Wilayah Adat

Hukae Laea-Moronene

 Teregistrasi

Nama Komunitas Hukae Laea
Propinsi Sulawesi Tenggara
Kabupaten/Kota BOMBANA
Kecamatan Lantari Jaya
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 29.164 Ha
Satuan Hukae Laea-Moronene
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat -
Batas Selatan kabupaten Bombana (Desa Lombakari, Langkowala, Lantari Jaya)
Batas Timur Selat Tiworo
Batas Utara kabupaten Konawe Selatan, pegunungan Watumohai dan tawunalula

Kependudukan

Jumlah KK 110
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Berkebun, berburu, dan menangkap ikan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pu’uno Ronga Tekaleno Tomoronene, istilah mengenai asal-usul perkembangan orang Moronene di Rumbia dan Poleang. Berdasarkan Epos Kada berupa nyanyian kepahlawanan, orang Moronene di Rumbia dan Poleang menyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Dendeangi. Ia adalah seorang kesatria yang memimpin puluhan kelompok keluarga yang mendiami wilayah di sekitar hulu kali Laa Moronene Desa Taubonto yang saat ini di RK. Pangkuri. Adapun orang Moronene di Kobaena menyakini berasal dari seruas bambu Gading/Datebota Ao Gading maka disimpulkan (red.) leluhur orang Moronene di Kobaena berasal dari Sawerigading. Tari Morompu merupakan nama lain dari Sawerigading yang artinya bambu yang rimbun.

Sawerigading adalah seorang pemuda sekaligus pengusaha dari bangsa Cina Tatar yang awalnya bermukim di jawa lalu melanjutkan ke daratan Sulawesi di Saddu atau Luwuk dengan perahu sampan pada gelombang kedua tahun 719 M. Sumber lain menyatakan kedatangan orang Moronene pada gelombang ketiga melalui Jawa (sekitar daerah Kalingga) kemudian berlayar ke timur dan masuk ke Sulawesi hingga bermukim di sekitar danau Matana (Dendeangi) pada tahun 719 M. Ditarik titik temunya maka disimpulkan (red.), rombongan Dendeangi merupakan bagian dari rombongan Sawerigading yang masing-masing menempati wilayah tertentu. Alasan inilah yang menyebabkan Dendeangi dilantik menjadi raja Moronene oleh Sawerigading pada tahun 720 M.



Stambum atau garis keturunanan orang Moronene dari Dendeangi telah melebihi 10 (sepuluh) generasi. Cucu dari Dendeangi yaitu Nungku Langi mempunyai tiga anak yang menjadi raja atau penghulu atas persetujuan masyarakat setempat. Keturunan dari ketiga anaknya ini yang meneruskan garis orang Moronene di wilayah Lakomea, Hukae, Poleang dan Kobaena. Putri pertama Nungku Langi yaitu Ntina Sio Ropa meneruskan garis keturunan orang Moronene yang berada di Lakomea. Cucu Ntina yaitu Sangia Opisi mempunyai anak bernama Sangia Wambako Wu yang meneruskan garis keturunan di wilayah Hukae. Putra kedua, yaitu Ririsao meneruskan garis keturunan di wilayah Poleang/Lembopari. Putra ketiga, yaitu Ndalau akan meneruskan garis keturunan orang Moronene di pulau Kobaena.

Menurut Prof. Abdurauf Tarimana, suku Moronene adalah suku tertua yang mendiami wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Dilihat secara fisiknya orang Moronene tergolong dalam rumpun Melayu Tua yang datang dari daratan Hindia Belakang pada zaman pra sejarah atau zaman batu muda kira-kira 200 SM. Barangkali bisa dikaitkan dengan sumber lain, yaitu suku-suku bangsa di Sulawesi Tenggara (termasuk suku Moronene) berasal dari Tongkin, Yunan Selatan yang datang melalui Filipina Selatan bersama suku Moro ke arah selatan menuju Sulawesi Tengah dan mendiami Danau Matana.

Persebaran orang Moronene dari Sulawesi Tengah menyebar ke arah selatan yaitu Sulawesi Tenggara melalui darat dengan berjalan kaki dan perairan dengan rakit melalui sungai terutama sungai Konaweha. Kemudian mereka singgah dan menetap di bagian selatan pulau Sulawesi dan sebagian menyebrang ke pulau Kabaena. Mereka yang mendiami daratan besar Sulawesi disebut to Wita’ea dan tinggal di seberang atau pulau disebut to Wita’ate. Sementara orang Moronene yang menuju pantai barat (labu’a/pelabuhan) menyebar ke pedalaman dan pesisir pantai mencari wilayah startegis sebagai tempat tinggal, lahan subur dan tempat perburuan. Bukti yang menunjukan nenek moyang orang Moronene bermukim di kabupaten Kendari dan Kolaka adalah nama kampung, sungai dan gunung menggunakan Bahasa Moronene asli.

Istilah Moronene diambil dari sebuah jenis tumbuhan yang menyerupai pohon resam dengan ciri-ciri fisiknya kulit batangnya dapat dikupas dan dijadikan tali, daunnya dapat digunakan sebagai pemungkus nasi dan sejenis kue (lemper). Secara etimologi terdiri dari dua suku kata, yaitu Moro yang berarti menyerupai dan Nene berarti pohon resam. Makna filosofi dari Moronene adalah peradaban leluhur yang hidup berkelompok sebagai peramu, pemburu, dan petani di daerah subur dan aman dari gangguan musuh. Falsafah yang menjadi motto orang Moronene, yaitu Konianto ‘U yang artinya ia tidak mau cekcok atau saling senggol tetapi ia ingin tumbuh berdampingan dengan rumpunnya dalam situasi saat ini adalah pemerintah. Istilah Konianto ‘U diambil dari falsafah watak orang Moronene sekaligus melambangkan typologie daerah sebagat batas atau PAL dan pertanda kongkrit, yaitu Tade Kototo Lako Konianto ‘U.

Menurut orang Moronene wilayah Hukae-Laea, Lampopala dan sekitarnya merupakan Wowohara yaitu sebagai kawasan yang pernah dihuni leluhur dan sering dikunjungi orang Moronene untuk ziarah serta mengambil hasil sumber daya alam. Tobu Hukae Laea merupakan perkampungan tua yang didiami oleh generasi keenam (lihat Stambum To Moronene di tabel atas) dari orang Moronene pada tahun 1920. Wilayah Hukae – Laea menjadi bagian dari distrik Rumbia yang dipimpin oleh Lababa. Nama Hukaea diambil dari nama sebuah pohon melinjo besar sedangkan Laea berarti besar. Selain berpindah ke hulu sungai Laea pada tahun 1937, keturunan dari Sangia Wambakowu juga berpindah ke daerah bawah hulu sungai Laea, kemudian memindahkan permukimannya agar dekat dengan lahan olahan mereka.

Diyakini oleh orang Moronene terkait batas wilayah orang Moronene yang bersifat turun temurun adalah daerah tumbuhnya pohon bambu berduri (Tari).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Orang Hukae-Lae membagi hutan menjadi 3 zona:
a. Inalahi Pue adalah zona inti dari hutan rimba yang lebat dan luas yang tidak pernah diolah oleh manusia dengan luas wilayahnya 4.623,44 Ha.
b. Inalahi Popalia adalah hutan keramat yang dipercaya terdapat makhluk halus dan secara turun temurun (Binta hai Soro-soro) tidak diganggu oleh manusia dan di dalamnya terdapat Mata Buntu (sumber mata air) serta sebagai tempat perlindungan segala jenis hewan dengan luas wilayahnya 2,599,50 Ha.
Kotoria merupakan kelompok hutan keramat dan dianggap sebagai zona penyangga. Kotoria sebagai tempat penguburan para Sangia atau Mokole pemimpin yang satria dan dipercayai terdapat makhluk halus sebagai penjaga, serta sebagai tempat peristirahatan satwa karena dirasa aman tanpa gangguan manusia. Di dalam Kotoria dapat ditemukan Sampa Ondibu (cabang/pertemuan sungai-sungai), sebagai tempat mandi untuk berobat dan terdapat kuburan Sangia Wambakowu (Lore), Sangia Wawompo’o, Sangia Olobu Meheo (Tuamba), Sangia Wumbu Roda, Sangia Ambau, Sangia Molomo dan sangia Pu’untukulo
c. Inalahi Peumaa adalah hutan perkebunan yang sewaktu-waktu dapat diolah masyarakat dengan luas wilayahnya 2,420,31 Ha.

Hutan di sekitar atau di tengah Olobu (padang rumput) dengan luas wilayahnya 1,077,56 Ha:
a. Olobu E’a adalah hutan besar di pinggir sungai/di tengah padang rumput sebagai tempat perisitirahatan/perlindungan satwa, yaitu jonga, babi, ular (Ule), burung-burung (Manu-manu), dll.
b. Olobu Ute adalah hutan kecil yang ditengah padang dengan pepohonan dan satwa yang jarang serta terkadang tidak ditemukan sama sekali.
c. Olobu Popalia adalah hutan yang keramat yang berada di tengah padang dan terkadang di pinggir sungai. Hutan ini terdapat kuburan Mokole dan sumber mata air Ranongkohaki dan terdapat banyak satwa serta binatang lainnya.

Jenis perkebunan/Kura orang Hukaea-Laea dengan luas wilayahnya 1,195,34 Ha:
a. Kura Tangka yaitu bekas perkebunan yang pernah diolah, lalu ditinggal selama 5-10 tahun.
b. Kura Ea yaitu bekas perkebunan yang pernah diolah dan berupa hamparan luas (Lowo Lue), lalu ditinggalkan selama 1-10 tahun.
c. Kura Ate yaitu bekas perkebunan yang pernah diolah dan berupa hamparan kecil (Lowo Ote), lalu ditinggalkan selama 1-5 tahun.
d. Kura Hinuarako yaitu bekas perkebunan yang baru diolah dan baru tahap penanaman karena pemiliknya tiba-tiba meninggal maka tidak dapat dilanjutkan pengolahannya dan apabila padi sudah ditanam maka padi tersebut tidak dapat dijadikan bibit.
e. Kura Sailela yaitu bekas perkebunan yang pernah diolah tetapi baru tanah perintisan/penebangan kayu besar (Monea) pemiliknya meninggal maka kebun tersebut harus ditinggalkan dan tidak dapat ditanami.
f. Tinalui yaitu kebun yang sudah ditanami dan hasilnya dipanen secara berturut-turut/dua kali panen.

Wilayah lainnya orang Hukae-Lae, yaitu Bakau (Bako) seluas 2.593,75 Ha; Tambak garam tradisional (Peo) seluas 221.88 Ha; dan Tambak ikan tradisional (Bolo) seluas 92,19 Ha.
 
Syarat seseorang mendapatkan Lombo atau lahan, yaitu sesuai kebutuhan (jumlah keluarganya), si pemohon dianggap layak dan mampu untuk mengolahnya/kerja lahan, dan tidak memiliki tunggakan adat. Setelah mendapat persetujuan dewan adat yang disampaikan oleh Kepala Adat ke pemohon, maka akan ditanyakan berapa jumlah lahan yang dibutuhkan. Kemudian secara bersama-sama dilakukan peninjauan (Mooto Wita) dan menunjuk lokasi yang akan diolah. Setelah lokasi dianggap layak dan tidak ada klaim dari pihak lainnya maka lahan tersebut diberi Petoo (patok).

Status tanah bersifat komunal artinya tidak dapat diperjual-belikan, hanya dapat digunakan secara turun-temurun dan tidak dapat dipindah-tangankan oleh orang lain yang bukan ahli warisnya atau keluarganya.


Sistem bercocok tanam dengan cara rotasi
Proses pengolahan kebun dilakukan secara perorangan maupun bersama-sama/kelompok. Tanah perkebunan dapat diolah setelah mendapat persetujuan dari Dewan Adat Moronene.

Tahap buka lahan
a. Mooto Wita, identifkasi lokasi kebun yang digarap secara perorangan maupun kelompok selama 2 hari pada bulan Agustus.
b. Mompaseki atau Mompetoo, kegiatan memberi tanda sesuai kesepakatan dewan adat yang dipimpin tetua adat.
c. Mekilala, upacara adat dilakukan dukun kampung untuk menentukan lokasi perkebunan yang baik dan subur. Persyaratan prosesi berupa daun sirih, kapur sirih dan buah pinang yang dimasukan ke dalam kayu yang diruncingkan berbentuk segiempat, lalu dibaca mantra-mantra dan kayu tersebut ditancapkan dan diputar di atas tanah. Apabila salah satu sisi dari kempat sisi kayu tersebut terdapat banyak tanah yang melekat, maka arah yang banyak melekat yang akan dijadikan kebun karena kesuburan tanahnya.
Prosesi ini juga untuk menentukan lokasi perkebunan, mendirikan rumah, dan daerah perladangan, juga mengetahui kedaan keluarga dari jarak jauh serta jenis penyakit apa dan kepada siapa hendak berobat.
d. Mo’oli/upacara adat dilakukan sebelum buka lahan/hutan supaya tidak ada gangguan dari roh halus berkekuatan gaib, dengan memberikan syarat/wejangan untuk makhluk halus yang diyakini sebagai penjaga/penguasa hutan (NtiWonua). Syarat prosesi Mo’oli yaitu sarung dua pasang (sarung laki-laki dan perempuan), pakaian dua pasang (laki-laki dan perempuan), dan daun sirih (bite), buah pinang (wua), kapur sirih (Ngapi), tembakau (Ahu), kulit jagung (kulimphu) secukupnya. Pertanda yang dijadikan sebagai wadah komunikasi dengan makhlus halus melalui tanda-tanda langit dan pertanda-tanda baik yaitu kupu-kupu (tolewa), belalang (kotumba), dan bereng-bereng (tasia). Semua serangga tersebut terbang di sekeliling tempat prosesi. Adapun tanda buruk yaitu tawon besar (roani) berwarna merah (towua motaha) dan tawon kecil berwarna kuning (kokoti).

Upacara Mo’oli terbagai menjadi 2, yaitu apabila tidak dizinkan meski sudah dilaksanakan Mo’oli maka dilakukan kembali dengan persyaratan sepasang ayam putih, nasi ketan, hitam, dan telur ayam masuk (tergantung permintaan makhluk halus). Ritual ini sebagai permohonon kepada kekuatan gaib dengan harapan apabila makhluk halus ingin dipindahkan atau tetap di tempat tersebut hanya saja tidak mengganggu masyarakat yang membuka lahan di wilayah tersebut. Kedua, apabila sudah dilaksanakan upacara kedua kalinya tetapi pertanda dari makhluk halus tidak memberikan izin maka orang Moroenene tidak diperkenankan membuka lahan tersebut dan terpaksa pindah di lahan lain yang tanpa gangguannya.
e. Umowu/merintis merupakan kegiatan membuka lahan dengan tahap perintisan kayu-kayu kecil, secara berkelompok sekurang-kurangnya 10 orang menggunakan parang dan arit dengan pelaksanaan selama 1 bulan. Keyakinan orang Moronene yang beranggapan hari senin sebagai hari baik untuk dilaksanakan kegiatan ini. Lamanya Umowu tergantung luas lahan yang akan diolah, kemudian diistirahatkan selama seminggu sebelum memasuki tahap selanjutnya.
f. Monea/menebang adalah kegiatan menebang kayu-kayu ukuran agak besar dengan kapak dan parang pada hari baik dengan pelaksanaan selama sebulan, secara berkelompok sekurang-kurangnya 10 orang atau sesuai kebutuhan. Kayu yang telah ditebang dibiarkan mengering selama 1 bulan (asa wotitikolalo) kemudian diadakan musyawarah (tepoawa mogau) untuk mufakat (bobotako poawa) untuk menentukan waktu pembakaran (Humuni).
g. Mekere merupakan kegiatan membuka lahan dengan tahap pemisahan antara hutan dan lahan perkebunan yang sementara diolah supaya api tidak merambat ke hutan atau calon kebun orang lain yang kayunya belum kering melalui mebenda atau pembuatan parit untuk mencegah kebakaran
h. Humuni/membakar kayu yang ditebang dan dikeringkan, sampai hangus hingga apinya padam, secara berkelompok dan pelaksanaanya selama 1 minggu pada bulan November. Sebelum Humuni, dibuat alur sepanjang lahan yang akan dibakar supaya terhindar dari sebaran api yang keluar jalur.
i. Mewungkali adalah kegiatan pembersihan lahan melalui pengumpulan sisa kayu hasil pembakaran di suatu tempat tertentu (inoto) dan pelaksanaanya selama 1 bulan pada November – Desember.
j. Montuno inoto merupakan pembakaran sisa-sisa tumpukan kayu yang telah dikumpulkan, sampai hangus dan bersih yang berlangsung selama 1 minggu sebelum persiapan menanam.
k. Mewala Uma atau memagar adalah proses pemagaran kebun yang sudah siap ditanami:
a. Melemba wala merupakan kegiatan memikul pagar kebun yang berasal dari sisa-sisa kayu pembakaran atau bambu yang tidak hangus.
b. Moala karui, proses mengambil tiang pagar dari bamboo wulu/kecil sebagai pengikat pengikat pagar. Lama pemagaran biasanya selama 1 minggu.
c. Moala Pongkoko, proses mengambil ikat pagar (pongkokok wala) seperti rotan, resam, bulu yang berlangsung selama 1 hari.
Sebelum lahan ditanami, terlebih dahulu harus diperhatikan tanda-tanda bintang di langit (pesuri):
a. Tinao (Bintang bersusun tiga)
Apabila Tinao muncul di ufuk timur pukul 24.00 malam, berarti tidak baik menanam padi atau jagung. Jika Tinao muncul di ufuk timur pukul 05.00 subuh, berarti jam 6 sore Tinao berada di ufuk barat yang artinya sebagai tanda baik menanam. Setelah kemunculan Tinao di ufuk barat jam 6 sore, maka diadakan pertemuan (Tepoawa Mekompulu) bermusyawarah (Mogauako) mufakat (Boboto ako poawa) kapan dimulainya penanaman.
b. Molunu (sekumpulan bintang yang cukup banyak)
Apabila muncul di ufuk timur jam 5 atau 6 sore berarti curah hujan masih jauh tetapi waktu tepat untuk proses mewungkali, montonu inoto, dll. Bila muncul dan berada di tengah antara barat dan timur jam 6 sore sebagai tanda waktu yang tepat menanam karena ada curah hujan tetapi belum merata. Sebaliknya bila bintang berada di ufuk barat jam 6 sore ata disebut Metaburako maka tidak tepat lagi untuk menanam karena curah hujan yang sangat tinggi. Apabila proses buka lahan terjadi Sai ruka atau lambat dibersihkan ketika Metaburako, maka lahan tersebut tidak bisa ditanami.
c. Olimpopo Measa (Kokomeanta) adalah bintang tunggal di langit. Kemunculannya jam 4 hingga 5 subuh maka akan datang hujan. Biasanya sering terjadi pada sahur bulan puasa.

Tahap menanam:
a. Mombula Paea yaitu kegiatan berkelompok menanam jagung, ubi, kacang tanah dan kacang ijo dengan menggunakan tugal dari kayu berurat/roramo. Motasu Pae, kegiatan menugal padi dilakukan oleh laki-laki dan perempuan menabur benih padi serta memasak di dapur. Lama pelaksanaan Mombula Paea dan Motasu Pae tergantung luas lahan yang diolah.
b. Merobusi adalah kegiatan membersihkan rumput dengan sabit, secara perorangan maupun kelompok yang juga melibatkan perempuan. Lama pelaksanaanya selama masa tanam.
c. Meroo/montawisako eroo
d. Mou meeti
e. Montoria
Cara pemberantasan hama dengan bahan tradisional :
a. Hama babi (Wawi) dengan pemagaran dan meronda.
b. Tikus (Wola), ular hitam (Ule Molori), kodok (Kore), ayam (Manupuo), dan ulat (Ule ntii), dengan menggunakan air biasa di dalam botol yang dimantrai lalu disiramkan ke tanaman tersebut.
c. Walang sangit (Ongo) dan kepik (Kolohio), diusir dengan menggunakan rambut perempuan yang dimantrai. Rambut dikibaskan ke berbagai arah. Daun belimbing dikibaskan setelah dimantrai. Karet, tulang di kikis, daun Lombok, sisik ikan (diu) dibakar sesuai mata angin.

Tahap panen (Mongkotu):
a. Moweweu Landa
b. Mobelai Pea merupakan upacara adat yang dilakukan oleh dukun kampung untuk merayakan datangnya masa panen pada bulan Mei.
c. Momparesa Pae
d. Mongkotu/parea merupakan proses panen padi yang menggunakan alat pemetong padi berupa pisau/bulu/tongkotu.
e. Metila/Mebage Opae
f. Memporusi pae ntonia (baru) Pae wonua
g. Mohole pae
h. Moisa pae
i. Medoa/mehowu
j. Montalia/montompa pae hai kampiri merupakan proses memasukan padi ke dalam lumbung secara perorangan dengan basu atau wadah untuk menjunjung padi dari rumah lading/penampungan sementara ke lumbung dengan lama pelaksanaannya tergantung banyaknya hasil panen.
k. Mompuai tinuda
l. Mewuwusoi merupakan kegiatan pesta panen berlangsung selama 1 hari. Dukun padi mengundang anggota kelompok hamparan yang bersama-sama menyiapkan kebutuhan pesta yang dibutuhkan/dibawa.
Ladang yang telah diolah sebanyak 2 atau 3 kali, dianggap tingkat kesuburannya telah menurun sehingga orang Moronene menanaminya dengan bibit pohon, yaitu kayu atau buah-buahan yang berumur panjang dan ditanam dengan jarak tertentu. Ketika tingkat kesuburan sudah dianggap pulih, maka akan dilakukan pembukaan lahan perladangan kembali.

 

Kelembagaan Adat

Nama Puu Wonua atau Pu’utobu
Struktur Masyarakat Adat Moronene dalam menjalankan kehidupan keseharian maupun terkait aturan/hukum adat (Maluto) memiliki perangkat: a. Kepala adat/distrik atau disebut Mokolele Hukae/Miano Motoa Dewan Adat atau disebut Puu Wonua atau Pu’utobu b. Kepala Limbo c. Bonto d. Pabitara (hubungan masyarakat) e. Juru Tulis (Sekretaris) f. Kungkuno Sosoroma (Bendahara) g. Tontonango inalahi (kehutanan h. Tontongano Lombo (perkebunan) i. Tontongano Kadadi (kehewanan) j. Pembuea (kesehatan) k. Puu Tobu (Kepala Dusun) l. Sarea (Kapala Rukun Tetangga) m. Tamalaki (keamanan) n. Dukun adat atau disebut Miano Motuano/Tumpuu Roo
Masyarakat Adat Moronene dalam menjalankan kehidupan keseharian maupun terkait aturan/hukum adat (Maluto) memiliki perangkat:
a. Kepala adat/distrik atau disebut Mokolele Hukae/Miano Motoa bertugas sebagai pimpinana tertinggi dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di Hukae Laea.
b. Dewan Adat atau disebut Puu Wonua atau Pu’utobu
Keputusan tertinggi dalam hukum adat Moronene yang diambil melalui musyawarah (Tepoawa Mogau) untuk mufakat (Bobotoako Poawa). Tempat berkumpulnya dewan adat di Tudalompoea. Dewan adat yang memutuskan pemberian izin terkait aktifitas orang Moronene misalnya lahan untuk berkebun dll.

c. Kepala Limbo ditunjuk secara langsung dan dipercaya mengurusi pembagian lahan oleh dewan adat. Ia sebagai perantara antara orang Moronene dengan dewan adatnya terkait lahan olahan. Apabila orang Moronene ingin buka lahan untuk berkebun, maka penentuan pemilikan dan penguasaan lahan harus mendapatkan izin dari dewan adat.

d. Bonto berperan sebagai hakim adat dan pemimpin prosesi Meanduale. Prosesi Menduale adalah proses pengambilan sumpah pertobatan. Proses Meanduale hanya dilakukan bila si pemohon dinilai banyak melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap aturan adat atau tidak pernah taat terhadap keputusan musyawarah adat. Setelah melalui proses ini barulah si pemohon dapat menyampaikan permohonannya ke Kepala Limbo.

e. Pabitara (hubungan masyarakat) bertugas sebagai penasihat dalam masyarakat;

f. Juru Tulis (Sekretaris) bertugas menulis/mencatat administrasi kampung dalam membantu tugas mokolele dan bertanggung jawab kepada mokolele;

g. Kungkuno Sosoroma (Bendahara) bertugas sebagai pemungut hasil adat berupa uang hasil pajak adat dan bertanggung jawab kepada mokolele;

h. Tontonango inalahi (kehutanan) bertanggung Jawab menjaga dan melestarikan hutan adat;

i. Tontongano Lombo (perkebunan) bertugas mengatur bidang perkebunan Masyarakat Adat agar tidak melanggar ketentuan hukum adat;

j. Tontongano Kadadi (kehewanan) bertugas menjaga dan mengawasi satwa baik satwa liar maupun satwa peliharaan;

k. Pembuea (kesehatan) bertugas melakukan pengobatan jika terdapat masyarakat yang sakit termasuk melakukan pengobatan terhadap hewan dan tanaman;

l. Puu Tobu (Kepala Dusun) bertugas membantu Kapala Kampo dalam Menjalankan tugas sebagai pimpinan di Tobu;

m. Sarea (Kapala Rukun Tetangga) bertugas membantu Puu Tobu mengurus masyarakat;

n. Tamalaki (keamanan) bertugas melakukan pengamanan di wilayah adat dan bertanggung jawab langsung;

o. Dukun adat atau disebut Miano Motuano/Tumpuu Roo
Berperan sebagai pemimpin upacara atau ritual adat misalnya Mekilala (ritual menentukan lokasi perkebunan), Mo’o oli (ritual pembukaan lahan), dll. Ritual dilakukan melalui pembacaan mantra-mantra dan sesajen atau Pokosangkono sebagai syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan ritual adat.
 
Keputusan tertinggi dalam hukum adat Moronene yang diambil melalui musyawarah (Tepoawa Mogau) untuk mufakat (Bobotoako Poawa). Tempat berkumpulnya dewan adat di Tudalompoea. Dewan adat yang memutuskan pemberian izin terkait aktifitas orang Moronene misalnya lahan untuk berkebun dll. 

Hukum Adat

Status tanah bersifat komunal artinya tidak dapat diperjual-belikan, hanya dapat digunakan secara turun-temurun dan tidak dapat dipindah-tangankan oleh orang lain yang bukan ahli warisnya atau keluarganya. Apabila diketahui melanggar mendapatkan sanksi:
• Orang/kelompok menjual tanahnya tanpa sepengetahuan dewan adat, maka orang tidak dapat diterima menjadi bagian dari masyarakat adat Moronene. Apabila orang/kelompok tersebut meninggalkan kampong atau tanahnya maka tidak dapat dialihkan kepada orang lain dan harus dikembalikan kepada wilayah hukum adat.
• Apabila seseorang meninggalkan kampungnya dan menjual tanahnya tanpa sepengetahuan dewan adat, maka tanah yang sudah dijual akan ditarik kembali oleh lembaga adat. Untuk pembeli tanah tersebut juga dikenakan sanksi diusir keluar dari tobu (kampung) Hukaea-Laea.

Dilarang: Memasuki, mengelola, memanfaatkan atau melakukan segala bentuk kegiatan lain dikawasan hutan tersebut tanpa seizin Totongano Inalahi.
Sangsi:
a. Bila terdapat seseorang, baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama mengambil, mengelola, memanfaatkan tanpa seizin lembaga adat akan dipekerjakan ditempat-tempat sosial seperti dimesjid, balai adat, rumah sekolah dan sarana umum lain (Terampu) sambil menunggu keputusan sidang adat.
b. Alat-alat kerja yang digunakan disita/diambil oleh lembaga adat.
c. Menanam anakan pohon yang ditebang sebanyak 50 kali lipat dari pohon yang ditebang dan dilakukan sumpah adat (Tinotona)

Dilarang:
Memasuki, mengelola, memanfaatkan atau melakukan segala bentuk kegiatan lain dikawasan hutan tersebut tanpa seizin Lembaga Adat.
Sangsi:
a. Bila terdapat seseorang, baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama mengambil, mengelola, memanfaatkan tanpa seizin lembaga adat akan dipekerjakan ditempat-tempat sosial seperti dimesjid, balai adat, rumah sekolah dan sarana umum lain (Terampu) sambil menunggu keputusan sidang adat.
b. Alat-alat kerja yang digunakan disita/diambil oleh lembaga adat.
c. Menanam anakan pohon yang ditebang sebanyak 50 kali lipat dari pohon yang ditebang dan dilakukan sumpah adat (Tinotona)

1. Kayu
a. Setiap penebangan kayu harus seizin lembaga adat
b. Setiap penebangan kayu tidak merusak fungsi air dan sungai
c. Penebangan kayu berjarak 50 meter dari daerah aliran sungai
d. Pengambilan hanya untuk kepentingan umum, ritual ada, ramuan perumahan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian hutan.
Dilarang:
a. Apabila terdapat seseorang, baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama mengambil, mengelola, memanfaatkan tanpa seizin lembaga adat akan dipekerjakan ditempat-tempat sosial seperti dimesjid, balai adat, rumah sekolah dan sarana umum lain (Terampu) sambil menunggu keputusan sidang adat.
b. Alat-alat kerja yang digunakan disita/diambil oleh lembaga adat.
c. Menanam anakan pohon yang ditebang sebanyak 50 kali lipat dari pohon yang ditebang.

2. Rotan
a. Pengambilan/pengelolaan harus seizin lembaga adat, kecuali untuk kepentingan umum, ritual adat, pengikat ramuan rumah.
b. Pengambilan rotan dikelola bersama.
c. Menggunakan rotasi wilayah kerja.
d. Melakukan pengkayaan/penanaman rotan
e. Pengambilan umbut rotan hanya untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan tidak untuk diperjualbelikan.
Dilarang:
a. Mengambil/mengelola rotan tanpa izin lembaga adat.
b. Membunuh anakan rotan.
c. Membunuh pohon tempat lilitan rotan.
d. Merusak habitan satwa.
Sangsi:
a. Bila terdapat seseorang, baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama mengambil, mengelola, memanfaatkan tanpa seizin lembaga adat akan dipekerjakan ditempat-tempat sosial seperti dimesjid, balai adat, rumah sekolah dan sarana umum lain (Terampu) sambil menunggu keputusan sidang adat.
b. Alat-alat kerja yang digunakan disita/diambil oleh lembaga adat.
c. Menanam anakan rotan sebanyak 20 kali lipat dari rotan yang ditebang.

3. Damar
Pengambilan getah damar dilakukan bersama-sama (kolektif) dengan seizin lembaga adat.
Dilarang;
a. Menebang/mematikan pohon damar
b. Merusak anakan pohon damar
Sangsi:
a. Bila terdapat seseorang, baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama mengambil, mengelola, memanfaatkan tanpa seizin lembaga adat akan dipekerjakan ditempat-tempat sosial seperti dimesjid, balai adat, rumah sekolah dan sarana umum lain (Terampu) sambil menunggu keputusan sidang adat.
b. Alat-alat kerja yang digunakan disita/diambil oleh lembaga adat.
c. Menanam 10 kali lipat dari pohon damar yang ditebang/dimatikan.
Pemanfaatan, pengelolaan hasil hutan (sumber daya alam lainnya) seperti bambu, ubi hutan, pandan hutan, tumbuhan obat-obatan tradisional, madu, selalu memperhatikan hasil musyawarah.
 
Wanita Dilarang Menikah dengan Pria Luar, Jika Terjadi Harus Keluar Kampung
Zaman sekarang, pada umumnya diberikan kebebasan kepada pria dan wanita yang menjalin pernikahan untuk memilih tempat tinggal dalam membangun bahtera keluarga. Namun, tidak berlaku bagi suku Moronene yang mendiami Desa Adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana. Setiap masyarakat harus patuh dibawah hukum adat.
 
Perburuhan di wilayah hukum adat

Larangan perburuhan dilakukan pada waktu tertentu tepatnya ketika satwa (jonga) dalam masa mengandung, melahirkan (agustus) dan perkawinan (November hingga Januari). Apabila ada yang melanggar dikenakan sanksi baik masyarakat adat Moronene maupun pendatang:
• Apabila dilakukan perburuhan tanpa sepengetahuan dewan adat, maka orang tersebut akan ditangkap dan dibawa ke Terampu.
• Orang tersebut disidang oleh hakim adat (Bonto) bersama dengan pemerintah dan tokoh masyarakat.
• Apabila terbukti bersalah maka akan dikenakan denda adat yang disebut Haurente sebesar Rp. 500,000 (Lima Ratus Ribu Rupiah) sesuai dengan hasil keputusan masyarakat.
• Apabila Jonga dalam keadaan mengandung maka dikenakan sanksi 2 kali lipat dari sanksi semula.
• Apabila 3 kali berturut-turut melakukan pelanggaran, maka ia akan diusir dari kampung.

 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Menangkap burung a. Ayam hutan (manukatsu) dan ayam kampung (mekati) ditangkap dengan jerat (benggaro) dari daun agel yang dipasang di tempat lintasan ayam hutan. Dilakukan jam 5 subuh yang menggunakan umpan ayam hutan lainnya yang telah diikat. Biasanya ayam hutan lainnya akan datang dan mengajaknya berkelahi sehingga mudah ditangkap dan dijerat. b. Burung nuri (kuluri) dan kakaktua (keakea) ditangkap dengan getah kayu teo yang diletakan pada sepotong kayu atau batang, lalu dipasang di cabang kayu yang biasa disinggahi oleh burung. Bahan jerat terbuat dari kinuwu/agel yang dipasang di pohon-pohon berbuah manis. c. Maleo (mumuo) ditangkap dengan menggunakan jerat dari kinuwu/agel yang dipasang di tempat persinggahan burung maleo. Menangkap ikan Hasil tangkapan berupa ikan, gabus (Hie e), belut (sou), udang (ura), ikan mas (ica wulaa), mujair, gurami, dan ikan air tawar lainnya dengan alat: a. Wuwu terbuat dari rotan/bulu berbentuk bulat dan berongga, didalamnya permukaan luas yang semakin ke dalam semakin mengecil dan ujungnya runcing. Dipasang pada malam hari dan diangkat siang hari. b. Tuba/tuwele terbuat dari akar kayu yang berdaun dan digali dari dalam tanah lalu ditanam di dalam lumpur beberapa hari. Kemudian dibawa ke sungai dan dipukul-pukul hingga mengeluarkan air berwarna putih. c. Pancing/kekabi yang menggunakan tangkai (tangkea) bambu (wulu) dan tali agel (nowoti lanu). Umpan yang digunakan cacing, anak kodok, kerang (wonggi) sungai dan belalang. d. Menyulu (humulu) menggunakan lampu dari bambu dan parang (serampa) besi sebagai senjata. e. Sa’apa yang berbentuk bundar terbuat dari bambu yang diikat dengan hasil olahan rotan berukuran kurang lebih 1 meter. f. Pidi/panah yang terbuat dari kawat dibuat model senjata dan digunakan dengan menyelam air. Sistem meramu a. Sagu/Umbia Jenis Umbia biasa dan berduri yang tumbuh di rawa. Digunakan untuk makanan sehari-hari, daunnya untuk atap rumah, tangkainya untuk pagar kebun dan kulit tangkainya dianyam untuk dinding, kulit batang untuk pagar kebun/kayu bakar/dinding rumah. Cara pengambilannya melalui Merahia yaitu batang sagu ditebang dan dipotong-potong pendek dan dibelah. Kemudian batang yang mengandung tepung dihaluskan lalu sari tepungnya berwarna putih kecoklat-coklatan diendapkan dengan air. Hasil edapan dijadikan makanan sehari-hari orang Moronene. b. Agel/anu dapat ditemukan di tanah datar/lare melalui Merahia. Kegunaan dari agel, yaitu rebungnya sebagai sayuran, daunnya untuk atap rumah, pengikat, tikar, tudung dan aneka anyaman. c. Kenau (rema) diambil dari hutan melalui Merahia dengan kegunaan yaitu rebungnya sebagai makanan sehari-hari, minuman manis, tuak, dan sapu ijuk. d. Ubi hutan (Ondo) diambil dari hutan dengan digali (sinuane), lalu diiris dan direndam selama 3 hari kemudian dijemur dan diperas. Digunakan untuk makanan sehari-hari, ketika dimakan dapat ditambahkan ikan atau kelapa parut.
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur e. Alang-alang (Are) ditemukan di padang yang diambil dengan diaret/kandao dan digunakan sebagai atap rumah dan pupuk tanaman setelah pembusukan. f. Rotan (Aeu) ditemukan di pingkir kali, gunung, lembah, tanah rata dan hutan. Jenis Rotan yang diolah, yaitu Ue Bao, Ue Hoa, Ue Tuwu, Ue Pai, Ue Daramasi, Ue Wosu, Ue Tarompu, Ue Measa, Ue Sampa, dan Ue Wai. Cara pengambilannya yaitu dipotong dengan parang, ditarik atau dipanjat lalu dikupas durinya dan dipotong sesuai kebutuhkan (ukuran). Penggunaanya sebagai pengikat bangunan, tikar (empe ue), meraut perangkap ikan(kalea), jerat (taho), pagar, jarring (wuwu), untuk memasak labu, pengganti sumbu lampu, tangkai tombak, nyiru/duku, peti/bungke, dan kerajinan anyaman. g. Kayu ditemukan tumbuh liar di hutan dan ditanam oleh orang Moronene, diambil dengan kapak atau parang. Jenis kayu yang diolah yaitu jati (marade), besi (nona), bitti (keuowola), damar (dambara), kapuk hutan (lore), sukun hutan (teo), melinjo (huka), longkida, wunu mea, maja (bila), olo dawa, kapuk (kawu kawu), dan jenis lainnya. Digunakan untuk peralatan rumah tangga, bahan bangunan, rumah, jembatan, getah untuk minyak, lampu, perahu (bangka), sumber bahan makanan serta daun, buah dan kulitnya untuk obat serta perabot rumah, lem juga kegunaan lainnya. h. Bambu ditemukan tumbuh liar di sekitar pemukiman maupun hutan, diambil dengan parang. Jenis bambu yang diolah adalah Kowuna (bamboo biasa), wulu (bulu), ao, bonda, dan pafo (bambu tebal). Digunakan untuk peralatan rumah dan pagar, rebungnya untuk sayuran, anyam-anyaman, dan berbagai kegunaan lainnya.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Adat Moronene Hukaea Laea di Kabupaten Bombana 4 Tahun 2015 Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Adat Moronene Hukaea Laea di Kabupaten Bombana Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen