Wilayah Adat

Kampukng Boyutn

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Sokan
Desa Nanga Libas
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.931 Ha
Satuan Kampukng Boyutn
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan: 1. Kampung Karangan Panjang (Desa Nanga Ora) mulai dari Sungai Palipi Hulu sampai Sungai Bagantar. 2. Desa Tanjung Mahu Mulai dari Sungai Bagantar, Sungai Silik Barasap sampai Sungai Sopatan Kalasi
Batas Selatan Berbatasan dengan Kampung Nangora (Desa Nanga Ora) mulai dari Sungai Jalinuh Sangkuang Batali sampai Sungai Palipi Hulu
Batas Timur Berbatasan dengan Kampung Libas (Desa Nanga Libas) mulai dari Bukit Hulu Sabaguru sampai Sungai Jalinuh Sangkuang Batali
Batas Utara Berbatasan dengan: 1. Dusun Pugar Indah (Desa Nanga Libas) mulai dari Sungai Sopatan Kalasi sampai Sungai Penyebrang Suritn 2. Kampung Libas (Desa Nanga Libas) mulai dari Sungai Penyebrang Surit sampai Bukit Hulu Sabaguru

Kependudukan

Jumlah KK 97
Jumlah Laki-laki 208
Jumlah Perempuan 189
Mata Pencaharian utama Petani dan penoreh karet.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

A. ASAL USUL SUKU DAYAK LAMAN TAWA
Pada mulanya Suku Dayak Laman Tawa berawal dari laut laba-labe, pindah dari situ, buat kampung di Pontianak, pindah dari situ buat kampung di Nanga Pinoh tepatnya di kampung Rame pindah dari situ buat kampung di Nanga Pak Sungai Songang pindah dari situ buat kampung lagi di Nanga Sayan tepatnya Kerangkng Mawakng pindah dari situ buat kampung lagi di Madong Raya di sungai Bata. Setelah dari kampung Madong Raya, terpecahlah menjadi dua yaitu Pertama : Masuk Sungai Pinoh, buat kampung di sungai Panak dalam sungai Nobatn di Riam Tarik, pindah dari situ buat kampung di Sungai Mentawa tepatnya di Nanga Libas. Kedua : Masuk Sungai Ngolas buat kampung di Laman Lompak’n di hulu Sungai Kanibang anak sungai Ngolas. Pecahnya Laman Lompak’n terjadi kematian Dara Tunggal gara-gara nyuci beras di dalam rumah dekat dapur tungkuan.
Dayak Laman Tawa ini tepatnya di Sungai Pinoh Desa Nanga Libas, Desa Nanga Ora, dan Desa Penyengkuang Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi. Sungai Pinoh ini bermuara ke Sungai Melawi Sungai Melawi Bermuara ke Sungai Kepuas dan Sungai Kepuas Bermuara ke Laut tepatnya di Kota Pontianak.

B. SEJARAH ASAL USUL KAMPUNG BOYUTN
Bermula di Sungai Mentawa Nanga Libas pada jaman Nepon (Jepang) sekitar pada tahun 1897 an pada saat itu di Pimpin oleh Raja, orang Dayak Laman Tawa ini dipaksa masuk islam, jika tidak mau masuk islam maka akan dibunuh oleh Raja pada masa itu. Sehingga menyebabkan orang dayak lari dan membuat beberapa dukuh salah satu diantaranya yaitu Dukuh Laman Sungai Panak, Dukuh Selumakng, Durian Pako. Tetapi tidak cukup di situ, pada pemuda dan orang tua-tua punya keinginan dari beberapa dukuh harus disatukan menjadi Kampung, sehingga mendirikan Kampukng Laman Baharu sekitar pada tahun 1938 an pada jaman Belanda yang datang ke Indonesia kedua kalinya dan Kampung Laman Baru ini kumpulan beberapa dukuh yaitu Dukuh Batapis, Dukuh Omang, Dukuh Kupo Bolin, Sungai Panak, Duku Baloyakng, Dukuh Durian Pako dan Dukuh Tanjung Limo.
Sekitar pada tahun 1945 Indonesia Merdeka, Kampung Laman Baharu ini, di pimpin oleh Kepala Kampung dan Kabayatn (Wakil Kepala Kampung), yaitu Kepala Kampung : Pak Kedok dan Kebayatn : Pak Ubun (1945-1970), Kepala Kampung : Acon dan Kebayatn : Teman (1970-1990), Kepala Kampung : Sopor dan Kebayatn : Hentong (1990-1996). Pada tahun 1996 ada peralihan kepemerintahan Kepala Kampung menjadi Kepala Desa, Kebayatn menjadi Kepala Dusun. Sehingga dari kumpulan beberapa kepala kampung menjadi desa dan kampung menjadi dusun. Kepemerintahannya menjadi Desa Nanga Libas terbagi menjadi empat dusun yaitu Dusun Nanga Libas (Kampung Nanga Libas), Dusun Lestari Setia (Gabungan Kampung Laman Baru dan Kampung Nanga Teluai), Dusun Pugar Indah (Gabungan Kampung Ketatai dan Kampung Nanga Haji) dan Dusun Nanga Tangkit (Kampung Nanga Tangkit). Pada tahun 1996-2004 Dusun Lestari Setia di pimpin oleh Pak Hentong selaku Kepala Dusun pertama pada masa peralihan jaman itu, namun memperhatikan perkembangan jaman di Laman Baharu kurang nyaman terumata akses komunikasi, informasi dan tranfortasi, sehingga punya cita-cita dan keinginan dan pemikir-pemikir dari para tua-tua dan tokoh pemuda untuk beralih dekat dengan sungai pinoh untuk membentuk sebuah kampung dalam struktur keperintahannya dusun, bahwa dipandang Kampung Laman Baharu ini, terlalu jauh dan tertinggal baik dari informasi, pendidikan maupun akses komunikasi. Sehingga para tua-tua coba membuat kampung di Buluh Berani tetapi tidak jadi, coba lagi di Sengkuang Betali juga tidak jadi dan terakhirnya di Boyutn dan penyebaran Agama Katholik pada tahun 1982 oleh Pastor J. Gross, CM. Pada tahun 2000 terjadilah sebuah Kampung Boyutn yang dimanai Dusun Lestari Setia (Gabungan Kampung Boyutn dan Kampung Teluai). Tanah Kampung Boyutn beli dengan Haji Abang Tayo orang sokan dengan seekor sapi betina dan diuangkan pada saat ini sebesar Rp. 5.600.000,00 (Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah). Pada tahun 2005 terjadilah pemekaran Dusun Lestari Setia menjadi Dusun Lestari Setia (Kampung Boyutn) dan Dusun Teluai (Kampung Teluai). Mengapa disebut Kampung Boyutn karena ada pohon boyun yang berada di sungai boyun dan riam boyutn, sedangkan Dayak Laman Tawa adalah identitasnya dan bahasa yang dituturkannya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Konsep pembagian ruang menurut Masyarakat Adat Kampukng Boyutn adalah sebagai berikut:

a. Kampukng Buah ( Tembawang )
Berdasarkan pembentukannya Kampukng buah terbentuk dari bekas Kampukng, dukuh atau ladang yang ditinggalkan. Dengan ditingalkannya lokasi-lokasi yang banyak tanaman buahnya inilah menjadi Kampukng buah. Jika terbentuk dari bekas Kampukng maka kepemilikan Kampukng buah menjadi hak seKampukng, tetapi jika terbentuk dari dukuh dan ladang maka haknya menjadi individu yang memiliki dukuh dan ladang.

b. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman masyarakat.

c. Kobutn Karet (Karit)
yakni kawasan yang berisikan mayoritas tanaman karet, walaupun ada juga tanaman-tanaman lain seperti jengkol, durian, dan lainnya yang juga ditanam disana.

d. Rima
merupakan hutan yang masih utuh, banyak dijumpai pohon-pohon besar, binatang buruan, mata air, berbagai jenis burung, dll. Dalam Rima juga terdapat Tempat Keramat yang bernama Lubang Macan. Lokasi tersebut bernilai sakral, Keramat memiliki hubungan psikologis antara masyarakat Kampukng, baik dengan roh nenek moyang, penunggu alam dan Duata. Maka tempat-tempat tersebut tidak boleh untuk dibuka.

e. Rasau/rawa
yaitu dataran rendah yang berair, biasanya digunakan sebagai kawasan umo rawa. Umo rawa ini yang digunakan masyarakat untuk menanam padi dan tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam lainnya

f. Babas/bawas,
Merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo. Dalam Babas terdapat dukuh, yaitu lokasi yang perladangan/huma yang sudah mencapai puluhan tahun, jumlah yang menepati dukuh kurang lebih 1-6 kelurga, biasanya berasal dari lawang ( gabungan dari keluarga).  
Sistem Kepemilikan Tanah Masyarakat Adat Kampukng Boyutn
Secara adat, kepemilikan atas tanah atau lahan dapat dibagi
1. Tanah Individu
Sistem ini didasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan(rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga dari warisan orang tua. (Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)

2. Tanah keluarga/marga
Tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut.( Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)

3.Tanah Komunal
Kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik bersama satu kampung atau milik kolektif/komunal (Rimo, Rampa Lalang. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn.
Struktur Struktur Lembaga Adat Suku Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn: 1. Proses pemilihan Manter dan Tuha dalam Laman melalui Bahump Bopkat dan ditunjuk langsung oleh Masyarakat yang hadir pada saat itu atau dengan Pencalonan (Sistem Demokrasi). 2. Syarat seorang Kepala Adat dan Tuha dalam Laman memiliki Kemapuan dalam bidang adat, cakep berani mengambil Keputusan. Masa jabatan Manter dan Tuha Dalam Laman Tidak Ditentukan, sesuai dengan kemampuan memimpinnya.
1. Manter Adat / Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat tingkat kampung.

2. Tuha Dalam merupkan Wakil Ketua Adat/Kebayan hanya diberi kewenangan mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah kampung apabila Ketua Adat tidak berada ditempat atau sedang berhalangan. Tuha Dalam juga bertugas untuk menghadirkan atau memanggil masyarakat ketika ada bapokat atau musyawarah adat. 
Melalui rapat/musyawarah adat (Bapokat)
Musyawarah ini dengan melibatkan seluruh warga kampung yang dipimpin langsung oleh pengurus adat. Pelaksanaan biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah ketua adat. 

Hukum Adat

Aturan tentang Rimo
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh ditangkap dan dipotong Bersama-sama 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan, balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.

Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang 
Pada tahun 2016 terjadi kasus seseorang membakar kebun yang apinya merambat ke kebun orang lain. Akibat kejadian tersebut yang bersangkutan disidang secara adat, dengan melakukan proses mediasi terlebih dahulu kepada kedua belah pihak. Sanksi yang dikenakan tidak berupa pembayaran dengan uang, namun menyerahkan hasil panen (Getah Karet) sesuai dengan kerugian yang dialami. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat Ubi kayu, ketela, keladi. Sayuran: Entimun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, dan kucai, dan buah-buahan lokal Buah-buahan . Buah sibo, kembayo,Lemacang, kusik, durian, langsat, sedawak,Pekawai. Protei Nabati Kacang Tanah,kacang hijau, kedelai, kacang merah Protein Hewani Ikan, babi, rusa,kijang, landuk, batat(musang),
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar gelaet : untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit Kumis kucing : untuk menyembuhkan penyakit gula , Pasak bumi penyembuhkan rasa pegal dan nyeri, Akar kebintang menyembuhkan sakit perut, kayu cina buri untuk luka dan coki untuk menyembuhkan penyakit dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Jenis kayu 1. Tiang kayu: kayu ulitn , Jenang, kasau kayu gonis tokapm banuah, , keladatn 2. Dinding: kayu meranti, omang besi, pakit 3. Atap rumah: Daun sarakng, penyelapat,maso,paraya .
Sumber Sandang Untuk keperluan Adat istiadat masih memanfaatkan pakaian dari kulit kayu seperti: Kulit kayu kapuak : untuk membuat pakaian (adat) Getah pohon : Untuk pewarna pakaian, Bulu ekor burung ruai : untuk asosoris adat,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, cabe rawit,sengkubak.sibuk, lonsu, asam kandis, tekoru.
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Jengkol, Tengkawang

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No 4 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat No 4 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Melawi Nomor 660/174 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Boyutn Kecamatan Sokawi Kabupaten Melawi Nomor 660/174 Tahun 2019 SK Bupati Melawi Nomor 660/174 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Boyutn Kecamatan Sokawi Kabupaten Melawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen