Wilayah Adat

Gelarang Lawi

 Terverifikasi

Nama Komunitas Lawi
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Sambi Rampas
Desa Compang Lawi
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.763 Ha
Satuan Gelarang Lawi
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan Wilayah Adat Ngkiong dengan batas berupa Ampak Golo Puran, Zatar Pahar, Lok Pahar, Watu Nggong
Batas Selatan Berbatasan dengan W. Tetes Tana, Golo Ara, Golo Wekang,
Batas Timur Berbatasan dengan Wilayah Adat Compang Congkar, Leda dan Wangkar dengan batas berupa Leke teko, Mpong sela, Wae Lu u, Wae ngejeng, Wae Tongkol, dan Letos.
Batas Utara Berbatasan dengan Nambe Taram dengan batas berupa Leto S, Laling (sungai), Wae Mbelong hingga Watu nggong.

Kependudukan

Jumlah KK 493
Jumlah Laki-laki 991
Jumlah Perempuan 973
Mata Pencaharian utama Bertani (Sawah ladang, kemiri, kopi, coklat, cengkeh, vanili, jagung)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas adat Lawi memiliki dua nenek moyang yang berasal dari daerah yang berbeda. Nenek moyang yang pertama berasal dari Minangkabau. Tujuan Ia datang ke Lawi karena diutus oleh Gelarang untuk menjadi Teno (pemangku adat). Setelah beberapa tahun menempati di komunitas Lawi, Ia memiliki keturunan hingga sampai sekarang. Kemudian, Nenek moyang yang kedua berasal dari Cibal bernama Mahang. Setelah beberapa tahun Mahang menetap di Lawi, Mahang diutus oleh Lawi untuk pindah ke Taeng dan menjadi Teno Taeng. Tidak lama setelah Mahang diutus oleh Teno Lawi untuk pindah ke Taeng, Mahang diusir oleh Belanda. Akhirnya Mahang pindah kembali ke Lawi. Kemudian, setelah Mahang pindah, Ia akhirnya pindah ke Lai. Beberapa tahun menetap di Lai, Mahang pindah ke Lando hingga sampai sekarang. Setelah itu Mahang memiliki keturunan hingga sampai dengan sekarang.

Komunitas Lawi ada semenjak nenek moyang yang menempati pertama kali di Lawi. Menurut cerita dari setiap keturunan, Nama komunitas Lawi diambil dari nama sayur, yaitu sayur Lawi. Sayur lawi biasa dimakan oleh nenek moyang pada zaman dahulu.

