Wilayah Adat

Wewidangan Desa Adat Mujaning Tembeling

 Teregistrasi

Nama Komunitas Krama Adat Mujaning Tembeling
Propinsi Bali
Kabupaten/Kota KLUNGKUNG
Kecamatan Nusa Penida
Desa Batumadeg
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 389 Ha
Satuan Wewidangan Desa Adat Mujaning Tembeling
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Banjar Adat Salak, Desa Batumadeg. Mulai dari jalan Banjar Adat Salak, ke rumah Limo Bali, kearah kebun Batumadeg, mengikuti batas kebun sampai di bukit diatas Jembatan Ipil, turun ke jalan Tembeling, mengikuti jalan sampai ke Jembatan Ipil, mengikuti Tebing sampai ditebing atas.
Batas Selatan Samudra Hindia. Mulai dari tebing atas menuju tebing bawah, mengikuti pantai, sampai ke tebing bawah bagian timur kemudian naik ke Tukad Bilis.
Batas Timur 1. Banjar Adat Macang, Desa Adat Tribuana Sekar sari, Desa Batumadeg mulai dari Tukad bilis, menuju tegal….ke Lembah Kalipapa, menuju batas Tegal Pak Niti, ke tegal Pak Suama, Ke Tegal Nang Rujeg, Tegal Wayan Rugeg, ke Tegal Nang Miarsa, ke Tegal Pak Gatru, ke Jalan Banjar Adat Macang, menuju Tegal Kak ketut pastika, ke Tegal Pak Catur, ke Tegal Pak Gede Jaya, sampai ke Tegal Pak Suti. 2. Banjar Adat Pangkung Gede, Desa Adat Tribuana sekarsari, Desa Batumadeg. Mulai dari Tegal Pak Sut, mengikuti Jalan Plang Batas Mujaning Tembeling, lalu ke Tukad Bayan. 3. Banjar Adat Sukun, Desa Adat Batukandik, Desa Batukandik. Mulai dari Tukad Bayan sampai ke Tegal Nyoman Satra. 4. Banjar Adat Batukandik, Desa Adat Batu Kandik, Desa Batukandik. Mulai dari Tegal Nyoman Satra, sampai ke Plang Batas Mujaning Tembeling, menuju tanah milik Wayan Suladra, menuju tanah Wayan A lot, menuju Tegal Pak Selasa. 5. Banjar Adat Batuguling, Desa Adat Triwahana Dharma, Desa Batukandik. Mulai dari: Tegal Pak Selasa menuju tegal milik Kadek Lama, menuju tanah milik Nyoman Sadya, menuju tanah pak Wayan Tengah, menuju tanah Wayan Sana, berakhir di tanah Pak Gemuh
Batas Utara 1. Banjar Adat Tengaksa, Desa Adat Panca Mekar sari, Desa Batumadeg. Mulai dari: Tanah Pak Gemuh, Tanah Nang Tayar, Tanah Wayan Mangku, mengikuti jalan poros sampai di pengkolan jalan menuju Hutan Pura Saab. 2. Banjar Adat Lipa, Desa Adat Batumadeg, Desa Batumadeg. Mulai dari jalan menuju Pura Saab, mengikuti batas Hutan Pura Saab sampai tanah Wayan Tengah. 3. Banjar Adat Secang, Desa Adat Batumadeg, Desa Batumadeg. Mulai dari tanah Wayan Tengah, ke Tukad Songan. 4. Banjar Adat Prembon, Desa Batumadeg, Desa Batumadeg. Mulai dari Tukad Songan ke tanah Pak Parta, ke Tukad Meleletan, ke titik batasTiga Wilayah. 5. Banjar Adat Mawan, Desa Batumadeg, Desa Batumadeg. Mulai dari titik batas Tiga Wilayah, ke Tukad Meleletan lalu turun menuju Lembah, ke jalan Banjar Salak.

Kependudukan

Jumlah KK 140
Jumlah Laki-laki 167
Jumlah Perempuan 282
Mata Pencaharian utama Petani (lahan kering), peternak (skala rumah tangga), pengusaha kecil, dan pekerja swasta

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Desa Adat Mujaning Tembeling terdiri dari tiga banjar adat, yaitu: Banjar Saren, Banjar Dehan dan Banjar Pangkung Anyar. Ketiga banjar ini masing-masing memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Secara umum nama Mujaning Tembeling berasal dari kata Mujanan, yaitu nama Pura yang terkait dengan kisah di Banjar Adat Saren. Sedangkan kata Tembeling berasal dari nama sumber mata air yang terletak didalam hutan.
Sejarah Banjar Saren termuat dalam Kutipan Prasasti Buncing Saren Pejeng. Dalam Prasasti tersebut tersirat batas-batas wewidangan meliputi: sebelah timur (utara kompas) adalah Pengalusan, batas utara (barat laut kompas) adalah Limo Bali, batas barat (barat daya kompas) adalah Tembeling, dan batas selatan (Timur kompas) adalah Gunung Dalwang yang sekarang bernama Gunung Sekar. Wewidangan ini merupakan pemberian dari Raja Dalem Klungkung karena jasa dari leluhur mereka (Ida Gede Maos) dalam mengajarkan agama dan kebaikan.
Selain sejarah yang termuat dalam prasasti, ada juga sejarah yang diyakini warga Saren secara turun temurun. Diceritakan dahulu ada masyarakat menggarap lahan pertanian. Seperti petani pada umumnya selain mengolah lahan pertanian mereka juga menggembalakan sapi. Suatu sore, sapi milik salah satu warga belum kembali dari tempat penggembalaan hingga sore hari. Keesokan harinya pemilik sapi mengikuti kemana sapi tersebut pergi. Warga Saren yang tidak diketahui namanya tersebut berjalan menuju belantara hutan yang sangat lebat. Didalam hutan ditemukanlah “Kelebutan” (mata air yang muncul dari permukaan tanah) di kawasa Mujanan. Sehingga para pengelisir atau orang tua disana membuatkan Pura yang diberi nama Pura Pemujanan. Pemujanan berasal dari kata Puja yang artinya tempat memuja. Karena peruntukannya untuk memuliakan sumber air, maka Pura Pemujanan disebut sebagai tempat untuk memuja tirta yang sampai saat ini kawasan itu merupakan tempat yang disucikan dan disakralkan.
Selang beberapa waktu kemudian, ada warga yang dari luar Banjar Adat Saren mencuci benang merah di lokasi mata air Pura Pemujanan yang menyebabkan hilangnya mata air itu. Dengan kejadian itu membuat warga Saren kebingungan dan mulai mencari dimana keberadaan sumber air itu. Suatu Ketika ada seorang perempuan yang mendalami spiritual tinggi mendapat sabda lewat mimpi (pewisik). Untuk mencari air yang hilang itu harus warga Saren yang sedang hamil. Ada Perempuan yang sedang hamil kala itu berjalan kearah barat dan ditemukanlah air tersebut di Pancuhan yang terletak di bawah tebing. Sumber air di Pancuhan ini tidak saja dimanfaatkan oleh warga Saren, tetapi juga dimanfaatkan oleh warga yang berada di Klungkung. Dahulu tidak ada larangan dalam pemanfaatan sumber air, semua orang yang memerlukan air bisa untuk mengaksesnya. Sehingga sebagai rasa bakti mereka yang memanfaatkan sumber air tersebut bersepakat untuk mendirikan Pura (tempat persembahyangan) yang disebut dengan Pura Hyang Pancuhan. Pancuhan artinya pancoran. Air yang keluar dari celah tebing-tebing. Lama kelamaan penyebutan pancoran menjadi pancuhan. Orang-orang yang merawat Pura dan yang memanfaatkan sumber air inilah yang disebut dengan pengempon. Karena sekarang sudah banyak masyarakat yang tidak memanfaatkan sumber air tersebut, sehingga mereka tidak lagi mengempon pura itu. Yang masih mengempon Pura saat ini adalah mereka yang masih memanfaatkan sumber air yang ada. Selain itu juga karena mereka memiliki keterikatan yang kuat serta tanggung jawab secara moral kepada leluhur. Karena yang menemukan sumber mata air yang sempat hilang tersebut adalah perempuan yang sedang hamil, maka kawasan sumber mata air itu sampai sekarang disebut dengan Tembeling. Dimana “Beling” dalam Bahasa Bali artinya hamil.
Satuan wilayah adat Saren merupakan banjar adat dengan struktur kelembagaan terdiri dari: kelian, juru raksa, penyarikan dan juru arah. Setelah Indonesia merdeka perubahan tatanan kelembagaan adat terjadi terlebih setelah terbentuknya Desa. Banjar Adat Saren berada di wilayah Desa Dinas Batumadeg. Pemimpin atau Kepala Desa pertama disebut dengan Perbekel. Desa Batumadeg terdiri dari 6 Dusun yang secara struktur kelembagaannya berbeda dengan banjar adat. Pembagian peran yang terjadi, untuk banjar adat lebih mengurus terkait dengan ritual adat dan peribadahan, sedangkan Desa Dinas menyangkut urusan administrasi.
Pada tahun 2003 terbentuklah Desa Adat Mujaning Tembeling. Seperti Desa Adat umumnya di Bali, Desa adat ini dibentuk berlandasakan konsep dan nilai filosofis Agama Hindu yang sifatnya sosial keagaman dan sosial kemasyarakatan. Fungsi dibentuknya Desa Adat ini untuk membantu pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan terutama dalam bidang keagamaan, kebudayaan dan kemasyarakatan, melaksanakan hukum adat dan istiadat dalam desa adat, memberikan kedudukan hukum menurut adat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial keadatan dan keagamaan, membina dan mengembangkan nilai-nilai adat Bali dalam rangka memperkaya, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Bali khususnya, menjaga, memelihara, dan memanfaatkan kekayaan desa adat untuk kesejahteraan masyarakat desa adat.
Telah disebut sebelumnya bahwa Desa Adat Mujaning Tembeling ini terdiri dari tiga Banjar adat yaitu: Banjar Adat Saren, Banjar Adat Dehan, dan Banjar Adat Pangkung Anyar. Ketiga banjar ini bisa membentuk Desa adat karena sudah memiliki unsur pokok Desa Adat yang terdiri atas: Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan yang merupakan perwujudan dari filosofis Tri Hita Karana. Parahyangan yang dimaksud merupakan hubungan harmonis antara krama Desa Adat dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam ikatan Kahyangan Desa atau Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem). Pawongan merupakan system sosial kemasyarakatan yang harmonis antara Krama di wewidangan desa adat. Sedangkan Palemahan merupakan system hubungan yang harmonis antara krama dengan lingkungan di wewidangan desa adat.
Masyarakat yang tinggal diketiga banjar adat tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan. Warga Saren merupakan soroh atau klan yang bernama Warih Brahmana Buncing Pejeng dengan kastanya bernama Brahmana Keninten. Warga masyarakat yang tinggal di Banjar Adat Pangkung Anyar sebelumnya berasal dari Banjar Pangkung Gede yang merupakan Soroh Dalem Yukut. Sedangkan warga masyarakat yang berada di Banjar Adat Dehan berasal dari Tusan Klungkung yang merupakan Soroh Pasek Pande. Tidak diketahui secara pasti tahun berapa mulai menetap di Saren. Batas yang digunakan dari dahulu sampai sekarang tidak ada perubahan, mengacu pada isi dari Kutipan Prasasti Buncing Saren Pejeng (Sejarah Banjar Adat Saren). Artinya batas tersebut sudah meliputi wilayah Dehan dan Pangkung anyar. Bisa dikatakan bahwa induk dari Desa Adat Mujaning Tembeling ini adalah Banjar Adat Saren.
Sebelum membentuk desa adat, satuan wilayah ketiga tempat ini berupa banjar adat dengan struktur kelembagaan sama dengan Banjar Adat saren, yaitu terdiri dari: kelian, juru raksa, penyarikan dan juru arah. Masing- masing banjar adat ini mempunyai kelembagaan. Ketika tiga wilayah ini sudah bergabung berarti ada struktur besarnya yang perangkatnya diambil dari masing-masing banjar adat. Dengan adanya Undang-Undang desa, ada tugas dan fungsi kelembagaan menjadi bertambah. Mulai dari pengurusan anggaran lebih terinci dalam penggunaan anggaran. Anggaran yang dikelola oleh desa adat bersumber dari anggaran provinsi yang langsung ke desa adat.
Tidak ada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada waktu zaman penjajahan Belanda. Tetapi saat penjajahan Jepang terjadi satu peristiwa penculikan tokoh adat yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya dan komunitas juga mengalami kerja paksa. Pada masa kedua penjajahan tersebut tidak ada perlawanan fisik yang terjadi.
Kehidupan masyarakat dengan cara bercocok tanam dan juga beternak dalam skala rumah tangga. Bercocok tanam biasanya dilakukan pada sasih kapat atau bulan oktober, tetapi saat ini kondisi cuaca sudah mulai adanya perubahan sehingga jadwal bercocok tanam juga mengalami perubahan. Tidak ada perubahan cara bercocok tanam yang dilakukan, hanya saja ada pengurangan dari segi penggarap itu sendiri. Kalau dulu semua orang menjadi petani saat ini jumlahnya lebih sedikit. Ini dikarenakan adanya perubahan mata pencaharian yang semula hanya di bidang pertanian saat ini berkembang ke pariwisata. Selain itu ada juga yang memilih untuk menjadi pegawai, berwiraswasta, dan merantau ke luar Desa.
Perkembangan sarana dan prasarana yang ada; Sekolah Dasar SD 2 Batumadeg sudah ada Ketika zaman Pemerintahan Presiden Soeharto. Sebelumnya masyarakat bersekolah ke luar desa terdekat. Awalnya sumber penerangan yang digunakan oleh warga masyarakat Mujaning Tembeling berupa Lampu templek minyak tanah atau petromak. Pada tahun 1997/1998 mulai ada program listrik masuk desa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat memanfaatkan air yang berasal dari mata air yang ada di Hutan Tembeling. Pada tahun 2006 sarana PDAM Air Guyangan sudah mulai masuk tetapi baru aktif beroperasi pada tahun 2015. Untuk pembangunan sarana dan prasarana sumber pembiayaan melalui Desa Dinas sedangkan Anggaran Desa Adat digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan “Parahyangan” (Ritual Adat), Badan Usaha Desa Adat, dan Lembaga Perkreditan Desa.
Pada Tahun 2014 kegiatan Pariwisata dibuka secara besar-besaran seiring dengan adanya Taman Festival Nusa Penida. Festival ini merupakan salah satu Program Kerja Bupati Klungkung untuk pengembangan pariwisata di Nusa Penida. Sejak itu Nusa Penida merupakan salah satu destinasi pariwisata di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan.
Tidak ada konflik terkait dengan tenurial yang ada, baik dengan komunitas yang berbatasan, pihak pemerintah ataupun konsesi. Krama adat saat ini ingin mempertegas status Kawasan yang ada di Hutan Tembeling. Karena selama ini belum ada kepastian yang jelas. Masyarakat beranggapan bahwa Hutan Tembeling masuk dalam kawasan hutan lindung pemerintah, sehingga saat ini Pengempon Pura Hyang Pancuhan yang memiliki hak terhadap pengelolaan hutan tersebut belum bisa mengelola secara maksimal. Setelah mendapat kejelasan melalui KPH Bali Timur selaku perpanjangan tangan dari KLHK mengatakan bahwa Hutan Tembeling tidak termasuk dalam Kawasan KLHK baik dari fungsi Lindung maupun fungsi lainnya. Untuk itu ada inisiatif dari Bendesa Adat Mujaning Tembeling untuk mengajukan Hutan Tembeling sebagai hutan adat sehingga asset-aset yang ada terlindungi. Untuk Pura Puser Saab, sudah mendapatkan seritifat Tanah Pelaba Pura, namun upaya perlindungan terutama dalam kawasan hutan akan terus ditingkatkan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Alas (hutan)
Merupakan areal yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan pemanfaatan terbatas, yang didalamnya terdapat tempat persembahyangan (Pura), sumber mata air, dan keanekaragaman hayati dan satwa yang dilindungi.
Dalam wilayah adat Mujaning Tembeling terdapat dua alas atau hutan yaitu: Hutan Tembeling dan Hutan Pura Saab. Dimana kedua alas atau hutan tersebut dikelola oleh masing-masing pengepon yang berbeda. Pengempon yang dimaksud disini adalah krama atau masyarakat yang tidak hanya berasal dari wilayah adat Mujaning Tembeling tetapi juga dari luar wilayah adat Mujaning Tembeling yang memunyai ikatan Sosial keagamaan.

2. Abian (Ladang/Kebun)
Merupakan areal budidaya yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam seperti tanaman pangan, tanaman obat, pakan ternak, dan juga tanaman penunjang sarana upakara atau ritual adat. Selain bercocok tanam, abian atau ladang/kebun difungsingkan sebagai tempat memelihara ternak dalam skala rumah tangga seperti sapi, ayam, kambing dan babi. Dalam tegalan terdapat Pura Ulun Tegal yang merupakan Pura milik masing-masing keluarga.

3. Peumahan (Pemukiman)
Merupakan areal yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat peribadahan, tempat usaha dan tempat untuk melakukan aktivitas sosial lainnya. Dalam pemukiman terdapat bangunan rumah, Pura, baik itu Pura keluarga maupun untuk umum, Sekolah, tempat permandian umum, dan sebagainya.

 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah di Wilayah Adat Mujaning Tembeling ada yang dikelola atau dimiliki secara pribadi ditingkat individu dan keluarga dan juga dikelola secara komunal dalam lingkup adat dan pengempon. Lahan-lahan dimiliki secara pribadi umumnya sudah bersertifikat hak milik, baik atas nama perorangan maupun sertifikat atas nama keluarga berupa Abian (ladang/kebun) dan tempat tinggal. Sertifikat kepemilikan lahan yang sudah atas nama perorangan biasanya diperoleh dengan cara membeli ataupun dengan sistem warisan yang sudah dibagi oleh keluarga sebelumnya. Bila melalui warisan ada para pihak yang mengetahui sebagai saksi seperti ahli waris, kemudian dibagi bersama dengan keturunannya dan disaksikan secara administrasi oleh pihak desa mulai dari tingkat dusun, kelian banjar, bendesa adat, perbekel dan camat.
Pembagian warisan tanah umumnya diberikan kepada anak laki-laki sementara disini belum ada warisan yang diberikan kepada anak perempuan. Tetapi dalam Majelis Desa Adat sudah memutuskan bahwa warisan tersebut “ategen asuun” warisan dapat berupa hak guna kaya. Apabila orang tua mendapatkan harta melalui usaha sendiri dan akan memberikan warisan untuk anak perempuannya itu diperbolehkan. Hanya berasal dari guna kaya saja bukan dari warisan leluhur. Tetapi saat ini belum terjadi karena harta dari guna kaya belum banyak tetapi lebih banyak dari warisan leluhur. Apabila tidak punya anak laki-laki maka dalam satu keluarga tersebut akan mengangkat anak laki-laki dari silsilah keturunan keluarganya atau dari anak perempuan yang mencari “sentana”. Setelah menikah anak perempuan tidak keluar seperti pernikahan di Bali pada Umumnya tetapi pihak laki-laki yang ikut kedalam keluarga perempuan. Yang terjadi di Wilayah Adat Mujaning Tembeling adalah Nyentana dari pihak keluarga dekat (Kekerabatan Klan).
Tanah Pribadi bisa diperjualbelikan dengan siapa saja dengan prosedur jual beli langsung ke notaris tanpa pengetahui perangkat adat ataupun perangkat desa.
Lahan yang dikelola secara komunal dalam bentuk Tanah Druwe Desa. Tanah Druwe Desa adalah tanah yang dimiliki atau dikelola oleh adat, baik itu lingkup desa adat, dan banjar adat; seperti lahan untuk lokasi pura, kuburan (setra) dan alas (hutan). Alas (hutan) yang ada di Wilayah Adat Mujaning Tembeling dikelola secara komunal oleh pengempon pura yang berbeda. Dimana Hutan Tembeling dikelola oleh para pengempon Pura Hyang Pancuhan. Pengempon Pura Hyang Pancuhan berasal dari dua desa adat dan dua banjar adat. Dua Desa adat yang termasuk dalam pengempon Pura Hyang Pancuhan yaitu dari Desa Adat Mujaning Tembeling dan Desa Adat Batumadeg. Dalam Dua Desa Adat ini terdapat 10 banjar adat yaitu: Moncong, Lepa, Secang Atas, Secang bawah, Prembon, Mawan, Dehan, Saren, Kangin, Saren Kauh, Pangkung Anyar. Dua Banjar adat yang tidak termasuk dalam kedua desa tersebut adalah Banjar Adat Salak dan Banjar Adat Macang.
Sedangkan alas atau hutan Pura Puser Saab di kelola oleh pengempon Pura Puser Saab yaitu dari Banjar adat Dehan dan Banjar adat Pakung Anyar (Desa adat Munajing Tembeling), Banjar adat Pakung Gede (Desa Adat Tribuana sekar sari), Banjar adat Tengakse dan Banjar adat Pengalusan (Desa Adat Panca Mekarsari), Banjar adat Batu Gulig dan Banjar adat Tulad (Desa Adat Triwahana dharma). Sehingga total pengemponnya adalah 7 banjar adat yang berasal dar 4 desa adat. Kawasan Hutan Pura Saab sendiri merupakan Pura Kahyangan Jagad (pura utama) di Nusa Penida dan sudah memiliki sertifikat Tanah Pelaba Pura Puser Saab.

 

Kelembagaan Adat

Nama Desa Adat Mujaning Tembeling
Struktur Struktur Lembaga adat (Pengurus Desa Adat) disebut dengan Prajuru Desa Adat yang terdiri dari: - Bendesa Adat - Patajuh - Penyarikan - Juru Raksa - Kesinoman - Baga Parahyangan - Baga Pawongan - Baga Palemahan Prajuru Adat juga didampingi oleh Sabha Desa Adat dan Kertha Desa Adat sebagai Lembaga mitra dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Sabha Desa Adat yang dimaksud adalah Krama Adat yang diutus oleh masing-masing banjar adat yang memiliki komitmen, pengalaman, dan keahlian dalam bidang tertentu untuk memajukan Desa Adat. Kertha Desa Adat adalah Krama Desa Adat yang memiliki komitmen, pengalaman, dan keahlian dalam bidang hukum adat, yang diutus oleh banjar adat. Proses pemilihan Prajuru adat dengan cara pemilihan langsung oleh Krama desa adat Ini dilakukan di balai pertemuan atau samuhan. Setelah itu akan ditetapkan dalam paruman (musyawarah adat). Perode masa jabatan prajuru adat selama lima tahun. Prajuru lama bisa dipilih Kembali ataupun diganti dengan yang baru disepakai bersama oleh krama desa. Tidak ada kriteria khusus persyaratan untuk menjadi prajuru adat. Pelantikan prajuru adat dilakukan dengan ritual adat “Mejaya-jaya”.
Prajuru (pengurus) desa adat melaksanakan tugas dan wewenang secara kolektif kolegial, meliputi:
- Menyusun rencana strategis dan program pembangunan desa adat
- Menyusun rancangan APB Desa Adat
- Melaksanakan program pembangunan desa adat melalui kegiatan parahyangan, pawongan, dan palemahan
- Melaksanakan awig-awig dan perarem desa adat
- Menyelesaikan perkara adat yang terjadi dalam wewidangan desa adat
- Mengatur penyelenggaraan kegiatan sosial dan keagamaan dalam wewidangan desa adat
- Melaporkan hasil pelaksanaan program dalam paruman desa adat
Sedangkan fungsi dari masing-masing Prajuru adat adalah sebagai berikut:
• Bendesa Adat (ketua) bertugas untuk memimpin kegiatan yang dilakukan oleh prajuru.
• Petajuh (wakil ketua) bertugas untuk mewakili ketua apabila berhalangan atau mendampingi dan memberikan saran.
• Penyarikan (Sekretaris): bertugas untuk mencatat kebutuhan lembaga dan urusan- urusan terkait dengan kegiatan adat.
• Juru Raksa (Bendahara) bertugas untuk mengelola keuangan lembaga dan urusan kebutuhan pendanaan kegiatan adat.
Baga- Baga (Bidang/Divisi):
• Parahyangan bertugas untuk mengatur urusan yang berhubungan dengan peribadahan (upacara/ ritual adat)
• Palemahan bertugas untuk mengatur urusan yang berhubungan dengan kewilayahan.
• Pawongan bertugas untuk mengatur urusan yang berkaitan dengan krama adat.
Sabha Desa Adat: Mendampingi Prajuru Desa Adat dalam menjalankan tugas perencanaan pembangunan di Desa Adat
Kerta Desa Adat: Mendampingi Prajuru adat dalam menjalankan tugas menyelesaikan perkara adat yang ada di Desa Adat.
 
Bentuk pengambilan keputusan melalui Paruman Desa Adat dan Pesangkepan Krama Desa Adat.
Paruman Desa Adat merupakan Lembaga pengambilan keputusan tertinggi Desa Adat untuk menetapkan awig-awig dan Mengesahkan Prajuru adat terpilih. Paruman Desa Adat diselenggarakan oleh Prajuru Desa Adat dan dihadiri oleh Krama Desa Adat. keputusan Paruman Desa Adat mengikat secara hukum bagi Krama Desa Adat.
Pesangkepan Desa Adat merupakan Lembaga pengambilan keputusan dibawah Paruman Desa Adat yang berkaitan dengan hal-hal teknis yang meliputi kegiatan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Pesangkepan ini diselenggarakan oleh prajuru adat dan dihadiri oleh krama desa adat.
Mekanisme:
Rapat tingkat prajuru dan sabha desa  sosialisasi informal kepada krama (warga)  Paruman desa adat
Paruman atau Pesangkepan dilaksanakan di Balai Desa Adat dengan melakukan upacara adat “Mepiuning” terlebih dahulu dengan memakai sarana sajen/banten Pejatian.
 

Hukum Adat

- Dilarang menebang pohon dan membawa benda-benda tajam (arit, parang, kapak, dll) ke dalam kawasan hutan, serta dilarang mengambil segala sesuatu dari dalam kawasan hutan. Jika melanggar dikenakan sanksi membayar Rp 500.000,- dan mengembalikan barang yang diambil sebanyak dua kali lipat. (Hutan Pura Puser Saab)
- Dilarang menebang pohon dan mengambil segala sesuatu dari dalam kawasan hutan kecuali untuk kebutuhan Pura. Jika melanggar dikenakan sanksi satu karung beras dan satu ekor babi. Dulu sanksi berupa satu laksa uang kepeng, sekitar 10.000 keping. (Hutan Tembeling)
- Tanah Pelaba Pura Tidak bisa diperjualbelikan.
- Tanah Druwe Desa dan banjar tidak bisa diperjual belikan tetapi bisa disewakan atau dikontrakan sesuai dengan kesepakatan krama.
- Warga Negara Asing tidak diperbolehkan untuk membeli tanah di Wilayah Adat Mujaning Tembeling tetapi warga di luar kabupaten ataupun provinsi lainnya diperbolehkan dengan luasan yang tidak dibatasi. Pada prinsipnya tanah yang sifatnya sudah bersertifikat baik itu pribadi maupun tanah keluarha bisa diperjual belikan asalkan sudah mendapat persetujuan dari pihak-pihak yang bersangkutan.
- Bercocok tanam harus dilakukan secara bersama-sama, tidak ada yang saling mendahului. Biasanya kelian banjar akan memberi tanda kapan waktunya akan mulai menanam dengan membunyikan kul-kul atau kentongan yang terbuat dari bambu.
- Apabila waktu bercocok tanam, ternak (ayam, sapi) harus dikandangkan (tidak boleh dilepas) supaya tidak menggangu tanaman yang sedang tumbuh. Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi dengan jumlah yang sudah dinominalkan, 1 pohon = Rp.5000 atau dilipatgandakan.
- Dilarang mencuri ternak, apabila melanggar dikenakan sanksi sejumlah dua kali lipat dari harga ternak yang dicuri. Hasil dari pembayaran denda tersebut, 50% diberikan untuk pemilik ternak, 50% lagi diserahkan kepada banjar adat sebagai Kas Banjar Adat.

 
Aturan Adat terkait dengan pranata sosial seperti: perkelahian, pencurian, perselingkuhan, penganiayaan, kerusuhan atau keributan. Aturan-aturan ini belum tertulis hanya dipatuhi secara lisan. System pencatatannya apabila terjadi kasus barulah tercatat dalam buku adat.
Siklus hidup terkait dengan kelahiran, perkawinan dan kematian juga diatur dalam aturan adat.
- Apabila ada krama yang baru melahirkan, pada waktu-waktu tertentu tidak bisa masuk atau bersembahyang ke pura.
- Apabila sedang ada ritual adat di desa, Krama desa adat tidak diperbolehkan keluar desa
- Apabila ada krama yang akan menikah harus melapor ke Prajuru adat.
- Tidak boleh menikah dengan saudara dalam satu keturunan (sepupu dekat).
- Apabila terjadi perselingkuhan maka akan dikenakan sanksi berupa 100 Kg Babi, dan 100 Kg. beras.
 
Tahun 2014 terjadi pelanggaran pencurian ayam potong (ternak). Mekanisme penyelesaiannya, yang tersangka dipanggil oleh kelian Banjar Adat. Kemudian Bendesa adat menjatuhkan sanksi berupa pembayaran uang sesuai dengan aturan yang ada. Pemilik ayam mendapat 50% dari uang denda dan 50% lagi masuk ke Kas Banjar Adat.
Dalam 5 Tahun terakhir tidak ada pelanggaran.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan - Karbohidrat: jagung, ketela pohon, Ubi, Keladi - Protein Nabati: Kacang pendek/nusa, Kacang Panjang, Kacang Merah, Kacang Hijau, Kacang Koro, Kacang Komak, Kacang Undis, Kacang Tanah, Kedelai. - Vitamin (Buah-buahan): Mangga, Pepaya, Pisang, Kelapa, Nanas, Nangka, alpukat, Buah Naga, Jambu Mete, Belimbing, Jambu Air, Jambu Batu, Asem, Sawo, Juwet, Bekul (Bidara), Buah Badung, Tengulun, Kedongdong, Boni. - Vitamin (Sayur-sayuran): Bayam, daun singkong, Kangkung, Kecipir, Sawi hijau, Daun jarak, Daun Pepaya, Kelor, Uwi, Daun kacang Merah, Pucuk Labu Kuning, Jantung Pisang, Batang Pisang, Bligo, Timbul/Kluwih, Nangka Muda, Daun Kayu Manis
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Kunyit untuk obat luka, Obat dalam - Lengkuas untuk obak bengkak - Jahe untuk penghangat badan - Kencur untuk boreh (lulur penghangat badan) dan Jamu - Daun Sirih untuk obat anti septik dan jamu - Jambu Klutuk untuk obat Diare - Daun Kayu Manis untuk Jamu - Daun Semanggi untuk Jamu - Gamongan untuk Jamu - Sembung untuk Panas Dalam - Jarak untuk Panas Dalam - Bengkuang untuk menghaluskan kulit - Lidah Buaya untuk penyubur rambut
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang Penyangga: Kayu Jati, Kayu Kelapa, Kayu Nangka, Kampuak, Angih, Mahoni, Ipil, Gamal. Atap Pura: Ijuk Dinding/Papan: -
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Lengkuas, Jahe, Kencur, Kunyit, Cengkeh, Serai, cabe, Tomat, Bawang, Kemiri, Cabe Jawa, Kemangi, Daun Jeruk Purut, Daun salam, Jeruk Limo, Jeruk Nipis, Asem.
Sumber Pendapatan Ekonomi Jagung, ketela pohon, Kacang Tanah, Kacang Ijo, Kelapa