Wilayah Adat

Lewu Tehang

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Dayak Ngaju Tehang Manuhing
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Manuhing Raya
Desa Tehang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 26.910 Ha
Satuan Lewu Tehang
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan Desa Tumbang Karanai Kecamatan Sanaman Mantike Kabupaten Katingan Tepatnya di Opon Tantiring Es, Bukit Es, Tantiring Bukit Es Arah Barat, Opon Tantiring Bukit Iiman)
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Luwuk Tukau Kecamatan Manuhing Raya (Bukit Tusut, Sungei Tusut, Tantiring Hulu sungei Kaja, simpang tiga Hulu Sungei Tewing, simpang dua jalan AG, Salaka Due Sungei Unau, Tantiring Bukit es, Tantiring Bukit sungei Linau, dan Sungei Parawei)
Batas Timur Berbatasan dengan DesaTusang Raya, Desa Tumbang Bahanei dan Desa Tumbang Tuwe Kecamatan Rungan Barat (Tantiring Bukit sungei Haei dengan Sungei Karangei, simpang due jalan/jembatan runtuh Sungei Haei, Tantiring Sungei Tean dan Palanduk, Simpang Due Jalan Sungei Tean dengan Palanduk, Tantiring Sungei Kamaji, Pondok pertemuan tani Sungei Kamaji, simpang due jalan / Karnaji atau Pondok Bapa Adi, Tantiring Hulu Sungei Bara dengan Sungei Karangei, Tantiring Hulu Sungei Karungan dengan Sungei Karangei, Tantiring Hulu Sungei Manuhing, Murik Gantau dengan Hulu Sungei Sariau.)
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Marikoi Kecamatan Damang Batu (Hulu Sungai Tohop)

Kependudukan

Jumlah KK 608
Jumlah Laki-laki 1369
Jumlah Perempuan 1247
Mata Pencaharian utama Pertani karet, Penambang emas lokal dan Berladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada mulanya Ongko Buhang berasal dari Bukit Rawi sekitar abat 17. Ongko Buhang menikah dengan orang Katingan yang bernama Embah dan menetap di Guhung sungei manuhing, kemudian merantau ke Sungei Mantuhen tepatnya di Kaleka Gahis/Pama. Sebelum kampung Tehang yang sekarang ada, leluhur penduduk Tehang pada jaman dahulu telah dua kali berpindah tempat permukiman, yang dimana daerah keduanya berada di seberang kampung Tehang yang sekarang.

Menurut cerita bahwa Kaleka Nyenyang adalah kampung pertama penduduk Tehang yang kemudian berpindah lokasi menuju daerah baru dan diberi nama kampung Pandu atau Kaleka Pandu. Kedua kampung ini telah ditinggalkan. Kaleka yang berarti Bekas Kampung / Daerah yang dulunya pernah menjadi kampung. Ketika saat itu leluhur penduduk Tehang yang sekarang bermukim di Kaleka Pandu, namun mereka merasa daerah tersebut kurang nyaman untuk ditinggali karena tanah pada daerah tersebut berbukit dan dianggap tidak cocok untuk dijadikan kampung. Kemudian mereka berinisiatif untuk mencari lokasi baru untuk ditinggali dengan cara meminta petunjuk kepada roh leluhur untuk membantu menunjukkan lokasi yang tepat kepada mereka untuk dijadikan kampung.
Lalu mereka melakukan Ritual Menajah Antang. Sebuah adalah ritual yang dilakukan dengan memanggil Antang (Elang Gaib/Jelmaan Leluhur) untuk menunjukkan lokasi/daerah yang tepat bagi mereka untuk dijadikan kampung. lokasi ini ditandai dengan berputar-putarnya Antang (Elang Gaib) tepat diatas lokasi yang dimaksud.
Setelah mendapat petunjuk terkait lokasi/daerah baru yang akan mereka tinggali maka mereka segera pindah kesana.

Cerita menarik menurut masyarakat Tehang bahwa lokasi terakhir sebelum leluhur penduduk Tehang berpindah menuju lokasi Tehang sekarang, kampung Kaleka Pandu berada tepat diseberang sungai kampung Tehang yang sekarang berdiri, hanya di pisahkan oleh sebuah sungai yang disebut sungai Manuhing. Berdasarkan petunjuk Antang (Elang Gaib) tentang lokasi untuk mendirikan kampung baru maka penduduk Tehang berpindah menuju lokasi Tehang sekarang. Kampung Tehang sendiri diberikan penamaannya oleh Dambung Injen yang pada masa itu menjabat sebagai pemimpin kampung. Nama Tehang mempunyai arti : Terang atau Bekas Tebasan. Lokasi Tehang pada saat sebelum dijadikan kampung merupakan tempat berladang bagi penduduk dari Kaleka Pandu. Hingga sekarang kampung Tehang tetap berdiri dan semakin besar dengan jumlah penduduknya juga semakin bertumbuh pesat. Secara administrasi pemerintahan saat ini status kampung Tehang menjadi Kelurahan Tehang.
Jadi perpindahan kampung dimulai dari Kaleka Gahis, Kaleka Nyenyang, Kaleka Pandu dan Tehang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Himba Duyun: Hutan sakral yang tidak bisa diganggu.
2. Sepan Bilas: tempat yang digunakan untuk binatang minum yang dianggap sakral oleh masyarakat.
3. Bukit Riwut: tempat sakral yang terasa dingin.
4. Bukit Liman: Bukit di dalam hutan yang merupakan perbatasan atau tempat persinggahan.
5. Tana: Tempat Berladang.
6. Bahu (Himba Lakau): Bekas ladang yang tidak digarap selama kurang lebih 50 tahun.
7. Kabun: Kebun Karet dan Kebun Campuran.
8. Eka Cagar Malan: Tempat Cadangan untuk berladang.
9. Lewu Tehang: Perkampungan.
10. Hutan adat: Hutan yang dilindungi yang terdapat sumber air/ air terjun
11. Hutan Pendidikan: Lokasi tempat penelitian tumbuhan, obat-obatan, dan binatang.
12. Keramat: Tempat sakral sebagai tempat orang meniatkan nazar atau hajatan.
13. Pukung pahewan: Tempat sakral atau hutan angker.
14. Tanah rutas: Lokasi/tempat terjadinya musibah orang tertimpa kayu.
15. Tajahan: Tempat sacral atau tempat menyimpan sakarayak pada saat upacara tiwah
16. Sandung: Tempat menyimpan tulang belulang saat upacara tiwah
17. Sapundu: Tempat mengikat binatang untuk upacara tiwa
18. Kuburan: Pemakaman
19. Tagiran: Sandaran pohon untuk mencari madu
20. Pantar: Kayu panjang yang berada di sandung
21. Hutan wisata: Hutan ada lokasi air terjun yang akan digunakan sebagai tempat wisata.
22. Hutan Produksi: Tempat masyarakat mengambil kayu untuk membuat rumah.
 
1. Milik bersama: Sepan Bilas, Bukit Riwut, Hutan Produksi
2. Milik perorangan (Warisan, Jual Beli, dan Membuka lahan sendiri): Kabun, Tana, Lewu Tehang
 

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Manuhing Raya
Struktur Ketua Mantir Adat: 1 orang Anggota Mantir : 2 Orang
Mantir adat: sebuah jabatan seseorang di komunitas masyarakat hukum adat dan sebagai hakim wilayah mantir kelurahan dan mantir kecamatan yang mengurus hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat hukum adat serta wilayah adat di daerah kemantiran.

Contoh : penerapan hukum adat seperti penyelesaian sengketa tanah, perkelahian, perceraian, pernikahan, perselingkuhan.

Ketika ada perkara baru ditunjukan siapa yang menjadi ketua/wakil ketua untuk mengambil suatu keputusan dan mantir adat bisa meminta kepada aparat desa untuk menjadi anggota sidang adat.

 
Musyawarah dan Mufakat (Pumpung).
Mekanismenya masyarakat diundang untuk hadir pada saat kegiatan akan berlangsung. Masing-masing orang berhak menyampaikan pendapatnya. Untuk pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Pertemuan biasanya dilakukan di rumah mantir adat.

 

Hukum Adat

1. Dengan sengaja mengambil, merampas dan mengelola hak – hak sumber daya alam milik masyarakat adat, tanpa seijin dari pihak komunitas adat Tehang, maka dikenakan denda Hukum adat berupa nilai Jipen 25000 yang ditukar dengan nilai uang Rp. 2.500.000.000,- Terbilang (Dua Milyar Lima Ratus Juta Rupiah).
2. Masuk dengan sengaja/tanpa ijin, sehingga mengakibatkan rusaknya areal yang bersifat sakral, seperti : Keramat, Pukung Pahewan, Tanah rutas, Mata Air, Tajahan, Hutan Produksi, Tanah Adat, Hutan Wisata, Hutan Pertanahan Adat, Kuburan, Sandung/Sapundu, Tanggiran. Dikenakan denda hukum adat berupa Jipen senilai 34460 atau disamakan dengan nilai uang sebesar 3.446.000.000 : 16 Rumusan Adat, maka denda akhir dibayar dengan nilai uang sebesar Rp. 215,375.000,- terbilang (Dua ratus lima belas juta tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.
 
Apabila pasangan laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan perkawinan yang sah duduk santai pada malam hari sampai pukul 21:00 Wib tanpa ada orang lain akan dikenakan hukum adat Jipen 1-5, dengan nilai 1 (satu) Jipen adalah senilai Rp.100.000. 
Kasus perkelahian antar warga tahun 2000 mengakibatkan si korban cacat seumur hidup, berdasarkan keputusan
kerapatan mantir adat kepada pelaku dikenakan membayar biaya pengobatan kepada korban sampai sembuh dan
denda/sahering senilai Rp. 50.000.000,00. Setelah kedua belah pihak damai dilakukan upacara ritual tampung tawar yang artinya sengketa sudah selesai.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Jagung Manis, Keladi, Kacang panjang, Bajei, Rebung, Humbut rua, Humbut nange, Pakis tabantal, Rimbang, Kanjat, Lempang, Paria, Tantimun, Baluh puti, Baluh bahenda. Buah – buahan : Durian, Mangkahai, Bua Lahong, Rambai, Tongkoi, Bua karanji, Katiau, Embak, Mawuh, Hakam, Dango, Karamo, Mantawa, Mawuh, Marau, Umbing, Jarak, Palasit, Salintik badak, Asem pangi, Tewu, Levis, Binjai Kasturi, Tusum haikam, Ambie, Bua uweh, sangkuang, Papu, Tabulus, Pinang, Enyuh, Bendang, Nangka, Jambu agung, Bua Awai, Pisang, Bua sange, Bua tabaliyen.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Saluang belum, pasak bumi, tabat barito, bajakah bahenda (Akar kuning), uhat sungkai, uhat panahan(obat sakit gigi), Tawas ut, Isin Tondon, Uru Belanda, Kumis kucing, Tawar gantung. Tumbuhan untuk membuat kasai : Kalanis, henda bangapan, akar teken parei.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu banuas, palepek, mahadirang, tabalien, mahalilis, bangkirai, rompeng, lentang, mahambung.
Sumber Sandang Kulit Nyamuk, Jarenang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, lai, sarai, langkuas, suna, dawen sungkai, bawang lembak
Sumber Pendapatan Ekonomi Rotan, Karet, Damar,