Wilayah Adat

Wanua Wanga

 Terverifikasi

Nama Komunitas To Pekurehua Wanga
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Peore
Desa Wanga
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.760 Ha
Satuan Wanua Wanga
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Toro tanda batasnya: lempe (Pal Batas), Desa Katu Tanda batasnya: Bulu Mungku
Batas Selatan Desa Watutau. Tanda Batasnya: Owai Kalae, Owai Hambu, Owai Banga, Owai Lengaro
Batas Timur Desa Alitupu tanda baatsnya: Rano Ogki, Desa Maholo tanda batasnya: Pongke, Pimpi (semak belukar), Owai Hambu
Batas Utara Desa Katu Bulu Mungku

Kependudukan

Jumlah KK 105
Jumlah Laki-laki 230
Jumlah Perempuan 145
Mata Pencaharian utama bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sebelum bermukim di pekurehua saat ini kampung masyarakat yang berlokasi di mpolenda dan pemotia (kampung lama). Wanga berasal dari kata Wa yang artinya kepala dan NGA artinya burung belibis. Wanga berdiri sejak tahun 1923 ketika seorang bangsawan yang bernama Roro Manemba bersama pengikutnya pindah dari desa Watutau ke wanga. Pada tahun 1925 oleh Belanda, Wanga diresmikan menjadi sebuah Desa yaitu Desa Wanga menjadi tempat kedudukan Magau Lore dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Magau Kabo dengan seorang permaisuri Mpolite Abu.
Pada tahun 1924 akibat likasi persawahan yang tidak lagi mencukupi karena pertambahan penduduk, maka Magau Lore memindahkan penduduk dari Desa Watutau ke Desa Wanga sejumlah 600 jiwa. Pada tahun 1928 dimulai pembukaan persawahan baru di desa Wanga, dan pada tahun 1930 berdirilah kantor Swapraja yang membawahi 3 Distrik yaitu; Distrik Napu/pekurehua, Distrik Behoa dan Distrik Bada
Wilayah Desa Wanga selain dihuni oleh masyarakat asli Wanga, dikampung ini juga terdapat beberapa suku. Suku Bali, Bugis, jawa.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1.Wumbu Wana :
Daerah puncak gunung yang ditumbuhi pepohonan berdiameter kecil dan ditumbuhi lumut, daerah ini merupakan daerah larangan/keramat. Selain dikeramatkan, fungsi lain dari Wumbu Wana adalah merupakan daerah mata air. Menurut aturan adat zona ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh manusia. Kepemilikan wilayah ini adalah komunal

2.Wana :
wilayah yang dilindungi adat karena merupakan daerah penyangga jika dikelola akan mendatangkan banjir. Tipe wilayah ini kayunya besar-besar dan kepemilikan wilayah adat ini adalah komunal.

3.Pandulu :
Hutan sekunder, merupakan habitat tempat hidup hewan endemik seperti Anoa dan Babi Rusa. Zona ini juga menjadi tempat mengambil hasil hutan non kayu seperti obat-obatan dan rotan. Kepemilikan wilayah adat ini adalah Komunal.

4.Pobondea :
bekas kebun masyarakat yang ditinggalkan selama kurun waktu 5 – 25 tahun dan kembali berhutan lagi, hal ini dilakukan masyarakat sebagai rotasi pengelolaan sumberdaya alam dan akan dikelola kembali tempat ini penanaman pohon damar, kayu manis, kopi, kayu yang tumbuh diwilayah ini akan menjadi pelindung tanaman produksi masyarakat. Sedangkan bekas kebun yang pengelolaannya memiliki jangka waktu 1-2 tahun disebut dengan Holua

5. Pampa :
Hutan yang secara kontinu dikelolah dan ditanami tumbuhan pokok sebagai kebutuhan sehari-hari.
6. Pada :
Padang ilalang yang tidak ditumbuhi kayu dan tanaman lainnya yang biasanya digunakan untuk penggembalaan ternak
7. Boya :
Wilayah pemukian/perkampungan masyarakat. Dalam Boya terdapat Kinta yang merupakan halaan rumah warga (komunitas yang menghuni)
8. Bonde:
Wilayah perkebunan masyarakat yang diolah secara berkelanjutan

 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Wanua Wanga dibagi menjadi 3 yakni :
1. Pepunulua adalah kepemilikan perorangan atau perkeluarga.
2. Panguru adalah kepemilikan secara bersama-sama atau biasa dikenal dengan Komunal. Contohnya adalah pembukaan kebun secara berkelempok atau secara bersama-sama dan hasil panennya pun dibagi secara merata.
3. Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya. Molamara yang dimaksud adalah sebuah kandang ternak.

 

Kelembagaan Adat

Nama Hondo ada Boya Wanga
Struktur Ketua (Wa Hondo Ada) Wakil Ketua (Topehuga) sekertaris (Guru tulisi) Bendahara (Topomboli Anu-anu)

1. Ketua (Katua Lembaga Adat) : pemimpin atau kepala adat, mengatur masalah adat, baik ritual maupun pradilan adat dan juga mengatur tentang lahan
2. Wakil Ketua (Topehuga) : Menggatikan peran ketua jika berhalangan
3. sekertaris (Guru tulisi) : Menulis dan membacakan hasil dari sidang adat (mogombo)
4. Bendahara (Topomboli Anu-anu) : menyimpan dan mengatur keurangan yang masuk dan diluarkan oleh adat 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Topolemo Ada.
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercock tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb:
1. Mogombo (Sidang pengurus lembaga Adat) : Ketua memanggil anggota lembaga adat
2. Pemamai : Pelaku membawa syarat denda adat.
3. Topodedelolita : Sekertaris membacakan susunan acara
4. Mopahame pongkololita : Pemaparan pokok persoalan oleh ketua adat
5. Mogombo Kokoi : Membahas pokok persoalan (diskusi)
6. Kabotua lolita : Pengambilan kesimpulan/keputusan oleh ketua
Proses Pengambilan Keputusan di Wanua Wanga dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

1. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, sperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
2. Memperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua.
 
1. Pelanggaran hukum Perkawinan, dimana seseorang yang (MOKARA-KARA, HALOLO KANDUPA DARA, ): bagi siapa yang secara sadar melakukan zina maka akan disidang dibalai desa dengan syarat: Mengadakan babi 1 ekor untuk perempuan yang dipotong pada saat sidang berlangsung, Satu ekor babi untuk laki-laki yang diuangkan dengan nilai Rp.2000.000, Mengadakan uang duduk sidang sebesar 2500.000, Menjamin makan dan minum peserta sidang. Apabila, kedua yang bersangkutan tidak sepakat untuk menyatu (Kawin) maka, Pihak laki-laki akan dikenakan sanksi 3 ekor kerbau. 1. Satu ekor sebagai pengganti suami. 2. Satu ekor sebagai pemulihan nama baik keluarga pihak wanita. 3. Satu ekor sebagai pemeliharaan apabilah sudah hamil. Kesemuanya ini diberi jangka waktu 1 bulan per satu ekor.

2. Sala mate (Pelanggaran mata): Pelanggaran mata dikarenakan orang yang melakukan pelanggaran telah menginginkan sesuatu dari hasil penglihatannya.
3. Salahume (Pelanggaran Mulut) dikarenakan sesorang yang melakukan pelanggaran ini telah membicarakan dan menceritakan aib orang lain
4. Salataye (salah tangan) adalahh perbuatan yang yang secara langsung mengambil milik orang lain sehingga perbuatan ini melanggar hukum karena dianggap sengaja mengambil milik orang dan dianggap telah memasuki lahan orang lain.
5. Salah uma wata : (pelanggaran seluruh tubuh) pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan terbukti/terang-terangan atau kedapatan mencuri dilahan orang lain. 
ketika terjadi pelanggaran pengelolaan lahan yang telah disepekati oleh lembaga adat dan dimusyawarakan kepada masyarakat, bahwa lahan tersebut tidak bisa di jamah bahkan dikelolah dalam bentuk apapun. maka seluruh masyarakat harus mematuhi aturan tersebut. Ketika ada kelompok atau oknum yang melanggar aturan tersebut akan d isanksi denda (Giwu). Apabila orang tersebut tidak mau diatur oleh lembaga adat maka pelaku harus meninggalkan kampong Wanga. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu singkong, labu, tomat, timun, bawang, rica, langsat, rambutan, durian, alpokad, nanas, manggis, kelapa,mangga, pisang, Babi, rusa, ayam, ikan
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Bada (Kunyit): untuk mengobati luka - Bada ntomate (Tumulawak): meningkatkan nafsu makan - Hehi Tobehoa (serei putih): obat panas dalam - Baulu (Daun Sirih): obat sakit gigi - Harao (Pinang hutan): menurun tensi darah - Peda (Kapur Sirih): penguat gigi
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Uru(Cempaka), Popangiria Dopi (Malapoga), Taiti (Taiti) Roa (Damar Babi), Koronia
Sumber Sandang Pewarna Alam: Katewu Bea, Tea Nahe
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Beau (Kemiri), Kula Pare (Jahe), Kula Goa (Rica), Bada, Huku (Kencur), Sederai (Seledri), Bala Kama, Tangkada (daun Kemangi), Lengkuas.
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kelapa, padi