Wilayah Adat

Lar Pusu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Komunitas Adat Pusu
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten/Kota SUMBAWA
Kecamatan Batulanteh
Desa Batudulang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.812 Ha
Satuan Lar Pusu
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran,Lahan Basah,Perairan
Batas Barat Tepal dan riu. Kuang cabe, orong mate bewet.
Batas Selatan Talagumung, tepal, brang monte, teba polak, brang pekis dan burut brang kudes.
Batas Timur Bao klempe, puncak gunung batulanteh
Batas Utara Punik, brang ketampu,

Kependudukan

Jumlah KK 70
Jumlah Laki-laki 100
Jumlah Perempuan 90
Mata Pencaharian utama Meramu, berburu, bertani, berladang, beternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sebelum kenegrian pusu terbentuk sebelumnya terdapat lima jompang yang menyatukan diri dan mufakat sehingga memilih kenegrian pusu sebagai tempat untuk bermukim. Kelima jompang tersebut yaitu batu tulis, korbue, batu pleno, bao rio dan sampar bao. Kelima jompang tersebut memiliki kendala dan gangguan masing-masing di tempat bejompang yaitu jompang sampar bao terlalu keras angin, jompang bao rio banyak katak yang masuk kedalam masakannya, jompang korbue banyak semut, jompang batu pleno banyak yang hilang dan jompang batu tulis banyak yang malas. Karena kendala yang dihadapi itu akhirnya mereka sepakat untuk berkumpul di kenegrian pusu sebgai suatu pemukiman.
Setelah mereka sepakat untuk bermukim di kenegrian pusu mereka sepakat menggunakan adat-istiadat kenegrian pusu untuk menjadi system kehidupan social mereka.
Seiring dengan waktu masyarakat komunitas adat kenegrian pusu semakin banyak dan diantara pemukiman yang ada disekitarnya komunitas adat kenegrian pusu merupakan komunitas terbesar dan terbanyak penduduknya.
Sebelum islam datang masyarakat kenegrian pusu menyembah sebuah batu besar di atas gunung disebelah timur yang disebut batu bao brala. Dan disetiap pagi masyarakat kenegrian pusu selalumenyembah batu tersebut seiring keluarnya matahari. Dan ada anggapan lain sebelum islam datang masyarakat kenegrian pusu menyembah matahari sebagai tuhannya. Dan di padukan dengan kegiatan penyembahan batu bao brala di saat keluarnya matahari mungkin di tafsirkan menyembah matahari.
Di saat penjajahan belanda masyarakat komunitas adat kenegrian pusu aktif melawan belanda serta melawan kesultanan Sumbawa yang di anggap sebagai penjajah. Namun strategi kesultanan Sumbawa yang bersatu dengan belanda dan merangkul masyarakat Sumbawa yang menyebabkan kenegrian pusu di jajah Belandah. Setelah colonial belanda berlalu masyarakat kenegrian pusu dilanda sebuah bencana yang dahsat yaitu terjadinya kebakaran di pemukiman sehingga terjadi proses perpindahan sebagain penduduk kepelosok Sumbawa. Dalam kurung waktu yang tidak jauh terjadi lagi kebakaran di pemukiman kenegrian pusu sehingga terjadi perpindahan penduduk. Dalam kurang waktu yang tidak jauh terjadi 5 kali perpindahan penduduk dari kenegrian pusu. Sehingga saat ini di jumpai 50 pemukiman yang tersebar diseluruh pelosok Sumbawa yang berasal dari kenegrian pusu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang terdiri dari hutan adat, omal, ladang, tanah adat dan kebun. Seangkan omal, lading, tanah adat dan kebun merupakan kawasan garapan tempat masyarakat bercoco-cocok tanam.  
rapulung yaitu musyawarah dalam hal penguasaan tanah dengan dikelolah dimanfaatkan dengan berladang 

Kelembagaan Adat

Nama Sangka Rehan Adat Kenegrian Pusu
Struktur -Ine adat (kepala adat), pengulu, rure, ktup, dan mudum. -Bapak adat, mandor sei, mandor due, petih, tamang dan nti adat serta tabib kampung
Bapak adat berfungsi mengatur segala yang berhubungan dengan segala tindakan masyarakat dan yang berurusan dengan pihak pemerintah. Bapak adat orang yang meyelenggarakan aturan-aturan adat.
Ine adat berfungsi untuk menjaga dan mengontrol bapak adat dan masyarakat agar tidak keluar dari aturan-aturan adat dan sebagai pengontrol norma-norma yang ada dalam masyarakat serta yang berhak merubah dan membuat hokum-hukum adat dalam pembaharuan. Ine adat juga seorang yang melakukan dan memimpin dalam setiap kegiatan pranata-pranata adat.
 
Untuk mengambil keputusan bapak adat dan ine adat melakukan rembukkan atau musyawarah untuk mengambil sebuah keputusan yang bersifat khusus. Musyawarah dilakukan secara umum dengan melibatkan seluruh masyarakat apabila berkaitan dengan
permasalahan umum.
 

Hukum Adat

1. Setiap warga tidak boleh berladang dan menebang pohon di hutan adat. Kecuali yang bersifat non kayu.
2. dalam berladang harus dilakukan berindah- pindah tempat artinya tidak boleh berladang secara berturut-turut ditempat yang sama.
3. Tidak boleh menebang pohon di sumber mata air.
4. Tidak boleh menggarap dan menebang pohon di tue (hutan) keramat.
5. dalam pengelolaan hutan garapan sebagai kebun kopi harus disertai dengan penanaman pohon air (rope).
6. tidak boleh menebang pohon besar dalam mengelolala hutan garapan sebelum tumbuh dengan besar pohon air (rope)
 
Tidak boleh kawin lari,
Setiap masyarakat yang melakukan kawin lari tidak akan diperbolehkan memegang jabatan apapun yang berkaitan dalam organisasi kepemimpinan baik kepemimpinan formal maupun kepemimpin adat dalam komunitas adat pusu
 
Setiap masyarakat yang melakukan kawin lari tidak akan diperbolehkan memegang jabatan apapun yang berkaitan dalam organisasi kepemimpinan baik kepemimpinan formal maupun kepemimpin adat dalam komunitas adat pusu. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Buatan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi, kacang-kacangan, kedelai, kopi dan Jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sirih, pinang, Kunyit, Lengkuas, Daun Kelor, Daun Kemangi. Lolo kayu (bahan ramuan tradisional)
Papan dan Bahan Infrastruktur Jati, Rotan, Gaharu, Bambu, limas, udu dan narap
Sumber Sandang Kapas, Kulit Kayu, Pelepah Pisang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, laos, kunyit, sere, cabe, terong, toamat dan sekur.
Sumber Pendapatan Ekonomi Gula merah, padi, rotan