Wilayah Adat

Ketemengungan Punan Uheng Kereho

 Teregistrasi

Nama Komunitas Suku Punan Uheng Kereho
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Putussibau Selatan
Desa Cempaka Baru, Beringin Jaya, Kereho
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 217.127 Ha
Satuan Ketemengungan Punan Uheng Kereho
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Desa Suka Maju dimulai dari Jalan PT KWI kemudian menuju ke arah utara sampai pada Nanga Sungai Batok dan Jalan Lintas Sungai Batok, kemudian menuju arah utara, kemudian menuju Patok KM 01 hingga sampai pada Patok KM 06, kemudian menuju Titik tiga desa antara Cempaka Baru, Datah Dian, dan Urang Unsa di Bukit Ngalang Samet.
Batas Selatan Dimulai dari Bukit Diang Lujang menuju ke arah barat mengikuti bukit sampai pada Bukit Takung Pari, kemudian mengikuti bukit sampai pada Bukit Koringom, Bukit Morobung, dan Bukit Kutun. Selanjutnya mengikuti bukit menuju Tintin Bukit Tinjin yang merupakan batas tiga desa antara Rantau Bumbun-Cempaka Baru-Kereho. Selanjutnya mengikuti bukit Tinjin dan Tintin Ngengarang sampai pada Bukit Toon Borok yang merupakan batas antara Rantau Bumbun dan Cempaka Baru. Selanjutnya menuju Tintin Menabun yang merupakan batas antara Cempaka Baru-Nanga Raun-Rantau Bumbun. Kemudian mengikuti bukit menuju Bukit Pilu sampai pada Era Korongang yang merupakan batas antara Tapang Daan-Cempaka Baru-Nanga Raun. Berikutnya menuju arah barat sampai pada Jalan PT KWI yang merupakan batas antara Tapang Daan – Sukamaju – Cempaka Baru
Batas Timur Berbatasan dengan Ketemenggungan Punan Hovongan dimulai dari Karangan Plai kemudian mengikuti bukit ke arah selatan sampai dengan Sungai Makung, kemudian menuju arah selatan sampai pada Muara Sungai Bria (Tugu Lama) dan Bukit Nonoou, lalu ke arah timur sampai pada Pematang Batu Korop, kemudian mengikuti bukit sampai pada Bukit Lasam, lalu mengikuti bukit sampai pada Puncak Sungai Mooi. Kemudian menuju arah timur mengikuti bukit sampai pada Bukit Diang Urung Posok, kemudian mengikuti bukit sampai pada Bukit Baring Boan Konang, kemudian sampai pada Bukit Baring Hawun yang berbatasan dengan Kabupaten Mahakam Hulu di Provinsi Kalimantan Timur. Berikutnya menuju arah selatan mengikuti bukit sampai pada Hulu Sungai Belatung (Bukit Mosango) dan menuju Pegunungan Muller yang merupakan batas dengan Provinsi Kaltim dan Kalteng. Selanjutnya mengikuti Bukit Pegunungan Muler sampai arah selatan sampai ke Bukit Diang Lujang yang merupakan batas antara Desa Kereho dengan Desa Rantau Bumbun dan Provinsi Kalimantan Tengah
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Datah Dian dari Bukit Ngalang Samet, kemudian mengikuti pematang sampai pada Uncak Ngalang Samet dan Ulu Sungai Iyu, kemudian menuju arah timur mengikuti pematang sampai pada Pematang Panjang, Pematang Mensawak, dan Pematang Matonbango, Selanjutnya mengikuti bukit sampai pada Pematang Enap, kemudian menuju ke arah timur mengikuti Bukit sampai pada Puncak Sungai Balang dan Hulu Sungai Suá yang berbatasan dengan Ketemenggungan Kayan Mendalam. Selanjutnya dari Muara Sungai Sua menuju ke arah utara mengikuti Sungai Kapuas sampai pada Karangan Plai yang berbatasan dengan Ketemenggungan Punan Hovongan dan Ketemenggungan Buket.

Kependudukan

Jumlah KK 460
Jumlah Laki-laki 999
Jumlah Perempuan 776
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal suku Punan dari Hindia Belakang atau kita kenal sebagai kawasan di Asia Tenggara. Pada abad 1500 SM kelompok punan menyebrang sebuah selat dan sampai disebuah pulau, pulau itu disebut Hainan di laut Cina Selatan. Hainan adalah sebuah provinsi yang terkecil dan terselatan dari Republik Rakyat Tiongkok. Mereka menetap di pulau itu ratusan tahun lamanya, tapi karena penduduk semakin banyak dan mereka semakin terdesak maka pindah dari pulau itu adalah pilihan terbaik. Mereka lalu mempersiapkan hal-hal seperti perlengkapan seperti layar, rakit dan harta-benda lainnya.
Lalu berangkatlah mereka meninggalkan pulau tersebut dalam bahasa Punan Pengakat toh na’ Diu Hainan. Dan menurut ceritanya hanya Pulau di Hainan saja yang memiliki pohon Durian. Berbulan-bulan lama mereka pergi dari pulau dengan mengarungi laut Cina Selatan, hanya perpedoman pada bintang dilangit (Kejemoing) sebagai navigasi mereka. Lalu, setelah berbulan-bulan lamanya tiba-tiba bahtera dan rakit mereka terdampar disebuah daratan yang bernama Tanjung Selor di Kalimantan Timur.
Di Tanjung Selor mereka turun dan kemudian mereka menyusuri Sungai Kayaan, dalam perjalan itu mereka bertemu berbagai macam suku yang sudah mendiami daerah tersebut. Mereka bertemu suku Kayaan di Dataah Purah. Suku Kayan di Dataah sangat senang menerima kehadiran Suku Punan, sehingga mereka memutuskan untuk menetap disana. Selama menetap disana terjadi pembauran dengan Suku Kayan, baik itu dari segi adat istiadat, budaya dan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari kesamaan bahasa yang digunakan. Seperti: Pano (Jalan), Pare (Padi), Kuman (Makan) dan sebagainya.
Selain dari segi Bahasa juga terdapat kesamaan dari seni budaya seperti tari-tarian, alat music dan lukisan. Akibat dari banyaknya kesamaan tersebut, Suku Kayan menyebut Suku Punan dengan nama Somokung.
Setelah puluhan tahun menetap di Dataah Purah, kemudian meneruskan perjalanan kearah barat dan sampai di Perhuluan Sungai (yang saat ini Bernama sungai Kapuas). Saat berada di sana kelompok Punan ini saling bertanya satu sama lain apa nama lokasi tersebut. Dari Para tetua Suku menyebutkan nama tempat itu “Uheng”. Sehingga rombongan Suku Punan itu ada yang menyebut orang punan, Somukung dan Uheng.
Dari perhuluan sungai tersebut, kemudian menuju hilir Sungai Kapuas dan bermukim di Nomu Sengiro Batuh Bua, kemudian pindah lagi ke Mosu Songiro Botuh Bua. Konon penamaan tempat di Mosu Songiro Botuh Bua bermula pada saat ini ada anak gadis Punan bernama Yau Sanau yang cantik jelita sudah banyak yang melamarnya namun tidak disetujui oleh ibunya. Orang yang kelak jadi pendamping hidup anaknya bukanlah manusia biasa, mendengar hal itu mundurlah semua pemuda yang hendak meminang Yau Sanau.
Mendengar hal tersebut, bangkitlah Sengiro Batuh Bua (Harimau Batuh Bua) dari Gua dibalik bukit itu, dan malam itu juga Sengiro Batuh Bua datang dan Bekare (mendatangi kelambu perempuan /meraja) Yau Sinau. Dan pada malam ketiga barulah Sengiro Batu Bua dapat ditangkap oleh ibu Yau Sinau dan pada saat itulah Sengiro Batu Bua merubah diri, dia bukan lagi harimau melainkan sosok pemuda rupawan. Menikah dengan Songiro Batuh bua dari perkawinan itu terlahir dua orang anak laki-laki bernama Ba’ing Songiro dan Bohavang Murun. Kelak anak ini mengajari kita berbagai jenis tarian diantaranya: Karaang Nomu Oni, Karaan Kureng, Karaang Lohot, Karaang Lalaku Tingang.Maka tempat itu sekarang disebut Mosu Songiro Botuh Bua.
Dari tempat Mosu Songiro Botuh Buah, Kelompok Punan terbagi menjadi dua. Kelompok pertama menuju Hovean, sedangkan kelompok kedua menuju Hulu Belatung. Perpindahan dari kelompok pertama dari Hovean menuju Atahun kemudian menuju Baraharun kemudian menuju Nanga Uwak. Di Nanga Uwak kelompok ini terpecah lagi ada Sebagian menetap di Mudik Kereho Sebagian lagi menuju di Nanga Erak. Kelompok yang menetap di Mudik Kereho ini yang sekarang disebut orang Punan Kereho
Perpindahan dari kelompok kedua dari Hulu Belatung (Batu Oat) menuju Nanga Balut (Sungai Tuai) kemudian berpindah lagi menuju Tehayun pindah lagi menuju Diu Dinum (Pulau Linau) kemudian menuju Talai (Sungai Talai). Di Talai (Sungai Talai) kelompok terpecah lagi. Ada yang menetap di Dinau, ada yang menetap di Mandai, ada yang menuju Tapubun. Di Tapubun tersebar lagi ada yang di Sepan, Salin dan Nanga Erak. Di Nanga Erak ini mereka bertemu Kembali dengan kelompok pertama. Dari Nanga Erak kelompok ini berpindah lagi menuju Nangan Tukung kemudian menuju Lunsa berpindah lagi ke Nanga Silat kemudian menuju Pulau Masom,dari Pulau Masom menuju Pulau Lolong berpindah menuju Kepala Pulau Lolong dan Kembali lagi ke Nanga Erak. Di Nanga Erak inilah akhirnya kelompok ini sampai sekarang menetap yang dikenal dengan orang Punan Uheng.
Setelah menetap kehidupan masyarakat meramu, berburu dan bercocok tanam. Pimpinan kelompok pada waktu itu disebut dengan kepala suku dan kemudian berganti menjadi Temenggung. Sebutan Temenggung mulai ada pada tahun 1898 zaman Penjajahan Belanda. Pertama kali yang menjadi temenggung di wilayah adat Dayak Punan Uheng Kereho adalah Temenggung Badjud kemudian diganti oleh Temenggung Irang (1951). Semenjak Temenggung Irang wafat pada tahun 1951 terjadi kekosongan jabatan Temenggung. Atas musyawarah adat yang dilakukan maka ditunjuklah Temenggung Jemala yang merupakan suku Bukat untuk menjadi Temenggung di Punan Uheng Kereho pada 1957. Pada tahun 1970 Tumenggung Bukat-Punan Jemala yang sudah tua dan tidak mampu lagi beliau diganti oleh putranya Janen. Pada 1989 para Temenggung dan kepala adat keseluruhan diundang ke Pontianak. Pada kesempatan itulah dibicarakan ketemenggung Punan belum ada penggantinya. Pada bulan September 1999 dimulai penjaringan calon Temenggung dari terpilih Agustinus Djangin sebagai Temenggung Punan Uheng-Kereho sampai 2017. Pada tahun 2017, karena faktor usia maka Agustinus Djangin digantikan oleh Yohanes Sungkin melalui pemilihan temenggung, dan beliau terpilih memimpin Dayak Punan Uheng Kereho sampai saat ini (2021).
Pada waktu kepemimpinan Temenggung Janen mulai terbentuk system pemerintahan. Dalam wilayah adat mulai terbentuk kampung-kampung dimana pada waktu itu pimpinan kampung disebut dengan kepala kampung. Adapun kampung pertama yang terbentuk adalah:
- Nanga Erak dengan kepala kampungnya Bernama Bacung.
- Nanga Enap dengan kepala kampungnya Nyepalo.
- Nanga Balang dengan kepala kampung sama dengan Nanga Erak yaitu Bacung.
- Nanga Sepan dengan kepala kampungnya Bernama Nyiap.
- Nanga Talai dengan kepala kampungnya Inan
- Salin dengan kepala kampunya bernama Juba
- Belatung kepala kampunya sama dengan Salin yaitu Juba
Dengan terbentuknya kampung terjadi pembagian peran dalam kepemimpinan. Dimana Temenggung lebih mengurus masalah adat, sedangkan Kepala Kampung mengurus administrasi.
Setelah terbentuk kampung, mulailah terbentuk desa di wilayah adat Ketemenggungan Punan Uheng Kereho, sehingga kampung-kampung yang ada Kembali mulai melebur. Adapun Desa pertama yang terbentuk adalah Desa Cempaka Baru tahun 1989. Desa ini membawahi tiga kampung yaitu: Nanga Erak, Nanga Enap dan Nanga Balang. Kepala Desa Cempaka Baru pertama kali dijabat oleh Agustinus Djangin. Setelah terbentuknya Desa sebutan satuan kampung berubah menjadi Dusun. Sehingga sebutan untuk kepala kampung berganti menjadi kepala dusun. Bergantinya sebutan satuan wilayah dari kampung menjadi dusun juga merubah kepemimpinannya. Sebutan untuk kepala kampung sudah tidak ada lagi diganti dengan kepala dusun yang pada waktu itu untuk pertama kalinya Dusun Nanga Erak dijabat oleh Paitas.
Selanjutnya terbentuk Desa Beringin Jaya yang membawahi kampung Sepan, Nanga Talai dan Salin. Ada 1 kampung yang sebelumnya berada di Ketemenggungan Bukat masuk kedalam desa beringin jaya yaitu Kampung Nata Lunai. Masing-masing kampung berubah menjadi Dusun Sepan, kampung Nanga tulai dan Salin bergabung menjadi Dusun Salin dan Dusun Nata Lunai. Desa Beringin Jaya terbentuk pada tahun 1986 dengan kepala desa pertama Paulus Dolek
Kampung Belatung akhirnya masuk ke wilayah administrasi Desa Tanjung Lokang. Desa ini juga terbentuk pada tahun 1986. Adapun yang termasuk dalam dusun di tanjong lokang adalah: Dusun Belatung, Muung dan Data nonoa. Muung dan nonoa awalnya merupakan kampung di ketemengungan Hovongan.
Desa Beringin jaya kemudian mekar menjadi Desa Kereho pada tahun 2008 dengan kepala desa pertama dijabat oleh Fransiscus Koban. Pada saat terbentuknya Desa Kareho, maka dusun belatung yang semula berada di Desa Tanjung Lokang kemudian ditarik masuk ke Desa Kereho. Dusun Nanga Balang yang berada di Desa Cempaka baru dilepas dan masuk ke Desa Beringin Jaya. Dusun Sepan dan Salin yang semula berada di Desa Beringin jaya masuk menjadi wilayah dusun di Desa Kereho. Sehingga setelah terbentuknya Desa Kereho maka dusun-dusun yang ada di Desa Kereho adalah: Dusun Belatung, Dusun Salin dan Dusun Sepan.
Sehingga kondisi yang ada saat itu, Desa Cempaka Baru terdiri dari tiga Dusun yaitu: Dusun Nanga Erak, dan Dusun Nanga Enap. Desa Beringin Jaya terdiri dari Dusun Nanga Balang dan Dusun Mata Lunai. Desa Kereho terdiri dari Dusun Belatung, Dusun Salin dan Dusun Sepan.
Untuk wilayah Ketemengung Punan Uheng Kereho, berada dalam 3 desa administrasi (Cempaka Baru, Beringin Jaya dan Kereho) dan 6 Dusun (Nanga Erak, Nanga Enap, Nanga Balang, Belatung, Salin dan Sepan). 1 dusun yang berada di Desa Beringin Jaya yaitu Mata Lunai masuk ke ketemenggungan Bukat.
Hubungan dengan wilayah-wilayah yang berbatasan tidak pernah terjadi konflik batas. Artinya penyepakatan batas yang dijadikan acuan merupakan batas lama yang sampai saat ini tidak ada pergeseran. Mekarnya desa-desa yang ada saat ini mengacu pada batas wilayah adat atau batas ketemenggungan sebelumnya. Pada umumnya ketemengungan yang berada di sekitar sungai Kapuas menyepakati batas alam sebagai batas wilayahnya.
Konsesi yang pernah masuk di ketemenggungan Uheng Kereho antara lain:
Pada tahun 1977 masuk perusahaan PT Puncak. Pada tahun 1978 masuk perusahaan HKU dan Wana Catur. Tahun 1984 masuk perusahaan DRM. Tahun 1992 masuk perusahaan Benua Indah. Tahun 2011 masuk perusahaan KWI. Dimana konsensi ini bergerak pada bidang perkayuan. Dari 6 konsesi yang ada yang saat ini masih beroperasi hanya KWI. Masuknya perusahaan-perusahan ini rata-rata di zaman orde baru yang mana masyarakat adat tidak bisa bereaksi. Sempat terjadi konflik antara perusahaan dengan KWI disebabkan perusahaan masuk dalam wilayah adat tanpa ada pemberitahuan atau seijin dari masayarakat setempat.
Dengan pihak dari Balai Taman Nasional juga ada larangan akses tetapi tidak sampai menyebabkan benturan secara fisik. Larangan tersebut dalam hal pemanfaatan hasil hutan. Sebelumnya masyarakat adat tidak mengetahui bahwa wilayah adatnya masuk dalam fungsi Kawasan pemerintah. Sejak tahun 2003 pada saat ini ada persengketaan antar perusahaan yang sama-sama mendapat ijin oleh pemerintah di Kawasan wilayah adat. dari kejadian tersebut barulah mereka mengetahui bahwa wilayah adat tersebut masuk ke dalam fungsi Kawasan.
Mengetahui hal tersebut maka respon dari masyarakat adat setempat kemudian segera mengambil Tindakan dengan mengandeng LSM untuk melakukan pergerakan masif di tahun 2003.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Secara fungsi Kawasan Ketemanggungan Dayak Punan Uheng Kereho membagi wilayah menjadi 3 zonasi. Yaitu: Hiva Adet, Hiva Pugak (Kawasan konsevasi) dan Tana Naan Moneon (lahan pengelolaan masyarakat). Secara pembagian ruang terdiri dari:
1. Hiva Adet merupakan Kawasan hutan yang dilindungi karena didalamnya terdapat mata air dan tempat-tempat keramat dan juga Tamen (kuburan)
2. Tana Mari merupakan kawasan keramat oleh masyarakat. dalam Tanah Mari juga terdapat kuburan (Tamen)
3. Lopoun (Dangan atau Tembawai) merupakan bekas pemukiman
4. Ivut merupakan areal perladangan masyarakat. ivut terbagi lagi kedalam beberapa bagian diantaranya:
- Takung merupakan areal perladangan yang merupakan tanah basah
- Dida merupakan areal perladangan yang ditumbuhi tanaman palawija
- Umoh merupakan areal perladangan yang biasanya digunakan untuk menanam jenis tanaman sayur-sayuran.
- Bae merupakan areal perladangan yang sudah tidak digunakan selama 1-2 tahun
- Beleang merupakan areal perladangan yang sudah tidak digunakan selama kurang lebih diatas 10 tahun
5. Amuon merupakan lahan untuk tanaman perkebunan seperti: karet, purik, gaharu, catu/durian, awang/tengkawang, tovion/belian, puti/pisang, koripuk dll.
6. Titing merupakan Kawasan pemukiman yang didalamnya tidak hanya berupa rumah sebagai tempat tinggal tetapi juga sarana prasarana lainnya
7. Sepan merupakan kawasan yang biasa di gunakan untuk berburu. Dalam sepan terdapat gubangan air yang biasanya digunakan binatang sebagai tempat minum atau beristirahat

 
Sistem Penguasaan dan pengelolaan wilayah dalam ketemenggungan Dayak Punan Uheng Kereho ada yang dikelola secara Bersama atau komunal dibawah penguasaan adat dan ada juga yang dikelola secara pribadi atau individu yang penguasaan pada masing-masing keluarga.
Hiva adet dikelola secara komunal dimana pengaturannya berada dibawah Temenggung. Selain Hiva Adet, Tana Mari, Lopo’un, dan sepan juga dikelola oleh adat yang pengaturannya langsung oleh Temenggung.
Sedangkan lahan yang dikelola secara pribadi atau indivu antara lain:
- Titing dikelola secara individu yang penguasaannya pada tiap-tiap keluarga. Pemindahalihan Titing merupakan warisan dari orang tua. Titing tidak bisa dijualbelikan tetapi bisa disewakan kepada orang luar secara langsung dari pemilik rumah. Sewa menyewa rumah ini tetap harus diketahui oleh Kepala adat, Kepala desa dan juga temenggung.
- Ivut dan Amuon dikelola secara individu yang penguasaannya pada masing-masing keluarga. Pemindahalihan Ivut dan Amuon dengan pewarisan pada keturunannya. Ivut dan Amuon bisa dijual dengan sesama masyarakat dalam kewilayahan ketemenggungan
Setiap terjadi transaksi dalam hal jual beli lahan harus sepengetahuan oleh Temenggung, Ketongon Adat Hau’ dan juga Kepala Desa. Begitu juga dengan system pewarisan. Pada saat akan pembagian warisan disaksikan oleh Ketongon Hau’, Kepala Desa, dan Temenggung beserta masing-masing pengurusnya. Dalam hal apapun, kepala Desa, kepala adat dan temenggung akan selalu dilibatkan. Selain itu saksi-saksi juga dari pemilik lahan yang berbatasan. Terdapat juga dokumen secara tertulis atau berita acara terkait dengan pembagian warisan yang ada.
Pada umumnya warisan diberikan pada anak laki-laki. Tetapi anak perempuan juga mendapatkan hak yang sama selama anak perempuan menikah tidak keluar dari wilayah ketemenggungan. Jika perempuan menikah keluar dan tidak lagi bertempat tinggal di wilayah ketemenggungan maka yang bersangkutan tidak berhak lagi atas tanah yang diwariskan.
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Dayak Punan Uheng Kereho
Struktur • Temenggung atau Ketongon Suku • Ketongon Adet Hau’ atau Kepala Adat Komplek/Desa • Ketongon Adet Titing atau Kepala Adat Dusun • Pengerak Dalam wilayah adat Ketemengungan Dayak Punan Uheng Kereho hanya ada satu Temenggung atau Ketongon Suku. Untuk Ketongon Adet Hau’ atau Kepala Adat Komplek tingkat desa ada dua, yaitu Ketongon Adet Hau Kereho (Desa Kereho) dan Ketongon Adet Cempaka Baru (gabungan Desa Cempaka Baru + 1 dusun di Desa Beringin Jaya). Sedangkan Ketongon Adet Titing atau Kepala Adat Dusun ada 6 orang yang memimpin dimasing-masing titing atau dusun, seperti: Titing Nanga Enap, Titing Nanga Balang yang berada dalam Desa Cempaka Baru. Titing Nanga Balang berada dalam Desa Beringin Jaya. Titing Belatung, Titing Sepan dan Titing Saling berada dalam Desa Kereho. Pengerak berjumlah 1 orang yang tersebar di masing-masing Titing. Syarat-syarat untuk mejadi perangkat adat antara lain: - Berusia minimal 35 tahun dan maksimal 70 tahun - Berpendidikan tamat Sekolah Dasar (SD) atau pandai baca-tulis. - Berdomisili diwilayah ketemenggungan Punan Uheng Kereho sekurang-kurangnya 15 tahun - Memahami dan berpengalaman dalam urusan adat istiadat diwilayah tersebut. - Dipilih langsung oleh masyarakat untuk masa jabatan satu periode 10 tahun untuk Temenggung dan 6 tahun untuk pengurus adat Komplek dan Kepala Adat Dusun dan juga pengerak serta dapat dipilih kembali periode berikutnya, Pengurus adat tidak sedang tersangkut masalah hukum adat dan hukum positif - Pengurus adat dapat diisi oleh kaum perempuan. Sebelum tahun 2015, yang bisa menjadi Temenggung merupakan keturunan dari sebelumnya dan masa jabatan Temenggung adalah seumur hidup. Pada mulanya Kepala Adat Ha’ atau Komplek dan juga Ketongon Titing dipilih oleh Temenggung. Tetapi sejak Temenggung dipilih langsung oleh Masyarakat, maka semua perangkat adat dipilih juga oleh masyarakat. Setelah struktur kepengurusan adat terbentuk, dikukuhkan melalui Ritual Adat “Pepua”. Ritual ini merupakan acara syukuran yang pelaksanaannya bersamaan dengan diserahkannya SK kepengurusan adat oleh Bupati. Kegiatan ini biasanya dilakukan di Rumah Adat.
Temenggung/Ketongon Suku:
- Melindungi wilayah ketemenggungan
- Memfasilitasi kegiatan adat di wilayah ketemenggungannya
- Menyelesaikan perkara adat yang tidak dapat diselesaikan oleh pengurus adat dibawahnya
- Jika diperlukan, dapat mengeluarkan Peraturan Adat (Perdat) untuk mengatur hal-hal yang belum diatur dalam buku adat sesuai dengan keinginan masyarakat adat
- Mewakili masyarakat adat untuk berdialog dengan pihak luar (pemerintah maupun swasta) yang ingin melakukan aktifitas di dalam wilayah ketemenggungan, agar segala dialog yang dihasilkan dalam pertemuan dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat
- Memastikan batas wilayah adat ketemenggungan Punan Uheng-Kereho, dengan ketemenggungan lain
- Temenggung harus dapat bekerja sama dengan pengurus adat yang berada setingkat dibawahnya

Ketongon Adet Hau’/Kepala Adat Komplek:
- Kepala adat komplek menangani dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan adat di wilayahnya
- Kepala adat komplek wajib mencatat, membuat dokumen, dan membuat berita acara perkara adat yang sudah diputuskan
- Kepala adat komplek wajib mempertanggungjawabkan keputusan adat kepada atasannya
- Dalam memutuskan perkara adat, wajib berpedoman pada buku adat yang sudah disahkan

Ketongon Adet Titing/Kepada Adat Dusun
- Kepala adat dusun memutuskan perkara adat sesuai dengan buku pedoman yang sudah disahkan
- Kepala adat dusun menangani dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan adat di wilayahnya
- Dalam memutuskan sebuah perkara adat, pengurus adat wajib memeriksa dan mempelajari kasus yang diperkarakan
- Kepala adat dusun wajib mencatat, membuat dokumen, dan membuat berita acara perkara adat yang sudah diputuskan
- Kepala adat dusun wajib mempertanggungjawabkan keputusan adat kepada atasannya

Pengerak
- Asisten pengurus adat
- Memanggil pihak-pihak yang bersengketa untuk diselesaikan secara adat
 
Mekanisme dalam pengambilan keputusan disebut dengan “Pehumong hiu” atau musyawarah adat tingkat temenggung. yang bisa menghadiri musyawarah adat ini adalah perangkat adat dan masyarakat adat. musyawarah adat dilakukan pada saat ada peradilan adat, kewilayahan, ritual adat, aturan adat, bercocok tanam. Apabila musyawarah tingkat adat disebut dengan “Pehukung” dilakukan pada saat ada peradilan atau perkara adat juga ritual adat. ada bila ada permasalahan ditingkat masyarakat diselesaikan dulu di tingkat adat apabila tidak bisa diselesaikan barulah naik di tingkat temenggung. Musyawarah adat baik tingkat temenggung atau pun kepala adat biasanya di lakukan di balai adat.
Sebelum melaksanakan musyawarah adat dilakukan ritual adat terlebih dahulu yang disebut dengan “Pobea” yang bertujuan untuk diberi petunjuk, memohon perlindungan, meminta restu.

Dalam pengambilan keputusan di Ketemenggungan Punan Uheng-Kereho pada dasarnya berjenjang, sesuai dengan tingkatan perkara masing-masing:
Pada tingkatan Titing/Dusun:
- Ketongen Adet Titing atau Kepala adat dusun memutuskan perkara adat sesuai dengan buku pedoman yang sudah disahkan
- Kepala adat dusun menangani dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan adat di wilayahnya
- Dalam memutuskan sebuah perkara adat, pengurus adat wajib memeriksa dan mempelajari kasus yang diperkarakan
- Kepala adat dusun wajib mencatat, membuat dokumen, dan membuat berita acara perkara adat yang sudah diputuskan
- Kepala adat dusun wajib mempertanggungjawabkan keputusan adat kepada atasannya;

Pada tingkat Komplek/Desa:
- Ketongon Adet Hau’/Kepala Adat Komplek menangani dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan adat di wilayahnya
- Kepala adat komplek wajib mencatat, membuat dokumen, dan membuat berita acara perkara adat yang sudah diputuskan
- Kepala adat komplek wajib mempertanggungjawabkan keputusan adat kepada atasannya;
4. Dalam memutuskan perkara adat, wajib berpedoman pada buku adat yang sudah disahkan;

Pada Tingkat Temenggung/Ketongon Suku
- Menyelesaikan perkara adat yang tidak dapat diselesaikan oleh pengurus adat dibawahnya
- Jika diperlukan, dapat mengeluarkan Peraturan Adat (Perdat) untuk mengatur hal-hal yang belum diatur dalam buku adat sesuai dengan keinginan masyarakat adat;

Dalam pengambilan keputusan adat, para pengurus adat memegang teguh semboyan adat Kenucu Maram, Kenucu Temulok (Telunjuk busuk, Telunjuk dipotong) artinya bahwa apapun jabatan seseorang serta bagaimana kedekatan dengan seseorang tidak menghalangi untuk menjatuhkan hukuman kepada orang yang terbukti bersalah.
Sebelum keputusan diambil, maka pengurus adat dengan persetujuanbersama untuk menjatuhkan hukum adat berupa denda atau hukuman kepada terdakwa, yang didahului oleh alasan dan pertimbangan-pertimbangan memadai.
 

Hukum Adat

1. Siapapun dilarang untuk menguasai dan menjual atas nama pribadi kawasan Lepu’un
2. Tana mari merupakan tempat bersejarah yang telah diakui oleh adat seperti gua, sungai, batu, kayu ataupun tanah dan air. Oleh sebab itu harus dilindungi oleh Adat Punan. Pengerusakan terhadap tempat keramat ini terkena sanksi adat.
3. Jika terjadi pelanggaran yang menyebabkan kerusakan dikawasan atau tempat-tempat keramat sebagaimana tersebut diatas, maka pelaku akan dikenakan sanksi adat
4. Barang siapa yang melanggar ketentuan diatas, yakni menebang dan memperjualbe-likan kayu untuk tujuan memperkaya diri sendiri maka akan dikenakan sanksi adat
5. Dilarang memburu satwa yang dilindungi oleh adat.
6. Sepan adalah sebuah tempat yang dilindungi oleh adat, barang siapa dengan sengaja merusak tempat tersebut dikenakan sanksi adat
7. Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan-bahan kimia (Potasium, Lanet dan barang sejenisnya) serta memakai setrum ikan baik Genset maupun Accu,tidak dibenarkan, Jika terjadi pelanggaran maka pelaku dikenakan sanksi.
8. Bahan tambang adalah kekayaan yang menjadi milik bersama masyarakat Punan, oleh sebab itu segala bentuk pemanfaatannya wajib berpegang kepada prinsip keles-tarian dan tunduk kepada aturan adat.
9. Masyarakat adat telah mengenal emas dari nenek moyangnya, dan oleh sebab itu maka potensi emas yang terkandung dibumi harus dikelola secara adil dan lestari, jika ada pelanggaran maka akan dikenakan sanksi adat.
 
Adet Pemoso (Adat Perkawinan)
- Pada waktu Pihak laki-laki meminang pihak perempuan, maka pihak laki-laki memberikan adet Toco Dora (uang pembuka mulut) kepada juru bicara sebesar Rp. 100.000
- Adat perkawinan menurut suku Dayak Punan Uheng-Kereho pihak laki-laki harus menyerahkan kepada pihak perempuan barang-barang berupa: Pekain (mas kawin) 1 buah Tawak keliling 8 (delapan) dan Usit (ikut suami) 1 buah Tawak keliling 9 (sembilan).
- Jika laki-laki atau perempuan yang hendak menikah dengan calon mempelainya yang telah duda atau menjanda maka, sebelum menikah lagi wajib memberikan adat Tuung Mato kepada keluarga mempelainya berupa: 1 (satu) Lirang kain putih, 1 (satu) buah jarum dan benang, 1 (satu) ekor ayam, 1 buah parang atau besi dan Ikat Tengang.
- Menikah Mendahului Saudara yang Tua, Pelangkah batang diberikan kepada saudara yang lebih tua dan belum menikah. Oleh sebab itu maka si adik akan memberikan: 1 buah cincin emas (beratnya sesuai kemampuan)
- Jika terjadi perkawinan yang terjadi antara paman dan keponakan, kakek dengan cucu Menantu-mertua, ayah dan anaknya jika perkawinan yang secara status tidak seimbangdan akan menyebabkan salah satu pihak Tulah, maka pihak yang lebih tinggi statusnya akan dikenakan sanksi adat berupa: 1 (satu) buah Tawak keliling 7 (tujuh), Pelanggar adat untuk laki-laki tawak keliling 9 (sembilan), dan perempuan tawak keliling 8 (delapan), Kesupan pengurus 1 buah tawak keliling 6 (enam)dibayar kedua pihak, Kesupan orang tua 1 buah tawak keliling 6 (enam) dibayar kedua pihak, Membayar 2 ekor babi dan Membayar 2 ekor ayam.

Adat Kesusilaan:
- Jika terjadi suatu hubungan seksual antara dua belah dan salah satu pihak tidak menginginkannya (orang dewasa), maka pelaku terkena sanksi adat berupa: Pelanggar adat tawak keliling 9 (sembilan), Adat ketumat tawak keliling 6 (enam), Rusak badan tawak keliling 9 (sembilan), Kesupan pengurus tawak keliling 6 (enam), Kesupan orang tua tawak keliling 6 (enam), Menanggung biaya perobatan dan Pengembalian nama baik tawak keliling 1 buah tawak 6 (enam).
- Merampas Istri atau Suami Orang lain, yang bersangkutan terkena sanksi adat berupa: 2 (dua) buah Tawak Keliling 8 (delapan), 2 (dua) buah Tawak Keliling 7 (tujuh), 1 (satu) buah Tawak keliling 6 (enam), 2 (dua) buah Tawak Keliling 5 (lima), 1 buah Tawak keliling 6 (enam) berupa Pelanggar adat diberikan kepada pengurus adat dan ditambah kesupan pengurus dan orang tua masing-masing Tawak keliling 6 (enam).
- Tertangkap Basah Bujang dan Dara Berduaan Diluar Rumah Masing–masing pihak dikenakan sanksi adat berupa:1 buah tawak keliling 9 (sembilan), Kesupan pengurus1 buah tawak keliling 6 (enam), Kesupan orang tua 1 buah tawak keliling 6 (enam), Membayar adat Dara 1 buah tawak keliling 6 (enam).


Adat Pantangan:
- Adat Pantang Orang Mati (Berkabung): Batas waktu berpantang setelah hari pemakaman, yaitu selama 7 (tujuh) hari dan hari ke-8 pantangan umum dibuka. Pada masa berpantang masyarakat dilarang naik kerumah orang yang berpantang dengan Memakai perhiasan dari emas seperti kalung, cincin dan gelang.
- Pantangan Bagi Duda dan Janda: Pantangan atau Tuheng bagi duda atau janda yaitu tidak boleh kawin lagi selama 2 (dua) tahun setelah kematian istri atau suaminya. Apabila melanggar dari ketentuan pada ayat (a) terkena sanksi adat Pelangkah Tulang yakni 1 (satu) buah Tawak keliling 8 (delapan).
- Pantang Ladang: Dilarang membuka ladang di Kohokong (bekas ladang) milik orang lain, maka yang bersangkutan wajib membayar adat berupa: 1 (satu) ekor Ayam, 1 (satu) buah Parang, 1 (satu) buah Tempayan batu atau uang tunai Rp.600.000 (enam ratus ribu rupiah).
- Mencuri Padi di Ladang akan dikenakan sanksi adat berupa: 1 (satu) buah Tawak keliling 8 (delapan) ditambah dengan Kerohon dan padi yang dicuri dikembalikan atau diganti.

Adat pati Nyawa
- Jika seseorang terbukti menghilangkan nyawa orang lain dengan tindakan apapun, maka yang bersangkutan terkena sanksi adat: Adat Pati Nyawa 50 buah Tawak keliling 9 (sembilan) atau jika diuangkan Rp 135.000.000,- (Seratus Tiga Puluh Lima Juta Rupiah), Membayar Kesupan pengurus 1 buah Tawak Keliling 9 (sembilan), Membayar 1 (satu) buah Tempayan Batu atau 1 buah Tawak keliling 6 (enam) sebagai Pengeras Semengat atau kerohon, Membayar biaya pemakaman dan Bureng sebesar Rp.10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah).
- Mengugurkan kandungan atau mori ketehe, adalah tindakan yang melanggar aturan adat, jika terbukti maka akan dikenakan sanksi adat; Setengah Pati Nyawa dibagi dua Rp 33.750.000, 1 buah tempayan batu sebagai pengeras, Membayar adat pelanggar kampung 1 buah tawak keliling 9 (sembilan), Kesupan pengurus 1 buah tawak keliling 9 (sembilan) dan Bagi pihak yang membantu mengguggurkan kandungan maka yang bersangkutan dikenakan sanksi adat Setengah Pati dibagi dua Rp 33.750.000

Aturan Adat umum:
- Barangsiapa telah membuat resah, gaduh dan atau telah menciptakan keadaan yang tidak baik didalam kampung, akan dikenakan hukum adat Pelanggar kampung atau Titing berupa: Tawak keliling 9 (sembilan).
- Jika terjadi perkelahian maka pihak yang terbukti bersalah atau memulai keributan, Yang bersangkutan dikenakan sanksi adat 1 buah tawak keliling 6 (enam), Menanggung semua kerusakan jika terjadi, Membayar Pelanggaran Adet kepada Pengurus Adat 1 buah tawak keliling 6 (enam) dan Wajib memberikan Kerohon.
- Memprovokasi atau menghasut orang lain supaya berani melakukan suatu tindakan negatif misalnya; membunuh orang terkena sanksi adat 1 buah tawak keliling 9.
- Jika terjadi kekerasan terhadap anak maka yang bersangkutan akan terkena sanksi adat: Penganiayaan ringan akan dikenakan sanksi 1 buah tawak keliling 5 (lima) diberikan kepada nenek/kakek/ pihak lain yang bersangkutan. Penganiayaan berat akan dikenakan sanksi 1 buah tawak keliling 6 (enam) diberikan kepada nenek/kakek/pihak lain yang bersangkutan. Ditambah kesupan pengurus adat 1 buah tawak keliling 6 (enam), Menanggung segala biaya pengobatan dan Membayar kerohon.
 
Pada tanggal 16 Mei tahun 2021 terjadi pelanggaran pernikahan (kawin lari) antara paman dan keponakannya. keluarga besar perempuan melaporkan kejadian tersebut ke adat tingkat dusun. Setelah ada laporan kemudian adat memanggil kedua belah pihak yang bersangkutan dan dilakukan mediasi dirumah pihak perempuan. Setelah diurus di adat kemudian kedua pihak bisa menikah namun tetap dikenalan sanksi adat yang harus dibayar. Pihak laki-laki dikenakan denda berupa 1 tawak keliling 9 dan 1 tawak keliling 7. Bayar kesopan orang tua dan pengurus masing-masing berupa 1 buah tawak keliling 6, babi 2 ekor, ayam 2 ekor. Pihak perempuan dikenakan sanksi adat berupa: 1 tawak keliling 8, bayar kesopan orang tua dan pengurus masing-masing berupa tawak keliling 6. Tawak keliling 9 dibayarkan ke adat. sedangkan tawak keliling 7 dan 6 dibayaran ke orang tua dan pengurus Denda adat berupa babi dan ayam diberikan kepada masyarakat dalam bentuk konsumsi untuk bersama  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi (Pare), singkong (ubi) (kalo), jagung (jogong), ubi jalar (tela), sagu (owa), ketan (pulut), Protein nabati: kacang tanah (kacang tanak), kacang hijau (samago) Protein Hewani: Babi hutan (Jelu), Babi peliharaan (Ukut atau Hukot), Babi rimba (Hiva), Ayam (siu), Burung (manuk), Bebek, Anjing (Asu), Kijang (Tau), Rusa (Teo), Kancil (Pelanduk), Ikan (Ocen), Udang (Ore), Kepiting (Okang), Kura-kura, Labi-labi, Keong (Osi), Pohu (Katak), Ular (Potonge), Beruang (Bohang), Macan (Hori), Landak (Hotun) Sayuran: timun, perenggi, labu, kacang, cabe, sawi, bayam, kacang Panjang (geretak), petai (pota), jengkol, daun singkong, kangkong, daun timun, daun keladi, genjer, daun papaya, cekok (pakis), rebung, umbut, sororu, kesindok. Buah: Pisang (putik), Mangga, Durian, Langsat, Cempedak, Nangka, Rambutan, Empakan, Avung, Ara, Sekaluli, Pekawai.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Daun bunga kembang sepatu untuk mengobati penyakit demam tingi - Akar alang-alang (Imperata cylindrica) khasiatnya untuk meluruhkan air seni, pereda rasa nyeri dan menurunkan tekanan darah tinggi - Akar bambu kuning khasiat dari tanaman ini untuk membersihkan hati, anti radang; anti demam; peluruh dahak; peluruh haid; penambah nafsu makan - Daun Sirih (Piper betle) khasiatnya untuk menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri, menyembuhkan luka pada kulit dan gangguan saluran pencernaan. - Akar ridu berkhasiat sebagai obat penyakit malaria - Daun serugan untuk obat panu - Kumis kucing sebagai obat batu ginjal - Daun pata tulang berkhasiat untuk sambung tulang yang pata - Sawit loit berkasiat sebagai obat kangker - Kulit kerima sebagai antobiotik untuk usus buntu, - Uru Kujo untuk obat kencing batu
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Ulin, Penjau, Teka, Temesuk, Selangkin, Bedahu, Meranti, Durian, Belian untuk tiang penyangga Kayu Tekam, Kayu Keladan, Kayu Resak untuk dinding atau lantai
Sumber Sandang Samak, Jerong untuk pewarna alami Kulit kayu Kepuak, Kulit garu untuk pakaian.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun Bungkang, Daun Salam, Serei, Kunyit, Lengkuas, Tekuus, Tacuk, Asam Kamang, Kandis, Kemiri, Daun Laki, Cabe.
Sumber Pendapatan Ekonomi Pisang, Keratom, Karet, Coklat

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Nomor 246 DLH Tahun 2021 No 246/DLH/2021 Pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat dayak punan uheng kereho, ketemenggunangan punan uheng kereho kec. putussibau selatan, kab. kapuas hulu SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen