Wilayah Adat

Wolomari

 Teregistrasi

Nama Komunitas Wolomari (Tana Bodu Watu Bero)
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota ENDE
Kecamatan Maukaro
Desa Wolomari
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 612 Ha
Satuan Wolomari
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Wilayah Tanah Tika dengan tanda batas sebagai berikut: Azho Poko Zibhi, Bhiki zhande, Domba, wolo Dhomba Lo’o, Ghate Ndomba Bhu-Bhu, Bhu-Bhu, Zlia Kutu, Mbaka Kewu.
Batas Selatan Wilayah Adat Mudegagi dengan tanda batas sebagai berikut: Ture Nggazha, Zhowo Fata Moke, Senga Sega, Tiwu Kowa, Mere Seke, Tiwu ee, Uzru Muru Zembe, Muru Zembe, Mere Seke, Zhowo Jawa, Jawa Bizhi, Tiwu Dhe Ondo.
Batas Timur Wilayah Adat Nua Boafeo dengan tanda batas sebagai berikut: punggung bukit mulai dari Ture Nggazha, Mbongo Azo, Tana Zi, Sungai mulai dari Pemo Waei, Mbiri Aro, Sanga Tara tata, wesa Rusa, Eko Tana, Kamu Au, Sanga Mozo Boi, Tiwu Deti.
Batas Utara Wilayah Adat Tanah Ero dan Wilayah Adat Tana Soko Raja (Mbotu Rhaka) dengan tanda batas sebagai berikut : worho Korhi/bukit tana ero, eko tana ditandai dengan tubu musu miliknya bodu berho dan tubu musu urhu tana soko raja (Mbotu rhaka), Uzhu Ae Roge, Ghete Eko Tana,Zhowo Ae Zhangga, Uzu Soi, Sombe Denu.

Kependudukan

Jumlah KK 35
Jumlah Laki-laki 93
Jumlah Perempuan 87
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Tana Bodu Watu Bero:
Uzhu Bodu Eko Bezho,
Pati Ari Wogha Ka’e,
Dai Singi Enga Were,
Sejarah asal usul tana uzru Bodu eko Bezro pada awal mula Kebi Rangga orang yang pertama datang wilayah ini, Yang pada saat itu tanah masih luas dan belum di huni pada zaman tana “ju je watu eku mbeju“. Kebi Rangga adalah orang pertama yang mengginjaka kaki di wilayah ini yang diistilahkan dengan “keso mulu Tana, Setu Mulu watu” setelah itu kebi Rangga mempuanyai anak namanya Bezho Rangga yang kawin dengan Bodu yang berasal dari wilayah timur dengan istilah “ata Ke’o Mboka Rada Ara” dan diwarisi tanah kepada Bezho dan bodu sampai dengan anak cucuknya yang samapai saat ini dengan nama Wilayah Adat Uzru Bodu Eko Bero.

Sebelum masuknya penjajahan Belanda ke wilayah adat wolo mari “tana uzru Bodu eko Bezro” pada saat itu kekuasaan tertinggi masih dipengang oleh Mosalaki atau tuan tanah dengan kekuasaan secara turun-temurun oleh tua laki-laki (patrilineal). Wilayah kekkuasan para Mosalaki berdasarkan Hak ulayat sesuai dengan batas-batas tanah yang telah diwariskan oleh pendahulu mereka.

Dengan masauknya belanda maka ada perlawanan terhadap tindakan Belanda yang sewenang-wenag tidak sesuai dengan Budaya setempat, Maka berapa toko-toko yang ada di wilayah Wolo Mari dan sekitarnya melakuakan perlawan terhadap tindakan Belanda.

Dan toko yang paling terkenal pada saat itu adalah Sato Joto yang mengadakan perlawannan terhadap belanda, sampai akhirnya beliau di tangkap oleh Letnan Geskeber dan langsung di buang ke Jawa. Akhir perlawanan terhadap belanda mulai padam sehingga tidak ada lagi pemberontak di wilayah Wolo Mari dan sekitarnya terhadap Belanda.

Dengan padamnya Pemberontakan, Belanda membentuk pemerintahan di wilayah Boafeo dan sekitarnya tahun ± 1918an dengan nama Distrik yang berpusat di Boafeo dengan wilayah yang meliputi boafeo dan sekitarnya sampai Waka, dengan sebutan “Uzru Wolomari- Eko Waka”.

Dalam misi Gereja untuk menyebarkan agama katolik di wilayah Wolo Mari, awalnya misi/gereja membangun sebuah sekolah di boafeo dan mengangkat orang – orang boafeo dan wolomari menjadi guru di sekolah dasar Katolik itu, dan dari guru-guru itulah mulai menyebarkan agama katolik diwilayah adat Wolomari.

Sekitar tahun 80an kehutan melakukan reiboisasi dengan menaman pohon ampupu dan johar di wilayah adat, selanjutanya dengan UU peluasan wilayah hutan maka Desa boafeo termasuk wilayah dusun wolomari menjadi Hutan yang disahkan sekitar tahun 1990an oleh kehutan dan langsung tanam pilar2 sesuai batas desa.

Pada tahun 2012 pikah kehutanan mesang pilar wilayah adat wolomari, untuk pembagian ruang hutan yaitu hutan Produksi dan Hutan Rakyat.

Masyarakat Adat Boafeo masih memperjuangkan untuk membuktikan diri mereka demi memperoleh pengakuan Negara atas Kebudayaan dan Hak-hak Ulayat mereka

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kerhi: Areal Hutan yang dilindungi dan diambil manfaatnya secara terbatas. Kerhi dilindungi oleh karena adanya Ulu Tana (mata air) dan mencegah bencana alam. Sumber daya hutan di dalam Kerhi juga dimanfaatkan secara terbatas untuk memenuhi Kebutuhan Papan (Kayu), Obat-obatan, Pangan, Sandang, dan Komoditas Ekonomi (Non Kayu) masyarakat sambil dilestarikan flora fauna di dalamnya. Beberapa kekayaan alam di Kerhi antara lain Burung Maleo/Wodo, Burung Garu Giwa, Burung Dheku Dhengi, Kaju Mani, Kuli Lawa/Masoi, Kaju Bhaki Kapa, Rhobha (Pewarna Sarung), Taga, Mede, Bambu, Au, Bheto, Peri, Wurdhu, Mbera, Re’a, Mboro, dll.

Ndu’a: Areal Hutan yang diambil manfaatnya dan menjadi cadangan kebun di masa depan. Beberapa mata air di Ndu’a juga dilindungi agar tetap terjaga. Adapun beberapa hasil hutan yang diambil manfaatnya mirip dengan yang terdapat di Kerhi.

Bodhe: Areal Hutan yang dilindungi oleh karena di dalamnya terdapat Tempat Bersejarah seperti Makam Leluhur dan Tapak Kaki Pertama Leluhur Kebi Rangga, Tempat Ritual Roka Nitu (Untuk Buka Lahan baru) di Mbotu Dakonggara dan Bodhe Kaju Api, Tempat Keramat seperti Sewu Tepo.

Ogo-Uma: Areal Garapan yang dikelola masyarakat baik yang bersifat musiman/sementara maupun menetap/tahunan. Beberapa komoditas yang dibudidayakan di dalamnya adalah: Kakao, Are, Jawa, Mbue, Eeo, Kupi, Vanili, Muku (Pisang), Peda (Nanas), Uwi Abi, Uwi Jawa, Besi, Daka, Kejawa, Rosel (Talas), Bako Bai, dll.

Nua: Areal Pemukiman yang disekitarnya menjadi Pekarangan segala tanaman pangan dan obat-obatan seperti: Labu, Mengi (Sirih), Ev (Pinang), Naka (Nangka), Koro (Lombok), Daga (Tomat), dll. 
Hak Kuasa atas tanah ulayat di Kerhi, Ndu’a, dan Bodhe dimiliki secara bersama-sama (Komunal/Kolektif) yang pengaturan dan penguasaannya berada di bawah naungan Para Mosalaki.

Adapun Hak Kuasa/Milik di areal Ogo-Uma terbagi menjadi dua, ada yang masih dikuasai secara bersama-sama dan ada pula yang sudah berpindah hak kuasa/miliknya ke Keluarga Anggota Masyarakat Adat Wolomari. Secara umum hak kelola atas kebun/ladang melekat di masing-masing keluarga yang mengusahakan kebun/ladangnya.

Adapun hak kuasa/milik atas tanah di atas rumah dan pekarangan di Areal Nua/Pemukiman berada di masing-masing kepala keluarga dari anggota masyarakat adat Wolomari.

Aturan Pemindahalihan Hak:
Tanah Ulayat di seluruh ruang hidup orang Wolomari tidak mengenal pelepasan hak dan tidak dapat diperjualbelikan.

Kerhi dan Bodhe tidak dapat berubah fungsi dari hutan menjadi kebun sehingga hak kuasa/miliknya juga terus tetap menjadi milik bersama-sama.

Tanah di Ndu’a dapat dipindahalihkan dari komunal kampung di bawah mosalaki ke kepala keluarga Wolomari untuk menjadi kebun/ladang baru dengan izin dan ketentuan lainnya yang berlaku.

Tanah kebun/ladang di Ogo-Uma dan rumah/pekarangan di Nua dapat dipindahalihkan haknya melalui pewarisan baik kepada anak laki-laki maupun anak perempuan serta harus sepengetahuan mosalaki dan mengikuti aturan adat.

Pendatang/Orang Non Wolomari dapat memperoleh hak kelola jika ia: 1. Menikah dengan orang Wolomari, 2. Menetap di Wolomari, dan 3. Masyarakat Adat Tetangga yang telah mengelola lahan di Nua Wolomari dan mengikuti semua aturan adat. Selain itu, pendatang tidak boleh melakukan kerjasama apapun di tanah adat Wolomari. 

Kelembagaan Adat

Nama Mosalaki Uzhu Bodu Eko Berho
Struktur Mosalaki Pu’u/Kepala Suku Mosalaki Weri Teri Lema Teka Mosalaki Wasi Wesa Mosalaki Keso Besi Rero Mbezo.
Mosalaki Pu’u:
- Melaksanakan acara seremonial adat.
- Sebagai pemimpin dalam ritus adat di semua tahapan ritus.
Mosalaki Weri Teri—Mosalaki Lema Kera:
- melaksanakan ritual adat bersama Mosalaki Pu’u.
Mosalaki Wasi Wesa
- Untuk memberi makan leluhur.
Mosalaki Keso Besi Rero Mbezo :
- Menjaga keamanan dan menyelesaikan persoalan baik antar-mosalaki maupun dalam Masyarakat adat. 
Terdapat dua macam musyawarah di Nua Wolomari yaitu:

Mba’ Mbo: Rapat lintas keluarga untuk membicarakan Belis/Mas Kawin

Merasama: Musyawarah Adat Nua Wolomari untuk beberapa tujuan yaitu:
- Pengambilan Keputusan Penting.
- Peradilan Adat
- Penyelesaian Sengketa
- Perencanaan Ritual Adat, dan lain sebagainya.

Merasama dapat dihadiri oleh seluruh anggota masyarakat adat. Dalam hal tertentu bisa juga dihadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat (sa wiwi sa lema, sa pusu, sa mboka). Keputusan bersama dalam Merasama disahkan oleh seluruh Mosalaki Nua Wolomari. Merasama biasanya dilakukan di rumah Mosalaki maupun tempat lain sesuai kesepakatan. 

Hukum Adat

Pengambilan Kayu di Nua Wolomari hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan papan dan harus dengan izin Para Mosalaki.

Dilarang menebang pohon di sekitar mata air di seluruh Tanah Adat Nua Wolomari.

Dilarang membuka Lahan Garapan di areal Kerhi dan Bodhe.

Tidak boleh melakukan aktifitas apapun (Ambil Manfaat-Garap-Tebang, dsb.) di Areal Bodhe yang menyebabkan kerusakan. Jika melanggar maka dikenakan Sanksi/Poi berupa Eko yaitu Babi, Moke, Rokok, dan Beras hingga memperoleh kutukan dari Mosalaki.

Pembukaan Kebun Baru di Areal Ndu’a maupun Ogo-Uma dilaksanakan dengan beberapa ritual yaitu: KhambaraKaki KuruNgetiRokanituNgesoPo’o. Setelah Po’o baru anggota masyarakat adat dapat memulai tanam.

Pembangunan Rumah Baru di Nua dilaksanakan dengan beberapa ritual adat yaitu: Meka TanaWezu WatuPatika Tana WatuWake ManguNai Sa’o

Ka Mberha: Makan nasi bersama daging belut dengan cara digumpalkan bersamaan, acara ini memiliki makna membersihkan segala penyakit pada penggarap dengan cara disapu pada badan menggunakan batang ke’o (sejenis makanan lokal) dilakukan oleh mosalaki pu’u juga sebagai awal pembukaan kebun baru. Yang awali dengan tahapan 2 ritus seperti Ngeti, Jengi.

Roka Nitu: ritual penolakan hama dan penyakit dan untuk mengawili pembersihan lahan “ngeso”. Kewajiban penggarap membawa besar dan telur.

Po’o : setiap MA (Fai Wazu Ana Arho) sebagai penggarap wajib mengikuti. Kewajiban MA membawa beras, ayam dan moke.

Nuka Jawa: setiap MA (Fai Wazu Ana Arho) sebagai penggarap wajib mengikuti kewajiban bawah jagung mudu enam batang per penggarap.

Ka Nggua Tana: setiap MA (Fai Wazu Ana Arho) sebagai penggarap wajib mengikuti kewajiban penggarap bawah beras, uang, dan moke.

Pire: di larang melakukan aktifitas yaitu pada saat 1 hari setelak ka Mbera, 1 hari setelah Roka Nitu, 1 hari setelah Po’o dan setelah 1 hari Ka Nggua Tana.

Neka Tana: Khusus setiap MA yang buat rumah baru (rumah Tembok) harus oleh mosalaki.

Poka Kaju: yang menggunakan alat sensor harus ada ritus Neka Kaju oleh mosalaki. 
Jika terdapat hal-hal yang merugikan lahan Garapan tetangga/orang lain maka diminta ganti rugi yang berupa: jenis tanaman yang rusak atau lahan yang sudah ada tanaman di atasnya.
Dilarang berkelahi, bagi yang berkelahi wajib didamaikan dnegan seekor babi (Morofoko).
Dilarang melanggar batas kebun, bagi yang melanggar dikenakan Poi berupa Moke, Babi, Rokok, Beras.
Mae Naka: Dilarang mencuri/mengambil barang orang lain.

Pela Pani: perkawinan yang tidak sesuai dengan aturan adat (selingkuh)

Poka Tobho Wata Zangi: Dilarang mengubah batas kebun,

Tau Bhanda: adat untuk perkawinan yang menyakut Belis (Mas Kawin) harus mengetahui mosalaki.

Pelanggaran atas aturan di atas akan dikenakan sanksi dengan istilah poi, tergantung dari keputusan mosalaki dilihat dari berat ringannya pelanggaran. 
Pada tahun 2015 ada seorang penggarap yang duluan buka kebun sebelum mosalaki membuat ritus Ka Mbera dan mosalaki belum kaki Tana. Pelanggar dikenakan Poi atau sangsi berupa satu ekor babi dua pikul. Untuk makan bersama pada ritus adat Ka nggua tana.

Pada tahun 2016 penggarap menebang kayu untuk membangun rumah dan tidak didahului dengan Neka Kaju. Pelanggar dikenakan Poi atau sanksi satu ekor babi dengan berat 2 orang pikul (Wawi Bhei Rua). Untuk makan bersama di acara ritus Po’o. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi (Are Kea, Are Jomba, Are Nggondo, Are Menge, are Raka), Jagung ( jawa kune, dan jawa Wuza) ke’o, wete, orho, uwi ai, rose, uwi, sura, kota, uwi jawa,) Protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Seko, mbue, Nggorhi, urha. Buah: Alpukat, Pisang, nenas, papaya, jeruk, sawo, Nangka, tomat, cabe, rheba, serikaya, dll. Sayuran pete, besi dan daka labu jepa, kacang panjang, kejawa/pepaya, tomat, rheba, daun ubi.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat: kune, rhea, rhaja, kaju raga, seku, rhema rhao,nawe,fate Tumbuhan kosmetik: Kaju wau, beras, kunyit,kayu manis, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kaju warha,kaju mundi, kaju fai,kaju rhanu, kaju bapa, kaju barhu, kaju nara, terho, kaju bonggi, kaju keu, kaju wea nana,kaju nggura, kaju sewo koka, kaju koja, rotan, rau, waza, mara nua, keba, (mede, taga), dll.
Sumber Sandang Robha ( perwarna rhawo)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, kayu manis, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi kopi, kemiri, coklat, moke, pete, kakao, fanili, marica, pinang, jamur kemiri, kosi, dll.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.2 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA di Kab.Ende No.2 Tahun 2017 Pengakuan dan Perlindungan MHA di Kab.Ende Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen