Wilayah Adat

Ompi Torus

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Nya Sami Ompi Torus
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SANGGAU
Kecamatan Bonti
Desa Bonti
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.894 Ha
Satuan Ompi Torus
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Wilayah Adat Ompu Kerunang Dayak Hibun. Tanda batasnya: Utak Camai Domun Kiong, Benala Dol, Batas Sawit Berunang/Utak Mpotung, Utak Sungai Benala Bungkong Wilayah Adat Ompu Kampuh Dayak Hibun Tanda batasnya: Sungi Pinsan Benala/Pinsam Naek/cik, Jerinikng Sengotis, Lobak Utak Suntik, Bawas Nadi Galau Janang Wilayah Adat Kampung Sedae Suku Senganan/Melayu , Desa Kampuh, Kecamatan Bonti, kabupaten Sanggau. Tanda batasnya: Bawas Nadi Galau Janang/Terusan/Kampuh/Sedae, Sungi Enroga, Karet Pak Ben, Gang Landong, Sedae/Torus/Sedae/Kerunang, Utak Camai Domun Kiong
Batas Selatan Wilayah Adat Ompi Seribot Dayak Tinyikng. Tanda batasnya: Utak Sungai Benala dan Utak Entuma Batas Sawit Seribot dan Upe Wilayah Adat Ompi’ Upe’ Dayak Mayau, Desa Upe’ Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau Tanda batasnya: Utak Entuma Batas sawit Seribot dan Upe, Mping pinang Batas dengan Sawit, Batas Sawit Upe Nala Mpang
Batas Timur Wilayah Adat Kampung Bonti Selatan. Tanda batasnya: Batas Sawit Upe Nala Mpang, Nala Mpang Bawas yut, Sungai Penyobang karet pak Edny, Karet Pak Gima, Lobak Samada Jalan Balor, Utak Tamput. Wilayah Adat Kampung Bonti Desa Bonti. Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau Tanda batasnya: Kebun apun suak bintang, Temawang Keruntok, Sungai Dodo Laut, Karet asong, bawas apon, bawas, bawas, bawas gonek, Lobak ejerak.
Batas Utara Wilayah Adat Ompi’ Koca Dayak Mudu’, Desa Empodis, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau. Tanda batasnya: Bawas Nadi Galau Janang, Lobak Utak Suntik, Jeriningk Sengotis, Sungai Pinsam Benala, Lahan Karet Pak Puk, PT. MAS Empat, Bawas Nyorok, Lobak Enjerak.

Kependudukan

Jumlah KK 98
Jumlah Laki-laki 181
Jumlah Perempuan 148
Mata Pencaharian utama Berladang , Menoreh Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dayak Sami Ompi Torus berasal dari Hulu Sungai Kapuas tepatnya “sentabai”. dari Sentabai kemudian menyusuri sungai Kapuas hingga masuk ke Sungai Sekayam. Dari Muara (sekarang kota Sanggau), rombongan tersebut itu mudik sungai Sekayam, singgah di suatu tempat bernama Seringing. Dari Seringing mereka pindah ke Seribatn dan ke Sebaya di muara Sungai Sami. Dari Sungai Sami kemudian pindah lagi ke Hulu Sungai Sekayam tepatnya ke Mpugos. Di Mpugos terjadi Peristiwa kebakaran yang menghanguskan rumah betang milik mereka. Sehingga berpindah lagi kearah hulu Sekayam yaitu Terinting. Dari terinting kembali milir ke Bodao. Di daerah inilah orang Sami berpencar. Ada yang pindah ke Cikak, ke Murao dan kemudian ada ke Kampung Mamal. Selanjutnya ada yang pindah ke Jugor Kala dan di Tungok Modang. Tungok Modang merupakan tempat di sekitar sungai Dodo, sehingga orang lebih mengenal tempat tersebut dengan nama Dodo. Disini mereka hidup kurang lebih 5 tahun. Dari Dodo kemudian menuju hulu (arah barat) melintasi sungai sekayam menuju Palah Munakng. Adapun alasan pindah dari Dodo ke Palah Munakng adalah: karena ada wabah penyakit yang menyebabkan kematian secara terus menerus serta tempat yang didiami sebelumnya rawan banjir. Tidak lama setelah itu sekitar tahun 1942 berpindah lagi karena alasan keamanan serta mencari tempat yang mudah untuk perladangan. Menuju kearah selatan menyebrang sungai sekayam sampai pada tempat yang bernama Torus. Torus merupakan nama sungai yang memotong sungai sekayam. Sehingga tempat tersebut sampai saat ini bernama Ompi Torus atau Kampung Torus. Penamaan Ompi Torus adalah bagian dari kawasan pemukiman masyarakat. Pada awalnya pemukiman warga di Ompi Torus berbentuk rumah Betang Panjang yang di huni oleh 28 lawakng atau kepala keluarga. Adapun Daftar lawakng rumah Betang/panjang Ompi Torus antara lain:
1. Abai Bos, Keturunannya Tumin
2. Abae Panden, keturunanya Ajon Labak
3. Abae Mui, keturunan Mang Duin
4. Abai Mamai keturunannya Kidin
5. Abai Punten Keturunannya Dolak
6. Abae Yor ketrurnanya Kacong Labak
7. Kian Ketrunanya Anen
8. Abae Murekng, keturunanya Tari
9. Abae Lonceng, ketrurunanya subur, Nuli
10. Abae Mayauo, Keturunanya Nok Santa pindah ke Kotip Culit.
11. Abae Amp, ketrurunanya Dumai menjadi senganan
12. Abae Alai (Kepala kampungng), keturunanya Jintan
13. Wet (Abae Tak) keturunanya Kiah
14. Abae Jigot Keturunanya Abu, Jamai
15. Abae Tangok keturunanya Gawin
16. Abae Multi keturunanya Jaki
17. Nek Nilong keturunannya Ace
18. Abae Jagah keturunanya Toto
19. Abae Tayong, mang Nok Santa
20. Abae Bojek mang Bokng keturunanya Kilong
21. Abae Rancah, keturunanya Nawi, Acep
22. Gampaol keturunanya nok Pula
23. Abae Dep, keturunanya nok Apeng
24. Abai Mol, keturunanya Mang Tutui
25. Nek Rudi, keturunannya Suster Ameng
26. Nek Mae/Abae Luah Keturunanya Mang Domi
27. Abae Loji KeturunanyaTukes
28. Abae Kong, keturunannya Koceh
Dalam sejarahnya tercatat beberapa peristiwa penting yang dialami oleh komunitas setempat. Interaksi yang terjadi antara komunitas adat dengan Belanda pada waktu itu bersifat netral artinya tidak ada perlawanan atau peperangan yang terjadi. Pada zaman penjajahan Belanda juga masuk tanaman karet. Pada waktu itu masyarakat adat bekerja sebagai buruh penoreh karet pada orang belanda.
Sekitar tahun 1940 Tentara Jepang datang ke wilayah adat Ompi Torus. Masyarakat mendengar berita kedatangan tersebut lalu ada himbauan dari sebuah organisasi yang bernama “Majang Desa” agar masyarakat melakukan perlawanan. Situasi saat itu banyak perempuan dan anak-anak diungsikan ke pondok ladang. Yang bertahan hanyalah kaum laki-laki dewasa untuk melakukan perang terhadap tantara jepang. Pada zaman Jepang juga terjadi kekerasan, terurama pada anak perempuan yang belum menikah. Mereka dipaksa untuk dibawa oleh tentara Jepang. Orang tua pada zaman itu banyak yang mengawinkan anaknya walaupun masih dibawah umur. Ini dilakukan supaya tidak ada anak perempuan yang dibawa paksa. Pada zaman Jepang terjadi perlawanan, dibawah pimpinan Abae Alai yang pada masa itu diangkat langsung oleh masyarakat sebagai pimpinan komunitas setempat.
Peristiwa penting lainnya setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1956 masuknya Misionaris Agama Khatolik di Ompi Torus yang pelopori oleh Pastor Herman seorang Rohaniwan Katolik dari Jangkang, Kabupaten Sanggau. Meskipun Agama Katolik sudah masuk mereka tetap mempertahankan praktik-praktik ritual adatnya yakni kelahiran, perkawinan Adat, kamatian dan lainnya.
Sekitar tahun 1957 terjadi perubahan dari awalnya Rumah Betang menjadi Rumah Tunggal. Alasan dari perubahan tersebut karena jumlah penduduk yang semakin meningkat dan juga menghindari kebakaran yang pernah terjadi sebelumnya. Sehingga pada waktu ini yang tersisa pada tahun 1980 hanya 2 bilik dari 28 bilik yang ada dan sekarangpun sudah benar-benar tidak ada.
Terjadi juga perubahan dalam tatanan pemerintahan. Dari awalnya hanya ada kelembagaan adat menjadi Pemerintahan Desa (gaya lama). Dimana status kampung atau Ompi Torus menjadi Desa yang bernama Desa Terusan dengan Kepala Desa pertama bernama Bapak Alon. Namun terjadi perubahan kembali (Regrouping Desa). Masuknya system pemerintahan desa di ompi torus (kampung terusan) pada era orde baru, maka dari Ompi Torus (Kampung Terusan) yang berubah status menjadi Desa Terusan akhirnya berubah kembali menjadi Dusun Terusan dan masuk di dalam Kepemerintahan Desa Bonti. Adapun Kepala Dusun Terusan pada waktu itu dijabat oleh Bapak Kasianus Duse, Kepala Desa Bonti dijabat oleh Bapak Muna Yusra sedangkan Kepala Adatnya Bapak Kimbon S. sehingga pada waktu itu terdapat tiga kelembagaan dengan tata urusan masing-masing. Kepala Desa mengatur tentang administrasi pemerintah tingkat desa secara keseluruhan, kepala dusun mengatur tentang administrasi pemerintah tingkat dusun sedangkan kepala adat mengatur tentang kelembagaan adat.
Untuk kepala adat sendiri sampai saat ini sudah terjadi tujuh kali pergantian kepemimpinan. Yang pertama Bapak Abae Alai, selain menjadi kepala adat beliu juga merangkap sebagai kepala kampung. Kemudian digantikan oleh Bapak Lasam, Kemudian Bapak Napi, Bapak Kimbon, bapak Bakil, Bapak Donatus Trisno dan saai ini kelembagaan adat Nya Sami dipimpin oleh Bapak Gawin.
Cara mencari makan atau bertahan hidup pada masa itu dengan Berburu dan Berladang. Sampai saat ini belum ada cetak sawah tetapi ada tempat yang banyak genangan air (Loba) yang biasa digunakan untuk bertanam padi. Saat ini masyarakat setempat bercocok tanam padi di dua tempat, yaitu di Loba dan di ladang (Miih).
Pada tahun 1997 masuk PT MAS (Mitra Austral Sejahtera) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Perusahaan tersebut mengantongi izin HGU dari pemerintah selama 35 tahun.
Respon dari masyarakat dengan keberadaan perusahaan tersebut, menolak untuk dilakukan penanaman sawit karena lahan yang mereka miliki tidak cukup. Rencana ini pernah disosialisasikan oleh pihak perusahaan Bersama pemerintah. Secara langsung tidak pernah terjadi konflik antara perusahaan dengan komunitas setempat. Hanya saja menimbulkan konflik terkait batas dengan wilayah Kerunang yang merupakan salah satu wilayah yang berbatasan dengan Ompi Torus. Terdapat klaim kedua belah pihak di tempat yang perusahaan tersebut. Mediasi yang dilakukan dengan melibatkan para pihak dari Apparat Pemerintah Desa sampai Pemerintah Kabupaten. Penyelesaian yang dilakukan dengan membagi dua wilayah yang berkonflik dan secara adat pihak Ompi Torus harus membayar denda adat sebesar Rp. 10. 000.000.
Batas yang ada saat ini merupakan kesepakatan lama yang sudah disepakati oleh orang tua sejak turun temurun. Ketika sudah menetap di Ompi Torus (Kampung Terusan), masyarakat menemui persoalan yaitu luas lahan untuk berladang sudah tidak cukup lagi karena laju pertumbuhan penduduk. Untuk menanggulangi hal tersebut kemuadian ada inisiatif menambah luasan dengan cara membeli wilayah adat milik Suku Ribun (wilayah Kampuh dan Kerunang) dan Suku Mayao (Wilayah Ube) dimana pada waktu itu wilayah adat milik kedua suku tersebut memang masih cukup luas. Mekanisme yang dilakukan dengan cara beberapa kali melakukan pertemuan dan menempuh cara “Adat Samuh” untuk mendapatkan lahan yang dibutuhkan. “Adat Samuh” dilakukan dengan cara menukar tanah tersebut dengan hasil panen dan hewan peliharaan. Penyepakatan ini selanjutnya melibatkan kedua belah kampung dan diakui oleh masing-masing pihak.
Saat ini wilayah yang ada di Ompi Torus berada pada fungsi Kawasan APL. Belum pernah ada konflik dengan apparat pemerintah terkait dengan status Kawasan tersebut. Saat ini masyarakat melihat peluang yang diberikan Pemerintah dengan mengajukan skema hutan adat. Ini dilakukan untuk mengamankan wilayahnya sehingga dapat dikelola kembali oleh masyarakat adat setempat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Ompi’/ pemukiman
Merupakan pemukiman atau perkampungan yang fungsinya dimanfaatkan untuk tempat tinggal, Pekarangan, dan tempat beternak sekala rumah tangga. Dalam Ompi terdapat beberapa fasilitas umum seperti: gereja katolik emanuel, Pos Yandu, Balai dusun, gerea GKII, lapangan volly dan lapangan sepak bola, jalan rambat beton. Pada awalnya Ompi Torus berbentuk Rumah Betang atau Rumah Panjang yang terdiri dari 28 Lawakng namun sekarang sudah berubah menjadi Rumah Tunggal.
Selain itu juga terdapat kuburan (Pongaretn) dan tempat keramat (Koramatn).
• Sebelumnya terdapat 3 lokasi kuburan yaitu: di Sebingkih, Boronga dan Songkang. Kuburan sebingkih dan Boronga merupakan kuburan tua karena warga yang meninggal yang dikuburkan disana terjadi sebelum masuk pengaruh agama Khatolik. Setelah masuk agama maka diadakan lokasi kuburan baru yaitu di songkang. Setiap tanggal 2 November masyarakat melakukan pembersihan masal dan doa Bersama di kuburan tersebut.
• Koramant adalah tempat atau benda yang menurut kepercayaan masyarakat memiliki nilai religi-spriritual. Maksudnya ditempat atau benda tersebut ada kekuatan atau berkat tertentu yang bisa mengabulkan niat dari warga yang minta sesuatu dan biasanya dikabulkan. Tempat keramat bisa menjadi media untuk menyampaikan doa masyarakat kepada nenek moyang dan penguasa alam semesta. Doa bisa berwujud permohonan (niat) dan rasa syukur karena niat telah dikabulkan. Adapun tempat yang dianggap keramat yang ada dalam Ompi adalah: Pedagi sarana untuk melaksanakan Ritual adat dan Botu Torusat tempat untuk memohon keselamatan, kesembuhan, dan meminta hujan.

2. Kubotn/Kebun
Merupakan kebun yang dibuat di bekas ladang atau jameh. Jenis tutupan lahannya berupa: Mayoritas tanaman karet dan beberapa tanaman lainnya seperti tanaman buah (Nangka, nenas, mentawa, cempedak, durian, langsat, jengkol, petai), tanaman kopi, kakau, dll. Selain itu di kubotn juga difungsikan sebagai tempat berburu tupai, pelanduk, musang, ular, dll.

3. Miih/ Ladang
Merupakan lahan yang sudah ditebas, ditebang dan dibakar yang difungsikan sebagai lahan produksi dan budidaya. Miih atau ladang merupakan sumber dari kebutuhan hidup masyarakat terutama untuk menanam padi dan sayuran. Adapun jenis padi yang ditanam di miih berupa: padi domam, nyarungkop, pandan wangi, peloma, engkawang, encoco (padi merah), padi cantek, padi empaot, padi raja. Sedangkan tanaman lainnya yang juga ditanam di Miih seperti: jagung, timun, perenggi, malai, boncikng, jagur, jamai, ensau, labu, takor, rojokng.

4. Loba (Ladang basah)
Merupakan lahan yang tergenang air yang merujuk pada sawah tetapi belum dicetak. Loba difungsikan sebagai tempat menanam padi yang masih mengandalkan air hujan sebagai sumber air. Adapun jenis padi yang ditanam di Loba antara lain: padi serendah, padi selasih, padi baokng, padi banjar kuning. Selain tanaman padi ada juga tanaman lainnya seperti: keladi, kangkong, genjer, cangkok manis, jagung. Disamping itu Loba juga digunakan sebagai perkolaman seperti belanto (ikan gabus), ikan lele, belut, dll. Di Loba juga terdapat tanaman Bomatn dan Sago atau sagu. Tanaman Bomatn dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan seperti tikar, dan anayaman lainnya.

5. Jameh (bawas) /Bekas ladang
Merupakan lahan bekas ladang. Ada beberapa sebutan untuk jameh antara lain:
• Domun: Lahan yang baru dibuka yang digunakan sebagai tempat perladangan dan ditinggalkan selama setahun.
• Doda: Lahan yang digunakan sebagai tempat perladangan dan ditinggalkan selama kurang lebih 4 tahun keatas.
• Jameh: lahan yang digunakan untuk perladangan yang sudah ditinggalkan selama 7-8 tahun. Pada tahun ke 9 bisa digunakan untuk perladangan kembali dengan sebutan Miih atau ladang.

6. Tomawang (Tembawang) / Bekas kampung
Tomawang atau Tembawang dibedakan menjadi 2 kategori. Yaitu: Tomawang Bekas Kampung dan Tomawang Bekas Pondok ladang atau Pelaman. Tomawang bekas perpindahan kampung ada 2 yaitu Tomawang Dodo (yang saat ini sudah menjadi kebun) dan Tomawang Palah Munakng). Sedangkan Tomawang bekas Pondok Ladang atau Pelaman ada beberapa seperti: Tomawang Bonyakng, Tomawang Goruntok, Tomawang Kunyer, Tomawang Bolida, Tomawang Tolok Boronga, Tomawang Buninikng, Tomawang Penyobakng, Tomawang Mpoma, Tomawang Lontur, Tomawang Borobut, Tomawang Entibi, Tomawang Tinyikng muntuh, Tomawang Tinyikng Mongut, Tomawang Porawatn, Tomawang Angit.
Tomawang bekas kampung sekarang ini banyak ditumbuhi pohon buah-buahan seperti durian, tengkawang, langsat, kawai, mentawa, cempedak nyontu, embakol, peluntatn tasapm dan osipm. Sedangkan tomawang yang merupakan bekas pondok atau laman banyak terdapat tanaman Nangka, nenas, mentawa, cempedak, durian, langsat, jengkol, petai, kakao, kopi, modang, labatn, tengkawang, majau, bayor, bungor, bedara, enau. Apabila dilihat dari segi umur, tanaman yang berada di Tomawang bekas kampung jauh lebih tua. Kurang lebih berumur diatas 50 tahun.
Selain dimanfaatkan hasil buahnya, do Tomawang juga difungsikan sebagai tempat berburu binatang seperti: tupai, pelanduk, musang, ular, burung kocu, bura, konakng, kuncit, empuruh dan sonsap.

7. Sungi /Sungai
Sungai Sekayam merupakan Sungai yang Paling besar yang ada di Ompi Torus. Dalam sungai sekayam terdapat anak-anak sungai yang mengalir ke sungai tersebut. Jika ukuran sungainya besar dan biasanya airnya tenang disebut dengan Tolok (teluk) sedangkan jika sungai ukurannya kecil disebut dengan Libok. Keberadaan sungai mempunyai peran yang sangat penting. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup hidup sehari-hari (misalnya: air minum, air untuk memasak, tempat mandi, tempat mencari lauk pauk) sungai juga menjadi media atau jalur transportasi.
 
Penguasaan dan Pengelolaan ruang yang ada di Ompi Torus ada yang menjadi kepemilikan Bersama dan kepemilikan perorangan. Ompi atau Pemukiman merupakan subjek hak komunal yang dimiliki Bersama-sama oleh masyarakat nya sami ompi torus. Sedangkan bangunan rumah atau bilik menjadi milik pribadi. Pemindahtanganan yang terjadi merupakan warisan dari orang tua yang disaksikan dalam lingkup keluarga. Ompi bisa juga dihibahkan atau penyilo dengan orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Misalnya paman dengan keponakan. Kubotn atau kebun dalam system kepemilikannya biasanya sudah dimiliki secara pribadi. Bahkan ada masyarakat yang sudah membuatkan sertifikat hak milik. Kubotn dapat dikerjakan baik secara pribadi maupun secara berkelompok dengan system kerjasama atau gotong royong. Miih atau ladang system kepemilikannya dimiliki secara pribadi. Cara memperolehnya tergantung dari siapa yang membuka miih terlebih dahulu lahan ini bisa diwariskan kepada generasi penerusnya tetapi tidak bisa untuk dijual belikan. Loba Sistem kepemilikannya dimiliki secara komunal. Pengelolaanya diatur oleh ketua adat. Jameh kepemilikannya pribadi yang bisa digunakan secara Bersama. Orang yang hendak berladang di jameh hendaknya terlebih dahulu memberi tau kepada orang yang pernah membuka ladang di lokasi tersebut. Tetapi hak kepemilikan tetap berada pada orang yang pertama kali menggarap di lahan tersebut. Tomawakng dari segi kepemilikan ada dua jenis yaitu: Tomawakng warisan dari keluarga tertentu dan Tomawakng Umum. Tomawakng warisan merupakan hak waris keturunan keluarga tertentu. Jika musim buah maka yang berhak memetik buah tersebut hanya warga yang masih punya hubungan keluarga dan keturunannya. Sedangkan tomawakng umum berarti hak milik Bersama. Hasilnya bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang biasanya pengaturannya dilakukan oleh ketua adat. Sungi atau sungai hak kepemilikannya komunal oleh semua masyarakat adat Nya Sami Ompi Torus.  

Kelembagaan Adat

Nama Nya Sami Torus
Struktur Dalam konteks kelembagaan adat, Nya Sami Torus berada dalam Tomongokng atau Temenggung Sami yang berkedudukan di Kampung Mamal. Sedangkan Kelembagaan adat yang ada di Ompi Torus yaitu Pengurus adat yang diketuai oleh ketua adat. Struktur Lembaga Adat Ompi Torus sebagai berikut: 1. Ketua Adat Tugasnya: mengatur hukum adat, menjalankan ritual adat, mengatur lahan dalam hal ini tembawang. 2. Waki Ketua Adat Tugasnya: sebagai pelaksana tugas dari ketua adat 3. Sekretaris (Tukirman) Tugasnya: mencatat dan mendokumentasikan aturan terkait dengan adat dan sebagai juru catat ketika sedang melaksanakan musyawarah adat. 4. Bendahara (Paustinus jail) Tugasnya: mengurus asset adat dan kas adat. Kepengurusan adat dipilih oleh masyarakat adat.Tidak ada periode masa jabatan selama yang bersangkutan masih mau dan mampu dalam menjalankan tugas maka belum diadakan pergantian kembali. Syarat untuk menjadi ketua adat salah satunya bisa mengatur adat, tau batas wilayah adat dan dilihat dari silsilah keturunan pemimpin adat sebelumnya. Cara pengesahan atau pengukuhan dengan dibuatkan ritual adat pada saat gawai. Ritual gawai biasanya dilakukan pada tgl 25-28 april dilaksanakan di balai kampung/ompi.
Tugas Kepala Adat: Menentukan hukum adat, mengurus ritual dan mengatur lahan ( tembawang)
Tugas Wakil Kepala Adat: Pelaksana tugas kepala adat dilapangan
Sekretaris : Mencatat setiap ada perkara adat dan mendokumentasi atur adat
Bendahara : Mengelola aset adat dan mengurus kas adat
 
Mekanisme dalam pengambilan keputusan: “Musyawarah Adat: yang disebut dengan Ngudung atau Bopokara.
Adapun tujuan dari ngudung antara lain:
1. Melaksanakan ritual adat yang terkait dengan perkawinan, kematian, bercocok tanam, dll.
2. Memutuskan peradilan adat
3. Mengatur system perladangan.
Yang bisa hadir dalam melakukan musyawarah adat adalah semua masyarakat adat. Ini biasa dilakukan di Balai dusun atau balai ompi.
Tahapan-tahapan dalam melakukan musayawarah adat:
1. Berundung: Mengumpulkan pengurus atau perangkat adat.
2. Nyelo Agah: Penyampaian informasi oleh pegurus adat ke semua masyarakat.
3. Pemukak Kata: pengarahan dari ketua adat
4. Pengurai /Penitih: pegurus adat menyampaikan maksud dan tujuan.
5. Bepisik: Proses Diskusi
6. Jehputus: Pengambilan keputusan oleh ketua adat.
“Jehputus kai bisa kate” artinya keputusan yang diambil tidak bisa diubah, kecuali ada hal-hal yang tidak terduga.
 

Hukum Adat

• Dilarang mengambil kayu di kebun orang lain.
• Dilarang membakar lahan di kebun orang baik sengaja maupun tidak sengaja.
• Dilarang mengambil buah tanpa seijin orang yang memiliki.
• Dilarang berkeliaran, berladang dan merusak tanaman diladang orang lain
• Dilarang mengerjakan Loba tanpa sepengetahuan pemiliknya
• Dilarang mengambil kayu di kebun orang lain
• Dilarang mengambil buah tanpa seijin yang memiliki
• Dilarang mengambil ikan dengan menuba.
Apabila aturan-aturan tersebut dilanggar maka akan dikenakan sanksi berupa:
1. Adat Nyuhuk (Permohonan maaf)
2. Membayar Denda/ Ngisik adat berupa Beras dan Mangkok.
 
1. Pencurian dikenakan adat 3 tael (Rp. 300.000),1 tempayan tuak dan hasil barang curian dikembalikan.
2. Perceraian.
- Perceraian mau sama mau dikenal dengan nama adat “Tanggung Tiang” dikenakan denda adat ½ pihak laki-laki dan ½ pihak perempuan. Denda sebanyak 3 tael, 1 tempayan tuak.
- Perceraian sepihak, dikenakan denda sebanyak 6 tael (Rp. 600.000)
- Perceraian karena mertua dikenakan denda 4 tael (Rp. 400.000)
3. Penghinaan dikenakan denda sebanyak 3 tael.
4. Berkelahi dikenakan denda sebanyak 3 tael
5. mengancam dikenakan denda sebanyak 6 tael
6. Pembunuhan:
- Bunuh Diri (Pati Ciyau): diberi denda adat rodasa 6-9 tael, babi 6 ekor, Tuak, beras.
- Pembunuhan tidak disengaja (Pati Bajau): diberi denda adat sebanyak 12-18 tael, babi 12-18 ekor, tuak.
- Pembunuhan secara sengaja (Pati Paning): diberikan denda adat sebanyak 22-24 tael, babi 22 ekor, tuak.
7. Perzinahan
- Perzinahan diluar rumah: dikenakan denda 18 tael
- Perzinahan sesama orang tua di rumah: dikenakan denda 6 tael
- Perzinahan sesama orang luar: dikenakan denda 3 tael.
 
Salah satu contoh penerapa hukum adat yang berlaku di wilayah adat ompi torus: pada bulan agustus tahun 2018, ada kasus perceraian. Oleh ketua adat yang bersangkutan dikenakan denda adat sara , yaitu denda berupa: 52 tael atau setara dengan 22 juta. Denda ini dibayar oleh pihak yang menggugat cerai. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidat : Padi ( padi), Jogukng ( jagung), Ngala ( ubi kayu, Kudok ( keladi ) dan sago ( sagu). Protein Hewani : Siap ( ayam), Jane’ ( babi), Kuyu’ ( Anjing), ikan rosip, ikan tengadak, ikan baung, ikan tapah, Ikan belida, ikan lais, ikan podim, angok ( udang ), ciuk ( kepiting), Bolut ( belut), bongko ( lele), Ikan tuman, Poyu ( rusa), Ular sawa, ular rupong, Tupai, musang, peronok ( kancil), jorak ( kijang) Buah2an : Diatn ( durian), Kawai, Koyet, Bora’ ( pisang), Rosat ( langsat), Kitip ( Jenis langsat), Ruku ( Langsat), Rambai, Tampai, ceria, umma, ntantn ( jentaan), kemoyu, kala’, peroju, engkuakng, borunai, kecamang, kecomi, magar, nanas, buntatn ( kelapa), peruntatn, puduh, terap, asam mantan, asam maca, asam mowakng, asam dadokng, asam, asam mba kuyu’, asam romunia, asam kumakng, asam bubuk, asam buru, asam kuini, asam pelam, beliti ( rambutan), kelotok, kedupai, sibu mbakol, poret, tajar ( jenis ), rambutan, ngkorih, kancokng, rotan joroyatn, terisim, rotan marau, maram, buah setela, Sayur : daun ngala, cangkok, setela ( pepaya), pokuh , pakis ikan, cokai, humbut rua, umbut aping, sogah ( rebung), tiung kobutn, tiukng porat, timun, peringgi, malai, labu, bawakng miih, takor, kacang panjang, poluntan, jorikng, potai,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kesehatan : • Jahe untuk kebugaran, capek badan, rematik, • Kunyet untuk obat luka, • Ngolai untuk obat keseleo dan bengkak-bengkak, • Cekur untuk memulihkan stamina setelah ibu melahirkan, • Sorai untuk menurunkan panas, masuk angin, • Kunyet putih ; untuk memulihkan stamina ibu yang melahirkan, • Daun dangin obat luka, • Lengkuas obat sakit kulit Kecantikan : • Jeruk purut untuk penyubur rumput, • Langer untuk membersihkan badan dan rambut, • Semontakng untuk membersihkan badan dan rambut, • Gelimikng untuk pembersih kuku, • Daun mpolas untuk membersihkan kuku,
Papan dan Bahan Infrastruktur - Bahan untuk Tiang Rumah atau bangunan : kayu tas ( belian), kayu jonjer, kayu jomai, - Bahan untuk Dinding dan lantai : Kayu Engkawakng, juah, nyotuh, bayor, poroju, modakng, mbulu, gurak, majau, terenak, - Bahan untuk Atap : Daun sagu
Sumber Sandang - Kulit kayu tiop ( kepoa) untuk pakaian kulit kayu - ngkajang, lodakng, kerupo, untuk bahan pembuatan serowokng (topi), - layau ( bambu muda) untuk bahan pembuatan topi
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Longkas, sorai, kudo, bawang, cabe, bungkakng, rimu purut, buah konis, daun kuakng, daun kedondong, daun kunyit, daun cokor dan daun kacapm, daun buas
Sumber Pendapatan Ekonomi 1. Karet , Hasilnya 5 ton / tahun dengan harga 7.700/ kg, 2. Sawit Hasilnya 48 ton/ tahun, dengan harga 1000/ kg

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No. 1 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat No. 1 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen