Wilayah Adat

Huta Natumingka

 Terverifikasi

Nama Komunitas Ompu Duraham Simanjuntak Natumingka
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TOBA SAMOSIR
Kecamatan Borbor
Desa Natumingka
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.410 Ha
Satuan Huta Natumingka
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat berbatasan dengan Huta Natinggir Desa. Simare, kec. Bor bor, kab. Tobasa, (Tanda Batas Hutan Gonting Silom Sisada-sada)
Batas Selatan dengan Huta Lintong Desa Lintong Kec. Bor bor kab. Tobasa ,(batas alam Sungai Aek Bulu)
Batas Timur dengan Huta Gurgur Jae, Desa Huta Gur gur, kec. Bor bor, kab. tobasa, (batas alam Sungai Aek Ihan)
Batas Utara dengan Huta Tornagodang, Desa Tornagodang Kec. Habinsaran Kab. Tobasa, ( Batas alam Sungai Aek Agong)

Kependudukan

Jumlah KK 120
Jumlah Laki-laki 310
Jumlah Perempuan 335
Mata Pencaharian utama Petani: padi, kopi, jagung, sayur sayuran, PNS, Pegawat Swasta, dan Buruh kebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat adat Ompu duraham Simanjuntak Natumingka merupakan masyarakat adat yang berada di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Masyarakat adat Ompu duraham Simanjuntak Natumingka adalah masyarakat adat yang berada di dataran tinggi Toba Samosir atau sering juga disebut dengan daerah Habinsaran (Matahari terbit). Diperkirakan sejak tahun ±1690an, Ompu Duraham Simanjuntak sudah berada di Huta Simatongtong (Huta Matio). Ompu Duraham Simanjuntak merupakan generasi ke-6 (Enam) dari Raja Marsundung Simanjuntak yang merupakan generasi pertama dari marga Simanjuntak. Raja Marsundung mempunyai 4 (empat) orang anak yaitu, Raja Parsuratan, Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu. Raja Hutabulu mempunyai 2 (dua) orang anak yaitu Siraja Odong dan Tumonggo Tua. Tumonggo Tua mempunyai 3 (tiga) orang anak yaitu Bursok Ronggur, Bursok Datu dan Bursok Pati. Sedangkan Bursok Pati mempunyai 7 (tujuh orang anak yaitu Datu Malela, Guru Pallopuk, Guru Sosunggulon, Rimanbalo, Ompu Raum, Guru Somatahur dan Guru Naposo. Datu Malela mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu Ompu Duraham, Hualu, Tuan Martahi, Tuan Manjomak dan Puntembang. Cerita Ompu Duraham Simanjuntak berawal dari Balige yaitu di Hutabulu, Ompu Duraham Simanjuntak mempunyai kegemaran berburu, sehingga Ompu Duraham Simanjuntak memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya dari Hutabulu (Balige) ke arah pegunungan Timur Hutabulu yang biasanya disebut dengan daerah Habinsaran. Setibanya Ompu Duraham Simanjuntak di Habinsaran bersama dengan istrinya boru Pakpahan, melihat suatu tempat untuk dijadikan perkampungan, yang diberi nama Simatongtong dan menetap tinggal disana. Setelah berkeluarga, Ompu Duraham Simanjuntak mempunyai 3 (Tiga) orang anak, yaitu Pun Togar I, Ompu Panosor dan Puni Halto. Walaupun sudah mempunyai anak, Ompu Duraham Simanjuntak masih tetap pada kebiasaanya yaitu berburu, pada setiap kegiatan berburunya, selalu membawa benih labu dan padi yang akan ditanami di lokasi perburuannya. Suatu hari dalam perburuannya, Ompu Duraham Simanjuntak melihat lokasi yang cocok untuk ditanami labu dan padi, dan menanami dengan benih yang dibawanya dari rumah. Setelah beberapa minggu ditinggal, Ompu Duraham Simanjuntak saat mengunjungi tempat yang sudah ditanaminya merasa senang karena benih yang ditanaminya, tumbuh dengan subur dan mengutus anaknya yang sulung yaitu Pun Togar untuk merawat tanaman yang sudah ditanaminya itu. Setelah sekian lama disana, Pun Togar membuka perkampungan baru disana, dan menamainya dengan Huta Janji Matogu pada pada tahun ±1715 an. sedangkan dua saudaranya yang lain yaitu Panosor bertempat di Garoga dan Puni Halto bertempat di Aek Kanopan. Setelah Pun Togar membuat perkampungan baru di Huta Janji Matogu dan Pun Togar mempunyai 3 (Tiga) Anak yaitu, Pangadang, Parbekkas dan Datu Purba, kemudian membuka perkampungan di Huta Bagasan pada Tahun ±1740 an. Pangadang mempunyai 3 (Tiga) orang anak yaitu, Pun Togar II, Manorhap, Parhulalan yang tinggal bersama orang tuanya di Huta Bagasan. Lalu Pun Togar II mempunyai 3 (Tiga) orang anak yaitu, Guru Manangkap, Pulando, Tukang Bosi yang menetap di Huta Bagasan. Manorhap mempunyai 7 (Tujuh) Orang anak yaitu, Pangadang, Pupasang, Punian Bosa, Guru Sosunggulon, Pubahara, Rakke Tua, Guru Tauan. Parhulalan mempunyai 2 (Dua) Orang anak yaitu, Pangapo dan Pubalintang yang menetap di Huta Bagasan. Kemudian dari generasi keturunan Pangadang membuka perkampungan baru di Huta Golat pada tahun ±1775. Lalu generasi dari Punian Bosa membuka perkampungan baru di Huta Ginjang sekitar ±1780 an , sedangkan ke 5 (Lima) saudaranya menetap di Huta Bagasan. Kemudian keturunan dari Datu Purba yang bernama Pangaligas memg membuka perkampungan baru di Huta Simpang Tolu sekitar tahun ±1787. Setelah beberapa tahun kemudian keturunan dari yang mendirikan ke 4 (empat) huta tersebut membuat kesepakatan (Mardos tahi) untuk kesatuan huta atau wilayah yang disebut dengan Huta Natumingka sekitar tahun ±1797 an. Huta Natumingka mempunyai arti yaitu, kampung yang bertingkat tingkat (Tikka-tikka). Hal ini dapat dilihat atau dibuktikan dari posisi maupun topografi wilayah adat Huta Natumingka yang berada di pegunungan, dikelilingi oleh lereng yang curam dan lembah yang dalam. Dilihat dari sejarah, masyarakat adat Huta Natumingka sudah ada 13 (Tiga Belas) generasi di Huta Natumingka. Sejarahn menyebutkan sekitar tahun ±1986,perusahaan datang untuk menanami ekaliptus di wilayah adat Huta Natumingka, Huta Janji Matogu yang dulunya adalah Huta yang dibangun oleh Pun Togar I dan dikelilingi oleh tembok-tembok tanah kemudian dihancurkan oleh perusahaan PT. Inti Utama Indorayon (PT.Toba Pulp Lestari). sewaktu penghancuran, banyak ditemukan tulang belulang manusia di bekas perkampungan tersebut. Namun pihak perusahaan masih tetap melakukan kegiatannya tanpa ada pertimbangan dari sisi kemanusiaan. Secara garis besar silsilah masyarakat adat Huta Natumingka dapat digambarkan sebagai berikut: Ompu Duraham mempunyai 3 orang anak yaitu: 1. Pun Togar 2. Panosor 3. Puni Halto Pun Togar mempunyai 3 orang anak yaitu: 1. Pangadang 2. Parbekkas 3. Datu Purba Pangadang mempunyai 3 anak yaitu: 1. Pun Togar 2. Manorhap 3. Parhulalan Ompu Datu Purba mempunyai 1 orang anak yaitu 1. Raja Parluhutan. Raja Parluhutan mempunyai 2 orang anak yaitu 1. Pun Tinalup 2. Pun Sopot Pun Tinalup mempunyai 1 orang anak yaitu 1. pangaligas Pun Togar mempunyai 3 orang anak yaitu: 1. Guru Manangkap 2. Ompu Lando 3. Tukang Bosi Ompu Manorhap mempunyai 7 orang anak, yaitu: 1. Pangadang 2. Pupasang 3. Puniambosa 4. Guru sosunggulon 5. Pubahara 6. Rakke tua 7. Guru tauan

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Dikuasai oleh 4 huta (dusun) yakni huta bagasan, golat, ginjang dan simpang tolu - Tombak jalangan Bekas ladang yang udah tidak di produksi lagi sekitar 2-3 tahun , saat ini ditumbuhi kayu kayuan muda. - Tombak raja Tombak Raja ( Hutan Adat) : Hutan yang berfungsi untuk menjaga ketersedian air bersih serta kebutuhan untuk membangun rumah atau kebutuhan sehari-hari dan keberadaan Tombak Raja sebagai fungsi penyangga kehidupan sangat dilindungi dengan Patik atau Hukum yang dimana untuk memasuki Tombak Raja Perlu izin dari Raja Huta dan Natua-Tua Ni Huta. -Parhutaan (Pemukiman) : terdiri dari huta- huta diantaranya Sebuah kawasan yang difungsikan sebagai wilayah tempat mendirikan bangunan rumah dan tempat aktivitas seperti musyawarah atau pertemuaan dilaksanakan. Areal Pertanian Yakni lokasi dimana masyarakat melakukan pengelolaan lahan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pangan 1. Perhaumaan (Areal Persawahaan) Untuk kegiatan pertanian, masyarakat pada umumnya menanam padi, jagung, sayur sayuran, dan rempah. Selain itu, terdapat pula kolam ikan (dano ramba) 2. Porlak (Perladangan) : Sebuah kawasan khusus untuk perladangan masyarakat adat. 3. Parjampalan (Penggembalaan Ternak) : Sebuah wilayah yang difungsikan untuk kegiatan pengembalaan ternak seperti Kerbau,Kambing maupun Sapi.  
Secara umum penguasaan lahan di Natumingka adalah sistem kepemilikan komunal, dimana masyarakat tidak memiliki kepemilikan pribadi (individual) atas nama sendiri namun atas nama marga raja (marga asli yang menguasai wilayah adat) dan marga boru (marga lain yang menetap di natumingka). Tipe kepemilikan lahan paling kecil adalah keluarga. Dalam bahasa lokal tipe kepemilikan ini disebut: 1. Ripe-ripe: Kepemilikan secara komunitas/serumpun (marga raja) 2. Panguppolon: Kepemilikan secara keturunan berdasarkan masing masing marga contohnya perladangan dan persawahan 3. Panjaean: Tanah yang diwariskan kepada Anak (laki-laki) contohnya perkampungan, perladangan dan persawahan. 4. Pauseang: Tanah yang diwariskan kepada Boru (perempuan)contohnya perkampungan dan perladangan. Objek penguasaan tanah diantaranya: Tombak jalangan Komunal dari fam huta dan diwariskan pada keturunan huta yang sama , tidak bisa di jual beli, bisa disewakan kepada orang luar. bisa dibuka kembali berdasarkan musyawarah dari huta, ritual yang di lakukan sebelum membuka lagi adalah berdoa. Tombak raja Komunal oleh komunitas ompu duraham simanjuntak natumingka. Tidak bisa dijual beli, berdasarkan musyarawarah adat tombak raja bisa dibuka untuk perladangan atau pemukiman. Tidak ada ritual khusus Parhutaan/ Pemukiman: kepemilikan individu tingkat rumah tangga namun dibawah naungan huta, bisa disewakan, bisa digadai, bisa dijual beli . Waris kepada anak laki-laki. Ada ritual adat: pertama, pelatakan batu pertama “mameakon batu ojahan”. Kedua, mengundang huta (masyarakat) untuk makan bersama “marsi panganon”. Ketiga, pembangunan rumah : ada yang gotong royong “marsiurupan” dan sistem upah dengan membayar upah. keempat, ritual memasuki rumah “mamasuki jabu” dengan mengajak orang tua pihak laki-laki dan pihak perempuan makan bersama masyarakat huta “mangompoi” Areal Pertanian : Garapan di areal pertanian baik persawahan ataupun perladangan di miliki Individu keluarga, diwariskan ke anak anak laki laki. Areal ini dapat di pindahalihkan melakui jual beli, disewa, ataupun gadai namun harus dilakukan seizin raja huta.  

Kelembagaan Adat

Nama Huta Natumingka
Struktur -Raja huta Dipilih berdasarkan keturunan, harus diresmikan berupa pesta adat. Berdasarkan dusun/ huta Huta ginjang: natal simanjuntak Huta bagasan : dahlan simanjuntak Hutan golat : parsaoran simanjuntak Huta simoang tolu : mangarasimantak Raja adat Dipilih berdasarkan kemampuannya, berdasarkan musyawarah: Domser simanjuntak – huta ginjang Monang simanjuntak- huta ginjang Parsaoran simanjutan – huta ginjang Jodi simanjutkan – huta golat Tahan simanjuntak- huta bagasan Managara simanjuta – hutan simpang tolu Raja boru Huta ginjang : Bindu tambunan Raja marga nari / raja suhu marga Huta ginjang : james lumban tobing Pemilihan dari Raja Boru dan Raja marga nari ini dilakukan berdasarkan keturunan (diwariskan) kepada anak laki-laki. Masing masing raja tidak memiliki batasan waktu untuk menjabat, sehingga jabatan mereka melekat sampai mereka meninggal dunia
-Raja Huta : Berasal Marga pemilik wilayah adat (Pembuka Kampung) yang mengatur pengelolaan SDA dan pengambil keputusan yang menyangkut dengan kehidupan di kampung. Seperti mengatur hak serta kewajiban pengelolan tanah,hutan serta sumber mata air dan juga menjadi pemimpin pada saat kegiatan adat. Raja adat: Marga yang mengatur / mengurusi adat hukum adat yang berlaku di huta natumingka dan menyelenggarakan peradilan adat. Raja Boru : Adalah seseorang (yang berasal dari marga diluar simanjuntak) untuk mengurusi perkawinan antara orang diluar marga simanjutak dengan perempuan dari marga simanjuntak Raja marga naro/ raja suhu marga: Kelompok marga pendatang yang ikut tinggal di natumingka, ikut serta dalam kegiatan yang diadakan oleh lembaga  
Pengambilan keputusan adat yang berkaitan dengan urusan masyarakat disebut dengan “marappot” atau musyawarah adat bersama Tata cara musyawarah ini dilakukan dengan cara raja huta akan memberi kabar pada raja adat, raja boru bahwa akan diadakan musyawarah adat. Dimana biasanya musyawarah adat ini juga melibatkan kelompok perempuan dan pemuda di natumingka. Saat ini marrapot dilakukan di balai desa. Pada saat marrapot berlangsung raja huta akan memberikan pengantar dan menjelaskan maksud berlangsungnya marrapot tersebut, kemudian disusul dengan proses diskusi, setelah diskusi menghasilkan sebuah mufakat raja huta akan menyampaikan kembali isi mufakat tersebut pada pihak pihak yang hadir.  

Hukum Adat

Aturan yang berlaku di tombak jalangan 1. hutan yang ada di natumingka dalah milik keturunan raja huta (ompu duraham simanjuntak) natumingka 2. tidak boleh di perjual belikan (Uhum ri Huta) 3. dilarang mengambil kayu dari hutan kecuali seijin raja huta, pengambilan kayu hanya boleh dilakukan untuk keperluan rumah dan gubuk di persawahan atau ladang. Jika ketahuan mencuri kayu akan dikenakan sanksi dikeluarkan dari adat, dan denda berupa penanaman 10 pohon Aturan adat yang berlaku di tombak raja 1. tombak raja di kuasai oleh raja huta 2. tombak raja tidak boleh di perjual belikan 3. tombak raja boleh di kelola namun harus seijin raja huta. Jika ketahuan mengelola tombak raja tanpa seijin raja huta maka akan di keluarkan dari adat dan akan dikenakan denda adat Aturan adat yang berlaku di perhutaan (pemukiman) 1.perhutaan di natumingka dikuasai oleh 4 huta (dusun) yakni huta gola, huta bagasan, huta ginjang, dan huta simpang tolu 2.jika ada yang ingin membuka huta baru, harus dilakukans seijin marga raja ompu duraham simanjuntak 3. membangun rumah harus dilakukan seijin raja huta 4.pendatang harus mengikuti aturan adat yang berlaku di natumingka 5. marga boru (diluar marga simanjutak (raja huta)) yang mendiirikan rumah di natumingka, kemudian rumah tersebut ditingkalkan menjadi milik raja huta 6. jika ada permasalahan tanah yang berkaitan dengan kepemilikan tanah diselesaikan oleh raja huta 7. ternak babi dilarang berkeliaran disekitar pemukiman 8. pemakaman yang berada di pemukiman dibagi atas 4 huta yakni huta bagasan, huta golat dan huta simpang tolu 9. pemakaman yang terletak di pemukiman hanya di peruntukan untuk orang tua yang meninggal, sementara warga yang menunggal dunia di usia muda sudah diberikan lahan khusus diluar pemukiman Aturan adat yang berlaku di areal pertanian (ladang dan sawah): 1.pengelolaan ladang dan harus dilakukan oleh marga boru (marga luar marga simanjuntak) harus dilakukan berdasarkan izin dari marga raja 2. perselisihan terkait dengan batas persawahan atau perladangan diselesaikan oleh marga raja/ raja huta 3. hewan ternak dilarang berkeliaran di areal perladangam dan sawah, jika diketahui, maka pemilik lahan dapat mengadukannya kepada marga raja, dan pemilik ternak dapat dikenakan sanksi / denda berupa penyembelihan hewan ternak tersebut untuk di konsumsi bersama. 4. ritual adat yang dilakukan di persawahan adalah: Ritual padi sawah sebelum menabur bibit “partangiangan boni” atau mendoakan bibit tujuannya agar bisa menghasilkan panen yang baik kegiatan ini dilakukan di gereja Panen dilakukan secara gotong royong “marsiada pari” yang diikuti di semua huta yang ada di natumingka Setelah panen ada ritual “ pesta gotilon “ yakni upacara menyampaikan syukur dan terimakasih kepada tuhan atas panen yang baik di lakukan dengan cara makan bersama di gereja dengan membawa sebagian hasilnya pada saat kegiatan ini dilakukan.  
Siklus Kehidupan 1.Kelahiran Seminggu setelah lahir bayi akan diadakan kegaiatan adat yang disebut dengan “maranggup” yakni proses menjaga bayi oleh masyarakat/ tetangga orang tua bayi tersebut. Kemudian orang tua bayi akan mengadakan acara makan bersama yang disebut “tutup angap” 2.Perkawinan Perkawinan di natumingka tidak boleh dilakukan oleh sesama marga. Sementara proses perkawinannya meliputi: - Pamasumasuon Dilakukan syukuran oleh masyarakat setempat yang dipimpin oleh raja huta - Mangadati Upacara pernikahan dengan mengundang tetangga dan kerabat terutama hula-hula (Orang tua) akan memberikan ulos kepada yang menikah 3.Kematian Tatacara mengurus kematian dilakukan berdasarkan umur dan dilakukan di masing masing huta/dusun berdasarkan masing masing marga 1.anak anak yang meninggal langsung dikuburkan tanpa dilakukan upacara adat 2.remaja/dewasa dilakukan upacara “partangiangan” yang dipimpin oleh raja huta, kemudian mengantarkan jenazah ke pemakaman 3. untuk orang tua “saur matua” yang meninggal akan diadakan upacara adat. Pertama, martonggo raha akan memberitahukan kepada raja huta untuk mengadakan pesta kemudian raja huta akan mengundang hula hula untuk memimpin upacara. Salah satu bagian dari pesta adat ini adalah pemotongan babi/kerbau atau sapi potongan daging ini disebut dengan jambar. Jambar kemudian dibagi bagikan kepada tetangga, kerabat dan masyarakat. Pembagian jambar ini juga disesuaikan dengan posisi orang di dalam pesta tersebut. Yang menyelenggarakan pesta akan diberikan jambar berupa bokong atau upa suhut. Boru (marga diluar marga raja) akan diberikan punggung / sasap, hula hula akan diberikan kepala/namarngingi dan untuk semua undangan akan diberikan sisanya Selain diatas, ada juga ritual peta simi atau “tugu” yaitu pemakaman tempat pemindahan tuang benulang dari orang tua (opu) yang sudah meninggal yang dilakukan oleh masing masing keluarga 1. Keamanan Apabila terjadi pencurian di sekitar perhutaan, pencuri akan dikenakan sanksi berupa penggantian hasil curiannya. Pemberian sanksi ini dilakukan oleh raja huta Kerukunan - Apabila terjadi perkelahian di sekitar natumingka, pertama raja huta akan mencoba melerai dan mendamaikan kedua pihak. Apa bila tidak ditemukan solusi, raja huta akan memberikan sanksi sesuai dengan pertimbangannya - Apabila terjadi kekerasan dalam rumah rumah tangga biasanya raja huta berperan untuk memdamaikan dan memberikan peringatan. Pergaulan - Jika ketahui laki laki dan perempuan melakukan perzinahan maka akan diberikan sanksi berupa pengusiran dari kampung - Apabila sampai hamil makan harus dikenakan paspasu raja yakni ritual kawin adat yang dipimpin oleh raja huta tanpa melibatkan gereja. Sanksi ini memberikan efek sosial yang cukup besar yang menyebabkan rasa malu bagi yang menerimanya  
Pada tahun 2019 Ternak yang dimiliki orang lain diluar natumingka masuk keperdaladangan masyarakat, kemudian pemiliknya di tegur, kemudian terus mengulangi, akhirnya ternak tersebut diburu dan hasilnya dibagikan. Raja huta memimpin pemberian sanksi ini 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi lokal sihaut, siboru tambun, sipudung, singkong, jagung, ubi jalar Sayur buncis, daun singkong, kacang panjang, tomat cabai, jipang Buah: alpukat, jeruk, pepaya, jambu biji, terong belanda, pisang, dsb
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat: daun bawang merah, saridan, daun sirih, sangge-sangge, bawang lawak, kunyi, jahe, tumbuhan kosmetik:
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu haudori, kayu api api,meranti, modang, losa, hapas
Sumber Sandang Kapas
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Attarasa,andaliman,cabe,kunyit, jahe, temulawak, kelor, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, padi, sayur- sayuran, jagung, umbi-umbian,

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERDA Kabupaten TobaSa Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Batak Toba Samosir Nomor 1 Tahun 2020 PERDA Kabupaten TobaSa Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Batak Toba Samosir Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen