Wilayah Adat

Lewu Sekata

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat Sekata
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Tewah
Desa Tewah
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.463 Ha
Satuan Lewu Sekata
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Batas dengan desa Sumur Mas
Batas Selatan Batas dengan Kelurhan Tewah
Batas Timur Batas dengan Desa Tumbang Lambaing
Batas Utara Batas dengan Desa Teluk Lawah

Kependudukan

Jumlah KK 882
Jumlah Laki-laki 413
Jumlah Perempuan 415
Mata Pencaharian utama petani, Penambang mas,dan pasir, Peternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejerah berdirinya Komunitas adat sekata tewah dimulai dari peradapan lewu ( kampong ) Tewah,pada masa kepemimpinan Oleh Nyai Balau, dua ( 2 ) Abad yang Lalu. Setelah itu masuk pada masa pemerintahan yang di pegang oleh kedemangan pada saat itu. Nama Damang yang pernah menjabat di antaranya :
Damang KUNG, Damang MURAI,Damang BAJIK PLAT MURAI. Dan masuklah pada masa Era Kemerdekaan Republik Indonesia. peradapan komunitas adat inipun menyebar ke wilayah lahan kosong yang ada di sekitar Lewu Tewah ini,salah di antaranya daerah Wilayah Adat sekata tewah.
Menurut sumber Cerita para sesepuh/tetua adat dan diceritakan kembali oleh ketua PD gunung Mas Pak Petronikus bahwa Tanah Sekata tewah Pada Mulanya hanya lahan Kosong dan hutan belantara, nama Sekata bersal dari perkumpulan kelompok Tani ( Serikat Tani ). Pada Tahun 1953.
Wilaya adat Sekata tewah daerah kelompok Tani Sekata tewah ini Berdiri pada Tahun 1953 Pada Zaman Orde Baru, yang di pimpin oleh Piter Sawung Pada Tahun 1953 -1960,Ahmad Dima ( 1960 - …,) Jhuran Muhamad Nur.dan di bantu Oleh Pak Petronikus Sebagai Pembantu UMUM Nya. Lalu setelah itu kepemimpinan sekata tewah ini depegang oleh pak Petronikus sebagai ketuanya Pada tahun ( 1982-1990 ).pada tahun 1990 Sempat terhenti ( Kekosongan pemimpin ) karna di tinggal pak petronikus ke Sebangau Palangka Raya, Lalu Pada tahun ( 2000 ) Pak Pteronikus kembali ke kampung tewah dan mengelola kembali Sekata tewah dan sampai sekarang.
Secara Religi Agama Yang di anut adalah agama Helu atau aliran kepercayaan ( percaya pada Batu,Kayu,Pohon Gunung sebagai media kepada Tuhan. Di keramat bukit NGALANGKANG ini lah tempat ritualnya, Batu Patahu, dan setelah itu di deklerasikanlah agama kaharingan oleh para penganutnya.setelah itu masuklah agama Kristen pada Masa SENDING BASEL ( Pekabaran INJIL ) dan Berdiri lah Gereja-gereja pertma di Tewah adalah gereja Imanuel yang teletak di Pinggir sungai Kahayan Muara sungai karungen.dan pada zaman kemerdekaan berdirilah Tugu tewah setelah itu baru masuk lah Agama Islam.
Komunitas adat sekata tewah masih percaya pada leluhur,alam semesta dan masih melaksanakan ritual agama,Misalnya manyanggar,pakanan patahu,pasah keramat, sewaktu-waktu dalam keadaan darurat di pasah patahu akan di kasih makan.jika ada masalah atau kerusuhan atau peperangan yang terjadi pada komunitas ini,dan jika ada kematian yang terus menerus maka komunitas adat sekata tewah ini akan melaksanakan pakanan patahu atau manajah antang. Pasah patahu terletak di tumbang ampit,( Pasah Keramat ada empat ( 4 ) terletak di tumbang hambuyung,dan Keramat Sakata, keramat bukit ngalankang, ( Pasah AGUH ) Keramat Hambit. Ritual upacara pakanan patahu atau manajah antang ini dipimpin oleh Basir dan sangiang.di dalam komunitas wilayah adat sekata ada kaleka,Penda Enyuh dan Karetau Mapan atau bekas pondok kerja,misalnya mamantung,mandamar,bekerja Ulin dan diisi oleh buah buahan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian Ruang Menurut Aturan Adat :
1. Duyun:
Hutan yang masih lebat, banyak pepohonan besar, jarang tersentuh manusia banyak.
2. Himba Cagaran Malan:
Hutan yang dijadikan cadangan untuk berladang apabila lokasi tempat berladang dipakai untuk penggunaan lain
3. Himba Gita:
Hutan yang banyak berisi pohon karet yang tumbuhnya secara alami oleh biji-biji karet yang tersebar di area tersebut
4. Himba Lakau (Bahu Lakau):
Hutan yang lokasinya dekat kampung dan pernah dijadikan untuk tempat berladang, ditinggal lama sehingga pepohonan di area tersebut sudah besar
5. Himba Rutas:
Hutan yang dijadikan tempat sakral karena pernah terjadi kejadian musibah alam yang menimpa manusia
6. Bukit Kules:
Hutan termasuk dalam area himba lakau, tetapi karena terdapat banyak bunga-bunga yang bersifat aneka taman dan aliran sungai yang memungkinkan untuk dijadikan tempat wisata
7. Karamat Bukit Gantung : Tempat sakral yang mempunyai area yang besar dari area lain didalam wilayah adat tumbang bahanei
8. Tajahan/Pahewan:
Lokasi sakral yang berisi kaleka (bekas tempat tinggal leluhur jaman dulu), tempat persemayaman roh-roh halus dan pernah sebagai tempat upacara tiwah
9. Lewu : Kampung/Desa tempat tinggal anggota komunitas
A. Sumber Daya alam.
 Lahan
Komuntas Adat Sekata Tewah memiliki lahan pertanian yang cukup luas
dan beberapa terbagi menjadi lahan perkebunan masayarakat dan
beberapa lahan untuk pertanian peternakan ( Lapangan Sapi Kandang
ayam dan babi ) tetapi ada sebagian yang belum di kelola secara intensif.
Sehingga perlu di tingkatkan lagi produktiftasnya,beruntung untuk tahun
ini komunitas adat sekata tewah dapat bantuan Eksapator untuk
pengelolaan sawah,pupuk dan irigasi pertanian. Sehingga perlu
peningkatan pengelolaan pengerjaanya secara optimal. Baik ladang
sawah ladang gilir balik perkebunan palawija holtikultura dan
agroporestry.
Lahan pekarangan yang subur,cocok untuk bertanam sayur-sayuran dan
buah buahan baik yang berumur panjang maupun yang berumur pendek
seperti durian,langsat,rambutan cempedak kelapa,palawija,holtikultura,
agroporestry dan sayuran-sayuran di dalam komunitas ini terkelola
dengan baik oleh komunitas adat sekata tewah.
Komunitas adat sekata tewah sudah mengembangkan petrnakan dan
perikanan : Sapi,Kambing,Babi,ayam.karna sangat ,mudah dalam hal
makanan pokok ternak.di bidang perikanan terdapat beberpa tambak
yang sudah di kelola dengan baik oleh komunitas adat sekata tewah.
 Potensi sungai.
Memiliki Banyak anak Sungai Misalnya Sungai
Humbang,Ngen,Pahampak, Penda Enyuh, Penda Tilap,Biwit, dan sungei
karungenS ungei karungen.Sungai Hiang,Biwit dan Ngen yang di jadikan
DAM tempat pengairan irigasi sawah dan pengairan perikanan kolam
ikan.
Memiliki wisata Alam Air Terjun,Sungei Pandan di hulu sungei Hiang dengan ketingian 4 Meter.
 Hutan adat Komunitas Sekata Tewah
Luas wilayah Komunitas adat sekata tewah Kurang Lebih 15.000 m2. Sekitar kurang lebih 200 Ha untuk Wilayah adat sekata tewah kawasan hutan.Komunitas Masyarakat adat sekata tewah. dalam pengelolaan hutan adat membaginya dalam zona-zona pemamfaatan,yang terbagi dalam dua klasifikasi yaitu :
1. Zona Lindung ( Hutan Yang di keramatkan ) Bukit Ngalangkang yang di keramatkan oleh komunitas adat sekata tewah, keramat hambit Bintih, pasah Aguh,.Keramat bapanti, Bukit kaliurang, Hutan Pahewan di sambungan anak bukit ngalangkang dan tempat Cam Pertahanan ( OPR ) Organisasi Petahanan Rakyat pada masa penjajahan yang komandani Alidius Dungai sebagai Pejuang Pada Masa penjajahan belanda dan sampai masa penghiatan ( PKI ).
2. Zona Pemamfaatan Pemamfaatan hasil hutan di bukit Naga bukit susun ( Benuas Pelepek, meranti Merah dan meranti Putih ) anak kayu untuk bahan bangunan. hasil hutan yang di mamfaatkan seperti obata-obatan akar-akaran Kayu ( Pasak Bumi,akar saluang Belum,Ginseng Hutan,Tabat Barito,akar Pangalait Ot ( untuk obat luka dalam ) yang di hasil kan akar dan daun akar Kuning,Sungkai ( untuk Penyedap Sayur dan untuk Obat ) Isin Iru. 
Sistem Penguasaan dan Pengelolaan Wilayah :
1. Milik bersama
2. Milik perorangan (Warisan, Jual Beli, dan Membuka lahan sendiri)
Lahan
Komuntas Adat Sekata Tewah memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan beberapa terbagi menjadi lahan perkebunan masayarakat dan beberapa lahan untuk pertanian peternakan ( Lapangan Sapi Kandang ayam dan babi ) tetapi ada sebagian yang belum di kelola secara intensif. Sehingga perlu di tingkatkan lagi produktiftasnya,beruntung untuk tahun ini komunitas adat sekata tewah dapat bantuan Eksapator untuk pengelolaan sawah,pupuk dan irigasi pertanian. Sehingga perlu peningkatan pengelolaan pengerjaanya secara optimal. Baik ladang sawah ladang gilir balik perkebunan palawija holtikultura dan agroporestry.
Lahan pekarangan yang subur,cocok untuk bertanam sayur-sayuran dan buah buahan baik yang berumur panjang maupun yang berumur pendek seperti durian,langsat,rambutan cempedak kelapa,palawija,holtikultura, agroporestry dan sayuran-sayuran di dalam komunitas ini terkelola dengan baik oleh komunitas adat sekata tewah.
Komunitas adat sekata tewah sudah mengembangkan petrnakan dan perikanan : Sapi,Kambing,Babi,ayam.karna sangat ,mudah dalam hal makanan pokok ternak.di bidang perikanan terdapat beberpa tambak yang sudah di kelola dengan baik oleh komunitas adat sekata tewah.
Potensi sungai.
Memiliki Banyak anak Sungai Misalnya Sungai Humbang,Ngen,Pahampak, Penda Enyuh, Penda Tilap,Biwit, dan sungei
karungenS ungei karungen.Sungai Hiang,Biwit dan Ngen yang di jadikan DAM tempat pengairan irigasi sawah dan pengairan perikanan kolam ikan.
 Memiliki wisata Alam Air Terjun,Sungei Pandan di hulu sungei Hiang dengan ketingian 4 Meter.
 Hutan adat Komunitas Sekata Tewah
Luas wilayah Komunitas adat sekata tewah Kurang B.Sumber Daya Manusia.
a. Petani Beberapa dari masyarakat Sekata Tewah Berprofesi sebagai petani Ladang Gulir Balik ( pertanian Padi gogo ) petani sawah, Penyadap Karet, sebagai peternak babi,ayam, sapi,penghasil ikan.Penghasil kayu hutan hasil olahan ( menyenso ) dan anak kayu kecil sebagai bahan bangunan.
b. Sebagai penambang Emas,Pasir ( galian C ) Sebagian besar komunitas adat sekata tewah sebagai penambang Emas ( menyedot ) di Das sungai maupun diatas tanah lapang, sebagai penambang,Pasir,penambang batu belah.
c. Adanya sarjana / tamatan perguruan tinggi,serta adanya lulusan dari sekolah menengah kejuruan.
d. Adanya kemampuan bertani,berkebun yang diturunkan oleh orang tua kepada anak-anak sebagai kerarifan lokal masyarakat adat sekata tewah dalam mengelola tanah pertanian sawah,ladang gilir balik dan kebun di tambah lagi dengan pengetahuan pertanian moderen yang menggunakan alat canggih.
e. Besarnya sumber daya perempuan usia produktif sebagai tenaga produktif dapat mendorong potensi usaha rumah tangga hasil pertanian dan perkebunan yang di jual kepada masyarakat setempat.
f. Hubungan Yang Kondusif antara pemimpin Komunitas adat sekata tewah dengan Lurah,camat,Damang,Pihak keamanan kelompok tani dan masyarakat.
g. Adanya Kader Kesehatan, yang cukup,terutama di posyandu,pustu dan sarjana yang belum mempunyai pekrjaan di komunitas.
h. Di Komunitas adat Sekata tewah sebagaian besar kaum laki-lakinya bekerja sebagai penambang emas,penyadap karet, Petani ( ladang Gulir Balik ),peternakan dan penghasil Kayu hutan di bukit Naga bukit susun ( Benuas Pelepek, meranti Merah dan meranti Putih ) anak kayu untuk bahan bangunan.
i. Di Komunitas adat sekata tewah jumlah penduduk perempuan hampir kurang lebih menyamakan dengan laki-laki tetapi keterlibatan mereka dalam pembangunan di komunitas belum maksimal dan masih kurang pelibatan,misalnya dalam pengambilan keputusan.
C.Sumber Daya Buatan.
a. Pembukaan Lahan Pertanian Sawah dan saluran parit ( Irigasi )
b. Jalan Kampung,
Di wilayah Komunitas adat Sekata Tewah sudah di buat jalan di timbun dengan batu kerikil dan pasir lebar dua belas ( 12 ) meter sepanjangan dua belas kilo meter ( 12 ) Km sebagai jalan penghubung Kampung. Sawah pertanian. dan jalan antar kampung yang mengunakan jalan lintas kabupaten dan kecamtan sepanjang 104 Km sebagai penghubung dengan kampung tetangga dan lainya.
c. Pembangunan DAM ( Biwit,Hiang, dan Ngen ) tempat pengairan Irigasi persawahan dan pengairan air untuk kolam ikan perikanan
d. Pembangunan Balai Benih Ikan untuk komunitas adat sekata Tewah
e. Pembangunan Gudang Benih Padi sawah komunitas adat sekata tewah.
f. Pembangunan Tempat Penggilingan Padi di Komunitas adat sekata tewah.
g. Gudang tempat Pengelolan Pupuk
h. Pembangunan Pondok agroforestry
i. Gudang alsintan ( alat mesin pertanian )
j. Pembangunan Betang Nyai Balau.
k. Pembangunan Tong Penampungan air untuk pertanian dan peternakan
l. Pembuatan Gorong-gorong Pengairan air Irigasi pertanain sawah dan perikanan.
Pembangunan Rumah Tempat Lokasi Seketeriat pendidkan Penelitian UNPAR tentang bibit kayu Hutan dan Buah buahan di komunitas sakata. 

Kelembagaan Adat

Nama Mantir Kelurhan Tewah, Kecamatan Tewah Gunung Mas
Struktur 1. Kepala Adat 2. Wakil Adat 3. Sekretaris Adat 4. Penghulu Adat
Kelembagaan Adat
a. Tugas dan Fungsi Masing-masing Pemangku Adat Mantir adat : sebuah jabatan seseorang di komunitas masyarakat hukum adat dan sebagai hakim wilayah mantir kelurahan dan mantir kecamatan yang mengurus hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat hukum adat serta wilayah adat di daerah kemantiran.
b. Mekanisme Pengambilan Keputusan : Musyawarah dan Mufakat/Pumpung
Hukum Adat
a. Aturan Adat Yang berkaitan dengan Pengelolaan wilayah dan Sumberdaya alam : Peraturan adat Kumunitas Lewu Tumbang Malahoi, masih Mengacu Pada Peraturan Hukum Adat Kedamangan Kecamatan Rungan.
b. Aturan Adat yang berkaitan dengan pranata sosial : Peraturan adat Kumunitas Lewu Tumbang Malahoi, masih Mengacu Pada Peraturan Hukum Adat Kedamangan Kecamatan Rungan.
c. satu contoh keputusan dari penerapan hukum adat : Keputusan Mantir Adat Tentang Surat Perdamaian Secara Adat dan Pernyataan kedua belah pihak tidak Mengulangi Lagi Perbuatannya. (Perkalahian Antara Didi Dengan Bakti Raya tahun 2015) 
dilaksanakan di musyawarah mufakat dan disebut dengan mempakat (musyawarah). 

Hukum Adat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Payang masih mentaati aturan-aturan adat yang berlaku, walaupun ada yang tidak tertulis. Misalnya dalam hal pembukaan lahan, mereka mengenal bahwa ketika membuka sebuah lahan itu tidak sembarangan, tetapi ada aturan-aturan adat khusus yang mengatur agar bisa berkelanjutan seperti melakukan ritual adat (Ma’ancak dan ploter) sebelum membuka lahan dengan maksud agar setiap pengelolaan dalam wilayah adat mereka itu bisa berhasil sesuai yang diharapkan. Jika hal ini tidak dilakukan maka orang yang membuka lahan tersebut akan dikenakan sanksi adat yang dijatuhkan oleh kelembagaan adat setempat dengan pertimbangan sanksi yang berasal dari seluruh masyarakat. Dalam proses pelaksanaannya, aturan adat tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat tidak terkecuali tokoh-tokoh adat. Karena bagi mereka adat itu merupakan jalan yang bisa dilalui semua orang dan diyakini bahwa adat maupun aturan adat itu diibaratkan sebuah lampu yang menerangi jalan yang gelap . Jadi jika tidak ada aturan adat maka kehidupan pun juga tidak akan teratur sepenuhnya. 
Dalam penyelesaian permasalahan masyarakat juga sering menggunakan proses swadaya, ini dilakukan agar permasalahan yang timbul tidak pernah sampai keluar dari lingkup masyarakat. Misalnya ketika ada dua keluarga yang bertikai, maka tokoh adat menggunakan piring putih (Ngawang Ngarou)sebagai mediasi penyelesaiannya, jika piring putih ini sudah dikeluarkan maka menjadi kewajiban pihak yang bermasalah tadi untuk menyelesaikannya dengan musyawarah dan pembiayaan dari perkara tersebut ditanggung oleh semua semua pihak yang terlibat masalah 
Cara lain di Masyarakat adat Payang dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi dimasyarakat adalah dengan menggunakan kearifan lokal mereka salah satunya adalah dengan menggunakan Pembuktian Terakhir (Brentas), cara ini dinilai sangat efektif namun jarang dilakukan untuk membuktikan apakah seseorang benar-benar bersalah atau tidak, ada bermacam cara yang dilakukan dengan Metode Brentas, contoh pertama seperti jika ada 2 orang yang bermasalah maka mereka berdua akan direndam seluruh badannya didalam sungai dengan berpegang pada sebatang kayu, jika dia tidak bersalah maka dia akan lebih cepat atau pertama yang keluar ke permukaan, namun jika dia terbukti bersalah maka dia bisa sampai seharian penuh baru akan keluar kepermukaan air, contoh kedua yaitu jika ada seseorang yang diduga bersalah maka untuk membuktikannya dengan cara orang tersebut diminta memanjat sebuah batang pohon aren, kemudian orang-orang yang dibawahnya membakar semua semak dan kayu disekitarnya, jika orang tersebut memang benar bersalah maka dia akan terbakar oleh api tersebut, namun jika dia tidak bersalah maka dia akan selamat tidak terbakar, bahkan asap pembakaran tadipun tidak mengenainya. Ritual Pembuktian Akhir (Brentas) dilakukan dan dipimpin oleh orang-orang yang berpengalaman khusus atau mempunyai kemampuan supranatural seperti seorang Balian dan dengan menggunakan mantra-mantra dan ritual khusus. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Sumber pangan (karbohidrat: padi, umbi-umbian, jagung sagu; Protein. b. Karbohidrat : Padi, Jagung, Jawau, dan Gambili. c. Sayur Mayur : Bua Awai, Tungkul awai, Taya, Segau Kalakai Rimbang, Jagung Balanda, Baluh Puti, Bahenda, Tantimun, Lempek, Kanjat, Ujau, Kulat, Bua Pantak, Rimbang Bulu, Sanggau, Bajei, Singkah Rua, Singkah Nange, singkah Marau, singkah Hembiye, Bakung, Suluh Tabantal. d. Buah : Mangkahai, Dahuyan, Tongkoi, Lahung, Paken, Mawuh, Embak, Ranamun, Dangoi, Banturung, Puan, Bua Pilang, Nyamu, Mantawa, Kantiau, Tanggaring, Siwau, Takuhau, Sangalang, Dara, Hakam, Tusum bua Asem Tewu, Putar dan Bua Pangi hampalam Tanggu Langsat Karamu Binjai Barania Manggis Bua Katapi Tangkuhis Bua Marau Bua Hambiye.
Sumber Kesehatan & Kecantikan a. komestik) a. Obat- Obat, : Tabat Baritu, Bajakah Bahenda, kayu Pasak Bumi, Saluang Belum, Uhat Songkai, isin Tawar Pari, Isin Sondon, Uhat Panahan. b. Bahan Kecantikan : Suluh Kayu Kalanis, Henda Bangapan
Papan dan Bahan Infrastruktur Pohon Kayu Ulin/Teluyen digunakan untuk tiang dan tongkat bangunan; - Pohon kayu Benuang digunakan untuk gelagar, galang dada, guntung, malang, kasau, papan, bangunan; - Pohon Kayu Meranti/Kayu alas digunakan untuk reng, malang bangunan;
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sarai/Serei, Kunyit, Kencur/Sakur, Lengkuas/Lengkuah, Jahe/lie, Bawang Ume, Sahang (bumbu dapur) Kamasarai, Langkuas, Henda, Lai, Suna, Dawen Songkai (Alami)
Sumber Pendapatan Ekonomi Kabun Karet, Rotan (uwei) dan Menyedot Mas, Mandulang Mas (ngaloyong)