Wilayah Adat

To Cerekeng

 Terverifikasi

Nama Komunitas To Cerekeng
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU TIMUR
Kecamatan malili
Desa manurung
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 679 Ha
Satuan To Cerekeng
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Desa Tarabbi, Desa Tampinna, Desa Lawakali
Batas Selatan Teluk Bone
Batas Timur Desa Puncak Indah, Desa Baruga, Desa Balantang
Batas Utara Desa Parumpanai Kecamatan Wasuponda

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani dan Nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada umumnya masyarakat Adat To Cerekeng tidak mau tahu menahu tentang apa makna dan asal usul masyarakat Cerekeng. Karena mereka memiliki keyakinan leluhur mereka ada dan menetap di wilayah cerekeng hingga hari ini mereka masih mendiami wilayah tersebut dan sejak awal memang telah bernama Cerekang.

Kata Cerekang berasal dari kata cerre yang berarti di tuangkan. Dimana ketika diturunkannya Latonge’ Langi’ yang bergelar Batara Guru ke ponseweni untuk menjadi manusia pertama dan sekaligus Raja pertama alekawa yaitu Luwu dengan pusat kerajaan di ware’ dengan syarat bahwa ia harus mengambil sebagai permaisuri puteri tertua “benua bawah”(Toddang Toja) La Matimmang Guru ri Selleng. Turunan merekalah yang akan menjadi penguasa benua tengah (alekawa; Luwu). Setelah Latonge’ Langi’ diturunkan ke Alekawa dalam bambu gading yang besar dan tiba di Ussu diantar inang pengasuh dan selirnya beserta pengikutnya, maka mulailah alekawa ditata sehingga terciptalah gunung padang, sungai dan hutan. Proses penurunan ini bagaikan air yang di tuangkan ke bumi sehingga terciptalah tanaman, hewan gunung, padang sungai, dan danau.

Masyarakat To Cerekang percaya bahwa mereka adalah keturunan dari Batara Guru. Batara Guru menjadi pemimpin yang menjamin keseimbangan duniawi dan pengabdian kepada alam dan Sang Penguasa Alam. Ajaran Batara Guru yang masih dipelihara oleh To Cerekeng adalah prinsip-prinsip kedamaian antar sesama manusia dan alam untuk menghindari kekacauan, seperti cara bercocok tanam tanpa merusak alam, memakan daging binatang dan ikan tanpa membuat hewan binasa dan tanpa membuat air sungai keruh.

Batara Guru adalah manusia pertama yang diturunkan dari langit (dalam bahasa lokal disebut Botting Langi’) di sebuah wilayah yang dinamai Pengsimoni. Wilayah itu menjadi tanah pertama turunnya manusia.

Ponsewoni/Pengsimoni hingga sekarang sangat dijaga, disakralkan, dikeramatkan, dan dijadikan tempat pelaksanaan ritual ade’ bagi To Cerekang. Selain ponsewoni ada 18 lokasi lain yang memiliki keterkaitan kuat dengan Sang Pencipta, alam dan masyarakat To Cerekang sendiri, yaitu: Ponsewoni/ Pengsimoni, Ujung Tana, Padang Annuenge, Tomba, Kasosoe, Aggattungeng Ance’e, Berue’, Mangkulili, Lengkong, Turungeng Appancangengnge’, dan Wae Mami.

To Cerekeng meyakini bahwa To Manurung dan Sawerigading bermukim di kampung tua Berue’ (disebut sebagai ‘tanah larangan’) tepatnya di sepanjang tepi timur Sungai Cerekeng. Berue’ membatasi Laoru, sebuah daerah hutan keramat yang meliputi Ennunge.

Kampung tua lainnya yaitu Katiue di pinggir sungai cerekeng; Mangkulili di sekitar Bulu Mangkulili; dan Cappa Kampong yang berada di pinggir sungai Ussu adalah tempat To Cerekeng bermukim sebelum pindah ke jalan raya (sekarang poros Palopo-Malili) pada tahun 1930.

Dalam tradisi lisan tentang Cerekang dan Ussu sebagai pusat besi bagi industri keris Jawa pada era Majapahit pada sekitar Abad XIV M. dalam tradisi jawa dikenal keras “pamor Luwu”. Keris yang dimaksud ialah senjata yang memiki besi pamor berasal dari Luwu, sebagai keris terbaik. Sumber besi luwu yang diekspor melalui Ussu dan Cerekang sangat mungkin berasal dari perbukitan sebelah utara, di tepi Danau Matano yang banyak mengandung nikel.

Dari penuturan To Cerekeng, bahwa dulu wilayah To Cerekeng meliputi sebagian Tampinna, Manurung, Atue sampai Ussu. Namun, jika dilihat secara ikatan spritual yang dihubungkan dengan 19 lokasi penting, wilayah adat To Cerekang mencakup 3 wilayah administrasi desa di Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, yaitu Manurung, Atue, dan Ussu. Pusat aktivitas Cerekeng saat ini berada di Dusun Cerekeng, Desa Manurung yang terletak di sekitar Sungai Cerekeng.

Sesuai penuturan dari masyarakat Cerekeng pada masa penjajahan Belanda masyarakat Cerekeng juga ikut berjuang bersama Datu Luwu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan Adat atau Pangngale’ Ada’ Toma Hutan Karama’ meliputi:
1. Ujung TanaE merupakan wilayah yang bukit tanah yang berfungsi sebagai penahan air, ketika terjadi banjir di hulu sungai Cerekeng sehingga mencegah meluapnya air ke perkampungan To Cerekeng
2. Tomba merupakan suatu wilayah hamparan persawahan yang dipergunakan sebagai tempat ritual jika berhubungan dengan pertanian /perkebunan.
3. Ponsewoni, merupakan wilayah hutan yang sangat utama yang oleh masyarakat dipercaya sebagai mula tana / bola tana (tanah permulaan). Tempat ini digunakan sebagai tempat ritual maggawe (meminta) reski dan keselamatan. Juga sebagai tempat pengambilan air suci yang dipergunakan dalam proses upacara-upacara adat yang dilaksanakan di kedatuan Luwu, misalnya mapacokkong ri baruga. Mengunjungi tempat ini harus seizin Pua’ atau perangkat adat.
4. Kasosoe, merupakan wilayah pemakaman tua yang dipergunakan sebagai tempat ritual adat yang berkaitan dengan mempertajam ilmu pengetahuan dan kecerdasan.
5. Berue, merupakan wilayah yang masih berupa hutan di sepanjang sungai Cerekang dipergunakan sebagai tempat ritual meminta awaraniang atau keberanian.
6. Bulu Mangkulili, merupakan wilayah yang berupa bukit yang di kelilingi tambak dan di dekatnya terdapat Perkampungan Tua Mangkulili yang dipercaya oleh To Cerekeng, sebagai tempat pohon Wallenrengnge’ yang menjadi bahan pembuatan perahu Sawerigading menuju Tanah Cina.
7. Lengkong, merupakan suatu wilayah/ lokasi pelaksanaan ritual yang berhubungan dengan kelautan atau hasil laut. Lokasi ini berupa hutan nipah dan bakau yang ada di pesisir pantai.
8. Padang AnnungngE, merupakan wilayah/ lokasi pelaksanaan ritual yang berupa tanaman padang dan rawa yang berkaitan dengan pertanian.
9. Aggatungnge Ance’E, merupakan wilayah yang terdiri dari hutan bakau dan nipah yang memiliki fungsi yang sama dengan Lengkong yaitu sebagai lokasi pelaksanaan ritual yang berhubungan dengan kelautan atau hasil laut.
10. Turungeng Appancangengnge’, merupakan wilayah yang terdiri dari hutan bakau dan nipah yang memiliki fungsi yang sama dengan Lengkong yaitu sebagai lokasi pelaksanaan ritual yang berhubungan dengan kelautan atau hasil laut.
11. Wae Mami, merupakan wilayah hutan dialiri sungai kecil yang dilindungi dan dikeramatkan To Cerekeng

Aktivitas di dalam hutan adat sangat ketat dan lebih dominan melakukan upaya konservasi dan menjaga fungsi lindungnya, bahkan pada saat pelaksanaan ritual di dalam hutan adat saja masih berlaku pelarangan yang ketat.

Hutan adat ini tidak ada yang boleh memiliki, namun masyarakat Cerekeng berkewajiban untuk menjaga.

Sementara Hutan atau wilayah di luar wilayah Hutan adat atau keramat tidak ada pengaturan adat.

• Angkampongeng : Perkampungan
• Dare’ Lemo: Kebun jeruk
• Dare’ Kaluku: Kebun Kelapa
• Dare’ Sikola: Kebun Coklat
• Galung; Sawah
• Kabburu: Kuburan
• Kabo-kabo: Semak-semak
• Lura: Rawa
• Nipa: Tempat tumbuh Nipah
• Padang Arungnge
• Panggale’: Hutan
• Pangka: Bakau
• Pangempang: Empang 
Sistem penguasaan tanah di Masyarakat Adat To Cerekeng dengan:
1. Pengelolaan dengan kekeluargaan, dimana setiap orang pemilik tanah bisa mengajak atau mengelola bersama satu hamparan tanah untuk sumber pangan dan ekonomi.
2. Kepemilikan tanah secara Individu, dengan sistem siapapun yang pertama kali menggarap atau membuka lahan maka itulah pemilik tanah. Dan baru pada saat ini ada kepemilikan tanah secara administrasi sesuai dengan aturan pemerintah.  

Kelembagaan Adat

Nama lembaga adat cerekang
Struktur Pemangku Adat: Pua, Ulu, Panggulu, Salangka dan Aje Dewan Adat Cerekang: - Ketua : Usman Siabeng - Sekretaris - Bendahara - Bidang-bidang - Anggota
Pemamgku Adat:
- Pua adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam masyarakat adat. Pua’ ini menjadi sumber informasi dari penguasa langit, sebagai penghubung bumi (dunia tengah), dunia atas (langit) dan dunia bawah (air). Pua’ menerima kehendak sang penguasa kehidupan dan menterjemahkan berupa aturan yang mengikat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh To Cerekeng. Pua’ terdiri dari Pua’laki-laki dan Pua’ perempuan (tetapi mereka bukan pasangan suami istri). Pua’ laki-laki bertugas mengurusi hubungan manusia dengan Sang Pencipta/ Dewatae. Pua’ perempuan mengurus masalah adat yang berhubungan dengan bumi/alam.
- Ulu disebut wakil ketua sebagai berurusan pihak luar baik dari pemerintah maupun masyarakat luar
- Panggulu disebut pelaksanaan sosia menangani segala kepentingan masyarakat adat,seperti pembukaan lahan dan ritual adat
- Salangka sebagai pembantu panggulu
- Aje sebagai hubungan luar. Menangani urusan umum

Dewan Adat:
- Ketua
- Sekretaris
- Bendahara
- Bidang-bidang
- Anggota

Dewan adat ini dibentuk sebagai respon atas kondisi sosial di Wilayah Adat To Cerekeng. 
Keputusan tertinggi di Pemangku adat (Pua’)

Hasil musyawarah dilakukan Dewan Adat disampaikan ke pemangku adat untuk diputuskan.  

Hukum Adat

Aturan yang berlaku di hutan adat adalah:
1. Tidak boleh masuk tanpa ijin dan tanpa didampingi tetua adat;
2. Tidak boleh mengambil atau merusak apapun dari hutan keramat,
3. Tidak boleh melakukan kegiatan apapun di hutan keramat kecuali ritual yang dipimpin oleh tetua adat
4. Tidak boleh mengganggu, menangkap atau membunuh buaya.

Sanksi atas pelanggaran terhadap Pemmali (larangan) di hutan keramat lebih kepada sanksi moral atau psikis, seperti mendapat murka dari alam, dikejar makhluk halus, menderita sakit aneh atau dimakan buaya

To Cerekeng juga memiliki pantangan yang harus dihindari, seperti menjual tanah yang diperoleh dari hutan adat/hutan karama’.  
Ketika ada salah seorang anggota masyarakat To Cerekeng meninggal, warga yang hendak menghantar mayat perlu mematuhi beberapa ketentuan berupa :

Harus memakai sarung (mallipa’), Naik perahu (pincara), Tidak memakai alas kaki, dan Memakai tutup kepala.

Untuk pernikahan biasa di dirikan Sarapo walau hal ini tidak diharuskan. Setelah Sarapo berdiri harus dilakukan pemotongan hewan empat kaki

Setiap pendirian sarapo harus dilakukan pemotongan hewan empat kaki.

Tidak ada sanksi terhadap orang yang melanggar aturan di wilayah adat baik untuk masyarakat Cerekeng atau di luar Cerekeng. Namun masyarakat meyakini bahwa setiap pelanggaran yang terjadi di wilayah Adat Cerekeng punya konsekuensi.  
dikenakan denda sesuai adat dan tingkat pelanggaran yang di lakukan seseorang 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Beras, Sagu, gula aren, buah kecapi, lobe-lobe, tumbuhan pakis, kepiting, udang, ikan kerapu, belanak, lele, kakap, ikan oco-oco, ikan tambuna, ikan sumpi-sumpi dan anai
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Daun Jaruju sebagai obat sakit perut dan borok 2. Buah Tanjang/akar lutut untuk menghentikan pendarahan luka 3. Air rebusan daun api-api sebagai obat diare dan bijinya yang dibuat gula-gula sebagai pengatur kelahiran (kontrasepsi). 4. Tumbukan buah bakau/bangko untuk obat luka 5. Rebusan buah bakau/bangko sebagai obat diare 6. Buah bakau untuk obat diare 7. Buah bakau sebagai bedak anti jerawat. 8. Kerang bakau yang dikenal dengan nama tude bombang sampai saat ini masih digunakan sebagai obat penyakit kuning (hepatitis)
Papan dan Bahan Infrastruktur Damar Mata kucing, Eboni, Uru, dan Kalapi
Sumber Sandang Rotan yang dibuat Bubu’ atau alat tangkap ikan, Nipa dibuat atap rumah Tikar dibuat dari anyaman Palem Aren dibuat gula merah
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Patikala, katapi, daun jaruju, unyi temmu (kunyit kuning)
Sumber Pendapatan Ekonomi Sayur pakis, patikala (untuk bumbu ikan), lobe-lobe (sejenis jambu hutan), rebung, buah kecapi, sagu dan gula aren, kepiting.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Luwu Timur Nomor 286/X/Tahun 2019 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kearifan Lokal Masyarakat Hukum Adat To Cerekang Nomor 286/X/Tahun 2019 SK Bupati Luwu Timur Nomor 286/X/Tahun 2019 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kearifan Lokal Masyarakat Hukum Adat To Cerekang SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen