Wilayah Adat

Sigapiton

 Teregistrasi

Nama Komunitas Sigapiton
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TOBA SAMOSIR
Kecamatan Ajibata
Desa Sigapiton
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.438 Ha
Satuan Sigapiton
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Danau toba
Batas Selatan Liat peta (nama komunitas tetangga dan penamaan tempat
Batas Timur Liat peta (nama komunitas tetangga dan penamaan tempat
Batas Utara Liat peta (nama komunitas tetangga dan penamaan tempat

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Moyang Marga sirait, marga nadapdap, marga butar-butat dating dari sibisa untuk mecari tempat hidup. Mereka kemudian membangun perkampungannya masing masing. Marga sirait membangun kampong yang bernama lumban ginjang, marga nadapdap membangun kampong yang bernama lumban nadapdap sedangkan marga butar-butar membangun kampong yang bernama lumban butar-butar. Kemudian setelah itu datanglah marga manurung dari sigaol dan membangun kampong yang bernama sibuntuon, namun karena jauh dari danau sebagai sumber kehidupan mereka maka mereka memutuskan untuk pindah ke daerah dipinggiran danau yang kemudian mereka beri nama lumban manurung. Setelah itu datanglah marga sirait dari dari sibisa kemudian membangun perkampungan yang bernama lumban sirait.
Awalnya mereka tinggal di perkampungan berdasarkan marganya masing-masing namun seiring berkembangnya waktu dengan proses perkawinan antar marga dan jumlah mereka meningkat sehingga dibukalah kampong baru (monosor) hingga saat ini terbentuklah 14 huta (sebutkan nama huta nya).
Pada tahun 1925 masuklah agama nasrani dibawa oleh marga manurung yang bernama janji martogi. Awal kedatangan agama nasrani ini ditolak oleh warga sekitar namun karena janji martogi dapat bersosialisasi dengan baik maka agama nasrani mulai diterima dan warga mulai satu persatu meyakini agama nasrani. Agama nasrani cukup mempengaruhi perkembangan adat istiadat terbukti adanya perubahan adat istiadat yang diyakini oleh masyarakat.
Mata pencaharian para moyang mereka awalnya berburu, meangkap ikan dan ladang berpindah, namun saat mereka sudah memutuskan untuk menetap di hutanya masing-masing mereka tidak melakukan ladang berpindah lagi

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Harangan : Hutan alami yang ditumbuhi kayu alam (harangan bona nia aek, harangan silum, harangan ganjang, harangan nadua, harangan bulur ohot, harangan pulo-pulo, harangan siteka, harangan nanggas, harangan, harangan obollung)
Juma : areal perswahan warga yang ditanami padi
Tano darat : ladang yang ditanami oleh tanaman umur pendek
Huta : pemukiman warga
Danau
Porlak : kebun yang sebagian besar ditanami kopi, kemiri, cengkeh, durian, jengkol, dsb
 
-Sistem penguasaan tanah dibagi menjadi hak komunal (ripe ripe) dan hak marga (pongumpulan)

Harangan dimiliki oleh komunal yaitu seluruh marga induk/raja paropat (sirait, nadapdap, butar-butar dan manurung) berhak mengambil manfaat sumber alam yang berada di harangan

Areal persawahan dibagi-bagi berdasarkan marga, pembagiannya sudah turun temurun dan dibagi oleh nenek moyang raja paropat

(Gambarin pembagiannya)

Sistem pewarisan tanah dengan system panjaean untuk anak laki-laki dengan hak kesulungan dan cucu dari anak pertama (don do tua) dengan system patriarki

Pewarisan anak perempuan hanya dapat satu bagian dan bagiannya dibagi lagi dengan anak perempuan lainnya jika sudah menikah. Anak perempuan yang tidak menikah tidak dapat bagian tanah.

Besarnya bagian tanah yang didapat berdasarkan hasil musyawarah lingkup keluarga saja namun anak laki-laki pertama pasti dapat bagian yang paling besar.

Jika akan membuka ladang baru meminta izin raja paropat terlebih dahulu untuk luasan lahan yang akan dibuka ditentukan oleh kesanggupan si pembuka lahan itu sendiri.

Sedangkan pembagian wilayah danau berdasarkan hak komunal

Suku lain dan marga lain yang tidak punya ikatan keluarga dan ingin memanfaatkan tanah yang ada di wilayah adat diperbolehkan namun tidak diberikan hak kepemilikan dengan proses izin ke raja paropat setelah raja paropat memutuskan dan memberikan izin maka baru bisa mengelola lahan tersebut dan keuntungan yang mereka dapatkan dari pengelolaan lahan tersebut 100% untuk mereka yang mengelola. Tanah yang diizinkan untuk dikelola adalah tanah yang masih di areal persawahan atau tanah milik marga yang membawa suku/marga lain tersebut.

Hutan larangan (tombak sitio-tio) hutan yang boleh diakses saat ritual martondi eme (bunting padi) yaitu mengambil kayu bakar untuk ritual agar panen padi melimpah





 

Kelembagaan Adat

Nama Bius Raja Na Opat
Struktur (gambarkan struktur yang terlampir di plano)
Raja Na Opat : Pemimpin wilayah (panuturi), Penasehat (uluan), Pengambil keputusan, Penyelesaian permaslahan social
Boru Bius : Pemimpin ritual adat, Pelaksanaan denda/sanksi adat
Raja huta : Pemimpin masyarakat tingkat huta/kampung
 
Jika ada permasalahan tingkat marga maka raja huta akan melapor ke raja na opat kemudian di musyawarahkan dan diputuskan bersama 

Hukum Adat

Tidak boleh menjual lahan ke pihak lain jika terjadi maka akan diusir dari komunitas
Tidak boleh menjual kayu dan hanya memanfaatkan kayu untuk kebutuhan membangun rumah
Tidak diperbolehkan membuka lahan tanpa izin raja na opat jika melanggar maka akan diusir dari komunitas
 
Tidak diperbolehkan menikah dengan semarga jika terjadi maka yang bersangkutan akan diusir dari komunitas
Hubungan terlarang (bukan suami istri) dan perselingkuhan maka akan mendapatkan sanksi diusir dari komunitas
Perzinahan yang menyebabkan perempuan hamil maka akan dinikahkan
Pencurian akan didenda sesuai dengan ketentuan hasil musyawarah
Jika ada yang berkelahi/bertikai maka akan didamaikan oleh raja na opat dan harus menjamu makan satu komunitas dan yang berkelahi harus (mangan indahan sinaor) yaitu makan sepiring berdua
Pemakaman ritual adatnya berdasarkan tingkatan kematian (status perkawinan dan anak) kemudian raja na opat akan memutuskan rituall perkawinan yang sesuai dengan tingkatan kematiannya
Pernikahan dipimpin oleh raja huta dengan memberikan jambar ke raja na opat sedangkan mempelai pria harus memberikan sinamot ke mempelai wanita dengan besaran sesuai dengan musyawarah keluarga

 
Luput ditanyakan, tolong dicari infonya yah 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi-ubian, jagung, bawang, kacang-kacangan, ikan air tawar, manga, durian, sotul, huini, jengkol, pete, nanas, pokat, coklat, kangkung, situl, sirdak
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sakit kepala : sangge-sangge, jahe Skit perut : kunyit, daun jambu, bunga matahari, paet paet, Sakit gigi : bamboo Luka : paet paet, tempuak Asam urat : sirsak, pirdot
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu ungil, kayu zuhar, kayu bintatar, kelapa, pohon durian, hariana, ijuk,lalang,bambu
Sumber Sandang Pandan, luging, basiang, kapas
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, jahe, kunyit, serei, lengkuas, kemiri, kapulaga, bawang, andaliman, lada, lada hitam
Sumber Pendapatan Ekonomi kopi, bawang, beas, ubi, ikan, kemiri, jagung

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERDA Kabupaten TobaSa Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Batak Toba Samosir Nomor 1 Tahun 2020 PERDA Kabupaten TobaSa Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Batak Toba Samosir Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Toba Samosir Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Toba Samosir 138 Tahun 2020 SK Bupati Toba Samosir Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Toba Samosir SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen