Wilayah Adat

Huta Sihaporas

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota SIMALUNGUN
Kecamatan Pamatang Sidamanik
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.050 Ha
Satuan Huta Sihaporas
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Repa dengan batas di Jalan Lintas Tanjung Dolok Tiga Runggu (Pasar Japang)
Batas Selatan Nagori Dolok dengan batas di Aek Malas, Bombongan Begu (kolam), Silandeung, dan Gorat Sitonga.
Batas Timur Gunung Pariama dengan batas di Gereja HKBP, Gunung Pariama, Sihaporas Salasak. Nagasaribu dengan batas di Kobun Gadong dan Sileangleang.
Batas Utara Bah Bangun dengan batas di Mata Aek Sidua Tulpang dan Aek Sanggar.

Kependudukan

Jumlah KK 120
Jumlah Laki-laki 288
Jumlah Perempuan 330
Mata Pencaharian utama Bertani dan Menyadap Pohon Aren

Sejarah Singkat Masyarakat adat

OMPU MAMONTANG LAUT AMBARITA, nama kecilnya Martua Boni Raja Ambarita, berasal dari Lumban Pea Ambarita di Toba Samosir. Dia merupakan genersi ke-9 (sembilan) dari trombo/silsilah Siraja Batak.Semasa remaja, dia mengalami tekanan yang luar biasa, antara lain tidak kuat menerima kenyataan, Naera boru Ambarita, dikubur hidu-hidup Juang Nihuta, ayahnya sendiri. Juang Nihuta adalah adik sepupu Ompu Mamontang Laut. Lalu, kira-kira tahun 1800-an, ia merantau, menyeberangi Danau Toba dari Pulau Samosir menumpang "Solu Bulung Sukkit" menuju ke arah tenggara, tepatnya di Dolok Mauli, dekat Sipolha. Kemudian dia ke atah bukit, dan merintis perkampungan 'mamukka Huta" Sihaporas, yang aliran sungai mengalir ke arah Pematang Siantar sampai ke laut.
Semasa hidupnya, Ompu Mamontang Laut Ambarita sebagai Tuan Sihaporas menyepakati 'padan' atau sumpah-janji batas tanah dengan tiga raja/tuan, yakni Raja Siantar, Marga Manik; Tuan Sipolha juga Marga Manik dan Tuan Tanah Jawa, Marga Sinaga. Satu peristiwa ajaib terjadi saat pertemuan empat raja berlangsung untuk menentukan batas-batas wilayah 'Tanah Urung Siantar' dan 'Tanah Urung Tanah Jawa'. Peristiwa ajaib dimaksud adalah; legenda saat para raja/tuan berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa), 'Sahala Raja', 'Rajani Desa' dan 'Rajani Sombaon', dan mukjizat pun terjadi. Seekor kerbau mengeras, berubah menjadi batu, lalu patah menjadu dua bagian. Kemudian dinamai Batu Sidua-dua sekaligus dijadikan perbatasan wilayah Tuan Tanah Jawa dan Tuan Tanah Sihaporas. Ompu Mamontang Laut Ambarita meninggal oleh kekejaman penjahat, Raja Gorak Marga Manik yang melukainya menggunakan hujur atau tombak, ketika angin ribut dan hujan turun lebat.
Wilayah Tanah Adat Sihaporas warisan Ompu Mamontang Laut Ambarita terdiri atas hamparan tanah seluas 1.948 hektare. Sekitar 1913, penjajah Belanda meminjan tanah dari generasi kelima. Hal ini dapat dikuatkan, pada Peta Enclave Belanda terbit tahun 1916, bentang wilayah Sihaporas terdapat dengan tiga nama: Sihaporas, Sihaporas Bolon dan Sihaporas Negeri Dolok. Sampai dengan 2018, keturunan Ompu Mamotang Laut sudah 11 generasi, tinggal secara turun-termurun di Sihaporas, Nagori Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Parhutaan : Tempat bermukim dan beraktivitas
Tombak Raja : Hutan yang berfungsi sebagai sumber air,papan,kebutuhan ritual serta bersifat lindung.
Parjampalan/tempat mengembalakan ternak
Parhamuaan/ Perladangan
Kolam Ikan
 
-Ripe-ripe yaitu kepemilikan secara komunitas/serumpun (komunal).
-Panguppolon yaitu kepemilikan secara keturuna terbagi menjadi dua yaitu Panjaean dan Pauseang. Panjaean yaitu tanah yang diwariskan kepada anak laki-laki dan Pauseang yaitu tanah yang diwariskan kepada anak perempuan. Tanah tidak dapat dijual belikan kepada orang lain di luar komunitas masyarakat adat Sihaporas karena bagi masyarakat adat Sihaporas tanah merupakan identitas dan marga itu sendiri.

 

Kelembagaan Adat

Nama LAMTORAS/Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas
Struktur 1. Raja Huta/Sipukka Huta/Marga Pembuka Kampung (Marga Ambarita). 2. Hula-Hula 3.Dongan Tubu 4.Boru 5. Raja Jolo/Pangulu
1. Raja Huta/Sipukka Huta/Marga Pembuka Kampung (Marga Ambarita), sebagai marga yang memiliki hak atas wilayah adat yang mengatur pengelolaan SDA dan pengambil keputusan yang menyangkut dengan kehidupan di kampung.
2. Hula-Hula, memberikan pertimbangan atau nasehat pada saat musyawarah,acara adat atau peradilan adat.
3.Dongan Tubu, Mengatur pelaksanaan kegiatan adat
4.Boru, bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluaan dalam acara adat/ritual adat.
5. Raja Jolo/Pangulu, memimpin upacara pelaksanaan ritual maupun upacara adat


 
Musyawarah/Martonggo Raja

 

Hukum Adat

-Tanah tidak boleh diperjual belikan.
-Jika ada kegiatan yang berkaitan ritual adat terkait leluhur Ompu Mamottang Laut, dilarang keras untuk memakan daging babi/babi hutan selama 7 hari sebelum maupun sesudah ritual adat dilaksanakan
- Sumber air suci untuk keperluaan adat harus bersumber dari mata air yang ada di tombak raja (Hutan Adat)
- Dalam pelakasanaan ritual adat Manganjap, dilarang keras selama 3 hari untuk pergi berladang dan ke hutan.
- Jika musim panen telah tiba, harus terlebih dahulu dilakukan acara ritual adat sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
-Dilarang keras untuk buang air di sungai atau sekitar mata air
- Bila kedapatan mencuri maka akan di sidang oleh para tetua kampung/mardemban
- jika ada kehilangan maka akan dibuat pengumuman ke seluruh wilayah kampung/huta (marpalu ting-ting)
- Pengembalaan kerbau tidak bisa dekat dengan areal perladangan/sawah.
- Marsidapari merupakan bentuk gotong royong yang dilakukan baik dalam hal pertanian maupun dalam kegiatan lainya.

 
-Para pelaku pencurian akan di sidang oleh para tetua kampung/mardemban dan sanksi yang diberikan diputuskan setelah sidang oleh para tetua kampung. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi,Jagung,Ubi,Cengkeh,Kopi, Cabai, Jenkol dan Petai
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sikkam, jerango, Ceplukan, Sirih, Bunga Raya, Bunga Cocor Bebek, Bambu Hijau, Sihapir, Daun Kates, Duhut Baru, Kunyit.
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu pinus, meranti, ingul, rotan, meranti, hawanak
Sumber Sandang bayon pandan, raso (tanaman rawa).
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Andaliman,Jahe,Kunyit
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan menyadap pohon aren untuk dijadikan minuman tuak dan gula merah, jagung, Kopi