Wilayah Adat

Kampukng Karangan Panjang

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Laman Tawa Kampukng Karangan Panjang
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Sokan
Desa Nanga Ora
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 13.336 Ha
Satuan Kampukng Karangan Panjang
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan: 1. Dusun Tanjung Sedawak (Desa Penyengkuang) mulai dari Bukit Batu Hitamp, Bukit Nate Maro, Sungai Maro, Sungai Duritn, Sungai Suritn, Sungai Tang ilingk, Sungai Raya, Sungai Kajahatn, Sungai Gantabant, Sungai Rampa, sampai ke Sungai Dadap. 2. Dusun Penyengkuang (Desa Penyengkuang) mulai dari Sungai Dadap, Sungai kompas, Bukit Palanakng, Bukit Omang Lapatn, Sungai Tagini, Sungai Tarawih, Bukit Nikung Bulu, sampai Sungai Bale Ringin.
Batas Selatan Desa Bintang Mengalih (kalteng) Dari Penyapatan Kalteng- Kalbar, Bukit Panyapat, Bukit Sabaguruhan, Nate Koja, sampai Bukit Batu hitapm.
Batas Timur Berbatasan dengan: 1. Desa Keluing Taja mulai dari Sungai Sopatan Kalasi, Bukit Silikng Barasa, Bukit Silikng Pampa, sampai Sungai Bagansar. 2. Kampung Boyutn mulai dari Sungai Bagansar, Bukit Panyaronangan, Bukit Tanga Batakng, Bukit Ropus, Sungai Kapadi, Sungai Kapayang, sampai ke Penyapat Lomer. 3. Dusun Beringin jaya Dari Penyapat Lomer, Bukit Manyalitn, Nate Banuah, Bukit Parahu, Bukit Gahakng, sampai Penyapatan Kalteng-Kalbar.
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Keluing Taja mulai dari Sungai Bale Ringin sampai Sungai Sopatan Kalasi.

Kependudukan

Jumlah KK 96
Jumlah Laki-laki 187
Jumlah Perempuan 187
Mata Pencaharian utama Petani dan Penoreh karet.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

A. Sejarah Perpindahan
Penamaan kampung karangan panjang pertama kalinya ditemukan terdapat hamparan karangan yang panjang di sepanjang sungai pinoh. Orang pertama yang mangul (memberi tanda secara adat) wilayah ini adalah kakek patoh johit. Beliau berasal dari kampung bintang mengalih.
Sebelum di Karangan Panjang sekarang, paling awal mereka berasal dari Labe Lawe – daerah Pantai kapuas, selanjutnya pindah ke Laman Sungai Pak --- Pantai sungai Pinoh di hilir kecamatan Sayan, masih terdapat KampukngBuah ( Tembawang), Selanjutnya pindah ke Sokan, dari Sokan pindah ke Laman Nusa Mentawa--- letaknya di pantai sungai Pinoh, kibak mudik, seberang KampukngLibas Sekarang, di laman inilah awalnya suku ini diberi nama suku dayak Laman Tawa, dari laman Tawa mereka pindah ke Laman Sungai Panak--- di sungai Dangku, alasan pindah dari laman Tawa ke Laman Sungai Panak karena takut diislamkan, zaman itu dikenal mereka dengan zaman Islam Serikat, dari laman sungai panak mereka pindah ke dua tempat masing masing ke Laman Ngabuh dan Bintang Mengalih --- wilayah Kalimantan Tengah, termasuk kakek Patih Johit termasuk bagian yang pindah Bintang Mengalih. Dari laman Ngabuh dan Bintang Mengalih mereka pintah ke Karangan Panjang pada tahun 1962, terdiri dari 4 kepala keluarga, masing-masing : Pintar, Aga, Tengel dan Tako, setelah pemecahan Kampukngjadi dusun tahun 2008 zaman pak Ohon sebagai kepala desa Nanga Ora, maka laman/ Kampukng Karangan Panjang menjadi 2 dusun, dusun Ngabu dan dusun Gurung Agung.

B. Sejarah Keturunan
Dari Ninik Ribu ( L ) di Laman Nusa Tawa, dari Ninik Ribu turun ke Gontapm (L) di Laman Sungai Panak, dari Gontapm turun ke Riak (P) di laman Sungai Ngabu, dari Riak turun ke Munsakng (L) di Laman Sungai Ngabu, dari Munsakng turun ke Tengos (L) di Laman Sungai Ngabu, dari Tengos turun ke Patol (L) di laman Karangan Panjang, dari Patol turun ke Juanda (L) di Laman Karangan Panjang, dari Juanda Turun ke Jianto (L) di Laman Karangan Panjang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

a. Kampukng Buah ( Tengkawang )
Berdasarkan pembentukannya Kampukngbuah terbentuk dari bekas kampung, dukuh atau ladang yang ditinggalkan.Dengan ditingalkannya lokasi-lokasi yang banyak tanaman buahnya inilah menjadi Kampukng buah.Jika terbentuk dari bekas Kampukng maka kepemilikan Kampukngbuah menjadi hak sekampung, tetapi jika terbentuk dari dukuh dan ladang maka haknya menjadi individu yang memiliki dukuh dan ladang.

b. Rima/ Rimo
yaitu kawasan Hutan yang didalamnya masih terdapat pohon-pohon besar, sumber mata air, gaharu, dan hewan-hewan buruan. Di Dalam Rima terdapat Tempat Keramat yang merupakan lokasi sakral, Keramat memiliki hubungan psikologis antara masyarakat kampung, baik dengan roh nenek moyang, penunggu alam dan Duata. Masyarakat dayak Laman Tawa di Kampukng Karangan Panjang memiliki 4 lokasi keramat : Pangulan Laman, Lampahukng Puaka, Nate’ Botukng dan Kayu Hara

c. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman masyarakat.



d. Kobutn Karet
Kobutn karet atau kebun karet merupakan lokasi terdapat tanaman karet, walaupun kebun karet lokasi ini juga banyak dijumpai pohon-pohon buah dan bambu.

e. Babas/bawas
merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo.

f. Loncah/Umo
kawasan yang ditanami tumbuhan dan tanaman bernilai ekonomi atau Tempat bercocok tanam. 
Secara adat, kepemilikan atas tanah atau lahan dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:
Pertama: ompu’ iko atau kepemilikan perseorangan/individu. Sistem ini didasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan(rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga dari warisan orang tua. (Loncah, bawas, kobutn karet, Laman, Tengkawang)


Kedua: ompu’ parine’ yaitu tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut. (Loncah, bawas, kobutn karet, Laman, Tengkawang)

Ketiga: kepemilikan Ompu’ Kampung adalah kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik bersama satu kampung atau milik kolektif/komunal (Rimo) 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Dayak Laman Tawa Kampukng Karangan Panjang.
Struktur Susunan struktur lembaga adat komunitas dayak Laman Tawa Kampukng Karangan Panjang yang berkaitan dengan pengabilan keputusan (pemangku adat) Proses Pemilihan melalui musyawarah adat, menghadirkan seluruh masyarakat. Masa jabat seorang temenggung dan mantir adat tidak ditentukan tergantung kesanggupan yang bersangkutan
1. Manter Laman/ Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat tingkat kampung.

2. Kepala Lawang bertugas mewakili marganya dalam hal-hal yang bersifat social misalnya mengumpulkan bantuan atau santunan untuk perayaan-perayaan tertentu dan membantu tugas manter laman.

3. Macan Muda: Membantu Tugas Kepala Lawang apabila sedang berhalangan

Catatan
Kelembagaan ini berada dalam ketemenggungan Nanga Ora Apabila ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh ketua adat, maka akan diserahkan kepada Temenggung untuk menyelesaikan perkara tersebut. 
Melalui rapat/musyawarah adat (Bapokat)
Musyawarah ini dengan melibatkan seluruh warga kampung yang dipimpin langsung oleh pengurus adat. Pelaksanaan biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah ketua adat. 

Hukum Adat

Aturan tentang Umo:

- apabila orang membuat umo, maka dia harus membuat skat/penyiangan api dengan ukuran minimal 3 (tiga) depak dan maksimal 5 (lima) depak Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut dikenakan sanksi adat yang disebut dengan “ulun”, yakni:
- Membuat umo di sekitar gupung mali sehingga menyebabkan gupung tersebut rusak, dikenakan sanksi adat pemali 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di posar, dikenakan sanksi adat pemali kubur sebesar 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di tanah mali, yakni adat temuni sebesar 1 (satu) ulun setiap temuni ditambah kokah sengkolan; adat kerobah sebesar 8 (delapan) ulun;
- Apabila membakar ladang (umo), apinya menjalar pada skat api 3 depak, maka kena sanksi adat 3 ulun;
- Apabila api menjalar pada skat api 5 depak, maka sanksi adat 2 ulun.
- Membuka umo hanya boleh ditempat yang belum dibuka oleh orang sebelumnya
- Beumo di lahan orang tanpa seijin pemiliknya akan dikenakan sanksi berupa ganti rugi sesuai dengan yang disepakai
- apabila seseorang/kelompok orang ingin membuka umo rima’, maka orang tersebut harus melakukan musyawarah dan minta ijin dengan seluruh warga masyarakat adat setempat terlebih dahulu. Mereka juga mengenal wilayah jelajah berburu yang mencakup seluruh wilayah adat


Aturan tentang Rimo
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh ditangkap dan dipotong Bersama-sama 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan, balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.

Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang.
Selain itu ada juga aturan adat yang mengatur tentang pernikahan, Kematian dan hajatan. Antara lain:


1. Adat Nyadi Barumahan ( Menikah)
Adat Nyadi Barumahan atau menikah.Untuk prosesi adat Nyadi Barumahan harus melalui beberapa tahapan, mulai :
- Tantanyaia
Tantanyaia dimana utusan keluarga dari pihak laki-laki pergi kerumah pihak perempuan yang akan dilamar. Dalam pertemuan tersebut utusan dari pihak laki –laki menyampaikan niat untuk meminang anak perempuan mereka.Tidak ada barang bawaan.
- Batunang
Setelah tantanyaia dan pihak perempuan menerima, maka dilanjutkan dengan adat tantunangan. Dalam tahapan tantungan pihak laki-laki harus melibatkan setidaknya 2 orang pengurus Kampukngserta membawa serahan berupa 1 buah cincin, 1 buah piring kaca, uang Rp 50.000, 1 lembar kain batik, 1 botol tuak dan 1 ekor anak ayam. Jika barang-barang ini sudah dilengkapai oleh pihak laki-laki maka adat tunangan telah syah.Lamanya tunangan antara 3 bulan hingga 1 tahun.
- Adat Bajadi
Setelah melewati proses batunang, dilanjutkan dengan adat bajadi

2. Adat Meninggal
- Adat Mati Wajar
• Parusa adalah adat parusa merupakan dilaksanakan jika mayat orang meninggal ditahan 1 – 2 hari di rumah, baru dikuburkan. Dalam adat parusa keluarga harus menyiapkan 3 buah tempayan tuak, 1 ekor babi dan 1 ekor ayam.
• Patahantu adalah Adat mati biasa dimana mayat disimpan dirumah 1 minggu – 1 bulan.
• Untuk adat ini pihak keluarga menyiapkan 12 tempayan tuak,3 ekor babi serta 20 kulak beras pulut. Kemudian beras pulut tersebut di masak dijadikan lemang untk dimakan waktu makan bersama.
- Adat Pati
Adat meninggal Adat pati dikenakan jika kematiannya tidak wajar, adatnya yang dikeluarkan sama dengan adat patahantu dan juga harus mengisi denda adat berupa 30 belanga ( sekarang diganti 350 gram emas )
3. Adat Tajar Niat
Ritual adat ini dilaksanakan oleh masyarakat bertujuan untuk memohon kepada Duata Sangiakng agar terhindar dari bencana, seperti : kemarau, banjir, kebakaran, angin ribut, sampar ternak serta terserang dari serangan musuh. Ritual dilaksanakan oleh Bulitn/ dukun. Untuk proses ritual ini masyarakat akan menyiapkan 1 ekor babi dan 7 ekor ayam untuk dipotong dan ancak. Ancak akan diisi dengan nasi-pulut, daging ayam, babi, tuak dan air putih. Ancak yang telah diisi tersebut, jika musim kemarau akan dipasang di tengah sungai sedang jika musim banjir akan dipasang di pantai sungai.
4. Adat Mani’a Ucin
Adat mani’a ucin merupakan adat yang dilakukan saat memandikan bayi, tujuannya memohon kepada Duata Sangiakng agar Ucin ( bayi) dan Ibu yang melahirkan bisa selalu sehat, panjang umur dan murah rejeki
5. Adat Basunat
Adat basunat merupakan adat yang dijalanani seorang anak laki-laki yang mulai beranjak dewasa, biasanya dilaksanakan jika anak telah berumur kurang lebih 10 tahun 
Apabila terjadi pelanggaran akan disidang adat oleh ketua adat dan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Ubi kayu, jagung, padi, Protein nabati: kacang tanah, kacang merah, Protein hewani Babi, rusa, pelanduk dan ikan Sayuran: Tebu, timun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, keladai dan kucai, sawi, kangkong, jengkol. Buah-buahan adalah buah rambai , kapul, manggis, mentawo, langsat, durian, manga, pisang, jambu.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar gelaet : untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit - Kumis kucing : untuk menyembuhkan penyakit gula , - Pasak bumi penyembuhkan rasa pegal dan nyeri, - Akar kebintang menyembuhkan sakit perut, - kayu cina buri untuk luka dan coki untuk menyembuhkan penyakit dalam - Daun cerongos, daun jambu batu untuk menghilangkan jerawat. - Daun ampor-ampor untuk membersihkan muka.
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun enau : untuk atap rumah di pondok ladang (adat) Bambu pering : untuk lantai pondok ladang Kayu sungkai ; untuk tiang dan leban Daun Sabang : untuk kelengkapan Adat
Sumber Sandang Untuk keperluan Adat istiadat masih memanfaatkan pakaian dari kulit kayu seperti. Kulit kayu kapuak : untuk membuat pakaian (adat) Getah pohon : Untuk pewarna pakaian Bulu ekor burung ruai : untuk asosoris adat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Akar Sangkubak : daunnya digunakan untuk penyedap masakan (micin) Sibuk: untuk Penyedap Rasa Asam Kandis: untuk bumbu asam pedas jenis Ikan, daging dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Durian, Jengkol

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No 4 Tahun 2018 ttg Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat No 4 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Melawi Nomor 660/176 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Karangan Panjang Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi Nomor 660/176 Tahun 2019 SK Bupati Melawi Nomor 660/176 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Karangan Panjang Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen