Wilayah Adat

Gelarang Ladar

 Terverifikasi

Nama Komunitas Golo Munde
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Elar
Desa Golo Munde dan Nambe Munde
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.949 Ha
Satuan Gelarang Ladar
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan Wilayah Adat Lewurla, Kigit dan Lempang Paji dengan batas berupa Wae Pesa, Rokan, Golo Munde (puncak gunung), Pangga, Pasi, Liang Bela, Liang Kalo, Ulung Wae Wako.
Batas Selatan Berbatasan dengan Wilayah adat Golo Linus dengan batas berupa Ulung Wae Mokang, Ulung Wae Nampe, Pemahang, Ulung Wae Wira, Ulung Wae Wako.
Batas Timur Berbatasan dengan Natar Taga, Natar Lando, dan Natar Weong dengan batas berupa Niki Kabor, Wae Lalong, Malar Wae, Mumas, Legok Waru, Wae Esah, Legok Munte, Wae Okan, Wae Nenan, Tiwu Nawuk, Tiwu Muling, Legok Wuwur, Pekor Kelu, Tiwu Long, Susang Kawar, Liang Bitu, Riton Kengkar, Limbo Lelong, Golo Lelong.
Batas Utara Berbatasan dengan Wilayah adat Golo Lebo dengan batas berupa Wae Pesa, Sangan Waru dan Telang

Kependudukan

Jumlah KK 1134
Jumlah Laki-laki 3212
Jumlah Perempuan 3977
Mata Pencaharian utama Bertani (kopi, kemiri, coklat, padi sawah) Beternak (kerbau, kuda, sapi, babi, kambing)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Golo Munde berasal dari dua kata yaitu: Golo yang artinya Gunung dan Munde merupakan nama tempat. Tempat ini di huni oleh beberapa Suku. Nenek moyang terdahulu dalam bertempat tinggal selalu memilih tempat di Golo ( gunung ) agar terhindar dari musuh (Peperangan) perebutan wilayah, dan Tanah. Karena ada Penetapan Hutan Lindung oleh Pemerintah Belanda, Maka masyarakat adat ini pindah lagi jauh dari Hutan Lindung Golo Munde ke Ngambok Wae Kor. karena masih di dalam Hutan lindung, maka Nenek moyang ini di Perintahkan untuk pindah lagi ke satu tempat yang mereka namakan kampung Naru dan memutuskan untuk mentap disana. Nenek mereka yang pertama bernama Wau yang merupakan Suku Naru. Suku Naru merupakan orang pertama mendiami wilayah ini sehingga mereka di sebut Suku keturunan Pemangku Ulayat Yang disebut Dor atau Tua Teno Naru. Setelah Suku Naru Kemudian Menyusul Suku Loge yang tinggal di wilayah ini dengan Sejarah asal-Usul yang berbeda. Pada waktu itu Suku Loge datang dari Loge dan tinggal di Laban Ndeta yang sekarang bernama Ninto. Antara Suku Naru dan Suku Loge tidak memiliki hubungan kekerabatan dan tidak saling mengenal. Selain Suku Loge, ada juga yang Namanya Suku Weong.
Fungsi dan peran ketiga ( 3 ) suku ini adalah :
a. Suku Naru sebagai Pemangku Adat /Ulayat ( More Luan Lalo Walu Kalok) karena Menghidupkan orang banyak melalui tanah atau yang disebut dengan istilah “Tanah Nggami pe more ami” Suku Naru di sebut Wina atau Istri pemimpin Ulayat dalam Wilayah terkecil.
b. Suku Loge sebagai pemimpin wilayah yang lebih luas, sehingga di sebut Rona atau suami. Istilahnya disebut “ Pohgo Anak Do Dading Riwu” yang artinya memimpin banyak orang di wilayah pemerintahan yang dinamakan Komunitas Loge Adak. (Loge merupakan nama suku, Adak adalah penguasa wilayah atau pemimpin.
c. Suku Weong, merupakan keturunan yang di Tugas untuk menjaga keamanan kampung yang disebut “Berambang”
Ketiga ( 3 ) Suku ini Pendiri Kampung Kaong dengan Nama Rumah/ Tempat Tinggal yaitu : Suku Naru Mbaru Sangan Lejo ( Mbaru - Rumah ), Suku Loge Mbaru Meje dan Suku Weong Mbaru Tahgang. Ketiga suku ini selalu kerja sama di bidang apa saja,termasuk pengelolahan sumber daya alam selalu direncanakan secara bersama-sama yang di sebut “Neki Weki Sama Ranga atau Keboro”
Di Kampung ini ada dua Nambe atau Mesba Batu Tugu yang dibuat untuk kepentingan Suku Loge. Kalau pada waktu acara adat terakir [antar belis] untuk Suku Loge, Perempuan yang masuk di jemput dan di terima disitu. Setelah cuci muka di tempat itu perempuan tadi diantara ke rumah laki-laki dan di terima secara adat lagi di rumah. Bukan hanya itu, nambe atau Compang Ini juga di pergunakan untuk menerima tamu atau pejabat. Ini Hanya berlaku di Nambe Adak. Sedangkan untuk di Nambe atau Tugu Naru dipergunakan juga untuk keperluan yang sama,tetapi tidak di perbolehkan untuk menerima tamu.
Selain Nambe/Compang/Tugu ada juga pembagian peran yang lain seperti ada dua Pancuran air di Wae Nunur, satu diantarnya diperuntukkan khusus untuk Suku Loge. Sedangkan pancuran yang satu lagi diperuntukkan untuk Suku Naru dan Suku weong. Ini merupakan bentuk penghargaan dari Masyarakat untuk Suku Loge. Sebab Suku Loge pada zaman dahulu merupakan suku yang memimpin/membela pejuang hak-hak masyarakat (Pohgo anak do dading riwu)
Permasalahan yang dihadapi di Komunitas Golo Munde Antara lain:
- Rekontruksi Tapal Batas PAL RI tanggal 08 November 1980
- Penetapan PAL RI 28 Oktober 1998
- Perubahan status Hutan Lindung menjadi Hutan Taman Wisata Alam Ruteng tanggal 24 Agustus 1993.
Berdasarkan tapal batas dan perubahan-perubahan tersebut, maka terjadilah sumber konflik antara lain: Perbuhan status Hutan Adat menjadi Hutan Negara dan Terjadi Pengklaiman tanah Adat menjadi Hutan Taman Wusata Alam Ruteng
Selain masalah dengan Tapal Batas, juga ada permasalahan dengan masuknya perusahaan tambang ke Kawasan hutan Golo Munde. Ada dua (2) perusahaan tambang yang ada yaitu: PT. aneka Tambang yang berkantor di Jakarta dan Mitranya PT. Aberfoyle yang berkantor di Australia. Kedua PT ini datang ke Golo Munde tahun 1998-2000 melakukan Eksplorasi dikawasan Hutan Lindung Golo Munde, bentuk eksplorasinya mengali pohon-pohon besar tidak peduli pohon tersebut berada di mata air Wae Nunur yang setiap hari dikonsumsi oleh Masyarakat Desa Golo Munde.
Melihat Pekerja tambang berkeliaran dikawasan hutan Golo Munde bersama pihak Perusahan Tambang, maka beberapa tokoh Masyarakat Adat mengadakan perlawanan. Terjadi Pro kontra antara sesama Masyarakat adat yang menerima tambang hasil perekrutan dari pihak perusahaan dan yang menolak tambang. Berkat kerjasama yang dilakukan dengan LSM Lokal maupun Nasional maka pada tahun 2002, pihak perusahan tersebut keluar dari kawasan hutan Golo Munde.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Pong (Hutan)
a. Pong Sengit areal yang dilindungi karena banyak ada mata air dan tempat keramat.
b. Pong: hutan yang bisa dimasuki namun tidak bisa ambil kayu areal yang dilindungi.
2. Puar (Bekas kebun): ditinggalkan sudah 10 tahun sedah berupa hutan bisa dijadikan kebun lagi dan untuk mengambil hasil kayu.
3. Uma (Kebun): areal kelola masyarakat yang digunakan untuk bercocok tanam masyarakat.
4. Galung (sawah): areal tempat menanam padi. Sawah berbentuk lingkaran. Lodok  pusat lodok
5. Ngalor: sungai
6. Zat/satar: tempat penggembalaan ternak, berburu.
 
Sistem Pengelolaan wilayah ada yang dikelola secara komunal dan individu. Adapun wilayah yang dikelola secara komunal seperti: Pong Sengit, Pong, Satar, Ngalor. Sedangkan yang dikelola secara Individu adalah: Puar, Uma dan Galung.
Penguasaaan tanah adat adalah tua golo melimpahkan kuasanya kepada tua teno, untuk membuka satu lingko (sebidang tanah adat). Tua teno inilah yang mengatur ‘’ GENDANG ONE, LINGKO PE’ANG ‘’ yang artinya mulai dari rumah adat, sampai pembagian tanah serta struktur lembaga dan aturan upeti (wono) diatur oleh Tua Teno.
Dalam pengelolaan lingko-lingko terdapat 3 (tiga) mekanisme pembagian:
1. Makanisme lodok: berbentuk moso/sarang laba-laba yang dibuka di dalam kawasan hutan adat.
2. Mekanisme pembagian berbentuk segitiga.tua teno dapat melakukan pembagian seperti ini berada di titik pusat tanah tersebut dan mengatur pembagian dari dalam, keluar, dan dari dalam kecil,semakin keluar besar sampai di pinggir luar ( disebut cicing )
 

Kelembagaan Adat

Nama Satmandewa (Persatuan Masyarakat Adat Natar Munde Wae Kor)
Struktur 1. Gae Natar (Kepala kampung) 2. DOR/Tua Teno (pemangku adat) 3. Biza (suku) menyelesaikan masalah dalam suku. 4. Gae Ulu Le Rewa Ili (kepala rumah tangga).
- Gae Natar sebagai orang tua dalam kampung yang tugasnya menyelesaikan semua urusan adat.
- DOR/Tua Teno sebagai pemangku adat yang tugasnya mengatur urusan tanah, menyusun adat dan menyelesaikan masalah adat. Yang menjadi Tua Teno harus satu keturunan. Bisa anak laki-laki atau perempuan. Syarakt untuk anak perempuan jika sudah selesai adat (pokok belis) bisa naik menjadi gaen wongko (bakok porak rotas teto). Tugas mengatur urusan tanah, menyusun adat dan menyelesaikan masalah.
- Biza mengatur masing-masing suku.
- Gae ulu le rewa ili: mengurus permasalahan dalam rumah tangga.
 
Neki weki sama ranga (Musyawarah adat) dipimpin gae natar
Keboro Dor dipimpin tua teno
- Krenda dipimpin oleh Biza.
- Adapun tujuan dari Musyawarah adat antara lain: Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, Mengadakan suatu peradilan adat, Membahas pernikahan (di tingkat Kilo), dan lain-lain. Setiap melaksanakan Musyawarah adat diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak dan rokok
 

Hukum Adat

Filosofi:
1. Natar Se”en Lodok Wean: Rumah sebagai tempat tinggal, kebun sebagai tempat untuk bekerja.
2. Mbau bate kueng, Uma bate duat:
3. Natar bate labor:
- Dilarang menebang hutan lindung (pong sengit) termasuk hutan yang ada mata air.
- Dilarang sensor/gergaji kayu dihutan lindung, untuk keperluan bangun rumah atau diperdagangkan.
- Dilarang buka kebun baru sebelum ada kesepakatan melalui musyawarah kampung (neki weki sama ranga).
 
- Perkelahian: dendanya tuak, ayam, babi (wunis pehe)
- Pencurian: dendanya tergantung dari besar kecilnya perbuatan. Apabila pelanggarannya besar dendanya berupa: kerbau, sapi, kuda. Sedangkan apabila pelanggarannya kecil dendanya berupa ayam, babi, tuak, rokok.
- Peselingkuhan: Dengkolenae: sama-sama punya pasangan dendanya kuda, babi, kambing, uang. Pedengweol: dendanya uang, babi, kambing. Panawateleso: kerbau.
- Perkawinan: anak saudara dengan anak saudari/tungkucu. Tesusura/ menikah dengan paman atau bibi. Sanksinya: polamuraki ponobuwaki: kerbau, kambing, babi, uang
- Kelahiran (Delap): syukuran 5 hari setelah anak lahir.
- kematian (Pineng)
Tokongbaku: jenazah masih di dalam rumah. Apabila ada pelanggaran dikenakan sanksi berupa beras, babi, uang
 
Pada tahun 2007- 2008 terjadi permasalahan yaitu kawin tidak wajar/tidak layak yang disebut dengan” Pae Nau, Toe Kop” karena kawin antara anak dengan mama kecil sepupu (bibi) Maka secara adat dikenakan denda berupa:
a) Pihak laki-laki (anak) kerbau 1 ekor, kambing 1 ekor, uang Rp 50000, dan pikul pohon pisang (pola munak) pada malam hari jam 24.00 jalan keliling halaman kampung (riton natar)
b) Pihak perempuan (mama kecil), babi 1 ekor, beras 1 blek (20 kg), kain hitam 1 lembar.
Kerbau dan babi dipotong dihalaman kampung dan makan bersama semua anggota suku di komunitas tersebut jam 5 pagi sisanya dibawa kerumah kedua belah pihak. Sedangkan Kambing dibuang kesungai agar semua kesalahan dapat hanyut oleh air dikali (Mbelek Ata Sala). Kerbau dan babi dipotong untuk penyucian kembali kampung halaman (popo sebong natar wae)
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi (Wosa), jagung (latun), ubi jalar (gule), singkong (uwi kayu), kastela (timba). Protein Nabati: kacang tanah (koja), kacang Panjang (tagong), kacang merah (zea), Lomba. Protein Hewani: Sapi, kambing, ayam, babi, udang, katak, belut, kepiting. Sayuran: terong, kol, kucai, daun labu, daun singkong, daun papaya, labu, bayam (sawe), paku, mundung, meper, riton, ubiwatu, kelor. Buah-buahan: manga (Pao), Munde (Jeruk manis), kelapa (niok), pisang (maku), pepaya (padut), nanas (pembeo), jambu (jembu), sirsak (geroso), asam (maki).
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun pepaya: obat malaria Daun sita: obat cacing Batang pisang: obat tifus Mengkudu: obat malaria Tambar kole: obat sakit tulang Wadatar: kolesterol Wasok: sakit pinggang Daun jambu: sakit perut Rita: sakit malaria Daun terung: sakit gigi Binahong: obat penurun tensi Pandutompong (jarak): sakit perut kembung, sakit gigi Luih lembah: memperlancar haid Pizor: untuk sakit perut, muntah Jeruk asam: obat pembasmi kutu Aco (tali balang): obat kulit/gatal-gatal Kayu luwi: untuk sakit perut
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang: munting, dalok, maras, pate damuh, wafung, nazar, ngancar, ampufu, mahoni. Papan/dinding: sengon, bulangan, nito, tajang, ara, kipo, waek. Atap: alang-alang (riih), bambu, ijuk/wurut, anyaman bambo/gedeg.
Sumber Sandang Rewu (pewarna alam), kuba, tarang, kapur sirih, kapas.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit (wunis), jahe (halia), merica, lengkuas (laza), serei (lazitiu), kemiri (welu), salam (mes), luzuk, kemangi (lazbenge), cabe (gunus).
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, Kopi, Kemiri, Vanili, Cengkeh