Wilayah Adat

Rumah Panjae Menua Sui Utik

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Komunitas Iban Menua Sui Utik
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Embaloh Hulu
Desa Batu Lintang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 9.442 Ha
Satuan Rumah Panjae Menua Sui Utik
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kampung Kulan
Batas Selatan Kampung Pala Pintas dan Sungai Cemeru
Batas Timur Menua Mungguk
Batas Utara Dajoh sekitar 6 Km dari Taman Nasional Betung Kerihun

Kependudukan

Jumlah KK 83
Jumlah Laki-laki 134
Jumlah Perempuan 165
Mata Pencaharian utama Berladang dan berburu, Menderes Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas yang mendiami Menua Sungai Utik berasal dari dua kelompok, pertama kelompok yang dipimpin Pateh Judan dan yang kedua dipimpin oleh Ijun dan Akob. Kelompok Judan berangkat dari Menua Lanjak (Sepan) sedangkan kelompok Ijon berangkat dari Sungai Abao. Perjalanan kelompok ini mencari (kerja) rotan bersama seorang suku Tamambaloh yang bernama Unyop, karena wilayah tempat mereka kerja rotan sebagai wilayahnya suku Tamambaloh. Sebuah wilayah yang subur dan kaya sehingga ketika orang sekembalinya dari kerja rotan mereka bilang “bubu kalau ditahan dengan dikepit saja bisa dapat ikan”. Selanjutnya, Pateh Judan meminta kepada Samagat Tamambaloh bernama Malin yang dikenal Ma’ Lunsa bermukim di Ulak Paok sebagai orang yang berkuasa atas wilayah tersebut ketika itu.

Proses permintaan wilayah secara kekeluargaan oleh Pateh Iban kepada Samagat Ma’ Lunsa dilalui proses perjanjian adat, diantaranya memuat “bedilang besai, bejabung panjai, bedok betalaga darah” yang artinya jika orang Iban menempati wilayah suku Tamambaloh, maka harus mengikuti kebiasaan suku Tamambaloh dan tidak boleh mengganggu suku Tamambaloh dan orang lainnya. Perjanjian adat ini dikukuhkan dengan sumpah tabor beras kuning, 2 ekor babi, 2 ekor ayam, disertai dengan bekempit darah (masing-masing pihak melukai lengannya dengan mandau, darah dihisap/diminum satu sama lain, menunjukkan sahnya sumpah perjanjian adat dan terjalinnya persaudaraan antara Tamambaloh dan Iban), juga memakai kujur (tombak untuk membunuh babi). Dalam perjanjian itu juga orang Tamambaloh memberikan tanda mata satu Temabawai Embaloh kepada orang Iban.

Kampung Sungai Utik pertama kali datang dari Lanjak, namun karena ladang sering terserang hama belalang besi maka mereka pindah dari Lanjak menuju Sungai Abau dan tepatnya di Sungai Kersik. Tanpa diketahui alasan yang jelas dari Sungai Kersih mereka pindah ke Lanjak lagi, dan dari Lanjak pindah ke Sungai Abau. Akibat perpindahan ini terpecah menjadi dua kelompok, dengan perpindahan sebagai berikut :
1. Kelompok Ijon pindah ke Palapintas dengan jumlah 6 buah pintu, dan Ijon selaku Tuai Rumah. Selanjutnya dikenal dengan nama Tembawai Palapintas Merundup.
2. Kelompok Pateh Judah pindah ke Belatong dengan jumlah 7 buah pintu, dan Pateh Judan selaku Tuai Rumah. Bekas rumah kelompok ini disebut Tembawai Sungai Belatong.
3. Kelompok Ijon pindah ke Tembawai Pantak karena banjir dan kelompok Pateh Judan kemudian pindah ke Tembawai Pinang.
4. Untuk kemudahan pengurusan, para tetua adat kelompok tersebut bersepakat pindah ke tempat yang sama yaitu di Tembawai Inyak, tembawai ini dihuni kurang lebih 30 tahun dengan jumlah 19 pintu. Tembawai ini dipimpin oleh Pateh Judan, yang kemudian menjadi Temenggung Jalai Lintang.
5. Tembawai Sungai Aji, ditempati sekitar 20 tahun, dihuni 27 pintu.
6. Tembawai Gerunggang, sekitar tahun 1894-1899, dihuni 14 pintu.
7. Tembawai Rerak, sekitar tahun 1899-1907, dihuni 15 pintu.
8. Tembawai Mugang, sekitar tahun 1907-1922, dihuni 16 pintu.
9. Tembawai Pantap, sekitar tahun 1922-1950, dihuni 19 pintu.
10. Tembawai Kenyalang, sekitar tahun 1950-1956, dihuni 18 pintu.
11. Tembawai Dampak Sungai Aji Puntul, sekitar tahun 1956-1957, dihuni hanya setahun dan pindah lagi karena sering terjadi kematian disebabkan rumah rumah angat (sering terjadi perkelahian).
12. Tembawai Uji Bilik, sekitar tahun 1957-1972, dihuni 25 pintu, karena rumah rusak maka pindah pada tahun 1972.
13. Rumah Panjang Sungai Utik, tahun 1972 sampai sekarang, saat ini dihuni 28 pintu. Ada tambahan 18 pelaboh (rumah tunggal).

Sejarah kepemimpinan Tuai Rumah Panjai Sungai Utik dimulai dari Ranggai (1972-1986), meninggalnya Ranggai pada tahun 1986 digantikan oleh anaknya Bandi (Apai Janggut) sampai sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian Kawasan Hutan

1. Kampung Taroh, yaitu Kawasan hutan yang tidak boleh diladangi, tidak boleh diambil kayunya. Terletak jauh ke hulu di sebelah utara rumah betang. Ditemukan danau kecil berair agak asin. Menurut kepercayaan masyarakat Iban danau semacam ini disebut Sepan Jelu dan sebagai tempat binatang hutan minum. Dalam kawasan ini terdapat sumber mata air, tanah berhantu, tempat berkembang biak dan mencari makan binatang.
2. Kampung Galao, Kawasan hutan produksi terbatas. Masyarakat dapat mengambil tanaman obat-obatan, kayu bakar, kayu pembuat sampan dengan pengawasan adat yang ketat lengkap dengan sanksinya. Hak pemanfaatan hanya bagi masyarakat kampung setempat. Di beberapa bagian kawasan ini juga dijumpai Sepan Jelu, tanah mali, dan tanah berhantu.
3. Kampung Embor kerja, Kawasan produksi berkelanjutan yang dikelola dengan prinsip keadilan dan kelestarian menurut (hukum) adat setempat. Di kawasan ini terdapat pula tanah mali dan tanah bertuah yang tidak dijadikan kawasan produksi sehingga masyarakat kampung menghindari penebangan kayu pada kawasan kawasan tersebut. Tanah mali dan bertuah dalam kawasan ini hanya dijadikan sumber bibit kayu dan tumbuhan laiinnya. Diameter pohon di bawah diameter 30 cm dibiarkan dan tidak diganggu.
Peruntukan kawasan Hutan:
1. Rumah Panjae: Kawasan pemukiman penduduk yang di dalamnya terdapat beberapa keluarga dalam bilik-bilik. Rumah ini menjadi identitas adat dan harkat hidup masyarakat Iban pada umumnya dimana kegiatan adat istiadat dan kehidupan sosial kesehariannya dilakukan. Kehilangan rumah ini mengartikan hilangnya akar budaya masyarakat setempat, dengan demikian menjadi aset budaya.
2. Taba: Tempat atau lokasi atau kawasan dimana Rumah Panjae didirikan atau dibangun yang didahului dengan ritual upacara adat.
3. Temawai: Kawasan bekas mendirikan Rumah Panjae atau Langkau (pondok). Dikenal 3 jenis Temawai:
• Temawai Rumah Panjae: perkampungan yang dihuni beberapa tahun dan kemudian ditinggalkan dan berpindah ke tempat lainnya. Bekas kawasan ini ditumbuhi jenis tanaman buah-buahan (durian, rambutan, langsat, asam, pinang, cempedak, rambai, rotan, tengkawang, dan tanaman bumbu-bumbuan lainnya.
• Temawai Dampa’ (sementara), merupakan lokasi bekas perkampungan Rumah Panjae namun sifatnya sementara karena masyarakat pindah dari perkampungan tersebut akibat suatu kejadian yang tidak mereka duga.
• Temawai Langkao Umai, merupakan tempat bekas mendirikan pondok ladang. Disekitar pondok ladang biasanya ditanami tanaman sayur-sayuran, bumbu-bumbuan, pisang, dan lain-lain.
4. Damun: Kawasan bekas ladang yang pada mulanya merupakan hutan primer yang dibuka. Orang pertama pembuka hutan primer ini yang kemudian menjadi pemilik Damun. Kepemilikan Damun adalah perorangan dan dapat diwariskan kepada keluarganya. Dikenal 5 jenis Damun:
- Pengerang Tuai, yaitu Damun yang berumur antara 15-20 tahun.
- Pengerang, yaitu Damun yang berumur antara 10-15 tahun.
- Temuda, yaitu Damun yang berumur antara 3-5 tahun.
- Dijab, yaitu Damun yang berumur 2 tahun berupa semak belukar yang ditumbuhi kayu-kayu kecil, tanaman ladang seperti tebu, pisang, ubi, tanaman sayur-sayuran, ubi jalar, dan lain-lain.
- Kerukoh, yaitu Damun yang berumur 1 tahun yang biasanya masih terdapat tanaman ladang seperti tebu, keladi, ubi, dan cangkok manis, bumbu-bumbuan dan lain-lain serta ditumbuhi semak-semak kecil.
5. Tanah Mali: Kawasan hutan atau tanah pantang yang tidak boleh dibuka sebagai areal ladang. Biasanya tanah mali digunakan sebagai tempat untuk menyembelih babi atau ayam yang digunakan sebagai bahan pada saat upacara adat mali, yang dalam bahasa lokal disebut “pase’ memua”.
6. Kampong Puang/Tanah Adat: Tanah/hutan yang dimiliki secara kolektif (bersama-sama) oleh orang keturunan masyarakat Iban di dalam suatu perkampungan yang didiaminya. Setiap orang Iban yang tinggal di kawasan tersebut berhak atas tanah/hutan tersebut.
7. Pendam: Tanah yang digunakan sebagai tempat perkuburan. Kawasan ini tidak boleh diladangi dan diganggu. Dalam kehidupan masyarakat Iban ada beberapa jenis pendam:
- Pendam biasa, yaitu tempat yang digunakan untuk menguburkan siapapun warga kampung yang meninggal.
- Rarong, yaitu tanah kuburan yang secara khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggal dalam usia tua yang memiliki jasa dan dapat dianggap pahlawan dalam masyarakat Iban.
- Pendam anak, yaitu kuburan yang digunakan untuk menguburkan bayi yang belum putus tali pusatnya.
8. Pengayut Aek: Aliran sungai yang ada di kawasan adat masyarakat Iban yang berfungsi sebagai sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biasanya digunakan sebagai jalur transportasi.
9. Pulau: Kawasan hutan yang berfungsi sebagai hutan cadangan. Ada beberapa jenis pulau seperti pulau buah, pulau tapang (penghasil lebah madu), dan pulau kayu bahan-bahan rumah, perahu dan sejenisnya.
10. Hutan Simpan: Kawasan hutan yang dilindungi, berfungsi sebagai hutan cadangan, dan merupakan milik umum orang sekampung.

 
Penguasaan lahan yang tampak di masyarakat Sungai Utik adalah dalam bentuk ladang, kebun karet, dan pulau (pulai) yang masih berupa tegakan hutan. Merujuk pada fungsi dan aturan-aturan adat di kelembagaan Rumah Panjae, penguasaan dan pemanfaatan tanah di wilayah adat Sungai Utik mengatur wilayahnya menjadi wilayah Taroh, Galao dan Endor




 

Kelembagaan Adat

Nama Rumah Panjae Menua Sungai Utik
Struktur Tuai Rumah, Sapit Tuai Rumah
Tuai Rumah: Mengatur tata tertib rumah panjang dan adat istiadat sehari-hari seperti gawak, rapat, mencuri buah, ternak, rumah rusak, berladang, bertamu dan sebagainya.

Sapit Tuai Rumah: Mengantikan Tuai Rumah jika berhalangan, namun demikian ’Sapit Tuai Rumah’ tidak berwenang mengambil keputusan-keputusan adat.
 
Kepemimpinan seorang Tuai Rumah bersifat kolektif. Oleh karena itu dalam menjalankan kepemimpinannya selalu mengedepankan musyawarah mufakat adat untuk mengambil keputusan-keputusan penting di masyarakat maupun di wilayah hukum (hutan) adatnya. Keputusan-keputusan adat yang diambil terutama berdasarkan pertimbangan tokoh-tokoh atau tua-tua adat lainnya di masyarakat. 

Hukum Adat

1. Adat ngangus, mengatur denda akibat kegiatan membakar yang dilakukan seseorang menyebabkan orang lain mengalami kerugian. Membakar merupakan satu bagian dari kegiatan penting pertanian dan karenanya pelaksanaannya harus diatur dengan baik.
2. Adat ngeranggar, mengatur denda saat seseorang melanggar hak atau batas kepemilikan orang lain, dan menyebabkan orang tersebut mengalami kerugian.
Aturan (kesepakatan) tertulis dalam kegiatan pengelolaan hutan produksi, yang telah tersedia, yaitu dalam kegiatan penebangan, yang terdiri dari: penetapan diameter, jenis dan lokasi tebang, serta jenis alat yang diijinkan (chainsaw, parang, kapak/beliung). Jenis pohon yang dilarang ditebang adalah jenis pohon madu, dan jenis pohon langka. Pepohonan yang diijinkan ditebang selain yang terdapat di kawasan hutan produksi, adalah pepohonan yang terdapat di areal pulau-pulau, kepala damon, dan ladang-ladang tua.

Aturan tidak tertulis dalam penebangan pohon, yaitu: penebangan pohon diijinkan untuk pohon-pohon yang berlokasi di kawasan hutan produksi terbatas untuk keperluan sendiri (rumah tangga). Selain terdapat auturan penebangan, telah terdapat juga aturan tertulis mengenai penjualan kayu.
 
1. Adat pati nyawa dan setengah pati nyawa, mengatur denda yang berkaitan dengan pelanggaran telah menghilangkan nyawa seseorang atau menyebabkan orang lain sakit.
2. Adat belaki bebini, mengatur denda dalam hubungan antar dua orang yang terikat perkawinan, termasuk di dalamnya perceraian, meninggalkan pasangan, dan perselingkuhan.
3. Adat ngencuri, mengatur denda akibat pencurian.
4. Adat laya’, mengatur denda karena perkelahian.
5. Adat pemalu, mengatur denda akibat seseorang mempermalukan orang lain dan orang tersebut tidak terima, termasuk dalam hal ini kebohongan dan tuduhan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
6. Adat penti pemali, mengatur denda dan pelaksanaan pantang yang diwajibkan secara adat. Masyarakat Iban memberikan penghormatan kepada alam dan manusia sehingga setiap peristiwa harus ada kompensasinya. Apabila seseorang meninggal dunia, maka pasangan, anak dan keluarganya harus menjalankan adat berpantang. Mereka tidak diperkenankan melakukan sesuatu sampai batas waktu tertentu, misalnya tidak mandi selama satu minggu, menghindari keramaian selama 3 hari dan sebagainya.
 
Jika ada persoalan-persoalan mengenai sosial dan juga menyangkut wilayah adat dan kekayaan alamnya, maka akan diselesaikan oleh kelembagaan adat Rumah Panjae. Para pelanggar adat dikenai hukuman denda yang besarnya ditetapkan oleh temenggung. Denda itu biasanya berupa peralatan makan, alat dapur dan perkakas yang mempunyai nilai tinggi karena berasal dari daerah yang jauh atau koleksi benda antik. Misalnya Piring keramik cina putih polos, adalah contoh barang untuk membayar denda. Namun karena barang-barang tersebut semakin susah diperoleh, maka temenggung mengkonversinya menjadi sejumlah uang; barang-barang denda diberi nilai untuk menemukan konversinya dalam rupiah.

 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Ubi, Keladi, Ubi Jalar, Terung Asam, Terung Bulu, Timun, Buah-buahan.
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Meranti, Kapur, Tekam, Ladan, Gerunggang, Pelaik, Kempas, Jelutung. Belian, Kelansau, Resak dan kelampai.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi Ladang, Rotan, Tengkawang, Bemban, Madu, Buah-buahan, Kayu dan Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Dayak Iban Menua Sungai Utik Ketemenggungan Jalai Lintang Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu 561 Tahun 2019 SK Pengakuan MHA Dayak Iban Sungai Utik oleh Wakil Bupati Kapuas Hulu SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen