Wilayah Adat

Kedatuan Bayan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Bayan
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten/Kota SUMBAWA BARAT
Kecamatan Bayan dan Kayangan
Desa Sambik Elen, Loloan, Bayan, Senaru, Karang Bajo, Anyar, Sukadana, Akar-akar, Mumbul Sari, Baturakit, Andalan, Gunjan Asri, Selengen, Gumantar, Salut, Kayangan, Pendua, Sesait, Santong, Santong Mulia
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 39.923 Ha
Satuan Kedatuan Bayan
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Kecamatan Gangga
Batas Selatan Kabupaten Lombok Tengah
Batas Timur Kabupaten Lombok Timur
Batas Utara Laut Jawa

Kependudukan

Jumlah KK 25638
Jumlah Laki-laki 44016
Jumlah Perempuan 45741
Mata Pencaharian utama petani dan buruh tani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas masyarakat adat Bayan yang berada di Wilayah Adat Kedatuan Bayan merupakan penduduk asli Pulau Lombok yang dikenal dengan Suku Sasak (Bayan). Masyarakat adat bermukim atau menetap di wilayah kaki Gunung Rinjani dan berkembang di wilayah Utara Pulau Lombok. Wilayah adat Kedatuan Bayan mencakup 12 “Wet” yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur. Adapun 10 Wet yang berada di Lombok Utara antara lain: Wet Biluk Perung, Wet Barangdira, Wet Bayan, Wet Anyar, Wet Sukadana, Wet Sembarge, Wet Semokan, Wet Salut, Wet Gumanta, dan Wet Sesait Sedangkan 2 Wet yang berada di Kabupaten Lombok Timur adalah Wet Sembalun dan Wet Sajang.

Mata pencaharian masyarakat adat Bayan pada saat itu dengan berburu, Bertani, beternak, berladang atau berkebun, dan ada juga yang sebagai nelayan. Tanaman yang sudah dikembangkan seperti padi bulu, jarak pagar/lambah, elas, jawa. Pada penjajahan Belanda mulai dikembangkan tanaman kopi, coklat dan Jarak berduri. Zaman orde baru mulai ada dikembangkan tanaamn padi gabah dan Jagung Hibrida. Seiring dengan bertambahnya penduduk, masyarakat adat bayan akhirnya menyebar, beberapa tidak lagi menetap di Wilayah adat Bayan karena mata pencaharian dan ikatan perkawinan. Masyarakat yang sudah tidak tinggal menetap ini masih mengikuti tatanan adat yang ada terutama pada saat ada ritual adat. Interaksi antar masyarakat adat lainnya tercipta karena akulturasi budaya. Seiring perkembangan zaman terjadi juga pada mata pencaharian seperti berdagang, pengembangan pariwisata, dan ada juga masyarakat yang menjadi pegawai negeri (ASN).

Agama Islam didiyakini telah ada sejak masyarakat adat Bayan berada di pulau Lombok dan merupakan agama leluhur sejak jaman orang tua terdahulu. Walaupun sudah memeluk agama tetapi masyarakat adat Bayan sampai saat ini masih menjalankan Ritual adat yang ada, yang sudah menjadi tradisi secara turun temurun.

Beberapa perubahan yang terjadi, Secara bentang alam, di wilayah Kedatuan Bayan banyak mengalami perubahan. Yang dulunya hutan kini dimanfaatkan menjadi lahan pertanian, perkebunan dan permukiman. Rurung/jalan agung yang dilaksanakan saat ritual adat sebagian sudah berubah/bersertifikat. Sebagian wilayah adat masuk dalam fungsi Kawasan yang secara administrasi dikelola oleh negara untuk ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Rinjani dan Cagar Budaya. Pemasangan patok kawasan hutan negara di dalam kawasan hutan adat dilakukan secara sepihak tanpa dilakukan kesepakatan dengan masyarakat adat.

Sekitar tahun 1960 masyarakat adat tidak berani melakukan ritual karena diancam oleh pemerintah (masa PKI) terjadi pembakaran pada tempat -tempat ritual oleh pemerintah sekitar tahun 1966 (pembakaran gedeng lauq dan gedeng daya serta masjid kuno anyar). Sejak adanya Undang-Undang tentang Desa, penyelesaian sengketa adat diselesaikan oleh MKD (Majelis Krama Desa). Sebelum ada MKD semua sengketa adat diselesaikan oleh adat.

Masuknya perusahaan di wilayah adat melalui negara tanpa melibatkan masyarakat adat mengakibatkan hilangnya beberapa tempat ritual dan tanah adat. Pada tahun 2006 masyarakat adat Bayan yang berada dibagian utara Lombok barat menggagas adanya perda masyarakat adat, tetapi pada tahapan itu muncul kebutuhan prioritas untuk pemekaran wilayah kabupaten sehingga pembahasan teantang perda ditunda. Setelah kabupaten Lombok utara terbentuk ditahun 2008 pembahasan tindak lanjut perda masyarakat ada tidak terjadi disebabkan kabupaten Lombok utara focus pada pada tata pemerintahan dan pembangunan.

Pada tahun 2016 masyarakat adat Kembali Menyusun draft perda pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat kabupaten Lombok utara dan disahkan menjadi perda no 6 tahun 2020 tentang masyarakat adat. Dan saat ini masyarakat adat Bersama dengan pemerintah Kabupaten Lombok utara membentuk tim identifikasi dan verifikasi validasi masyarakat adat Lombok utara untuk dibuatkan Peraturan Bupati sebagai turunan dari perda no 6 tahun 2020.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Lahan Persawahan (Bangket) merupakan Lahan ini diairi dari air irigasi atau air tanah dan sepanjang tahun biasanya di tanami padi.

2. Lahan Tegalan (Kebon): merupakan lahan ini hanya diolah pada musim hujan karena air yang digunakan adalah air hujan dan yang di tanam berupa padi dan kacang-kacangan.

3. Kampu merupakan pusat ritual adat gama, pengangkatan pejabat adat, dan Gundem (musyawarah adat). Beberapa tempat ritual yang ada antara lain:
- Gedeng lauq dan Gedeng daya yang merupakan salah satu tempat ritual laut dan hutan yang disebut Tek Lauq dan Tek Daya.
- Aci-aci merupakan tempat ritual tertentu.
- Gade merupakan tempat melakukan perisean waktu ritual tertentu.
- Rurung agung merupakan jalan yang dilewati saat melakukan ritual.
- Lokoq merupakan kali yang digunakan untuk mencuci beras dan/atau buang unggun saat ritual adat tertentu.
- Menanga Mual merupakan Rawa yang digunakan untuk ritual tertentu.
- Tanaq Gubuk: merupakan tempat tinggal pejabat adat dan lokasi ritual tertentu.

4. Pawang Tutupan merupakan hutan larangan yang difungsikan sebagai sumber mata air.

5. Pawang merupakan hutan yang dijadikan sebagai tempat untuk mengambil bahan bangunan rumah adat.

 
Kepemilikan seluruh tanah adat baik yang berupa pawang tutupan, pawang, tanah gubuk, tanah pecatu, gade, aci-aci, dll dikuasai oleh komunal masyarakat adat. Khusus untuk tanah pecatu adat dikelola oleh pranata adat / pejabat adat selama dia menjabat, apabila terjadi pergantian pejabat / pranata maka secara otomatis pecatu tersebut dikelola oleh pejabat berikutnya. Tanah pecatu tidak dapat dikontrakkan, dijual, disewa, digadaikan.

 

Kelembagaan Adat

Nama Pranata Adat Bayan
Struktur Struktur kelambagaan adat kedatuan Bayan tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, hanya dibedakan pada tugas dan fungsi dan wilayah kerja, dan setiap pengambilan keputusan diambil melalui musyawarah adat (gundem, sangkep, atau romo-romo). Struktur adat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Pembekel, Kiyai, dan Tuaq Lokaq Pembekel: Pranata adat yang mengurus pemerintahan adat. Antara lain: 1. Pembekel Dayan Rurung Barung Biraq 2. Pembekel Lauq Rurung Barung Biraq 3. Pembekel Loloan 4. Pembekel Tanak Petak Lauq 5. Pembekel Timuk Orong 6. Pembekel Bat Orong 7. Pembekel Karang Bajo 8. Pembekel Batu Menjangkong 9. Pembekel Plabasari 10. Pembekel Srimenganti 11. Pembekel Karang Tunggul 12. Pembekel Telaga Bageq 13. Pembekel Telaga Banyak 14. Pembekel Sukadana 15. Pembekel Semokan 16. Pembekel Segenter Kiyai: Pranata adat yang mengurus adat gama. Antara lain: 1. Kiyai Pengulu 2. Kiyai Lebe 3. Kiyai Ketip 4. Kiyai Mudim 5. Kiyai Santri Toaq Lokaq: Pranata adat yang mengurus ritual adat. Antara lain: 1. Amaq Lokaq Gantungan Rombong 2. Amaq Lokaq Pande 3. Amaq Lokaq Penguban 4. Amaq Lokaq Singgan 5. Amaq Lokaq Penyunat 6. Amaq Lokaq Penjeleng 7. Perumbak Daya 8. Amaq Lokaq Bual 9. Perumbak Lauq 10. Amaq Lokaq Loang Godek 11. Amaq Lokaq Senaru 12. Amaq Lokaq Torean 13. Walin Gumi 14. Amaq Lokaq Dasan Ancak 15. Amaq Lokaq Plabupati 16. Amaq Lokaq Plembah 17. Amaq Lokaq Pengontas 18. Inan Meniq 19. Inan Pedangan 20. Inan Aiq 21. Amaq Lokaq Pelawangan 22. Amaq Lokaq Telaga Longkak 23. Amaq Lokaq Telaga Bageq 24. Amaq Lokaq Telaga Banyak 25. Inaq Lokaq Periwa 26. Inaq Lokaq Penyon 27. Amaq Lokaq Juru Basa 28. Amaq Lokaq Pemegat 29. Amaq Lokaq Subandar 30. Amaq Lokaq Gedeng 31. Amaq Lokaq Telaga Montong 32. Amaq Lokaq Menanga Mual 33. Amaq Lokaq Ijuk 34. Amaq Lokaq Peramo 35. Amaq Lokaq Perout 36. Amaq Lokaq Semokan 37. Amaq Lokaq Sembageq 38. Amaq Lokaq Penimbang 39. Amaq Lokaq Tunggul 40. Amaq Lokaq Batu Tepak 41. Amaq Lokaq Pembacang 42. Inaq Belian 43. Amaq Lokaq Pemomong 44. Amaq Lokaq Batu Santek
• Pembekel: Pranata adat yang mengurus pemerintahan adat.
• Kiyai: Pranata adat yang mengurus adat gama.
• Toaq Lokaq: Pranata adat yang mengurus ritual adat.

 
Pengambilan keputusan diambil melalui musyawarah adat (gundem, sangkep, atau romo-romo). 

Hukum Adat

1. Melakukan penebangan kayu / perusakan di Pawang / Hutan adat: Dikenakan sanksi adat berupa kerbau, uang bolong/ kepeng susuk, beras, benang mataq, kayu bakar, gula merah, kelapa, dan perlengkapan sirih pinang yang jumlahnya ditentukan sesuai dengan berat ringan pelanggaran.
2. Sungai Lokoq Getak: jika menangkap udang atau jenis hewan air lainnya disana, yg dilakukan dgn cara setrum, pemberian racun (bukan dgn cara mancing atau nangkap biasa) dikenakan sanksi..
Sanksinya adalah: menik serombong, benang matak setokel, kepeng susuk 244, kambing 1, kelapa, dan perlengkapan sirih..

3. Jika menangkap hewan dipawang lokoq getak, sprti nangkap burung, manisan ani atau lainnya tanpa seijin malokaq, dikenakan juga sanksi..
Sanksinya sama spt menangkap hewan di lokoq..
 
aturan adat yang berkaitan dengan pranata sosial yaitu peraturan tentang
Memulang (hukum Perkawinan)
waktu2 tertentu untuk melaksanakan perkawinan (kalender adat / wariga sereat adat bayan), ada sanksi adat jika melanggar.
antara lain:
- Mulai jumat terakhir di bulan syakban sampai 1 syawal, bulan rabiul awal (sebelum tanggal 12) tidak boleh melakukan gawe urip dan perkawinan.
juga tidak dianjurkan menikah atau membuat bangunan pada bulan yang sama saat ritual bubur abang/bubur petak (roah bulan) dilakukan.

tatacara pernikahan menurut adat :
- Memaren (mencuri sang perempuan oleh pihak laki secara diam-diam
- Tikah/tobat lekoq buaq (sirih dan pinang, dan bedak kunyit)
- Sehari setelah perempuan dibawa kawin lari oleh pihak laki-laki, maka pihak perempuan melakukan mejati / sejati (menyampaikan berita tersebut kepada keluarga besar dan/atau para tetangga).
- Nyelabar (Pembekel dari pihak laki-laki menyampaikan berita kepada pembekel pihak perempuan).
- Pengeros / Batangan aji krama (musyawarah pihak perempuan dan tokoh adat untuk menentukan saji krama), waktu pelaksanaan berdasarkan urip telu / lima / nutulin atau kerasian hari lahir.
- Sorong serah (Penyerahan saji kerama oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan disaksikan oleh tokoh adat).
- Mengkawin adat / kawin tobat (proses ijab Kabul) dilakukan di masjid kuno/atau di berugaq sekenem
- Menjango (dilakukan setelah mengkawin adat, proses pengantin menjenguk ke keluarga perempuan)
- Serah kirangan (pihak laki-laki menyerahkan kerbau kepada keluarga pihak perempuan pada saat gawe adat yang dilakukan oleh pihak perempuan)

Lahiran:
Setelah bayi lahir dilakukan penguburan ari-ari, biasanya dikubur di sisi selatan rumah atau di depan rumah dan atau di bawah berugaq dengan ditandai lampu jarak, batu, subeq, dan kurungan.
Setelah satu minggu dilakukan proses buang awu / selametan (pemberian nama bayi), waktu pelaksanaan berdasarkan urip telu / lima / nutulin atau kerasian hari lahir.
Potong rambut / mengkuris, dilaksanakan berdasarkan hitungan kalender adat bayan dan kepembekelan.
Sunatan / Khitanan, dilaksanakan berdasarkan hitungan kalender adat bayan dan kepembekelan. Pranata adat yang melakukan khitan adalah Amaq Lokaq Penyunat / Den Penyunat.

Kematian:
Kalau ada yang meninggal di luar gubuk leluhur (di rumah sakit atau di jalan / luar pemipit bangaran) maka jenazahnya tidak boleh dimasukkan ke dalam wilayah gubuk. Jika terjadi jenazah dimasukkan ke gubuk maka gubuk harus di asuh (disucikan).
Yang melakukan sholat jenazah dan pembacaan talkin adalah kiai – kiai adat.



- Bila basa / bila bibir: Pencemaran nama baik. Sanksi adatnya berupa saji kerama yang disesuaikan dengan tingkat perbuatan dan kepembekelan korban.
- Bila mampaq: Tindak kekerasan fisik. Sanksi adatnya berupa saji kerama yang disesuaikan dengan tingkat perbuatan dan kepembekelan korban.
- Bila rasa (Selingkuh dengan istri tetangga). Sanksinya diusir keluar kampung.
- Luputing tangan / luput ima (Pelecehan perempuan). Sanksi adatnya berupa saji kerama yang disesuaikan dengan tingkat perbuatan dan kepembekelan korban.
- Bila gandang, yaitu terjadi hubungan seksual di luar nikah. Sanksinya dinikahkan dan dikenakan saji kerama.
- Nyorang / Nyedang, yaitu pelanggaran merusak barang orang lain. Sanksinya berupa ganti rugi berdasarkan nilai maksimal dari nilai barang yang dirusak.

 
Sekitar tahun 2010 seorang remaja menceritakan kepada teman-temannya bahwa ada istri tetangga yang mendalami ilmu hitam, akhirnya istri tetangga itu mencari kebenaran tentang informasi tersebut dan dibenarkan oleh orang yang pernah mendengarkan langsung dari remaja tersebut. Kejadian itu dilaporkan oleh istri tetangga kepada keluarga dan pembekel adat sehingga di musyawarahkan untuk diberikan sanksi berupa uang bolong / kepeng susuk, uang rupiah, perlengkapan sirih dan pinang, beras, benang mataq, kain putih. (Bila basa / bila bibir) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi Bulu, Beleleng, jawa, singkong, ubi, jagung, ketan Protein Nabati: Kacang tanah, kacang kedelai, lebui, komak, bebele, sudak, kembili, sebek Protein Hewani: kerbau, sapi, kambing, ayam, bebek, ikan air tawar dan laut, belut Vitamin Sayuran: daun singkong, terong, kangkung, kelor, daun sawe, sager, bayam, melinjo, daun talas Vitamin Buahan: pisang, kelapa, Sentul/kecapi, duren, kelak, rukem, buaqbila, kembilik, Delima, Jeruti, isinwi, tasbeh
Sumber Kesehatan & Kecantikan bawang merah untuk luka, bawang putih tunggal untuk mengusir roh jahat, sirih, pinang batang kelor untuk pasung
Papan dan Bahan Infrastruktur klicung, merbau, kepuh, dangar, kapuk, mimba, Nangka (untuk tiang rumah dan berugak), bamboo (untuk dinding), alang-alang (untuk atap rumah). biji jarak untuk lampu, rotan
Sumber Sandang kapas (bahan dasar kain), pinang, komak, kunyit (pewarna kain alami), lerak (mencuci)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu jahe, kunyit, kencur, kemiri, sebia (cabe),
Sumber Pendapatan Ekonomi padi gabah, kacang tanah, kacang Panjang, komak, kedelai, ubi, sapi, kambing, ayam

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Lombok Utara No 6 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat 6 tahun 2020 Perda Kabupaten Lombok Utara No 6 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen