Wilayah Adat

Tondok (kampung) Limbong

 Teregistrasi

Nama Komunitas Limbong
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Rongkong
Desa Limbong
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 10.519 Ha
Satuan Tondok (kampung) Limbong
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Buntu malimongan, salu sangkinan, buntu malika, buntu tiro bali, tamantajang, salu lengko, panda ule, buntu melimongan, WA Kariango (Beroppa)
Batas Selatan Salu tabantajang, salu sangkinan, salu tabuakna, salu uro, salu malika, borong tirobali, buntu malimongan, jalan poros kawalean manganan, WA Limbong
Batas Timur WA Marampa
Batas Utara Salu Lengko, buntu malimongan, rinding allo

Kependudukan

Jumlah KK 115
Jumlah Laki-laki 69
Jumlah Perempuan 63
Mata Pencaharian utama Bertani (ma’tampang) dan berkebun (ma’bela’/ ma’ kopi)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas adat Limbong adalah turunan dari seorang yang bernama Lamarancina yang disebut To Rongkong. Menurut sejarah bahwa Lamarancina adalah sepupu satu kali Sawerigading. Selanjutnya Lamarancina yang menyebarkan keturunan pertama di tana rongkong. Kampung pertama dair penyebaran manusia di tana rongkong yaitu Kanandede dan Uri. Di Kanandede bernama Ne’ Bulu dan di Uri bernama Ne’ Maula, mereka bersaudara.
Komunitas adat Limbong merupakan komunitas yang tertua dan kampung tertua di tana rongkong yang kemudian mengangkat tomakaka pertama yang bernama Wijo Langi. Kemudian membentuk kelembagaan adat dan menyebarkan keturunannya sampai pada tomakaka terakhir saat ini adalah Bunga Melati.
Masyarakat adat Limbong yang dipimpin oleh seorang Tomakaka dan membentuk satu perkampungan maka masyarakat kembali melakukan musayawarah (massiaja’) untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka. Pada saat itu tomakaka pertama adalah Tomakaka Salassa dan Tomakaka Jalakka/ Ulu Tondok.
1. Jamali/ Batoa
Komunitas adat Limbong sudah berada sejak berdirinya kampung Limbong yang masuk dalam Desa Limbong oleh Tomakaka pertama. Sehingga masyarakat adat limbong secara turun temurun mendiami kampung tersebut sampai sekarang dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Limbong.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Panggala ada’ (panggala damar) adalah hutan yang dititipkan atau diwariskan leluhur untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan adat yang hanya boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada di dalamnya. Getah damar (lite dama’)
Kurra’ adalah lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan hanya sampai 3 tahun, lalu diolah kembali untuk ditanami tanaman palawija seperti sayur, padi, jagung, dl (tabuan, borong, lentung, passuso, salu bolu, masappa)
Kurra matua adalah lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan hanya sampai 15 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami padi, cokelat, kopi, merica, dll.
Tampang (sawah) adalah lahan persawahan yang secara turun temurun menjadi sumber pangan yang diolah dengan sistem pengairan tradisional dan areal yaitu katimbang tuara’, tirobali, karuti, sarira, pa’longki’, nase, patondokan, lassa, Salu sawa, lelating, salu todan, pambalasan.
Tonfok (pemukiman) adalah areal perumahan penduduk beserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan. Arealnya yaitu limbong (perkampungan), buntu bulawan (perkampungan), salu tallang (perkampungan), tuara (persawahan), katimbang (persawahan),. Karuti (persawahan), sarira (persawahan), pa’longki (persawahan), nase (persawahan), patondokan (persawhaan), lassa’ (persawahan), salu sawa (persawhan), lelating (persawahan), salu todan (persawahan), pambalasan (persawhaan).
 
Secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Wilayah individu merupakan area yang sudah dikelola oleh masyarakat seperti area tondok (hunian), tampang (sawah), dan bela (kebun)
2. Lahan yang dikelola secara turun temurun oleh satu rumpun atau satu garis keturunan (sangpemanak) saudara atau sepupu, dan tidak boleh dipindahtangankan ke pihak yang lain. Apabila sudah tidak dikelola lagi maka lahan tersebut akan kembali ke lembaga adat dan akan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolanya (mana’)
3. Tanah yang dikelola secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat adat seperti kayu dll (sangrapuan)
 

Kelembagaan Adat

Nama Limbong
Struktur Tomakaka (tomakaka jalakka & tomakaka salassa) Pongngarong (pongarong pare & pongarong dalle) Tosiaja Lantek padang Uragi
Tomakaka: yang memimpin masyarakat adat setempat untuk menjalankan hukum adat
Tosiaja: khusus keamanan dan ketertiban
Pongngarong: membangun kehidupan masyarakat adat. Pongarong pare membidangi persawahan, pongngarong dalle membidangi perkebunan.
Lantek padang: pesuruh
 
Hampir secara keseluruhan pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin lembaga adat.
Ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah (masiaja’) dengan para perangkat adat.
Yang masuk ke dalam keputusan melalui musyawarah adat Tomakaka misalnya perkelahian, pencurian, kasus tanah, asusila atau persinahan.
 

Hukum Adat

Mangngambo: ma’mesa
Ma’rampang: syukuran padi sudah berbuah
Ma’po’o: syukuran selesai panen padi
Tampang: massiaja ma’mesa lampalao bunga lalan (menghambur benih pertama) melaksanakan upacara adat setiap turun sawah atau sebelum menghambur beni yang dilaksanakan di rumah kediaman pongngarong sendiri.
Ma’kurru sumang/ ma’bua: melaksanakan upacara adat pada awal musim tanam padi dan waktu selesai panen (syukuran panen)
Mengali kubur: apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan saat musim tanam padi di sawah, maka padi itu akan dimakan tikus dan mengakibatkan gagal panen.
 
Denda satu ekor kerbau untuk pelanggaran berat seperti assusila, merendahkan derajat orang lain.
Denda ayam untuk pelangaran ringan seperti melakukan pencurian. Semua itu dilakukan dengan musyawarah (ma’mesa).
Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukan sesuai dengan pelanggarannya.
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Lowarang dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggarannya. Istilahnya adalah Rambu Langi, batu Samberan/ dilompo-lompo (hukuman berat) mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ih=jin, segala yang dipakai atau akan dimakan harus bersih dari segala hal dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran.
 
Untuk pendatang yang masuk dalam komunitas dan melakukan pelanggaran maka hokum akan tetap diberlakukan tanpa kecuali sesuai dengan aturan yang berlaku di dalamnya.
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi berat seperti Rambua Langi’ dengan memotong 4 ekor kerbau dan 1 dipotong dan dimakan bersama masyarakat dan tidak boleh dibawa ke rumah. Jika tidak dihabiskan maka dibiarkan saja di tempat tersebut.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi: pare banjara, bandarata, bulan, lotong, beang, pare bulu ujan, sumorong, dll Umbi: ubi jalar dan singkong, kentang, wortel, dll Kacang panjang Daun paku, kata’pu, tallimbong, tandasi, karopo, umbu banga, sayur paku pakis, dll Pisang Nangka Alpukat
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing: oat ginjal Revu Nippon: obat menyembuhkan luka Lampujang: campuran bedak Jahe, kencur: obat luka lebam Kunyit, beras, daun pandan: campuran bedak Telapak kuda: lemah syahwat Bosi-bosi: luka/ muntah darah/ maag
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu uru: tiang rumah masyarakat adat Kayu kata: batang kayu bitti untuk dinding rumah Londong, annaja, pangkulang, pinus, dll Kayu merantatang kayu Kayu cempaka: rangka dinding rumah Batu: alas tiang rumah, dll
Sumber Sandang Bambu: untuk membuat nyiru Daun pandan (nase): membuat baku, tikar, tudung kepala
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cabe, kencur, jahe, sereh, lengkuas, daun bawang, daun kemangi, kunyit: campuran bumbu masak Mangga, belimbing, asam tuak, kedundung, dengen, patikala: penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, padi, cokelat, getah damar, dll

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Luwu Utara No 2 Tahun 2020 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat 2 Tahun 2020 Perda Kabupaten Luwu Utara No 2 Tahun 2020 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen