Wilayah Adat

Rejang Tik Tebing

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rejang Tik Tebing
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota LEBONG
Kecamatan Lebong Atas
Desa Tik Tebing
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.730 Ha
Satuan Rejang Tik Tebing
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan Desa Pelabai dengan Jembatan Bioa Santan, Bioa Tik Siamang, Makam Keramat Tebo Sam, Gapura BatasAntar-Kabupaten, Kebun Rakyat, dan Hutan
Batas Selatan Berbatasan dengan Kab. Bengkulu Utara dengan mengikuti batasan Hutan Lindung Bukit Daun Reg. 8 (pemerintah)
Batas Timur Berbatasan dengan Desa Tabeak Blau dan Desa Pagar Agung dengan batasan berupa Bioa Tik Tebing, Hutan Lindung Bukit Daun, Puncak Bukit Lumut (3 Wilayah), dan Kebun Rakyat.
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Blau dan Desa Pelabai dengan batasan berupa Bioa (Sungai) Tik Tebing,Titik Jalan Tarik Kayu, dsb.

Kependudukan

Jumlah KK 227
Jumlah Laki-laki 438
Jumlah Perempuan 371
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pengembara dari Sumbar membawa beberapa binatang mencari tempat sampai ke daerah Pelabai Muara Bioa Santan di Kaki Bukit Resam. Namun dirasa tidak cocok untuk dijadikan pemukiman.
Pengembara lanjut perjalanan ke sebelah timur hingga sampai di sebuah wilayah di sekitar Bioa Tik di dataran bertebing. Pengembara merasakan bahwa tempat itu memenuhi kriteria untuk menjadi tempat bermukim yang ditandai oleh tanda-tanda alam.

Dituturkan bahwa, pada sekitar tahun 1880an, leluhur marga Slupuak dari suku Rejang yang bernama Ajai Leken dan Ajai Muen melakukan pengembaraan untuk mencari tempat bermukim dari Pesambe hingga menemukan bekas pemukiman pengembara dari Sumbar di sekitar Bioa Tik di dataran bertebing. Sejak saat itu pemukiman di sekitar Bioa Tik itu berkembang dan dinamakan Sadei Tik Tebing. Saat itu masyarakat mencari penghidupan dengan tanam padi darat dan berburu di hutan. Pada saat itu dipercaya bahwa kebudayaan bercorak hindu berkembang bersama masyarakat Rejang Tik Tebing. Hal itu ditandai dengan beberapa tradisi atau ritual seperti ritual penyembuhan penyakit “Tiken”, ritual membuka lahan baru di hutan/Imo “Retes/Lebalai”, ritual panen “pnai” melalui bahan sesajen. Masa perkembangan pemukiman di Tik Tebing dipercaya bersamaan dengan perkembangan pemukiman Marga Slupuak di Sadei Daneu.

Beberapa masa kemudian, dipercaya bahwa ajaran Islam masuk dari Sumatra Barat dibawa oleh seorang Ulama bernama Kodrat. Saat itu, secara bertahap ajaran Islam memengaruhi perkembangan budaya di Tik Tebing.
Pada zaman kolonial, Bangsa Jepang membawa beberapa orang Tik tebing untuk Kerja Paksa ke Palembang.

Pada saat fase pemberontakan PRRI, Masyarakat Tik Tebing terbagi menjadi dua, yang bergabung dengan pemberontak dan yang bergabung dengan pemerintah dengan paksaan. Pada saat itu banyak masyarkat Tik Tebing yang dibunuh oleh pihak lawan (Non Masyarakat Tik Tebing). Pasca pemberontakan PRRI selesai, masyarakat Tik Tebing-pun dapat hidup dengan damai seperti sebelumnya.

Pada saat orde baru terjadi pengubahan sistem pemerintahan di Sadei Tik Tebing pasca keluarnya PP 72/1980. Saat tu sistem pemeritahan adat di Sadei Tik Tebing berubah menjadi Desa dengan Kepala Desa pertama yaitu Ruhidin. Dampak dari perubahan sistem pemerintahan itu membuat aturan-aturan adat yang mengikat MA Tik Tebing tergerus secara bertahap.

Pada masa orde baru itu juga banyak pendatang dari luar desa datang dan bermukim di wilayah Desa Tik Tebing. MA Tk tebing mereka dan mengakomodir kehadiran mereka secara kebudayaan dengan membentuk satuan sosial khusus pendatang yang disebut “Kutei Keteko”. MA Tik Tebing memberikan beberapa lahan garapan kepada orang-orang dari Kutei Keteko tersebut.
Pada sekitar tahun 1969—1970an,

Pada tahun 1987, MA Tik Tebing sejumlah 15 orang yang berkebun di areal Padang Bano ditangkap oleh pihak Kehutanan. Mereka tidak mengetahui mengapa mereka ditangkap saat berkebun di wilayah nenek moyang mereka. Ternyata, pada saat itu wilayah di Padang Bano itu dijadikan sebagai kawasan hutan Negara berdasar pada Permenhut No…/tahun … Sejak saat itu, MA Tik Tebing terusir dari lahan garapan di Padang Bano itu.

Pasca reformasi, keluar permendagri 20/2015 tentang Tapal Batas Lebong dan Bengkulu Utara. Dalam permendagri itu, sebagian besar wilayah adat Tik Tebing masuk ke Kabupaten Bengkulu Utara. Oleh karena beberapa MA Tik Tebing masih memiliki kebun di wil. Administratif Bengkulu Utara, mereka merasa terbatasi untuk mengakses kebunnya itu.

Demo kemendagri pada tahun 2015 oleh 60 kepala desa se kab lebong merespon permendagri yang tanpa kajian dan kesepakatan di tingkat akar rumput. Mereka menuntut pencabutan Permendagri 20/2015 itu, tetapi gagal mencapai tujuannya. Hingga saat ini, MA Tik Tebing masih berjuang memperoleh pengakuan atas diri mereka dan hak-hak ulayat mereka berupa wilayah adat dan hutan adatnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Imbo (hutan) : adalah areal Hutan yang belum disentuh atau digarap masyarakat setempat dengan fungsinya sebagai pelindungan oleh karena adanya makam leluhur dan cadangan kebun di masa depan baik yang dimiliki oleh marga maupun oleh kutei (secara komunal).
Bekas Kbun: 1. Bukoa lebih dari 10 tahun, 2. Sakea (5—10 tahun), dan 3. Jamei (1—2 tahun) adalah lahan bekas kebun yang pernah ditanami warga lalu ditinggalkan dalam sekian periode waktu dan dapat dibuka kembali di kemudian hari.
Kbun: areal kebun aktif masyarakat.
Saweak : areal sawah aktif masyarakat
Sadei: Pemukiman 
Individu: Kbun, Bekas Kbun, Pemukiman

Diwariskan secara temurun, dengan mekanisme Musyawarah Kaum dengan kesepakatan antar-saudara. Dengan itu hak milik dapat secara resmi berpindah tangan.

Pendatang dapat memperoleh hak milik/hak kelola lahan dengan beberapa mekanisme: 1. Meminta kepada pemilik lahan asli, 2. Membeli lahan tersebut

Komunal: Tanah Marga/Kutai yang sistem kepemilikannya adalah sesuai marga tersebut dan pengelolaannya harus seizin pasirah atau musyawarah adat.

Pembukaan lahan garapan baru di Imbo Marga harus seizin ketua kutai. 

Kelembagaan Adat

Nama Kutai Tik Tebing
Struktur Ketuai Kutai: Dipilih dengan mekanisme musyawarah antar-kaum. Biasanya dipilih dari mereka yang kaya pengalaman dan dianggap mampu. Periode menjabatnya sampai yangterpilih tidak mampu lagi untuk menjabat. Ketuai kutai dalam menjalankan fungsinya berkoordinasi dengan Patai Sadei dan beberapa pejabat di bawahnya seperti Imam/Pebina Sara’, dan lain-lain. Ia juga dapat mendelegasikan orang-orang yang ia anggap mampu untuk menjalankan beberapa fungsi tertentu.
Ketuai Kutai:
Melakukan pengambilan keputusan berdasar pada hasil dari Basen/Musyawarah di tingkat Kutai dengan tujuan sebagai berikut:
1. Peradilan adat
2. Penyelesaian sengketa
3. Pengambilan kebijakan penting di tingkat kutai
Bertanggungjawab dalam pelaksaan ritual/tradisi adat. 
Basen/Musyawarah tingkat Kaum dihadiri oleh anggota kaum dengan beberapa tujuan: 1. Persiapan perkawinan, peralihan hak milik kbun/bekas kebun, penyelesaian permasalahan di tingkat kaum. Hasil dari Basen tingkat kaum harus diinformasikan kepada Ketuai Kutai

Basen/Musyawarah tingkat Kutai dihadiri oleh anggota kutai, pihak yang dianggap perlu hadir, dan Patai Sadei sebagai saksi dengan beberapa tujuan: 1. Peradilan adat, Penyelesaian sengketa, penyiapan ritual/tradisi, diskusi pengambilan kebijakan tngkat kutai, dsb. 

Hukum Adat

Hutan Marga: Dilarang jual beli lahan dan menggarap lahan tanpa seizin atau sepengtahuan ketua adat kutai tik tebing. Bagi yang melanggar akan di kenakan sanksi: berkewajiban untuk menggembalikan kembali lahan tersebut kepada lembaga adat komunitas rejang tik tebing. Di cabut hak atas pengelolaan tanah tersebut.

Dilarang memperluas wilayah kelolah berupa pembukaan kawasan hutan yang di lindungi. Bagi yang melanggar ketentuan ini akan di kenakan sanksi berupa: Mengganti 1 pohon yang di tebang dengan menanam kembali 10 pohon pengganti.

Dilarang memanfaatkan sumber daya alam tanpa seizin pranata adat Rejang tik tebing. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa: Berkewajiban mengembalikan semua sumber daya alam yang sudah diambil dan diusir dari wilayah adat tik tebing. Hal itu meliputi Hutan Cadangan dan hutan marga

Dilarang meracuni ikan dan buang air di hulu sungai.

Dilarang menebang/membuka lahan di wilayah hutan keramat (Padang Bano) dan hulu sungai.
Masyarakat diperbolehkan mengambil hasil hutan apapun sebatas untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan tidak boleh dijual/dikomersialisasikan. 
Cepalo Tangen: Dilarang mencuri atau mengambil hak milik orang lain. Bagi yang melanggar ketentuan akan di kenakan sanksi berupa: Mengganti 10 kali lipat jumlah atau nilai barang yang di curi. Jika tidak mematuhi aturan ini maka akan di usir dari wilayah adat komunitas tik tebing.

Celo Mulut: Dilarang memfitnah, menghina, dan mengancam baik di mulut saja maupun dengan alat tertentu. Bagi yang melanggar, dikenakan sanksi berupa menyediakan Sawo (Nasi Ketan, ayam kampung, dan parutan kelapa dengan dula merah) sebagai permintaan maaf.

Dilarang melukai orang lain, jika melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing.

Dilarang berselingkuh, jika melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing dan Sawo.

Dilarang berzina, jika melanggar dikenakan sanksi berupa cambuk sebanyak 70 kali (10 kali cambkan dengan anyaman 7 helai lidi kelapa) dan 1 ekor kambing.

Dilarang memperkosa, jika melanggar dikenakan sanksi berupa sawo dan 1 ekor ayam.

Dilarang membunuh, bagi yang melanggar dikenakan sanksi denda 1 ekor kambing, denda senilai 40 dinar, dan berlaku ujaran “nyawa ganti nyawa” yakni pelaku/anak pelaku pembunuhan menjadi bagian dari keluarga korban.

Dilarang menggembala di lahan orang lain tanpa izin, jika melanggar dikenakan sanksi berupa Sawo
Peradilan adat berbasis aturan adat saat ini tidak kuat lagi mengikat MA Tik Tebing karena beralih ke hukum positif secara bertahap. 
Pada tahun 1970 pernah terjadi pencurian dan tertangkap oleh warga dan dibawa ke tempat kepala adat di panggil di panggil semua kutai di sana dan musyawarah , hasil musyawarah hukuman yang di berikan pada orang tersebut keliling sadei datangi rumah para tetua kutai dan mengakui kesalahanya dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, apa bila melakukan pencurian lagi maka akan diusir dari kutai tik tebing

Pada Juni 2018 terjadi sengketa lahan oleh anggota masyarakat yang melanggar batas hak milik garapan anggota masyarakat lainnya. Basen menghasilkan putusan agar pelaku pelanggaran batas mengembalikan lahan pada pemiliknya.

Pada Oktober 2018 terjadi perzinaan antar-anggota masyarakat yang belum menikah, kedua pelaku dihukum cambuk 70 kali dengan penerapan 10 kali cambukan menggunakan anyaman dari 7 lidi kelapa. Mereka juga disanksi 1 ekor kambing dan mendatangi Ketuai Kutai Tik tebing, Imam/Pabina Sara, dan Kepala Desa/Patai Sadei.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung, ubi kayu, jagung, ubi makok, pisang kacang tanah, kacang merah, ubi kemnor Sayuran : Sawi, Pucuk lumai, kakung, kacang panjang, sayur manis, pucuk genjer, pakis(poong), umbut aren, nangka, umbut meneu(rotan), pucuk semangai, lema, Ikan gabus, ikan sepda, ikan palatima, ikan putih,tiluk, belut, tiding, udang, kepiting, Tapir(tenuk), kancil(kacea), kijang, kambing, rusa, Buah buahan : Duren, nangka, rambutan, papaya(silo), nanas, jambu biji, jambu air, markisa, seltup, buah ukem, buah rebis, buah rotan, buah spinget, buah kanis, buah ketupak, jambu bol, buah afrika, buah tiai, buah puea,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kecantikan : Kunyitdan madu :untuk memutihkan wajah dan jerawat beras: masker tradisional daun kapes : untuk panu mengkudu : untuk membersihkan rambut kayu glingang : penyakit kulit, panu,kurap Sumber Kesehatan : Kunyit : obat sari awan, obat mag, panas dalam, obat sengatan serangga, obat kesapo Nilam: obat luka ringan jahe: obat pinggang sakit, panas dalam, obat sakit perut, obat masuk angina stunyung: obat patah dan keseleo dukut usuk : obat luka dan sakit perut sirih : obat mata, obat jerawat, obat gatal pinang: obat gatal kadaialai(krotowali) : obat malaria dan gatal-gatal mengkudu(denau) : obat penyakita dalam daun kayu sigem : obat mata akar tuai opoi : obat mencret rumput liang sipei : obat ginjal(butau glingen) kulit kayu kedawang : obat luka dalam, wasir dan mag daun kasei : obat gatal-gatal daun smalo: obat darah tinggi
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Mateak, singun, sien,lagen, medang, mpaok, lebau, kasei, semulen, cangkring, kapok, kemiri, singun, sien. Rotan bakul, bambu , pandan tikar, lidi kelapa, lidi nau,lidi sawit sapu
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu cabe, palo, pedes mileak, ladai, kunyit, suei, lajo(lengkuas) , cekoa, buae suei, palo,buah kanis, kulit manis, mingai(kemiri), daun jeruk(lemeu),
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, padi, nilam,karet, sawit, sadapan gula aren, kulit manis, Jengkol, durian, pisang, kemiri, jahe, sahang, dll.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Lebong Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang 4 Tahun 2017 Perda Kabupaten Lebong Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen