Wilayah Adat

Balai Ma,abai

 Teregistrasi

Nama Komunitas Balai Ma,abai
Propinsi Kalimantan Selatan
Kabupaten/Kota HULU SUNGAI SELATAN
Kecamatan Loksado
Desa Kamawakan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 708 Ha
Satuan Balai Ma,abai
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Balai Tanginau (Desa Tumingki), Kec Loksado Kab. Loksado
Batas Selatan Balai Sungai Binti (Desa Kamawakan), Kec Loksado Kab. Loksado
Batas Timur Balai Kukubal (Desa Kamawakan), Kec Loksado Kab. Loksado
Batas Utara Balai Bumbuyanin (Desa Kamawakan), Kec Loksado Kab. Loksado

Kependudukan

Jumlah KK 9
Jumlah Laki-laki 21
Jumlah Perempuan 23
Mata Pencaharian utama Petani (penyadap karet, kayu manis, kemiri, jengkol) Kayu Manis, Keminting (Kemiri)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nama Ma,abai berasal dari nama sungai, tokoh adat yang pertama klai memimpin balai ini bernama Agur, setelah kepimpinan Agur kemudian dilanjutkan oleh Inug, setelah kepimpinannya dilanjutkan oleh Kisik hingga sekarang.

Damang Menanggis merupakan orang pertama yang membuka lahan di wilayah Adat Maabai. Kemudian beliau membuat “bayakung” (penyimpanan padi) agar padi tahan lama. Saat ini tempat penyimpanan padi tersebut dikenal dengan sebutan “bayakung datu”. Beliau juga membuat balai adat dan menyusun struktur yang membantunya mengatur balai adat. Balai tersebut dibuat menggunakan rotan dan atapnya menggunakan daun. Saat itu beliau juga menjadi kepala dusun dan demang adat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pahumaan : Tempat untuk menanam padi yang berhubungan dengan ritual adat.

Kabun : Termasuk hutan produksi lokal misalnya kemiri, kayu manis dan kebun karet

Jurungan: hutan yang bisa dimanfaatkan untuk pehumaan kembali setelah waktu 5-7 tahun.

Kayuan: Hutan yang tidak bisa diganggu tanpa ada kesepakatan warga setempat dan hutan kayuan tidak boleh ditebang atau keramatkan oleh warga setempat.

Karamat: tempat yang disakralkan oleh warga setempat seperti kuburan dan tempat bertapa dan rusak oleh masyarakat setempat termasuk orang luar.

Hutan keramat, hutan kuburan, lahan berladang, kampung buah-buahan dan tempat berburu.

Balai Adat, lampau (lumbung padi), pondok di ladang.

 
• Hak Perorangan : Hak yang di dapatkan dari proses jual beli atau membuka ladang baru.
• Hak Komunal : Hak yang di kelola bersama.
• Hak Waris : Hak yang diturunkan dari nenek moyang atau orang tua. Warisan dibagi oleh saudara tertua.

 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Balai Ma,abai
Struktur Tutuha Balai, Pangulu/ Damang adat
Tutuha Balai :
1) Pengambil keputusan tertinggi untuk yang berhubungan dengan pihak luar.
2) Memimpin Upacara adat pada tingkat komunitas.
3) Mengetahui batas batas wilayah dengan wilayah adat lain.
4) Mengetahui batas batas pemanfaatan lahan sesuai dengan pemanfatan tradisi dan adat yang berlaku. Melakukan pemantauan pemanfaatan lahan komunitas maupun individu.
5) Mengetahui batas batas kepemilikan lahan secara perorangan.

Pangulu:
1) Pengambil keputusan pada tingkat internal wilayah Balai Adat.
2) Melaksanakan mandat aturan aturan adat dari Pangulu.
3) Pelaksana ritual ritual adat seperti perkawinan, kematian dan kelahiran.


a. Damang: bertanggung jawab mengatur semua apparat yang ada di bawahnya yaitu, Pemangku adat, Panganan, Pangiwa, Mantir dan Penghulu Adat.
b. Pemangku: bertanggung jawab pelaksanaan upacara adat.
c. Panganan: bertanggung jawab melarang orang masuk sesudah upacara adat dilaksanakan
d. Pengiwa: bertanggung jawab mengatur masyarakat Adat cara berladang setelah upacara adat.
e. Mantir: bertanggung jawab dalam melaksanakan aturan penganggaran.
2) Penghulu: bertanggung jawab mengatur pelaksanaan Aruh Adat dan perkawinan.

 
Musyawarah dan diputuskan oleh Penghulu Balai, apabila tidak selesai baru ketingkat Damang

 

Hukum Adat

• Dalam areal keramat seperti kuburan, keberadaannya tidak ada boleh diganggu dalam bentuk apapun.
• Dalam kawasan Kayuan (sebuah kawasan perlindungan tradisi), pemanfaatan kayu sangat di batasi. Hanya diperbolehkan untuk kebutuhan subsiten seperti rumah dan balai adat. Tidak diperbolehkan sama sekali untuk alasan komersial.

Jika melanggar, maka akan diputuskan dalam peradilan adat yang dipimpin oleh Tatuha Balai. Diputuskan jenis pelanggarannya dan di tetapkan denda adat dengan ukuran tahil. Hukuman paling berat adalah di usir dari komunitasnya.

Aturan Adat yang berkaitan dengan pengelolaan SDA
Ada aturan yang menjadi pegangan atau pengetahuan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan ala, seperti waktu menanam padi dan membuat ladang.

Balayung (alat penebang pohon), batji, lesung, hallu.

“Bersanggar” ritual agar terhindar dari segala bencana.
 
Perselisihan karena tapal batas tanah orang per orang, maka tuha Balai atau Pangulu yang akan memutuskan siapa yang bersalah dengan berembuk. Yang bersalah dikenakan denda dalam bentuk tahil (bisa di nilai dengan uang atau barang), sesuai dengan tingkat kesalahan yang di tetapkan.

Memakai hokum Tembang Rasa

Berdahur hidup Bawedan Perkawinan Berdarah hidup

Malamar Bapara menentukan waktu perkawinan kawin.
 
Mencuri kayu dari kawasan kayuan untuk alasan komersial, akan mendapatkan denda adat sesuai dengan besar kayu dan jenis kayunya. Bahkan jika kesalahan diulangi lagi, anggota komunitas bisa di usir dari wilayah komunitasnya.

 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, umbi-umbian, jagung, sagu Proten: kacang-kacangan Vitamin: sayuran dan buah-buahan: sawi, labum Pepaya, Madu
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar Arau : Untuk obat keputihan Pasak Bumi : Untuk obat sakit pinggang dan vitalitas Buah Limpaso : Untuk obat penghilang bekas jerawat Laos : Untuk obat penyakit kulit ( panu ) Akar Pikajar : Untuk obat sakit pinggang dan vitalitas Butuh Ulin : Untuk obat sakit pinggang dan vitalitas Sintuk
Papan dan Bahan Infrastruktur Rumbia : Untuk atap rumah Pohon Bambu : Untuk dinding rumah Pohon Sungkai : Untuk tiang rumah
Sumber Sandang Pakian di buat dari kulit kayu kumut
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kemiri, Serai, Kunyit, Jahe, kencur
Sumber Pendapatan Ekonomi Kayu manis, Karet, Talas, Pisang, Umbi kayu, Kacang tanah, cabe rawiit, Sintuk, madu lebah hutan,

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK No. 140/90/411.43/Tahun 2019 tentang pembentukan panitia No. 140/90/411.43/Tahun 2019 tentang pembentukan panitia SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen