Wilayah Adat

Lewu Tumbang Bahanei

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Dayak Ngaju Rungan
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Rungan Barat
Desa Tumbang Bahanei
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.888 Ha
Satuan Lewu Tumbang Bahanei
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan dengan Desa Tusang Raya (Sei Bahuta Hulu, Sei Balimau, Sei Mias)
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Tumbang Langgah (Sungei Bahuta, Sungei Baringe)
Batas Timur Berbatasan dengan Desa Sei Antai dan Kelurahan Tumbang Rahuyan (Sei Payang, Sei Rutan, Sei Bahanei)
Batas Utara Berbatasan dengan Kelurahan Tehang/Ulek Luwang (Sei Bori – Nyambil) dan Desa Tumbang Tuwe (Sei Mias.Tampak Manatu)

Kependudukan

Jumlah KK 139
Jumlah Laki-laki 292
Jumlah Perempuan 254
Mata Pencaharian utama Petani Karet, Penambang Emas lokal dan Berladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Cikal bakal terjadinya Desa ini diperkirakan terjadi sejak abad -15, pada masa itu ada satu keluarga beserta sejumlah Jipen (budak/ pembantu istilah sekarang) yang berasal dari Tumbang Miri (Das Kahaya). Pemimpin dalam keluarga tersebut bernama Timbangan dan istrinya bernama Salung. Pasangan suami istri tersebut pada saat itu belum memiliki anak.

Mereka pindah ke tempat ini dengan membawa barang-barang dan hewan ternak. Keluarga ini menandakan tempat tinggalnya itu apabila ayam jantan peliharaannya berkokok sampai tujuh kali. Setelah beberapa hari menyusuri beberapa tempat, akhirya disuatu tempat ayam jantan itu berkokok dengan lantang sebanyak tujuh kali, maka mereka pun berhenti disitu tepatnya di daerah hulu sungai yang tidak diketahui namanya. Disinilah mereka membangun pondok (Rumah) dan beternak. Timbangan pun mulai melakukan tebas tebang membersihkan area tersebut untuk tempat berladang dan bercocok tanam. Setelah lama bekerja, Timbangan merasa haus dan menyuruh Jipennya (pembantu) untuk mengambil air disungai. Ketika pembantunya turun ke sungai untuk mengabil air, tiba tiba dilihatnya sebuah benda berbentuk BALANGA (Balanai/ Guci) didalam sungai. Karena merasa kaget memberitahukan kejadian tuannya, Timbangan pun bergegas turun ke sungai dan mengambil balanga tersebut. walaupun terasa aneh dengan kejadian itu, namun Timbangan mempercayai bahwa ada hal ajaib yang akan terjadi pada mereka.

Karena merasa senang mendapat benda itu, sebagai wujud terimakasihnya Timbangan melaksanakan pesta syukuran dan menamakan sungai itu dengan nama Bahanoi Atau Bahanei yang artinya Balanga Jantan. Setelah kejadian itu kehidupan keluarga Timbangan semakin baik dan ternaknya semakin banyak meskipun begitu tetap saja Timbangan dan istrinya masih merasa belum lengkap karena masih belum mempunyai anak.

Karena merasa seperti itu akhirnya Timbangan meminta pertolongan seorang sakti (tabib) bernama Marin untuk melakukan acara ritual Sangiang agar keluarga Timbangan bisa mempunyai anak. Lalu diadakan acara ritual tersebut, dan dari sana di dapat petunjuk yaitu Timbangan dan Istrinya akan segera mempunyai anak titipan dari seorang gaib yang bernama Jata Luwuk Panga (orang gaib yang berada di Sei Samba Das Katingan). Beberapa syarat yang harus dipenuhi dan beberapa bulan kemudian Salung (istri Timbangan) pun mengadung dan melahirkan
seorang bayi perempuan yang diberi nama Manyang.
Sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta Timbangan pun mengadakan pesta dan ritual memandikan anaknya sesuai dengan syarat yang harus dipenuhinya kepada Jata Luwuk Panga. Dan sesuatu peristiwa pun terjadi ketika Timbangan salah menjalankan syarat tersebut.

Syarat yang diminta Jata Luwuk Panga adalah Timbangan harus memandikan Anaknya dengan air dari dalam Balanga (Guci) yang diisi terlebih dahulu dengan air dari sungai itu. Akan tetapi Timbangan langsung memandikan anaknya ke sungai dan menaruh Balanga (Guci) itu di Hulu sungai. Akibatnya anaknya tersebut tiba-tiba hilang dari hadapannya kembali kealam asalnya menjadi Jata (Gaib). Timbangan dan istrinya pun kebingungan dan mencari kemana mana. Timbangan mencari di sungai dan Salung istrinya mencari di daratan. Ketika sedang mencari itulah tanpa mereka sadari mereka pun berubah menjadi seorang Jata (gaib).

Di lain cerita, bertepatan dengan kejadian itu ada seorang sakti lain yang bernama Sahawung (ayah Tambun
Riungai). Mendengar kesaktian Marin dukun / sangiang yang melaksanakan ritual tersebut, maka Sahawung pun datang untuk menguji kesaktian Marin. Sang dukun Sahawung meminta Marin mengambil segumpal darah hewan-hewan korban ritual tersebut dan menjadikannya sebuah biji buah Paken (sejenis durian). Dengan kesaktiannya Marin pun bisa memenuhi permintaan Sahawung, biji itupun diambil dan ditanam oleh Sahawung dengan dilengkapi berbagai sumpah serapahnya yaitu apabila kelak ada yang berani memanjat dan mengambil buahnya maka: Apabila yang memanjat laki-laki atau perempuan yang belum menikah maka akan meninggal di usia muda, dan apabila yang memanjat sudah menikah maka akan mati berdarah. Adapun bentuk buah tersebut mirip buah lahung (bahasa dayak) berduri panjang dan rasa daging buahnya berwana merah dan berlemak. Itulah sebabnya buah ini dinamakan Paken Lahung dan tempat itu sekaligus dinamakan Kaleka Paken Lahung hingga sekarang.

Peninggalan- peninggalan tersebut masih ada hingga sekarang berupa:
1. Kaleka (pondok di tempat perladangan) dibeberapa tempat.
2. Sandung dan Pantar (bekas pelaksanaan ritual tiwah) dibeberapa kaleka.
3. Karamat (tempat sakral atau tempat mediasi dalam pemanggilan roh leluhur) dibeberapa tempat.
4. Tajahan (tempat pemindahan peralatan ritual tiwah,pemindahan roh gaip,tempat pertapaan
leluhur)dibeberapa tempat.
5. Sungai (asal nama sungai) yang ada diwilayah DesaTumbang Bahanei.
6. Bukit (asal nama bukit)yang ada diwilayah Desa Tumbang Bahanei.

Di lain kisah hingga kini disaat saat tertentu Timbangan dan Selung istrinya sering mendatangi kampungnya (pada saat ada acara ritual sanwan dikampung dan berpesan apabila ada warga yang meminta pertolongan mereka, maka warga diminta melakukan ritual memanggil mereka dengan bahasa khusus(manawur) dan mereka akan datang memenuhi panggilan tersebut.
Sejak tahun 1945 beberapa keluarga mulai datang ketempat ini untuk membuat ladang dan bercocok tanam dengan membuat tempat tinggal berbentuk pondok. Dibeberapa tempat terpisah kedatangan keluarga dimaksud berasal dari beberapa tempat yaitu:
1. Keluarga Medan Suman ( Bapak Hane) asal Desa Tumbang Kuayan (Tahun1948)
2. Keluarga Lesa Flamek ( Bapak Leo) asal Desa Sei Antai (Tahun 1948)
3. Keluarga Desan Kajau (Bapak Hetel) asal Desa Sei Antai (Tahun 1949)
4. Keluarga Sukui Rintung (Bapak Dimun) asal Desa Sei Antai (Tahun 1951)
5. Keluarga Janan (Bapak Masiah) asal Desa Tumbang Kuayan (Tahun 1961)

Pada masa itu daerah tersebut masih banyak berbentuk hutan rimba. Sehingga beberapa keluarga ini dengan mudah membagi wilayah hutan untuk tempat berladang dan bercocok tanam. Proses kehidupan pun terus berlanjut dan terus bertumbuh sehingga pada Tahun 1989-1990 kelima kelompok keluarga ini telah bertumbuh menjadi 25 kepala keluarga(KK). Masyarakat disini sudah mulai hidup secara berkelompok dan mulai tinggal menetap. Tanda-tanda pemerintahan pun sudah mulai ada.
Pada tahun 1990 datang surat dari pemerintah Desa Tumbang Kuayan, tertanda Huke Tingkes (Kepala Desa) atas perintah Camat Rungan tertanda Icuk Simpe (Camat) memerintahkan untuk mendata masyarakat disini dan ditunjuk Dunal Sukui Rintung (Bapak Eter) sebagai koordinator pembangunan / RT, dibawah memerintahan Desa Tumbang Kuayan dan status tempat ini ditetapkan menjadi Dukuh Tumbang Bahanei, Kecamatan Rungan, Kabupaten Kapuas.

Pada tahun 1991 pemerintah Desa Tumbang Kuayan melaksanakan rapat disini, dan menetapkan status Dukuh Tumbang Bahanei dinaikan statusnya menjadi dusun dengan Nama Dusun Tumbang Bahanei, yang diambil dari Nama Sungai yang tidak jauh dari Desa Tumbang Bahanei. Kemudian dipilih Numai Sleman sebagai Kepala Dusun, untuk jabatan 1991-1996. Karena banyak pekerjaan dan urusan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan, pada tahun 1995 kedudukan kepala dusun dilimpahkan kepada Rongok Lamari. Bersama dengan itu, sarana pendidikan mulai masuk kedaerah ini. Maka didirikan sekolah SD secara swadaya masyarakat dengan Kepala Sekolah dipimpin oleh Hernimus Toepak. Beberapa tahun kemudian jabatan Kepala Dusun digantikan oleh Karli N.S Juran untuk jabatan 1999- 2004. Saat itu kabupaten Gunung Mas Baru dimekarkan dari Kabupeten Kapuas Tahun 2002. Akan tetapi baru menjalankan tugas selama tiga (3) buIan, Karli N.S Juran meninggal dunia. Untuk mengis kekosongan Jabatan maka ditunjuklah Suley Medan sebagai pengganti kepala Dusun. Sampai bulan Mei tahun 2005 masih dalam status pejabat, sementara posisi kepala dusun digantikan oleh Sudar Janan untuk jabatan 2005-2006.

Pada tahun 2007 masyarakat Tumbang Bahanei memilih kepala Desa untuk pertama kali, maka terpilih saudara
Sudar Janan sebagai kepala Desa pertama untuk jabatan 2007-2013. Pada tanggal 24 Oktober 2013 dilaksanakan lagi pemilihan kepala Desa, dan terpilih saudara George Gio I. Nanyan untuk jabatan 2014 - 2020 sampai sekarang.
Terjadi beberapa kali perpindahan kampung diantaranya: Tumbang Kuangan, Tumbang Malahoy, Tumbang Baringei, Tumbang Batuk Puter, Siantai, Selungah, dan Sei Antai.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Himba Duyun: Hutan yang masih lebat dan masih banyak terdapat pepohonan besar.
2. Himba Cagaran Malan: Hutan yang dijadikan cadangan untuk berladang.
3. Pulau Gita: Kebun campuran yang mayoritas berisi tanaman karet.
4. Himba Lakau (Bahu Lakau): Bekas ladang yang sudah menyerupai hutan karena sudah ditinggalkan dalam waktu yang lama.
5. Petak Rutas: Tempat sakral karena di tempat tersebut pernah terjadi musibah alam yang menimpa manusia. Area kejadian tersebut dengan radius 1 Ha.
6. Bukit Kules: Tempat mistis karena pernah ada orang tersesat, berputar di tempat yang sama. (kules artinya berputar)
7. Karamat Bukit Gantung: Tempat sakral yang terletak diatas bukit.
8. Tajahan: Lokasi sakral yang biasanya digunakan sebagai tempat pemindahan sakarayak setelah upacara tiwah.
9. Lewu: Perkampungan
10. Pahewan: Hutan yang paling angker, dihuni oleh makhluk-makhluk halus
11. Kaleka: Bekas pondok di tempat perladangan
12. Tagiran: Sandaran pohon tempat untuk mencari madu
13. Dukuh: Pondok Kerja
14. Karamat: Bangunan Tempat sacral
15. Tempat karamat: Tempat yang tidak boleh dibuka untuk berladang
 
1. Milik bersama: Tajahan, Cagar Eka Malan, Himba Duyun, Himba Lakau, Kaleka

2. Milik perorangan (Warisan, Jual Beli, dan Membuka lahan sendiri): Kebun Karet, Bekas Ladang, Kaleka
 

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Rungan Barat
Struktur Ketua Mantir Adat: 1 orang Anggota Mantir : 2 Orang
Mantir adat: sebuah jabatan seseorang di komunitas masyarakat hukum adat. Mantir Adat mengurus hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat hukum adat serta wilayah adat di daerah kemantiran.
Contoh : Penegakan mengenai hukum adat seperti sengketa tanah, perkelahian, perceraian, pernikahan, perselingkuhan.

Ketika ada perkara barulah ditunjukan siapa yang menjadi ketua/wakil ketua untuk mengambil suatu keputusan dan mantir adat bisa meminta kepada aparat desa untuk menjadi anggota sidang adat.

 
Musyawarah dan Mufakat (Pumpung).
Mekanismenya masyarakat diundang untuk hadir pada saat kegiatan akan berlangsung. Masing-masing orang berhak menyampaikan pendapatnya. Untuk pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Pertemuan biasanya dilakukan di rumah mantir adat.
 

Hukum Adat

Dilarang keras mengambil, menebang pohon kayu yang berada didalam kawasan Wilayah Adat Tumbang Bahanei yang dilindungi, meliputi : Hutan Pertahanan Adat (Himba Duyun, Himba Lakau, Himba Rutas, Bukit Kules), Keramat, tanggiran, pukung pahewan, tajahan, tanah rutas. Pengambilan kayu wajib mendapat izin dari Pengurus Komunitas dan apabila dalam penggunaannya memang sangat di perlukan untuk kepentingan komunitas dan bukan untuk pribadi/perorangan.
(contoh lainnya termuat dalam aturan adat secara tertulis)

 
Turun temurun dari leluhur sampai sekarang secara tertata rapi dan tertulis mengikuti proses yang sama seperti yang lainnya sesuai tempat dan wilayahnya, dipakai ketika berlangsung pada acara perkawinan secara adat, acara balian, acara tiwah, dll

Gotong royong di dalam komunitas secara langsung dalam berbagai kegiatan, contohnya : Kematian, Perkawinan, dll
 
Penerapan denda terhadap anggota komunitas yang terbukti menebang kayu karet milik anggota komunitas lainnya dan di Jipen (Denda) dengan rincian 1 Batang Karet senilai 2,5 Jipen (1 .Iipen = 100.000) atau senilai 250.000 (Dua Ratus Ribu Rupiah) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi kayu, ubi jalar, jagung manis, keladi, kacang panjang, bajei, rehung, humbut rua, humbut nange, pakis tabantal, rimbang, kanjat, lempang, paria, tantimun, baluh puti, baluh bahenda. Buah - buahan : Durian, mangkahai, Bua Paken Lahong, rambai, tongkoi, bua karanji, katiau, embak, binjai, barania, manggis, lengkuas, langsat, mawuh, hakam dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan Saluang belum, pasak bumi, tabat barito, bajakah bahenda (Akar kuning), uhat sungkai, uhat panahan (obat sakit gigi]. Tumbuhan untuk membuat kasai Kalanis, henda bangapan, akar teken parei.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu banuas, palepek, mahadirang, tabalien, mahalis, bangkirai, romperig, lentung, mahambung dll
Sumber Sandang Kulit nyamuk, salue, lembak, uwe kajang, daun banbang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, lai, kambasarai, langkuas, suna, dawen sungkai dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet