Wilayah Adat

Demianus Yesawen Birburdeti (Tanah ulayat sub Marga)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Abuntat Womom
Propinsi Papua Barat
Kabupaten/Kota TAMBRAUW
Kecamatan Abun
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.345 Ha
Satuan Demianus Yesawen Birburdeti (Tanah ulayat sub Marga)
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Jalan. Bugwoi, Gunung Bugwoi (Yafet Yesnath) dan Kampung Saubeba/Resye
Batas Selatan 1. Gunung Tosem, berbatasan dengan hak ulayat dari: • Marga Yesnath • Marga Yekwam • Marga Yeblo • Marga Yenjau • Marga Yeudi • Marga Sundoi 2. Kampung Sumbab, Distrik Tubouw
Batas Timur Sungai Syupagwoike (Agusta Yessa) Gunung Kwe Nar Subo Gunung Nggu Wai
Batas Utara Samudera Pasifik (0,5 Km)

Kependudukan

Jumlah KK 33
Jumlah Laki-laki 101
Jumlah Perempuan 103
Mata Pencaharian utama Berkebun, Berburu dan Meramu

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Demianus Yesawen Birburdeti berasal dari kelompok masayarakat adat yang lebih besar, yakni marga Yessa. Marga Yessa merupakan salah satu marga besar yang ada di Kabupaten Tambrauw dan menempati sebagian besar pesisir utara kabupaten Tambrauw. Pada awalnya masyarakat Adat marga Yessa menempati kampung Yener (kampung tua) yang kemudian berpindah ke kampung Saubeba yang di pimpin oleh tetua adat Marga Yessa, yaitu bapak Tobias Yessa. Kepemilikan dan penguasaan wilayah adat marga Yessa sejak awalnya mulai dari Kali Kwoor (Sebelah Barat), Kali Syusya (Sebelah Timur), Gunung Tosem (Sebelah Selatan) dan Samudera Pasifik (Sebelah Utara). Sejalan peningkatan akses dan terkoneksinya Wilayah pesisir utara Tambrauw khususnya daerah peneluran penyu belimbing ke pihak luar (LSM, Universitas, donor, Pemerintah, dll) serta menghindari konflik antar anggota dalam marga Yessa, maka dilakukan pembagian wilayah adat marga yang di inisiatif oleh tetua marga Yessa bersama dengan anggota marga/keret Yessa.
Tujuan pembagian hak ulayat untuk mengontrol pengelolaan wilayah pesisir tempat peneluran Penyu Belimbing dan wilayah pemenuhan kebutuhan hidup sub-sub marga Yessa, pengelolaan hutan sebagai tempat tinggal dan tempat melangsungkan hidup seperti berkebun, mencari hasil laut dan mencari hasil hutan dengan mempertimbangkan asas kepentingan dan pemerataan manfaat dari anggota keret/marga. Wilayah ulayat marga Yessa dibagi kedalam enam bagian sub wilayah adat berdasarkan bekas kebun (Shudum) yang dikelola oleh orangtua atau nenek moyang setiap anggota marga Yessa. Enam sub wilayah adat Yessa antara lain Yafet Yessa Birburdeti (wilayah hak ulayat Yafet), Demianus Yesawen Birburdeti (wilayah hak ulayat Demianus Yesawen), Agusta Yessa Birburdeti (wilayah hak ulayat Agusta Yessa), Benyamin Yessa Birburdeti (wilayah hak ulayat Benyamin), Yan Yessa Birburdeti (wilayah hak ulayat Yan Yessa) dan Marthinus Yessa Birburdeti (wilayah hak ulayat Marthinus Yessa). Pembagian sub wilayah adat baru dilakukan sejak Tahun 2017 ( kurang lebih dua tahun lalu).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Laut (Sem), Pesisir Pantai (Semde), Permukiman (Pe Gato Men Ben Umo), Wilayah Berkebun (Pe Gato Men Ben Nggwe Mo), Wilayah Berburu (Pe Gato Men Sok Mo), Wilayah Meramu (Munai), Hutan (Nden)- 
Nden : Merupakan hutan yang masih alamiah (hutan primer) yang belum dikelola oleh masyarakat

Nden Gato Men Ben Sukmo: Merupakan hutan yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat adat. Sebagai contoh, hutan dimanfaatkan sebagai wilayah berburu (Pe Gato Men Sokmo), Permukiman (Pe Gato Men Ben Umo), Wilayah Berkebun (Pe Gato Men Ben Nggwe Mo)

Nden Gato Men Mewa: Merupakan hutan yang dialokasikan oleh masyarakat sebagai hutan yang dilindungi berdasarkan sumpah gereja. Sumpah gereja diterapkan untuk melindungi satu kawasan dari pemanfaatan dan dalam rentang waktu tertentu berdasarkan kesepakatan adat


Tanah Individu/keluarga : Merupakan tanah marga yang diakui oleh marganya menjadi milik individu keluarga dalam marga yang sama karena pengelolaan/penggarapan yang berulang-ulang. Dan tanah tersebut tidak dapat dikembalikan menjadi milik marga.
 

Kelembagaan Adat

Nama Masyarakat Adat Demianus Yesawen Birburdeti Keret Yessa
Struktur Yesu (Pimpinan wilayah sub-marga Yesawen)
Mengambil keputusan dalam berbagai hal berkaitan dengan hak adat dan marga dalam suatu wilayah adat ataupun wilayah sub-marga 
Melalui musyawarah adat (Mekisukseno) dengan sub-Marga Yessa dan marga lain, kemudian diputuskan oleh Yesu (Marga Yesawen) 

Hukum Adat

Laut (Sem): pemberian sanksi adat terhadap nelayan diluar marga yesa yang mencari tanoa seijin sub-marga, diharuskan membayar denda sebesar Rp. 500.000. Kemudian teguran diberikan kepada marga yesa dan marga lain yang bukan berada di wilayah Demianus Yesawen Birburdeti, apabila mencari tanpa ijin

Pesisir Pantai (Semde) :memberikan teguran kepada siapa saja yang mengambil telur penyu. Teguran jika akan diberikan kepada siapa saja di luar masyarakat Womom yang mengambil batu karang

Permukiman(Pe Gato Men Ben Nu Mo) : Tidak ada aturan adat

Wilayah Berkebun (Pe Gato Men Ben Nggwemo) : Masyarakat berkebun berdasarkan kesepakatan dan pembagian masing-masing kepala keluarga. Apabila ada yang mengganggu hak kelola kebun kepala keluarga lain, akan diberikan teguran oleh pemilik kebun

Wilayah Berburu (Pe Gato Men Sok Mo) : Apabila ada yang masuk wilayah berburu masyarakatDemianus Yesawen Birburdetitanpa seijin pemilik wilayah berburu akan diberikan teguran. Wilayah berburu Demianus Yesawen Birburdeti antara lain, Syumbrak, gunung Refun dan Syupare

Meramu (Munai) : Apabila ada yang masuk wilayah meramu tanpa ijin akan diberikan teguran

Hutan (Nden) : Hutan kayu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pembangunan rumah dan pembuatan perahu. Apabila ada yang masuk wilayah Hutan Demianus Yesawen Birburdeti tanpa ijin, akan diberikan sanksi berupa denda. Terkait tempat keramat, masyarakat adat hanya diperbolehkan melintas tanpa melakukan aktivitas berburu, mengambil dan memotong kayu. 
Menikah Adat (Buka Tikar) : Merupakan prosesi pernikahan yang diawali dengan menggulung rokok. Mempelai laki-laki membakar kemudian menghisap rokok terlebih dahulu sebelum kemudian diberikan kepada mempelai perempuan. Masyarakat dan keluarga kedua mempelai, memberikan bantuan berupa kain timor, piring besar,paseda, manik-manik, parang, dan tombak sebagai ikatan.

Upacara Arwah : pemanggilan arwah orang meninggal (nenek moyang) dengan tujuan permintaan ijin apabila berkaitan dengan pemanfaatan oleh pendatang dari luar masyarakat adat. Sebagai contoh, masuknya perusahaan/proyek baru pemanfaatan hasil hutan berupa kayu. Oleh masyarakat adat, tarian ini disebut dengan Syom Syuk Gato Men Mit Mo

Tarian Penyu : Merupakan tarian yang dilakukan oleh sepasang penari untuk tujuan pemanggilan penyu. Hanya orang tertentu saja yang dapat dan diperbolehkan melakukan tarian. Kesesuaian gerakan tarian sangat berpengaruh terhadap kehadiran penyu naik ke pantai. Oleh masyarakat, tarian penyu disebut juga dengan Ken Ndo Womom

Pencurian dan Pembunuhan (Kriminal): Sanksi adat dapat berupa denda kain timor (Toba,Wan, Amun, Berbus, Sarim, Karok) dan Uang (Su Gum)
 
Pelanggaran berupa memancing di laut oleh masyarakat Bugis tanpa seijin adat, dikenakan sanksi berupa denda Rp. 500.000

Teguran terhadap masyarakat dari luar wilayah hak Demianus Yesawen yang mengambil dokumentasi Penyu Belimbing tanpa ijin
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Sagu (bey), gedi (du), labu (wa’i), bayam (maggres), kasbi (aggwasem), patatas (anggwatu), pisang (wauw) Daftar lengkap, terdapat dalam lampiran
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun gatal (baa), jahe (rii), buah merah (er), kumis kucing (esmau), cocor bebek (kwenat ngrof), tali susu (jambrim) Daftar lengkap, terdapat dalam lampiran
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu matoa (fot), kayu susu (koraise), kayu besi (konggwit), batu karang (joksa), pasir pantai (jeen mosem)
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Lengkuas, jahe (rii), kunyit (fun), cabai (marisyan), daun salam, lemon (fai), daun pandan (sun)
Sumber Pendapatan Ekonomi Menjual hasil kebun dan beberapa hewan bahan makanan

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR 6/37/2018 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR 6/37/2018 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen