Wilayah Adat

Nanga Danau

 Terverifikasi

Nama Komunitas Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau, Ketamunggungan Dayak Kalis
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Kalis
Desa Nanga Danau
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.125 Ha
Satuan Nanga Danau
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan dengan wilayah adat Desa Nanga Tubuk, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu
Batas Selatan Berbatasan dengan wilayah adat Desa Kensurai, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu
Batas Timur Berbatasan dengan wilayah adat Desa Rantau Kalis, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu
Batas Utara Berbatasan dengan wilayah adat Desa Semarantau, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu

Kependudukan

Jumlah KK 145
Jumlah Laki-laki 336
Jumlah Perempuan 213
Mata Pencaharian utama 1. Be-Mauma (Berladang) 2. Bersawah 3. Menyadap Karet Alam/Asli 4. Mata pencarian tambahan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau tidak berbeda dengan sejarah Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Tubuk dan Desa Rantau Kalis. Keberadaan mereka adalah satu Suku dan satu Ketamunggungan, yakni Suku Dayak Kalis di Ketamunggungan Kalis. Yang membedakan adalah nama daerah yang menjadi pemukiman mereka sekarang.

Berikut sejarah singkat keberadaan Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau hingga menempati Desa Nanga Danau sekarang.

Desa Nanga Danau, berasal dari nama sebuah Danau yang berada pemukiman masyarakat sekarang. Danau ini sangat terkenal unik dan keramat bagi Masyarakat Adat di Nanga Danai. Selain hidup berbagai jenis ikan, labi-labi, kura-kura, biawak, dan terdapat buaya serta ada roh penunggunya di danau ini. Sehingga diyakini cukup angker oleh masyarakat. Aliran danau ini sendiri bermuara di Sungai Kalis yang mengalir dari perhuluan Kampung-Kampung di Desa Nanga Danau hingga hilirnya ke bermuara di Sungai Manday.

Secara administrasi Pemerintahan, Desa Nanga Danau terdiri dari 3 (tiga) Kampung, yakni: Kampung Nanga Danau, Batang Kauk dan Nanga Buanan. Sedangkan secara administrasi Pemerintahan Adat, Desa Nanga Danau dibawah Ketamunggungan Dayak Kalis. Wilayah adat Ketamunggungan Dayak Kalis terdiri dari 13 Kampung yang berada di 3 Desa, yakni: Desa Rantau Kalis, Desa Nanga Danau dan Desa Nanga Tubuk.

Masyarakat yang mendiami Desa Nanga Danau menyebut dirinya sebagai Masyarakat Adat Dayak Kalis. Jauh sebelum Indonesaia Merdeka, Dayak Kalis bernama Suku Ruk. Nama Kalis sendiri diambil dari kata Sungai Kalis. Karena pemukimanan mereka berada sepanjang aliran Sungai Kalis, maka Suku Ruk berubah nama disebut suku Dayak Kalis.

Didasarkan pada cerita lisan tetua adat, tokoh Masyarakat Adat yang masih diyakini hingga sekarang. Bahwa Suku Kalis pada awal mulanya adalah mendiami perhuluan Sungai Kapuas yakni di sekitar Daerah Nanga Balang, Desa Beringin Jaya Kecamatan Putussibau Selatan-Kapuas Hulu. Singkat cerita dari perhuluan Sungai Kapuas, mereka pindah ke daerah Danau Ketutung. Di sini mereka mendirikan rumah panjang dalam pulau yang berada di tengah Danau Ketutung itu. Danau Ketutung ini dekat dengan Danau Buak di wilayah Bika Jabai Kecamatan Bika. Lokasi Danau Ketutung ini berada antara Sungai Manday dan Sungai Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu.

Karena kebakaran rumah panjang di Danau Ketutung, mereka pindah mudik Batang Sungai Manday dan bermukim di daerah bernama Segiam. Disini mereka dipimpin oleh enam orang pimpinan suku yakni Apu’ Arang Dano, Apu’ Iman Paninting, Apu’ Iman Ponyang, Apu’ Dakun Bulu Kara’ dan Apu’ Dakun Kasa’. Kemudian mereka pindah mudik Sungai Kalis dan bermukim di Sungai Torak anak Sungai Kalis sebelah kiri dan di sebelah hulu Nanga Sungai Tubuk anak Sungai Kalis sebelah kanan. Daerah ini dikenal dengan sebutan Banua Poten (Pot).

Nama Poten sendiri berasal dari kata Pot (rajin). Nama ini digunakan sebagai nama tempat pemukiman karena seluruh warganya sangat rajin memperbaiki rumah mereka jika terdapat kerusakan. Demikian pula kehidupan kebersamaan dan keharmonisasian seluruh warga, baik yang berada pada Nanga Sungai Torak maupun warga yang berada di seberangnya sangat baik. Di tempat pemukiman ini tidak diketahui secara pasti berapa lama mereka bermukim, namun hingga saat ini masih terdapat bekas pemukiman dengan ditandai adanya peninggalan tiang rumah panjang.

Dilokasi ini mereka mendirikan 6 (enam) rumah Panjang. Masing-masing 3 (tiga) buah sebelah kanan Sungai Kalis dan 3 (tiga) buah sebelah kiri Sungai Kalis yang posisi rumah panjangnya membentang (melintang) Sungai Torak, sehingga Sungai Torak tepat berada di bawah rumah panjang. Salah satu rumah panjang ditempat ini posisinya tinggi dari dua lainnya. Ketiga rumah panjang di Nanga Torak ini juga di kenal dengan sebutan Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang (tiang bangunannya lebih besar dan bangunannya lebih tinggi) yang dipimpin oleh Apu’ Tai’ Nua.

Pemimpin Dayak Kalis di Banua Poten (Pot)
Nama Posisi Rumah Betang Strata Sosial
Saung Ponanen Betang sebelah Kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sugai Torak Semagat
Saung Rando Betang sebelah Kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sugai Torak Pabiring
Saung Muring Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sugai Torak Ulun
Apu’ Dakun Kasa’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis Semagat
Apu’ Dakun Tandi’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis Semagat
Apu’ Tai Nua Betang Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis Semagat

Dari Banua Poten, mereka pindah ke Bukit Sunan, dipimpin oleh dan Lokon Sagu. Di Bukit Sunan Apu’ Sawang dibantu Apu’ Sakat dari Bukit Lokun Sagu. Sedangkan pemimpin di Bukit Lokan Sagu yakni Apu’ Undan (yang juga seorang balian) dan Apu’ Sakat.

Karena situasi di Bukit Sunan dan Bukit Lokun Sagu sudah tidak memungkinkan untuk tempati, maka semua warga turun dan membuat enam rumah panjang (Sao) di tepi Sungai Kalis. Pada pemukiman baru ini, salah satu rumah panjang yang terkenal adalah rumah panjang Sao Joloen yang dipimpin oleh Apu’ Nyaring yang letak posisinya saat ini berada di kampung Rantau Kalis.

Dari Rantau Kalis ini, sebagian warga pindah ke daerah Nanga Danau, yang sekarang dikenal dengan Desa Nanga Danau.

Nama-nama Pemimpin yang pernah memerintah di Nanga Danau sebelum Kemerdekaan hingga sekarang:

Nama Jabatan/Posisi Keterangan
1. Lombok Kepala Kampung
2. Ngumbang Kepala Kampung
3. Ujang Kepala Kampung
4. Antis Kepala Dusun
5. Onyang U Kepala Dusun
6. Bujang R Kepala Dusun
7. Gondi Kepala Dusun

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian Ruang Menurut Aturan Adat

Pratek pengelolaan dan pemanfaatan SDA/agraria oleh Masyarakat Adat Dayak Kalis di Nanga Danau sama seperti Masyarakat Adat di Desa Nanga Tubuk dan Rantau Kalis. Praktik ini terlihat pada sistem pembagian ruang/tata guna lahan berdasarkan aturan adat turun-temurun:

1. Toan Pari’an (Rimba/hutan tutupan)
yakni kawasan hutan yang telah disepakati bersama untuk dilindungi kelestarian dan keberlanjutannya. Rimba ini diyakni mereka sebagai tempat keramat (terdapat roh leluhur di kawasan ini). Rimba ditumbuhi berbagai jenis kayu, mulai dari yang terkecil sampai besar, hidup berbagai jenis binatang, rotan, tanaman obat-obatan, lebah madu hutan, dan berbagai jenis binatang burung.

Berdasarkan fungsinya, ada 2 jenis Rimba (Toan Pari’an), yakni: 1). Toan Pangasuan, yakni: sebuah Kawasan hutan yang digunakan sebagai kawasan berburu liar; dan 2). Toan Peramuan, yakni: kawasan rimba yang difungsikan mereka sebagai kawasan mencari kayu bahan bangunan, rotan, kulit kayu, damar dan kebutuhan lainnya.

2. Mauma (Ladang)
yaitu merupakan kawasan pertanian ladang kering yang ditanami komoditas seperti padi, sayur-sayuran dan lainnya. Sistim kepemilikan kawasan ladang ini merupakan kepemilikan pribadi oleh satu keluarga yang pertama kalinya membuka lahan untuk dijadikan ladang dan akan menjadi warisan pada keturunannya. Besarnya kawasan ladang saat ini ± 2 hektar per kepala keluarga (KK).

Masyarakat Adat di Desa Nanga Danau juga mengenal istilah lahan bekas ladang/mauma berdasarkan vegetasinya, yakni:
1. Lembawas dan Balik Batang, adalah sebuah kawasan yang pernah digarap untuk lahan perladangan dengan usia sekitar 1-3 tahun
2. Tana Toa, adalah kawasan bekas ladang dengan usia sekitar 10-15 tahun
3. Taja, yaitu kawasan bekas ladang yang sudah ditinggalkan dalam jangka waktu yang sangat lama, usia sekitar 30 tahun
4. Sasap, yaitu kawasan bekas ladang tahun itu yang kemudian diladang ulang Kembali.

3. Pambutan
adalah sebuah areal yang digunakan untuk lokasi pertanian yang kepemilikannya bersifat kekeluargaan. Pada lokasi itu mereka membuat pondok-pondok permanen yang berbentuk bersambung dengan keluarga lain atau pondok yang saling berdekatan dalam satu area.

4. Sawah/payak
yaitu, kawasan pertanian basah yang di memiliki saluran perairan/irigasi tadah hujan. Lahan ini di tanam padi lokal yang cocok untuk areal tanah basah atau disebut dengan sawah. Areal sawah/payak ini dimiliki secara pribadi.

5. Tembawang
Yaitu, kawasan bekas permukiman dengan kepemilikan secara garis keturunan dan keluarga. Kawasan ini terdapat berbagai jenis tanaman ada buah-buahan, seperti durian, tengkawang, rambutan, langsat, pekawai, mentawak, kemayau, sibau, karet dan lain sebagainya.

6. Kebun Karet (kebun getah)
Yaitu, kawasan yang dibuka khusus ditanam karet alam dan juga karet ungul. Biasa juga kawasan yang dibuka untuk berladang yang ditanamai karet. Kepemilikan lahan merupakan kepemilikan pribadi dengan luas ± 1 – 2 bidang (1 Hektar) dimiliki oleh keluarga.

7. Kulumbu (Kuburan)
adalah kawasan yang telah disepakati untuk pemakaman orang-orang yang telah meninggal dunia. Ada 2 jenis Kulumbu, yakni: Kulumbu, adalah kawasan yang masih dipergunakan untuk pemakaman sekarang; dan Kulumbu Toa, adalah kawasan pemakaman para leluhur orang tua dahulu. Kawasan Kulumbu ini tidak boleh digarap untuk kepentingan apapun.

8. Kawasan Peternakan Sapi
adalah kawasan yang difungsikan untuk peternakan sapi dengan luas ± 0.1 – 1 hektar per kepala keluarga (KK).

9. Kampung/Dusun atau Desa
adalah kawasan atau wilayah yang digunakan sebagai tempat tinggal dan beraktivitas turun-temurun warga Desa Nanga Tubuk yang terdiri dari 3 (tiga) Kampung/Dusun. Tiap-tiap Kampung, memiliki pemimpin masing-masing seperti Ketua Adat, Ketua Umat, Kepala Dusun/Kampung dan Ketua Rukun Tetangga (RT).
 
Sistem Penguasaan dan Pengelolaan Wilayah

Tidak berbeda dengan Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Tubuk dan Desa Rantau Kalis. Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau juga mengenal sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat yang diwariskan secara turun temurun.

Sistim penguasaan dan pengelolaan itu didasarkan pada sistem kepemilikan, yaitu: kepemilikan bersama (kolektif) dalam satu kampung/desa; kepemilikan secara keluarga/ keturunan (waris), dan kepemilikan individual.

1. Kepemilikan Bersama/Kolektif
yaitu, sitem kepemilikan secara bersama-sama oleh Masyarakat Adat dalam satu wilayah adat Kampung atau didasarkan pada administrasi desa. Kawasan ini telah disepakati mereka untuk tidak boleh buka, diperjualbelikan atau untuk kepentingan apapun. Warga masyarakat boleh manfaatkan kayu di kawasan rimba yang telah disepakati secara adat hanya untuk keperluan bahan bangunan sendiri bukan untuk diperjualbelikan. Kepemilikan ini berupa kawasan Toan Pari’an, Toan Pangasuan, Toan Peramuan, dan Kulumbu (kawasan pemakaman).

2. Kepemilikan Keluarga
yaitu sistem kepemilikan yang bersifat kekeluargaan, garis keturunan yang diperoleh dari warisan, seperti Tembawang, Pambutan, kebun karet.

3. Kepemilikan Individu
yaitu kepemilikan yang diperoleh melalui warisan orang tua, membuka lahan untuk ladang/mauma, pembelian dari orang lain, seperti kebun karet, ladang/mauma, bekas ladang (Taja, Tana Toa, Lembawas, Balik Batang, Sasap), dan rumah/tempat tinggal.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kepemimpinan Adat pada Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau sama dengan Lembaga Adat di Desa Nanga Tubuk, yakni: Kepala Komplek dan Toa Banua. Kedua Lembaga Adat ini berada dibawah Ketamunggungan Dayak Kalis
Struktur Kepala Komplek dan Toa Banua, yang kekuasaanya dibawah Ketamunggungan Dayak Kalis. Kepala Komplek: 1. Toa Banua 2. Toa Banua 3. Toa Banua Kepala Komplek kekuasaannya meliputi beberapa kampung atau setingkat desa. Sedangkan Toa Banua kekuasaannya ditingkat Kampung/Dusun Masyarakat Adag Dayak Kalis tidak mengenal periodesasi dalam kepemimpinan adat (Temenggung - Kepala Komplek - Toa Banua). Kepemimpinan Adat berakhir atau dipilih lagi apabila meninggal dunia atau mengundurkan diri.
Kepala Komplek dan Toa Banua pada Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau memilik fungsi dan kewenangan masing-masing, yakni:
- Kepala Komplek ini berperan mengurus adat istiadat dan hukum adat pada tingkat beberapa kampung/setingkat desa. Sanksi adat yang dapat diselesaikan adalah mulai dari sanksi adat ringan hingga sanksi adat besar, serta sanksi adat yang tidak bisa diselesaikan oleh Toa Banua, kecuali sanksi adat pembunuhan.
- Sedangkan Toa Banua hanya mengurus adat istiadat dan hukum adat pada tingkat kampung. Sanksi adat yang dapat diselesaikan adalah sanksi adat ringan hingga besar, kecuali sanksi adat pembunuhan.
- Kepala Komplek dan Toa Banua bersama Tamunggung, tokoh masyarakat, warga masyarakat membuat dan menegakan peraturan adat pada tingkat desa dan kampung.
- Kepala Komplek dan Toa Banua berfungsi membantu Tamunggung dalam menyelesaikan perkara adat, baik di tingkat kampung, desa atau tingkat Banua (Ketamunggungan) serta sanksi adat dengan pihak luar.
- Mengadakan ritual-ritual adat, musyawarah adat di tingkat kampung, tingkat desa ataupun tingkat Ketamunggungan.
 
Apabila terjadi pelanggaran atau perbuatan yang merugikan orang/pihak lain baik disengaja maupun tidak disengaja maka perbuatan tersebut dikenakan sanksi adat. Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau memiliki mekanisme dalam pengambilan keputusan terkait penyelesaian sengketa adat.

Adapun mekanisme penyelesaian perkara adalah pihak yang merasa dirugikan (pelapor) melaporkan persoalan perkaranya kepada Toa Banua, selanjutnya Toa Banua memanggil pihak yang terlapor untuk melaksanakan perundingan. Selanjutnya Toa Banua mencari tokoh masyarakat yang memiliki kapasitas (setingkat saksi ahli) untuk dapat dan mampu menilai sebuah persoalan yang sesuai dengan objek (pokok-pokok) perkara. Para tokoh ini menjadi pihak yang akan memberikan pertimbangan hukum adat kepada Toa Banua dalam hal Toa Banua memutuskan sebuah perkara.

Sebelum memulai perundung, Toa Banua bersama pihak terlapor, pelapor dan para tokoh ahli, menyepakati aturan dalam sebuah perundingan. Diantaranya, semua pihak tidak boleh membawa senjata tajam dalam ruang perundingan, tidak boleh minum minuman keras (mabuk), tidak boleh memotong pembicaaraan seseorang saat orang lain sedang bicara, tidak boleh memukul lantai. Tidak boleh melontarkan bahasa kasar yang dianggap dapat merugikan pihak lain.

Jika suatu perkara tidak dapat diputuskan secara berjenjang melalui Toa Banua, Kepala Komplek dan Tamunggung, maka upaya terakhir proses penyelesaian perkara adat adalah dengan cara bersumpah. Keduanya belah pihak yang berpekara dapa memilih adat beselam, sabung ayam atau lainnya. Dan dapat juga kasus dilimpahkan ke pihak Kepolisian terutama kasus pembunuhan.
 

Hukum Adat

Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau telah memiliki aturan adat turun temurun terkait pengelolaan wilayah adat dan sumber daya alam.

Bahkan Masyarakat Adat telah mendokumentasikan secara tertulis Hukum Adat tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA). Peraturan Adat tentang PSDA ini berisikan tentang:
1. Be-Naum (Ladang)
2. Kebun Karet (Kebun Getah)
3. Kampung /Desa
4. Kulumbu (Kuburan)
5. Tembawang
6. Toan Pari’an (Rimba/Hutan Tutupan) 
Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Danau, telah turun temurun mengenal, memiliki dan melaksanakan adat istiadat dan hukum adat yang mengatur hubungan sosial, baik antar lingkup internal warga desa/kampung maupun dengan warga kampung lain atau pihak luar.

Aturan Adat yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat, mengatur pranata sosial di Desa Nanga Tubuk, antara lain:
1. Hukum Adat Kelahiran
2. Hukum Adat Pernikahan
3. Hukum Adat Perceraian
4. Hukum Adat Jinah
5. Hukum Adat Tidak Jadi Nikah
6. Hukum Adat Kematian
7. Hukum Adat Pencurian
8. Hukum Adat Pembunuhan (pati nyawa)
9. dll 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Sebagai sumber karbohidrat. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau membuka lahan untuk berladang/naumo, bersawah yang ditanami padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, keladi, kacang panjang, dll. Sebagai sumber protein. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau menangkap ikan (menjala, masang pukat, bubu, mancing), mereka juga berternak (sapi, babi, ayam, itik), dan berburu binatang liar di hutan (babi hutan, rusa, kijang, kancil, musang, dll). Untuk memenuhi sumber vitamin. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau berkebun/menanam sayur-sayuran baik di ladang/naumo atau dipekarangan rumah, seperti: daun ubi, daun timun, cabe, sawi naumo/ladang, daun perenggi, cangkok manis, kacang, paskis bayam, daun kundur, rebung. Mereka juga bertanam berbagai jenis buah-buahan, yakni: durian, rambutan, jengkol, jambu, mangga, langsat, lengkeng, manggis, kelapa, kemayau, asam pelam, mentawak, pekawai, kemantan, mawang, nangka, cempedak, rambai, dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Untuk sumber kesehatan. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau mengenal berbagai jenis tanaman alami yang digunakan sebagai bahan obat-obatan, seperti: 1. daun jambu cacing digunakan mereka sebagai obat sakit perut/diare; 2. Cekor, liak/jahe, kunyit sebagai obat memulihkan kesehatan ibu melahirkan; 3. ...dll
Papan dan Bahan Infrastruktur Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau masih menggunakan bahan-bahan alami untuk bahan bangunan rumah dan bahan bangunan infrastruktur lainnya (jembatan, rumah ibadat). Jenis kayu yang biasa digunakan untuk bahan bangunan rumah dan infrastruktur lainnya, yakni: 1. Kayu Belian/Ulin, digunakan untuk tiang dasar bawah bangunan seperti bangunan rumah pribadi, rumah ibadat, jembatan, atap rumah, dll; 2. Kayu Keladan, dan Resak dan Bengkirai biasa digunakan mereka untuk tiang dinding, tutup tiang dinding atas, kasau, lidi/ring, papan lantai, dll; 3. Kayu Temau, biasa digunakan untuk atap rumah, kasau, ring/lidi, tiang dinding.
Sumber Sandang Pada waktu sekarang Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau tidak lagi menggunakan bahan-bahan sandang dari alam untuk hidup sehari-hari. Sudah sangat minim menemukan jenis pakaian yang dulunya terbuat dari kulit kayu untuk pakaian adat dan bulu burung ruai sebagai hiasan topi kepala, serta berbagai jenis anting-anting unik/adat. Walaupun masih ada, itu pun tidak banyak lagi, dan hanya digunakan pada acara-cara pesta adat (gawai syukuran padi) atau acara pernikahan dan ritual adat. Sekarang ini, sumber sandang mereka lebih banyak berasal dari luar seperti, pakaian hari-hari, perlengkapan dapur, peralatan pertanian, dll.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sumber rempah : - Kunyit dan serai digunakan untuk masak daging, ikan, buah nangka, buah kundur (labu). - Lengkuas biasanya digunakan untuk bumbu masak daging yang amis. - Daun Sengkubak biasa digunakan untuk penyedap rasa rasa sebagai pengganti micin. - Buah dan bunga Cekala digunakan untuk bumbu masak ikan - Daun dan buah kandis digunakan untuk bumbu masak daging, masak ikan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Sumber ekonomi utama Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Danau adalah padi ladang dataran tinggi, rendah/payak, padi dan padi ditanam di sawah; menyadap karet, beternak sapi, babi, ayam.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Kapuas Hulu Nomor 461 Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 461 Tahun 2019 SK Bupati Kapuas Hulu Nomor 461 Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Kapuas Hulu SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen