Wilayah Adat

Menua Iban Ungak

 Terverifikasi

Nama Komunitas Iban Menua Ungak.
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Embaloh Hulu
Desa Langan Baru
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.481 Ha
Satuan Menua Iban Ungak
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Dusun Apan: Tanda Alam: Entawa, Tapan Rintai Tiga, Kerapa Titi Tawa, Padang Antu, Sungai Jaung, Jalai Lintang, Tinting Kedang, Genting Petau, Kerapa Nyato, Tatai empili Kerak Pot, Genting Meriang, Munggu Engkeranyek, Genting Piang, Munggu Pitoh, Genting Sepidan, Genting Semambo, Labai Bukuh, Tinting Empili, Genting Lubang Memuas Dusun Tebelian: Tanda Alam: Tapang Rintai Dua, Pulau Engkeranye, Entawa
Batas Selatan Desa Ulak Pauk: Tanda Alam dan Buatan: Desa Ulak Pauk Langan Baru Batu Lintang, Lubuk Ribai, Tapang Ribuk, Mampas, Tanah Pak Martoyo
Batas Timur Dusun Kulan: Tanda alam: Bukit Mungguk Labok, Tinting Antu, Tatai Tinting Anantu, Genting Tekam, Genting Keladan, Tinting Resak,Tinting Simpang Tiga, Kakai Tinting Antu, Junggur Tinting Antu, Genting Mekong, Tatai Mesawak, Genting Kenyalang, Genting Lubang Memuas
Batas Utara Dusun Sungai Tebelian: Tanda alam: Bukit Mungguk Labok, Tinting Antu, Tatai Tinting Anantu, Genting Tekam, Genting Keladan, Tinting Resak,Tinting Simpang Tiga, Kakai Tinting Antu, Junggur Tinting Antu, Genting Mekong, Tatai Mesawak, Genting Kenyalang, Genting Lubang

Kependudukan

Jumlah KK 49
Jumlah Laki-laki 98
Jumlah Perempuan 84
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Berdasarkan sejarah, Komunitas yang sekarang mendiami Menua Ungak adalah komunitas yang berasal dari Menua Wong Pandak (dekat Lubok Antu ) Malaysia Serawak Lubok Antu. Kelompok ini kemudian pindah menuju menua Ungak yang di pimpin oleh Temenggung Budit. Terjadi beberapa kali perpindahan akhirnya sampai pada suatu tempat yang bernama Nanga Langan. Nanga Langan merupakan wilayah yang pada saat itu didiami oleh suku embaloh. Kemudian Tuai Rumah waktu itu meminta wilayah untuk bisa bermukim menetap. Oleh orang embaloh diberikan tempat di tepi Sungai Ungak dengan syarat tempat yang sudah diberi tersebut tidak boleh ditinggalkan. Karena wilayah pemukiman yang diberikan tersebut berada di wilayah sungai ungak, maka wilayah itu dinamakan dengan Kampung Ungak atau Menua Ungak.
Walaupun menetap tetapi masih terjadi perpindahan kampung. Dari Nanga Langan mereka kearah mudik sungai Langan. Dari Mudik sungai Langan menuju arah selatan mengikuti arus sungai langan sampai menetap di Nanga Sungai Ungak. Dari perpindahan Nanga Langan sampai di Nanga Sungai Ungak dipimpin oleh Tuai Rumah yang bernama Suka. Dari Sungai Ungak mengikuti jalan setapak melewati damun berjalan menuju arah timur sampai di Tembawai Ijok. Saat itu Tuai Rumah masih dipimpin oleh Suka. Dari Tembawai Ijok kemudian berpindah lagi menuju arah seberang selatan mengikuti jalan setapak melintasi Damun sampai di Tembawai karet. Tepatnya di Jalai Lintang Lama yang merupakan jalan yang sudah dibuat pada zaman Kolonial Belanda. Dari Tembawai Karet kemudian pindah lagi menuju arah selatan mengikuti jalan yang melewati Damun sampai akhirnya di Tembawai Tinting. Dari Tembawai Tinting menuju kearah barat melewati jalan setapak menuju Tembawai Kenyalang. Di Tembawai Kenyalang Tuai Rumah Suka meninggal yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Mpaga. Dari Tembawai Kenyalang menuju arah barat di Tembawai Semakao. Pada waktu zaman penjajahan jepang, dan di tembawae kenyalang Tuai Rumah Mpaga diganti oleh kleman, karena Mpaga menjadi Kepala Kampung. Setelah beberapa lama tinggal di Semakao menuju arah barat pindah ke tembawai Kimbet dengan Tuai Rumah Asan (nama lain ‘Beruang’), kemudian kea rah barat pindah lagi ke tembawai Tule dan pindah lagi ke tembawai Kandeh Tuai Rumah masih dipimpin Tuai Rumah Asan (nama lain’ Beruang’). Dari tembawai Kandeh pindah lagi kea rah timur menuju dampak Engkelili dan dipimpin Tuai Rumah Baring. setelah itu pindah lagi ke tembawai Nanga Ungak, Tuai Rumah Bareng tidak berapa lama memimpin kemudian diganti lagi oleh Asan (nama lain ‘Beruang’ ) dari situ pindah lagi ke tembawai Tetak dengan di pimpin Tuai Rumah Sidar, kemudian pindah lagi ke tembawai Angat dengan Tuai Rumah Gemok dan begitu lama pindah lagi ke tembawai Ringkap dengan Tuai Rumah Bungin.
Sekitar tahun 1986, pindah lagi ke tembawai Ringkap ke dua yang tidak jauh dari tempat itu, kemudian pada tahun 1994 pindah lagi ke tembawai Sebangki di sini selama 5 tahun dengan Tuai Rumah Bungin sekaligus sebagai patih. Pada tahun 1999 pindah ke tembawai Tumbang dan tuai rumah Bungin meninggal diganti anaknya tuai rumah Merayang. Masyarakat Ungak kemudian lari ke seberang jalan membuat rumah, disini rumah mereka terpisah tidak memanjang menyeluruh masih di pimpin tuai rumah Merayang yang juga menjabat sebagai Pateh Ketemenggungan Iban Jalai Lintang. Beberapa tahun menempati pumukiman ini mayarakat kemudian membuat rumah panjang lagi, ke sungai sio’ dan selesai sekitar awal tahun 2008 dan kemudian masyarakat menempati rumah baru pada tanggal 8 agustus 2008, rumah panjang ini kemudian di pimpin oleh tuai rumah Edwardus Agas anak Baring yang pernah menjadi tuai rumah sebelumnya. Beberapa tahun memimpin kemudian Tuai Rumah Agas meninggal, dan semua tugas tuai rumah di limpahkan kepada keluarga istri dan anaknya Darius Doni untuk sementara masyarakat mencari pemimpin baru. Kemudian di ganti dan ditetapkan masyarakat Ungak Marselus Adi (Nama Kampung ‘’Panas’’) sebagai tuai rumah hingga sekarang. Selama di wilayah adat Menua Ungak Terjadi perpindahan kampung sebanyak 18 mulai dari Nanga Ungak sampai akhirnya menetap hingga sekarang sungai sio. Dengan pergantian Tuai Rumah sebanyak 11 kali diantaranya: Tuai Rumah Suka, Mpaga, Kleman, Asan/Beruang, Baring, Sidar, Gemok, Bungin, Merayang, Agas dan saat ini Tuai Rumah dijabat oleh Marselius.
Rata-rata perpindahan terjadi sekitar 2-3 tahun namun Tidak diketahui secara pasti kapan tahun pastinya terjadi perpindahan tersebut. Adapun yang menjadi alasan terjadinya perpindahan. Antara lain: Mencari tempat yang mudah untuk membuka ladang, mencari ikan, berburu dll, Kondisi bangunan rumah sudah mulai rusak sehingga harus ditinggalkan, Lahan semakin sempit akibat pertambahan penduduk, Terserang wabah penyakit yang banyak mengakibatkan kematian, dan factor Keamanan. Karena pada waktu itu masih terjadi peperangan antar suku (mengayau).
Dalam sejarahnya selain perpindahan kampung juga tercatat beberapa peristiwa yang terjadi. Interaksi yang terjadi antara komunitas adat dengan Belanda pada waktu itu bersifat netral artinya tidak ada perlawanan atau peperangan yang terjadi. Masuknya beberapa tanaman komoditas seperti karet, kopi, jambu mete juga dibawa pada zaman penjajahan belanda. Pembuatan jalan yang pertama kali ada pada zaman itu yang sampai saat ini disebut dengan jalan lintang. Selain itu juga terjadi misionaris agama (katolik) yang terjadi pada tahun 1913 yang dibawa oleh Pastor dari belanda. Pada zaman Jepang terjadi kekerasan pada masyarakat adat sehingga pada waktu itu masyarakat adat melakukan perlawanan dengan tentara jepang dibawah kepemimpinan Panglima Ibo dan Panglima Cabo (dari Sui Utik). Masyarakat juga mengalami kerja paksa atau kerja rodi. Terjadi kesulitan pangan karena hamper semua hasil bumi dirampas oleh tantara jepang.
- Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia terjadi perubahan tata pemerintahan. Dari penyebutan Kedemangan diganti menjadi kubu dan berubah kembali menjadi camat. Perubahan yang terjadi tidak merubah nama, tetap menggunakan nama “Embaloh Hulu”. Mulai terbentuknya dusun yang pada waktu itu disebut dengan kampung. Sehingga pimpinan wilayahnya menjadi kepala kampung. Kepala kampung pertama dijabat oleh Mpaga yang pada waktu itu menjabat sebagai Tuai Rumah. Sehingga posisi jabatan beliau digantikan oleh adiknya. Pada saat itu sudah terbentuk 7 kampung yang semuanya berada dalam wilayah ketemenggungan Jalai Lintang.
- Tahun 1970 Masyarakat Adat Iban Menua Ungak mulai mengenal cetak sawah dan irigasi. Awalnya Ini merupakan program pemerintah dimana sebelumnya masyarakat bercocok tanam dengan system ladang berpindah saat itu sudah mulai menetap. Adapun benih padi yang digunakan juga menyesuaikan. Yang dulunya menggunakan benih local seperti: padi sangking, padi pun, padi tasik, padi beram, padi pulut, dan padi merah kini berubah menggunakan benih ungguk dari pemerintah seperti: benih pantianak, PB 5, PB 3. Perbedaan antara kedua benih tersebut, dari segi umur tergolong sangat cepat. Jangka waktu 6 bulan sudah bisa dipanen sehingga dalam setahun bisa panen 2 kali. Sedangkan apabila menggunakan benih local hanya bisa panen setahun sekali. Tetapi benih padi unggulan tersebut tidak tahan dengan seranan hama. Seperti wereng, ulat burung pipit sehingga harus menggunakan pestisida. Karena itu masyarakat kembali menggunakan benih local yang biasa digunakan sebelumnya. Saat ini irigasi yang pernah ada juga tidak digunakan lagi karena tidak ada keberlanjutan program dari pemerintah. Dan saat ini hanya menggunakan system tadah hujan untuk bercocok tanam.
- Tahun 1978 masuk perusahaan PT. Bumi Raya ke wilayah masyarakat adat. Perusahaan itu bergerak di bidang perkayuan. Namun tidak pernah terjadi konflik dengan masyarakat setempat
- Tahun 1980 terbentuk Desa Langan baru, dengan kepala desa pertama bernama Pak Ompin. Setelah terbentuknya desa, wilayah ketemenggungan terpecah menjadi 3 bagian. Di desa langan baru terdapat 4 kampung: Ungak, Kulan, Apan, Tebelian.
- Sekitar tahun 2000 pernah terjadi bencana alam angin putting beliung yang mengakibatkan kerusakan bangunan pada rumah Panjang, tetapi tidak sampai terjadi perpindahan tempat.
- Tahun 2003 mulai ada listrik, dimana sebelumnya hanya menggunakan lampu templek dari getah damar atau minyak tanah. Tahun 2013 mulai ada program air bersih yang masuk dalam wilayah adat Menua Ungak. Tahun 2014 terjadi illegalloging oleh perusahaan Malaysia yang merupakan mitar kerjasama dengan pemerintahan indonesia dalam penyedian alat berat. Tahun 2017 mulai ada pengembangan tanaman kratom. Tanaman ini merupakan tanaman endemic yang memang tumbuh di wilayah adat. Karena ada penelitian yang dilalukan oleh orang amerika dan dirasakan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, saat ini banyak masyarkat yang ikut membudidayakan di lahan-lahan setempat.
- Terkait Batas yang ada saat ini merupakan penyepakatan yang sudah dilakukan oleh orang tua terdahulu. Walaupun penyebutan wilayah mengalami perubahan secara tata pemerintahan tetapi tidak merubah tanda batas yang memang sudah ada sebelumnya. Secara fungsi Kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah, wilayah adat Menua Ungak masuk dalam Kawasan lindung, HPL, dan HPT. Untuk itu saat masyarakat melihat peluang yang diberikan dengan mengajukan skema hutan adat untuk mengamankan wilayahnya dan bisa mengelola dengan aman.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Damun (Bekas ladang)
Suatu kawasan bekas ladang, yang mulanya adalah hutan atau lahan yang belum dibuka dengan tutupan lahan berupa tanaman kayu-kayu besar. Orang pertama yang membuka lahan ini yang kemudian menjadi pemilik damun. Damun dapat dibagi menjadi lima:
- Pengerang Tuai: damun yang berumur antara 15 – 20 tahun
- Pengerang; damun yang berumur antara 10 – 15 tahun
- Temuda: sutau kawasan damun yang berumur antara 3 – 5 tahun
- Dijab, suatu damun yang berumur 2 tahun. Biasanya dijab sudah merupakan kawasan semak belukar yang ditumbuhi oleh kayu-kayu kecil dan masih ada tanaman ladang seperti tebu, pisang, ubi, tanaman sayur-sayuran, ubi jalar, keladi dan lain-lain.
- Kerukoh, damun yang berumur 1 tahun yang biasanya masih terdapat tanaman ladang serta ditumbuhi semak-semak kecil.
Dalam Damun terdapat titik penting yang disebut Pendam aek Beruang, tempat ini merupakan tempat masyarakat adat melaksanakan ritual apabila akan bercocok tanam. Saat ini Damun merupakan areal yang digunakan untuk bercocok tanam, dan diambil hasilnya untuk produksi atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saat ini tutupan lahan yang ada di Damun seperti: sayur-sayuran, bamboo, kayu, rotan, dan buah-buahan. Selain itu Damun juga merupakan tempat berburu binatang kancil, landak dan musang.
2. Umai Paya (sawah)
kawasan yang diperuntukan untuk menanam padi. Sebelumnya umai paya berupa rimba yang berada di wilayah rawa atau rawa. Dan ada juga beberapa yang merupakan peralihan dari Damun. Selain padi umai paya digunakan untuk bercocok tanam sayur-sayuran dan tanaman-tanaman yang berumur pendek.
3. Pulau.
Merupakan lahan yang sudah pernah dibuka sebelumnya tetapi tidak diperuntukkan untuk berladang. Pulau difungsikan oleh Masyarakat adat sebagai lahan cadangan. Ada beberapa jenis pulau seperti pulau buah, pulau tapang, dan pulau kayu bahan-bahan rumah. Kawasan ini tidak boleh diladangi. Kayu yang ada hanya boleh dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan tidak untuk diperjual belikan. Di dalam pulau terdapat tanah mali yang merupakan tempat yang digunakan untuk menyembelih babi/ayam pada saat upacara adat mali yang dalam bahasa lokal disebut “pase’ menua”. Tanah mali tidak boleh digunakan untuk perladangan. Tutupan lahan yang tumbuh diatasnya juga boleh diambil ole siapapun.

4. Temawai (Bekas kampung)
Adalah suatu kawasan bekas mendirikan rumah panjai atau langkau (pondok). Dalam masyarakat Iban Ungak Mengenal ada tiga jenis temawai :
- Temawai rumah Panjai merupakan suatu perkampungan yang dihuni selama beberapa tahun, kemudian ditinggalkan, karena pindah kepemukiman yang baru. Temawai biasanya ditumbuhi beragam jenis tanaman buah-buahan seperti durian, rambutan, langsat, asam, pinang, cempedak, rambai dan lain-lainnya. Selain ditumbuhi oleh tanaman buah-buahan juga ditumbuhi oleh tanaman lain seperti rotan, tengkawang, dan bermacam jenis tanaman bumbu-bumbuan. Temawai ini tidak boleh diladangi atau dirusak, karena menujukan identitas masyarakat tersebut.
- Temawai dampa’ (sementara), suatu lokasi bekas perkampungan rumah panjai namun sifatnya sementara karena masyarakat lari dari perkampungan tersebut akibat suatu kejadian yang tidak mereka duga. Temawai ini biasanya ditempati 1-2 tahun, tidak dtanami tanaman.
- Temawai langkao Umai, suatu tempat bekas mendirikan pondok ladang. Disekitar pondok ladang biasanya ditanami tanaman sayur-sayuran, bumbu-bumbuan, pisang, dan lain-lain. Tanaman yang tumbuh di temawai ini kemudian menjadi milik yang punya langkao dan keluarganya.

5. Kampung (Hutan)
Merupakan Tanah/hutan yang dimiliki secara kolektif (bersama-sama) oleh orang keturunan masyarakat Iban Ungak yang di dalam suatu perkampungan yang didiaminya. Setiap orang Iban yang tinggal di kawasan tersebut berhak atas tanah/hutan tersebut. Secara fungsi Kampung dimanfaatkan untuk pengambilan kayu secara terbatas, tempat berburu tetapi tidak boleh dibuka untuk perladangan. Adapun tutupan lahan yang ada di kampung berupa kayu-kayu besar, tanaman obat-obata, bamboo, gaharu, dan rotan. Di dalam Kampung ada tempat yang dinamakan Kampung Galao. Dimana kampung galau ini juga merupakan cadangan lahan bagi masyarakat iban ungak.
Ada beberapa titik penting yang terdapat di kampung yaitu: Muja Menua. Tempat yang digunakan untuk Ritual Adat. Selain itu juga terdapat kuburan atau Pendam. Kawasan ini tidak boleh diladangi dan diganggu. ada beberapa jenis pendam antara lain:
• Pendam biasa: adalah tempat yang dapat digunakan untuk menguburkan siapapun warga kampung yang meninggal.
• Rarong: tanah kuburan yang secara khusus diperuntukan bagi orang-orang yang meninggal dalam usia tua yang memilki jasa.
• Pulau temune’, kuburan yang digunakan untuk menguburkan tali pusat bayi.
6. Rumah Panjai (Pemukiman)
Merupakan kawasan pemukiman penduduk. Rumah Panjai terdiri dari beberapa keluarga yang tinggal pada tiap-tiap bilik (ruang rumah). Rumah panjai ini menunjukan suatu identitas bagi masyarakat adat. Di dalam rumah panjai kegiatan budaya masyarakat Dayak Iban diturunkan dari generasi ke generasi. Rumah panjai ini tetap akan dipertahankan karena merupakan aset budaya, meskipun secara bangunan fisik bahan yang digunanan untuk mebangun rumah panjang Ungak sudah di katakan moderen namun bentuk bangunan tidak menghilang budaya dan tradisi yang ada di Menua Ungak.
7. Kampung Kerapa (Rawa).
Merupakan Kawasan lahan basah atau yang biasa dikenal sebagai tanah rawa. Tanah rawa ada beberapa yang sudah menjadi cetak sawah atau umai paya. Oleh masyarakat iban ungak tanah kerapa dimanfaatkan untuk mengambil dan mengambil hasil hutan bukan kayu, berburu dan mencari ikan. Adapun tutupan lahannya berupa tanaman kayu, Rotan, Pandan, kantong semar, anggrek, dan madu.
8. Kebun Getah/Kebun Karet
Merupakan lahan damun atau pulau yang mayoritas berisi tanaman karet. Secara fungsi sebagai pemanfaatan, sarana produksi dan budidaya. Adapun jenis tutupan lahannya berupa: karet (mayoritas), tanaman buah, kopi, coklat, pete, jengkol, salam, gaharu, dan beberapa jenis tanaman kayu.
9. Sumber air bersih (Bendunga di sungai Nanga)
Merupakan aliran sungai yang dibendung yang difungsikan sebagai sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
 
Kepemilikan dalam Iban Ungak langsung menyebutkan dengan kata “Mpu”. Yang artinya sebenarnya sudah mencerminkan hak. Misalnya: “Mpu Urang Mayo” artinya milik umum atau milik Bersama, “Mpu kitai” artinya milik kita. Ada kepemilikan Bersama dan kepemilikan perorangan. Damun di kuasai secara pribadi. Cara mendapatkannya dengan berimak atau membuka lahan yang terlebih dahulu ijin dengan Tuai Rumah. Kepemilikan damun adalah peorangan, yang bisa diwariskan kepada keluarganya. Penguasaan Umai paya dimiliki secara perorangan atau individu. Tergantung dari siapa yang membuka umai paya terlebih dahulu. Tempat untuk membuat umai payabisa dengan membuka damun atau kampung kerapa. Lahan umai paya ini bisa diwariskan kepada generasi penerusnya. Penguasaan Pulau bisa dimiliki Bersama-sama ataupun perorangan. Penguasaan Temawai secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Penguasaan Kampung secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Penguasaan Rumah panjai (Pemukiman) secara Bersama atau komunal dibawah pengaturan Tuai Rumah. Kampung Kerapa dikuasai secara Bersama atau komunal dibawah pengatuarn Tuai rumah. Kebun karet dikuasai secara pribadi dan pemindah tanganannya melalui warisan dan Sumber air bersih dikuasai secara Bersama atau komunal. 

Kelembagaan Adat

Nama Tuai Rumah Ungak
Struktur 1. Tuai Rumah 2. Sapit Rumah - Merupakan keturunan dari Tuai Rumah sebelumnya. - Bisa laki-laki atau perempuan - Bisa anak/keponakan tetapi menantu tidak boleh - Harus tau mengenai urusan adat, berjiwa pemimin, bersikap netral. - Periode jabatan tidak ditentukan alias seumur hidup selagi yang bersangkutan masih sanggup untuk mengemban tugas.
Tuai Rumah:
- Mengarahkan pada saat aka nada ritual adat gawai
- Memutuskan perkara adat tingkat Menua
- Mengatur tentang perladangan/bercocok tanam.
Sapit Rumah:
- Menggantikan tugas Tuai Tumah pada apabila sedang berhalangan. Tetapi sapit Rumah tidak berwenang dalam mengambil keputusan.
 
Melalui ‘Berandao” atau Musyawarah adat.
Tujuan dari pelasanaan Berando: saat melaksanakan peradilan adat, akan melaksanakan ritual adat, pada saat akan menentukan tanggal bercocok tanam.
Yang bisa hadir dalam pelaksanaan Berando adalah semua masyarakat adat setempat.
Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan Berando:
1. Jako Iban: Proses penyebaran infomasi yang dilakukan oleh Tuai Rumah dengan mendatangan tiap bilik dalam rumah Panjang.
2. Jako Pertama Tua Rumah: Sambutan dari Tuai Rumah sekaliagus membuka acara, menjelaskan maksud dan tujuan dari pelaksanaan yang akan dilakukan.
3. Berundieng: Proses diskusi antar Tuai Rumah, Sapit Rumah dengan masarakat yang hadir.
4. Semaya: Pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil sifatnya mutlak dilaksanakan tidak bisa dibatalkan oleh pihak siapapun.
Pelaksanaan Berando biasanya dilakukan di Rumah Panjang Bilik Tuai Rumah. Untuk berando yang tingkatannya besar seperti peradilan adat, dilakukan dengan menggunakan ritual adat yang disebut dengan “Bedara”. Sesajian yang dipakai berupa: sirih, sedik (gambir), pinang, tembakau, nasi pulut dalam buluh, tumpik, letuk lendai dan tekur manuk.
 

Hukum Adat

1. Dilarang menangkap ikan dengan menggunakan setrum atau portas
2. Tidak boleh bercocok tanam dan mengambil hasil produksi di damun orang lain tanpa seijin dari pemiliknya.
3. Meminjam Umai Paya harus seijin pemiliknya
4. Bagi orang luar dilarang menebang pohon tanpa sepengetahuan Tuai Rumah.
5. Tidak boleh melempar batu keatas atap rumah Panjai.
6. Apabila akan membelah kayu bakar di rumah panjai dibatasi hanya sampai jam 5 sore,
7. Tidak boleh menarik atau menyeret kayu bakar dengan motor atau mobil.
8. Apabila masuk ke rumah Panjang dari ujung yang bertujuannya ke akhir tidak boleh langsung melaju tetapi harus singgah ke satu atau dua rumah walaupun hanya sebentar.
9. Tidak boleh mengambil anakan tanaman di kebun karet orang tanpa seijin pemiliknya.
Apabila aturan-aturan tersebut dilanggar maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. Denda tersebut tertuang dalam “Penti Pamali”
 
A. Adat Pati Nyawa (menghilangkan jiwa orang)
a. Unsur tidak sengaja: Jika sangsi berupa benda-benda adat: Satu buah tempayan jenis legiau sama dengan Dua (2) Buah Ningka Betanda sama dengan empat Buah Menaga sama dengan 8 buah Tajau Rusa. Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
b. Unsur sengaja: Satu (1) buah tempayan jenis legiau sama dengan Dua (2) Buah Ningka Betanda sama dengan empat Buah Menaga sama dengan 8 buah Tajau Rusa. Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10. Di tambah satu buah tajau(Tempayan) rusa
c. Adat Setengah pati nyawa (mencelakaan jiwa orang lain): Paling tinggi 4 buah tajau rusa. Penti pemali: Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5.
Bila diuangkan:
1. satu buah tempayan legiau Rp. 40.000.000
2. satu buah tempayan ningka betanda Rp. 20.000.000
3. satu buah tempayan menaga Rp. 10.000.000
4. satu buah tempayan Rusa Rp. 5.000.000
5. satu buah tempayan pungkal Rp. 5.000.000
B. Adat Ngangus (Mebakar, Kebakaran)
1. menghanguskan rumah orang (unsur Sengaja)
Sanksi : jika pelaku masih satu kampung , maka orang itu di usir dari kampung. Ganti rugi: Penti pemali : jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
2. unsur tidak sengaja
Ganti rugi berupa: jane (Babi) Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 10.
C. Ukom adat Belaki Bebini
1. Jika terjadi perselingkuhan antara Bujangan dengan istri orang, Gadis dengan suami orang, suami orang dengan istri orang akan dikenakan sanksi: enam alas.
2. perceraian suami/istri tidak maenerima suami/ istri tidak ada kejelasan masalah akan dikenakan Sangsi : dua belas alas.
Kena adat pemae anak (pemberian kepada anak)
Apabila diuangkan: Alas biasa = Rp 500.000, Kuna = Rp 50.000
D. Adat Belaki Bebini (Dalam Pernikahan)
1. Adat meminta menantu atau meminta istri, Barang yang di gunakan: cincin emas 5 gr, kalung emas 7 gr, alat kecantikan untuk calaon istri,
2. Adat melah pinang ( baru jadi ), Barang dan perlatan yang digunakan dalam acara adat : Satu buah tempayan, babi, ayam jago, uras pinang paling kecil 100.000, utai bebrambar(kain yang ada nilainya, tuak satu tempayan ( disbentu aek pinang), pedara buat ritual sejenin sesajen dengan jumlah piring sembilan, dll.
E. Adat Encuri (Pencuri/mengambil )
1. mencuri kayu di wilayah/ masuk batas wilayah orang lain : Kayu di pulangkan ke pemilik asli wilayah, kena sangksi adat : dua alas.
2. mencuri di ladang orang, Sangksi adat : satu alas + penti pemali : Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5.
F. Adat Ngemula/Ngerakar
1. mebohongi orang kena sangsi : satu Alas
2. penipuan dalam hal barang maupun lainnya
Sangsi : satu alas + penti pemali : Manok (ayam), Duko (Parang), Pingae(Piring), mungkol 5
G. Adat Ngeranggar (Pelanggaran)
1. Mengambil tanah atau melewati batas wilayah orang lain, Sanksi: Ganti rugi, Penti Pemali : Babi paling kurang 3 sepa ( tiga kali beranak ), ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 10 + lapor kepada pihak berwewenang.
2. merusak tanah atau rumah. Kena sangsi : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 10. Jika ada yang meningal di kampung, kembali ke sangsi adat pati nyawa, Jika ada yang sakit, kembali ke adat setengah pati nyawa, Jika korban perusakan tanah / rumah lalu meningalkan barang nya maka pelaku mebayar kerugian barang rumah atau tanah si korban.
H. Adat Laya (Perkelahian)
1. perkelahian dengan memegang senapang, Sanksi : Empat Alas + penti pemali : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
2. perkelahian memegang barang tajam, Sanksi : tiga alas + penti pemali : Babi, ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
I. Adat Pemalu (Pencemaran Nama Baik)
1. Mengatakan orang pendatang/menumpang/bukan asli keturunan yang berada di wilayah tersebut, tetapi pada kenyataannya si korban merupakan asli dari keturunan yang memiliki wilayah tersebut. Sanksi: Satu alas = 500.000
2. prasangka buruk kepada orang tanpa ada bukti. Jika tuduhan menyangkut perkara besar maka sangsi : Dua Kuna = 50.000. Jika tuduhan menyangkut perkara kecil maka sangsi : satu Kuna
J. Penti Pemali
1. Rejang ruas (bejalan dirumah panjang masuk dari ujung rumah panjang samapai ke hujung lagi dan keluar tanpa berhenti atau duduk dalam rumah panjang). Sanksi : dua kuna + ayam, parang, piring, karong kerubong mungkol 5
2. mebongkar rumah panjang atau pindah tanpa ada maslah apapun, Sanksi Berupa Penti pemali : satu ekor babi bertaring, ayam satu, parang nyabor, beliung, piring, karong kerubong mungkol 10.
 
Pada tanggal 10 januari tahun 2020 terjadi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga pada saat sedang ada ritual “penggantian atap rumah betang” karena menimbulkan keributan maka kedua pasangan tersebut dikenakan denda Pati Pemali berupa ayam, pinang, parang, dan uang Rp. 10.000.
Dalam menyelesaikan perkara, lerlebih dahulu Tuai Rumah akan mendatangi orang yang bersangkutan. Setelah mendengar penjelasan barulah dikenakan denda sesuai dengan pelanggarannya.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan - Karbohidrat: Padi (Padi), Jagung (Lingkau), Sagu (Mulung), Singkong (Empasa), Ketela (Abuk), Keladi (Subung). - Protein Nabati: Kacang Tanah (Kacang Tanah) - Protein Hewani: Ayam (Manuk), Bebek (Itiek), Babi (Janek), Anjing (Uduk), Tupai (Tupai), Ular (Urar), Musang ( Musang), Landak (Landak), Kancil (Pelanduk), Katak (Pamak), “Sinang”, “Puan”, Kera (Kera), Beruk (Nyumbuk), Kura-kura sungai (Labi-Labi), Ikan Baung, Ikan adung, Ikan Tuman, Ikan Tujam, Ikan Palau, Ikan Bantak, Ikan Saluang, Ikan Blauk, Ikan Tilan, Ikan Please, Ikan Pasung, Ikan Pejuman, Ikan Sariban, Ikan Siruk, Ikan Patin, Lele, Ikan Nila, Udang, Kepiting, Siput, Bekicot, Belut, Belida, Tengadak, Buing, Bangah, Intebalang, Ikan Tengalek, Rusa (Payau). - Buah-Buahan: Durian (Rian), Rambutan (Sibau), Kemayau, Mangga, Empelam, Paoh, Kemantan, Buah isu, Nyekak, Cempedak (Bukuh), Nangka (Nangkak), Pisang, Nipah, Nanas (Berunai), Langsat, Remai, Manggis (Salam), Buah Puak, Unggit, Batam Kane, Buah Kepayang, Buah Uncung, Pepaya (Rungun), Jambu Kayo (Jambu Biji), sirsak (Nangka Belanda), Kelapa (inyak) - Sayur-sayuran: kacang kanjang (Retak), Kacang Unyil (Retak Tanuak), Timun (Rambuk), Entekai, Celau (Timun Besar), Terong Asam, Labu (Genuk), Terung Pipit, Buah Lepang, Pakis (Pakok), Kemidin (pakis Merah), Paku Ikan (Paki Ijo), Pakok Pait, Daun Pepaya, Daun singkong (Daun Emapa), Ketuntum, kesepai, rebung (tubuk), Sabong, Kangkung, Daun Entaban, Daun Tengang, Umbut Patuk, umbut Nibung, Umbut Upak Uwi, Upak Apeng, Upak Birok, sawi (Ensabi), Bayam.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Kunyit untuk obat flu, - Entemu untuk obat luka, - Jahe/Liak untuk obat luka, - Kucai Lemak untuk obat ambein, - Bangkit untuk obat sembelit, - Sirih untuk obat memar, - Jeranau untuk penyakit dalam, - Akar Kelait untuk obat batuk, - Kamplas untuk obat sesak nafas, - Pasak Bumi untuk obat malaria, - Daun Kantuk untuk obat Sakit gigi - Jeruk Nipis untuk obat sariawan - Jambu Koyo untuk obat diare - Enteko untuk obat penyakit dalam - Kulit Entanggual untuk obat penyakit dalam - Daun Aras untuk menghaluskan kulit.
Papan dan Bahan Infrastruktur 1. Tiang Bangunan: Kayu Belian, Kayu Tekam, Katu Selangking, kayu Penyau, kayu Merbau, kayu Sunying, Kayu Janang, kayu Tembeso, Kayu Medang Semat, Kayu Semari. 2. Papan/Dinding/Lantai: Kayu Pelawan, Kayu Lelangai, Kayu Keladan, Kayu Telansan, Kayu Larok, Kayu Kelesak, Kayu Entanggul, Kayu Kelait, kayu Nelutung, Kayu Majau, Kayu Empelanjau, Kayu Balak Berketam, Kayu sengkadan, Kayu Tengkawang, Kayu Engkabang. 3. Atap rumah: Kayu Panggau, Kayu gelunggang, Kayu pukul, Kayu Medang, Kayu Tulang Orang, Kayu Perawan Gerne, Daun Saguk, Daun Biro, Daun Kumpang, daun Lalang, Daun Long, Daun Pingan.
Sumber Sandang Pewarna alami: Kulit Sebangka, Daun Gerbai, Daun Enggat, Kulit Mengkudu, Kulit Jeranggau, Kulit Sangak.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Jahe, Sereai, Lengkuas, Salam, Kemangi, Tomat, bawang Dayak.
Sumber Pendapatan Ekonomi 1. Karet diambil pengempul dengan harga Rp. 7000/kg. dalam setahun panen 4 kali dengan hasil panen rata-rata 300 kg sekali panen. 2. Pisang diambil pengepul dengan harga Rp. 4000/kg biasanya panen 2 kali setahun dengan hasil panen rata-rata 10 tandan (30 kg) 3. Kopi diambil pengepul dengan harga Rp. 60.000/kg. dalam setahun panen sebanyak 3-4 kali dengan hasil panen rata-rata 15 kg sekali panen. 4. Ubi diambil pengepul dengan harga Rp. 5000/kg. dalam setahun panen sebanyak 2 kali dengan hasil panen rata-rata 50kg sekali panen.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen