Wilayah Adat

Kampung Sa’ango

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Kanayatn Kampung Sa’ango Binua Soari
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota LANDAK
Kecamatan Sengah Temila
Desa Paloan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 935 Ha
Satuan Kampung Sa’ango
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Berbatasan dengan kampung Gawan dan Pate Bajamu dengan batas alam Ne’ Rangke dan Teluk Pak Nigo
Batas Selatan Bebatasan dengan kampung Asong dan kampung Paloan dengan batas alam bukit Samarapek dan Sehak
Batas Timur Berbatasan dengan kapung Jalutukng dan kampung Paloan degan batas alam Bukit Soari
Batas Utara Berbatasan dengan Kampung Gantekng dan Kampung Lanso dengan batas alam Sambora

Kependudukan

Jumlah KK 155
Jumlah Laki-laki 405
Jumlah Perempuan 320
Mata Pencaharian utama Petani (ladang, sawah, menjadap karet, kebun sawit dll) Meramu,Guru, peternak (Babi, ayam)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

1. Sejarah Asal Usul Nama Kampung
Sa’ango diambil dari istilah Ngalango. Ngalango artinya mendatangi sesuatu yang disukai yang berkaitan dengan jenis makanan terutama buah-buahan. Ngalango diambil dari nama LANGO yakni salah satu jenis lalat ukuran besar berwarna hijau yang sering hinggap di bekas makanan terutama bekas buah durian (sampah). Karena kampung ini sangat terkenal dengan banyaknya durian maka banyak orang datang untuk mencari durian, dan sampai sekarang nama kampung ini dinamakan Sa’ango.

2. Sejarah Kepemimpinan Kampung Saango
Pada zaman dahulu kepemimpinan kampung dijabat oleh yang paling berpengaruh dan memiliki kharismatik seperti yang dimiliki Ne Marong. Ne Marong memiliki kemampuan yang sangat luar biasa sehingga ia mampu menguasai wilayah mulai dari bukit Soari hingga bukit Samahung. Dari sisi luas wilayah yang masuk dalam kekuasaan Ne Marong sangat luas, begitu pula dengan warga yang mendiaminya juga lumayan banyak, dengan dibuktikan setiap kampung yang dikuasi Ne Marong ada kepala kampungnya. Kampung Saango dipimpin pertama oleh Dangkeh, kemudian di gantikan oleh Nyata, selanjutnya di gantikan oleh Nengan. Nengan digantikan oleh Kisum (Pak Jendela) setelah itu digantikan oleh Agung (Umben).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Rimba adalah Areal Hutan dengan tutupan lahan berupa pohon a, pohon b, c, dsb. Rimba berfungsi untuk dijaga oleh karena adanya tempat keramat (...), pusat ritual (...), sumber mata air, dimanfaatkan tanaman obat-obatan tradisional, bahan alam untuk ritual, serta berburu binatang.
Mototn adalah Areal Kelola dengan beberapa jenis tanaman tumbuh di atasnya seperti Tanaman Pangan: Padi, Jagung, Sayuran, Tanaman Komoditas: Karet, Kemiri, Sawit, dsb. Mototn yang sudah diistirahatkan sekitar 1 sampai 3 tahun disebut Bawas.
Kompokng Areal Kelola yang ditumbuhi aneka ragam buah-buahan seperti: durian, manggis, tengkawang, langsat, dsb. untuk konsumsi dan dijual.
Timawakng Bekas Pemukiman yang ditinggalkan, ditumbuhi aneka ragam buah-buahan seperti: durian, manggis, tengkawang, langsat, dsb. untuk konsumsi dan dijual.
Bancah adalah Areal Sawah yang ditanami padi.
Radakng adalah Areal Pemukiman Warga
Deskripsikan/narasikan penggunaan lahan berdasarkan kelola atau tutupan lahan

 
Rimba dimiliki secara komunal oleh seluruh Masyarakat Adat

Mototn, Kompokng, Bancah, Radakng dimiliki oleh tiap-tiap keluarga/parene’atn.

Areal Timawakng ada yang dimiliki secara komunal dan ada pula yang dimiliki oleh keluarga/parene’atn.

Sejarah kepemilikan/penguasaan di masa lalu adalah dengan membuka lahan dan menanam pertama kali

Tanah-tanah adat itu dapat diwariskan baik kepada keturunan laki-laki maupun perempuan. Pewarisan dilakukan dengan membagi tanah parenean itu berdasar sebutan lokasi tanah menurut pengetahuan keluarga.

Selain melalui pewarisan, hak milik atas tanah adat dapat berpindah alih melalui Tukar Menukar dengan Tanah lain dan Jual Beli. Sebelum proses tukar menukar dan jual/beli diadakan musyawarah internal keluarga dan mengkomunikasikan dengan pemilik areal yang berbatasan.

Sedangkan hak kelola dapat dipindahalihkan dengan cara pinjam pakai dengan sistem bagi hasil (Nasih).

Rimba dilindungi dan dimanfaatkan secara terbatas di bawah naungan Pasirah. Rimba hanya dimanfaatkan oleh parenean yang berada di kampunng ... Begitu pula dengan timawakng yang dimiliki secara bersama-sama berada di bawah pengawasan Pasirah.


 

Kelembagaan Adat

Nama “Pasirah Pangaraga Kampung Sa'Ango”
Struktur Pasirah (Kepala Adat) Pangaraga (Wakil Kepala Adat) Pasirah dan Pangaraga dipilih oleh Masyarakat Adat dengan melihat kriteria keteladanan dan kepemimpinan seseorang melalui Musyawarah Mufakat maupun ditunjuk secara aklamasi. Baik Pasirah dan Pangaraga memiliki periode jabatan yang tidak terbatas selama dia mampu menjalankan tugas dan fungsinya.
Pasirah
- Bersama Pangaraga memimpin Masyarakat Adat
- Mengawasi Tanah Adat Milik Kampung
- Menangani Perkara Adat dengan nilai 3 Tail dan 20 kg Jalu (Babi)
- Berkoordinasi dengan Timanggong jika Perkara Adat tidak putus di tingkat Kampung.
- Melakukan Pengambilan Keputusan berdasar pada Musyawarah tingkat Kampung,
Pangaraga
- Bersama Pasirah memimpin Masyarakat Adat
- Menangani Perkara Adat dengan nilai 1,5 Tail ditambah 12.5 kg Jalu (Babi).
- Bersama Pasirah berkoordinasi dengan Timanggong jika Perkara Adat tidak putus di tingkat Kampung.

 
Bahaupm (duduk bersama untuk bersepakat) baik di tingkat Kampung maupun Parene’atn yang dilakukan dengan beberapa tujuan yaitu:
- Penyelesaian Sengketa Tanah
- Peradilan Adat
- Pengambilan Keputusan Penting
- Perencanaan Ritual Adat dan Gawai Kampung, dll.
Bahaupm di tingkat Kampung dihadiri oleh Pasirah, Pangaraga, dan terbuka untuk seluruh Masyarakat Adat Kampung dilakukan di tempat yang memungkinkan dapat menampung banyak orang.

Dalam Bahaupm untuk Penyelesaian Sengketa Tanah dan Peradilan Adat maka diawali dengan Ritual Adat “” dengan menyediakan

Hal-hal berkaitan dengan peradilan adat, penyelesaian sengketa, yang tidak dapat diselesaikan dalam Bahaupm Kampung, akan dikoordinasikan oleh Pasirah dan Pangaraga untuk dibawa ke Tingkat Binua.

 

Hukum Adat

Tidak boleh menebang pohon di areal Rimba tanpa ijin/kesepakatan, jika melanggar akan dikenakan sanksi adat “____” dan denda adat berupa _______
Ada kearfian lokal untuk tidak mengganggu pohon-pohon tertentu_____dikarenakan sifatnya yang sakral. Masyarkaat Adat meyakini mengganggu pohon-pohon itu akan menimbulkan sakit bahkan dapat menimbulkan kematian, dsb.

 
Ritual Kelahiran
Ritual Kematian
Dilarang mencuri, jika melanggar dikenakan sanksi adat berupa ____
Dilarang berselingkuh, jika melanggar dikenakan sanksi
 
Pada bulan .... tahun.... terjadi pelanggaran adat berupa masuk kamar orang tanpa ijin. Pelaku diadili secara adat dan diberikan sanksi adat berupa ...  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi Sunguh (......), Pulut (Ketan), Jagong (Jagung), Manggala (Ubi), Tela (Ubi Jalar), Labuk (Labu) Protein Nabati: - Protein Hewani: Jalu (Babi), Manok (Ayam), ... Sayuran: Ansabi (Sawi Lokal), Rebung ... Buahan: Duriatn, Sarikan (Langsat), Langir, Mintawa, ...
Sumber Kesehatan & Kecantikan Buah Langir digunakan untuk perawatan rambut dan kulit, serta membersihkan barang-barang logam. Pasak Bumi untuk peningkatan stamina dan daya tahan tubuh Uap dari daun Kalimabo untuk menghilangkan bau badan, perawatan kulit, dsb.
Papan dan Bahan Infrastruktur mayoritas masyarakat di kampung Sa'ango bahan dasar bagunan tidak lagi mengunakan bahan dari kayu
Sumber Sandang Masyarakat tidak lagi menggunakan bahan yang berasal dari alam untuk keperluan pakain hari-hari
Sumber Rempah-rempah & Bumbu kunyit, lengkuas, jahe, serai, tepok/cikalak,
Sumber Pendapatan Ekonomi berladang, berkebun