Wilayah Adat

Kaudar Enggano

 Teregistrasi

Nama Komunitas Pulau Enggano
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota BENGKULU SELATAN
Kecamatan Enggano
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 39.548 Ha
Satuan Kaudar Enggano
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Samudar Hindia
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Utara

Kependudukan

Jumlah KK 745
Jumlah Laki-laki 1
Jumlah Perempuan 1
Mata Pencaharian utama Nelayan, Petani, Pedagang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Legenda Penduduk Pulau Enggano berasal dari dua buah kapal layar yang terdampar di pulau. Penumpang yang terdampar terkena wabah penyakit hingga banyak yang meninggal. Dari rombongan tersebut hanya menyisakan 2 orang yang selamat yaitu satu perempuan dan satu laki-laki.

Dari hasil hubungan dua orang ini, kemudian berkembang dan terbagi kedalam 3 silsilah keturunan(suku). Ketiga suku tersebut adalah (1) Suku Kaitora, (2) suku Kaarubi, (3) suku Kaahoao.

Dalam perjalanannya suku Kaahoao pecah menjadi dua suku yaitu Kaahoao dan Suku Kauno. Suku Kaarubi juga pecah menjadi dua suku juga yaitu Kaarubi dan Kaharuba. Sedang suku kaitora tidak ada perubahan atau perpecahan.

Masing-masing suku dipimpin oleh ketua suku dan kemudian mereka membentuk lembaga adat dengan nama “KAHA YAMU’Y. Lembaga adat ini dibentuk oleh para kepala suku, kemudian memilih seorang ketua yang disebut dengan PA’ABUKI.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Penguasaan tanah yang berlaku di masyarakat adat Enggano berdasarkan penguasaan suku persuku. Seperti suku kaharuba memiliki wilayah Kaudar/kampung Kaana.  
Sistem Pengelolaan Wilayah Komunal dan indicidu 

Kelembagaan Adat

Nama Kaha Yamu'y
Struktur Ekappu Paabuki Ekappu Ea'aboowa Ekappu Kaudarra Kaum Suku Adat Masyarakat enggano
Pa’abuki, yaitu pemimpin tertinggi dari lembaga adat masyarakat pulau Enggano yang membawahi kepala suku atau koordinator suku.
Ekappu Ea’ahoowa merupakan koordinator ditingkat suku yang ditunjuk berdasarkan orang yang dituakan di antara para Ekappu Kaudarra pada Suku masing-masing, yang ditentukan melalui musyawarah adat para Ekappu Kaudarra dan posisinya sejajar dengan Ekappu Kauudarra.
 
Segala hal yang berhubungan dengan tanah, sumberdaya laut dan sengketa adat atau persoalan komunitas diselesaikan oleh Paabuki. 

Hukum Adat

Ada satu larangan yang jelas supaya masyarakat Enggano tidak boleh menebang pohon bakau (mangrove).
Ada aturan bahwa masyarakat Enggano hanya boleh membuka kebun pada jarak 3 Km dari jalan raya utama. Lebih dari itu, adalah kawasan yang ditetapkan adat sebagai kawasan lindung.
Aada larangan bagi siapapun untuk mengeluarkan kayu dari Pulau Enggano. Kayu yang keluar dari Pulau Enggano hanya diperbolehkan bagi masyarakat Enggano yang akan membangun rumah di luar pulau, itupun dibatasi maksimal hanya 5 meter kubik.

 
Bagi masyarakat adat Enggano berdasarkan aturan adatnya tidak dibenarkan nikah dalam satu suku. bagi warga suku (5 Suku) enggano seblum dilakukan nikah secara agama, harus melakukan kawin adat 
Masyarakat yang menebang pohon mangrove akan dikenakan denda dengan membayar Rp. 700.000 per pohon.


 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi