewolema, terdapat kelompok Tenamao atau Ruro Tenamao Burak Manuk, yang mempunyai ayah bernama Tegalusi dan mempunyai Paman bernama Maran, yang kemudian membentuk clan Maran. Ketika Tenamao datang sudah ada Ile Jadi. Tenamao berjuang dan bernegosiasi sampai memperoleh tanah dari Ile Jadi. Kemudian mereka berbaur dan membentuk kampung melalui upacara adat, lalu terbentuk Koten, Kelen, Hurit dan Maran, sebagai raja tuan.

Sementara sejarah lisan yang dituturkan oleh masyarakat dari kampung Kawaliwu sedikit berbeda dari kisah di atasn. Nenek moyang mereka konon berasal dari Kroko Puken. Setelah berpindah-pindah ke beberapa tempat di daerah Tanjung Bunga kemudian menetap di tempat yang disebut Nuhu Mata. Ada dua tokoh kelompok ini, yakni: Tukan Mata dan Deka Harut. Tukan Mata mengembara ke daerah Maumere sekarang ini dan Deka Harut bermukim di Nuhu Mata di Bukit Bantala bersama Paji dan Demon. Selanjutnya, Paji terdesak dan meninggalkan Nuhu Mata sedangkan Demon terus bertahan bersama Deka Harut. Mereka hidup bersama dengan kelompok clan sebagai berikut:
1. Wato Boki, menempati Riangkidi Belobata Kebakut Rianggunung, sekarang disebut Lewotala dan menjadi Ama Hurit.
2. Soba Warat, menempati Duli Rianglela Tana Pali Goran Lewojawa (Lewotala) dan menjadi suku Ama Kelen.
3. Hajulino, menempati Lewo Belepa Riang Sina Tana Kehule Rera Gere, sekarang disebut suku Ama Koten di Riangkotek dan Amaruron di Belogili.
4. Kudahorok, menempati Tapotoba Leworahang Boga Didi Wailau, menjadi Ama Koten di suku Lamakmau di Leworahang.
5. Wolosina, menempati Lewo Bedulo Harun Maja Tana Kebo Lama Lina yang menurunkan Koten, Kelen, Hurit, Maran. Koten Melahirkan Galak Nogo Ama, Kelen melahirkan Bisu Dua Ama, Hurit melahirkan Pati Letek Ama, sementara Maran mati bujang. Sehingga Wolosina tidak ada keturunan Maran. Maran Boka (pembaca mantra) yang sekarang ada di Kawaliwu adalah pendatang dari Leworahang.

Sedangkan cerita dari Kampung Belogili, pendiri kampung pertama adalah Sobawarat di Belogili dan Hajulino Hugu Beda Wato Boki dari kampung Lewotala, Wolosina dan Deka Harut dari kampung Kawaliwu. Ceriteranya, Sobawarat mengajak Hajulino bergabung bersamanya berperang melawan suku Paji di Belogili. Setelah menang perang, Sobawarat menerima Hajulino sebagai saudara dan mendapatkan hak sama untuk menempati kampung Belogili. Pada masa Hajulino, orang Lamaruro masih mendiami Riangkotek. Pada masa generasi berikutnya bersama dengan sanak saudaranya mereka mulai membuka kebun di Etang Wolo Ono. Dari buka kebun berkembang menjadi Lewo yang saat ini disebut dengan Belogili. Orang pertama yang membuka kebun itu adalah suku Weruin.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Newa: tempat perladangan untuk budidaya tanaman pangan, seperti: padi, jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian;

Kajut : Perkebunan komoditi mente ;

Ongen : hutan rakyat dengan tanaman Kelapa, buah-buahan mangga dan nangka, bambu, pisang, kopi, kakao, nenas, tanaman bumbu dapur dan ubi-ubian.

Lewo : Lahan pemukiman masyarakat

Duang : Kawasan hutan, seperti kawasan hutan keramat yang dilindungi dan dilarang untuk diolah.
 
Konsep dan riwayat penguasaan dan pemilikan tanah oleh suku-suku di setiap Lewo dalam komunitas Lewolema diperoleh dan terkait dengan sejarah peperangan dan penaklukkan antara kelompok suku-suku di masing-masing kampung. Selain itu, dalam perkembangannya pemilikan tanah kelompok suku, keluarga dan individu, terkait dengan sistem pemanfaatan tanah pertanian dan jual beli. 

Kelembagaan Adat

Nama Lamaruro, dengan tugas menjaga tata tertib hidup berkomunitas, terlebih tata tertib relasi antar sesama, dengan lingkungan “Ni Laga Kajo Tale” dan dengan Leluhur dan wujud tertinggi “Kaka Bapa Ama Nene - Lera Wulan Tana Ekan”. Kewengannya antara lain menyelenggarakan upacara adat Poro Manuk Pau Kaka Bapa. Upacara ini untuk menghormati leluhur (Kaka Bapa) dan Wujud Tertinggi (Ama Nene Lera Wulan Tana Ekan), yang tujuannya adalah melestarikan persekutuan clan-clan di Lewolema dan menegaskan hak asal usul dan hak tradisional atas hutan dan tanah (Lingkungan = Tana Ekan) Lewolema
Struktur Raja tuan, terdiri dari: Koten, Kelen, Hurit dan Maran, yang merupakan pemimpin perwakilan clan dalam sebuah lewo dan mempunyai kewenangan dan peran untuk urusan-urusan ketertiban sosial, prosesi adat dan pengelolaan sumberdaya alam. Selain itu, terdapat pula para tetua clan, orang-orang tua dan organisasi pemerintah desa dan berbagai institusi sosial yang masih baru, yang ikut berperan dalam pengurusan di kampung, pengambilan keputusan dan penyelesaian sengketa
Sistem pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah di rumah adat ‘Korke’ dan harus dihadiri oleh perwakilan warga dari setiap Lewo (Suku Pulo Wungu Lema) dan pengesahan keputusan musyawarah ditandai dengan Gili bolak Wua Malu, yakni: saling membagi sirih pinang dan raduk gelas 

Hukum Adat

Dalam pengelolaan tanah untuk kebun ladang (newa), raja tuan mempunyai fungsi memimpin musyawarah dengan anggota masyarakat, mengkoordinasikan dan mengatur waktu pengelolaan, mengatur pemanfaatan lahan bekas-bekas ladang dan tata cara menjaga kelangsungan hutan di kawasan Ongen dan Duang. Paling istimewa adalah kewenangan raja tuan untuk melakukan huke, yakni: memimpin proses ritual adat untuk mengawali pengelolaan dan pemanfaatan tanah untuk kebun ladang, pembangunan rumah, dan sebagainya. Ritual adat huke dilakukan dengan memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam tanah sebagai tanda memberikan makan untuk ibu Bumi. Raja tuan penyelenggara huke dapat diartikan sebagai pemegang otoritas sosial budaya dan politik atas daerah setempat (lewo) dalam hal keabsahan sebuah tindakan warga sebuah lewo terkait dengan siklus pertanian dan serta dalam hal pengambilan keputusan di tingkat lewo. 
Relasi sosial antara kesatuan kelompok suku dan kampung-kampung (Lewo), sebagaimana latar belakang terbentuknya identitas dan sebutan komunitas Lewolema. Bangunan ikatan dan identitas sosial Lewolema terkait pula adanya hubungan kawin mawin, ikatan kekerabatan, kesamaan senasib dan sepenanggungan, adat istiadat dan memiliki sistem kelembagaan adat dalam setiap kampung, yakni: Raja tuan, yang terdiri dari perwakilan pemimpin suku koten, kelen, hurit dan maran. Dapat pula dikatakan komunitas Lewolema yang ada sekarang merupakan penduduk campuran dari beberapa suku dan clan, namun masih terjadi pengelompokkan berdasarkan ikatan kelompok seketurunan dalam clan dengan sistem patriaki.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi