Wilayah Adat

Ketemenggungan Sungkup Belaban Ella

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Limbai dan Ransa
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Menukung
Desa Belaban Ella
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 13.183 Ha
Satuan Ketemenggungan Sungkup Belaban Ella
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Desa Siai mulai dari Gunung Pihing, Sungai Kuhui Ulu, Nata Encana, Jalan Pt. SBK, sampai Sungai Tengkuyung
Batas Selatan Berbatasan dengan: 1. Desa Tumbang Kaburai mulai dari Batu Betanam, Perbatasan Kalteng – Kalbar, Bukit Entrinat, sampai Bukit Terentang 2. Desa Kempangai mulai dari Bukit Terentang sampai Sungai Nuak 3. Desa Desa Perembang Nyuru mulai dari Sungai Nuak sampai Gunung Pihing.
Batas Timur Berbatasan dengan: 1. Desa Sungai Sampak mulai dari Teluk Ensurai, Natai Poring, Natai Batu Sopan, Riam Marau, Nanga Sungai Pelinggang sampai Hulu Mada Lucak 2. Desa Nusa Poring mulai dari Hulu Mada Lecak sampai Hulu Baning 3. Desa Tumbang Kaburai mulai dari Hulu Baning sampai Batu Betanam
Batas Utara Berbatasan dengan: 1. Desa Siai mulai dari Sungai Tengkuyung sampai Nanga Mada 2. Desa Batu Badak mulai dari Nanga Mada, Natai Luncung, Sungai Duri, Nata Kompas, sampai Teluk Ensurai.

Kependudukan

Jumlah KK 271
Jumlah Laki-laki 538
Jumlah Perempuan 818
Mata Pencaharian utama Petani dan Penoreh Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Memperoleh dan Kepemilikan Wilayah Adat

Masyarakat adat yang mendiami wilayah Ketemenggungan Belaban Ella terdiri dari 2 (dua) Sub Suku yakni: Limbai dan Ransa. Kedua Sub Suku ini memiliki sejarah migrasi tersendiri. Dari proses migrasi inilah mereka memperoleh dan memiliki wilayah adat yangditempati sekarang. Berikut cerita lisan yang diyakini mereka turun-temurun tentang proses migrasi dari masing-masing Sub Suku tersebut4.

a. Proses Migrasi Suku Dayak Limbai

Dayak Limbai sendiri terbagi dalam empat sub kelompok yakni Limbai Kelait, Limbai Pantai, Limbai Belamor, dan Limbai Kayan. Dayak Limbai Ketemenggungan Belaban Ella adalah Dayak Limbai Kelait, yang asal muasal dari daerah Hulu Sungai Keruap dan anak Sungai Kayan yang ada di Kalimantan Barat, Limbai pantai ada di desa pelaik keruap.limbai belamor ada.
Keberadaan Masyarakat Adat Limbai yang sekarang bermukim di Kampung Sungkup dan Belaban Ella, Ketemenggungan Belaban Ella, tidak dapat pisahkan dengan jasa seseorang yang bernama Atok Cubok dan istrinya Timuai. Mereka berdua inilah yang pertama kali menemukan dan membuka wilayah Ketemenggungan Belaban Ella sebagai tempat berusaha, seperti be-umo (berladang), berkebun, mencari damar, berburu, dan lainnya. Wilayah tempat usaha berladang dan mendirikan pondok bernama Burai Landai, tepatnya di Nanga Ella Hulu. Bukti keberadaan mereka berdua di tempat ini adalah kuburan, tanaman buah-buahan, tengkawang, belian dan temaduk.

Sekitar Zaman Belanda, Atok Cubok – Temuai pindah ke wilayah Nanga Puot atau Nanga Plangkah, tepatnya sebelah kiri mudik Sungai Melawi. Setelah menetapkan puluhan tahun di sini, mereka pindah dengan cara berpencar. Sebagian pindah ke wilayah (Kampung) Bondau, sebagian masuk ke wilayah Sungai Ella Hulu dan menetap di wilayah Laman (Kampung) Landau Pemungkar tepatnya di kanan mudik Sungai Ella Hulu. Mereka memiliki tempat khusus untuk berladang yaitu, di wilayah Buluh Minyak dan Natai Marau, kiri mudik Sungai Ella Hulu. Mereka yang pindah ke Laman Landau Pemungkar ini dipimpin oleh Paku Agung. Bukti peninggalan mereka di wilayah ini berupa tanam tumbuh buah-buahan, tengkawang, tebelian dan kuburan.

Selanjutnya Paku Agung beserta masyarakatnya pindah lagi ke Nanga Dahan sebelah kiri mudik Sungai Ella Hulu. Di wilayah inilah Paku Agung meninggal dunia dan digantikan oleh Singa Prana. Bersama Singa Prana, mereka pindah ke wilayah Nanga Kumau sebelah kanan mudik Sungai Ella Hulu. Tempat mereka berladang di wilayah ini adalah sungai Kumbai – Riam Pamai. Peninggalannya adalah kuburan, tanam tumbuh buah-buahan, temaduk, tembawang.

Dari wilayah ini Masyarakat Adat Limbai pindah berpencar menjadi. Ada yang pindah ke Nanga Siyai, dipimpin oleh Rinyah dengan gelar Singa Muda. Ada yang pindah dan
menetap di Laman Jelumpang, tepatnya di sebelah hilir sungai Jelumpang, dipimpin oleh Gumpol dengan gelar Marta Layang. Di Laman Jelumpang ini, mereka menempati Rumah Betang (Panjang), yang jumlahnya 12 pintu. Bukti peninggalan mereka di wilayah ini berupa bekas laman (kampung), kuburan (posar) dan tanaman buah-buahan.

Karena terjadinya wabah penyakit muntaber di Laman Jelumpang ini, kemudian mereka pindah ke Laman Nusa Ubai dekat Sungai Siyai. Dari sini mereka pindah lagi ke Laman Poring (kiri mudik Sungai Ella Hulu). Mereka pindah lagi dengan berpencar, ada yang pindah dan menetap di Semelahui bergabung dengan Suku Dayak Kenyilu, dipimpin oleh Temenggung Raja. Ada yang pindah dan menetap di wilayah Laman Kenopik (Batu Ampar Sukung, anak Sungai Mehola), dipimpin oleh Gumpol.

Dari Laman Kenopik mereka pindah dan menetap di Rumah Betang Laman Sungai Orah. Di wilayah Sungai Orah ini, mereka mulai mengenal sistem Pemerintahan Kampung yang dipimpin oleh Kepala Kampung, dibantu oleh Kebanyan, dan Pemerintahan Ketemenggungan yang dipimpin oleh Temenggung di masing-masing suku. Dan urusan adat secara perlahan-lahan mulai dipisahkan dari administrasi pemerintahan kampung. Urusan administrasi pemerintahan kampung ditangani oleh Kepala Kampung dan Kebayan, sedangkan urusan adat ditangani oleh seorang Temenggung. Kepala Kampung pertama di Laman Sungai Orah bernama Gontar dan Ondek sebagai Kebayan. Sedangkan Temenggung Suku Limbai yang pertama adalah Santui. Setelah Gontar meninggal dalam usia 70 tahun, Kepala Kampung dijabat oleh Ondek dan Kebayannya adalah Cahai. Peninggalan mereka di Sungai Orah berupa tanam tumbuh buah-buahan, kuburan, temaduk dan sandung.

Sekitar tahun 1959, dipimpin oleh Jumat, ada 5 Kepala Keluarga pindah dan menetap di Laman Pelaik Mada, kemudian beberapa tahun disusul oleh 3 Kepala Keluarga. Kemudian Jumat diganti oleh Muling sebagai Kepala Kampung dan Ariyah (masih hidup) sebagai Kebayan. Muling digantikan oleh Pak Manan sebagai Kepala Kampung dan Pak Hinong sebagai Kebayan. Pada masa kepemimpinan keduanya ini, mulai ada 12 Kepala Keluarga pindah dan menetap di Rumah Panjang Laman Sungkup. Pak Manan digantikan oleh Pak Hinong sebagai Kepala Kampung dan Donda sebagai Kebayannya. Dan atas inisiatif Pak Hinong (1981 – 1982), warga kampung Pelaik Mada secara berangsur-angsur pindah ke Sungkup dan menetap hingga sekarang. Perpindahan ini terjadi karena dekat dengan sungai dan mudah keluar masuk kampung melalui Sungai Ella Hulu.

Dari tahun 1982 – 1984, di Sungkup mulai terjadi penambahan pejabat di struktur Pemerintahan Kampung. Struktur Pemerintahan Kampung yang semula hanya dijabat 2 orang saja (1 Kepala Kampung dan 1 orang Kebanyan) ditambah 2 orang lagi. Sehingga struktur Pemerintahan Kampung terdiri dari: Kepala Kampung, Kebayan, Sekretaris dan LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa). Nama-nama orang tersebut adalah: Hinong sebagai Kepala Kampung, Donda sebagai Kebayan, Buyong sebagai Sekretaris dan Cahai di LKMD- nya. Sistem pemerintahan kampung ini berlangsung hingga tahun 1989.

Pada tahun 1989 hingga 2006, terjadi penyatuan Desa. Dimana Kampung Sungkup dan Kampung Belaban Ella bergabung dengan Desa Nanga Siyai. Kepala Desa Nanga Siyai pada waktu itu adalah Pak Dahlan dan Temenggungnya adalah Pak Udan yang berdomisili di Siyai. Dari tahun 1989 – 1994 Pak Hinong menjabat sebagai Kepala Dusun Belaban Ella Dari 1994 – 1999, Pak Hinong digantikan oleh Pak Dana sebagai Kepala Dusun Belaban Ella. Sedangkan Temenggung Siyai yang semulanya Pak Udan (alm) diganti oleh Pak Manan.

Tahun 2008, Dusun Belaban Ella menjadi Desa tersendiri dengan nama Desa Belaban Ella, terdiri dari 2 (dua) Dusun, yaitu Dusun Belaban Ella dan Dusun Sungkup. Kepala Desa Belaban Ella pertama bernama Faizal Ondon tahun2012,Pj Pak Ijus dijabat selama 6 bulan kemudian pada tahun 2013- sebagai Kepala Desa terpilih oleh Thomas Jojon sampai tahun 2017 awal . Masa jabatan Kepala seharusnya satu priode 6 tahun,tetapi oleh karena ada kepetingan politik yang lebih luas, untuk mengikuti sebagai calon dilegislatif (DPRD), sehingga melepaskan jabatan sebagai kepala Desa di awal tahun 2018. Jabatan kepala desa jabat oleh pak Agus, SAG. (2018-2019)

Seiring terbentuknya Desa Belaban Ella, pada tahun 2016 terbentuklah Ketemenggungan Belaban Ella, yang terpisah dari Ketemenggungan Siyai. Pemekaran Ketemenggungan Belaban Ella terjadi atas prakarsa Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Melawi dan difasilitasi Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Melawi dan DAD Kecamatan Menukung mengadakan musyawarah adat dengan melibatkan seluruh Temenggung di Kecamatan Menukung. Salah satu hasil musyawarah ini adalah bahwa Pemerintahan Ketemenggungan didasarkan pada Pemerintahan Administrasi Desa. Dengan demikian, wilayah kekuasaan Kepala Desa juga wilayah kekuasaan seorang Temenggung

b. Proses Migrasi Suku Dayak Ransa

Proses migrasi Masyarakat Adat Ransa ke wilayah Ketemenggungan Belaban Ella sekarang, berawal dari wilayah Lengkung Nyadum di daerah Ella Hilir. Setelah itu berpindah ke Lengkung Temiyang di hulu Kota Menukung, Kabupaten Melawi (sekarang). Kemudian mereka pindah lagi dan menetap di wilayah Laman Tanjung atau Laman Oras (sekarang).

Dari Laman Tanjung mereka pindah berpencar, ada yang pindah dan menetap di wilayah Laman Mumbung, ada yang pindah dan menetap di wilayah Laman Angus, Kecamatan Menukung. Mereka yang di Laman Angus pindah berpencar lagi, ada yang pindah dan menetap di wilayah Laman Sungai Mehola Kepala Guhung. Dari sini Kepala Guhung mereka pindah dan menetap di Laman Nanga Bejek, sudah masuk Sungai Ella Hulu. Di Laman Nanga Bejek mereka sudah mengenal Pemerintahan Kampung, dengan Kepala Kampung bersama Masurok. Kemudian Masurok diganti oleh Tambing dan Pak Jinuk sebagai Kebayannya. Tambing diganti oleh Jinuk sebagai Kepala Kampung (1947). Di bawah kepemimpinan Jinuk Kampung Nanga Bejek berupah nama menjadi Kampung Belaban Ella hingga sekarang.

Sebelum bergabung dengan Ketemenggungan Belaban Ella, Dayak Ransa memiliki Pemerintahan Ketemenggungan sendiri, yaitu Ketemenggungan Sungai Sampak, dengan Temenggung bernama Otoh. Menurut informasi, bergabungnya 2 (dua) sub Suku ini (Limbai dan Ransa) sejak Pak Udan menjabat Ketemenggungan Siyai sekitar tahun 1989. Penggabungan Temenggung Ransa dan Limbai dikarenakan hanya 20 kk suku dayak ransa.

Dari proses migrasi 2 (dua) sub Suku di atas, bahwa cara Masyarakat Adat Ketemenggungan Belaban Ella memperoleh dan memiliki suatu wilayah adalah dengan cara berpindah-berpindah untuk mencari tanah atau lahan yang kosong dan subur sebagai tempat
berusaha, yakni berladang (umo), kebun dan bercocok tanam lainnya. Di wilayah-wilayah baru tersebut, mereka selalu mendirikan pondok atau pemukiman sebagai tempat tinggal (laman bahasa Limbai dan Ransa atau Perkampungan). Karena itu, di wilayah-wilayah bekas pemukiman atau bekas umo tersebut masih ada bukti yang dapat dilihat, seperti kuburan (posar), sandung, tanaman buah-buahan, tengkawang, durian, kebun karet dan lainnya.

Praktek turun-temurun Masyarakat Adat Ketemenggungan Belaban Ella untuk mendapatkan hak atas tanah atau lahan dengan cara be-umo masih berlangsung hingga sekarang. Bedanya adalah, dulu siapa yang pertama membuka hutan primer (rimo’) untuk be- umo, maka hak atas tanah atau lahan bekas umo, termasuk apabila umo tersebut ditanami karet menjadi hak milik pribadi atau keluarga tersebut. Namun demikian, apabila umo tersebut tidak ditanami karet maka orang atau keluarga lainnya boleh memanfaatkan bekas umo tersebut dengan cara meminta ijin dulu kepada pemilik umo pertama.

Selain itu, Masyarakat Adat Ketemenggungan Belaban Ella mendapatkan hak milik atas suatu lahan atau tanah dengan cara tukar, jual beli, dan warisan. Sistem kepemilikan hak ini dapat dilihat pada tulisan mengenai sistem pengelolaan tanah dan wilayah adat di atas sebelumnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Umo (ladang)
Merupakan tanah/lahan sebagai tempat untuk mereka berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tanaman utama di umo adalah padi. Selain itu, umo juga ditanami jagung, ubi kayu, ubi jalar, keribang, sawi, labuk, terong, jahe, timun dan juga ditanami karet.
2. Bawas atau babas
Adalah lahan atau kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk be- umo pada tahun-tahun berikutnya. Bawas memiliki tingkat kesuburan tanah (vegitasi), yakni: tempalai adalah bawas berumur1-3 tahun; imatn/balitn adalah bawas berumur 2 – 3 tahun; bawas mudo adalah bawas berumur 3 – 5 tahun; bawas tuho adalah bawas berumur 6 – 11 tahun; krongkak agung adalah bawas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan umo lagi akan menjadi rimo' (rimba).
3. Gupong Adat atau tembawang
sebuah kawasan bekas umo atau bekas perkampungan (pemukiman) yang berisi bermacam tanaman buah-buahan, seperti durian, tengkawang, rambutan, langsat, pegawai, rambai dan juga pohon karet. Gupong Adat juga terdapat kuburan atau balai keramat (tanah mali), sandong, temaduk, toras dan lainnya. Ada beberapa katagori Gupong Adat, yakni: (i) gupong adat rima' tengkawang yang di dalamnya berisi ribuan tanaman pohon tengkawang, gupong adat mata air yakni gupong yang di dalamnya terdapat mata air dan dikeliling bermacam pohon besar serta sengaja dipelihara agar mata air tetap jernih dan lestari; gupong laman, yaitu merupakan gupong bekas perkampungan; gupong adat tanoh mali mati yaitu kawasan khusus tempat kubur tua (nenek moyang) mereka; (v) gupong adat kerobah, yaitu sebuah tempat/kawasan dimana terjadi sesuatu hal yang mengakibatkan orang meningga secara mendadak; dan (vi) gupong adat temunik yaitu suatu tempat mereka menggantung atau menguburkan temuni (ari-ari) anak yang baru dilahirkan.
4. Rima/ Rimo,
kawasan Hutan yang didalamnya masih terdapat pohon-pohon besar, sumber mata air, gaharu, dan hewan-hewan buruan dalam rimo terdapat Balai Keramat yang diyakini mereka sebagai tempat bersejarah dan melaksanakan ritual adat. Balai Keramat yang sangat terkenal dengan sejarahnya dan hingga kini masih dipelihara dengan baik oleh Masyarakat Adat Ketemenggungan Belaban Ella antara lain: Batu Betanam, Pancur Demong Ehon, di huma Pongkal Sedarah, Pontu Lajek, Batu Bagana, Sungai Mada
5. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman masyarakat.
6. Kobutn Karet
Merupakan kawasan yang berisikan tanaman kebun karet dan juga tanaman buah-buahan lainnya, seperti rambutan, langsat, cempedak

7. Rampa Lalang
Kawasan bekas umo atau pemukiman yang pada umumnya ditumbuhi ilalang yang difungsikan sebagai tempat penggembalaan ternak. Selain itu rampa lalang juga digunakan sebagai lahan cadangan 
1. Hak milik perorangan atau keluarga atas umo, bawas dan kobut karet. Hak kepemilikan individu atau keluarga atas lahan umo dan bawas di sini adalah hak keluarga batih yakni suami, istri dan anak. Hak ini diperoleh dari setiap orang atau keluarga yang pertama kali membuka hutan primer (rimo') untuk be-umo tersebut. Namun demikian, untuk sekarang ini Masyarakat Adat Ketemenggungan Belaban Ella telah membuat kesepakatan adat tentang larangan membuka rimo' untuk be-umo atau aktivitas lainnya,

Hak yang melekat kepada individu atau keluarga yang membuka rimo' untuk dijadikan umo adalah hak atas sebidang tanah, kebun karet dan tanaman buah-buahan lainnya yang ditanam di umo tersebut. Namun demikian, apabila hak individu atas lahan umo ini tidak ditanami karet ataupun tanaman buah-buhan lainnya, maka orang lain dapat menggilir/menggunakan bekas umo tersebut untuk di-umo lagi dengan cara meminta izin dulu kepada pemilik pertama. Setiap orang hanya boleh dua kali membuat umo di bekas lahan umo-nya, setelah itu boleh digunakan oleh orang lain dengan meminta terlebih dahulu. Tapi hak atas sebidang tanah/lahan tersebut masih tetap milik orang atau keluarga yang pertama.

Sementara itu, terkait hak kepemilikan individu atau keluarga atas tanah dan kebun karet selain dengan cara menanam sendiri di lahan umo, juga diperoleh dari jual beli, tukar, dan warisan orang tua atau kakek-nenek. Belum diketahui data secara detail mengenai luas masing-masing dari hak milik individu atau keluarga atas tanah/lahan umo, kebun karet.

2. Hak milik waris atas gupong tengkawang atau durian,Hak kepemilikan secara waris atas gupong tengkawang ataupun gupong durian seperti table di atas diperoleh dari warisan garis keturunan kakek-nenek hingga 5 keturunan. Belum diperoleh data secara detail tentang nama-nama dan luasan dari gupong tengkawang dan durian.
Obyek hak yang dimiliki oleh para waris adalah tanah dan tanaman tengkawang ataupun durian. Dari garis 5 keturunan ini, maka hak atas kawasan gupong dapat dimiliki bersama dalam satu kampung atau hak komunal dalam satu kampung (hak milik kampung).

3. Hak milik bersama atau komunal
Sementara itu, hak milik bersama atau komunal atas suatu kawasan rimo' (hutan rimba) didasarkan karena rimo' tersebut masih utuh atau belum pernah dilakukan aktivitas be-umo di kawasan tersebut.

Selain itu hak milik atas rimo', hak milik bersama lainnya adalah: Balai Keramat, yaitu: suatu kawasan atau tempat bersejarah yang biasa digunakan untuk ritual-ritual adat berniat (bersyukur dan meminta rejeki); Kawasan Laman atau Kampung, yaitu kawasan pemukiman sebagai tempat aktivitas utama mereka sehari-hari. Ketemenggungan Sungkup Belaban Ella
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Sungkup Belaban Ella
Struktur Proses Pemilihan Temenggung, Pateh dan Dandai di pilih melalui musyawarah dan mufakat yang dihadiri para tetua kampung dan Masyarakat. Kreteria seorang temenggung adalah, cakep terampil, cerdas, paham dengan aturan adat dan sosial budaya serta berwibawa 1. Temenggung sebagai pemimpin tertinggi; 2. Pateh sebagai wakil Temenggung; hanya sebagai pembantu Temenggung. 3. Dandai berada di setiap kampung yang bertugas mengurus adat istiadat dan hukum adat yang ada di wilayah adatnya/kampungnya
1. Temenggung, kewenangan dan tanggungjawabnya meliputi seluruh wilayah kekuasaannya. Temenggung menyelesaikan sanksi adat, apabila sanksi adat itu berat, seperti pembunuhan dan sanksi adat yang tidak mampu diselesaikan oleh pengurus adat tingkat kampung.
2. Sedangkan Pateh, diberi kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan sanksi adat apabila seorang Temenggung berhalangan atau tidak bisa hadir.
3. Sedangkan Dandai, kewenangannya hanya mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat Kampung. Pola struktur pemerintahan adat ini telah dikenal dan digunakan mereka sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada saat Dayak Limbai menempati wilayah Nanga Puotatau Nanga Pelangkah sekarang. 
Menkanisme penyelesaian pekara adat melalui Kerapat (Musyawarah) dan disesuaikan dengan tingkatan besaran adat.
Tempat musyawarah dirumah betang yang ikut biasanya semua masyarakat di undang terutama dalam memutuskan upacara adat tutup tahun (Pegowai buat batu karangan, selamatan daun padi
 

Hukum Adat

Aturan tentang Umo:

- apabila orang membuat umo, maka dia harus membuat skat/penyiangan api dengan ukuran minimal 3 (tiga) depak dan maksimal 5 (lima) depak Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut dikenakan sanksi adat yang disebut dengan “ulun”, yakni:
- Membuat umo di sekitar gupung mali sehingga menyebabkan gupung tersebut rusak, dikenakan sanksi adat pemali 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di posar, dikenakan sanksi adat pemali kubur sebesar 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di tanah mali, yakni adat temuni sebesar 1 (satu) ulun setiap temuni ditambah kokah sengkolan; adat kerobah sebesar 8 (delapan) ulun;
- Apabila membakar ladang (umo), apinya menjalar pada skat api 3 depak, maka kena sanksi adat 3 ulun;
- Apabila api menjalar pada skat api 5 depak, maka sanksi adat 2 ulun.
- Membuka umo hanya boleh ditempat yang belum dibuka oleh orang sebelumnya
- Beumo di lahan orang tanpa seijin pemiliknya akan dikenakan sanksi berupa ganti rugi sesuai dengan yang disepakai
- apabila seseorang/kelompok orang ingin membuka umo rima’, maka orang tersebut harus melakukan musyawarah dan minta ijin dengan seluruh warga masyarakat adat setempat terlebih dahulu. Mereka juga mengenal wilayah jelajah berburu yang mencakup seluruh wilayah adat


Aturan tentang Rimo
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh ditangkap dan dipotong Bersama-sama
 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan, balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.

Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang
 
Apabila terjadi pelanggaran akan disidang adat oleh Temenggung adat dan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Ubi kayu, jagung, padi, Protein nabati: kacang tanah, kacang merah, Protein hewani Babi, rusa, pelanduk dan ikan Sayuran: Tebu, timun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, keladai dan kucai, sawi, kangkong, jengkol. Buah-buahan adalah buah rambai , kapul, manggis, mentawo, langsat, durian, manga, pisang, jambu.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun kelopuk untuk melahirkan, daun bongkal untuk melancarkan air susu, daun, mambuk , daun pawas untuk sakit perut kembung, pasak bumi melahirkan, Daun Seganah digunakan untuk Bedak, daun cenogok dan buah nkudu untuk penyubur rambut.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu belian/ulin digunakan sebagai tongkat, Meranti dan banuah, keladan digunakan sebagai kasau atau Jenang bagian dari rumah, atap menggunakan kayu belian tokam omang
Sumber Sandang Kulit kayu (kapuak, dll), getah pohon untuk pewarna pakaian, bulu burung ruai dan tanduk hewan (rusa dll )yang tersedia di alam.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, cabe rawit,sengkubak.sibuk,lonsu, asam kandis, tekoru.
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Jengkol

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No 4 Tahun 2018 ttg Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat No 4 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Melawi Nomor 660/173 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Komunitas Adat Dayak Limbai Dan Ransa Desa Belaban Ella Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi Nomor 660/173 Tahun 2019 SK Bupati Melawi Nomor 660/173 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Komunitas Adat Dayak Limbai Dan Ransa Desa Belaban Ella Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen