Wilayah Adat

Ngata Pilimakujawa

 Terverifikasi

Nama Komunitas Pilimakujaya
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi Selatan
Desa Pilimakujawa
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.923 Ha
Satuan Ngata Pilimakujawa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kec. Pipikoro
Batas Selatan Ngata To Moa
Batas Timur Lembah Besoa Kec. Lore Tengah
Batas Utara Ngata To Gimpu

Kependudukan

Jumlah KK 108
Jumlah Laki-laki 234
Jumlah Perempuan 208
Mata Pencaharian utama Bertani sawah dan berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pili Makujawa merupakan sebuah kampung tertua di dataran Gimpu yang secara administratif negara berada dalam wilayah Kecamatan Kulawi Selatan. Masyarakat yang tinggal di dikampung ini berasal dari etnis To Ri’untu yang artinya “keturunan” yang mendiami sepanjang tebing sungai Lane, sungai Lamati sampai sungai Lariang yakni sungai terpanjang di Sulawesi. Sebelum menetap di perkampungan sekarang ini penduduk asli Pili mendiami sebuah kampung yang bernama Kaliua. Kaliua adalah yang menurut sejarah kisahnya sebuah kampung tua yang tenggelam akibat banjir bandang yang melanda di masa lampau. Konon dahulu kala di ceritakan bahwa terjadinya banjir bandang di kampung ini diakibatkan sebuah Gong Emas milik masyarakat Pili yang akan diserahkan kepada orang Kulawi. Ketika itu datang beberapa orang utusan pemimpin dari Kulawi ke Pili untuk meminta Gong Emas milik orang Pili, setengah memaksa utusan dari Kulawi meminta benda tersebut, akhirnya dengan berat hati orang Pili menyerahkan Gong Emas tersebut, dibuatlah sebuah upacara pelepasan Gong emas tersebut yang diadakan di Lobo (rumah adat) dengan mengumpulkan seluruh seluruh penduduk kampung Pili, kecuali yang berada di kebun dan didalam yang tidak sempat menghadiri upacara tersebut. Dipotonglah kaki seekor kucing untuk dipakai memukul Gong emas itu, namun seketika itu juga terbukalah langit dan terjadi hujan yang sangat lebat mengakibatkan banjir dan menenggelamkan semua penduduk Pili yang berkumpul di Lobo termasuk utusan dari Kulawi tersebut. Yang tersisa saat itu hanyalah beberapa orang yang berada di kebun dan didalam hutan. Merekalah yang menjadi sisa penduduk Pili yang berketurunan hingga saat ini. Makujawa merupakan kampung tetangga Pili yang sudah tidak ada penghuninya sehingga digabungkan keduanya menjadi sebuah kampung yang bernama Pili Makujawa

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Kampung atau Ngata adalah areal yang digunakan sebagai pemukiman masyarakat. Yang terdiri dari ngata makujawa dan ngata pili.
2. Kebun atau Bonea adalah areal yang digunakan untuk berkebun biasanya ditanami padi ladang, palawija, jagung, pampa. Sistem pengelolaannya tidak menganut sistem ladang berpindah namun sudah menetap. Setelah padi di panen bonea berubah menjadi pampa yaitu tempat tanaman tahunan seperti kakau, durian, alpukad, dan kopi
3. Kebun Tanaman Keras atau Pampa adalah lahan yang digunakan sebagai Kopi, Kakau, Alpukad.
4. Kebun cadangan atau Oma adalah lahan bekas kebun yang ditinggalkan lebih dari sepuluh tahun yang diperuntukan sebagai cadangan kebun bagi masyarakat adat yang belum memiliki lahan untuk berkebun, yang didapatkan melalui izin kepada kepala desa dan lembaga adat, biasanya diberikan seluas 2 hektar dan terdapat sekitar bulu bente. Bentuk dari tutupan lahannya bisa berupa hutan dan semak belukar. Pada kebun cangan ini dapat mengambil rotan, kayu nantu dan kayu lekatu namun harus seizin lembaga adat dan desa.
5. Hutan atau Ponulu adalah hutan yang dicadangkan untuk menjadi lahan garapan masyarakat. Hutan ini belum pernah dioleh sebelumnya oleh orang terdahulu.
6. Hutan lindung atau wana ngkiki adalah hutan yang dilindungi oleh masyarakat adat karena didalamnya terdapat satwa yang dilindungi antara lain burung maleo, anoa, monyet, dan burung allo. Hutan ini tidak dapat dibuka menjadi kebun, tidak bisa menebang kayu, dan tidak boleh mengelola rotan. Tapi tetap diperbolehkan untuk masuk kedalam wana ngkiki.
7. Lahan Beternak atau Kaohoa adalah lahan bekas sawah yang saat ini digunakan untuk tempat sapi mencari rumput/ makanan
 
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Pili makujawa
Struktur Terdiri dari 1 orang Ketua Adat yang dipilih sesuai dengan kapasitasnya dan anggota
Tidak ada tugas yang spesifik dari pemangku adat, setiap permasalahan yang ada diselesaikan melalui musyawarah seluruh Tetua adat Pili Makujawa. 
Setiap keputusan yang diambil melalui musyawarah lembaga adat  

Hukum Adat

Dilarang menebang pohon di kemiringan terjal dan daerah tangkapan air karena akan mengakibatkan bencana longsor dan terganggunya sumber air bagi kehidupan masyarakatnya. 
Dilarang menggauli isteri orang lain (Bualohi) dan jika ketahuan dan tertangkap maka akan mandapatkan sanksi adat. 
Seseorang yang kedapatan berzinah akan diberikan sanksi adat (giwu) berupa 1 ekor kerbau 1 lembar kain Mbesa sesuai mahar si wanita yang digauli tersebut. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen