Wilayah Adat

Gelarang Linus

 Terverifikasi

Nama Komunitas Golo Linus
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Elar Selatan
Desa Golo Linus
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 520 Ha
Satuan Gelarang Linus
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Wilayah adat Lewurla dengan batas berupa Golo Munde, Rekas (bukit), Paku, hingga Tugu Lewurla
Batas Selatan Wilayah adat Watu dengan batas berupa Watu Weri, Bokak, Lenang, Tiwu Rii, Tiwu Rami, Sangan Wae Rokan, Sanggiring, Wae Muli, Tugu Perbatasan Lewurla.
Batas Timur Wilayah adat Golo Munde dengan batas berupa Rande Awan, Pinga Bali, Tana Landing, Rate Kenggek, Wae Rasak, Tiwu Benas
Batas Utara Wilayah adat Kigit dengan batas berupa Sangan Long, Parnanga, Golo Linus (puncak), Golo Munde (puncak).

Kependudukan

Jumlah KK 399
Jumlah Laki-laki 392
Jumlah Perempuan 399
Mata Pencaharian utama Bertani (kopi, cengkeh, kakau, kemiri) Beternak (kerbau, kuda, sapi, babi, kambing)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas yang ada saat ini mulanya tinggal di hutan yaitu hutan Golo Munde, hutan Golo Inuk, hutan Likan telu, hutan Rana Gapang, Ngambok, Pinggang dan beberapa tempat lain diwilayah komunitas Biting. Pada jaman pemerintahan Belanda, semua komunitas yang tinggal dihutan lindung harus dipindahkan ketempat lain karena tempat yang dihuni oleh komunitas ditetapkan menjadi hutan lindung yang melarang untuk dihuni oleh manusia maka, pecahlah komunitas ini mencari tempat yang strategis untuk perkampungan. Dalam kesehariannya komunitas Golo Linus hidup berdasarkan adat istiadat dengan filosopinya, Natar Seien Lodokan Ine’an artinya ada kampung ada lahan pertanian. Natar Se’en Wae Ajan artinya ada kampung dan air untuk minum
Sejarah singkat asal usul komunitas: pada zaman prasejarah pada tahun kurang lebih 1800 berasal dari Tasungnangge alu berpindah ke rendang lalu berpindah lagi ke kampung munde. Kampung munde merupakan kampung besar yang jumlah orangnya sangat banyak. Dari kampung munde kemudian menetap di pari. Orang atau nenek moyang yang pertama mendiami kampung pari adalah nenek luwi. Karena keturunan dari nenek luwi yang banyak maka pindah dan membuka kampung baru yang bernama soda. Keturunan nenek lawi yang menetap di kampung soda adalah nenek jizuk, nenek wonggol, nenek Takhii, nenek siok, dan nenek zusah. Akibar dari keturunan yang di soda terlalu banyak akhirnya membentuk kampung di waru. Sehingga saat ini kampung yang didiami bernama kampung waru soda. Nenek moyang berdomisili di kampung waru yakni: nenek tenda, nenek maka, dan nenek sara. Setelah dari akmpung waru berpindah ke ngawok. Kampung ngawok ini dibuka oleh nenek ngasa, nenek nggalu. Selain itu ada juga nenek moyang yang berada di kampung ledu dan kampung tubuk.
Pada zaman republic akibat perkembangan manusia begitu banyaknya makanya pindah lagi ke munde. Ada perpindahan kampung yang terjadi, mulai dari kampung pari, kampung soda, waru dan Ngawok, tubuk, ledu. Alasan perpindahan yang pertama adalah untuk menghindari peperangan, mencari tempat yang agak strategis dan akses yang mudah.
Pembentukan kampung yang pertama melalui proses ritual adat dengan benda-benda adat yang digunakan. Tujuan acaranya tersebut sah untuk menjadi sebuah kampung adat dengan riton sebagai misbah atau altar untuk ritus adat. Agar kehidupan masyarakat adatnya secara turun temurun terjamin aman dan tentram, tidak ada sakit dan penyakit secara tiba-tiba yang sangat merugikan, agar masyarakat adatnya semakin tahun semakin bertambah. Perkembangan-perkembangan ke kampung lobat begitu datang langsung membuat pemukiman dan berkembang sampai sekarang. Pada saat membuka kampung pertama mereka memilih di perbukitan dan dekat dengan jurang. Alasannya supaya tidak mudah dilihat oleh musuh karena pada zaman dahulu masih system perang antar kampung. Belum ada terjalin kerjasama antara kampung yang satu dengan kampung yang lain. Apabila bertemu dijalan itu dianggap musuh. Sehingga perkampungannya mencari tempat gunung-gunung yang tinggi.
Nama-nama suku:
1. Natar bebong: sabu, bebong, pata, loge, mimoe, pinggang
2. Natar Singit: singit, pata, rai, loge, pinggang, sabu, mimor
3. Natar soda: rai, pinggang, loge, sabo, pata, mimor, bebong, singit
Cara mereka mencari makan untuk bertahan hidup itu menggunakan cara tradisional. Dengan bekerja ladang dengan system yang berpindah-pindah. Selain itu juga mereka berburu. Jenis tanaman yang ditanam di ladang itu padi, jagung, jewawut, kacang-kacangan. Interaksi dengan suku-suku yang lain pertama kali dengan system perkawinan. Dari perkawinan hubungan seperti saudara sudah semakin muncul dan budaya perang sudah semakin hilang. Ritual adat dilakukan pada saat upacara adat, mau pergi berburu, melakukan ritus di tempat-tempat keramat.
Pada zaman Kolonial belanda, tidak ada masyarakat dalam komunitas yang berani melawan. Pada waktu ada perebutan lingko. Komunitas soda untuk mendapatkan tanah dengan kerja keras melalui peperangan antara suku dengan suku. Masuknya orang belanda ada istilah yang Namanya taki mendik. Orang soda sebagai orang asli menggunakan kekuasaan untuk menekankan kepada orang yang tertindas.
Ajaran agama baru masuk pada zaman Belanda Agama yang masuk pertama pada saat itu adalah agama Kristen khatolik. Masyarakat menerima ajaran agama yang masuk dan juga masih menjalankan ritual adatnya. Jadi antara agama dan adat berjalan beriringan. PAL belanda masuk pada tahun 1932 sedangkan PAL republic pada tahun 1951. Pada tahun 1993 masuklah TWA dan pemasangan patok TWA dilakukan pada tahun 1994. Pada waktu itu masyaarakt dilibatkan untuk pemasangan PAL sebagai buruh pekerja. Mereka mengatakan tanah yang sudah dipaasang patok itu menjadi milik pemerintah. Ada kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat setempat karena ulayat mereka merasa dirugikan . Mau dilawan takut karena belum ada pendampingan pada waktu itu. Sampai masyarakat adat itu sadar bahwa itu wilayah ulayatnya soda yang pertama sudah munculnya jaringan gerakan masyarakat adat (Jagat NTT) pada tahun 1997. Pada waktu itu mulai dilakukan pemetaan pemetaan yang dilakukan meliputi pemetaan ulayat desa. Intimidasi dari BKSDA belum ada secara fisik. Hanya saja mereka pernah datang patrol untuk control pilar. Sehabis control pilar pada bula September 2017 pihak BKSDA bertemu komunitas di rumah kepala desa golo linus. Pada waktu itu terjadi perdebatan karena menurut mereka masyarakat adat soda tidak punya hak lagi terhadap lingko yang ada karena itu milik TWA Ruteng denan bukti pemasangan tonggak tersebut sebagai legalitas. Tetapi dari masyarakat adat waktu itu memberikan pernyataan bahwa apapun resikonya adalah itu bagian dari masyarakat adat dengan filosofi natar wendi lodok wean. Masyarakat adat punya kewenangan bahwa dua lingko yang ada di dalam TWA iu adalah milik masyarakat adat. Usulannya kembalikan ulayat masyarakat adat sedangkan TWA kembali dengan fungsi lindung dengan PAL batas belanda pada tahun 1932.
Pada zaman dahulu tidak ada perubahan dalam pola hidup masyarakat setempat. Hanya saja aktivitas berburu sudah mulai berkurang. Berburu dilakukan pada saat akan mengadakan ritual adat. Kegiatan berburu sudah berkurang alasannya anjing yang biasa ikut berburu sudah tidak ada


Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Pong Mese: Hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang kayunya boleh tebang untuk kebutuhan banguann
- Pong Sengit: Hutan atau areal lindung yang kayunya tidak boleh tebang. Dalam pong sengit terdapat tempat keramat dan mata air.
- Puar/Mokang: Bekas kebun yang sudah ditinggalkan selama kurang lebih 5 tahun
- Uma: kebun yang saat ini digunakan oleh masyarakat untuk bercocok tanam
- Galung: areal sawah
- Alo: Sungai
- Natar: kampung
- Zatar: padang/tempat gembala ternak

 
Sistem pengaturan dalam pengelolaan tanah, yang pertama musyawarah atau palegomor muse yang artinya musyawarah kampung dalam komunitas adat yang pertemuannya dilakukan di rumah tua teno yang dihadiri oleh tua golo, tua panga, tua kilo dan masyarakat adat hadir semua. Jalannya pertemuan itu yang pertama pentuan jadwal untuk membagi tanah komunal menjadi hak milik. Setelah jadwal pertemuan disepakati Bersama-sama, Tua teno, tua golo, tua panga dan tua kilo turun ke lingko. Turunnya ke lingko setelah musyawarah adat itu disertai dengan acara adat yang Namanya “Pange Manuk atau ritus dengan menggunakan ayam. Itu dilakukan oleh Tua Golo. Tujuan dari ritual pange manuk itu adalah untuk merangkul semua tanah komunal yang dibagikan ke individu untuk menjadi hak milik pribadi dan yang kedua sebagai bahan untuk menyampaikan kepada leluhur supaya leluhur mengetahui sah akan akan pembagian itu sehingga tidak ada sakit dan penyakit. Yang ketiga sehingga tanah itu menjadi aman dikelola oleh siapa saja yang menjadi pemilik yang dibagikan oleh semua pemangku adat. Tidak ada proses untuk perkara kalua untuk penyelesaian perkara diselesaikan sendiri oleh tua teno karena dia yang membagi. Setiap individu yang telah menerima tanah komunal itu langsung mengerjakannya masing-masing. Proses yang dilakukan, mulai dari membakar dan dilanjutkan dengan benerapa tahapan. Adapun tahan yang pertama itu disebut dengan Hoer yaitu proses untuk menanam padi dan juga padi ladang.
Sistem untuk mendapatkan tanah. Tanah itu ada tanah sejarah yang dikerjakan oleh leluhur pada zaman dahulu dan hanya dibagikan untuk orang-orang tertentu. Ada juga beberapa tanah-tanah kecil atau lapan kecil itu dibagikan kepada siapa untuk menerimanya. Ada 9 lingko atau lodok yang ada di komunitas soda. Dari 9 lodok, 2 lodok diklaim oleh pihak BKSDA yaitu: lodok litonamut dan Bizaknimbing. Sedangkan lodok riton karena ada kesepakatan dulu dikelola oleh masyarakat di pepil. Pengerjaan lodok tergantung dari luasannya. Biasanya untuk 1 lodok itu dikerjakan oleh 8 orang tergantung pada musyawarah awal. Semua tanah komunal yang ada diatur oleh tua teno.
Untuk tanah milik pribadi yang berasal dari warisan itu dibagikan oleh tua kilo. Dalam pembagian warisan anak perempuan tidak dapat hanya kepada anak laki-laki saja. Pembagian tanah warisan dalam 1 keluarga tidak diketahui oleh tua teno atau dor. Jual beli tanah dapat terjadi hanya di dalam komunitas. Alasan menjual tanah rata-rata untuk biaya anak sekolah dan kebutuhan yang sangat mendesak. Proses terjadinya transaksi jual beli terlebih dahulu ada kesepakatan antara bapak dengan anak. Walaupun anak dalam hal ini sudah menjadi ahli waris, apabila dalam jual tanah belum ada kesepakatan, anak bisa menggugat bapaknya. Ini terjadi apabila yang menjula bapaknya. Sedangkan kalau yang menjual anaknya harus diketahui oleh bapak juga. Setelah terjadi transaksi, pihak luar yang dilibatkan selain keluarga adalah tua teno. Bukti legalitas dalam transaksi jual beli hanya SPPT pajak. Selain itu ada juga perjanjian antara kedua belah pihak. Pihak yang menjual segera ke kantor pajak untuk mengalihkan nama ini ketahui oleh tua teno, karena dikemudian hari jika terjadi perkara tidak ada saksi dan tanah dijual secara illegal.
Di tanah ulayat dalam system pembagian tanah dibagi oleh tua teno tetapi yang punya control adalah tua golo atau dari keturunan gelarang. Bila akan terjadi investor masuk, harus melakukan musyawarah atau palegomormuse dalam satu kampung. Fungsi control dari tua teno adalah dari turunan gelarang. Dan ini diakui dalam setiap komunitas. Dalam pembagian tanah ada istilah Daeng Pabir inweret” yang artinya semua pemangku adat baik tua golo maupun tua teno dan para generasi harus sama-sama duduk atau lonto leok. Keputusan tidak boleh diambil oleh 1 orang dan harus kolektif Bersama.

 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Soda Lembaga Adat Pepil Lembaga Adat Bebong
Struktur 1. Tua Teno 2. Tua Golo 3. Tua Panga 4. Tua Kilo
Tugas Tua golo: untuk semua tentang adat baik ritual maupun perkara adat.
Tugas Tua Teno: menyusun aturan adat dan mengatur pembagian tanah.
Tua Panga: menyelesaiakn persoalan dan urusan adat dalam 1 panga.
Tua Kilo: menyelesaikan semua persoalan yang ada dalam rumah tangga.

 
Mekanisme dalam mengambil keputusan, itu semua yang hadir dalam musyawarah harus masyarakat adat. Biasanya dilakukan di rumah tua teno atau tua golo. Apabila dalam suatu musyawarah belum mencapai kata sepakat maka rapat itu bisa ditunda. Apabila rapat menyangkut urusan tanah maka rapat akan dilakukan di tua teno. Sedangkan untuk perkawinan biasanya dirumah tua kilo. Apabila ada perkara untuk dirapatkan itu dirumah besar atau rumah gendang. Proses dalam memulai rapat, itu dilakukan secara internal di rumah komunitas. Di komunitas akan ada seksi-seksinya. Pemangku adat dan semua pihak yang ada dikomunitas akan membantu menyampaikan bahwa aka nada musyawarah. Dikomunitas juga ada satu atau dua orang yang dipercaya untuk menyebarkan informasi

 

Hukum Adat

1. Dilarang menebang hutan lindung (pongsengit) termasuk hutan yang ada mata air
2. Dilarang sengsor / gergaji kayu di pong sengit untuk keperluan bangun rumah atau diperdagangkan
3. Dilarang buka kebun baru sebelum ada kesepakatan melalui musyawarah kampung (neki weki sama ranga)

 
1. Apabila terjadi pencurian dikenakan denda sesuai dengan besar kecinya pencurian. Apabila kecil didenda berupa ayam, uang, tuak, rokok. Sedangkan apabila besar dedenda berupa: sapi, ayam, kuda kerbau.
2. Apabila terjadi pembunuhan pihak adat langsung menyerahkan kepada pihak yang berwajib untuk diselesaikan secara hukum.
3. Tidak boleh melakukan perkawinan dengan saudara sedarah atau dalam satu keturunan, Tidak boleh melangsungkan perkawinan dengan orang yang masih ada ikatan perkawinan sebelumnya. Apabila dilanggar kedua belah pihak akan disifang adat dan dijatuhkan denda sesuai dengan kesepakatan, biasanya berupa: kain, uang, ayam, kerbau dan kuda.
4. Apabila dalam keluarga ada yang baru melahirkan wajib melakukan ritual waung. Bila itu anak pertama wajib melaksanaan irong. Pada saat pelaksanaan irong ada masyrakat yang melanggar maka akan didenda berupa uang, ayam, tuak, rokok.
5. Aturan adat tentang kematian (Rendut mata kemu mozon)
Apabila dalam kematian salah satu pihak tidak menyampaikan kepada keluarga yang bersangkutan, maka pihak kelurag dapat menuntut secara hukum dan adat menjatuhkan denda berupa kuda, kerbau dan uang.
 
Pada tahun 2007/2008 terjadi kasus perselingkuhan. Maka perangkat adat melakukan musyawarah adat dengan menjatuhkan sanksi adatnya kedua belah pihak memilih untuk bercerai dan diberi denda berupa kerbau 1 ekor, kuda 1 ekor, uang 5 juta bagi laki2. Bagi perempuan juga dikenakan sanksi berupa: babi 1 ekor, kain 2 lembar, beras 50 kg, tuak 10 botol, dan rokok surya 1 slop/Pak 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: padi, ubi jalar, jagung, singkong, keladi zezang, jewawut Protein Nabati: kacang tanah, kedelai, buncis, tagok/kacang merah Protein Hewani: ikan mujair, lele, karpel, udang, kepiting, katak, belut, ayam, sapi, babi, anjing, kambing, kerbau, kuda. Sayuran: kol, daun singkong, daun kastela, daun papaya, pakis, sawi, tomat, cabe, terong, timun, labu putih, labu hijau, bayam, kangkong, Buah-buahan: pepaya, alpukat, nangka, nenas, mangga, durian, rambutan, jeruk, asam, nanas, buah pandan, sawo apel,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun pepaya: obat malaria Buah Mahoni: obat malaria Siki bopok: obat panas dalam dan kudis Maeng: untuk penuun demam Akar alang-alang: untuk obat lambung Kumis kucing: obat kencing manis Kulit Nangka: obat sakit perut Kembuh/mengkudu: untuk mengobati gondok, struk, kolesterol
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang: Mei, Dalok, Mensang, Munting, Daru, Ampufu, Ledu. Papan/dinding: Ajang, Surnanak, Kawak, Lale, Waek, Merak, Kui, Mes, nyelong Atap: Bambu
Sumber Sandang Balang: pewarna alami Kapas: pakaian
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Merica, cengkeh, kunyit, halia, serei salam, jahe, lasa, kemiri
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Kakau, Kemiri, Jambu mete, Vanili, Cengkeh