Wilayah Adat

Kampung Kubu-Jalutukng

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat Adat Kampung Kubu-Jalutukng
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota LANDAK
Kecamatan Sengah Temila
Desa Paloan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Kampung Kubu-Jalutukng
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Kampung Ansekng dan Sakaro
Batas Selatan Kampung Tumahe
Batas Timur Kampung Bintang, Karotop
Batas Utara Kampung Lanso

Kependudukan

Jumlah KK 162
Jumlah Laki-laki 303
Jumlah Perempuan 345
Mata Pencaharian utama Petani keret, sawah, berladang, berkebun, peternak, pedagang, pegawai swasta, guru

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kampung Jalutukng
Mula-mula ada penduduk yang tinggal di Timawakng Riapm, di sebut Timawakng riapm karena di lokasi tersebut ada riapm (air terjun). Tempat tinggal mereka dekat dengan kuburan dan tidak bisa tinggal disitu maka penduduk pindah dan berpencar ke kampung Lanso, Sa’ango, Kubu, Gantekng dan Karebet. Mereka yang tinggal di Karebet sering diganggu oleh hantu maka pindah ke Sinawar. Hantu benar-benar keliatan oleh manusia di jaman itu. Di Sinawar, mereka juga sering diganggu hantu maka mereka pindah ke Jalutukng sampai sekarang. Nama Jalutukng berasal dari nama pohon kayu Jalutukng. Warga yang pertama membuka kampung Jalutukng bernama Nek Nengke. Ia yang mula-mula bauma (berladang) di wilayah tersebut. Anak Nek Nengke adalah Nek Nyambukng, anak Nek Nyabukng adalah Tange, dan anak dari Tange adalah Pak Debar (usia 94 th pada tahun 2016).

Asal mula pengurus timawakng Riamp adalah Nek Kaco’, anak Nek Kaco’ adalah Nek Banting, anak Nek Banting adalah Nek Baher, anak Nek Baher adalah Engkaman, anak Engkaman adalah Borekng, anak Borekng adalah Seda (16 tahun pada tahun 2016). Sampai sekarang terdapat 6 keturunan di bawah Nek Kaco’.

Timawakng Sinawar di sebut Sinawar karena ada jenis batang pohon kelapa, dengan daun lirakng (daun jagu’) dengan buah seperti buah pinang (buahnya tidak bisa di konsumsi). Pohon ini tidak memiliki banyak manfaat bagi masyarakat dan pohon ini sudah punah.

Disebut kampokng/kampung Jalutukng karena terdapat Batang Pohon Jalutukng yang masih ada sampai sekarang sebagai simbol kampung Jalutukng. Pohon jalutungk tersebut di perkirakan berusia kurang lebih 300 tahun.

Kampung Kubu
Sebelum menjadi kampung sendiri, dulu Kubu masih satu dengan Tumahe. Mereka menyebutnya Tumahe 3. Adapun kampung Tumahe terbagi menjadi 3 yaitu: Tumahe 1 yang sekarang disebut Tumahe, Tumahe 2 yaitu kampung Sakaro, dan Tumahe 3 yaitu kampung Kubu. Perubahan Tumahe 3 menjadi Kubu diawali oleh tiga keluarga dari Tumahe yang membuka ladang dan marokng (tinggal di pondok ladang). Mereka adalah: Nek Nayan, Nek Mulo dan Nek Seha. Lama-lama mereka merasa sudah cocok berladang di wilayah ini hingga tidak pindah-pindah lagi. Semakin lama berada di wilayah tersebut keturunan mereka makin bertambah banyak hingga menjadi kampung yang ramai seperti sekarang ini. Penyebutan Kubu sendiri karena ditempat tersebut ada sebuah benteng. Benteng dalam bahasa Kanayatn adalah Kubu. Tidak diketahui dengan pasti kapan benteng tersebut ada dan untuk apa. Ada yang mengatakan benteng itu didirikan untuk berlindung dari serangan pada jaman penjajahan Belanda. Tanda-tanda benteng tersebut kini sudah tidak ada lagi, satu-satunya yang tersisa adalah pohon Kayuara yang sengaja ditanam disitu oleh Nek Nayan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Timawakng/Tembawang adalah bekas pemukiman warga baik perorangan maunpun kelompok. Lokasi ini dapat disebut tembawang apabila tempat tersebut pernah ditinggali orang atau sekelompok orang dalam kurun waktu yang cukup lama hingga tanam tumbuh di sekitar rumah atau pondok tersebut besar dan berbuah.
Kompokng adalah sebuah kelompok hutan dengan vegetasi yang rapat dan aneka tanam tumbuh mulai dari aneka buah-buahan hingga jenis kayu yg bermanfaat bagi warga. Biasanya aneka tumbuhan yang ada di kompokng adalah tumbuhan dan jenis tanaman buah-buahan seperti; durian, jenis langsat, rambai, jenis asam, cempedak dan tengkawang, kayu jenis bahan bangunan seperti tamo, pulai, madakng, bengkirai.
Bawas/Rame adalah bekas ladang yang telah ditinggalkan kurang lebih1-7 tahun. Bawas dibagi menjadi 2 yaitu bawas muda dan bawas tua. Bawas muda 1-3 tahun bawas muda 3-7 tahun. Bawas merupakan wadah lanjutan setelah panen padi, karena pada saat menanam padi secara bersamaan mereka juga menanam aneka jenis tanaman musiman yang dapat dimanfaatkan selama padi belum dipanen. Tanaman yang ditanam beraneka ragam mulai dari yang berumur pendek seperti tebu, singkong, terong, ketela, cabe, jahe, kunyit dll, hingga tanaman keras seperti tanamn karet dan tanaman buah-buahan seperti tengkawang, durian, langsat, pekawai dll.
Udas/rimba adalah areal hutan yang kerapatannya vegetasi tumbuhannya masih tinggi dan belum terjamah oleh aktivitas manusia.

Bancah atau sawah adalah salah satu model atau pola pertanian lahan basah masyarakat yang pengelolaannya dilakukan semi modern.

Kabun gatah atau kebun karet merupakan salah satu usaha produksi yang dimiliki secara perorangan maupun kolektif (keluarga). Kebun karet merupakan salah satu mata pencaharian utama dengan hasil yang diperoleh dapat dijual pada hari itu juga atau berdasarkan kurun waktu tertentu (mingguan, bulanan dan bahkan pada ada yang juga yang menyimpan hasil sadapannya hingga tahunan).

Sawit terbilang komoditas yang relatif baru di wilayah ini dan ditanam/dikebunkan secara pribadi oleh masyarakat setempat.

Kampokng adalah areal pemukiman warga/masyarakat
 
Timawang/Tembawang dan Kompokng kepemilikannya masing-masing oleh masyarakat setempat. Sistem penguasaannya didapat dari warisan dari orang tua dan ada juga dari proses jual beli, sementara pengelolaannya bisa individu maupun kekeluargaan.

Udas/rimba kepemilikannya adalah seluruh masyarakat setempat, pengelolaannya diatur oleh masyarakat itu sendri berdasarkan hasil musyawarah.

Bawas, kabon gatah, bancah dan sawit kepemilikannya adalah individu dan pengelolaannya dilakukan oleh masing-masing pemilik. Penguasaan/kepemilikannya diperoleh dari pemberian/warisan dari orang tua dan didapat juga dari proses jual beli.
 

Kelembagaan Adat

Nama Binua Soari Dalam konteks adat, kampung Kubu Jalutung bernaung di Binua Soari yang dipimpin oleh seorang Timanggong. Dalam pelaksanaannya ditingkat kampung dipimpin oleh seorang pengurus adat yang disebut Pasirah dan dibatu oleh seorang Pangaraga
Struktur Timanggong Pasirah Pangaraga Masyarakat
Timanggong: Menangani perkara adat dengan nilai 5 tahil (1 tahil = 8 singkap pingatn/piring putih, alasnya jalu dengan jumlah yang disesuaikan)
Pasirah: menangani perkara adat dengan nilai 3 tahil (3 tahil alasnya jalu 20 kg)
Pangaraga: menangani perkara adat dengan nilai sabuah siam. (minimal 1½ tahil & 12½ kg jalu)
 
Bahaupm (duduk bersama untuk bersepakat/musyawarah mufakat) baik dalam permasalahan tingkat kampung maupun parene’atn/keluarga.
Tingkat pertama dengan cara kekeluargaan, jika tidak putus maka kemudian naik ke level kampung/Pasirah dengan sanksi yang sudah ditentukan, tidak selesai ditingkat Pasirah maka penyesesain naik ke Timanggong.
 

Hukum Adat

Pengelolaan wilayah adat harus berdasarkan hasil kesepakatan masyarakat adat di kampung tersebut (kearifan lokal), jika melangar maka akan ada sangsi adat. Misal; tidak boleh menebag pohon diareal hutan yang kepemilikannya komunal tanpa ijin dari Pasirah atau pemangku adat di kampung setemapat. Tidak boleh menuba, menjual hasil hutan keluar tanpa ijin, dll. 
Adat Pamancet Tubuh
Adat yang mengatasi masalah berkelahi.
Pejabat yang mengadili pangaraga, yang harus hadir yaitu ahli waris yang berpekara dari kedua belah pihak dan warga kampung tidak wajib hadir, bagi yang ingin ikut saja.
Nilai adat nya : - sabuah siam jalu sekok
- Poe, manok, baras sunguh, talok manok, angkabakng, baras banyu, duit setali, topokng (alat sirih).
- Barang pengganti, piring bisa diganti duit.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, singkong, umbi, jagung, daging babi, ayam, kambing, sapi, buah durian, lagsat, rambutan, cempedak, manggis, pekawai, pepaya, jengkol, Rebung, daun ubi/singkong, pakis, bermacam jenis umut, bermacam jenis jamur, petai, terong, buah labu, buah perengi, mentimun, daun mentimun, daun labu, daun perengi, kangkung, bayam, sawi, kacang-kacangan,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Jahe, kunyit, sirih, temulawak, pinang, buah tengkawang, akar bajakah, lengkuas, kencur
Papan dan Bahan Infrastruktur Jenis Kerajinan berupa Bide (Tikar) dengan bahan yang digunakan dari Uwi (Rotan), Pantongan (Kulit Kayu) fungsinya untuk tikar atau untuk menjemur padi Jenis Kerajinan Katoro dengan bahan yang digunakan yaitu dari Uwi,Nilamut, Bambu, Dakok fungsinya untuk membawa barang Jenis Kerajinan Dako dengan bahan yang digunakan yaitu Uwi dan Bambu fungsinya yaitu untuk menampi padi Jenis Kerajinan Pengayak dengan bahan yang digunakan yaitu Uwi, Bambu fungsinya yaitu untuk mengayak padi Jenis Kerajinan Bakul dengan bahan yang digunakan yaitu Uwi, Bambu, fungsinya untuk menyimpan sayur Jenis Kerajinan Inge dengan bahan yang digunakan Uwi, Bambu fungsinya yaitu digunakan pada saat panen padi untuk membawa padi hasil ketaman Jenis Kerajinan Jare dengan bahan yang digunakan dari Rotan fungsinya yaitu untuk membawa kayu bakar
Sumber Sandang Masyarakat setempat sudah menggunakan pakain yang terbuat dari kain yang dijual di pasar-pasar.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bumbu; jahe, kunyit, lengkuas, asam kandis, daun kandis, tepok, serai, daun salam, cabai
Sumber Pendapatan Ekonomi Bersawah, berkebun karet, sawit, berkebun buah maupun sayur, berternak, tukang, pegawai swasta, guru, PNS

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No. 15 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Kabupaten Landak No. 15 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Kabupaten Landak Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK PEMBENTUKAN PANITIA MA LANDAK Nomor 660.1/369/DPRKPLH-SKR/X/2018 PEMBENTUKAN PANITIA MA LANDAK SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen