Wilayah Adat

Blai Payang Taboyan Blai Payang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat Taboyan Blai Payang
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota BARITO UTARA
Kecamatan Gunung Purei
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.046 Ha
Satuan Blai Payang Taboyan Blai Payang
Kondisi Fisik Perbukitan,Lahan Basah,Perairan
Batas Barat Berbatasan dengan desa Lampeong I, berlokasi di pertambangan batu milik warga Lampeong.
Batas Selatan Batas dengan desa Berong Kecamatan Gunung Purei, berada dipinggir sungai Kias. 10 menit jalan kaki dari komunitas Payang ke lokasi batas.
Batas Timur Batas dengan desa Baok, menurut cerita bahwa lokasi batas antara Payang dengan Baok tepat berada ditengah-tengah perkebunan sawit milik warga Payang yang bernama Rustam, namun sampai sekarang desa Baik masih belum mengakui hal tersebut. Posisi perkebunan kelapa sawit ini berada dipinggir jalan lintas Kalimantan (Kalteng – Kaltim)
Batas Utara Batas dengan desa Sibak (Kalimantan Timur) berlokasi dipinggir perkebunan kelapa sawit milik PT Karya Barito Gemilang.

Kependudukan

Jumlah KK 80
Jumlah Laki-laki 119
Jumlah Perempuan 123
Mata Pencaharian utama Manetes Uwe dan ngume (Mencari rotan dan berladang)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sekitar tahun 1900 an jaman kerajaan yang dinamakan Terinsing Sembulu raja Mangku Kakabungo menyuruh rakyatnya untuk menyebar ke pinggir-pinggir sungai Tewei untuk membentuk perkampungan. Turun lah suatu keluarga yang dipimpin oleh Keman Danan dan kakaknya yang bernama Sambung lalu membangun sebuah rumah besar didaerah yang disebut Kema’ar Datai (nama kayu). Seiring dengan berjalannya waktu dan karena keluarga semakin bertambah maka diangkatlah seorang mangku (tokoh kampung). Pada saat yang sama Temanggung Mangku Sari memerintahkan ke setiap kampung yang ada dipinggir sungai Tewei untuk membayar pajak atau yang disebut uang kepala. Singkat cerita pada tahun 1942 diangkatlah seorang kepala kampung (setingkat kepala desa) yang bernama Kakarahun, setelah Kakarahun meninggal maka diganti oleh Mangku Kandang. Nama Payang sendiri diambil dari nama sebuah sungai (anak sungai Tewei), karena pada saat itu kepala desanya sendiri selalu tinggal di muara Payang. Karena penyebutan masyarakat sudah terbiasa maka nama kampung yang awalnya disebut Kema’ar Datai diganti dengan Payang sampai sekarang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Klama (daerah perbukitan) merupakan daerah yang banyak dihuni oleh roh-roh halus yang ikut menjaga keseimbangan alam semesta dan daerah ini juga berbagi daerah dengan Provinsi Kalimantan Timur.
• Sipung Bua (daerah rawa) merupkan suatu areal yang dihuni oleh hewan-hewan langka dan tanaman untuk obat-obatan
• Kawasan Berburu (Bawo Pengengko) Merupakan kawasan tertentu yang dijadikan sebagai areal perburuan satwa untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat Payang.
• Hutan Murni (Alas) Merupakan sebuah kawasan hutan yang masih perawan dan belum pernah digarap sama sekalai baik itu oleh masyarakat adat Payang maupun oleh masyarakat komunitas lainnya.
• Bekas Ladang (Kaleuako) Merupakan kawasan yang pernah dijadikan oleh nenek moyang dahulu sebagai tempat berladang dan mendirikan rumah namun sudah sangat lama ditinggalkan dan meninggalkan bekas-bekas seperti banyaknya pohon buah-buahan dan tiang-tiang rumah
• Kawasan Berusaha (Uleng Basaha Basahi) Merupakan kawasan tertentu yang dijadikan sebagai areal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat Tanjung Harapan, seperti untuk mencari Damar, Gaharu, Rotan, Madu dll.
• Kawasan Perladangan (Lawako) Merupakan kawasan tertentu yang dijadikan sebagai areal untuk bercocok tanam atau bertani oleh masyarakat Payang.
 
Dalam penguasaannya dan pengelolaannya terdiri dari :
- Waris Turunan Taka (Tanah Milik Bersama);
- Tane warisan dimiliki oleh keluarga (Dimiliki/dikelola secara kekeluargaan, dan bisa dimiliki perorangan berdasarkan kesepakatan dalam keluarga);
- Milik perorangan berdasarkan kesepakatan membuka lahan sendi, jual belii;
 

Kelembagaan Adat

Nama Blai Payang Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara
Struktur Mantir Adat : 1. Kepala Adat 2. Wakil Adat 3. Sekretaris Adat 4. Penghulu Adat
Mantir Adat :
1. Kepala Adat : Memimpin Musyawarah Adat dalam memutuskan perkara adat baik masalah sosial, tanah adat dan hak adat;
2. Wakil Adat : membantu ketua adat dalam pelaksanaan perkara
adat dan kalau kepala adat tidak ada ditempat maka musyawarah adat bisa di gantikan oleh wakil adat;
3. Sekretaris Adat : Mendokumentasikan kegiatan yang dilakukan oleh Mantir Adat di Desa dan melaporkan kepada Damang di Kecamatan.
Penghulu Adat : Menangani masalah pernikahan dan perceraian
 
dilaksanakan di Balai Desa Payang untuk musyawarah mufakat dan
disebut dengan mempakat (musyawarah).
 

Hukum Adat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Payang masih mentaati
aturan-aturan adat yang berlaku, walaupun ada yang tidak tertulis. Misalnya dalam hal pembukaan lahan, mereka mengenal bahwa ketika membuka sebuah lahan itu tidak sembarangan, tetapi ada aturan-aturan adat khusus yang mengatur agar bisa berkelanjutan seperti melakukan ritual adat (Ma’ancak dan ploter) sebelum
membuka lahan dengan maksud agar setiap pengelolaan dalam wilayah adat mereka itu bisa berhasil sesuai yang diharapkan. Jika hal ini tidak dilakukan maka orang yang membuka lahan tersebut akan dikenakan sanksi adat yang dijatuhkan oleh kelembagaan adat setempat dengan pertimbangan sanksi yang berasal dari seluruh masyarakat. Dalam proses pelaksanaannya, aturan adat tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat tidak terkecuali tokoh-tokoh adat. Karena bagi mereka adat itu merupakan jalan yang bisa dilalui semua orang dan diyakini bahwa adat maupun aturan adat itu diibaratkan sebuah lampu yang menerangi jalan yang gelap . Jadi jika tidak ada aturan adat maka kehidupan pun juga tidak akan teratur sepenuhnya.

 
Dalam penyelesaian permasalahan masyarakat juga sering
menggunakan proses swadaya, ini dilakukan agar permasalahan yang timbul tidak pernah sampai keluar dari lingkup masyarakat. Misalnya ketika ada dua keluarga yang bertikai, maka tokoh adat menggunakan piring putih (Ngawang Ngarou)sebagai mediasi penyelesaiannya, jika piring putih ini sudah dikeluarkan maka menjadi kewajiban pihak yang bermasalah tadi untuk menyelesaikannya dengan musyawarah dan pembiayaan dari perkara tersebut ditanggung oleh semua semua pihak yang terlibat masalah
 
Cara lain di Masyarakat adat Payang dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi dimasyarakat adalah dengan menggunakan kearifan lokal mereka salah satunya adalah dengan menggunakan Pembuktian Terakhir (Brentas), cara ini dinilai sangat efektif namun jarang dilakukan untuk membuktikan apakah seseorang benar-benar bersalah atau tidak, ada bermacam cara yang dilakukan dengan Metode Brentas, contoh pertama seperti jika ada 2 orang yang bermasalah maka mereka berdua akan direndam seluruh badannya didalam sungai dengan berpegang pada sebatang kayu, jika dia tidak bersalah maka dia akan lebih cepat atau pertama yang keluar ke permukaan, namun jika dia terbukti bersalah maka dia bisa sampai seharian penuh baru akan keluar kepermukaan air, contoh kedua yaitu jika ada seseorang yang diduga bersalah maka untuk membuktikannya dengan cara orang tersebut diminta memanjat sebuah batang pohon aren, kemudian orang-orang yang dibawahnya membakar semua semak dan kayu disekitarnya, jika orang tersebut memang benar bersalah maka dia akan terbakar oleh api tersebut, namun jika dia tidak bersalah maka dia akan selamat tidak terbakar, bahkan asap pembakaran tadipun tidak mengenainya. Ritual Pembuktian Akhir (Brentas) dilakukan dan dipimpin oleh orang-orang yang berpengalaman khusus atau mempunyai kemampuan supranatural seperti seorang Balian dan dengan menggunakan mantra-mantra dan ritual khusus. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi kayu, ubi jalar, holtikultura, kacang, jagung, terong, humbut manau, humbut irit, humbut sawit, lombok, bayam, kangkung, sawi, rabutan, durian, cempedak, mangis
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar Mengkudu dan Buah Mengkudu Janggut Kucing, Akar Pasak Bumi (Sakit Pinggang), Akar Saluang Belom, Akar Kuning (Biri2/Penyakit Kuning), Pucuk Nangka Belanda, Kulit Kapuk (Obat Diabetes), Pucuk Kayu Kereho (Obat Sakit Mag), Akar Tawar Seribu (Malaria), Rumput Buncar (Obat Mencret), Akan Pohon Mengkudu Hutan (Obat Kena Sembelit), Bungon Dusun (Obat Panas Dalam), Akar Beriwit Betung (Obat Batuk), Ganggang (Obat Batuk), Akar Cocok Bebek (Obat Batuk, dan Diare), Akar Sangkarukut (Obat Demam dan Sakit Perut), - Kulat Jala Langit (Pupur wajah),
Papan dan Bahan Infrastruktur - Pohon Kayu Ulin/Teluyen digunakan untuk tiang dan tongkat bangunan; - Pohon kayu Benuang digunakan untuk gelagar, galang dada, guntung, malang, kasau, papan, bangunan; - Pohon Kayu Meranti/Kayu alas digunakan untuk reng, malang bangunan;
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sarai/Serei, Kunyit, Kencur/Sakur, Lengkuas/Lengkuah, Jahe/lie, Bawang Ume, Sahang (bumbu dapur)
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet dan Uwei/Rotan,