Wilayah Adat

Huta Utte Anggir Dolok Parmonangan

 Terverifikasi

Nama Komunitas Keturunan Ompu Umbak Siallagan
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota SIMALUNGUN
Kecamatan Dolok Panriburan
Desa Pondok Buluh
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 851 Ha
Satuan Huta Utte Anggir Dolok Parmonangan
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Bersebelahan dengan Batu Nanggar dengan batas alam Aek pogos/Sungai Pogos- Dolok/Bukit Si Sae-sae
Batas Selatan Bersebelahan dengan Batu Nanggar dengan batas yaitu daerah "Pohon" (Areal Kebun Masyarakat).
Batas Timur Bersebelahan dengan Tullpang Parhorasan/kampung dengan batas alam Aek/ Sungai Bolon
Batas Utara Bersebelahan dengan Dusun/Huta Tonga dengan batas sungai /alur Sipinggan – Dolok/bukit si Sae-sae.

Kependudukan

Jumlah KK 150
Jumlah Laki-laki 687
Jumlah Perempuan 639
Mata Pencaharian utama Petani /Peladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Ompu Umbak Siallagan merupakan masyarakat adat Toba keturunan dari Raja Ompu Umbak Siallagan. Raja Ompu Umbak Siallagan sendiri mempunyai nama asli yaitu Tondur Siallagan. Sebelum bermukim di Dolok Parmonangan, Tondur Siallagan bermukim di Huta Siallagan Ambarita di Samosir. Sekitar tahun 1700-an, ia keluar dari Samosir untuk menjenguk Ibotona (Saudara perempuannya) yang bermukim di Huta Batu Nanggar yang diperistri oleh Marga Sinaga.
Dalam perjalanan menuju Huta Batu Nanggar, Tondur Siallagan dihempas oleh angin yang begitu kuat dan mengakibatkan Solu (Sampan) yang dipakainya pecah menjadi dua bagian. Walaupun dalam perjalanan menempuh medan yang tidak mudah akhirnya sampai juga ke tempat tujuan yaitu di Huta Panahatan Ibotona (Saudara Perempuannya). Kedatangan Tondur Siallagan yang dalam perjalanannya terombang-ambing oleh ombak tersebar di Huta Batu Nanggar. Sehingga masyarakat Batu Nanggar menyebutnya dengan Umbak (Ombak) sehingga sejak saat itu Tondur Siallagan di kenal dengan nama Raja Ompu Umbak Siallagan.
Raja Ompu Umbak Siallagan adalah seseorang yang mempunyai keahlian untuk membuat Piso Halasan dan Tobbuk Lada. Selama di Huta Batu Nanggar,Raja Ompu Umbak Siallagan sangat banyak mendapat pesananan untuk pembuatan pisau dan yang lainnya. Biasanya Satu Pisau Halasan dibayar dengan seekor Kerbau. Seiring berjalannya waktu semakin banyak orang yang memesan pisau, maka semakin banyak pula kerbau yang dimiliki oleh Raja Umbak Siallagan. Sehingga beliau memutuskan untuk pindah dari Huta Batu Nanggar. Akhirnya mendapat tempat di Huta Utte Anggir yang berada di sebelah Timur dari Huta Batu Nanggar.
Huta Utte Anggir merupakan tempat pertama yang dibuka. Disanalah kemudian Raja Ompu Umbak Siallagan mengembalakan ternaknya yang sudah begitu banyak. Setelah menetap beberapa lama, kemudian pindah lagi ke Dolok Parmahanan. Alasan perpindahannya untuk memperlebar tempat penggembalaan dan tempat berladangnya.
Disanalah Raja Ompu Umbak Siallagan beserta dengan istrinya (Boru Silalahi) dan ketiga anaknya menetap. ketiga anaknya itu adalah Ompu Raido Siallagan,Ompu Paninggoran Siallagan dan Ompu Saborang Siallagan. Setelah beberapa waktu di Dolok Parmahanan. Raja Sindolok yang ber-marga Sinaga datang untuk merebut tanah yang telah di tempati oleh Raja Ompu Umbak Siallagan. Raja Sindolok menyatakan bahwa tanah yang telah ditempatinya itu adalah tanah Raja Sindolok dan meminta agar Raja Ompu Umbak Siallagan segera angkat kaki dari Dolok Parmahanan. Dengan situasi tersebut maka terjadilah perang untuk memperebutkan tanah yang ada di Dolok Parmanahan. Peperangan itu dimenangkan oleh Raja Ompu Umbak Siallagan. Setelah menang Raja Ompu Umbak Siallagan mengganti nama tempat tersebut menjadi Dolok Parmonangan. (Parmonangan yang artinya Menang).
Sejak itu dan hingga sekarang Huta Dolok Parmonangan merupakan Huta milik keturunan ketiga anak dari Raja Ompu Umbak Siallagan yang saat masih ditempati oleh keturunan ke-7 dari ketiga anaknya.
Masuknya agama ke komunitas terjadi setelah kemerdekaan. Itupun tidak semua keturunan Ompu Umbak Siallagan yang langsung memeluk agama. Ada sebagian masyarakat yang pada waktu itu belum beragama dan menjalankan ritual adat istiadat setempat. Tetapi kondisi saat ini sudah semua masyarakat yang memeluk agama. Ada yang beragama Khatolik, Kristen dan Islam. Siapa dan tahun berapa ajaran agama mulai masuk kekomunitas tidak diketahui secara pasti. walaupun saat ini mereka sudah memeluk agama, namun masih tetap menjalankan ritual adat yang sudah ada dari leluhur mereka terdahulu. Ajaran agama berjalan seiring dengan ritual adat yang ada.
Salah satu ritual adat yang masih dijalankan oleh masyarakat adat setempat adalah “Mangajab” dan “Mopang” persamaan dari ritual ini sama-sama untuk memohon keselamatan bagi manusia beserta alam semesta. Perbedaannya hanya pada tempat pelaksanaan. Mangajab dilakukan di hutan adat, sedangkan Mopang dilakukan diperkampungan.
Pada zaman penjajahan Belanda terjadi peminjaman tanah antara Belanda dengan salah satu keturunan Ompu Umbak Siallagan. Pada waktu itu Belanda mengembangkan tanaman pinus di tanah adat. Tetapi belum sempat panen, Indonesia sudah merdeka sehingga pemerintah Indonesia menyatakan bahwa tanaman pinus yang ada merupakan peninggalan Belanda yang menjadi Hak Negara. Saat ini lokasi tersebut berfungsi sebagai Kawasan hutan lindung. Masyarakat merasa keberatan. Sebab Kuburan Ompu Umbak Siallagan masuk dalam Kawasan yang dklaim sepihak oleh pemerintah. Selain itu wilayah adat Huta Utte Anggir Parmonangan tumbang tinding dengan perusahaan Raja Garuda Mas (RGM) yang sudah mengantongi ijin dari pemerintah. Adapun luasannya berkisar kurang lebih 500 Ha. Pada waktu itu pihak perusahaan menebangi tanaman-tanaman yang sudah ada seperti kopi, pinus dan bamboo sehingga masyarakat benar-benar merasa dirugikan, tetapi tidak bisa melakukan perlawanan karena juga taat pada aturan pemerintah.
Pernah terjadi negosiasi antara masyarakat dengan pihak perusahaan untuk ganti rugi tanaman yang ada walaupun jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang seharusnya mereka dapatkan. Selain dari perusahaan RGM ada juga PT. TPL yang keberadaannya hampir di seluruh wilayah adat setempat. Namun sejauh ini belum sampai terjadi konfik dengan perusahaan-perusahaan yang ada. Walaupun masyarakat sudah mengamankan kuburan Ompu Umbak Siallagan dengan melakukan semenisasi di areal kuburan.
Tetapi pada bulan 11 tahun 2018 pernah terjadi pelarangan dari Balai BLKH Aek Nauli, dengan mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada Camat, Kapolsek, dan juga Desa yang instruksinya melarang masyarakat untuk masuk dan beraktifitas di Kawasan hutan lindung. Mereka mengira bahwa masyarakat merambah hutan sedangkan yang terjadi pada waktu itu masyarakat sedang membersihkan makam leluhur dan akan melaksanakan Ritual adat. Hal tersebut langsung mendapat reaksi dari masyarakat adat dengan meminta audiensi ke BPKH. Setelah dilakukan mediasi dan masyarakat menjelaskan secara kronologis sejarahnya bahwa dalam Kawasan lindung tersebut memang terdapat makam leluhur yang merupakan bukti tonggak sejarah. Akhirnya solusi dari pihak Balai mereka mengijinkan masyrakat untuk tetap bisa melakukan Ritual adat di kawasn hutan tersebut. Dan juga diperbolehkan untuk memanfaatkan HHBK dan sumber air yang ada. Sampai saat ini masyarakat masih terus berupaya bagaimana supaya mendapatkan kembali hak ulayat adatnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Huta: Areal pemukiman dengan pekarangan di sekitarnya
2. Perhutaan: Areal bekas pemukiman yang masih dikunjungi karena ada tanaman-tanaman masyarakat dan merupakan tempat berburu untuk masyarakat.
3. Tombak Raja: Areal hutan yang dilindungi masyarakat karena didalamnya terdapat sumbermata air dan juga tempat pemakaman Ompu Umbak Siallagan.
4. Perladangan: Areal kebun/ladang masyarakat yang masih digunakan sampai sekarang.
5. Parjampalan: Areal sabana/rerumputan dan semak belukar untuk menggembalakan ternak.
6. Bambongan/Perkolaman: Kawasan perairan rawa yang digunakan sebagai tempat budidaya ikan masyarakat
7. Panosoran: Cadangan lahan untuk pemukiman
 
1. Ripe-ripe yaitu kepemilikan secara komunitas/serumpun (komunal). Seperti: Tombak Raja, Parjampalan, dan Perkolaman.
2. Panguppolon yaitu kepemilikan secara keturunan. Seperti: Huta, Perhutaan, Perladangan.
Panguppolon terbagi menjadi dua yaitu Panjaean dan Pauseang. Panjaean yaitu tanah yang diwariskan kepada anak laki-laki dan Pauseang yaitu tanah yang diwariskan kepada anak perempuan. Tanah tidak dapat dijual belikan kepada orang lain di luar komunitas masyarakat adat Umbak Siallagan karena bagi masyarakat adat Umbak Siallagan tanah merupakan identitas dan marga itu sendiri.
 

Kelembagaan Adat

Nama Huta Dolok Parmonangan
Struktur - Raja Huta (Semua keturunan ompu umbak) - Raja Jolo ( keturunan tertua) - Raja Ijolo ( keturunan yang dikedepankan/protokol) - Raja Patik (Penimbang Hukum) - Raja Binanga (Penjaga keberadaan sungai) - Raja Panuturi (Pemimpin Ritual Adat) - Sitiop Puro (Bendahara)
1. Raja Jolo ( Ama. Manupak Siallagan) fungsinya sebagai keturunan tertua/penasehat di dalam lembaga adat. Tugasnya memberikan masukan dan sebagai orang yang memberikan nasehat dalam komunitas kembaga adat.
2. Raja Ijolo (Ama. Jamauli Siallagan) fungsinya sebagai keturunan yang dikedepankan/protokol. Tugasnya sebagai pelopor didalam lembaga adat, sebagai promotor, dan sebagai pemandu adat.
3. Raja Patik (Ama. Joni Siallagan) fungsinya sebagai penimbang hukum adat. Tugasnya memberi penimbangan/sanksi di setiap pelanggaran di dalam lembaga adat.
4. Raja Binanga (Ompu Jeges Siallagan) fungsinya sebagai Penjaga keberadaan sungai. Tugasnya mengatur/menjaga kelestarian air/sungai termasuk penjagaan pohon sekitar sungai.
5. Raja Panuturi (Ama. Jamauli Siallagan) fungsinya sebagai Pemimpin Ritual Adat. Tugasnya memandu jalannya ritual adat.
6. Sitiop Puro (Ama. Leo Tindaon dan Ama. Fitri Simanjuntak) fungsinya sebagai Bendahara. Tugasnya menerima dan menjalankan uang keluar masuk didalam lembaga adat.
 
Musyawarah/Tonggok Raja. Yang biasanya dilakukan di Jabu Pasaktian (tempat musyawarah besar, tempat ritual adat). Adapun mekanisme pelaksanaannya adalah sebagi berikut:
1. Boa-boa: memberikan informasi rapat.
2. Pasihat barita: menyampaikan berita
3. Marpungu: berkumpul
4. Marhatahuasi: membicara pokok permasalan
5. Marapot sahata: menyepakati hasil pertimbangan
6. Mangolopon: memutuskan hasil rapat.
7. Dos tahi: mensahkan dan menyetujui hasil dari musyawarah
 

Hukum Adat

Hukum tentang Tombak Raja
1) Tombak Raja (Kayu yang ada di dalam tidak boleh dijual)
2) Boleh diambil kayu dari Tombak Raja kalau mau mendirikan ruma di kampung Dolok Parmonangan
3) Kalau di ambil kayu dari tomab raja cukuplah 2 pokok kayu dan harus ditanami gantinya 20 pokok bibit kayu dan harus diketahui raja kampung marga siallagan
4) Kalau mengambil kayu dari tombak raja harus ada jarak dari tepi sungai minimal 100 meter
5) Permandian Raja Oppu Umbak Siallagan yang ada di Tombak Raja tidak boleh dicemari tapi kalau ada yang ingin mandi di tempat permandian oppu Ombuk Siallagan harus sopan dan harus pakai basahan
6) Sungai yang ada di tombak raja tidak boleh dicemari
7) Segala yang ada di dalam tombak raja tidak boleh di ambil kalau tidak sepengetahuan raja kampung marga siallagan.
8) Tidak boleh sembarangan orang luar berburu di tombak raja dolok parmonangan tanpa sepengetahuan raja kampung marga siallagan
9) Kalau pun berburu marga dolok parmonangan harus ada jaraknya 7 hari sesudah manganjab dengan kerja “mombang si aapitu duddut” baru bisa diperbolehkan berburu dinamailah itu marnangsang robu.

Hukum tentang Perladangan
1) Tempat perladangan tidak boleh diperjualbelikan\
2) Tempat perladangan yang sudah milik pribadi bisa saja dijual akan tetapi harus seijin dan sepengetahuan tetua kampung
3) Jika ada yang meninggalkan perladangan milik bersama, berlaku tulak sakkul artinya ganti rugi yang harus diberikan pada keturunan Ompu Umbak Siallagan dan juga harus dari kesepakatan
4) Tidak boleh membuat perkampungan di perladangan yang sudah ditentukan
5) Ternak dilarang masuk perladangan
6) Tidak boleh menanam pisang, bambu , aren di perbatasan perladangan dan harus memberikan jalan
7) Jika ada persoalan/perselisihan dikarenakan perbatasan, tetua kampung yang harus mendamaikan.

Hukum Adat tentang Bambongan/Perkolaman
1) Perkolaman ada dua tempat, yaitu Aek(Alur) Sipinggan dan alur Bong-bongan
2) Dilarang meracuni perkolaman
3) Perkolaman yang sudah ada adalah milik kelompok
4) Tidak boleh mengambil ikan di perkolaman jika tidak untuk keperluan pesta(ritusl)adat di dolok parmonangan
5) Jika ada yang ketahuan mengambil ikan dari perkolaman tanpa sepengetahuan tetua kampung, dikeluarkan dari adat

Hukum adat di tempat penggembalaan
1) Penggembalaan tidak bisa dijual
2) Atidak boleh ada binatang ternak peliharaan milik kampung lainn, di tempat penggembalaan dolo parmonangan
3) Ternak babi dilarang di perladangan ,hewan yang boleh diperladangan adalah kerbau, kuda, lembu, kambing.
 
1) Perkampungan yang ada di dolok parmonangan ada dua kampung dinamailah itu kampung huta utte anggir dan kampung dolok parmonangan
2) Bila ada yang mendirikan kampung di dolok Parmonangan harus sepengetahuan raja kampung marga siallagan dan harus melaksanakan adat yang ada di kampung dolok parmonangan
3) Perkampungan tidak bisa dijual belikan
4) Jika ada yang pindah dari kampung dolok parmonangan maka yang boleh di minta sebagai ganti rugi adalah sesuai kesepakatan bersama “tulak sakkul”
5) Warga lain yang tinggal di kampung Dolok Parmonangan harus mengikuti adat yang ada di kampung dolok parmonangan
6) Jika ada yang mau mengadakan pesta adat di kampung dolok parmonangan harus sepengetahuan raja kampung marga siallagan dolok parmonangan
7) Ternak tidak diperbolehkan lepas diperkampungan
8) Apabila ada yang mendirikan rumah harus sepengetahuan tetua adat
9) Jika ada persoalan di kampung, tetua adat dan putrinya lah yang mendamaikan
10) Tanah Wakaf yang ada di dolok parmonangan ada dua tempat yaitu di kampung dolok parmonagan dan di kampung utte anggir
11) Jika ada yang meninggal dunia di pemakaman umumlah dibuat kuburannya
12) Jika ada yang meninggal dunia yang lain dari warga dolok parmonangan harus terlebih dahulu di mufakatkan dengan tetua adat untuk membuat pemakamannya dii pemakaman umum dan juga harus membuat ritua adat sesuai dengan kebiasaan yang ada di dolok parmonangan.
 
Belum ada kasus yang terjadi. Tetapi apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Sumber karbohidrat: padi, jagung, ubi, talas, singkong. Sumber protein nabati: kacang tanah, kacang merah atau kacang rendang. Sumber protein hewani: ikan mas, mujair, lele, julung, ayam, sapi. Sumber Vitamin (sayur): Bayam, sawi, kacang panjang, jengkol, petai, buncis, daun singkong, jepang (labu siam), waluh/jiluk (labu sayur), terung, rebung. Sumber vitamin (buah-buahan): jambu, pisang, pepaya, jambu air, jambu biji, alpukat, nanas, nangka, durian,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sikkam.: untuk obat maag Daun Sirih: perawatan gigi Pinang: Perawatan gigi Daun pepaya: obat penurun panas
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu pinus, meranti, ingul, rotan, Meang, Kemenyan,Sapinur, Hating, Butar, Lalang (Atap), Rumbia, bambu.
Sumber Sandang kapas, bayon pandan, raso (tanaman rawa), salaon (pewarna alami).
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Andaliman,Jahe,Kunyit, cabe, lengkuas, Sereh, Antarasa, cengkeh, kemangi, daun salam
Sumber Pendapatan Ekonomi Bambu, pohon aren, cabe, jahe, kopi, jagung, coklat