Wilayah Adat

Burr Yembra Kwebin Su (Tabam Rae Baa Sakof)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Yembra Kwebin Su (Rae Baa Sakof)
Propinsi Papua Barat
Kabupaten/Kota TAMBRAUW
Kecamatan Fef
Desa Fef
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 759 Ha
Satuan Burr Yembra Kwebin Su (Tabam Rae Baa Sakof)
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan wilayah adat Yesnat Syubun batas berupa Ikre meni, rufukum, aya isyakum, aya meni inggi.
Batas Selatan Berbatasan dengan Wilayah Adat Tabam Rae Wen Sate dengan batas di Kantor Bappeda Tambrauw, Isyokof, Aya Irawiyam, Jembatan Sungai Irawiyam, Ruas Jalan Kantor Bupati, Ikre Meni.
Batas Timur Berbatasan dengan wilayah adat Tabam Rae Wen Kuku batas berupa kali mati, brunggai, Arabu Afot Sakof, Inet Meniy, sampai Kantor Bappeda.
Batas Utara Berbatasan dengan wilayah adat Yesnat Meniy batas berupa aya meni inggi, aya meni bafrum, aya meni nggre kowe, aya meni san samut, kali mati.

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun, Peternak, & PNS

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Orang-orang Yembra Kwebin Su merupakan bagian dari Suku Abun atau yang dapat disebut juga sebagai Rae Baa Sakof dalam penyebutan sehari-harinya berbahasa Meiyah. Di masa lalu hiduplah seorang lelaki yang bernama Saba Kumei di sebuah dataran sekitar aliran Aya (Sungai) Isyakaow. Dikisahkan bahwa Saba Kumei adalah manusia pertama yang keluar dari tanah yang berada di bawah Pohon Kwebin atau yang juga dikenal sebagai Daun Gatal Babi. Sejak saat itu, Pohon Kwebin menjadi totem dan nama marga bagi keturunan Saba Kumei. Saba Kumei kemudian mendirikan rumah pertama di dekat Pohon Tegiye (Palaka) yang menjadi cikal bakal pemukiman keturunannya saat ini. Saat ini, lokasi bekas rumah Saba Kumei di sekitar Pohon Tegiye itu terancam karena masuk Areal Pengembangan Ibukota Kabupaten Tambrauw saat ini berada sekitar 500 meter dari Kantor Bupati Tambrauw yang baru.

Keturunan Saba Kumei saat itu gemar mencari makan dengan mengumpulkan buah-buahan dari hutan seperti Aruisam (Langsat), Atiek (Sukun), Kenak (Cempedak), Esah (Matoa), dsb., juga menanam biji-biji dari buah-buahan tersebut. Selain itu, mereka juga Memanfaatkan Aof (Sagu) sebagai sumber pangan lainnya selain umbi-umbian seperti Awiyah, Arsasu, Ketawe, dan Saswati. Mereka juga berburu Fane (Babi) dan Teftiyah, Ames, dsb (Sejenis Kuskus) serta menangkap Ikan Fiyam (Sejenis Lele), Saa (Gabus), Abanai, Souh, dsb. di sungai-sungai sekitar Tanah Marganya.

Mereka memiliki konsep kepercayaan yang disebut Siwai (awal) dan Mafif (akhir). Masing-masing Marga memiliki Sorwon yaitu lokasi awal manusia muncul pertama kali dan tempat arwah kembali sementara sebelum adanya Pengadilan Akhir Seluruh Umat Manusia. Hingga kini masih terdapat tradisi menaruh barang-barang anggota marga yang meninggal di lokasi Sorwon masing-masing. Adapula konsep batas yang dikeramatkan yang disebut dengan Totor berupa Batu di pertemuan Sungai Isyakaow dan Sungai Ikuk sebagai tanda batas dengan Marga Yesnath Mini. Adapula beberapa tempat yang dikeramatkan atau Fra Buoh yang masih diyakini melekat larangan tertentu serta memiliki sanksi alam bagi yang melanggarnya. Seiring pertambahan anggota marga, berkembanglah pemukiman baru di sebelah timur dari Pohon Tegiye ke Sre Makuos (Sekitar Jalan Utama Ira Wiyam saat ini). Pada masa perkembangannya, banyak dari keturunan Saba Kumei yang kawin dengan Marga Yesnath sehingga banyak dari mereka yang hidup tersebar sampai ke pesisir Kwoor (Distrik Kwoor saat ini). Pada suatu masa, Marga Yembra Kwebin Su bersama beberapa marga lain membentuk Kampung Lama Ikree. Pemukiman lama Ikree itu kemudian bergabung lagi dengan marga-marga lain sehingga membentuk Kampung Fef masa kini.

Interaksi Orang Yembra Kwebin Su dengan bangsa asing dimulai dari masuknya bangsa Portugis ke wilayah Sayam (Distrik Rombos sekarang) untuk melakukan perdagangan dengan cara barter. Orang portugis mencari rempah-rempah untuk ditukar barang lain seperti Kain Timur, Parang, Kapak, Savah (Gelang dari Kerang), dsb. Saat itu orang-orang dari Marga Yembra menukarkan, Matiyaf (Cenderawasih), Waf (Kakak Tua), Kos (Nuri), (Damar), dan lain-lain. Sekitar tahun 1850an, Belanda masuk dengan membawa tiga hal yaitu Iman melalui Pekabaran Injil, Pendidikan melalui Penyiapan Sekolah Rakyat, dan Kesehatan melalui Penyiapan Tenaga Kesehatan. Adapula interaksi antara orang Yembra Kwebin Su dengan Pengusaha Cina yang berdagang mencari rempah-rempah, getah damar, burung-burung, dsb. Oleh karena interaksi itu, pernah terjadi perkawinan antara seorang Pengusaha Cina dengan perempuan Marga Yembra Kwebin Su dengan mas kawin Kapak dan Parang. Seiring perkembangan Kampung Fef, Masyarakat Yembra Kwebin Su banyak membudidayakan tanaman lokal seperti Abit/Wew (Pisang), Besen (Jagung), Sifo (Bayam) Mes (Pakis), Boyak (Gedi), dsb. yang kemudian dijual sebagai komoditas utama.

Pada tahun 2011 akses jalan dari ibukota provinsi Sorong ke Tambrauw sudah terbuka sejak pembangunannya pasca mekarnya kabupaten Tambrauw pada tahun 2008. Pasca pemekaran itu, diputuskan bahwa ibukota Kabupaten akan terletak di Kampung Fef. Pada saat pemilihan lokasi tempat ibukota itu, banyak tarik ulur antara marga-marga di Kampung Fef yang kurang setuju tanah marganya menjadi lokasi ibukota (Tafi, Wen Sate, dan Wen Kuku) oleh karena belum selesainya kesepakatan batas antar-tanah marga. Hal itu setidaknya terjadi dalam beberapa kali kunjungan untuk survey lokasi sampai tahun 2011. Hingga suatu hari, Sefi ketua marga Baa Sakof bertemu dengan Wakil Bupati Tambrauw saat itu, yaitu … yang kebetulan berasal dari marga yang sama. Wakil Bupati meminta kepada Sefi untuk menyerahkan sedikit celah dari tanah marganya untuk pembangunan pusat pemerintahan bupati. Pada tahun 2013 dilakukan pengukuran bersama terjadi dan didapati 1200 meter persegi yang dilepaskan haknya dari Yembra Kwebin Su ke Pemerintah Kab. Tambrauw dengan klausul pelepasan sebesar 7,5 Milyar Rupiah yang dibayarkan melalui 4 tahap. Biaya itu belum termasuk ganti rugi tanaman kebun aktif masyarakat yang ada di atasnya. Pada saat pelepasan itu beberapa marga yang berbatasan dengan marga Baa Sakof juga diundang sebagai saksi seperti Marga Bafat dan Marga Yesnath.

Pada tahun 2014, Kampung Fef mekar menjadi Kampung Ibeh dengan Tanah Marga Baa Sakof masuk ke Kampung Fef. Pembangunan Infrastruktur dipimpin oleh PT. Bayaraya Perkasa. Adapun fasilitas listrik masuk ke Kampung sejak tahun 2017. Pada tahun 2015 dilakukan pemetaan partisipatif di Tanah Marga Tafi yang difasilitasi oleh Lembaga Akawuon. Sejak saat itu, Masyarakat Adat Marga Yembra masih menyiapkan segala hal untuk memperoleh pengakuan atas diri mereka dan hak ulayat atas Tanah Marga dan Hutan Adat. Marga Baa Sakof juga masih berupaya untuk menegosiasi satu titik keramat yang menjadi bagian sejarah penting mereka yaitu bekas rumah pertama leluhur di lokasi Pohon Tegiye yang masuk ke Areal Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tambrauw. Masyarakat Yembra Kwebin Su berharap agar lokasi Pohon Tegiye itu dapat tetap dijaga dan tidak diubah sebagai monumen abadi leluhur agar diingat oleh generasi Yembra Kwebin Su mendatang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Tiam (Touf) adalah areal hutan alami yang dilindungi dan dimanfaatkan terbatas untuk diambil tanamannya untuk pangan dan kayunya sebagai bahan bangunan rumah.
Tiam dilindungi karena didalamnya terdapat Aya Meni (mata air) sebagai sumber penjaga kehidupan, Matiyaf Mesom (tempat bermain Cenderawasih), Sorwon (tempat arwah leluhur), Wuon (tempat inisiasi Anak Laki-laki), Ataf Iwas (Kampung Lama), Totor (Titik Batas Keramat)
2. Ora merupakan areal kebun aktif yang digarap, diambil manfaat, dan dilindungi oleh masyarakat.
Tutupan lahan di dalamnya antara lain: umbi umbian, kacang kacangan, dan sayur sayuran. Selain itu terdapat juga tempat tempat yang dilindungi berupa Aya Meni, Wuon, dan kuburan leluhur.
3. Tein adalah areal bekas kebun masyarakat yang sudah ditinggalkan beberapa tahun dan menjadi hutan muda. Tein dapat diambil manfaatnya maupun sebagai cadangan kebun di masa depan.
4. Mbeir Hurein merupakan areal pemukiman serta pekarangan. Terdapat beberapa bangunan adat berupa Rumah Reget (Ketua Marga), dan lain sebagainya. 
Hak atas tanah

1. Tiam dimiliki secara kolektif oleh seluruh anggota Marga (Rae) yang pengaturan dan penguasaannya berada dipimpin oleh Reget (Ketua Marga) dan Rae Manes (Tua Marga)

2. Hak Kelola/Guna Ora dan Tein terbagi ke Keluarga Luas dan Keluarga Inti dari anggota Marga Baa Sakof. Mereka hanya memiliki tanaman yang ada di atasnya baik berupa tanaman musiman maupun tanaman keras.

Namun, Hak Milik atas tanah Ora dan Tein berada di bawah naungan Reget dan Rae Manes.

3. Hak Kelola/Guna Bangunan dan Hak Milik atas tanah marga di Pemukiman ada yang sudah berada di masing-masing Anggota Marga (Kepala Keluarga). Namun, untuk pelepasan haknya ke pihak luar harus/wajib melalui keputusan Reget dan Raemanes di sebuah Musyawarah Adat.

Pemindahalihan hak

1. Tiam tidak dapat berubah fungsi menjadi kebun kecuali melalui mekanisme Huren Besu (musyawarah adat)

2. Tanaman Keras dan Tanaman Tahunan di Ora maupun Tein dapat dialihkan melalui pewarisan-hak kelola-ke anak laki-laki maupun perempuan.

3. Anggota Marga dapat meminta hak kelola atau izin kebun baru pada bekas kebun yang dimiliki keluarga besar kepada anggota keluarga yang dituakan.

4. Pendatang yang ingin tinggal atau membuka kebun di tanah Marga Baa Sakof dapat meminta izin/hak kelola ke Ketua Marga atau Anggota Marga yang bersangkutan.

5. Segala mekanisme pemindahalihan lain baik hak kelola maupun pelepasan hak milik atas Tanah Marga baik melalui jual beli, sewa, gadai, hibah, bagi hasil, dan lainnya harus melalui Kesepakatan dalam Huren Besu beberapa pihak yaitu Keluarga Inti, Keluarga Besar, Reget, Rae Manes, dan Pihak Luar yang melakukan penawaran atas tanah marga tersebut. 

Kelembagaan Adat

Nama Yembra Kwebin Su (Rae Baa Sakof)
Struktur Reget (Ketua Marga) Raefak Reget (Wakil Ketua Marga) Rae Manes (Tetua Marga) Reget dipilih melalui mekanisme musyawarah adat dengan melihat pada kecakapan dan lain sebagainya. Raetem Reget dan Rae Manes dipilih menurut ketentuan yang berlaku.
Reget merupakan Ketua Marga yang mengemban tugas sebagai pemimpin anggota marga. Bersama Rae Manes mengesahkan hasil musyawarah penyelesaian sengketa tanah baik di tingkat Antar-Keluarga, Antar-Keluarga Besar, maupun Antar-Marga.
Rae Manes merupakan para Tetua Marga yang bersama Reget mengesahkan putusan musyawarah adat. Rae Manes juga memberikan masukan/pertimbangan di musyawarah karena memiliki pengetahuan dan pengalaman khusus tentang:
- Pengobatan tradisional
- Juru Kunci Sejarah
- Hukum dan Sanksi Adat
- Pelaksanaan Proses Inisiasi Wuon dan Fenia Meruoh
- Strategi dan Pelaksanaan Perang (dulu)
- Pelaksanaan Ritual adat
Rae Tem Reget merupakan wakil reget yang bertugas untuk menuliskan hasil musyawarah dan putusan yang dibuat 
Huren Besu dilakukan untuk berbagai macam hal seperti:
- Pengambilan Keputusan Bersama
- Peradilan Adat
- Penyelesaian Sengketa
- Pelaksanaan Ritual Adat, Proses Inisiasi, hingga Perencanaan Perkawinan, dan lain-lain.

Huren Besu ini dilakukan di berbagai tingkatan sosial dari Keluarga Inti, Keluarga Luas, hingga tingkat Marga. Huren Besu di semua tingkatan tersebut harus dihadiri oleh Reget dan Rae Manes. Tempat dilakukannya Huren Besu ditentukan berdasarkan kesepakatan.  

Hukum Adat

Aturan adat pada Tiam
- Dilarang melakukan perburuan hewan hewan tertentu
- Dilarang melakukan aktifitas di tempat keramat seperti Totor, Sorwon, Fra Buoh, dan lainnya.
- Dilarang melakukan aktifitas di tempat satwa mabuk
- Dilarang melakukan aktifitas di jarak 100 meter dari sumber/mata air
- Dilarang ambil kayu secara massif hingga areal menjadi terbuka, harus dilakukan melalui mekanisme tebang pilih, wajib izin ke Ketua Marga, dan hanya untuk kebutuhan papan membuat rumah saja.

Aturan adat pada Mbair Rekah Ora (Ora dan Tein)
- Dilarang mengambil hasil kebun orang lain
- “Sombo” merupakan mekanisme pembukaan lahan baru dengan mekanisme membuka lahan namun menyisakan satu pohon dan meletakan bibit bibit yang akan ditanam didekat pohon tersebut kemudian pemilik lahan melakukan ritual untuk menebang pohon terakhir tersebut. 
Kasus perselingkuhan denda berupa babi, ternak, uang tergantung kesepakatan. Selain itu antar-pihak yang berselingkuh tidak boleh bertemu atau berdekatan selama mereka hidup. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Aof (Sagu), Awiyah (Keladi), Arsasu (Singkong), Ketawe (Keladi), Saswati (Betatas), Besen (Jagung),… dsb. Protein Nabati: Kacang Tanah, Kacang Hijau Protein Hewani: Fane (Babi), Teftiyah, Ames, dsb (Sejenis Kuskus), Ikan Fiyam (Sejenis Lele), Saa (Gabus), Abanai, Souh, dsb. Vitamin Sayuran: Sifo (Bayam), Boya (Gedi), Ebiyah (Gohi), Amase (Labu), Hata (Lilin), Emes (Pakis), Ubah (Bambu Jalar), … dsb. Vitamin Buahan: Abit (Pisang), Aruisam (Langsat), Atiek (Sukun),Kenak (Cempedak), Esah (Matoa), … dsb.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Afa (daun gatal) untuk obat gatal - Pohon Ganemo untuk berbagai macam penyakit dengan cara seratnya diikat kebagian tubuh - Tahsi digunakan untuk berbagai macam penyakit dengan cara menebas ke badan
Papan dan Bahan Infrastruktur Lantai dan Dinding: Heyuot dan Saman (Jenis Damar), Esah (Matoa), Bron (Bambu) Atap: Aof (Daun Sagu) Tiang: Esah (Matoa), Perkakas: …
Sumber Sandang Rotan, rus kwiyan, daun tikar, pohon biyek dijadikan pakaian adat Ekiet Ara
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Marisan (Cabe), Bofit (Jahe), … dsb.
Sumber Pendapatan Ekonomi Umbi-umbian, Ternak, Abit/Wew (Pisang), Besen (Jagung), Sifo (Bayam) Mes (Pakis), Boyak (Gedi),

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR 6/37/2018 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen