Wilayah Adat

Kasepuhan Nunuk

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kasepuhan Nunuk
Propinsi Jawa Barat
Kabupaten/Kota MAJALENGKA
Kecamatan Maja
Desa Nunuk Baru
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.103 Ha
Satuan Kasepuhan Nunuk
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Sungai Cilutung, Desa Cimanintim Kab. Sumedang
Batas Selatan Desa Gununglarang Kecamatan Bantarujeg
Batas Timur Desa Cengal Kec Maja, Desa Sukamenak Kec Bantarujeg
Batas Utara Desa Cibodas Kecamatan Majalengka

Kependudukan

Jumlah KK 1260
Jumlah Laki-laki 1917
Jumlah Perempuan 1895
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kata Nunuk berasal dari kata CAMU’UK, CINUNUT yang berarti DIAM. Sejak tahun 1471 nunuk merupakan sebuah desa yang besar yang terdiri dari sembilan kampung (Nunuk, Babakan, Cirelek, Sanding, Kadut, Citayeum, Cikawoan, Cinangka dan Lengkong) pada saat itu yang pernah menjabat Kepala Desa Nunuk adalah :
1. Kuwu Yoga
2. Kuwu Ampih
3. Kuwu Kumpul
4. Kuwu Bewu
5. Kuwu Raden Kaneneh
6. Kuwu Mbah Sanusi
7. Kuwu Jangkung
8. Kuwu Tineung Ringgeng
9. Kuwu Haji Kecil
10. Kuwu Awe Edoh
11. Kuwu Panyelang
12. Kuwu Jayar
13. Kuwu Kejeng
14. Kuwu Arnisem
15. Kuwu Scalaksana
16. Kuwu Sarnu
17. Kuwu Kasta
Pada tahun 1939 sebagian kecil warga Nunuk dipindahkan ke daerah ligung yang sekarang menjadi Desa Kodasari dan Majasari termasuk kepala Desa dan perangkatnya waktu itu ikut pindah dengan program bedol Desa (Masa Bupatinya Bpk Saleh Sediana). Sementara sebagian besar masyarakat tetap tinggal di Nunuk.Pada tanggal 3 Bulan Maret tahun 1951 karena alasan kawasan nunuk akan dijadikan gerilya belanda, karena alasan keamanan maka Desa Nunuk dititipkan ke Desa Cengal yang saat itu yang menjadi WD/Pjs adalah Bapak Resta (1 Tahun). dilanjutkan dengan Kuwu Sadah, Kuwu Madhapi, Kuwu Resta, Kuwu Nurdin, Kuwu Saleh, Kuwu Jojo Jakaria, Kuwu Diding Supardi dan Kuwu Ikin Sodikin.Berkat perjuangan serta kegigihan tokoh dan masyarakat nunuk komplek yang begitu panjang setelah 59 tahun menjadi cantilan Desa Cengal maka dengan Rahmat dan izin Allah SWT. pada tanggal 29 Nopember 2010 Nunuk kembali menjadi Desa dengan nama Desa Nunuk Baru berdasarkan Perda No. 6 tahun 2010 yang diresmikan oleh Bupati Majalengka Bpk. H. Sutrisno, MSc,dan yang menjabat sebagai Pjs. Kepala Desa adalah Bpk. Dais, dengan jumlah Dusun/Blok menjadi 7 (tujuh) yaitu Blok Nunuk, Babakan, Cirelek, Kadut, Citayeum, Cikawoan dan Lengkong. Dan pelantikan Pjs Kepala Desa oleh Bpk. Bupati dilaksanakan pada tanggal 20 Pebruari 2011 bertempat di Bale Desa Nunuk
Baru.Tahun 2011 pada bulan November diadakan pilihan kuwu secara definitif dan yang menjadi kuwunya:
1. Nunu Sanusi (2011-2017)
2. Nono Sutrisno (2017-Sekarang).
Sumber : Tokoh dan Tetua Adat Nunuk, Dokumen Pemekaran Desa, Dukumen Sejarah Desa Kodasari, dll

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pemukiman, Kabuyutan, Sawah, Ladang, Mata Air, Hutan Lindung, Pemakaman Umum/TPU,  
Hak Pribadi dan Hak Komunal 

Kelembagaan Adat

Nama Kasepuhan Nunuk
Struktur Ketua Adat, Kuncen Babakan, Kuncen Nunuk, Kuncen Kadut, Kuncen Cikowoan, Kuncen Citayeum, Kuncen Lengkong
Hasil Musyawarah Lembaga Adat 

Hukum Adat

Pamali : Ketika Mengambil Barang, Kayu, Tanaman dan Lainya dari Wilayah Kabuyutan. Khusus makam cileuweung tidak boleh pake kaos kurung.
Nyawer : Melempar uang koin apabila melewati beberapa makam Keramat/Kabuyutan.
Hajat Uar : Membuat Sajen kupat leupeut tangtang angin ketika ada gerhana, gempa.
Setiap Bulan Maulid sebelum tanggal 12 maulid tidak boleh melakukan pembangunan.
Hajat Mulud : membuat tumpeng dan do’a bersama tiap tanggal 12 bulan maulid.
Ngabungbang : Melakukan Mandi secara bersamasama di sendang mata air lokasi makam kabuyutan Cileuweung setiap tanggal 14 pas bulan purnama.
Nyungsum : Menaruh sesajen dan berdo’a di titik tertentu di tiap Kampung satu bulan satu kali dengan tujuan untuk keberkahan masyarakat, Kandang Jaga
Guar Bumi : Upacara Do’a Bersama di Makam keramat/kabuyutan dengan membawa bucu/ nasi tumpeng setelah semua beres melakukan Pengolahan Lahan pertanian.
Halaman 4 dari 1
Pareresan : Upacara Do’a Bersama di Makam keramat/kabuyutan dengan membawa bucu/ nasi tumpeng setelah semua beres melakukan Penanaman/melak nandur pertanian.
Buku Taun : Upacara dan do’a bersama dengan membawa bucu/ nasi tumpeng sebagai bentuk syukur setelah panen. 
Nyiramkeun Pusaka : Upacara dan Do’a bersama
tiap Bulan Safar jatuh di hari Kamis tanggal belasan
dengan melakukan pencucian barang-barang pusaka
peninggalan para leluhur 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Jagung, Ubi Kayu, Kacang Tanah, Talas, Ganyol, Hui, Ubi Jalar, Bawang Merah, Cabe Rawit, Pisang, Kelapa, Duwet, Mangga, Sirsak, Asem, Kosambi, Ketos, Wuni, Sawo, Durian, Alpukat, Tawulu, Rebung bambu, Pepaya, Jambu, Wijen, Hiris, Hanjeli, Ikan, Daging Tenak
Sumber Kesehatan & Kecantikan Abu Pelepah Kawung, Buah asam, Madu Tawon liar, Kunyit, Porang, Petai cina, Daun sirsak, daun insulin, binahong, Cecendet/ciplukan, Scang, Sirih, pinang, Kelapa, Bawang Merah, Bawang Putih, Putri Malu, Rumput teki, sereh, buah maja, Rumput Jampang, Lengkuas, Cariu, Bambu kuning,
Papan dan Bahan Infrastruktur Jati, Mahoni, sengong, juar, gempol, kihiang, nangka, bungur, dangdeur, waru, kayu randu, kayu lame, kayu kelapa, kayu mindi, kayu saga, kayu kihujan, Kayu Salam, Kayu Kedoya, Pohon palm,Walikukun, Kayu putat, kayu pangsor, Bambu, Pohon Kembang, Pohon puspa
Sumber Sandang Kapas, Kapuk/Randu,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jahe, Kunyit, Asam, Sirih, Sereh, Scang, Lada, Kemiri, Bawang Merah, Bawang Putih, Gula Aren, Kopi, Cabe Rawit, Bawang Daun, Daun Salam, Buah malaka
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi, Jagung, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabe Rawit, Pisang, Mangga, Nangka, Alpukat, Gula Aren, Kelapa, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Kacang Tanah, Ternak