Wilayah Adat

Ngata Pilimakujawa

 Terverifikasi

Nama Komunitas Toriuntu Pilimakujawa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi Selatan
Desa Pilimakujawa
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 7.317 Ha
Satuan Ngata Pilimakujawa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kec. Pipikoro Desa tuwotani jaya, Desa Peana,Desa Moruidua, Tanda baatsnya: Halu Lamati/Halu Lane
Batas Selatan Ngata To Moa (desa moa), Tanda baatsnya: Halu Lemaduria
Batas Timur Lembah Besoa Desa Hanggira, Tanda batasnya: Bulu Hurapa (potokolea)
Batas Utara Ngata To Gimpu (Desa gimpu), Desa Lavua, Desa Hanghira, Tanda batasnya: Halu mea (sungai mea), Halu Mewe (sungai mewe), Bulu Rano Rano (gunung rano rano), Halu Bola (potokolea), Bulu, Hulu Halu Kabaruyu

Kependudukan

Jumlah KK 177
Jumlah Laki-laki 362
Jumlah Perempuan 231
Mata Pencaharian utama Bertani dan berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pilimakujawa merupakan sebuah kampung tertua di dataran Gimpu yang secara administratif negara berada dalam wilayah Kecamatan Kulawi Selatan. Masyarakat yang tinggal di dikampung ini berasal dari etnis To Ri’untu yang artinya “keturunan” yang mendiami sepanjang tebing sungai Lane, sungai Lamati sampai sungai Lariang yakni sungai terpanjang di Sulawesi. Sebelum menetap di perkampungan sekarang ini penduduk asli Pili mendiami sebuah kampung yang bernama Kaliua. Kaliua adalah yang menurut sejarah kisahnya sebuah kampung tua yang tenggelam akibat banjir bandang yang melanda di masa lampau. Terjadinya banjir bandang di kampung ini diakibatkan sebuah Gong Emas milik masyarakat Pili yang akan diserahkan kepada orang Kulawi. Ketika itu datang beberapa orang utusan pemimpin dari Kulawi ke Pili untuk meminta Gong Emas milik orang Pili, setengah memaksa utusan dari Kulawi meminta benda tersebut, akhirnya dengan berat hati orang Pili menyerahkan Gong Emas tersebut, dibuatlah sebuah upacara pelepasan Gong emas tersebut yang diadakan di Lobo (rumah adat) dengan mengumpulkan seluruh penduduk kampung Pili, kecuali yang berada di kebun dan didalam yang tidak sempat menghadiri upacara tersebut. Dipotonglah kaki seekor kucing untuk dipakai memukul Gong emas itu, namun seketika itu juga terbukalah langit dan terjadi hujan yang sangat lebat mengakibatkan banjir dan menenggelamkan semua penduduk Pili yang berkumpul di Lobo termasuk utusan dari Kulawi tersebut. Yang tersisa saat itu hanyalah beberapa orang yang berada di kebun dan didalam hutan. Merekalah yang menjadi sisa penduduk Pili yang berketurunan hingga saat ini.
Setelah itu masyarakat pindah ke Makujawa merupakan kampung tetangga Pili yang sudah tidak ada penghuninya sehingga digabungkan keduanya menjadi sebuah kampung yang bernama PiliMakujawa

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kampung atau Ngata
areal yang digunakan sebagai pemukiman masyarakat yang terdiri dari ngata makujawa dan ngata pili.

Ladang atau Bonea
adalah areal yang digunakan untuk berkebun biasanya ditanami padi ladang, palawija, jagung.

Kebun Tanaman Keras atau Pampa
adalah lahan yang digunakan sebagai Kopi, Kakau, Alpukat.

Kebun cadangan atau Oma
adalah lahan bekas kebun yang ditinggalkan lebih dari sepuluh tahun yang diperuntukan sebagai cadangan kebun bagi masyarakat adat yang belum memiliki lahan untuk berkebun, yang didapatkan melalui izin kepada kepala desa dan lembaga adat, biasanya diberikan seluas 2 hektar dan terdapat sekitar bulu bente. Bentuk dari tutupan lahannya bisa berupa hutan dan semak belukar. Pada kebun cadangan ini dapat mengambil rotan, kayu nantu dan kayu lekatu namun harus seizin lembaga adat dan desa.

Hutan atau Ponulu
adalah hutan yang dicadangkan untuk menjadi lahan garapan masyarakat. Hutan ini belum pernah dioleh sebelumnya oleh orang terdahulu, di ponulu sendiri terdapat to’olo atau daerah lindungan adat dikarenakan memiliki sumber mata air yang dipakai masyarakat adat sekitar untuk konsumsi sehari-hari.

Hutan lindung atau wana ngkiki
adalah hutan yang dilindungi oleh masyarakat adat karena didalamnya terdapat satwa yang dilindungi antara lain burung maleo, anoa, monyet, dan burung allo. Hutan ini tidak dapat dibuka menjadi kebun, tidak bisa menebang kayu, dan tidak boleh mengelola rotan. Tapi tetap diperbolehkan untuk masuk kedalam wana ngkiki.

Lahan penggembalaan atau Kaohoa
adalah lahan bekas sawah yang saat ini digunakan untuk tempat ternak mencari rumput/ makanan
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Powatua ( Desa Pilimakujawa ) dibagi menjadi 3 yakni :
1. Pepunulua adalah kepemilikan perorangan atau perkeluarga.
2. Panguru adalah kepemilikan secara bersama-sama atau biasa dikenal dengan Komunal. Contohnya adalah pembukaan kebun secara berkelempok atau secara bersama-sama dan hasil panennya pun dibagi secara merata.
3. Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya.
Masyarakat adat mengolah lahan secara individu dan Hak individu diberikan masing-masing 2 Ha kepada masyarakat adat yang mau mengelola dan jika ingin membuka lahan secara individu harus meminta izin terlebih dahulu kepada Lembaga Adat dan melakukan Ritual (mohere) biasanya dengan melakukan Do’a (Bapamula) dilahan tersebut. Sedangkan untuk perpindahan kepemilikan itu bisa hak pakai seizin pemilik sebelumnya, tidak ada pembagian hasil dan penggunaan lahannya ditentukan pada perjanjian mereka
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat PiliMakujawa
Struktur -Ketua Adat (kapala ngata) -Wakil Ketua Adat (wakili kapala ngata) -Sekretaris (guru tulihi) -Ibu Kampung (tina ngata)
-Ketua Adat = yang memutuskan pengambilan keputusan
-Wakil Ketua = mewakili ketua jika ketua tidak hadir
-Sekretaris = Notulen
-Tina Ngata = menangani persoalan perempuan dan sebagai penengah atau pendingin apabila persidangan memanas
 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Megombo Ada
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercock tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb:
-Mebua (Sidang Pertama)
-Mopohoa (Mengundang)
-Pobuka WewiTotua (Pembukaan Kepala Sidang)
-Tapantomi (Serah Syarat)
-Kabotua (Pemutusan)
Proses Pengambilan Keputusan di Lembaga adat Pilimakujawa dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

Dilarang menebang pohon di kemiringan terjal dan daerah tangkapan air karena akan mengakibatkan bencana longsor dan terganggunya sumber air bagi kehidupan masyarakatnya. 
Dilarang menggauli isteri orang lain (Bualohi) dan jika ketahuan dan tertangkap maka akan mandapatkan sanksi adat. 
Seseorang yang kedapatan berzinah akan diberikan sanksi adat (givu) berupa 1 ekor kerbau 1 lembar kain Mbesa sesuai mahar si wanita yang digauli tersebut. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ladang, jagung, Singkong, talas, Kedelai, Kacang Tanah, daun singkong, daun kacang panjang, kangkung, bayam merah/putih, terong, tomat, labu, umbi, mujair, belut, udang, kepiting Lokal, ayam, sapi, kambing, mangga, kelapa, sirsak, jambu, nangka, pepaya, pisang, durian, langsat, manggis. Alpokad
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing (sumisisi) untuk obat batuk Cocor bebek (paramata) untuk penurun demam Daun jarak (tatauga) untuk sakit gigi Tebuh hutan (tovu wana) untuk sakit panas
Papan dan Bahan Infrastruktur Kulit kayu tea untuk membuat baju
Sumber Sandang Kunyit, jahe, lengkuas, bawang merah, rica, tomat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, jahe, lengkuas, bawang merah, rica, tomat
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, cengkeh, kelapa, kemiri, durian, alpokat, vanili, kopi,

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 Keputusan Bupati No: 189.1.521 tahun 2015 tentang PPHMA To Kaili dan To Kulawi No: 189.1.521 tahun 2015 tentang PPHMA To Kaili dan To Kulawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen