Wilayah Adat

Natar Se'en Lodok Wean Golo Munde

 Teregistrasi

Nama Komunitas Golo Munde
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Elar
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.806 Ha
Satuan Natar Se'en Lodok Wean Golo Munde
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Buntang Bok, Tiwu Muling, Liang Bitu, Sangan Waru, Telang, Niki Kobor, Wae lalong, Malar Wunas, Rengkeng
Batas Selatan Ulung waemokang, wae lindang nape asa ledu loep, tipu
Batas Timur Nape asa ledu loep, tipu T.ngambok sangan waru, telang, niki kobor, tiwu kondo.
Batas Utara Teson /Golo Lebo

Kependudukan

Jumlah KK 184
Jumlah Laki-laki 437
Jumlah Perempuan 417
Mata Pencaharian utama Bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Komunitas Masyarakt Adat: Komunitas Kecamatan Elar mulanya tinggal dihutan, yaitu hutan Golo Munde, hutan Golo Inuk, hutan Likan telu, hutan Rana Gapang, Ngambok, Pinggang dan beberapa tempat lain diwilayah komunitas Biting. Pada jaman pemerintahan Belanda, semua komunitas yang tinggal dihutan lindung harus dipindahkan ketempat lain karena tempat yang dihuni oleh komunitas ditetapkan menjadi hutan lindung yang melarang untuk dihuni oleh manusia maka, pecahlah komunitas ini mencari tempat yang strategis untuk perkampungan, namun mereka tetap sepakat untuk memilih nama Biting sebagai nama komunitas. Komunitas ini dalam kesehariannya hidup berdasarkan adat istiadat dengan filosopinya, Natar Seien Lodokan Ine’an artinya ada kampung ada lahan pertanian. Natar Se’en Wae Ajan artinya ada kampung dan air untuk minum

Sejarah Wilayah/ Kepemilikan Tanah Masyarakat Adat :
Dikomunitas Biting terdiri dari wilayah adat (Ulayat) yang berada disetiap kampung dan sebagai pemegang hak ulayat adalah dor adat serta Gae Natar yang membagi tanah adalah Dor, yang menyelesaikan masalah adat adaalah Gae Natar, sebagai saksi masalah tanah adalah Dor, Adak dan gae Natar. Disebut Dor karena orang pertama menempati disuatu wilayah. Disebut adak adalah sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan masyarakat adat. Disebut Gae Natar adalah kumpulan ketua-ketua suku dari berbagai suku yang ada di komunitas. Hak kepemilikan tanah dikomunitas diperoleh melalui musyawarah kampung (neki mengi sama ranga)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Sistem Lebok Teno Ineke Obel Lodok berbentuk kerucut dari pusatnya sebesar jari tangan semakin keluar semakin besar sistem ini lebih adil.

2. Sistem lampan yang berbentuk persegi tidak beraturan, sistem ini tidak adil karena ada yang ditengah dan ada yang dipinggir
 
a. Kala hanya dibagi untuk ladang (tanaman semusim seperti padi, jagung dan ubu-ubian. Maka hanya diizinkan 2 tahun setelah itu tanah diistirahatkan sampai tanah itu subur kembali (meze kaju banggok kuase) baru dimusyawarahkan kembali (neki ineki sama ranga) untuk dibagi kembali
b. Kalau dibagi untuk menanam tanaman umur panjang seperti kopi, cengkeh, coklat, dll, maka tanaman itu menjadi milik pribadi sampai keturunan dan tanah jenis ini tidak dapat dibagi kembali
c. Kalau membuka kebun baru dihutan (Poka Puar) harus didahului oleh musyawarah kampung (neki ineki) sama ranga dan ada sistem pengaturannya.
1. Membagi lahan pada hutan kelola (Puar)
2. Membagi lahan pada hutan produksi (Pong)
3. Sedangkan lahan pada hutan lindung (pong sengit, pong meze) dilarang dijamah oleh manusia termasuk potong sumberdaya alam didalamnya
 

Kelembagaan Adat

Nama SATMANDEWA
Struktur Neki Weki Sama Ranga Adak/Gelarang Gae Natar Dor/Tua Bija-bija
 Neki Weki Sama Ranga, Musayawarah kampung /adat;
 Adak, pemimpin lokal, penguasa wilayah yang lebih luas;
 Gae Natar, ketua suku, tugas menyelesaikan persoalan;
 Bija-bija, anggota suku, penentu demokrasi.
 

Hukum Adat

1. Dilarang menebang hutan lindung (pongsengit) termasuk hutan yang ada mata air
2. Dilarang sengsor / gergaji kayu dihutan lindung, untuk keperluan bangun rumah atau diperdagangkan
3. Dilarang buka kebun baru sebelum ada kesepakatan melalui musyawarah kampung (neki weki sama ranga) 
Pada tahun 2007, 2008 dikomunitas kaong, desa Golo Munde ada permasalahan kawin tidak wajar (tidak layak) / Pae Nau, Toe Kop, karena kawin antara anak dengan mama kecil sepupu. Maka denda / sanksi adatnya :
a) Pihak laki-laki (anak) kerbau 1 ekor, kambing 1 ekor, uang Rp 50000, dan pikul pohon pisang (pola munak) pada malam hari jam 24.00 jalan keliling halaman kampung (riton natar)
b) Pihak perempuan (mama kecil), babi 1 ekor, beras 1 blek (20 kg), kain hitam 1 lembar.
• Kerbau dan babi dibunuh dihalaman kampung dan makan bersama semua anggota suku di komunitas tersebut jam 5 pagi sisanya dibawa kerumah kedua belah pihak.
• Kambing dibuang kesungai agar semua kesalahan dapat hanyut oleh air dikali (Mbelek Ata Sala)
Kerbau dan babi dibunuh untuk penyucian kembali kampung halaman (popo sebong natar wae)
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan -
Sumber Kesehatan & Kecantikan -
Papan dan Bahan Infrastruktur -
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu -
Sumber Pendapatan Ekonomi -