Wilayah Adat

Nua Boafeo

 Teregistrasi

Nama Komunitas Boa Feo (Urhu Pu’u Muku Eko Rewu Sura)
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota ENDE
Kecamatan Maukaro
Desa Boafeo
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 560 Ha
Satuan Nua Boafeo
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat - Desa Kebirangga Selatan - Kecamatan Maukaro - Kabupaten Nagekeo - Wilayah Adat Wolomari
Batas Selatan - Desa Mbotutenda - Kecamatan Ende - Laut Sawu - Wilayah Adat Mudegagi
Batas Timur - Desa Wologai - Kecamatan Ende - Kabupaten Sika - Wilayah Siga Ria
Batas Utara - Desa Mbotulaka - Kecamatan Wewaria - Laut Flores - Wilayah Mbotulaka-Sokoraja

Kependudukan

Jumlah KK 85
Jumlah Laki-laki 163
Jumlah Perempuan 186
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Tanah warisan dari Tea Bhade adalah seorang perempuan yang kawin dengan siga urhu ta reu, eko renda rewa (Tanah Besar) Letnan Gesak Keber Tahun 1918 menetapkan hamente Boafeo (Sumber : Om Alex).
Dari Wale Pela
Sejarah asal usul Tanah urhu pu’u muku eko rewu sura bermula dari sebuah kasus perkawinan terbalik yang di mana, seharusnya seorang pria dari Boafeo mengawini seorang wanita dari Wologai. Hal ini dilanggar oleh Nipa Siga yang berasal dari Wologai dimana beliau mengawini dengan paksa terhadap Tea seorang wanita dari Boafeo. Hal ini maka secara hukum adat menuntut Nipa Siga untuk melakukan pemulihan atas tindakannya yang dalam bahasa adatnya Wale Pela. Dalam proses penyelesaian melalui musyawarah, beban sanksi yang harus diberikan dari Nipa Siga berupa satu nyiru (sa idhe bai) emas (wea). Te’a tidak menanggapi atas setiap ajukan pertanyaan yang diberikan, hanya dengan gerakan tangan dalam genggaman berupa gumpalan tanah yang di gerakan berula-ulang. Gerakan tangan yang dilakukan Te’a dapat ditanggapi oleh pihak Nipa Siga berupa tanah. Maka sebagai pemulihan yang dilakukan oleh Nipa Siga berupa Tanah sebagai warisan bagi generasi embu Tea hingga saat ini.
Kalau jadi sebagai suami/istri maka rhigu pa’a rhe’e, sua bharhde ngarhu (Sumber : Petrus Pemo-Tembo rho Mosalaki Pu’u/soro bhoku)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kerhi: Areal Hutan yang dilindungi dan diambil manfaatnya yang bukan kayu. Kerhi dilindungi oleh karena adanya Uzu Ae (mata air) dan mencegah bencana alam. Sumber daya hutan di dalam Kerhi seperti Pohon Kayu: Nggura, Bazu, Keu, Weanana, Kebhu, Mboja, Wowo, dsb. Adapula fauna seperti: Wawi Oto, Dodo, Ro’a, Garugiwa, Kutu, Deoi, dsb.

Ndu’a: Areal Hutan yang diambil manfaatnya dan menjadi cadangan kebun di masa depan. Beberapa mata air di Ndu’a juga dilindungi agar tetap terjaga. Adapun beberapa hasil hutan yang diambil manfaatnya antara lain Pohon Berewawi, Pasi, Kenari, Mede, Taga, Seke, dsb. Adapula tanaman obat-obatan semisal Bhaki Kapa, Masoi, Zamarau, dsb.

Ogo-Uma: Areal Garapan yang dikelola masyarakat baik yang bersifat musiman/sementara maupun menetap/tahunan. Adapula areal yang dilindungi sebagai tempat ritual Oro Po’o. Beberapa komoditas yang dibudidayakan di dalamnya adalah: Are, Jawa, Mbue, Kemiri, Kopi, Muku, Kakao, Cengkeh, Vanili, Uwi Kaju, Uwi Jawa, Kapuk/Kapas, dsb.

Nua: Areal Pemukiman yang disekitarnya menjadi Pekarangan segala tanaman pangan dan obat-obatan seperti: Labu, Mengi (Sirih), Ev (Pinang), Naka (Nangka), Koro (Lombok), Daga (Tomat), dll. Adapun beberapa tempat yang dilindungi seperti Kuburan Leluhur Rate Embu Mamo dan Tempat Ritual Oro Po’o. 
Hak Kuasa atas tanah ulayat di Kerhi dan Ndu’a dimiliki secara bersama-sama (Komunal/Kolektif) yang pengaturan dan penguasaannya berada di bawah naungan Mosalaki Weri.

Adapun Hak Kuasa/Milik dan Hak Kelola/Garap di areal Ogo-Uma dan Nua berada di pihak Keluarga Anggota Masyarakat Adat Boafeo.

Aturan Pemindahalihan Hak:
Tanah Ulayat di seluruh ruang hidup orang Boafeo tidak mengenal pelepasan hak dan tidak dapat diperjualbelikan. Jika terjadi jual beli tanah adat secara illegal maka akan batal secara adat.

Masyarakat Adat Boafeo juga tidak mengenal pemindahalihak hak milik dan/atau hak kelola dengan cara Sewa, Gadai, Bagi Hasil, Pinjam, Hibah, dsb.

Kerhi tidak dapat berubah fungsi dari hutan menjadi kebun sehingga hak kuasa/miliknya juga terus tetap menjadi milik bersama-sama.

Tanah di Ndu’a dapat dipindahalihkan dari komunal kampung di bawah mosalaki ke kepala keluarga Boafeo untuk menjadi kebun/ladang baru dengan izin dari Mosalaki dan ketentuan/ritual adat lainnya yang berlaku.

Tanah kebun/ladang di Ogo-Uma dan rumah/pekarangan di Nua dapat dipindahalihkan haknya melalui pewarisan baik kepada anak laki-laki maupun anak perempuan serta harus sepengetahuan mosalaki dan mengikuti aturan adat.

Pendatang/Orang Non Boafeo dapat memperoleh hak kelola jika ia: Menikah dengan orang Boafeo dan Menetap di Boafeo. Selain itu, pendatang tidak boleh melakukan kerjasama apapun di tanah adat Boafeo. 

Kelembagaan Adat

Nama Mosalaki Tana Urhu Mboka Kesu Eko Ko’a/Urhu Pu’u Muku Eko Rewu Sura
Struktur Mosarhaki Weri Teri Rhema Kerha (2 Orang) Mosarhaki Isa Api Laki Sike Sani (2 Orang)
Mosarhaki Weri Teri Rema Kerha (2 Orang):
Sebagai Sorho Bhoku “Soa Sasa” untuk memimpin ritus adat, dan sebagai “Poka Au”.
Fungsinya untuk memimpin ritus adat
- Untuk pengadaan bahan2 ritus.
- Sebagai pemimpin untuk buka lahan baru
- Sebagai neka tana (ritus buat rumah)
- Sebagai Neka kayu (untuk potong kayu sebagia orang yang mendahuluhi sebelum dilanjutkan orang dipercaya untuk mengerjakan.)
- Untuk menyelesaikan/memutuskan konflik anggota Masyarakat Adat “ata fai walu ana arho” (Hakim Adat)

Mosarhaki Isa Api: Sebagai pemula dalam kegiatan adat melalui penyalaaan api (menerangi)
- Menyelesai sangketa dalam tubuh mosarhaki.
- Untuk menyesaikan/memutuskan konflik anggota MA (hakim Adat)

Laki Sike Sani (2 orang):
- Membantu Mosarhaki dalam menjalankan seremonial adat,
- Untuk menyampaikan kepada masyarakat untuk menjalankan serimonial adat. 
Terdapat dua macam musyawarah di Nua Boafeo yaitu:

Mba’ Mbo: Rapat lintas keluarga untuk membicarakan Belis/Mas Kawin

Bou Mondo/Mera Sama: Musyawarah Adat Nua Boafeo untuk beberapa tujuan yaitu:
- Pengambilan Keputusan Penting.
- Peradilan Adat
- Penyelesaian Sengketa
- Perencanaan Ritual Adat seperti Kaki Kuhru/Wau Ngeti, Rohka Nitu Rho’o, Po’o, Nuka Jawa, Nggua Tana, Neka Kaju, Neka Tana, dsb.

Mera Sama dapat dihadiri oleh seluruh anggota masyarakat adat. Dalam hal tertentu bisa juga dihadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat. Keputusan bersama dalam Mera sama disahkan oleh seluruh Mosarhaki Weri. Mera sama biasanya dilakukan di rumah Mosarhaki maupun tempat lain sesuai kesepakatan. 

Hukum Adat

Dilarang menebang pohon di Areal Kerhi, tetapi masih boleh mengambil hasil hutan non kayu.

Dilarang menebang kayu maupun membuka lahan di sekitar Mata Air.

Boleh ambil pohon kayu di Areal Ndu’a untuk kebutuhan papan dengan izin dari Mosarhaki serta tidak boleh diperjualbelikan.

Bagi yang melanggar lebih dari 1 kali, dikenakan sanksi Poi yaitu Babi senilai 3 juta, Beras 1 karung, dan Moke 1 kumba.

Wau Ngeti (pembukaan Lahan Baru)
Wau Ngeti adalah sebuah ungkapan bahasa daerah yang menunjukan seluruh anggota komunitas untuk turun mulai membuka lahan baru.

Masyarakat Adat “Ata Fai Walu Ana Arho” buka lahan/kebun baru harus ditaman dengan tanaman keras perkebunan.

Lahan/uma yang lepas kosong dan tidak ditanam dengan tanaman perkebunan maka uma tersebut menjadi hak komunal/mosarhaki kembali setelah tidak diusahakan lagi. 
Dilarang melanggar batas kebun orang lain, jika terjadi pelanggaran maka dikenakan Poi dengan sanksi berupa Babi, Beras, dan Moke.
Dilarang merusak tanaman milik orang lain.
Dilarang menncuri.
Dilarang Pela Pani (Berzina).
Dilarang mengubah batas kebun “Rhangga Tobho Wata Rangi”. 
Pada tahun 2014 terjadi peristiwa pela pani (berzina) seorang laki-laki sudah punya istri dan mengawini lagi janda beranak empat.

Pelaku dikenakan sanksi “warhe pezha” dengan satu ekor kuda dan emas 2 gram dengan uang satu juta. Diberikan kepada pihak perempuan.

Acara pemulihan dengan makan bersama (keluarga perempuan dan laki berserta pemangku adat dan tokoh yang menyelesaikan masalah Pela Pani) bebannya yang tanggung oleh pihak laki-laki, babi satu ekor dan Pihak perempuan beras. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan • Sumber karbohidrat (Are, Jawa, ke’o, wete, orho, uwi ai, rose, uwi, sura, kota, uwi jawa) • sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Seko, mbue, Nggorhi, urha, besi dan daka. • sumber vitamin (sayuran/buah): Alpukat, Pisang, Nangka, Kopi, kacang panjang, kejawa/pepaya, tomat, cabe, rheba, serikaya, sawo.
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Tumbuhan obat: kune, rhea, rhaja, kaju raga, seku, rhema rhao,nawe,fate • Tumbuhan kosmetik: Kaju wau, beras, kunyit,kayu manis, dll
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kaju warha,kaju mundi, kaju fai,kaju rhanu, kaju bapa, kaju barhu, kaju nara, terho, kaju bonggi, kaju keu, kaju wea nana,kaju nggura, kaju sewo koka, kaju koja, rotan (mede, taga), dll
Sumber Sandang Robha ( perwarna rhawo)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, kayu manis, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi kopi, kemiri, coklat, pinang, siri, moke, dll.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.2 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA di Kab.Ende No.2 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA di Kab.Ende Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen