Wilayah Adat

Menua Iban Kulan

 Terverifikasi

Nama Komunitas Iban Menua Kulan
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Emban Hulu
Desa Batu Lintang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.299 Ha
Satuan Menua Iban Kulan
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Dusun Ungak Desa Langan Baru: Tanda Alam: Munggu Labok, Sungai Setapang, Sungai Enteli, Sungai Selepong, Sungai Sibabai Tekalong, Bukit Nyarai Repa, Bukit Kulan, Bukit Bukuh, Mperan Gerungan, Genting Bukit Empegal, Desa Ulak Pauk-Desa Langan Baru-Desa Batu Lintang Dusun Sungai Belian: Tanda Alam: Tingting Selemak, Tucung Engkulut, Genting Ran, Genting Empili, Bukit Bukuh, Tinting Sepan, Tingting Setapang Mit, Sungai Setapang Besar, Tingting Setapang Nangsang, Tinnting Bukoh, Tingting Sentekong
Batas Selatan Dusun Ulak Kratom Desa Ulak Pauk: Tanda Alam: Sungai Lepong Beloh Pujan, Nanga Sunga Kara, Dusun Kulan dengan Desa Ulak Pauk, Desa Batu Lintang-Lengan Baru-Ulak Pauk
Batas Timur Dusun Sungai Utik Desa Batu Lintang: Tanda Alam: Sungai Kulan, Sungai Bilak Kanan, Tingting Kaden, Tingting Sesak Bara Janggut, Bukit Tanah Tusur, Sungai Sepanto, Bukit Perimpah Ngadet, Tugu Jawa, Bukit Lambir, Tatai Tapang, Sungai Engkelumbe, Tingting Rimba Daun, Bukit Demam, Bukit Ntawa, Bukit Sepan, Jalai Lintas Utara, Jalai Lintang, Sungai Bakong, Sungai Pujong, Sungai Tapang Mengerih, Nanga Sungai Mawang Pujan, Lubuk Lempaung Pujan
Batas Utara Desa Tamao Dusun Krangkang: Tanda Alam: Tingting Kelulut, Padang Rimba Nyumboh

Kependudukan

Jumlah KK 70
Jumlah Laki-laki 132
Jumlah Perempuan 130
Mata Pencaharian utama Petani Karet, Padi, sayur

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat yang mendiami kampung kulan adalah masyarakat suku iban yang berasal dari Batang ae (Malaysia). Mereka sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tempat-tempat yang menjadi bekas rumah Panjang disebut dengan temawai. Adapun perpindahan yang terjadi saat di Wilayah Adat Kulan adalah sebaagi berikut: awalnya Masyarakat Adat Kulan mulai bermukim di Temawae Kerakar. Dari Temawae Kerakar pada tahun1905 pindah ke Temawai Biro dengan Tuai Rumah Lapik. Kemudian tahun 1908 menuju arah utara melalui sungai kulan menuju Temawai Rengat. Tahun 1921 menyusuri sungai kulan kearah utara pindah ke Temawi Rerak. Tahun 1929 pindah lagi ke Temawai Tayak dengan Tuai Rumah Ajan. Tahun 1937 pindah ke Temawai Nanga Tekalong. Tahun 1945 pindah ke Temawai Loangan dengan Tuai Rumah Gae. Tahun 1949 pindah ke Temawai Ulak Paok dengan Tuai Rumah Tungkang. Tahun 1952 pindah ke Temawai Cundung dengan Tuai Rumah Jabit. Tahun 1960 pindah ke Temawai Mekao dengan Tuai Rumah Guek. Tahun 1963 pindah ke Temawai Pisang dengan Tuai Rumah Jawak. Tahun 1965 pindah ke Temawai Tetak dengan Tuai Rumah Kurung. Tahun 1974 pindah ke Temawai Nanga Nyeruai dengan Tuai Rumah Jaring. Tahun 1978 pindah ke Temawai Ringkap dengan Tuai Rumah Miau. Tahun 1981 pindah ke Temawai Inyak. Tahun 1996 pindah ke Temawai Rian Gerinang dengan Tuai rumah Miau. Tahun 2005 - sekarang pindah ke Tatai Kesindok dengan Tuai Rumah Jebing yang saat ini juga merupakan Temenggung Jalai Lintang.
Selama di Wilayah Adat Menua Kulan Terjadi perpindahan kampung sebanyak 16 mulai dari Temawai Kerakar sampai akhirnya menetap hingga sekarang di Tatai Kesindok. Dengan pergantian Tuai Rumah sebanyak 11 kali diantaranya: Tuai Rumah Lapik, Ajan, Gae, Tungkang, Jabit, Guek, Jawak, Kurung, Jaring, Miau dan saat ini Tuai Rumah dijabat oleh Jebing. Adapun alasan dari perpindahan kampung tersebut diantaranya: 1. Ketika rumah Panjang mereka rusak mereka tidak boleh merehapnya kembali. Oleh sebab itu mereka harus mencari tempat lain untuk membangun tumah Panjang yang baru.
2. Sering terjadi kematian karena berbagai penyakit
3. Sering tergenang air karena lokasi yang yang mereka diami merupakan dataran rendah sehingga mereka merasa sulit untuk berladang.
4. anak-anak terlalu jauh dari sekolah
5. Tempat yang terlalu sepi.

Dalam sejarahnya selain perpindahan kampung juga tercatat beberapa peristiwa yang terjadi. Interaksi yang terjadi antara komunitas adat dengan Belanda pada waktu itu bersifat netral artinya tidak ada perlawanan atau peperangan yang terjadi. Masuknya beberapa tanaman komoditas seperti karet yang pada waktu itu masyarakar adat bekerja sebagai buruh penoreh karet pada orang belanda. Pembuatan jalan yang pertama kali ada pada zaman itu yang sampai saat ini disebut dengan jalan lintang. Selain itu juga terjadi misionaris agama (katolik) yang terjadi pada tahun 1913 yang dibawa oleh Pastor dari belanda.
Pada zaman Jepang terjadi kekerasan pada masyarakat adat sehingga pada waktu itu masyarakat adat masih tinggal di Temawai Tayak mengadakan perlawanan dengan tentara Jepang dibawah kepemimpinan oleh Tuai Rumah Gae. Walaupun pada akhirnya bersepakat untuk berdamai. Masyarakat juga mengalami kerja paksa atau kerja rodi. Terjadi kesulitan pangan karena hampir semua hasil bumi dirampas oleh tantara jepang.
- Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia terjadi perubahan tata pemerintahan. Dari penyebutan Kedemangan diganti menjadi kubu dan berubah kembali menjadi camat. Perubahan yang terjadi tidak merubah nama, tetap menggunakan nama “Embaloh Hulu”. Mulai terbentuknya dusun yang pada waktu itu disebut dengan kampung. Sehingga pimpinan wilayahnya menjadi kepala kampung. Saat itu sudah terbentuk 7 kampung yang semuanya berada dalam wilayah ketemenggungan Jalai Lintang. Kepala kampung terbentuk pada tahun 1965, pada waktu itu Tuai Rumah Kurung yang menjadi kepala kampung.
- Pada tahun 2007 Desa Langan Baru terjadi pemekaran, dan terbentuklah Desa Batu Lintang. Adapun Kepala Desa yang pertama dijabat oleh pak Paruna
Tidak diketahui secara pasti Masuknya perusahaan: PT. Bumi raya, PT Benua Indah, PT GAT yang bergerak pada bidang usaha perkayuan Log. Walaupun berada di wilayah adat kulan ketiga Konsensi tersebut Tidak ada konflik dengan komunitas yang mendiami wilayah adat setempat. Saat ini wilayah yang ada di Menua Kulan berada pada fungsi Kawasan HL, APL, HP, HPT. Saat ini juga tidak ada konflik dengan apparat pemerintah terkait dengan status Kawasan tersebut. Saat ini masyarakat melihat peluang yang diberikan Pemerintah dengan mengajukan skema hutan adat. Ini dilakukan untuk mengamankan wilayahnya sehingga dapat dikelola kembali oleh masyarakat adat setempat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Rumah Panjai (Rumah Panjang/Pemukiman)
Merupakan kawasan pemukiman penduduk. Rumah Panjai terdiri dari beberapa keluarga yang tinggal pada tiap-tiap bilik (ruang rumah). Rumah panjai ini menunjukan suatu identitas bagi masyarakat adat. Di dalam rumah panjai kegiatan budaya masyarakat Dayak Iban diturunkan dari generasi ke generasi. Rumah panjai ini tetap akan dipertahankan karena merupakan aset budaya, meskipun secara bangunan fisik bahan yang digunanan untuk mebangun rumah panjang Kulan sudah di katakan moderen namun bentuk bangunan tidak menghilang budaya dan tradisi yang ada di Menua Kulan.
2. Temawai
Adalah suatu kawasan bekas mendirikan rumah panjae atau langkau (pondok). Dalam masyarakat Iban Kulan dikenal tiga jenis temawai :
- Temawai rumah Panjai merupakan suatu perkampungan yang dihuni selama beberapa tahun, kemudian ditinggalkan, karena pindah kepemukiman yang baru. Temawai biasanya ditumbuhi beragam jenis tanaman buah-buahan seperti durian, rambutan, langsat, asam, pinang, cempedak, rambai dan lain-lainnya. Selain ditumbuhi oleh tanaman buah-buahan juga ditumbuhi oleh tanaman lain seperti rotan, tengkawang, dan bermacam jenis tanaman bumbu-bumbuan. Temawai ini tidak boleh diladangi atau dirusak, karena menujukan identitas masyarakat tersebut
- Temawai dampa’ (sementara), suatu lokasi bekas perkampungan rumah panjai namun sifatnya sementara karena masyarakat lari dari perkampungan tersebut akibat suatu kejadian yang tidak mereka duga. Temawai ini biasanya ditempati 1-2 tahun, tidak dtanami tanaman.
- Temawai langkao Umai, suatu tempat bekas mendirikan pondok ladang. Disekitar pondok ladang biasanya ditanami tanaman sayur-sayuran, bumbu-bumbuan, pisang, dan lain-lain. Tanaman yang tumbuh di temawai ini kemudian menjadi milik yang punya langkao dan keluarganya.

3. Damun
Suatu kawasan bekas ladang, yang mulanya adalah hutan atau lahan yang belum dibuka dengan tutupan lahan berupa tanaman kayu-kayu besar. Orang pertama yang membuka lahan ini yang kemudian menjadi pemilik damun. Damun dapat dibagi menjadi lima:
- Pengerang Tuai: damun yang berumur antara 15 – 20 tahun
- Pengerang, suatu damunyang berumur antara 10 – 15 tahun
- Temuda: sutau kawasan damun yang berumur antara 3 – 5 tahun
- Dijab, suatu damun yang berumur 2 tahun. Biasanya dijab sudah merupakan kawasan semak belukar yang ditumbuhi oleh kayu-kayu kecil dan masih ada tanaman ladang seperti tebu, pisang, ubi, tanaman sayur-sayuran, ubi jalar, keladi dan lain-lain.
- Kerukoh, damun yang berumur 1 tahun yang biasanya masih terdapat tanaman ladang seperti tebu, keladi, ubi dan cangkok manis, bumbu-bumbuan dan lain-lain serta ditumbuhi semak-semak kecil.
Ada beberapa titik penting yang terdapat di kampung yaitu: kuburan atau Pendam. Pendam merupakan tanah yang digunakan sebagai tempat perkuburan. Kawasan ini tidak boleh diladangi dan diganggu. Ada beberapa jenis pendam antara lain:
- Pendam biasa: adalah tempat yang dapat digunakan untuk menguburkan siapapun warga kampung yang meninggal.
- Rarong: tanah kuburan yang secara khusus diperuntukan bagi orang-orang yang meninggal dalam usia tua yang memilki jasa.
- Pulau temune’, kuburan yang digunakan untuk menguburkan tali pusat bayi.
Selain pendam ada juga Redas yang merupakan tempat untuk berkebun sayur-sayuran. Dan juga ada Tanah Endor Nampok merupakan kawasan/tempat yang digunakan sebagai tempat bertapa atau semadi. Kawasan ini tidak boleh dijadikan sebagai areal ladang.

4. Pulau
- Merupakan lahan yang sudah pernah dibuka sebelumnya tetapi tidak diperuntukkan untuk berladang. Pulau difungsikan oleh Masyarakat adat sebagai lahan cadangan. Ada beberapa jenis pulau seperti pulau buah, pulau tapang, dan pulau kayu bahan-bahan rumah. Kawasan ini tidak boleh diladangi. Kayu yang ada hanya boleh dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan tidak untuk diperjual belikan. Ada beberapa bagian pulau antara lain:
- Pulau mali adalah suatu kawasan hutan/tanah pantang yang tidak boleh dibuka sebagai areal ladang. Apa yang ada diatasnya seperti kayu dan lainnya tidak boleh diambil oleh siapapun. Biasanya tanah mali digunakan sebagai tempat untuk menyembelih babi/ayam yang digunakan sebagai bahan pada saat upacara adat mali yang dalam bahasa lokal disebut “pase’ menua”.
- Pulau Api adalah sebuah kawasan yang di tentukan oleh masyarakat setempat untuk mengantar “apai” bagi orang yang baru meningal selama 3 hari.
- Pulau Temunik adalah sebuah tempat di tentukan oleh masyarakat untuk menyimpan “temuni bayi” yang baru lahir.
Didalam pulau juga terdapat Tapang Manye yang merupakan pohon tempat bersarangnya lebah madu. Jenis pohon yang bisasanya menjadi tempat bersarangnya lebah adalah pohon tapang, pohon pelaik, pohon keladan, mengereh, dan pohon lainnya. Semua pohon yang sering dihinggapi lebah lebih dari satu sarang dinamakan tapang.

5. Tanah Kerapa
Merupakan Kawasan lahan basah atau yang biasa dikenal sebagai tanah rawa. Oleh masyarakat iban Kulan tanah kerapa dimanfaatkan untuk mengambil kayu secara terbatas dan ada juga tempat yang dilindungi. Adapun tutupan lahan dalan tanah kerapa yaitu: Rotan, Kayu, Ikan.

6. Umai
kawasan yang diperuntukan untuk menanam padi. Sebelumnya umai merupakan kampung yang nantinya akan menjadi damun. Tutupan lahan yang ada di umai seperti: padi, jagung, singkong, ubi, keladi

7. Kampong
Merupakan Tanah/hutan yang dimiliki secara kolektif (bersama-sama) oleh orang keturunan masyarakat Iban Kulan yang di dalam suatu perkampungan yang didiaminya. Setiap orang Iban Kulan yang tinggal di kawasan tersebut berhak atas tanah/hutan tersebut. Secara fungsi Kampung dimanfaatkan untuk pengambilan kayu secara terbatas, Adapun tutupan lahan yang ada di kampung berupa kayu-kayu besar, Buah Hutan, sayur, beraneka jenis burung, monyet, ular, babi rusa, Kelempiau. Dalam pembagian kampung sendiri ada yang Namanya Kampung Taroh yang merupakan kampung yang tidak bisa diladangi. Dan Kampung Galao yang merupakan lahan cadangan. Ada titik-titik penting yang terdapat di dalam kampung seperti kayu ara yang digunakan sebagai tempat ritual dan mata air.

8. Kebun Karet
Merupakan lahan damun atau pulau yang mayoritas berisi tanaman karet. Secara fungsi sebagai pemanfaatan, sarana produksi dan budidaya. Adapun jenis tutupan lahannya berupa: karet (mayoritas), Buah, bamboo, dan beberapa tanaman kayu.

 
Kepemilikan dalam Iban Kulan langsung menyebutkan dengan kata “Mpu”. Yang artinya sebenarnya sudah mencerminkan hak. Misalnya: “Mpu Urang Mayo” artinya milik umum atau milik Bersama, “Mpu kitai” artinya milik kita. Ada kepemilikan Bersama dan kepemilikan perorangan. Damun di kuasai secara pribadi. Cara mendapatkannya dengan berimak atau membuka lahan yang terlebih dahulu ijin dengan Tuai Rumah. Kepemilikan damun adalah peorangan, yang bisa diwariskan kepada keluarganya. Penguasaan Umai paya dimiliki secara perorangan atau individu. Tergantung dari siapa yang membuka umai paya terlebih dahulu. Tempat untuk membuat umai payabisa dengan membuka damun atau kampung kerapa. Lahan umai paya ini bisa diwariskan kepada generasi penerusnya. Penguasaan Pulau bisa dimiliki Bersama-sama ataupun perorangan. Penguasaan Temawai secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Penguasaan Kampung secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Penguasaan Rumah panjai (Pemukiman) secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Kampung Kerapa dikuasai secara Bersama atau komunal dibawah pengatuarn Tuai rumah. Kebun karet dikuasai secara pribadi dan pemindah tanganannya melalui warisan.  

Kelembagaan Adat

Nama Tuai Rumah Kulan
Struktur 1 Tuai Rumah 2 Sapit atau Jeragan - Sapit Hulu - Sapit Hilir Syarat untuk menjadi Tuai Rumah: - Tidak harus dalam satu keturunan - Ditetapkan melalui musyawarah adat. orang yang ditunjuk sebagai Tuai rumah, apabila dalam waktu 3 hari mendapatkan mimpi tertimpa musibah maka itu pertanda bahwa ia tidak direstui untuk menjadi Tua Rumah. Selain mimpi ada juga pertanda suara burung. Apabila itu terjadi maka masyarakat adat harus melakukan musyawarah kembali untuk memilih Tuai Rumah yang baru. Setelah terpilih Tuai Rumah, kemudian Tua Rumah memilih sapit untuk membantu tugas-tugasnya. Periode masa jabatan antara Tuai Rumah dan Sapit tidak ditentukan. Selama ia merasa masih mau dan mampu maka selama itu ia masih menjabat sebagai Tuai Rumah dan Sapit.
Tugas Tuai Rumah:
1. Mengatur Perladangan
2. Mengatur Pembagian Lahan
3. Memimpin Ritual adat
4. Memimpin Peradilan Adat
5. Menjaga kerukunan dan keamanan masyarakat
Tugas Sapit Rumah:
1. Mengantikan Tuai Rumah apabila sedang berhalangan. Sapit Rumah dapat mengambil keputusan baik itu dalam hal perladangan, ritual adat, dan peradilan adat. Tetapi tidak boleh mengambil keputusan yang terkait dengan tanah atau lahan.
 
Setiap keputusan yang diambil harus melalui musyawarah adat. Musyawarah 2 tingkatan tergantung dari topik apa dan siapa yang akan hadir pada musyawarah tersebut.
- Musyawarah Kecil disebut dengan “Berandou Ruai”. Msyawarah ini biasa membahas tentang Perladangan, pembuatan atau pembangunan rumah, dan gotong royong. Orang yang hadir pada musyawarah ini juga terbatas, hanya orang-orang tertentu yang ditentukan oleh Tuai rumah.
- Musyawarah Besar disebut dengan “ Baum”. Musyawarah ini biasanya membahas tentang pemilihan Tuai Rumah, Peradilan adat, Ritual Adat, dan Pembukaan Lahan. Orang yang bisa hadir pada musyawarah ini adalah semua masyarakat adat.
Adapun secara umum tahapan-tahapan dalam melaksanakan Berandou atau Baum adalah:
1. Nesalu; Penyampaian informasi secara lisan dari bilik ke bilik dalam satu rumah Panjang. Ini dilakukan oleh orang yang ditunjuk oleh Tuai rumah.
2. Tuai Rumah Dulok Bejako; Pembukaan dari Tuai rumah dengan menyampaikan maksud dan tujuan dalam pelaksanaan Berandaou ataupun Baum
3. Berunding; Proses diskusi yang melibatkan seluruh masyarakat yang hadir.
4. Semaya; Pengambilan keputusan yang harus dilaksanakan. Keputusan yang diambil tidak boleh diganggu gugat. Dan apabila terjadi perubahan karena satu dan lain hal akan dimusyawarahkan kembali berdasarkan keputusan dari Tuai Rumah.
Setiap pelaksanaan Berandou atau Baum selalu di awali dengan “Bedara” (Ritual adat). Ada pun sarana yang digunakan berupa persembahan (Pedara) yang terdiri dari: Telor ayam, Randai (pulut yang digoreng tanpa minyak), Tumpeki, Pulut, Sirih, Pinang, Sedik, kapok dan garam. Pelaksanaannya Pedara tersebut ditaruh ditempat bermusyawarah kemudian dikitari dengan ayam sambal dibacakan mantra-mantra oleh Tuai rumah. Kegiatan ini biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah panjai Bilik Tuai rumah
Adapun tujuan dari dilakukan ritual ini supaya pertemuan berjalan lancar, tidak ada gangguan, dan hasil yang disepakati mendapat restu dari leluhur.
 

Hukum Adat

- Ketika sedang panen tidak boleh ada orang yang menebang kayu
- Dilarang membawa kura-kura melewati ladang
- Dilarang makan sambal berjalan melintasi ladang
- Tidak boleh memanjat pohon buah di tepi ladang
- Tidak boleh menarik rotan, tidak boleh menguliti atau mengupas kulit kayu yang ada di ladang
- Dilarang membuka jalan melintasi ladang orang lain.
- Tidak boleh bercocok tanam dan mengambil hasil produksi di damun orang lain tanpa seijin dari pemiliknya.
Tidak boleh mengambil anakan tanaman di kebun karet orang tanpa seijin pemiliknya
Apabila aturan-aturan tersebut dilanggar maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. Denda tersebut tertuang dalam “Penti Pamali”
 
A. Adat Pati Nyawa (menghilangkan jiwa orang)
a. Unsur tidak sengaja: Jika sangsi berupa benda-benda adat: Satu buah tempayan jenis legiau sama dengan Dua (2) Buah Ningka Betanda sama dengan empat Buah Menaga sama dengan 8 buah Tajau Rusa. Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
b. Unsur sengaja: Satu (1) buah tempayan jenis legiau sama dengan Dua (2) Buah Ningka Betanda sama dengan empat Buah Menaga sama dengan 8 buah Tajau Rusa. Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10. Di tambah satu buah tajau(Tempayan) rusa
c. Adat Setengah pati nyawa (mencelakaan jiwa orang lain): Paling tinggi 4 buah tajau rusa. Penti pemali: Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5.
Bila diuangkan:
1. satu buah tempayan legiau Rp. 40.000.000
2. satu buah tempayan ningka betanda Rp. 20.000.000
3. satu buah tempayan menaga Rp. 10.000.000
4. satu buah tempayan Rusa Rp. 5.000.000
5. satu buah tempayan pungkal Rp. 5.000.000
B. Adat Ngangus (Mebakar, Kebakaran)
1. menghanguskan rumah orang (unsur Sengaja)
Sanksi : jika pelaku masih satu kampung , maka orang itu di usir dari kampung. Ganti rugi: Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
2. unsur tidak sengaja
Ganti rugi berupa: jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
C. Ukom adat Belaki Bebini
1. Jika terjadi perselingkuhan antara Bujangan dengan istri orang, Gadis dengan suami orang, suami orang dengan istri orang akan dikenakan sanksi: enam alas.
2. perceraian suami/istri tidak maenerima suami/ istri tidak ada kejelasan masalah akan dikenakan Sangsi : dua belas alas.
Kena adat pemae anak (pemberian kepada anak)
Apabila diuangkan: Alas biasa = Rp 500.000, Kuna = Rp 50.000
D. Adat Belaki Bebini (Dalam Pernikahan)
1. Adat meminta menantu atau meminta istri, Barang yang di gunakan: cincin emas 5 gr, kalung emas 7 gr, alat kecantikan untuk calaon istri,
2. Adat melah pinang ( baru jadi ), Barang dan perlatan yang digunakan dalam acara adat : Satu buah tempayan, babi, ayam jago, uras pinang paling kecil 100.000, utai bebrambar(kain yang ada nilainya, tuak satu tempayan ( disbentu aek pinang), pedara buat ritual sejenin sesajen dengan jumlah piring sembilan, dll.
E. Adat Encuri (Pencuri/mengambil )
1. mencuri kayu di wilayah/ masuk batas wilayah orang lain : Kayu di pulangkan ke pemilik asli wilayah, kena sangksi adat : dua alas.
2. mencuri di ladang orang, Sangksi adat : satu alas + penti pemali : Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5.
F. Adat Ngemula/Ngerakar
1. mebohongi orang kena sangsi : satu Alas
2. penipuan dalam hal barang maupun lainnya
Sangsi : satu alas + penti pemali : Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5
G. Adat Ngeranggar (Pelanggaran)
1. Mengambil tanah atau melewati batas wilayah orang lain, Sanksi: Ganti rugi, Penti Pemali : Babi paling kurang 3 sepa ( tiga kali beranak ), ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 10 + lapor kepada pihak berwewenang.
2. merusak tanah atau rumah. Kena sangsi : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 10. Jika ada yang meningal di kampung, kembali ke sangsi adat pati nyawa, Jika ada yang sakit, kembali ke adat setengah pati nyawa, Jika korban perusakan tanah / rumah lalu meningalkan barang nya maka pelaku mebayar kerugian barang rumah atau tanah si korban.
H. Adat Laya (Perkelahian)
1. perkelahian dengan memegang senapang, Sanksi : Empat Alas + penti pemali : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
2. perkelahian memegang barang tajam, Sanksi : tiga alas + penti pemali : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
I. Adat Pemalu (Pencemaran Nama Baik)
1. Mengatakan orang pendatang/menumpang/bukan asli keturunan yang berada di wilayah tersebut, tetapi pada kenyataannya si korban merupakan asli dari keturunan yang memiliki wilayah tersebut. Sanksi: Satu alas = 500.000
2. prasangka buruk kepada orang tanpa ada bukti. Jika tuduhan menyangkut perkara besar maka sangsi : Dua Kuna = 50.000. Jika tuduhan menyangkut perkara kecil maka sangsi : satu Kuna
J. Penti Pemali
1. Rejang ruas (bejalan dirumah panjang masuk dari ujung rumah panjang samapai ke hujung lagi dan keluar tanpa berhenti atau duduk dalam rumah panjang). Sanksi : dua kuna + ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
2. mebongkar rumah panjang atau pindah tanpa ada maslah apapun, Sanksi Berupa Penti pemali : satu ekor babi bertaring, ayam satu, parang nyabor, beliung, piring, karong kerubong mungkol 10.
 
Pada bulan mei 2019 terjadi kasus perkelahian antar orang yang bukan dari komunitas. Perkaranya terjadi di jembatan besar sungai kulan. Tuai Rumah mendapat laporan dari teman yang bersangkutan dan akhirnya mendatangi ke tempat perkelahian tersebut. Setelah mendengar penjelasan dari masing-masing pihak, dijatuhkanlah denda “Penti Pemali” berupa: ayam, piring, parang, uang Rp. 100.000. denda ini wajib dibayar oleh siapa yang dianggap memulai perkara. Dan Tuai Rumah wajib menjatuhkan sanski kepada yang bersangkutan karena telah membuat keributan di wilayah Menua Kulan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, Jagung, sagu, Ubi, Singkong, Keladi Protein Nabati: Kacang Lendir (Retak Tanak) Protein Hewani: ayam, bai, kera, beruk, tupai, musang, ular, ikan palau, ikan bantak, ikan engkarik, ikan pujam, ikan kenyuar, ikan seluang, ikan patin, ikan baung, lele, bawal, udang, kepiting, labi-labi, tilan, katak (pamak), tengkuyung (siput), Sayur: daun cangkok, kangkong, daun empasa, daun papaya, sepia, umbut panto, umbut sawit, umbut kelapa (inyak), rebung, keminding, pakis ikan, pakok keruk, pakok pait, pakok mani, pako kelei, jengkol, petei kampung, terong, timun, terong asam. Buah: Rambutan, pisang, durian, buah asam, empelam, salam, langsat, rambai, jambu biji, jeruk nipis, jeruk bali, buah naga.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Kunyit untuk obat luka - Jahe untuk obat pemulihan sehabis melahirkan - Entemu untuk obat memar - Encekur untuk obat batuk - Jeranggau untuk obat sakit perut - Akar Kuning untuk obat hepatitis - Pasak Bumi untuk obat batuk - Ruan untuk obat gatal-gatal - Sirih untuk penguat gigi - Pinang untuk penguat gigi - Kulit Kayu Ara untuk sakit perut - Buah Pulo untuk obat sakit mata - Daun Keratom untuk obat darah tinggi - Kulit Keniwang untuk obat sariawan - Serai untuk obat darah tinggi - Kulit Manggis untuk obat penurun kolesterol - Daun Aras: untuk menghaluskan kulit - Pakok kelek untuk penyembuhan luka.
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang bangunan: Kayu keliang, tekam, selangking, medang semat Papan/Dinding: Meranti putih, meranti merah, meranti kapas, kayu tengkawang, benuang, pelai, kedang pasa. Atap bangunan: kayu tebelian, resak, keladang
Sumber Sandang Pakaian kayu: kulit kayu tekalong, kulit kayu puduk
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Serai, salam, daun tubuk, jahe, kunyit, encekur, kucai, cucung lembak (Bawang Dayak), cucung kecala.
Sumber Pendapatan Ekonomi 1. Karet, pemasarannya diambil pengepul dengan harga Rp. 7000/kg. dalam setahun panen 4 kali dengan hasil sekali panen sebanyak 30 Kg. 2. Daun Keratom , Pemasarannya diambil oleh pengepul dengan harga Rp. 17.000. dalam setahun panen 2 kali dengan hasil sekali panen sebanyak 500 Kg