Wilayah Adat

Roby Digan Mo Lang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Roby Digan Mo Lang
Propinsi Papua
Kabupaten/Kota
Kecamatan Unurum Guay
Desa Sawe Suma dan Guriyad
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.853 Ha
Satuan Roby Digan Mo Lang
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat 1. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Titus Birawa. Tanda bentang alam yang menjadi batas adalah Kali Bimohengga. Secara adminitrasi berbatasan dengan Kampung Guryad. 2. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Yustinus Bunggu. Batas wilayah di tandai dengan Kali Hale kwalom bweisyal. Secara admintrasi batas antar marga ini berada dalam wilayah Kampung Sawe Suma. 3. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Yustinus Bunggu. Batas wilayah di tandai dengan Kali Anena. Secara admintrasi batas antar marga ini berada dalam wilayah Kampung Sawe Suma.
Batas Selatan 1. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Barnabas Dohlem. Batas wilayah ditandai dengan Bukit Bwalan Hwak dan Kali Samap. Secara adminitrasi berbatasan dengan Kampung Guriyad. 2. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Tomas Buryam. Tanda bentang alam yang menjadi batas adalah Gunung Emse. Secara adminitrasi berbatasan dengan Kampung Guryad.
Batas Timur 1. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Bernad Dies. Tanda bentang alam yang menjadi batas adalah Bukit Bwalan. Secara adminitrasi berbatasan dengan Kampung Garusa. 2. Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Barnabas Dohlen. Tanda bentang alam yang menjadi batas adalah Muara (aliran akhir kali) Kali Guptare. Secara adminitrasi berbatasan dengan Kampung Kampung Garusa.
Batas Utara Berbatasan dengan Wilayah Adat Marga Nikolas Digan. Batas wilayah di tandai dengan Bukit (Bwalan) dan Kampung Tua Sarsana. Secara admintrasi batas antar marga ini berada dalam wilayah Kampung Sawe Suma.

Kependudukan

Jumlah KK 56
Jumlah Laki-laki 123
Jumlah Perempuan 110
Mata Pencaharian utama Berburu, Berkebun dan Meramu

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Manusia pertama suku Sasbe mengantar Marga Digan dari daerah Kampung Jaram ke Gunung augghum Sawe ebwan. Gunung aungghum Sawe ebwan adalah salah satu gunung yang berada didalam wilayah adat Roby Digan Molang dan sebagai batas antara Marga digan dan Bunggu. Gunung aungghum Sawe ebwan menjadi tempat pertama berkembang Marga Digan. Tanda kepemilikan Marga Digan dalam wilayah ini ditunjukkan dengan tanda-tanda bentang alam dan jenis hewan yang menjadi kepercayaan Marga Digan dengan cerita dan nilai-nilai adat yang sacral, diantaranya Air dibandar kayu besi. Air ini dipercaya memiliki kemampuan membuat orang tetap mudah. Pada mulanya ada banyak Marga Digan yang menempati wilayah gunung angghum Sawe ebwan. Suatu Ketika terjadi bencana alam yang menyebabkan Marga Digan tersebar luar dibeberapa dataran wilayah suku sawe dan wilayah suku lainnya disekitarnya seperti daerah tarfia dan sekitarnya. Salah satu moyang Marga Digan yang tersangkut/bertahan di wilayah yang menjadi wilayah adat Digan saat ini adalah moyang dari Roby Digan dan merupakan moyang tertua saat itu. Tempat terdamparnya moyang Marga Digan tertua ini disebut Gunung Bwenerem.
Gunung Bwenerem merupakan tempat tinggal pertama Marga Digan. Moyang Marga Digan tertua membagi wilayahnya ke saudara yang se Marga dan beberapa Marga lainnya selain Marga Digan. Marga lain tersebut antara lain, Marga Jasa, Marga Tekbo, dan Bunggu. Gunung Bwenerem menjadi tempat dimana Marga Digan dan ketiga Marga lainnya melakukan ritual adat pemakaman sebelum jenasa orang mati diantara Marg aini disemayamkan ke tempat penyimpanan jenasa di kali kecil sekitar Gunung Bwenerem. Moyang Marga Digan tidak mengijinkan Marga-Marga lain yang hidup disekitar/pinggiran gunung Bweneren untuk naik atau masuk ke daerah sacral tersebut. Tempat sacral ini disebut aukgol. Aukgol adalah tempat sacral/keramat yang masih diketahui oleh seluruh masyarakat adat suku Sawe.
Marga pertama yang dibawa ke wilayah adat Marga Digan adalah Marga Jasa. Saat itu seekor Babi peliharaan milik Marga Jasa masuk kedalam dusun sagu milik moyang Marga Digan dan merusak hasil olahan sagu dari kedua istri moyang Marga Digan. Suatu waktu moyang Marga Digan memburu dan memanah Babi tersebut. Kemudian mengejar Babi milik moyang Marga Jasa sampai ke wilayah telaga Teun tepatnya di kampung tua Bulungge. Kampung tua Bulungge adalah tempat tinggal/hidup pertama moyang Marag Jasa. Karena Babi moyang Marga jasa telah luka dan mati. Kemudian Babi dimasak untuk makan-makan bersama. Namun ada keanehan karena ternyata yang menjadi istri moyang Jasa bukan merupakan sosok manusia, melainkan sebuah pohon kayu yang dalam Bahasa Sawe disebut “buru-buru”. Moyang Marga Digan mengajak moyang Marga jasa ke Gunung Bwenerem dan memberikan istri mudahnya untuk dikawini oleh moyang Marga Jasa. Kemudian mengajarkan semua hal tentang hidup bersama manusia normal dan memberikan Sebagian wilayah moyang Marga Digan untuk dijadikan kebun dan memulai hidup. Logo atau symbol tempat keramat tersebut berupa taring babi dan masih disimpan sampai saat ini.
Tempat yang diberikan oleh Marga Digan ini disebut Kampung tua abdure. Batas Marga Jasa ini bersebelahan dengan Tekbo.
Marga Tekbo merupakan Marga kedua yang diajak untuk hidup di wilayah adat Marga Digan. Marga Tekbo sendiri adalah suku sasbe yang aktivitasnya adalah berburunya hanya dilakukan saat malam hari dengan menggunakan api sebagai alat penerang. Setelah pagi sisa punting api yang digunakan untuk berburu dan disimpan dibatang kayu. Pertemuan antara Marga Digan dan Tekbo di gunung Guerak yang masih merupakan wilayah adat Marga Digan yang pada saat melakukan itu aktivitas berburu. Setelah pertemuan ini Marga Tekbo diberikan batas-batas wilayah pencarian makanan serta hutan besar. Sebutan Marga Tekbo berasal dari sebutan Tesbo yang artinya punting kayu yang dibakar. Kampung tua tempat tinggal Marga Tekbo dan Bunggu adalah Kampung Yumule dan Abdure. Logo atau symbol tempat keramat tersebut berupa taring babi dan masih disimpan sampai saat ini.
Berjalannya waktu munculah perang perebutan wilayah perbatasan antara suku Sawe dengan suku trawasimaringgi. Perag suku ini mengakibatkan meninggalnya istri dari salah seorang Marga Tekbo yang merupakan kubu suku sawe. Suku sawe sendiri terdiri dari Marga Tekbo, marga Digan dan marga lainnya. Pada saat itu datanglah Marga-Marga Bunggu dari luar suku sawe yang diajak untuk terlibat dalam perang suku tersebut dengan janji akan diberikan imbalan, jika moyang Marga Bunggu berhasil membunuh panglima suku trawasimaringgi, maka suku sawe sebagai imbalan. Marga Bunggu sampai saat ini masih digabungkan kedalam suku Sawe sebagai balas jasa karena berhasil membunuh panglima suku trawasimaringgi atau disebut “Senwal”. Sedangkan untuk wilayah yang dimiliki Marga Bunggu saat ini merupakan wilayah yang diberikan Marga Tekbo.
Wilayah adat Marga Dohlen berbatasan di kali kabur (samap) sampai mendekati wilayah dari bapak Thomas buryam yaitu gunung hemse. Di wilayah tempat keramat terdapat satu kali/sunga yang tidak boleh sembarang orang menginjakkan kaki di kali/sungai tersebut.
Suku Sawe membuat aturan pelanggaran atas pembunuhan kusu (kus-kus) mulai dari wilayah hotep dan sekitarnya, dimana kusu ini adalah wujud dari roh moyang Marag Digan. Wilayah sacral/Hutan keramat ini, masyarakat atau penduduk luar kampung Sawe Suma dilarang melakukan hal-hal seperti berhubungan suami istri, tidak boleh bersuara atau rebut dan harus bersih secara pikiran apabila hal-hal tersebut dilanggar maka akan sakit. Pelanggaran tersebut masih dipegang hingga saat ini oleh masyarakat suku sawe, tidak semua orang boleh masuk ke wilayah tersebut.
Saudara kandung dari pak Roby Digan sendiri terdiri atas lima bersaudara orang, tetapi kedua saudara pak Roby meninggal, maka tersisa tiga bersaudara, sodari tertua perempuan pak Roby Digan yang telah meninggal serta ketiga adik lelaki.
Tujuan pembagian hak ulayat untuk mengontrol pengelolaan.
Wilayah adat suku Sawe yang merupakan wilayah adat yang berada di daerah Distrik Unurum Guay Kabupaten Jayapura.
Masyarakat adat suku Sawe terdiri dari Marga Digan, Jasa, Tekbo dan Bunggu. Kekerabatan keempat Marga didalam wilayah adat suku sawe ditandai dengan perkawinan antara Marga-Marga didalam wilayah adat suku Sawe. Sawe Suma dengan Arti: Sawe adalah orang asli sawe, dan Suma adalah sungai (kali).
Respon masyarakat sawe pada saat dulu sangat terbuka untuk pihak luar, menghargai pihak lain yang datang dari luar.
Pada tahun 1950an geraja pertama kali masuk di kampung Sawe Suma. Penyebaran agama ini dilakukan oleh guru-guru Jemaat sinode GKI Papua.
Masyarakat suku sawe dengan 4 Marga yaitu, Digan, Jasa, Tekbo dan Bunggu. Dari keempat Marag tersebut yang tertua adalah Marga Digan. Keempat Marga tersebut mulai berpindah dari kampung tua Bwenerem ke kampung Sawe Suma sejak tahun 1946 hingga saat ini. Alasan berpindah dari Kampung tua Boinerem ke Kampung Sawe Suma, karena masyarakat Kampung Sawe Suma sejak dahulu mengenal sistem Barter Sumber Daya Alam. Adapun jenis sumber daya alam yang ditukar seperti Sagu, Pinang, Daging (asar dan mentah). Jenis barang ini di barter dengan pisau, parang, garam, korek jenis ikan dan lain-lain dengan masyarakat kampung Kaptiau. Masyarakat Kaptiau merupakan salah satu suku di wilayah kabupaten Sarmi yang disebut suku Isirawa.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan Primer (Eikzal) Wilayah Kebun (nga), Hutan keramat (Bwenerem) Wilayah Berburu (sohlas), Wilayah Meramu (Nggagra), Hutan (Eik), Gunung (kwatap), Rawa (Kati) 
Eikzal adalah Hutan yang masih alami (Primer) dan belum dikelola oleh masyarakat, merupakan hutan kepemilikan berdasarkan Marga masyarakat adat.
Nga merupakan hutan kepemilikan tunggal yang telah dikelolah dan dimanfaatkan oleh masyarakat adat.
Bwenerem merupakan tempat yang disakralkan dan bernilai mistis dengan larangan-larangan tertentu.
 

Kelembagaan Adat

Nama Sub Dewan Adat Suku (DAS) Oktim
Struktur Sub Dewan Adat Suku Umnurumguay
Mengambil keputusan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan konflik yang terjadi didalam wilayah adat, suku /Marga di wilayah adat suku Oktim

Mengatur dan menyeselesaikan masalah sengketa terkait tapal batas wilayah adat di tingkat marga untuk keseluruhan wilayah adat oktim.
 
Melalui musyawarah para-para adat DAS Oktim yang dikoordinir, oleh ketua DAS. Keputusan-keputusan dalam penyelesaian masalah diusulkan secara bersama oleh peserta musyawarah dan disahkan oleh ketua DAS.
Ada.
Biasa yang terlibat dalam musyawarah adat DAS Oktim adalah para Kamadi (Pemimpin Marga).
Menyelesaikan masalah/sengketa terkait tapal batal wilayah dan aturan terkait pranata sosial di tingkat wilayah suku oktim.
 

Hukum Adat

Hutan
Hutan dan kayu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ekonomi untuk pembuatan rumah dan fasilitas ibadah. Melalui ijin ke pemilik wilayah untuk menebang. Jika tidak meminta ijin ke pemilik wilayah, maka yang bersangkutan akan ditegur. Persoalan saat ini DAS Oktim belum memiliki Hukum atau peraturan tetap terhadap jenis pelanggaran seperti ini.
Tanah
Jika ada Marga atau orang yang melakukan aktivitas diatas kepemilikan wilayah/tanah suatu Marga, maka akan ditegur, untuk pelanggaran pertama dengan menunjukkan batas tanah, tetapi jika masih dilakukan akan dilakukan musyawarah kedua bela pihak diselesaikan secara kekeluargaan.
Melakukan aktivitas berburu didalam wilayah adat sebagai bentuk dari proses perlindungan guna mengantisipasi hal-hal yang dapat merusak sda yang menjadi potensi hutan maupun potensi ekowisata didalam wilayah adat.
Dusun Sagu
Memberikan teguran kepada pelanggar yang masuk ke dusun tana sepengetahuan pemilik dusun. Jika d suatu wilayah ada dusun yang diberikan oleh orang tua untuk dikelola secara bersama, maka dusun ini akan menjadi tempat pencarian bersama, baik dari keturunan laki-laki dan perempuan. Untuk pengelolaan, perempuan dapat mengelola dusun sagu ini atas ijin dari laki-laki tertua didalam pemilik wilayah dusun.
Sungai
Pembagian wilayah mencari/menangkap ikan berdasarkan kepemilikan bersama di sepanjang sungai secara tradisional. Jika proses penangkapan ikan dilakukan dengan cara penggunaan potas dan meracun ikan akan diberikan sanksi berupa teguran.
Kebun
Pembukaan kebun dimuali rintis secara bersama oleh kelompok masyarakat dari beberapa Marga, setelah direntes, dilakukan proses penebangan pohon didalam wilayah kebun. Setelah proses ini lokasi kebun dibiarkan selama satu minggu sampai benar-benar kering, kemudian dilakuakn proses pembakaran. Setelah proses pembakaran, dilakukan pembersihan pada lokasi yang dibakar, kemudian dilakukan proses penanaman. Terkait sanksi untuk pelanggar yang mengambil hasil kebun tanpa sepengetahuan pemilik kebun, akan ditegur dengan peringatan-peringatan lisan.
 
Perkawinan
Syarat dalam perkawinan masyarakat adat Sawe Suma sebagai berikut:
1. Laki-laki harus pintar dalam melakukan pemburuan hewan, maka dianggap sudah siap dan mampu menjamin perempuan yang menjadi pasangan hidupnya.
2. Menukar pasangan dalam hubungan keluarga yang berbeda Marga. Misalnya laki-laki dari marga A akan dikawinkan dengan perempuan dari Marga B. maka laki-laki dari marga B akan ditukarkan/dikawinkan dengan perempuan dari Marga A. hal ini dilakukan untuk mengurangi tuntutan maskawin dalam adat perkawinan masyarakat Sawe Suma.
Prosesi/persetejuan perkawinan dalam masyarakat Sawe Suma adalah sebagai berikut:
1. Peminangan, persetujuan-persetujuan secara adat terkait waktu peminang, besaran mas kawin/harta yang dibayar.
2. Pembayaran Mas kawin/harta secaar adat oleh masyarakat Sawe Suma disebut “makan sumbang” yang artinya saling membantu dalam pembayaran emas kawin/harta ke pihak perempuan. Hal ini dilakukan oleh masyarakat dengan suka rela dan dicatat untuk proses pembayaran mas kawin/harta oleh laki-laki Kampung sawe Suma lainnya, dalam hal ini yang membantu pada proses pembayaran tersebut.
3. Laki-laki sudah siap dan sah untuk membangun satu rumah tangga baru.



Pencurian
Pada jaman dulu biasanya orang melakukan pencurian masyarakat membuat sumpah terhadap pelaku yang dapat menyebabkan kematian bagi pelaku pencurian.

Perkelahian.
Diurus secara adat, pihak yang salah diberikan sanksi denda adat sesuai aturan adat untuk kasus perkelahian akibat selingkuh dengan istri atau suami pihak lain.
Tarian Adat Soper
Tarian ini dilakukan oleh masyarakat kampung Sawe Suma untuk menyambut tamu misalnya Bupati atau Pimpinan daerah lainnya. Prosesi ini dilakukan dengan cara menaynyi sambal menari mengiringi para tamu yang berkunjung ke kampung Sawe Suma. Irama nyanyian dipimpin oleh orang yang benar-benar memahami makna nyanyian dalam tarian tersebut. Biasa lebih dulu mengangkat nyanyian kemudian diikuti oleh seluruh masyarakat yang terlibat didalam tarian Adat Soper.
 
Panah/Tikam paha
Hal ini dilakukan terhadap pelanggaran perselingkuhan/asusila didalam lingkungan masyarakat adat. prosesnya jika ada laki-laki/perempuan yang melakukan asusila dengan suami/istri orang lain. Maka paha kedua pelanggar aturan adat akan dipanah/ditikam atas persetujuan orang kedua bela pihak yang melakukan pelanggaran tersebut. Alat yang digunakan dalam proses ini adalah busur dan panah (dari batang nibun atau tulang kangguru tanah). Tulang kasuari yang sudah diruncing. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1960an di kampung lama Boinerem.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Sagu, Ubi-ubian, (Petatas, bete, keladi dan kasbi), pisang, sayuran. Daging Babi hutan, Tikus tanah, ikan, udang dan Rusa
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun Gatal digunakan menyembuhkan bagian tubuh yang bengkak, menghilang pegal-pegal dan cape. Daun kayu srak, digunakan untuk menghisap darah mati dan menyembuhkan gigitan ular dengan cara menggunakan daun kemudia dihisap.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Besi, (tiang kolong rumah panggung, papan lantai,) kayu matoa (papan dinding rumah dan balok tiang) kayu bintanggur, kayu nyata, kayu kenari, jenis kayu Jambu, Kayu Putih batu, pasir, atap dari daun rumbia, daun sagu dan daun woka.
Sumber Sandang Kulit kayu makota dewa, digunakan untuk membuat kantong (Noken) ciri khas kampung Sawe Suma Kayu Lenggua kuning dan merah, getah pohon digunakan untuk mewarnai ukiran
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jahe (erikin), Lengkuas (sogwalin), Serei (hisasbuan), lemon (lemo), rica
Sumber Pendapatan Ekonomi Penjualan hasil kebun, hasil olahan sagu dan hasil dari hutan terdiri dari HHBK dan kayu. Singkong (Kasbi), Keladi, Petatas, Sayuran, buah-buahan, daging hasil buruan, kerajinan anyaman noken.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Jayapura Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat 8 Tahun 2018 Perda Kabupaten Jayapura Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 PERDA Kabupaten Jayapura No 8 Tahun 2016 Tentang Kampung Adat 8 Tahun 2016 PERDA Kabupaten Jayapura No 8 Tahun 2016 Tentang Kampung Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
3 PERDASUS NOMOR 23 THN 2008 TENTANG HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT ATAS TANAH 23 Tahun 2008 PERDASUS NOMOR 23 THN 2008 TENTANG HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT ATAS TANAH Perda Provinsi Daerah  Dokumen
4 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat 9 Tahun 2020 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat Nasional  Dokumen