Wilayah Adat

Pnu Banemo (Boton Banemo)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Banemo
Propinsi Maluku Utara
Kabupaten/Kota HALMAHERA TENGAH
Kecamatan Patani Barat
Desa Desa Banemo, Desa Bobane Indah, dan Desa Bobane Jaya
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 7.428 Ha
Satuan Pnu Banemo (Boton Banemo)
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Berbatasan dengan Desa (Pnu) Moreala dengan tanda batas berupa Sungai Plikpop, Gunung Rahmat, Titik di Sungai Moreala, Titik di Sungai Kilima, Sibuauleng (Tempat dengan Bekas Pondokan Bambu), Kaki Gunung Tegalaya.
Batas Selatan Teluk Weda.
Batas Timur Berbatasan dengan Desa (Pnu) Masure dan Desa Kipai dengan tanda batas berupa Kali Woyo Kananga, Bukit Fitongowo, Bet Pala, Bukit dan Kali Yoisirmoto (Kali Mati), Sem Rom Kelompok 1 Bobane Indah (Om Gafur), Sem Rom (dsb).
Batas Utara Berbatasan dengan Desa (Pnu) Peniti dan Desa Moriala dengan tanda batas yaitu Gunung Lon Gul, Yof Rom (Hutan dengan banyak Tanaman Sagu), Yoli (Pagar Batu Karang), dan Kaki Gunung Kubur Damuli.

Kependudukan

Jumlah KK 667
Jumlah Laki-laki 1597
Jumlah Perempuan 1512
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun dan Nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Banemo di masa lalu adalah orang-orang suku Sawai yang mendiami wilayah tanjung tempat arus laut yang cukup kuat berada atau disebut dengan istilah lokal “Mo”. Orang-orang Sawai di Mo ini mencari makan dengan menangkap ikan yang melimpah dan mengumpulkan sagu dan kelapa di pesisir hingga hutan. Dituturkan bahwa pada saat itu, mereka telah mengenal dan memeluk ajaran agama Islam yang dibawa oleh orang-orang Tidore. Pada saat itu, mereka membayar zakat dengan menggunakan hasil bumi berupa sagu.
Pada zaman Bangsa Portugis masuk ke Maluku, Masyarakat Adat Banemo yang berinteraksi dengan masyarakat adat lain yang bermukim dari wilayah Were (Weda saat ini) hingga Poton (Patani saat ini) melakukan perlawanan. Dikisahkan bahwa melalui anjuran dari kesultanan Tidore, beberapa orang dari sepanjang wilayah itu berkumpul di Mbletubu Mo (Tanjung Mo) untuk menghalau Portugis (yang kala itu bersekutu dengan Kesultanan Ternate) dengan cara mengumpulkan batu-batu di atas tempat yang tinggi yang kemudian ditahan. Jika Portugis datang, seorang pengawas di bawah akan memberi komando dengan ujaran “Pero Sawai Nkot”, orang-orang Sawai di atas kemudian melepaskan batu-batu itu dan kemudian meluncur dan menimpa orang-orang asing tersebut. Setidaknya mereka melakukan hal itu sekitar 1 sampai 2 tahun.
Beberapa lama kemudian, setelah dirasakan alam yang tidak lagi mendukung penghidupan, orang-orang yang berdiam di Mo itu berpindah ke sebelah barat dan mendirikan pemukiman baru di dataran seperti cabang pohon yang disebut Siksok. Di dataran siksok itu berkembanglah pemukiman orang-orang Mo yang disebut Pnu Bono yang berarti “Kampung Yang Dituju”. Pada saat perkembangan Pnu Bono ini, ajaran Islam diperkuat dengan membawa beberapa orang Mo seperti Hamidu untuk belajar Islam di Kesulatanan Tidore untuk kemudian kembali di Pnu Bono. Pada saat itu, orang-orang Mo yang memiliki kesaktian secara berkelompok menebar ancaman kepada orang-orang Belanda di sepanjang wilayah pesisir dari Tanjung Mo sampai ke Botlot (Batas Desa Siben dan Desa Were saat ini)
Kehidupan di Pnu Bono kemudian berpindah lagi ke sebelah barat hingga tiba di dataran yang terdapat sebuah pohon bambu yang terlihat akarnya sehingga dinamakan Remdi/akar. Pemukiman di Remdi bertumbuh pesat dengan jumlah ikan yang melimpah. Sampai suatu saat seiring bertambahnya jumlah penduduk, orang-orang Mo di Pnu Remdi berpindah mukim ke sebelah timur di dekat sungai besar bernama Woyobibil yang dirasa sangat strategis untuk bertempat tinggal. Pemukiman di sekitar Sungai Woyobibil itulah yang berkembang menjadi “Pnu Banemo” yang dipimpin oleh seorang Wlon pertama bernama Dode. Penamaan “Banemo” sendiri berasal dari dua kata yaitu “Bobane” yang berarti tempat tinggal/wilayah kekuasaan dan ”Mo” yaitu orang-orang Mo. Orang-orang Banemo saat itu menggarap kebun dengan membudidaya kelapa dan sagu hingga wilayah Dote (Desa Dote saat ini).
Dituturkan bahwa pada saat bermukim di Pnu Banemo ini, penjajah jepang datang untuk membawa nenek moyang orang-orang Banemo untuk bekerja mendirikan benteng di Morotai. Namun, tidak satupun dari mereka yang kembali ke Pnu Banemo hingga kini. Perkembangan struktur masyarakat Banemo kala itu menjadi dinamis dengan datangnya orang-orang dari luar Banemo dan dengan kemunculan marga-marga seperti Marga Usman (Siswai), Marga Abdullah, Marga Dode, dan lain-lain. Dikisahkan pula bahwa banyak pendatang dari Pulau Selayar dan Pulau Buton, Sulawesi Selatan serta orang-orang Tobelo dari utara Halmahera yang mendiami pesisir Banemo. Para pendatang itu kemudian diberikan wilayah oleh orang-orang Banemo hingga menjadi Bobane Moreala yang didiami oleh orang-orang Selayar-Buton dan Bobane Siben Popo untuk orang-orang Tobelo.
Pada tahun 1940an dibuka Madrasah Diniyah “Raudhatul Islam” oleh Ustadz Ahmad Al-Hadar dengan salah satu pengajarnya adalah Ustadz H. Muhammad Hanafi Abdullah. Beberapa waktu berlalu, diambillah dua tenaga pengajar dari Tidore bernama Ustadz Kadir dan Ustadz Hasan. Pada zaman Jepang, terjadi pengeboman di masjid milik Masyarakat Banemo, tetapi pengeboman itu meleset ke samping dari bangunan Masjid. Pada tahun 1960an terjadi perubahan bentuk pemerintahan dari “Pnu” menjadi ”Kampung” yang juga mempengaruhi bentuk kepemimpinan dari Wlon terputus digantikan Kepala Kampung hingga saat ini. Lahan-lahan garapan berupa kebun dan wilayah hutan/Somrem yang ditumbuhi tanaman pala alami dikuasai dan dikelola oleh orang-orang Banemo secara komunal. Pada tahun 1967 didirikan masjid di Pnu Banemo dan dinamakan “Al-Ikhlas” yang dibuat oleh orang Tidore dengan tiang pertama dan bahan-bahan lain berasal dari hutan Banemo.
Sekitar tahun 1980an, wilayah adat Banemo dijadikan konsesi oleh pemerintah ditandai dengan masuknya perusahaan logging pertama yaitu PT. Barito di tahun 1985 yang menjalankan usahanya sekitar 2 tahun hingga tahun 1987. Menyadari ancaman dan risiko kehilangan tanaman pala di hutan-hutan, masyarakat Banemo bersepakat untuk membagi areal hutan-hutan kepada 36 kelompok yang beranggotakan Masyarakat Adat Banemo sendiri. Hal itu dilakukan untuk memberikan pengamanan atas wilayah hutan dengan melakukan pengawasan yang ditanggungjawabi oleh kelompok-kelompok tersebut di areal-areal yang sudah ditunjuk. Pasca PT. Barito, masuk lagi PT. Henrison, perusahaan logging yang berusaha di wilayah adat Banemo pada tahun 1996 dengan kesepakatan bersama untuk tidak menebang/merusak tanaman pala hutan milik warga tanpa izin. Namun, pada awal tahun 1999 perusahaan melanggar kesepakatan itu dan membuat warga marah. Seluruh warga Banemo pergi ke dalam hutan dan mengusir para pekerja perusahaan beserta alat-alat berat mereka. Pasca PT. Henrison, masuk satu lagi perusahaan logging yaitu PT. Trisetya dengan kontrak 3 tahun saja.
Pada tahun 2001—2002, Masyarakat Desa Banemo setuju untuk merombak masjid Al-Ikhlas. Untuk modal renovasi masjid, Masyarakat Adat Banemo berbondong-bondong memanen pala hutan dan menyisihkan 50% dari hasilnya untuk pembangunan masjid. Pada tahun 2002 terjadi sengketa lahan hutan sekitar Tagalaya (utara Sungai Plikpop) antara Desa Moreala dan Desa Banemo. Merespon hal itu, diadakanlah pertemuan antara 3 desa yaitu Desa Banemo, Desa Siben, dan Desa Moreala. Para tetua dari ketiga desa tersebut kemudian mengisahkan kembali pembentukan ketiga Pnu/Bobane itu di masa lalu yang merupakan kesatuan dari wilayah kelola orang-orang Banemo. Pertemuan itu kemudian menyelesaikan sengketa lahan antara Desa Banemo dan Desa Moreala yang disaksikan oleh orang-orang dari Desa Siben. Sekitar 7 tahun kemudian, Desa Banemo mengalami pemekaran menjadi 3 yaitu Desa Banemo, Desa Bobane Jaya, dan Desa Bobane Indah pada tahun 2009. Masyarakat Adat Banemo saat ini sedang memperjuangkan pengakuan dan pelindungan atas hak-hak ulayatnya melalui proses legislasi berupa Perda dan SK Bupati sejak tahun 2014 hingga saat proses penulisan sejarah ini berjalan di tahun 2018.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pnu adalah Areal yang dijadikan pemukiman tempat rumah-rumah masyarakat berada, yang biasanya terletak di wilayah pesisir.

Sem Rom adalah Kawasan Hutan yang dimanfaatkan secara terbatas dan dilindungi dengan tutupan vegetasi berupa tanaman Pala Hutan (alami), Pohon Damar/Agatis, Pohon Besi, Rotan, dll. Adapula Sem Rom yang berbentuk bentangan berupa gunung/bukit batu karang.

Bet adalah Areal lahan perkebunan masyarakat dengan tutupan vegetasi berupa tanaman Sem (Pala), Cengkeh, Niwi (Kelapa), Yof (Sagu), dll.

Jere adalah Tempat-tempat yang dikeramatkan/kuburan yang dahulunya dijadikan tempat upacara/ritual namun saat ini sudah berangsur ditinggalkan.

Wolot adalah Areal laut tempat menangkap ikan, transportasi, dan lain-lain. 
Sistem Penguasaan dan Pengelolaan di Wilayah Adat Banemo pada awalnya bersifat komunal atau dimiliki dan dikelola secara bersama-sama. Seiring perkembangan waktu dan dinamika masyarakat adat, kemunculan satuan sosial yaitu marga-marga dan kedatangan para pendatang (masyarakat lain maupun perusahaan) pada saat Pnu Banemo berkembang memengaruhi/mengubah sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah. Sistem penguasaan dan pengelolaan itu berlaku secara beragam sesuai dengan ruang-ruang yang diatur secara adat/turun-temurun.

Pada kawasan Sem Rom, penguasaan dan pegelolaan yang pada awal berdirinya Pnu Banemo bersifat komunal oleh dan untuk seluruh masyarakat atau yang disebt sebagai Tanah Iftirimi. Namun, konsep komunal dalam tanah Iftirimi mengalami perubahan sejak adanya risiko kehilangan tanaman pala hutan oleh karena perusahaan logging yang sejak tahun 1980an masuk ke wilayah adat Banemo. Sebagian besar kawasan Sem Rom dibagi pengelolaannya ke 36 kelompok-kelompok (baik berdasar keluarga besar/marga maupun lintas-keluarga). Adapun aturan Subjek Hak yang dipegang oleh “Kelompok” atas Objek Hak berupa “Sem Rom” :
1. Kelompok bertindak sebagai Subjek atas Hak Kelola/Pemanfaatan dan Hak Pengawasan dari Areal Sem Rom yang telah ditentukan, tetapi bukan Hak Milik,
2. Anggota dalam kelompok diperbolehkan mengubah tanaman di Sem Rom dengan tanaman kebun rakyat seperti Pala, Kelapa, Cengkeh, dan lain-lain melalui mekanisme musyawarah kelompok/seizin Ketua Kelompok, tanah Sem Rom yang berubah menjadi Bet (Kebun), berubah hak miliknya dari komunal ke individu/keluarga,
3. Kelompok tidak dapat melakukan peralihan kepemilikan/menjual wilayah Sem Rom yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak lain. Keputusan untuk Peralihan hak milik Sem Rom berada di Musyawarah 36 Kelompok,
4. Kelompok Sem Rom dapat mengambil manfaat/hasil hutan dari areal Kelompok lain dengan persetujuan dari kelompok pengelola areal Sem Rom tersebut,
5. Areal Sem Rom yang tidak ditentukan hak kelola/guna-nya kepada suatu kelompok tertentu, maka dikelola secara komunal (Konsep Tanah Iftirimi Lama).

Adapun tanah-tanah lain di hutan yang tidak memiliki pohon pala hutan di dalamnya dan tidak masuk ke wilayah kelompok manapun, dapat dijadikan kebun milik individu/perorangan dengan atau tanpa mekanisme izin kepada tetua-tetua kampung.

Hak milik dan hak kelola/guna dari obek tenurial berupa kebun/bet dimiliki oleh beberapa subjek hak yaitu. Individu/Keluarga dan Marga yang telah secara turun-temurun membuka, menguasai, dan mengelola wilayah kebun tertentu (biasanya Kebun Sagu/Bet Yof). 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Banemo
Struktur Kepala Kampung Mahimo Juru Tulis Watam Tetua Marga
Kepala Kampung: Bertugas untuk mengurusi perkampungan
Mahimo: Bertugas untuk membantu kepala Kampung
Juru tulis: bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan administrasi
Watam: Bertugas mengurusi adat
Tetua Marga: Menyelesaikan urusan dan permasalahan dalam lingkup marga secara kekeluargaan 
Melalui Faflofo/Musyawarah di Tingkat Pnu/Kampung dihadiri oleh … dan bertujuan untuk penyelesaian masalah antar-warga, mengambil keputusan penting terkait satu kampung, dan sebagainya.

Faflofo/Musyawarah di Tingkat Marga dan/atau Keluarga dihadiri oleh Anggota Marga/Keluarga bertujuan untuk membicarakan ahli waris, perencanaan tradisi yang berhubungan dengan siklus kehidupan anggota Marga/Keluarga (Kelahiran, Perkawinan, dan Kematian),

Faflofo/Musyawarah di Tingkat Kelompok dan/atau Antar-Kelompok dihadiri oleh anggota kelompok dan bertujuan untuk melakukan pengambilan keputusan terkait perpindahan hak milik atau hak kelola dan/atau perubahan fungsi dari lahan Sem Rom di tingkat antar-kelompok dan melakukan penyelesaian masalah yang terjadi di tingkat kelompok atau antar-kelompok. 

Hukum Adat

Faswala : membuat tanda pada pepohonan yang berti bahwa areal atau lokasi tersebut sudah dirintis oleh seseorang atau kelempok tertentu untuk dijadikan lahan perkebunan dan tidak lagi diganggu oleh orang atau kelompok yang lain. Sagu yang akan dipetik oleh keturunan akan diberi faswala

Woyo bibil : daerah atau lokasi yang terdapat mata air (sumber air) yang tidak boleh dijadikan sebagai lahan perkebunan, pemukiman, dan yang lainnya. (sudah dibongkar karena penduduk bertambah)

Bet Yof dikuasai oleh marga-marga tertentu namun dalam pengelolaannya/penggunaannya oleh komunal, setiap orang dapat mengambil sagu di wilayah marga-marga itu.

Mengambil kayu di Sem Rom diperbolehkan tetapi dengan membayar biaya sebesar 50 rupiah per kubik dan diberikan kepada ketua-ketua kelompok (untuk perusahaan).

Diperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu secara terbatas untuk kebutuhan papan, jika ingin dijual maka harus sepengetahuan ketua kelompok Sem Rom.

Ada perjanjian untuk tidak membuka hutan/lahan di wilayah Hutan Obli seluas 3 hektar untuk melindungi Sumber Mata Air.

Ada proses jual beli lahan namun terjadi antar-warga Banemo saja.

Boleh mengambil hasil pala hutan di Sem Rom milik kelompok lain. 
Pebari kerja bersama tanam, panen, bikin rumah,

Dilarang Berselingkuh, jika melanggar maka dikenakan sanksi adat berupa perintah untuk meninggalkan rumah dengan hanya apa yang menempel di tubuh saja, pihak laki-laki bekerja.

Dilarang berduaan bagi pemuda-pemudi sampai larut malam atau ditempat yang sepi/gelap, jika melanggar maka akan dikawinkan dengan mendorong keluarga.

Dilarang mencuri, jika melanggar maka dikenakan sanksi adat berupa digiring keliling kampung dengan memikul kayu balok dengan tulisan “Aija/Amja (K) Malewes” atau yang berarti “Saya/Torang Ini Pencuri” yang digantung di leher dan wajib mengganti senilai yang dicuri.

Dilarang Berkelahi antar-individu maupun antar-kelompok, jika melanggar maka dikenakan sanksi adat berupa denda tergantung pada kondisi korban dengan minimal 5 juta.

Jika ada hewan ternak merusak kebun orang lain, maka akan dikenakan sanksi adat berupa denda tergantung kerugian yang dirusak.

Terdapat beberapa aturan adat lainnya yang dahulu pernah mengikat masyarakat, tetapi kemudian berangsur menghilang dan digantikan hukum positif. 
September 2018 terjadi pengrusakan kebun oleh hewan ternak warga lain, pemilik ternak dikenakan sanksi berupa denda sebesar Rp. 600.000. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Sagu, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Pisang, Jagung, Keladi, Protein Nabati: Kacang Tanah, Kacang Ijo, Protein Hewani: Ikan, Ayam, Telur, Kambing, Sapi, Vitamin Sayur: Kacang Panjang, Kangkung, Bayam, Sayur Paku, Sayur Buluh, Jamur Sagu, Ganemo, Bunga Pepaya, Daun Kasbi, Tunas Pisang, Ujung Rotan, Vitamin Buah: pepaya, rambutan, manga, pisang, kelapa, duku, matoa, sirsak, jambu, salak, belimbing, nangka, dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat; Bouniwofo untuk obati Gondongen, Daun Giawas untuk obati diare, Pinang sirih untuk gigi, Kulit Samama untuk obat kuat, Benalu dan Sarang Semut untuk obati kanker, Kulit Ketapang untuk obati kurang nafsu makan, Kulit Kayu Lawang untuk obati nafsu makan, Kulit Bintangor, Kulit Jambu untuk Sariawan, Lengkuas, Serei, Kumis Kucing untuk obati punggung, Cocor Bebek, Lidah Buaya, Akar Kelapa dan Kulit Kapok untuk campuran obat setelah melahirkan, Kunyit; Kecantikan: Lidah buaya untuk rambut, kulit langsat, tempurung kenari, daun belimbing, Batu Kapur Kuning (Bedak Dingin)
Papan dan Bahan Infrastruktur Atap Rumah: daun sagu, batang woka Dinding Rumah: Batang Pinang, Gaba/Pelepah Sagu, Bambu, Kayu Matoa, Samama, Tiang Rumah: Kayu besi, Kayu Gufasa, Kayu Binuang, Kayu Damar, Kayu Matoa, Perahu: Kayu Damar, Kayu Moreala, kayu Kanari
Sumber Sandang Buro untuk membuat Saloi atau tas punggung, Loleba untuk membuat Sasiru atau Wadah Besar.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu kunyit, serei, pala, cengkeh, bawang merah, bawang putih, goraka (jahe), lengkuas, kencur, kemangi, rica, kemiri, tomat, jeruk lemon
Sumber Pendapatan Ekonomi Pala, cengkeh, kelapa dan hasilnya, cokelat, sagu, ikan (tuna, dasa, goropa, bobara, dll.), Kayu (Besi, Gofasa, dll.), Pinang, Pasir, Batu, Teripang, dll.