Keturunan dari suku Minangkabau/Mboro Golo Datang ke Lawi worong pantai selatan. Dari Lawi worong kemudian pindah ke Lawi morotompong. Setelah beberapa tahun menetap disana akhirnya mencari tempat lagi dan menetap sampai saat ini di kampung lawi. Alasan perpindahannya di tempat sebelumnya tidak ada perkembangan dalam memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan juga tidak terjamin.
Keturunan Cibal suku Mboru Mese yang nenek moyangnya bernama mahang awalnya tinggal di Ntango kemudian berpindah ke Taeng. Alas an dari perpindahan ini karena jumlah penduduknya semakin bertambah. Dari Taeng kemudian pindah ke lawi. Alasan dari perpidahan ini karena ada pengusiran pada zaman penjajahan belanda. Setelah di Lawi pindah lagi ke Lai. Alasan perpindahan ini karena penduduk sudah semakin bertambah. Setelah dari Lai barulah menetap di Lando.
Antara keturunan Suku Mbori golo dengan Mboru Mese tidak ada hubungan kekerabatan dalam satu keturunan atau nenek moyang. Tetapi seiring perkembangan jaman hubungan kekerabatan terjalin akibat adanya kawin mawin.
Masuknya ajaran agama baru terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Disebarkan oleh seorang pastor yang berasal dari Belanda bernama Yansen. Agama yang masuk pada waktu itu adalah agama khatolik. Sehingga semua masyarakat pada saat ini menerima ajaran agama baru tersebut. Walaupun agama Khatolik sudah masuk di Komunitas Lawi, namun masyarakat adat setempat juga masih melakukan ritual-ritual adat. Masuknya ajaran agama itu tidak menghilangkan ritual-ritual adat yang sudah ada. Antara agama dan ritual adat saling berjalan beriringan. Pada Zaman penjajahan Belanda, ada beberapa peristiwa yang terjadi seperti Penetapan hutan tutupan :tanggal 2 juni 1936 oleh kepala Daerah Flores yang saat itu disebut dengan PAL Belanda. Pada saat itu masyarakat mengatakan bahwa lahan tersebut merupakan ulayat nya, tetapi masyarakat tidak berani melakukan perlawanan.
Beberapa konflik yang terjadi di Komunitas Lawi antara lain:
1. Klaim hutan adat oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memperluas Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Ruteng (TWA.R)
2. Kekerasan terhadap Komunitas Adat Lawi berupa perampasan alat kerja, perampasan HP, pembakaran pondok, pembabatan Kopi yang sudah Produktif (Yang ditanam sejak tahun 2005) dan pencabutan anakan kopi yang baru berumur 1- 2 tahun.
Kronologis terjadinya konflik di Komunitas Lawi
Pada tahun 2005 masyarakat adat Lawi membuka lahan di lingko taeng Wae Galang dan mereka menanam kopi di lingko tersebut setelah kopi sudah besar maka terjadilah pembabatan kopi dan pembakaran pondok oleh Balai Konserfasi Sumber Daya Alam (BKSDA) karena menurut versi BKSDA masyarakat Adat Lawi membuka lahan di Taman Wisata Alam Ruteng. Akibat dari konflik tersebut jatuh korban dengan jumlah sebanyak 160 KK yang dari kampung Lawi, Kenda,Lando, dan Cumbi. Beberapa orang mendapatkan perlakukan kekerasan seperti:
1. Rofinus Sanu bakar pondok dan cabut kopi sebanyak 320 pohon pada taggal 21 Februari 2017 di Lodok Mbako Rana
2. Marselus Fan Potong kopi sebanyak 140 pohon di Lodok tiwar pada tanggal 03 Maret 2017.
3. Stanislaus Mensi potong kopi sebanyak 58 Pohon dan bakar pondok di Lodok Mbako Rana tanggal 10 Mei 2015
4. Wihelmus Yakum bakar pondok di Taeng pada tanggal 04 Juni 2016
5. Eduardus Burna cabutkipi pada tanggal 09 Juli 2017 sebanyak 120 pohon di Lodok Penom.
6. Yulianus hendra cabut kopi sebanyak 500 pohon di lodok Penom pada tanggal 09 Juli 2017.
7. Mikhael Derama cabut kopi sebanyak 1180 pohon di lodok Penom pada tanggal 09 Juli 2017
8. Resta Sarifudin cabut kopi sebanyak 1200 pohon di lodo penom pada tanggal 09 Juni 2017
9. Yosep Mardi cabut kopi sebanyak 1120 pohon di lodok Penom pada tanggal 09 Juni 2017
10. Yohanes Ngasa cabut kopi sebanyak 600 pohon di lodok Penom tanggal 09 Juni 2017
11. Martinus Hasur bakar pondok dan potong kopi sebanyak 45 pohon yang sudah berbuah di lodok Mbato Rana pada tanggal 10 Mei 2015
12. Stanislaus Eno bakar pondok pada tanggal 17 juni 2016 di Lingko Taeng
13. Yakim Mu,a bakar pondok dan potong kopi sebanyak 150 pohon yang sudah siap berbuah di lodok Mbato Rana pada tanggal 12 Agustus 2016
14. Martinus Beo bakar pondok dan potong kopi sebanyak 1500 pohon di lodok Watu Rutuk pada tanggal 03 Maret 2016
15. Siprianus Dagung potong kopi 400 pohon dan cabut kopi 200 pohon di lodok Mbato Rana tanggal 04 mei 2016.

Adapun dampak-dampak yang ditimbulkan dari konflik tersebut antara lain:
1. Masyarakat Adat komunitas Lawi sebagai pemilik lahan mengalami kerugian besar karena kopi yang sudah berproduksi dan siap panen dibabat rata tanah, dampaknya masyarakat pemilik lahan merasa kesulitaan untuk membiayai anaknya ke sekolah, bagun rumah dan kebutuhan hidup juga mengalami kesulitan.
2. Ada terjadi kekerasan dan pelanggaran HAM. Perampasan dengan sewenang-wenang dan secara melawan Hukum.
3. Masyarakat Adat merasa tidak nyaman dalam melakukan aktifitas setiap hari di kebunnya karena sering dipantau terus oleh petugas BKSDA.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Komunitas Lawi dalam membentuk ruang hidup berlandas pada 5 (lima) unsur, yaitu:
1. Mbaru Bate kaeng : adalah rumah sebagai tempat tinggal
2. Uma Bate Duat adalah : lahan pertanian (tanah persekutuan adat) sebagai sumber kehidupan.
3. Natas Bate Labar adalah : Halaman untuk bermain, juga untuk melakukan ritus-ritus adat dan sebagai aktifitas lainya.
4. Wae Bate Teku adalah : air yang berasal dari hutan (wae temok) yang mengalir bersatu dari beberapa mata air yang disebut sungai untuk kepentingan minum, mandi, cuci dan mengairi lahan dan sawah
5. Compang adalah : Tuguh yang merupakan tempat untuk ritual ritus-ritus adat yang menghubungkan manusia dangan alam, sang pencipta, manusia dengan sesama manusia.

Adapun pembagian ruangnya adalah sebagai berikut:
a. Uma/kebun adalah lahan yang ditanami tanaman umur panjang atau tanaman perdagangan seperti : kopi, coklat, cengkeh, kemiri, dan lain-lain.
b. Galung/ Sawah : lahan basah yang membutuhkan air yang dapat digenangi sepanjang tahun guna ditanami padi yang cocok tanaman di sawah
c. Mpong sengit : merupakan kawasan terlarang termasuk kawasan yang ada mata air, maka hutan jenis ini dilarang untuk dijamah oleh manusia.
d. Mpuar : merupakan kawasan Hutan yang dapat di manfaatkan untuk kebutuhan masyarakat Adat, tetapi tidak diperjual belikan perdagangan kayu.
e. Satar/padang merupakan kawasan/tempat pengembalaan ternak.
 
Sistem Pengelolaan wilayah ada yang dikelola secara komunal dan individu. Adapun wilayah yang dikelola secara komunal seperti: Mpong sengit, Mpuar, dan Satar. Sedangkan yang dikelola secara Individu adalah: Uma dan Galung.
Penguasaaan tanah adat adalah tua golo melimpahkan kuasanya kepada tua teno, untuk membuka satu lingko (sebidang tanah adat). Tua teno inilah yang mengatur ‘’ GENDANG ONE, LINGKO PE’ANG ‘’ yang artinya mulai dari rumah adat, sampai pembagian tanah serta struktur lembaga dan aturan upeti (wono) diatur oleh tua teno, sebelum suatu tanah adat (lingko) dibagi. Tua teno yang mendiami rumah adat (mbaru gendang), yang rumah gendang itu dibangun bersama-sama oleh komunitas.
Sebelum tanah adat (lingko) dibagi tua teno yang mendiami rumah gendang didahulukan ‘’rapat /musyawarah adat (kebor) Lonto Leok, untuk mengatur pembagian tanah, secarah adil dan bijaksana kepada semua warga.
Dalam pengelolaannya lingko terdapat 3 (tiga) mekanisme pembagian”

1. Makanisme lodok: berbentuk moso/sarang laba-laba yang dibuka di dalam kawasan hutan adat, yang ole pemerinta adalah hutan negara/hutan lindung.
2. Mekanisme pembagian berbentuk segitiga.tua teno dapat melakukan pembagian seperti ini berada di titik pusat tanah tersebut dan mengatur pembagian dari dalam, keluar, dan dari dalam kecil,semakin keluar besar sampai di pinggir luar ( disebut cicing ),tana sisa.
3. Pembagian berbentuk Neol yaitu pembagian tanah adat oleh beberapa warga secara adil dan bijaksana dengan bentuk segitiga dalam areal yang kecil dengan mendapatkan persetujuan Tua Teno dan Tua Golo
Pembagian berbentuk Tobok: mekanisme pembagian tanah sisa oleh beberapa orang warga di luar batas lingko/Tanah adat/cicing, pembagian di atas persetujuan Tua Teno.

Adapun pengaturan Lingko sebagai berikut:
1. Lingko Rame/ Randang : Tanah yang di buka dengan ritual Adat dengan ditandai pemotongan hewan, Seperti Kerbau, Babi, Babi Merah(ela Ruan) dan setiap tahun di adakan pesta syukur panen (penti).
2. Lingko Saun cue : Tanah Adat yang di buka dengan Ritual adat dengan Mengorbankan 1 Ekor Babi. bagi warga yang mendapat tanah pembagian tersebut di Wajibkan Melakukan Ritual adat Setiap Tahun. Dengan mengorbankan satu ekor babi dan satu ekor ayam untuk di Korbankan dan mekanisme pembagian ada 3 jenis seperti di atas.  

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga adat Lawi Lembaga adat Lando Lembaga adat Cumbi
Struktur Tua Teno Tua Golo Tua Panga Tua Kilo
Tu’a Teno : Membagi Tanah serta menyelesaikan Persoalan secara bersama – sama dengan Tu’a Golo
Tu’a Golo : menyelesaikan Persoalan yang terjadi sebelum bawah ke Tu’a Teno dan Membantu tua teno untuk Membagikan Tanah
Tu’a Panga : menyelesaikan persoalan yang terjadi dalam suku-nya sebelum dibawah keluar seperti : Ke Tu’a Golo dan Tu’a Teno
Tu’a Kilo : menyelesaikan persoalan dalam keluarga sebelum bawah keluar sepertin : ke Tu’a panga, Tu’a Golo, dan Tu’a Teno 
Melalui Lonto Leok atau Musyawarah Mufakat yang dihadiri oleh unsur-unsur adat sesuai dengan tingkatan Lonto Leok yang dilakukan di Mbaru Gendang.
Adapun tujuan dari Lonto Leok bagi Masyarakat Adat Ngkiong antara lain: Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, Mengadakan suatu peradilan adat, Membahas pernikahan (di tingkat Kilo), dan lain-lain. Setiap melaksanakan Lonto Leok diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak dan rokok
Proses yang dilakukan adalah yang pertama ke Tu’a Kilo, setelah itu ke Tu’a Panga, dari situ ke tu’a Golo atau Ke Tu’a Teno dan Sama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. 

Hukum Adat

Setiap tahun komunitas lawi mengadakan ritual adat seperti:
1. Membuat Mbu- Mbet untuk mendapatkan hujan ketika tidak turun hujun
2. Mengadakan Barong Wae
Mekanisme pelaksanaannya: sediakan Lesung dan dilubang lesung di isi dengan air, setelah itu tutup lubang lesung dan biarkan lubang yang kecil di bagian tenga, setelah itu sediakan sebatang kayu yang besarnya sesuai dengan lubang yang di biarkan dan bungkuskan kayu tadi dengan kain atau pelastik, setelah itu tusuk kelubang lesung, abis itu tarik dan tusuk lagi maka bunyilah Mbu- Mbet, Mbu- Mbet. Maka setelah itu akan turun Hujan Beserta Petir
Semua warga Membuat acara di Mata air tempat menimba air dan juga di mata air lain ; “ Sebagai Ungkapan Syukur kepada Tuhan dan Alam yang memberikan air, biasanya yang di kurbankan satu (1) Ekor ayam Putih dan harus di Turuti oleh semua warga masyarakat adat tersebut. Bila mana tidak turut ikut serta dalam Acara adat tersebut, Maka akan terkena sakit, Gagal panen, dan bencana akan terjadi bencana atas dirinya. 
Apabila dalam komunitas terjadi Pencurian maka akan dikenakan denda. Denda tergantung dari besar kecilnya kasus. Denda kecil berupa kain, ayam, tuak, rokok. Untuk yang sedang dendanya berupa kambing dan babi , sedangkan untuk denda besar berupa: sapi, kerbau, kuda.

Apabila terjadi perkelahian bisa diselesaikan secara adat oleh tua teno dan tua golo. Dan sepakat dengan Ambor. Artinya penyelesaian secara damai.

Apabila terjadi pembunuhan pihak adat langsung menyerahkan pada pihak yang berwajib.

Apabila terjadi konflik rumah tangga, langkah awal dimediasi oleh orang tua kedua pihak. Jika tidak terjadi kesepakatan pasca mediasi, maka diserahkan kembali kepada kedua belah pihal masing-masing.

Apabila terjadi perselingkuhan dimediasi oleh adat, dan dijatuhkan denda berupa babi, kerbau, kuda, kambing.

Pada umumnya sebelum menjatuhkan sanksi para tetua adat terlebih dahulu melakukan musyawarah adat  
Pada bulan September terjadi perkelahian masyarakat antar komunitas di desa yang berbeda. Penyelesaiannya di mediasi oleh masing-masing adat, dan akhirnya diputuskan secara damai. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, , ubi tatas, singkong, keladi Protein Nabati: buncis, brendi bon, kacang bali, kacang tanah, kedelai. Protein Hewani: ayam, bebek, kambing, sapi, babi, ikan karpel, nila, belut, kepiting, katak. Sayur-sayuran: labu, daun singkong, daun papaya, daun pea, Markis, paku, bayam, kol, pucai, kangkong. Buah-buahan: alpukat, pisang, jeruk, jambu, kelengkeng, Nangka, markisa
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun pepaya: obat malaria Buah Mahoni: obat malaria Siki bopok: obat panas dalam dan kudis Maeng: untuk penuun demam Akar alang-alang: untuk obat lambung Kumis kucing: obat kencing manis Kulit Nangka: obat sakit perut Kembuh/mengkudu: untuk mengobati gondok, struk, kolesterol
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang: Mei, Dalok, Mensang, Munting, Daru, Ampufu, Ledu. Papan/dinding: Ajang, Surnanak, Kawak, Lale, Waek, Merak, Kui, Mes, nyelong Atap: Bambu
Sumber Sandang Tao (kapas)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Merica, halfa, kunyit, serai, halia, mes/salam
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Cengkeh