Wilayah Adat

Nua Wologai (Tanah Siga Ria Watu Rembu Rewa)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Nua Wologai Tanah Siga Ria
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota ENDE
Kecamatan Ende
Desa Wologai
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 933 Ha
Satuan Nua Wologai (Tanah Siga Ria Watu Rembu Rewa)
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Tanah Siga Ria dengan Uzu Kuta Tupa Eko Zae Ai (Barat)dengan tanda batas yaitu: 1. Watu Kazi 2. Pu’u Sambi 3. Azo Ae Jawa 4. Ketumu di Zowo Mata Nggo 5. Langsung naik dengan Tiwu Fua 6. Raka 7. Eko Azo Zeze Mese 8. Jemu Zima Rua 9. Ra A Gawa 10. Eko Azo Zowo Nggo. Tanah Siga dan Uzu Ngidho Eko Tanggo/Mbotu Zaka (Barat)dengan tanda batas yaitu: 1. Tiwu Poni 2. Tiwu Mia 3. Zia Nggaji 4. Tiwu Eko Tanah. Tanah Siga dan Uzu Pu’u Muku Eko Rewu Sura (Barat)dengan tanda batas yaitu: 1. Mozu Seze 2. Azo muku Api 3. Mbaka Pau 4. Tiwu Mozu Tibo 5. Uzu Ndetu Pasa Kojo 6. Eko Azo Ae Zande 7. Eko Wozo Tubu Zado 8. Ke Mbaka Dhumu 9. Tiwu Beza 10. Poi Ewo 11. Mbaka Bita 12. Tiwu Nggusi 13. Tiwu Nio 14. Watu Suzu Umu 15. Tiwu Foko Rusa 16. Eko Azo Oto Soko 17. Eko Azo Foko Ngeke 18. Mbaka Dhero 19. Muru Nggoza Bara.
Batas Selatan Tanah Siga dengan Tanah Ngamu Zangga/Zoro Owo Mura Ravudengan tanda batas yaitu: 1. Nggoza Bara 2. Watu Bhaze 3. Azo Foko Ngeke 4. Ozo Pore 5. Nggoza Zamba 6. Moke Seru 7. Pu’u Tuga 8. Watu Mere 9. Tadho Wozo Gana 10. Zoka Pu’u Mbiji 11. Tiwu Ganaa Wawi 12. Tanah Jedho 13. Zia Gega 14. Tadho Kasa Mbira 15. Oza Kozu. Tanah Siga dan Wogo Bara (Selatan)dengan tanda batas yaitu: 1. Tadho Keta 2. Mbiri Ngaba 3. Mbegho Meze.
Batas Timur Tanah Siga dengan Uzu Nggobhe Eko Zambu (Timur)dengan tanda batas yaitu: 1. Zeda Oka 2. Tiwu Deti 3. Tiwu Nonu 4. Senga Tezu 5. Zia Nighi 6. Eko Rano 7. Tiwu Dhopo Mbengu 8. Sawi Baza 9. Weza Raja 10. Zoka To.
Batas Utara Tanah Siga dengan Tanah Uzu Ngidho Eko Tanggo dengan tanda batas yaitu: 1. Azo Eu Ranu 2. Pu’u Wuzu 3. Mbegho Mundi Mere.

Kependudukan

Jumlah KK 105
Jumlah Laki-laki 225
Jumlah Perempuan 241
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun, Pedagang, Guru/PNS, dan Tukang Kayu/Buru

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Diceritakan bahwa nenek moyang orang Wologai di masa lalu bernama Siga Ria. Ia dipercaya berasal dari Hindia Belaka/Malaka (Sumatra) yang datangke Pantai Wewaria dan mengembarahingga sampai ke KeliLepembusu. Dalam perjalanannya, Siga Ria melakukan perjalanan melawan alam dan berhadapan dengan banyak musuh untuk memperoleh wilayah kekuasaan. Hingga sampailah ia ke sebuah Bukit yang dinamakan MbotuManukako. Di bukit tersebut ia membuat sumpah untuk menetapkan tempat tinggal berdasarkan jatuhnya anak panah yang dilesakkannya. Anak panah yang dilesakkan itu kemudian terjatuh di sebuah wilayah perbukitan yang diberinama Wologai yang bermakna gagang anak panah yang jatuh di sebuah bukit alang-alangyang dapat dibuktikan dengan adanya Batu Anak Panah yang dilindungi saat ini.

Pemukiman kecil itulah yang kemudian berkembang menjadi Nua Wologai. Siga Ria yang dalam masa pengembaraannya bertemu dan menikah dengan perempuan bernama Rembu Rewa kemudian menyebarkan dan mempertahankan penguasaan wilayahnya hingga ke Pantai Utara Pulau Flores.Kedua pasangan itu beranakpinak dan dari keturunan mereka itulah yang menjadi cikal bakal orang-orang Wologai di masa kini yang terdiri dari 5 (lima) Ambu (fam kekerabatan) yaitu Woro, Gusa, Soa, Jobi, dan Monggi,sebagai kesatuan dari Suku Siga yang secara adat dipimpin oleh 7 (tujuh) kesatuan kepemangkuan adat yang disebut MosalakiTanah Siga Ria Watu Rembu Rewa.Pada masa perkembangannya, orang-orang Wologai mencari makan dengan cara berburu babi hutan, rusa, dll. mencari kepiting, udang, belut di sungai-sungai serta bercocoktanam padi ladang/gunung seperti AreKea, Mange’, Jomba, dan Taiwawi dengan cara berpindah-pindah.

Pada masa kolonialisme, orang-orang Wologai berinteraksi dengan para misionaris Portugal yang membawa ajaran agama Katolik yang berasal dari Paroki Kumendaru. Mereka menyebarkan agama Katolik dengan cara menunjuk “guru agama” untuk hidup berdampingan dengan Masyarakat Adat Wologai. Guru-guru agama itu kemudian mengenalkan agama Katolik kepada orang-orang Wologai di kebun-kebun oleh karena budaya mukim mereka yang berpindah-pindah yang kemudian dibaptis oleh Pastor di kebun-kebun mereka juga. Pada saat Belanda masuk, orang-orang Wologai banyak yang dipekerjakan paksa untuk membangun jalan dan pekerjaan lainnya. Pada tahun 1932, Belanda memasang pal batas hutan lindung di luar areal garapan orang-orang Wologai. Beberapa orang sakti Wologai seperti Kea Keku, Rowa Sili, Dhae Kea, Tawa Raja, dan satu orang Sakti dari Uzu Dero Eko Waru bernama Bhato Pedidibuang ke Nusa Kambangan dan Semarang karena Melakukan Perlawanan dengan Menolak Membayar Upeti.Dari kelima orang sakti itu, hanya tiga orang yang kembali yaitu Dhae Kea, Tawa Raja, dan Bhato Pedi yang dipenjara selama 6 tahun, sedangkan dua lainnya yaitu Kea Keku dan Rowa Sili dipenjara seumur hidup. Kondisi seperti itu berjalan hingga masa pendudukan Jepang. Oleh karena interaksi itu, beberapa nenek moyang orang Wologai disinyalir dapat menyanyikan lagu-lagu berbahasa asing.

Seiring berjalannya waktu, oleh karena adanya pengaruh Kerajaan Lio, kepemerintahan adat di Nua Wologai sempat berubah sebutan menjadi Kofle/Kepala Kampungyang awalnya diambil dari salah satu Mosalaki yang menjabat yaitu Kea Keku. Konsep kepemimpinan itu kemudian berubah menjadi Kepala Desa pasca terbitnya UU Desa di sekitar tahun 1970-1980an dengan Kepala Desa Pertama bernama Robertus Rowa. Pada masa perubahan konsep kepemerintahan yang berbeda itu, kelembagaan adat Mosalaki Siga Ria Watu Rembu Rewa masih berlanjut dengan mapan hinga kini.

Pada sekitar tahun 1984, pihak Kehutanan Negara menempatkan tapal batas hutan lindung melalui Inpres Penghijauan yang bersinggungan dengan areal garapan orang Wologai. Oleh karena peristiwa itu, orang Wologai hampir saja terusir dari pemukiman asal mereka. Seiring berjalannya waktu terjadi perubahan mengelola sumber daya alam dari yang ladang berpindah berangsur-angsur menjadi berkebun dengan tanaman komoditi asli yaitu Kemiri Hutan, Kenari, Enau, Kayu Manis, Pinang, dan Kuli Lawa serta komoditi dari luar seperti Cengkih, Kopi, Vanili, Kakao, Pala dan Durian.

Pada tahun 1992 terjadi bencana gempa bumi yang mengguncang tanah Wologai. Namun, tidak ada korban jiwa kecuali beberapa rumah yang rusak dan beberapa warga yang luka-luka. Kehidupan orang-orang Wologai saat ini berjalan dengan tatanan adat yang masih kuat. Saat tulisan sejarah ini dibuat, mereka sedang berjuang untuk memperoleh pengakuan dari negara atas diri mereka dan hak-hak ulayatnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Bodhe yaitu Areal Hutan Adat yang dilindungi yang tersebar di beberapa lokasi oleh karena terdapat sumber mata air penting, tempat keramat, dan pusat ritual/seremonial adat dengan tutupan lahan berupa PohonWaru, Pohon Rau, Pohon Nara, Pohon Kawu, Pohon Berawawi, Pohon Kabo, Pohon Gera, Pohon Bonggi, Pohon Maba, Pohon Naju, Pohon Dhombo, serta banyak pohon lain dengan berbagai jenis dan ukuran.

Ngebo yaitu Areal Hutan yang dimiliki secara komunal (Suku Siga) yang dapat diambil manfaatnya dan menjadi cadangan kebun/garapan masyarakat di masa depan dengan tutupan lahan serupa dengan Kerhi.

Uma yaitu Areal Garapan berupa kebun, ladang, maupun bekas kebun/ladang dengan tutupan lahan berupa tanaman pangan seperti padi gunung dan tanaman komoditas seperti Kemiri Hutan, Kenari, Enau, Kayu Manis, Pinang, Kuli Lawa, Cengkih, Kopi, Vanili, Kakao, Pala dan Durian.

Nua yaitu Areal Pemukiman yang dijadikan tempat tinggal warga dengan tanaman pangan seperti singkong, labu besi, dan lain-lain yang berada di pekarangan. 
Seluruh tanah ulayat di Nua Wologai dikuasai/dimiliki secara komunal oleh Suku Siga yang terbagi ke dalam 5 Ambu (Fam Kekerabatan).

Adapun hak pengelolaan terbagi menjadi dua yaitu:
- Hak kelola bersama/komunal diatur langsung oleh lembaga adat yaitu Mosalaki dalam hal ini yaitu areal Kerhi dan Ngebo. Pengambilan manfaat di 2 areal terebut dan pemindahan hak kelola di arealNgebo harus seizin lembaga adat/Mosalaki.
- Hak kelola individu yang dibagikan kepada keluarga-keluarga masyarakat adat (Fai Wazu Ana Kazo) berdasarkan pada Ambu-ambu yang ada di Nua Wologai yang terdapat di Areal Uma dan Nua/Pemukiman. Keluarga-keluarga itu hanya memiliki hak usaha/garap/kelola atas tanaman yang berada di atas tanah ulayat sedangkan tanah ulayat dimiliki komunal/bersama atau disebut dengan “Pui Mboko Sowa Wonga” Namun, dalam proses pengelolaannya tetap mengikuti tradisi/ritual adat di setiap tahapannya: buka lahan, penyiapan lahan, tanam, pemeliharaan, panen, hingga pasca panen.

Hak Kelola atas tanah ulayat diperoleh dengan cara meminta izin kepada Mosalaki dan melalui ritual/seremonial adat tertentu baik di masa lalu dan berjalan hingga masa kini.

Tanah Ulayat tidak dapat diperjualbelikan. Namun, hak kelola atas tanah ulayat dapat dipindahalihkan melalui beberapa cara yaitu:
- Pewarisan kepada anak laki-laki di setiap keluarga pemegang hak
- Pemberian kepada pihak lain melalui mekanisme musyawarah/kesepakatan di tingkat keluarga dan/atau Ambu yang kemudian diteruskan/diberitahukan ke tingkat Mosalaki sesuai ketentuan adat yang berlaku. 

Kelembagaan Adat

Nama Mosalaki Tanah Siga Ria Watu Rembu Rewa
Struktur Mosalaki Tanah Siga Ria Watu Rembu Rewaterdiri dari 7 (tujuh)struktur kepemangkuan adat yaitu: • Mosalaki Weri • Mosalaki Eko • Mosalaki Ua Taga/Kopokasa • Mosalaki Kinga Ria Mboko Mata Bege • Mosalaki Ria Bewa • Mosalaki Rate Kidhe • Mosalaki So Au Wenggo Pangga ParaMosalaki ditentukan sejak masa lalu dan diwariskan secara turun temurun kepada anak laki-laki. Jika Mosalaki pendahulu tidak memiliki anak laki-laki, maka dilakukan musyawarah pemilihan Mosalaki baru dalam Garis Kekerabatan/Ambu terkait. Periode menjabat Mosalaki adalah seumur hidup. Pantang bagi Mosalaki untuk menyerahkan jabatan sebelum meninggal. Jika Mosalaki berada dalam kondisi sakit dan/atau tidak mampu lagi secara aktif memenuhi tugas dan fungsi(To’o Zo’o Mbana Mbizu), ia dapat menunjuk seseorang yang masih dalam satu garis keluarga untuk mewakilinya dalam memenuhi tugas dan fungsinya atau dapat menyerahkannya kepada sang pewaris dari garis lurus keluarga/berdasarkan hasil musyawarah keluarga (Wenggo Sa’o Nena Tenda, One Sao Mere Tenda Zewa). Setiap Mosalaki memiliki peran baik dalam pelaksanaan ritual-ritual adat berdasarkan tahapan-tahapannya maupun dalam tata kepemerintahan secara adat. Selain ketujuh struktur kepemangkuan adat itu, terdapat pula perwakilan dari saudari perempuan“Weta Ane” dan perwakilan dari saudara laki-laki “Ine Ame” yang dilibatkan untuk memberi masukan saat proses musyawarah adat sebagai bentuk pengharagaan dari proses kawin mawin Antar-Ambu.
Masing-masing Mosalaki memiliki Tugas dan Fungsi berdasarkan perannya dalam Pelaksanaan Ritual Adat maupun Tata Kepemerintahan Adat yaitu:
Mosalaki Weri
- Memimpin Masyarakat Adat
- Bertanggungjawab dalam Pengambilan Keputusan Adat
- Bertanggungjawab dalam Membuat Kebijakan Adat
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki Eko
- Bersama Mosalaki WeriMemimpin Masyarakat Adat
- Bersama Mosalaki Weri Membuat serta Melaksanakan Keputusan dan Kebijakan Adat
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki Ua Taga/Kopokasa
- Melakukan Pengawasan dan Penertiban atas Keberlangsungan Penegakan Aturan Adat
- Menjaga dan Mengawasi Batas Tanah Kelola Antar-Anggota Masyarakat Adat
- Menjadi Narahubung Antar-Anggota Masyarakat Adat dan/atau Antara Anggota Masyarakat Adat dengan Mosalaki terkait Urusan Penegakan Aturan Adat
- Malaksanakan Penyelesaian Awal terkait Pelanggaran Adat dan Melanjutkan Perkara itu ke Peradilan Adat, Jika Pihak Terkait Tidak Menerima Keputusan Awal (Keko Zo’o Ngao Dhiki).
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki Kinga Ria Mboko Mata Bege
- Menjaga Keamanan dan Mengawasi Batas Wilayah Adat
- Menjadi Telinga dan Mata terkait Urusan Penegakan Aturan Adat
- Menyampaikan dan Menyaksikan Kejadian Pelanggaran Adat ke Mosalaki Ua Taga/Kopokasa
- Mengatur Tata Pembagian Batas Hak Kelola atas Tanah Adat
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki Ria Bewa
- Melaksanakan Peradilan Adat sebagai Hakim Adat
- Melakukan Penyelesaian Sengketa Antar-Anggota Masyarakat Adat maupun Antara Anggota Masyarakat Adat dengan Pihak Lain
- Menyampaikan atau Menyebarluaskan Keputusan atau Kebijakan Adat
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki Rate Kidhe
- Secara Simbolis Menjaga Keselamatan Anggota Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat

Mosalaki So Au Wenggo Pangga
- Memberikan Pertimbangan Spiritual (Persetujuan Alam dan Leluhur) terkait Tahapan dalam Musim Bercocoktanam
- Memberikan Pertimbangan Spiritual (Persetujuan Alam dan Leluhur) terkait Strategi dan Langkah-langkah Perang
- Memberikan Pertimbangan Spiritual (Persetujuan Alam dan Leluhur) terkait Segala Aspek Kehidupan Masyarakat Adat
- Melaksanakan Perannya dalam Ritual Adat 
Bou Mondo atau dengan kata lain yaitu “Duduk Bersama” adalah mekanisme pengambilan keputusan terkait dengan beberapa tujuan seperti:
- Pengambilan Keputusan/Kebijakan terkait Aspek Kehidupan Secara Umum
- Peradilan Adat
- Penyelesaian Sengketa Tanah
- Perencanaan dalam Pelaksanaan Ritual Adat
- Perencanaan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam/Bercocoktanam
- Perencanaan dalam Kerja-kerja Kolektif
- Perencanaan dalam Pelaksanaan Perkawinan secara Adat
- Pelaksanan Pelayanan Kebutuhan dan Kepentingan Anggota Masyarakat Adat
- Pemberian Hak Kelola atas Tanah Ulayat

Bou Mondo dilakukan di Saonggua (Rumah Adat) dengan menghadirkan seluruh Struktual Pemangku Adat, Weta Ane dan Ine Ame, Pihak Pemerintahan Desa dan Gereja Bilamana Perlu, serta Pihak-pihak lain yang dianggap perlu untuk hadir. Peninjauan bukti-bukti dan tempat kejadian perkara dilakukan oleh Mosalaki terkait. Filosofi dari Bou Mondo adalah “Kita Sa Mboka Sa Ate” untuk mengatur serta menjalankan hukum adat sesuai arahan dan kesepakatan pemangku adat. Dalam hal ini juga mengatur Kerja Sama/Hubungan denga Tiga Unsur Penting yaitu Mosalaki, Pemerintah Desa, dan Pihak Gereja (Bou Zo Mondo Tembo, Zika, Mboko Tezu). 

Hukum Adat

Dilarang (Mae) mengambil hasil alam apapun di areal mata air, pusat ritual, dan tempat keramat baik yang berada di Areal Kheri maupun di Areal Ngebo.

Dilarang membuka lahan baru di areal Ngebo tanpa seizin Mosalaki.

Dilarang menjual tanah ulayat milik bersama seluruh Masyarkat Adat Wologai.

Dilarang melakukan pengambilan manfaat dari alam di Kheri dan Ngebo (yang non-mata air, pusat ritual, dan tempat keramat) tanpa sepengetahuan Mosalaki atau tanpa mengikuti ketentuan adat tertentu. Hasil Hutan berupa Kayu tidak untuk dijual melainkan hanya untuk Kebutuhan Papan Masyarakat.

Dilarang melakukan pengelolaan sumber daya alam dan pengambilan manfaat dari alam di Uma tanpa sepengetahuan Mosalaki atau tanpa mengikuti ketentuan adat tertentu. Hasil Hutan berupa Kayu tidak untuk dijual melainkan hanya untuk Kebutuhan Papan Masyarakat.

Dilarang melanggar batas antar tanah garapan.

Wa’uNgetiadalah sebuah ungkapan yang menunjukan seluruh anggota MA untuk mulai membuka lahan baru sesuai dengan arahan yang telah dipatok oleh Mosalaki. Ngeti harus dimulai oleh Mosalaki yang diikuti oleh anggota masyarakat adat.

Pireadalah rangkaian kegiatan setelah wau ngeti dilarang bekerja di lahan yang baru dibuka selama 1-2 hari sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Mosalaki. Larangan/pire ini diberikan kepada seluruh fai wazu ana azo untuk lahan yang telah ditandai oleh Mosalaki. Setelah masa pire selesai, Mosalaki akan memulai bekerja terlebih dahulu lalu diikuti oleh anggota masyarakat adat.

Ghaghadilakukan setelah pire satu hari yang diawali oleh mosalaki yang mulai bekerja di lahan baru tersebut. Ghagha ini adalah mulai proses kerja di uma sesuai dengan kemampuan dan situasi alam.

Jengi adalah sebuah proses membakar/pembersihan dari hasil kerja membuka lahan baru. Jengi harus dimulai oleh Mosalaki menggunakan api dari Mosalaki pula.

Ngesoadalah proses pembersihan yang diikuti dengan pemasangan bedeng. Proses ini biasanya diikuti dengan menanam jagung atas permintaan dan sudah diawali tanamnya oleh mosalaki.Pada saat ngeso hujan sudah mulai turun sehingga harus diikuti dengan proses menanam.

Tendo/Koe Kozuadalah proses menanam padi, diawali oleh Mosalaki. Proses ini dlaksanakan di lahan yang sudah dibuka dan siap ditanami pertama oleh Mosalaki.

Pati Ka Tanah Watu/Leluhuradalah proses memberi makan kepada leluhur biasanya dilakukan secara serentak ataupun per-individu. Tahapan ini biasannya dilakukan pada tanam pertama/koe kozu. Anggota Masyarakat Adat menyiapkan satu ekor ayam untuk memberi makan leluhur untuk memperoleh restu leluhur demi keberhasilan panen.

PuiSeke adalah proses panen sesuai dengan kondisi padi atau jagung yang ditanam. Proses panen dimulai dengan meminta izin dan diawali oleh mosalaki.

Ka Uwi/Ngguaadalah sebuah proses pesta adat ketika selesai kerja ataupun selesai panen. Anggota Masyarakat Adat meminta kepada leluhur untuk memberkati seluruh hasil kerja dengan meminta agar padi yang dimakan mengandung banyak gizi. Sebagai bentuk syukur atas hasil kerja atau hasil panen, makanan yang dimasak dibagikan ke seluruh Masyarakat Adat.

Ghoma/Napa Bhanda adalah proses pesta adat yang menjadi tradisi leluhur. Pasca poto hasil/ kerja memperoleh hasil yang melimpah dengan menukarkan padi/jagung dengan emas. Hal ini bertujuan untuk mulai membuat pesta adat yang memulai kerja membangun rumah baru/ataupun mulai dengan Wuru Mana atau Wai Laki.

Bagi yang melanggar adat dikenakan sanksi adat atas tingkah lakunya dengan “Poi” atau besaran denda adat berupa 1 ekor babi atau kerbau dengan ukuran/berat sesuai putusan berdasarkan beratnya pelanggaran. Babi atau kerbau itu dimakan bersama di rumah adat “Sa’o Nggo Mere, Ndeka Pu’u Tubu Fi’I Kanga”.

Aturan adat di atas dapat berubah dan ditambahkan sewaktu-waktu oleh Mosalaki terkait. 
Dilarang memukul istri dalam hubungan rumah tangga.
Mae Peza Pani artinya tidak beloh melakukan kejahatan sosial seperti mengawini lebih dari satu istri ataupun mengganggu anak orang /istri orang.
Mae Naka artinya Dilarang mencuri barang milik orang lain.
Mae Rapa Wori Ra, Tada Tuka Nga’u Kambu artinya Dilarang membunuh antar-anggota Masyarakat Adat.
Mae Zai Tangi Tau Pongga Tembo, Mae Kedhu Zika Pia Nia artinya Dilarang berkelahi antar-anggota Masyarakat Adat.
Mae Mbou Rewo Hak Ata artinya Dilarang menggeser tapal batas antar-Uma.
Mae Kuasa Rewo artinya Dilarang menjadikan hak mosalaki menjadi hak yang tidak sesuai dengan garis keturunan. Ataupun dalam seremoni adat, melangkahi aturan adat sesuai dengan warisan leluhur. Tidak boleh mengambil peran lebih dalam struktur kelembagaan adat.
Ka Godo Rako Ngane artinya Dilarang hewan ternak merusak tanaman produktif orang lain
Ana Aki Ndeka One Nua artinya Penyampaian pertama perkawinan di Kampung Adat dilakukan oleh orang tua dari pihak perempuan kepada Mosalaki Kopokasa.
Fu Moru To’u Taga Masa Poi, Siwi Sero Jata Dandha artinya Perkawinan yang Tidak Diketahui oleh Kedua Orang Tua maka belum diakui secara sah oleh adat.
Jika kawin di luar wilayah adat Wologai dinamakan Dhoa Kota Zaka Asa.
Bagi yang melanggar adat dikenakan sanksi adat atas tingkah lakunya dengan “Poi” atau besaran denda adat berupa 1 ekor babi atau kerbau dengan ukuran/berat sesuai putusan berdasarkan beratnya pelanggaran. Babi atau kerbau itu dimakan bersama di rumah adat “Sa’o Nggo Mere, Ndeka Pu’u Tubu Fi’i Kanga”.
Aturan adat di atas dapat berubah dan ditambahkan sewaktu-waktu oleh Mosalaki terkait. 
Pada bulan Agustus 2018 terjadi Pelanggaran Adat berupa Tidak Menganggap Mosalaki saat Menentukan Jadwal Perkawinan secara Adat. Pelaku disanksi adat “Poi” dengan menyerahkan 1 ekor babi untuk dimakan bersama sebelum Prosesi Perkawinan Adat dilanjutkan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: padi gunung (AreKea, Mange’, Jomba, Taiwawi, dll), Jagung, Singkong, Ubi, Talas, dll. Protein Hewani: Babi, Sapi, Kambing, Ayam, Belut, Udang, Kepiting, Katak, dsb. Protein Nabati: Kacang Tanah, Kacang Merah, dsb. Vitamin Sayuran: Kacang Panjang, Daun Singkong, Daun Pepaya, Labu Jepang, Labu Besi, Selada, Kangkung, Bayam, Wortel, Tomat, Pakis/Paku, Petes, dsb. Vitamin Buah: Pepaya, Kelapa, Pisang, Durian, Salak, Rambutan, Alpukat, Jeruk, Nangka, Mangga, dsb.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kencur, kuncit, kuncit hutan, Temulawak, Halia (Jahe), Kayu Raga.
Papan dan Bahan Infrastruktur Bambu hutan, • bambu, • bulu, • kelapa • kayu Pohon Waru, Pohon Rau, Pohon Nara, Pohon Kawu, Pohon Berawawi, Pohon Kabo, Pohon Gera, Pohon Bonggi, Pohon Maba, Pohon Naju, Pohon Dhombo, dsb.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Halia, Kuncit, Sere, Lengkuas, Pala, Merica, Cabe, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kemiri, Kenari, Enau, Kayu Manis, Pinang, Kuli Lawa, Cengkih, Kopi, Vanili, Kakao, Pala, Durian, dan lain-lain.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Ende No. 2 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ende No. 2 Tahun 2017 Penyelenggaraan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ende Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen