Wilayah Adat

Dayak Seberuang Riam Batu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Seberuang Riam Batu
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Tempunak
Desa Riam Batu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.297 Ha
Satuan Dayak Seberuang Riam Batu
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Kiarak Bejangkar, Kubur Bujang / Bukit Tinggi, Sabang Benyawai, Bukit Kedang, Kubur Dina, Tinting Kebuyau, Tinting Benuah, Tinting Batu Besai, Ribang Tekam, Tukung Melaban Seribu dan Puncak Saran Desa Entebah, Kabupaten Melawi.
Batas Selatan Tinting terutung, Lengang Kuali, Keladan Ganggung Patah, Lenggang Merubut, Bukit Resam, Lenggang Batang Kabang, Kaki Bukit Tunggal, Lentap Nas, Puncak Bukit Saran menjadi batas dengan Desa Tembawang Bulai
Batas Timur Temedak Padang, Tanah Serantau, Lipis Kenyauk, Lengkang Kemantan dan Tinting Tertuntun desa Bernayau, Kecamatan Sepauk, Kab. Sintang
Batas Utara Mulai dari Nanga Sungai Baik menuju hulu sungai Jaung. Dari hulu sungai Jaung menuju hulu sungai Jampal. Dari hulu sungai Jampal menuju hulu sungai Lemiding. Dari hulu sungai Lemiding menuju hulu sungai Beruang. Dari hulu sungai Beruang menuju nanga sungai Sasau, dari Nanga sungai Sasau menunju Pantai Dadak adalah titik batas dengan Benua Kencana dan Tinting Pering, Tinting Umbai, Lenggang Banyur, Tebelian Beranggu/ Langkau Penah, Turun ke Lenggang antara Ulu Sungai Serpang dengan Sungai Segak, Naik Ke Menuah Namuk, Tinting Tembawang Pagan, Tinting Temparak Cambuk, Tinting Antara Ulu Sungai Linsai dengan Sungai Rukam, Tinting antara Sungai Lelabi dengan Sungai Linsai, Nemu ketapang Adas-Pertegak Wasi – Sampai ke Lengang Tapang Menteli, Temedak Padang menjadi batas dengan Desa Jaya Mentari desa Jaya Mentari, Kecamatan Tempunak, Kab. Sintang

Kependudukan

Jumlah KK 266
Jumlah Laki-laki 511
Jumlah Perempuan 486
Mata Pencaharian utama Petani Ladang, Petani Karet, Berburu, Berkebun, Berternak.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nenek moyang masyarakat adat Riam Batu berasal dari suku Dayak Seberuang, yang diyakini sebagai suku pendatang di Kecamatan Tempunak. Suku Dayak Seberuang termasuk kedalam rumpun dari Ibanik Group yang berasal dari Tanah Semula Jadi Tampun Juah didaerah Segumon, Sekayam Hulu, Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, perbatasan dengan Malaysia. Karena terjadi penyerangan di Tampun Juah oleh musuh akhirnya terjadilah perpindahan dari Tampun Juah, salah satunya menuju batang Sungai Seberuang (sehingga disebut suku Dayak Seberuang) di Kecamatan Seberuang dan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Dari sungai Seberuang dipercaya migrasi ke daerah Sintang dilakukan oleh tiga anak Tuak Laja (penjaga pusaka Seberuang) yang bernama Temenggung Cukah, Temenggung Caling, dan Temenggung Merebai. Temenggung Cukah yang menurunkan orang Seberuang di Mensiap Tanjung. Sementara itu Temenggung Caling menurunkan orang-orang yang ada di sebelah kanan Sungai Kapuas Kecematan Sepauk, Kabupaten Sintang, diantaranya Desa Sekubang yang kampungnya adalah Taja, Bangun, Pemunsit, dan Lepung Beruang. Di Desa Nanga Pari kampungnya adalah Sungai Lepat, Ngalang, Geruda, Silit, Sungai Segak, Pampuk Kuai, dan Pari. Di Desa Lengkenat ada Kampung Gernis Jaya, Paoh Benoa. Di Desa Temiang Kapuas kampungnya adalah Temiang, Mirah Air, Sukai Hilir, Sukau Hulu, dan Sungai Adau. Di Desa Ensabang kampungnya adalah Ensabang, Sungai Jaung, Sungai Tamang, Tanah Kaya, dan Pringanyang.

Pada saat awal kedatangan Suku Dayak Seberuang dari Batang Seberuang Kapuas Hulu ke Tempunak oleh Temenggung Merbai. sedang terjadi peperangan antara suku asli yang ada di Tempunak yaitu Melayu Jelimpau dengan suku Silan Muntak (suku didaerah Keberak, Belimbing, Kabupaten Melawi). Peperangan mengakibatkan jumlah suku Melayu Jelimpau semakin sedikit. Dayak Seberuang datang dan membantu peperangan yang membuat suku Silan Muntak kalah. Sebagai imbalan oleh suku Melayu Jelimpau, kekayaan sumber daya termasuk tanah, kayu dan tapang tembawang dan kekayaan yang ada di daerah sungai Tempunak diberikan kepada suku Dayak Seberuang. (dulau buma Tanah Baik, Dulau Nuba Sungai berikan, dulau muar lalau berisik). Sejak saat itu suku Dayak Seberuang mendiami daerah Tempunak, dan terus berkembang sampai sekarang (suku Melayu Jelimpau mendiami desa Kuala dua, Kecamatan Tempunak dan menjadi suku minoritas).

Kampung tertua di Riam Batu adalah Mulas dan Lebuk Lantang, yang mana bergabung dalam satu kepemerintahan adat dibawah ketemenggungan Udap di Ansok (Desa Benua Kencana yang sekarang). Bersama 17 Kampung lainnya. Bukti kepemilikan tanah oleh masyarakat Riam batu oleh tiga kampung diantaranya terdapat Tembawang-tembawang, dan Bukit Saran.

Nama Riam Batu disepakati oleh seluruh masyarakat Kampung Lebuk Lantang, Lanjau dan Mulas sebagai pemersatu ketiga kampung tersebut dan disahkan pada tanggal 14 April 2009. Yang mana pada pada tahun 2008 terjadi pemekaran wilayah desa Benua Kencana sebagai Desa Induk, desa pemekaran kemudian dinamakan nama Riam Batu. Nama Riam Batu dipilih mempunyai makna rendah hati, indah alamnya, majemuk masyarakatnya, menjaga keamanan biar alamnya tetap utuh.
Secara wilayah adat, Riam Batu dahulu termasuk kedalam ketemenggungan Tempunak Hulu. Namun pada tahun 2018, oleh kesepakatan bersama pengurus adat, tokoh masyarakat ketemenggungan Tempunak Hulu dipecah menjadi dua dengan penambahan satu ketemenggungan yaitu ketemenggungan Hulu Tempunak. Yang termasuk kedalam wilayah ketemenggungan Hulu Tempunak terdapat delapan kampung yang tersebar ditiga desa. Yaitu Lebuk Lantang, Lanjau dan Mulas (Riam Batu), Kampung Sungai Kura, Jungkang dan Ansok (Benua Kencana) dan Kampung Pekulai Ulu dan Pekulai Ilik (Pekulai Bersatu).

Sistem kepercayaan masyarakat Riam Batu sebelum masuknya ajaran agama Katolik adalah agama lokal, (animesme) dimana masyarakat meyakini adanya suatu kekuatan yang mengatur kehidupan di luar batas kendali manusia, masing masing alam ada yang menguasai. Kekuatan itu terdapat pada benda (tanah, angin, hutan, air, kayu, binatang) dan meraka percaya sang pencipta yang disebut Petara.

Agama Katolik masuk pertama kali pada tahun 1970, ditandai dengan penyebaran melalui yayasan sukma yang ada di Sungai Kura desa Benua Kencana. Hingga sekarang agama Katolik tumbuh menjadi agama masyarakat di Riam Batu (kampung Mulas beragama Kristen Protestan) Berkembang ke lanjau dan lebuk lantang. Namun pun demikian adat kepercayaan lokal masil tetap dipertahankan dan dipegang teguh. Adat istiadat dan hukum adat termasuk macam macam kearifan lokal dan pengelolaan sumber daya alam masih sangat dipegang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Bagi masyarakat adat Riam Batu, wilayah adat adalah sumber penghidupan, oleh karenanya wilayah adat dikelola dan dimanfaatkan secara bijak dengan tetap mempertahankan kelestariannya. Pengelolaan wilayah adat tercermin dalam pembagain wilayah kelola, pemanfaatan sesuai dengan fungsi, pengaturan hak penguasaan dan hukum adat bagi yang melanggar aturan bersama.
Masyarakat Adat Riam Batu membagi ruang wilayah adat menjadi, yaitu :
1. Rimba adalah areal hutan yang dilindungi dan diatur secara adat dengan tutupan vegetasi pohon-pohon besar yang merupakan daerah vital dan mempunyai banyak sumber daya alam penting (sumber mata air).
2. Tanah Puma/babas/Pemudak adalah areal khusus bisa berupa hutan atau lahan yang pernah dikelola sebelumnya yang dimanfaatkan secara berkala untuk membuat lading.
3. Tembawang adalah kawasan khusus yang dimanfaatkan secara terbatas, tembawang adalah suatu kawasan bekas berladang yang kemudian ditanami berbagai macam jenis tumbuhan buah dan kayu yang berguna lainnya. Tembawang juga sebagai bentuk pengakuan kepemilikan akan tanah.
4. Kampung adalah kawasan untuk permukiman warga untuk mendirikan rumah atau membangun fasilitas umum.
5. Tanah Mali/Gupung adalah suatu kawasan yang dipercaya sebagai tempat keramat sehingga kawasan terebut tidak boleh diganggu (lindung).
6. Kebun adalah tanah yang telah ditanami jenis tumbuhan bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup.
 
Jenis-Jenis Hak Kepemilikan Tanah dan Subjek Haknya :

1. Tanah Menulin: Tanah yang dikuasi dan dikelola oleh pribadi (individu).
2. Tanah Kenturun: Tanah warisan yang dikuasi dan dikelola oleh ahli waris (keturunan). Tanah Kenturun biasa disebut Tembawang.
3. Tanah Kampung: Tanah yang dimiliki dan dikelola bersama sama oleh komunitas.

Dengan proses peralihan hak atas tanah dapat melalui proses: Silih atau Surung Adat (bayar atas hukuman adat),Jika melanggar Aturan Adat Setempat, Kempuli (meminta kepada orang lain), Pemerik (pemberian orang lain/Warisan), Tukar dan Jual Beli (praktek jual beli tidak terjadi pada jaman dahulu).

Jika melalui proses tukar/surung adat maka yang harus mengetahui adalah pengurus adat dan pihak yang berpekara adat. Kempuli dan Pemerik dan tukar melalui persetujuan kedua belah pihak (baik pribadi maupun kenturun) dan diputuskan oleh kedua belah pihak. Jika terjadi melalui proses jual beli makan yang berhak memutuskan adalah kedua belah pihak dan diketahui oleh pemerintah desa dan atau pengurus adat.

 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan
Struktur 1.Temenggung Hulu Tempunak Biiak 2.Ketua Adat Desa Riam Batu Yosef Jikin 3.Ketua Adat (Dusun Lanjau) Andreas Ningkan 3.1.Ketua Adat (Dusun Lebuk Lantang) Pansih 3.2.Ketua Adat (Dusun Mulas) Paulus Jantan
1. Temenggung memiliki kekuasaan dan kewenangan disatu wilayah adat baik dalam mengatur hukum adat (tingkah laku) maupun adat tentang pengelolaan sumber daya alam. Wilayah kekuasaan temenggung dapat lintas deerah (kampung / desa).
2. Ketua Adat Desa memilik kekuasaan dan kewenangan untuk menyelesaikan perkara adat ditingkat Desa.
3. Ketua Adat adalah pengurus adat tertinggi dalam satu kampung. Pengurus kampung memiliki tugas dan wewenang untuk mengatur, mengurus dan memutuskan perkara di tingkat kampung. Apabila terdapat hal yang tidak mampu atau dapat diselesaikan di tingkat kepala kampung, maka akan naik ke tingkat Desa dan atau Temenggung.
Ketua adat dusun hanya boleh menyelesaikan perkara dengan maksimal hukum adat adalah 80 Rial.di potong 30% (bisa di putus)
 
Didalam mekanisme pengambilan keputusan masyarakat Riam Batu menggunakan Musyawarah Mufakat. Apabila menyangkut kepentingan bersama maka akan disepakati waktu berkumpul untuk membahasnya. Tempat yang digunakan adalah balai adat (dahulu) sekarang di Gedung Serba Guna Desa. Dengan memperhatikan keterwakilan-keterwakilan kaum (Laki-laki, perempuan dan pemuda).

Sedangkan untuk penyelesaian konflik terdapat aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Penyelesaian yang melibatkan pengurus adat, ada 7 tahapan (mekanisme) dalam penyelesainnya, yaitu :
1. Adanya laporan dari salah satu pihak kepada pengurus adat.
2. Pengurus adat akan memanggil kedua belah pihak yang berselisih, bila yang berselisih adalah dari dua wilayah (kepengurusan berbeda) maka wajib membawa pengurus adat masing-masing.
3. Memberikan uang peserah (uang sidang pekara). Besarnya uang peserah berdasarkan tingkatan. Apabila pada tingkat penyelesaian Kepala Kampung sebesar 7,5 Real, (Perorang) apabila pada tingkatan Desa sebesar 15 Real,( Perorang ) Ketemenggungan sebesar 20 Real. (Perorang)
4. Bejerih. Kedua belah pihak yang berselisih akan menjelaskan alasan mengapa sampai terjadi perselisihan secara bergantian. Pada saat bejerih tidak boleh ada sanggah atau bantahan dari salah satu pihak.
5. Bebantah,(Banding) yaitu proses penyanggahan oleh masing masing pihak terhadap jerihan yang disampaikan. Dan pandangan oleh pengurus adat dan pemutusan perkara serta menghitung real adat sesuai dengan pelanggaran adat yang dilakukan.
6. Besurung, adalah pembayaran adat kepada yang dijatuhkan hukum adat. Dalam Besurung, 30 % dari besaran surung diserahkan kepada Pengurus Adat
7. Besait, adalah laranagan untuk mengulang kembali konfilk yang terjadi, apabila dalam sait disepakati dalam batasan waktu tertentu (bulan / tahun) bahkan selamanya tergantung jenis pekara. Apabila salah satu pihak melanggar sait, maka akan dikenakan adat pelangkah sait yang besarnya bisa dua kali lipah dari besar adat yang dijatuhkan sebelumnya. Didalam besait juga terdapat nasehat dan wejangan supayan tidak melakukan kejadian yang sama lagi.
Apabila didalam putusan tidak mencapai kesepakatan (ada salah satu pihak yang tidak menerima putusan) maka penyelesaian perselisiahan akan dilanjutkan pada tingkatan yang lebih tinggi secara struktur dengan mekanise penyelesaian yang sama. Ada ketentuan ketentuan tertentu pelanggaran adat yang boleh diselesaikan langsung oleh kepala kampung atau ketua adat dusun dan atau ketua adat desa, namun ada yang langsung naik ke tingkat Temenggung, diantaranya : Kampang (hamil diluar nikah), mali damping (menikah dengan sepupu, keponakan, atau paman - bibi), Kerangkat (mengambil istri atau suami orang yang masih memiliki ikatan sah secara adat dan agama), Pati (menghilangkan nyawa seseorang), dan Pampas (setengah pati). (jika pengurus adat yang tertinggi yang bersalah siapa yang mengurusnya)
 

Hukum Adat

Perusakan perkarangan, nuba sungai, sengketa tata batas, (Beladang di batas tampa memberitahu yang berbatas lansung) sengketa tanah, perusakan dan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, be-uma di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat, mali tanah, Sengkelan batu dan aturan tentang tembawang.

 
Siklus Kehidupan :
1. Sengkelan Kandung, ketika kehamilan mencapai usia 3 bulan, maka sang suami akan melakukan pantang. Berpantang tidak berburu kehutan, meyembelih binatang dan menjaga perkataan (tidak berkata kotor) supaya bayi yang dilahirkan nanti sehat, selamat dan dan dalam kondisi baik.
2. Ngeruai/ngelangkah Batun, pada saat anak berusia 3 – 7 hari baru boleh membawa ke ruai (ruang tamu) dan biasanya bersamaan dengan memberi nama pada anak.
3. Ngemaik Manik, pada saat anak berusia 0 – 2 tahun anak diperkenalkan dengan alam dengan memandikan di sungai (air dianggap mewakili semua elemen yang ada di alam, karena telah mengalir melewati tanah, batu, pasir, kayu, dan udara)
4. Beransah Gigi (potong gigi) sebagai tanda anak menjelang dewasa, supaya dapat tumbuh dan berkembang dan siap lepas dari dunia anak-anak.
5. Matah Ricik adalah upacara pengesahan perkawinan, sebelum matah ricik ada empat tahapan yang harus dilewati, yaitu nyurung tembakau daun (titip pesan bahwa akan menjalin hubungan yang serius), mentanyak (melamar), tunangan, terakhir adalah matah ricik.
6. Diau atau upacara kematian, merupakan upacara berkabung sebagai bentuk duka cita kepada keluarga yang meninggal. Diau bisa berupa tuba mali, pantang, dan munuh padi seleman.
Hukum adat tentang pranata sosial dan hubungan sesama manusia meliputi: pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, balang betunang, cerai, berangkat kawin (jinah), basa kampung, fitnah (Mengada-ngada,ngemulak.) Mungkal, Muai, dusa, salah basa, ampang sida. Yang semuanya telah tertuang dalam buku Hukum Adat dan Adat Istiadat.
 
Jenis Pelanggaran :
1. Mengambil buah Jengkol dikebun orang :
Hukum adat yang dilanggar :
1. Sait Kederat (20 Rial)
2. Mali (20 Rial)
3. Kesupan Pegawai (62 Rial).

2. Ampang.
Hukum adat yang dilanggar :
1. Pemali Kampung (102 Rial)
2. Kesupan Temengung (82 Rial)
3. Adat Ampang (220 Rial)
4. Mali Anak (40 Rial)
5. Sait Kederat (20 Rial)
6. Kesupan Retuai (20 Rial)
Pesurung :
1. Babi dua renti, ( 50,kg)
2. Manuk 7 ekor, (Wajib manuk kampong)
3. Besi tungkang Langit, (Sebagai syarat Adat untuk menungkah langit)
4. Beras 7 singkap mangkok
5. Pingan 21 singkap
6. Kain selap langit.
7. Biaya anak ampang.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : Padi, Pului, Jagung, Jawak, Keribang, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Keladi, Ubi,Perengi, dan Tebu kandung Proten Hewani : Kerubik, Ikan, Lelabi, Babi Hutan, Kijang, ular, Ayam, Babi Menua, itik, Bebek,Kekurak,Landak. Vitamin Buahan : Mentawak, langsat, kemayau, durian, sibau, melanjau perut kelik, titidan, mantut, embak, benit, rambai, kemantan, raba pelam, mawang, kubal, urik, mantut, terap, teretung, dabung, empakan, tamang, berangan, pisang, nyur, mentelang,Ubai,Engkalak Sayuran : Kundur, Gambas, Lepang, Lengak, Kacang Kayu, Kacang Panjang, Kucai, Terong, Bayam Kampung, Sawi Kampung, Perenggi, Mentimun, Tebu Kandung,Pakis,Kedema,Umbut,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Pasak bumi, jerangau, entemu, akar idu, asam patah, bunga kensunsung, leban.Sirih Hijau,Sirih Merah,Liak Jerenang,Cekur,Kunyit,Daun jambu beras,
Papan dan Bahan Infrastruktur Belian, Kelansau, Keladan, Tekam, Mengkirai,Leban Jawa,Gensurai,Kedang, Resak, Ubah, Meranti Putih, Meranti Merah, dan jenis kayu yang termasuk kedalam kategori kelas dua (berangan)
Sumber Sandang Kepuak, Kedadai, Enteli,Tebelian, Kumpang,Uwi.( Rotan ) Bemban,Engkalat,Resam,Sengang,Sepuk,Perupuk,Nas,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu temarik, sumpak Manis,daun empangau, daun sengkubak (pengganti mecin), daun lekau, kensinduk, serai kayu, asam cekalak, benit, bungkang, Kucai, Liak merah, liak jerangau, liak padi, kunyit, bawang Dayak,liak bumbu, Merpedas, Kanis,Tempuyak,Daun Riayang,Daun Kacam,Lengkuas, ( Buah dan Daun )
Sumber Pendapatan Ekonomi Tengkawang, Karet,Durian, Jengkol, Mentawak, Damar, cabe,Kulat Tebelangking.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN KELEMBAGAAN ADAT DANMASYARAKAT HUKUM ADAT NOMOR 12 TAHUN 2015 PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN KELEMBAGAAN ADAT DANMASYARAKAT HUKUM ADAT Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen