Wilayah Adat

Ketemenggungan Iban Menua Sadap

 Teregistrasi

Nama Komunitas Ketemenggungan Iban Menua Sadap
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Embaloh Hulu
Desa Manua Sadap (Dusun: Kelayan, Sadap dan Karangan Bunut
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 40.980 Ha
Satuan Ketemenggungan Iban Menua Sadap
Kondisi Fisik
Batas Barat Dsn. Kelayam, Dsn. Sadap, Dsn. Kelawik
Batas Selatan Desa P. Manak, Desa Temao, Desa P. Manak
Batas Timur Dsn. Karangan Bunut, Dsn. telijan, Dsn. Talas
Batas Utara Hutan Lindung, Dsn. Engklungan, Dsn. Sadap

Kependudukan

Jumlah KK 153
Jumlah Laki-laki 288
Jumlah Perempuan 263
Mata Pencaharian utama Petani (ladang, karet, dan kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Berdasarkan sejarahnya, orang yang pertama mendirikan adat istiadat dan hukum adat adalah seorang Temenggung yang bernama Temenggung Simpe/Bedana. Beliau adalah anak dari Macan dan Tema, memiliki 5 saudara yaitu:
 Pertama Tami bergelar Rentap
 Kedua bergelar Simpe/Bedana
 Ketiga bernama Renggi
 Keempat bernama Manang Jaget dan
 Kelima adalah seorang perempuan bernama Bangi

Keadaan fisik Temenggung Simpe atau Bedana tidak seperti kebanyakan manusia biasa yaitu bagian kepalanya tidak bulat oleh karena itulah maka dia dipanggil Simpe.

Diceritakan pada suatu malam Temenggung Simpe Atau Bedana bermimpi disuruh roh halus untuk menceraikan isterinya (Cala), dalam mimpinya tersebut dikatakan bahwa jika tidak menceraikan isterinya maka dia akan mendapat musibah yaitu jika tidak mati maka dia akan gila. Akhirnya bercerailah mereka dan Temenggung Simpe atau Bedana pindah kebikut Tunggal Batang Wong di Batang Ai, disitu ia bertemua dengan mahluk halus dan menyuruhnya untuk mengawini perempuan yang bernama Jaburi Anak Apai Laka orang dari Rantau Berunai dan ternyata masih keponakan Temenggung Simpe, dan jika memperisterikan perempuan tersebut maka Temenggung Simpe akan menjadi orang yang akan disegani dan dihormati.

Singkat cerita menikahlah mereka dan mempunyai anak pertama bernama Buah. Buah beristerikan Bejau punya anak bernama Rengkang. Rengkang beristri tetapi tidak diketahui namanya punya anak bernama Pok. Pok beristrikan Bulek dan mempuyai anak bernama Belang. Belang sampai sekarang mempunyai sebuah patung yang berada di Kuching/Malaysia. Belang dihukum mati oleh raja Bruke karena ia dituduh oleh orang Muari menentang keberadaan penjajahan Inggris.

Anak kedua dari pasangan ini bernama Runggah, adapun keturunananya samapi sekarang adalah Nyangau anak Si Gai Dengan Gindoh yang beada di Dusun Sadap Kecamatan Embaloh Hulu.

Anak ketiga dari pasangan Temenggung Simpe dan Jubari adalah Malin, keturunan Malin sampai sekarang bernama Anding dan tinggal di Sumpak Lelayang Kec. Batang Lupar, Kab. Kapuas Hulu. Sedangkan keturunan Tami yang bergelar Rentap berada di Sepan Kec. Batang Lupar Kab. Kapuas Hulu.
Selama pasangan Temenggung Simpe dan Jubiri tinggal dibukit Tunggal mereka didatangi oleh seorang mahluk halus dan dibawa ke Panggau Libau (Khayangan) disitulah ia dinobatkan menjadi Temenggung yang dibekali sebuah bliyung (sejenis Kampak) yang diberikan oleh Bungai Nuing, sebuah Guna Yang diberikan oleh Bujang Tuai serta sebuah Bendera yang berwarna lima yaitu: merah, putih, kuning, biru, dan hitam) yang diberikan oleh pasangan suami isteri bernama Kumang Dan Keling.
Keterangan:
1. Tempayan Guci/Lubuk Guci: Sejarah lubuk guci, pada jaman dahulu ada tempayan guci, karena di tempat itu ada guci yang dimana tempayan guci itu tidak bisa di ambil oleh siapapun, hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, sampai sekarang masih ada bekas tempayan guci tersebut, oleh karena itu disebut Lubuk Guci
2. Batu Apai Sali: Apai Sali asalnya orang panggau, legenda orang iban dengan nama anaknya Sali ayahnya Tamab Melebab dan ibu nya sengkumang,oleh karena itu dia di panggil Apai Sali, kalau apai Sali bepergian selalu beristirahat dan melepas lelah di tempat itu oleh karena itu disebut dengan Batu Apai Sali.
3. Kerangan bunut: Pada mulanya karena ada pohon buah dengan nama bunut, ada sebuah keluarga selalu butang, karena ada selalu menimbulkan masalah makanya ditebang.
4. Lubuk sedadu: Diatas sedikit karangan bunut ini, ada beberapa orang tentara, menggunakan perahu, dimana mereka karam, dan meninggal dunia, makanya di sebut dengan lubuk sedadu
5. Lubuk Naga: Ada seseorang pergi berburu, kebetulan di nanga sungai tersebut dia melihat seekor naga, dia memegang tanduk naga tersebut dia hanya mendapatkan tanduknya, karena naga tersebut tenggelam di situ maka dikenal sebagai lubuk naga.
6. Sungai matahari: Asal mula karena sebuah batu tersebut jatuh dari langit, batu tersebut ditemukan oleh salah satu orang Tamambaloh, yang dimana sekarang dikenal dengan batu mataso sampai sekarang batu itu masih ada keberadaannya, dimana kepemilikannya ini milik orang Tamambaloh , dimana tempat menemukannya itu sekarang dinamakan dengan Sungai matahari.
7. Kuta tanah: Kuta tanah atau disebut dengan benteng, dimana tempat itu digali untuk membangun benteng untuk pertahanan terletak di Temawai Jubang, sekarang lebih dikenal dengan Malet Jubang.
8. Sungai Bian: Sungai bian ada terdapat Tapang ngua, tapang bajit karena ada seorang bernama bajit telah memanjat pohon ini, Ngua yang artinya dimana kalau kita memanjat keatas pohon tersebut, maka dari atas pohon itu, tanah tersebut kelihatan sangat dekat, lebih dikenal dengan istilah lokal mata dikaleh ke antu.
9. Batu Peti : Batu ini berbentuk seperti peti dan terabai, pada jaman dahulu dimana Keling (nama orang panggau legenda orang suku iban) pulang merantau, setiap kali pulang merantau Keling selalu beristirahat ditempat itu, Keling tersebut ketinggalan barang-barang bawaannya, barangnya tersebut sekarang sudah berubah menjadi batu, sudah banyak membawanya tapi tidak bisa karena sangat berat.
10. Sungai Sekapak: Ada seseorang pernah menebang kayu ditempat itu, kapaknya patah dan jatuh ke air diselamnya kapak tersebut tapi tidak ketemu, maka sampai sekarang tempat itu disebut Sungai Sekapak.
11. Batu cina: Pada jaman dahulu pd tahun 1966, pada waktu partai komunis pecah, pada jaman konfrontasi, cina lari dari malaysia, menggunakan rakit, dimana rakit tersebut nyangkut dibatu tersebut, dia ingin melepaskan rakit tersebut tapi tidak bisa, sampai akhirnya dia kena jepit oleh rakit tersebut dan meninggal.
12. Sungai kensurai: Kensurai ini adalah nama salah satu jenis pohon,pohon ini ketemu ujungnya maka disebut sungai kensurai. Sekarang sudah ditebang.
13. Batu Balu: Pada jaman dahulu, ada salah satu keluarga meminang seorang perempuan/gadis yang berada di Banyuk, sedangkan si laki-laki tersebut itu berada dihilir , pada waktu itu perahunya karam karena airnya sangat deras dan menyebabkan meninggal si perempuan ini, karena si perempuan ini meninggal, maka suaminya itu disebut Balu (yang artinya salah satu suami atau istri meninggal maka orang tersebut disebut balu) sampai sekarang istilah itu masih digunakan oleh orang iban.
14. Tumpu Nanga Melibat: Ditempat ini ada sebuah batu, sampai sekarang diatas batu tersebut, ada batang panto’ (tumbuhan yang bisa diambil umbutnya dan untuk dimakan) , apabila orang mengambilnya maka orang tersebut akan meninggal, sekarang dikenal dengan Panto’ Mali.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Harta peninggalan dapat berupa tanah perladangan (damun), pulau (kebun) buah, pohon-pohon, tempayan, gong serta barang-barang berharga lainnya. Harta peninggalan ini tidak dapat dibagi kepada ahli waris yang keluar dari keluarga utama (pun bilek), kepada mereka hanya dibagikan pemakaiannya (hak pakai).

Bilek Utama (Pun Bilek) adalah semacam badan hukum yang memiliki harta pokok seperti Tajau (tempayan), Benih padi pun dan barang pusaka lainnya yang telah dimiliki (diimpun) secara turun temurun. Harta pokok itu akan pindah penguasaannya apabila keturunan yang menjaga (ngimpun) bilek itu punah (punas)

Bagi ahli waris yang menetap di Pun Bilik baik laki-laki maupun perempuan, maka dia juga mempunyai hak atas warisan yang ditinggal oleh ahli warisnya, dan apabila ahli waris yang keluar dari Pun Bilek, karena perkawinan kemudian menjadi anggota keluarga lain (ngugi kebilik orang), membentuk keluarga baru atau diadopsi. Maka harta peninggalan hanya diberikan dalam bentuk kersa pemai, dan itupun atas dasar pemberian kepala keluarga pada Pun Bilek.
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemunggungan Iban Manua Sadap
Struktur Temenggung, Pateh, Kadat Desa, Kadat Dusun, Tuai Seruan, Tuai Rumah
• Temenggung:
Dalam struktur suku Dayak Iban, kedudukan seorang temenggung sangat tertinggi. Kekuasaan seorang temenggung membawahi beberapa kampung. Selain memiliki kekuasaan yang tinggi, temenggung juga memiliki kekuasaan yang luas, termasuk wilayah adat dan masyarakat adatnya. Seorang temenggung diakui menjadi temenggung apabila mereka mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang adat istiadat, hukum adat dan tradisi/budaya. Seorang temenggung dituntut bersikap jujur, bijak dan tegas. Temenggung dipilih dan diangkat oleh masyarakat adatnya.
• Pateh:
Adalah seseorang yang diangkat untuk menjadi pembantu temenggung yang kewenangannya dibawah temenggung. Pateh juga dipilih oleh masyarakat kampung/dusun.
• Tuai Rumah.
Tuai rumah adalah seseorang yang memimpin rumah panjang. Memiliki kewenangan mengatur tata tertib rumah panjang dan adat istiadat, seperti gawai, rapat-rapat, adat penti pemali, mencuri buah, ternak, rumah rusak, berladang tamu salah basa (salah dalam perkataan), rejang ruas. Tuai rumah adalah seseorang yang pada awalnya menempati sebuah kawasan atau pemukiman, kala itu dia dipandang mampu memimpin sebuah rombungan untuk menetap disebuah wilayah tertentu. Jika ada 5 orang dalam rombongan tersebut, maka salah satu diantara mereka ditunjuk untuk menjadi tuai rumah, sementara yang lainnya memiliki kesempatan menjadi tuai rumah. Jika tuai rumah yang pertama kali menyatakan tidak sanggup menjadi tuai rumah, maka dia boleh diganti oleh salah satu diantara rombongannya kala itu, begitu seterusnya hingga sampai pada garis keturunan tuai rumah pertama. Tuai rumah sifatnya adalah turun temurun. Tuai rumah memiliki hak untuk menancap rumah pertama kali, baru rakyat lainya.

 
Dalam mekanisme pengambilan keputusan, masyarakat di Dusun Sadap melalui musyawarah dan kesepakatan bersama.

Tahap pertama Seruan, merupakan tindakan beberapa Tuai atau pengurus adat kampung yang netral untuk mendatangi pihak yang bersengketa secara bergantian menanyakan keinginan para pihak untuk menyelesaikan sengketanya, apabila tidak ada keputusan maka para pihak diperhadapkan untuk pekara.

Tahap kedua, Pekara. Pekara merupakan upaya mempertemukan para pihak yang bersengketa dengan menghadirkan tuai-tuai atau pengurus adat. Kalau pekara belum juga selesai, maka berikutnya akan menghadirkan Pateh. Kalau sudah menghadirkan pateh, maka sanksi adatnya akan semakin berat dan semakin besar, karena menyesuaikan dengan adat (wewenang) Pateh. Apabila setelah menghadirkan Pateh juga tidak ada keputusan maka akan menghadirkan Temenggung dan menggunakan adat (kewenangan) Temenggung.

Di masyarakat Iban dikenal juga cara lain dalam menyelesaikan sengketa yang tidak bisa lagi diselesaikan sampai tingkat Temenggung yaitu dengan cara sabung ayam, besumpah tabur beras kuning, beselam ke dalam air, mencelupkan tangan ke dalam air panas.


 

Hukum Adat

Hubungan manusia dengan alam (adat ngintu menua, adat bumai, membuat rumah, tanah mali, kampong mali) yang harus di hormati oleh semua orang.

Masyarakat Iban percaya bahwa alam semesta ini ada penguasanya yang mereka sebut Batara. Semua yang ada di alam mereka anggap memiliki roh sehingga ketika mengelola dan memanfaatkannya, harus sesuai dengan adat yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun. Maka, merusak alam sama artinya merusak diri mereka sendiri.

 
Engkanek batu tujuan supaya dalam bekerja selalu aman tanpa ada masalah dan ganguan hal yang tidak diinginkan.

Belayak di Rumah panjai ( berkelahi di rumah betang )
Akan dihukum oleh tuai rumah akan menghukum secara keselruhan, bagi rumah orang yang ada di rumah betang yang di lewati saat berkelahi akan menuntut adat penti pemali supaya tidak terkena tulah ( musibah ) dari orang yang berkelahi tersebut

Indo ngandung ngampang
Apabila ada perempuan yang hamil diluar nikah , kemudian ada orang yang meninggal di kampong tersebut, maka orang yang hamil tersebut dikenakan hukum adat tingang kandung. tergantung dari permintaan keluarga yang meninggal.

 
• Muja menua tujuan mengusir roh – roh jahat
• Nyapek tanah tujuan supaya tanah subur
• Mangol tujuan supaya tanah subur dan padi hidup
• Gawai engkane batu: Ritual adat sebelum membuka ladang dan dilakukan di rumah panjang
• Nyape Tanah: Ritual adat dengan membawa sesaji ke lokasi perladangan dengan tujuan supaya mendapatkan hasil yang berlimpah
• Manggol: Ritual Adat dengan maksud untuk mengusir hama yang dapat merusak ladang atau tanaman . dengan cara membersihkan rumput dengan parang dan rumput tersebut di bawa keluar dengan membuang ke sungai dan sertai dengan sesajian dan ritual tersebut biasanya dilakukan oleh orang yang punya ladang, dan selama tiga hari tidak boleh bekerja di tempat tersebut
• Nugal : Proses menanam padi di ladang
• Ngelaboh Padi Pon : Ritual adat untuk menanam benih padi utama, dan proses penanaman harus di lakukan pertama kali, karena padi pon tersebut merupakan padi yang sudah turun temurun dan dipercayai bisa membawa padi yang lain menjadi subur
• Bebaso Arang: Ritual adat untuk membuang pantang nugal. Misalnya tidak boleh memotong rambut, tidak boleh menempa parang dll, karena kalo pantang tersebut di langgar mengakibatkan tanaman bisa terserang hama
• Memali Umai: Ritual adat untuk mengusir hama yang dapat menyerang tanaman di ladang , dengan pantang selama 3 hari tidak boleh ke ladang itu . dengan menaaroh sesajian dengan daun kayu yang masih hidup, di sisi ladang atau di simpang jalan masuk ke ladang
• Ngambi Tangkai Padi: Ritual adat sebagai tanda akan dilakukan panen padi. Dan dilakukan upacara adat di rumah betang secara serempak. Dengan tujuan agar mendapatkan hasil panen yang banyak

 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Masyarakat Dayak Iban memperoleh bahan konsumsi seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan lauk pauk dari apa yang telah disediakan oleh alam. Sayur-sayuran yang berasal dari hutan seperti rebung, pakis, berbagai jenis jamur dan berbagai macam umbut. Buah-buahan yang ada di hutan seperti buahan-buahan tembawang, dan buah-buahan lain yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Penyediaan lauk pauk oleh hutan melalui aneka jenis hewan yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Di sungai terdapat bermacam ikan yang bisa didapat dengan cara-cara tradisional
Sumber Kesehatan & Kecantikan -
Papan dan Bahan Infrastruktur -
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu -
Sumber Pendapatan Ekonomi -

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK No. 461 Tahun 2019 Tentang Pembentuan Panitia MHA No. 461 Tahun 2019 Tentang Pembentuan Panitia MHA SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 Perda Kab. Kapuas Hulu No. 13 Tahun 2018 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA No. 13 Tahun 2018 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen