Wilayah Adat

Huta Tornauli

 Terverifikasi

Nama Komunitas Komunitas Huta Tornauli
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TAPANULI UTARA
Kecamatan Parmonangan
Desa Desa Manalu Dolok, Dusun Tornauli
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.050 Ha
Satuan Huta Tornauli
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat berbatasan dengan Desa Sigulok Kec. Sijampolang Kab. Humbang Hasundutan Tanda Batas (Pal batas antara desa sigulok dan dusun tornauli)
Batas Selatan dengan Dusun Sisoding, Desa Manalu Dolok, Kec. Parmonanga, Kab. Tapanuli Utara. Tanda Batas Alam Sungai Aek Mangadian
Batas Timur dengan Dusun Ranggitgit, Desa Horisan, Kec. Parmonangan Kab. Tapanuli Utara. Tanda Batas Tugu Ompu Panaekan Manalu (sungai kecil (alur) ruang ni begu)
Batas Utara dengan Desa Simarigung, Kabupaten Humbang Hasundutan , Kec. Dolok Sanggul Tanda Batas Alam Sungai Aek Bulu

Kependudukan

Jumlah KK 66
Jumlah Laki-laki 80
Jumlah Perempuan 100
Mata Pencaharian utama Petani Padi, Kemenyan dan Kopi

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Huta Tor Nauli berada di Dusun Tornauli Desa Manalu Dolok kecamatan Parmonangan, kabupaten Tapanuli Utara. Keberadaan masyarakat adat di Tor Nauli di awali sekitar tahun ±1800 tahun silam, oleh Oppung Sunggu Ruma Butar yang membuka Parhutaan (Perkampungan) di Adian Sanggar sekitar tahun 1798, Oppung Sunggu Ruma Butar adalah anak pertama dari Ompu Raja Panaekan, yang merupakan keturunan ke -5 dari si Ruma Butar dan keturuhan ke-8 dari silsilah marga Manalu. Oppung Sunggu Ruma Butar mempunyai seorang adik yaitu Ompu Raja Pegot Ruma Butar yang memilih bermukim di Lumban Tobing yang masih berbatasan dengan wilayah adat Tor Nauli. Ompu Sunggu Ruma Butar memutuskan pindah ke Hite Raru sekitar tahun 1820 tempat ini belum jauh dari Adian sanggar, alasan Ompu Sunggu Ruma Butar Pindah dikarenakan tanah di Adian Sanggar kesuburan tanahnya sudah berkurang.Ompu Sunggu mempunyai tiga orang anak, yaitu yang bernama Ompu Parasian Ruma Butar, Ompu Diaksana Ruma Butar dan Ompu Manimbual Ruma Butar. Ompu Parasian Ruma Butar memilih untuk meninggalkan Tor Nauli dan pergi mencari wilayah permukiman baru yang diberi nama Gotting. Ompu Diaksana dan Ompu Manimbual memilih menetap di Tor Nauli. Ompu Diaksana Ruma Butar sendiri memiliki dua orang anak yaitu Ompu Niadu Bintang dan Ompu Diama sedangkan Ompu Manimbual memiliki empat orang anak yaitu, Ompu Sitatar, Ompu Magalang (pergi merantau ke arah yang saat ini dinamakan Kabupaten Dairi), Ompu Silaung (pergi juga merantau ke arah Dairi), Ompu Silatan. Selanjutnya keturunan dari Ompu Niadu Bintang dan Ompu Diama serta Ompu Sitatar dan Ompu Silatan tetap bermukim di Tornauli sedangkan Ompu Mangalang dan Ompu Silaung sudah pergi merantau ke arah Kabupaten Dairi. Masyarakat adat Tornauli sudah beberapa kali pindah perkampungan, sebelum akhirnya menjadi wilayah adat Tornauli pada tahun 1840 Berikut garis waktu perpindahan permukiman Masyarakat Adat Tor Nauli : 1. Adian Sanggar sekitar tahun 1798. 2. Hite Raru sekitar tahun 1820. 3. Aek Panggalang sekitar tahun 1840. 4. panggaranggarangan sekitar tahun 1861. 5. Aek Lak-Lak sekitar tahun 1885. 6. Gadong Lobu sekitar tahun 1905. 7. Huta Bagasan sekitar tahun 1930. 8. Tornauli 1945 sampai saat ini. “Najolo sistim darat do Oppung nami ndang adong dope hauma saba, jadi molo aneng mambukka parhutaan ikkon di parrohahon do humus ni tanoi dohot mata mual, paling leleng ma lima taon di sada tempat, disi di suan ma akka suan-suanan, jadi molo nga hurang humus ni tanoi, manang napu na pindah ma muse nasida mambukka parladangan Alana na jolo ndang adong dope pupuk kimia, dang adong dope panggu, goluk songon alat partanian songon namasa saonari, ale pindah pe Oppung nami tong do di Sekitar Tor Naulion”. (wawancara dengan Manaek Manalu, ( Op. Sardian Manalu), 02 juni 2017). Terjemahan, Zaman dulu Ompu kami bekerja dan bercocok tanam di darat dan belum ada sawah, jadi kalau membuka perkampungan baru terlebih dulu di perhatikan kesuburan tanah dan mata air di tempat tersebut, kalau kesuburan tanah sudah berkurang maka oppung kami akan berpindah ketempat lain ini di karenakan pada waktu itu belum ada pupuk, cangkul, parang atau alat pertanian seperti sekarang ini, paling lama dalam satu tempat itu 5 tahun, tapi pindah pun oppung kami, masih tetap di sekitar Tor Nauli ini) Ompu Diaksana Ruma Butar dan Oppung Manimbual Ruma Butar beserta anaknya pindah ke Panggarang-garang, dan pindah lagi ke Aek Laklak dan darisitu pindah lagi ke Gadong Lobu, lalu pindah lagi ke Huta Bagasan dan pindah ke Sosor, dan sampai sekarang keturunan Oppung Deaksana Ruma Butar dan Oppung Manimbual Ruma Butar tetap tinggal di Tor Nauli, sampai dengan hari ini. “Memang oppung nami najolo marpindah-pindah do, molo dang adong be humus ni tanoi ba pindah ma muse nasida tu tempat na asing ale dang gabe di tinggalhon manang dang di atturehon be huta na parjoloi tetap do di jaga, jolo sampe mulak muse humus ni tanoi, dungi muse na jolo akka anakkon ni oppung nami ittor manjae be do mangalului ngoluna jei mambuka huta na baru ma muse akka pinompar nai, songon Oppung nami Oppung Surung Ruma Butar ma Na ro tuhuta Tornauli on sahat tu hami saonari pinomparna na mangingani huta namion sahat tu sadarion” ( wawancara dengan Jaman Manalu ( Oppung Marsel Manalu), jumat 2 juni 2017) Terjemahan, Zaman dulu Oppung kami berpindah-pindah, kalau tanah sudah tidak subur lagi oppung kami akan pindah dan membuka perkampungan baru, tapi bukan berarti perkampungan lama di tinggalkan tetap di jaga dan apabila tanah sudah kembali subur maka akan di olah kembali, dan kemudian jaman dulu anak-anak oppung kami hidup mandiri, dengan memcari nafkah dan membuka perkampungan baru, seperti oppung kami oppung Surung Ruma Butar yang datang ke kampung Tor Nauli ini, sampai kepada kami keturunannya yang mendiami kampong Tor Nauli sampai hari ini) Masa Penjajahan Belanda - Jepang Pada masa penjajahan Belanda Oppung Diama Ni Adu Bintang Ruma Butar Ikut berperang, kira-kira pada tahun 1900an, namun pada saat itu Oppung Surung Ruma Butar tidak mampu melawan karena keterbatasan kekuatan, di tambah lagi pada saat itu sudah terjadi politik Adu dom ba oleh Belanda, dan pada akhirnya dinjadikan pesuruh Belanda sebagai asisten Demang, dan sebagian warga di jadikan budak untuk membangun jalan Parmonangan dan beberapa warga memilih untuk menjauh dari Belanda dengan bersemunyi di Hutan, dan membuka perkampungan disana. ” di tikki masa penjajahan Bulatda marporang do oppung nami, ale alani politik ni Bulatda na mangadu domba gabe dang taralo be, di tamba torop muse halaki, gabe di baen ma pesuruh oppung I manang di goari asisten Demang, molo akka masyarakat i di baen ma karejo budak ima na lao mambukka dalan Parmonangan, ale sebagian lao do menyelamatton diri martabuni tu tombak jala mambukka huta nasida disi, tong do di huta Tor Naulion”( wawancara dengan Amistan Manalu (Oppung Donna Manalu) 2 juni 2017) PT. Inti Indorayon Utama ( IIU) / Toba Pulp Lestari Kehadiran PT. Toba Pulp Lestari ke desa Tor Nauli di di awalai pada tahun 1990, sebelumnya wilayah adat mereka sudah di tanami pemeritah pohon pinus hampir seluruh hutan kemenyan mereka di tebangi dan di tanami dengan pohon pinus, dengan alasan untuk hutan lindung, setelah kehadiran TPL seluruh pohon pinus di tebangi dan di ganti dengan pohon ekaliptus. “Roma pamaretta tu huta nami on, dengan tujuan mambaen hutan lindung, di suani nasida ma tusam, di tano nami, nasa na adong hian di atas ni tano nami I di tabai ma, termasuk mai akka haminjon nami, akka hau alam, gabe sega ma tonbak nami I, dungi ro ma muse perusahaan PT. TPL, di tabaima muse tusam i laos di ganti ma dohot ekaliptus, ima sahat tu saonari”( wawancara dengan Rudof Manalu ( op. Josia Manalu) 2 juni 2017) Terjemahan, datang Pemerintah ke kampung kami, dengan tujuan membuat hutan lindung, kemudian mereka menanami pinus di tanah kami, seluruh tumbuhan yang tumbuh di hutan adat kami habis di tebangi termasuk pohon kemenyan, kayu alam, sehingga hutan kami rusak, kemudian setelah itu datang lah Perusahaan TPL, mereka menebangi semua pohon pinus dan di ganti dengan pohon ekaliptus samapai sekarang) pada awal penanaman pohon pinus oleh pemerintah tentu ada protes dari masyarakat namun pemerintah tidak mengindahkan protes dan permintaan masyarakat supaya hutan mereka tidak di rusak, namun pada akhirnya karena keterbatasan masyarakat pasrah tanah mereka di jadikan hutan lindung, dan saat PT. TPL datang ke Tor Nauli masyarakat sempat protes tapi pada akhirnya masyarakat terpaksa merelakan wilayah adatnya di jadikan lahan konsesi oleh PT. TPL. “Protes do hami pas di baen tano nami gabe hutan Lindung, ale ala gogoni Pamatetta apalagi orde baru dope tikki I dang adong hami na berani mangalo, Alana ittor rap do nasida dohot polisi, dohot koramil mamboan senjata muse nasida, tu perusaan pe tong do protes hami, ale nasida pe marsigogo do apalagi adong do ijin ni nasida sian pamaretta lao manuan kalippus di tano namion, dang adong gogonami mangalo nasida ala si oto-oto hami, ditambah muse di jalo halaki sertifikat ni tano namion, ai so adong sertifikat ni tano nami on goarha pe tano adat ai so masa muse sertifikat tano adat na jolo”( wawancara dengan Binnar Manalu, ( op. Romual Manalu) 3 juni 2017)s Terjemahan, kami protes saat tanah kami di jadikan hutan lindung, tapi karena pemerintah memiliki kekuatan di tambah lagi saat itu masa orde baru kami ga berani melawan, karena mereka bersama dengan aparat kepolisian dan koramil lengkap dengan senjata, kepada perusaan kami protes juga tetapi mereka tetap bersikeras di tambah lagi mereka memiliki ijin dari pemerintah untuk menanami ekaliptus di tanah kami ini, tidak ada kekuatan kami untuk melawan karena keterbatasan pengetahuan, di tambah lagi mereka meminta sertifikat tanah adat kami, tidak adat sertifikat tanah adat kami namanya juga tanah adat, dan jaman dulu belum adat sertifikat tanah).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Hutan Adat / Tombak Raja: memiliki fungsi perlindungan dan pemanfaatan terbatas karena memiliki kemenyan sumber mata air, hasil hutan bukan kayu, jenis kayu-kayuan, dan sumberdaya alam lainnya yang biasa di manfaatkan oleh masyarakat. Tutupannya berupa hutan kayu-kayuan, kemenyan dan rotan 2. Hutan Kemenyan/ Tombak Haminjon: memiliki fungsi pemanfaatan terbatas dimana masyarakat mengelola pohon kemenyan yang hasilnya dimanfaatkan sebagai mata pencarian utama masyarakat huta tornauli 3. Lahan Budidaya Pertanian Terdiri dari : Persawahan (hauma) Memiliki fungsi pemanfaatan bagi masyarakat dimana masyarakat tornauli bertanam padi ladang/ kebun (Porlak) memiliki fungsi pemanfaatan. Dimana masyarakat biasa menanam beragam jenis tanaman yang dimafaatkan untuk kebutuhan pangan dan ekonomi seperti jagung, kopi, cabe, sayur sayuran, umbi umbian Peternakan (parjappalan) Memiliki tutupan lahan berupa padang rumput yang luas. Berfungsi sebagai lahan yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengembalakan ternak mereka sepeti babi, ayam, kerbau, lembu, dan kuda. 4. Pemukiman (parhutaan): Adalah lokasi masyarakat melakukan aktivitas sosial yang terdiri dari rumah rumah warga, gereja, puskesdes, kuburan umum, dan sarana lain yang butuhkan untuk menujang aktvitas sehari hari 5. Perkampungan Tua Adalah bekas kampung yang memiliki sejarah perpindahan dari leluhur masyarakat huta tornauli, saat ini perkampungan tua ini sudah ditumbuhi pohon pohon besar. Sisa sisa bangunan peninggalan leluhur mereka sebagian masih bisa ditemukan di loaksi perkampungan tua ini  
Tipe kepemilikan lahan masyarakat huta tornauli berdasarkan objek hakny adalah sebagai berikut: 1. Hutan adat/ tombak raja : Komunal- marga (ripe-ripe) : dimilki oleh marga tornauli diatur oleh raja huta untuk pemberian izin pengelolaan tombak raja . tata cara pembukaan lahan dan pembagian lahan dilakukan secara musyawarah oleh lembaga adat 2. Tombak Haminjon: Di hutan kemenyan ini masyarakat memiliki garapan kemenyan dan kopinya masing masing yang dikuasi oleh satu keluarga. Meskipun hak garapnya sudah di kuasai oleh keluarga. Namun, garapan garapan yang ada di tombak haminjon tidak boleh dibelikan. Garapan ini nantinya akan diwariskan kepada anak laki laki panjaean maupun perempuan pauseang. 3. Lahan Budidaya Pertanian Persawahan (hauma) dan ladang (porlak) Dikuasi dan di kelola oleh keluarga (KK). Persawahan ini tidak boleh diperjual belikan, di sewakan ataupun di gadai. Hauma dan porlak akan di wariskan kepada anak laki-laki panjaean Peternakan (parjampalan) Dikuasai dan dikelola secara komunal oleh huta raja. Masyarakat yang hendak menaruh ternaknya di ladang pengembalaan ini harus meminta izin kepada huta raja. Panjampalan di wariskan untuk seluruh masyarakat huta tornauli 4. Pemukiman (parhutaan) Tipe kepemilikan di pemukiman adalah komunal oleh masing-masing huta (dusun) namun pemberian hak bagi masing masing huta ini harus di lakukan oleh raja huta sebagai marga pertama/ marga yang menguasai dan berhak memberikan keputusan atas pengelolaan wialyah adat di tornauli  

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga adat Huta Tornauli
Struktur 1. Raja Huta Raja huta dipilihkan berdasarkan keturunan (laki-lak) dari raja huta sebelumnya yang berasal dari marga pertama pemilik wilayah adat tornauli. Raja huta wajib memimpin sejak ditetapkan sebagai raja huta hingga ia meninggal dunia. Apabila dalam perjalanan kepemimpinananya raja huta melanggar peraturan adat maka akan digantikan dengan raja huta yang baru yag dipilih melalui mekanisme musyawarah 2. Raja Patik Dipilih berdasarkan keputusan musyawarah adat, tidak ada periodesasi tertentu untuk menjabat. Ia wajib memimpin sejak ditetapkan hingga meinggal dunia. Apabila ia sudah tidak mampu menjabat atau melanggar peraturan adat akan digantikan melalui mekanisme musyawarah adat 3. Raja Adat Dipilih berdasarkan keputusan musyawarah adat. Tidak ada periodesasi tertentu untuk menjawat. Ia wajib membantu lembaga adat sejak ditetapkan hingga meninggal dunia. Apabila ia sudah tidak mampu menjabat atau melanggar peraturan adat akan digantikan melalui mekanisme musyawarah adat 4. Raja Bondar Dipilih berdasarkan keputusan musyawarah adat, tidak ada periodesasi tertentu untuk menjabat. Ia wajib memimpin sejak ditetapkan hingga meinggal dunia. Apabila ia sudah tidak mampu menjabat atau melanggar peraturan adat akan digantikan melalui mekanisme musyawarah adat
1. Raja Huta Adalah pemimpin yang berasal dari marga raja (marga tertua/pertama). Ia memiliki hak pengambilan keputusan tanggung jawab dalam memimpin pengelolaan wilayah dan mengatur hubungan antar masyarakat adat tornauli 2. Raja Patik Memiliki tugas untuk membantu raja huta dalam mengurus penegakan hukum adat di tornauli 3. Raja Adat Memiliki tugas untuk membantu lembaga adat dan masyarakat dalam mengatur dan mempersiapkan upacara adat dan pesta adat 4. Raja Bondar Memiliki tugas untuk membantu lembaga adat dalam mengurus dan mengatur sistem irigasi ke persawahan dan merawat sumber sumber mata air yang ada di Tornauli  
Pengambilan keputusan adat di Tornauli dilakukan melalui mekanisme musyawarah yang dalam bahasa lokal disebut dengan (marapot) 1. Musyarawarah terkait dengan lembaga adat, pengelolaan SDA, dan penerapan hukum adat Yang berpartiapsi adalah lembaga adat, masyarakat umum (dewasa- sudah menikah), anak muda dilibatkan hanya sebagai pendengar, perempuan sebatas membantu proses Lokasinya berdasarkan kesepakatan, setelah ditentukan lokasi marapotnya. Selanjutnya raja huta akan meminta raja patik untu mengundang 2.Selain musyawarah adat dilakukan juga Musyawarah pesat adat yang disebut “martonggo raja” Contoh apabila akan ada pesta huta atau pernikahan, kematian, Pertama, penyelenggarakan pesta akan mengundang lembaga adat dan tokoh untuk ikut serta dalam musyawarah Kedua, pada saat musyawarah lemabaga adat akan memberikan saran terkait pelaksanaan dan tanggal baik utk diadakannya pesta tsb Ketiga, ditentukan waktu pelaksanaan acara.  

Hukum Adat

Aturan adat yang berkaitan dengan pengelolaan SDA dibagi atas beberapa ruang, sebagai berikut: Tombak Raja 1. Tombak raja tidak boleh di perjual belikan 2. Tombak raja harus dilindungi dan tidak boleh dibuat perladangan 3. Pengambilan kayu untuk kepentingan rumah dan adat harus dilakukan melalui izin raja huta 4. Pengambilan kayu yang di izinkan di tombak raja maksimal hanya 2 pohon, dan harus diganti dengan menanam 10 pohon 5. Perburuan bagi warga tornauli di izinkan dengan izin raja huta 6. Warga asing/ warga diluar tornauli dilarang melakukan perburuan Tombak Haminjon 1. Kemenyan adalah suci dipercaya sebagai asal muasal leluhur yang di wariskan 2. Pembukaan kegiatan berkebun kemenyan (manigi) harus dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan ritual adat yang disebut “parhottason” agar tanaman tumbuh subur dan kemenyan dapat menghasilkan hasil yang baik 3. Ritual adat parhotasson/ marhottas dilakukan dengan cara menyembelih babi. Membuat sesajen dari olahan tepung (itak gurgur) dan daun siri (napuran tiar) sesajen ini menjadi perantara/ sebagai persembahan bagi Mul Jadi Na Bolon (Tuhan yang maha besar) 4. Sesajian pada acara marhottas ini kemudian akan dibawa oleh masing masing petani kemenyan dan diletakan di bawah pohon kemenyan mereka yang di doakan. 5. Pencurian kemenyan dikenakan denda adat yang di sebut dengan utang saribu raja (sansksi yang diberikan oleh raja huta) biasanya berupa kewajiban untuk memberi makan satu kampung. 6. Dalam hal tidak ada yang mengaku melakukan pencurian kemenyan, akan dilakukan musyawarah adat yang mengundang seluruh warga, kemudian raja huta akan membagikan olahan babi yang sudah di sumpahkan. Dipercaya apabila pencuri sebenarnya memakan olahan babi tersebut akan membuatnya sakit atau bahkan meninggal dunia 7. Jika terdapat permasalahan terkait dengan batas batas garapan, akan diselesaikan dengan melibatkan raja huta Lahan budidaya pertanian Persawahan (Hauma) 1. tanah persawahan boleh di perjual belikan namun harus seijin raja huta dan harus diberikan “ganti panggu” (pengganti cangkul) yang di berikan kepada raja huta 2. hewan ternak dilarang masuk ke persawahan. Jika ditemukan merusak area persawahan akan didenda dengan “utang seribu raja” yang bentuk dendanya akan di tentukan oleh raja huta 3. lahan persawahan yang ditinggalkan oleh pemliknya kurang lebih 10 tahun, lahan tersebut akan kembali marga raja (manalu) 4. ritual adat terkait dengan pertanian adalah Ritual paboni-bonion yang dilakukan secara bersama dipimpin raja huta Ritual ini adalah ritual penanaman padi tata caranya antara lain: Pertama, tanah dioleh ditanami bibit. Kedua, dipersiapkan bahan ritual, gul-gul, daun sirih daging bagi dibawa ke sawah daun motung (tempat ritual) dan bunga-bungan. Seserahan sesejan di doakan “artinya supaya yang ditaburkan di berkati tuhan, dijauhkan penyakit hama, hasil berlipat ganda, tidak ada longsoran, bencana. “ meminta angin, matahari dan hujan pada waktunya agar hasilnya maksimal” Perladangan (Porlak) tanah persawahan boleh di perjual belikan namun harus seijin raja huta dan harus diberikan “ganti panggu” (pengganti cangkul) yang di berikan kepada raja huta 2. hewan ternak dilarang masuk ke persawahan. Jika ditemukan merusak area persawahan akan didenda dengan “utang seribu raja” yang bentuk dendanya akan di tentukan oleh raja huta 3. lahan persawahan yang ditinggalkan oleh pemliknya kurang lebih 10 tahun, lahan tersebut akan kembali marga raja (manalu) 4. jika ditemukan perselisihan batas, marga raja berwenang untuk menyelesaikannya 5. marga asing diijinkan untuk berladang, namun hanya sebatas hak garap bukan hak milik dan wajib mengikuti adat istiadat yang berlaku di tornauli “mamisoi” Pemukiman: 1. ternak babi dilarang masuk perkampungan 2. Pembangunan rumah baru harus izin pada raja huta terlebih dahulu Tata caranya adalah dilakukan dengan ritual yang disebut “paluluhum” (mendirikan rumah) gotong royong membangun rumah . pertama, pakai itak gur gur di oleskan pada setiap tihang rumah (agar kuat), kemudian minum bersama kopi bersama masyarakat dg kue itak gur gur, setelah itu di doakan. Setiap siap dibangun, di undang semua orang untuk masuk kedalam rumah “ mangoppoi rumah” upacara memasuki rumah baru. 3. pembangunan huta/ dusun baru harus seizin raja huta Tata cara pembangunan sosor atau huta: izin raja huta dan tokoh harus mengasih lapuran tiar (sirih) kepada marga raja. Apabila yang membangun huta/sosor tersebut adalah kelauarga marga manalu hanya perlu memerikan lapuran tiar (Sesaji sirih) dan makan bersama dan dipestakan dg menyembelih kerbau. Apabila yang membangun huta adalah marga dilauar manalu disebut dengan marga boru / pendatang harus memberikan lapuran tiar dan mamisoi (memberikan uang seacara sukarela kepada marga raja) dan menyembelih satu kerbau untuk pesta makan bersama dan harus diketahui kampung tetangga. 4. Apabila huta yang sudah diadatkan ini ditinggalkan, maka dusun ini harus kembali kepada marga raja 5. permasalahan terkait dengan lahan/ batas lahan diserahkan pada lembaga adat 6. rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya boleh ditinggali oleh yang lain dengan seijin raja huta 7. pemakaman di pemukiman hanya di perbolehkan untuk saur matua “orang tua”  
Siklus Kehidupan a. Kelahiran : “marsaesae” ritual makan bersama orang yang datang besuk bayi setelah lahir b. Kematian : ada lonceng gereja yang memberitahukan ada yang meninggal - “martonggo raja”j ika orang tua yang meninggal maka yang doakan gereja. Acara adat “saurmatua” berbentuk marsaur saut menyembelih kerbau dibagikan (disebut jambar) - Kalau anak anak “olang olang” supaya tidak terjadi lagi. Acara adat “simarmiak” memotong babi makan bersama kemudian didoakan oleh tokoh adat, boru dan dongan tubu (satu marga) dan hula-hula (paman istri), - Parubaya/ dewasa “mangidotangiang” didoakan oleh gereja. Acara adat “olang olang” memotong babi untuk dimakan bersama. - Bergantung pada jenis penyakitnya kalau tidak berat hanya makan bersama tapi kalau penyakitnya berat akan didoakan - Acara ritual akan disediakan kampung. Kalau yang sudah tua keluarganya yang harus sediakan kerbau - Ada penyampaian ulos “saput” dari hula- hula kepada yang meninggal sebelum dikubur kecuali orang yang meninggal sudah tua c. Perkawinan - Perkawinan tidak boleh satu marga - apabila diketahui ada yang perzinahan/perselingkuhan (sudah menikah) akan di diusir dari kampung - apabila ada melakukan perzinahan atau hamil diluar nikah akan di putuskan di musyawarah “pasu pasu raja” dinikahkan oleh raja huta. Sanksinya tidak bisa ikut kegiatan adat selama 3 bulan Tatacara perkawinan di mulai dari 1. mahori hori dinding yaitu pembicaraan awal kedua belah pihak keluarga 2. martumpo; yaitu kursus perkawinan 3. pemberkatan Setelah menikah pihak perempuan akan tinggal bersama suami Kerukunan Pencurian dan perkelahian : utang saribu raja “sudah diketahui seribu kampung” sanksinya memberi makan satu kampung 1. Pembunuhan : “saribu raja” berdasarkan pertimbangan adat bisa berupa pengusiran dari kampung, memberi makan sekampung dsb, kemudian diserahkan kepada hukum negara  
Setiap orang yang melakukan pelanggaran hukum adat dikenakan dengan sanksi yang disebut “utang saribu raja” istilah yang dipakai oleh lembaga adat untuk keputusan adat bentuk sanksi/denda nya akan ditentukan oleh raja huta berdasarkan berbagai pertimbangan Pada bulan desember 2019, adalah seseorang yang sudah berulang kali membuat keonaran di kampung, berdasarkan musyawarah adat akhirnya orang tersebut di terapkan hukum adat berupa pengusiran terhadap pelaku.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, sayur sayuran, buah, jagung, ubi jalar, singkong, dan kacang-kacangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tahul tahul (kantong semar), pultak pultak (ceplukan), sarindan (benalu), bunga paet (bunga pahit), napuran (daun sirih), utte anggir (jerut purut) sangge sangge (daun sirih), hunik (kunyit), sae-sae
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Pinus,Meranti, Ingul.
Sumber Sandang Kapas, terangga
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Attarasa, andaliman, cabe, kunyit, jahe, serai, kunir, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kemenyan, kopi, padi, jagung dan rempah