Wilayah Adat

Ngata Powatua (Winatu)

 Terverifikasi

Nama Komunitas Powatua (Winatu)
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 10.143 Ha
Satuan Ngata Powatua (Winatu)
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Tovulu ( Bulu Nunu )
Batas Selatan Desa Lempelero ( Bulu Damea )
Batas Timur Desa Makuhi ( Bamba Make )
Batas Utara Desa Lonca ( Uwe Uma, Bulu Simek )

Kependudukan

Jumlah KK 380
Jumlah Laki-laki 370
Jumlah Perempuan 330
Mata Pencaharian utama Bertani ( ladang basah dan Kering ) dan wiraswata

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Desa winatu adalah salah satu desa yang berada di ketinggian dan masuk dalam lingkup kabupaten sigi dan kecamatan kulawi. Jarak desa Winatu dengan ibu kota kecamatan kurang lebih 15 kilometer dan berada pada ketinggian dan diapit oleh gununga dan hutan. Jalan yang terjal dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua membuat desa tersebut terasa jauh dan melelahkan.
Menurut masyarakat setempat dan mereka sangat meyakini bahwa Desa winatu atau masyarakat adat Powatua itu Sudah ada sejak 700 tahun yang lalu, yang mana ditandai dengan 8 kalinya Lobo ( Bahasa setempat adalah Rumah Adat ) berpindah dan diperbaiki. Masyarakat winatu atau masyarakat adat Powatua sendiri meyakini bahwa Lobo ( Rumah Adat ) akan diganti atau diperbaiki setelah berumur kurang lebih dari 100 tahun.
Jauh sebelum kedatangan kolonial belanda di kulawi, maka dulunya desa winatu dikenal dengan Ngata ( Penyebutan nama Desa dengan bahasa setempat ) To Powatua. Hingga pada akhirnya masyarakat Adat Powatua berganti nama desa menjadi desa Winatu atas Prakarsa Kolonial Belanda demi kepentingan politik semata dan juga agar mereka bisa lebih mudah mengucapkan dan mengingat.
Penamaan desa Winatu berasal dari nama panggilan seseorang yang dikenal dengan nama Tomanatu. Menurut bahasa setempat ( Bahasa Moma ) Tomanatu artinya adalah Bapaknya Natu, yang mana kata Toma ( Bapak ) disandangkan bagi seorang laki-laki yang sudah menikah dan memiliki anak. Oleh masyarakat setempat dan masyarakat desa tetangga tidak asing lagi dengan nama Tomanatu tersebut karena si Tomanatu tinggalnya tepat berada di perbatasan masuk ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) dan tepat pula diujung pendakian. Karena letak rumah yang strategis membuat orang yang akan masuk atau keluar Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ), menjadikan rumah Tomanatu untuk tempat peristirahatan sementara. Hingga pada akhirnya masyarakat setempat dan masyarakat tetangga menganggap nama Tomanatu sama halnya dengan Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) dan menganggap Tomanatu adalah bagian dari Ngata ( Desa ) tersebut. Misalnya, jika seseorang ingin pergi ke kampung lain cukup hanya dengan mengatakan kepada orang atau pamitan kepada keluarga untuk turun ke rumahnya Tomanatu, maka dengan sendirinya orang – orang dan keluarga akan paham jika dia ingin keluar Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) untuk ke Desa tetangga yang lain. Begitupun sebaliknya jika seseorang ingin mau ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ), cukup hanya dengan mengatakan mau pergi naik kerumahnya Tomanatu, maka dengan sendirinya pula orang – orang atau keluarga tahu bahwa dia ingin ke Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ). Penyebutan nama Tomanatu sebagai gambaran Ngata ( Desa ) To Powatua ( sekarang dikenal dengan desa Winatu ) terus dilakukan sampai pada saat kedatangan bangsa kolonial belanda. Hingga akhirnya bangsa kolonial belanda mengganti nama Ngata ( Desa ) To Pewatua menjadi Ngata ( Desa ) Winatu hingga sekarang ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang menurut aturan adat yang berlaku di komunitas Powatua ( Desa Winatu ) meliputi beberapa bagian, yaitu :
1. Wanangkiki
Wanangkiki adalah Hutan lebat yang berada sangat jauh dari pemukiman penduduk.
2. Wana
Wana adalah Hutan lebat yang berada kurang lebih dari 5 kilometer dari pemukiman penduduk. Wana diyakini adalah hutan yang memberi penghidupan bagi masyarakat dan harus dijaga kelestariannya. Wana adalah sumber penghidupan masyarakat desa Winatu, yang mana pemanfaatannya adalah sebagai sumber mata air, untuk mencari damar, mengambil kayu untuk pembangunan rumah, mengambil rotan dan obat-obatan.
3. Panulu
Panulu adalah hutan atau lahan yang sengaja diperuntukan untuk keberlangsungan hidup masyarakat setempat, yakni hutan atau lahan yang sengaja dipersiapkan untuk areal perkebunan atau perladangan.
4. Oma
Oma adalah kebun atau ladang
5. Bilingkea
Bilingkea adalah bekas kebun yang masih memiliki tanaman, seperti rica dan terung.
6. Oma Nete
Oma Nete adalah bekas kebun yang sudah berumur 2 sampi 6 tahun.
7. Oma Ntua
Oma Ntua adalah bekas kebun yang sudah berumur 7 sampai 25 tahun dan berubah fungsi menjadi panulu.

 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Powatua ( Desa Winatu ) dibagi menjadi 3 yakni :
1. Pepunula
Pepunulua adalah kepemilikan perorangan atau perkeluarga.
2. Panguru
Panguru adalah kepemilikan secara bersama-sama atau biasa dikenal dengan Komunal. Contohnya adalah pembukaan kebun secara berkelempok atau secara bersama-sama dan hasil panennya pun dibagi secara merata.
3. Molamara
Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya. Molamara yang dimaksud adalah sebuah kandang ternak.
 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Ada
Struktur Struktur kelembagaan adat terdiri dari : 1. Tadulako 2. Galara 3. Pabisara 4. Tondo
Tugas dan fungsi masing-masing adat adalah :
1. Tadulako
Tadulako adalah pengawal dan sekaligus orang yang dipercayakan untuk mengatur perkara.
2. Galara
Galara adalah orang yang dipercayakan sebagai penghubung dan komunikasi.
3. Pabisara
Pabisara adalah orang yang dipercayakan sebagai pembicara dalam proses peradilan sampai pembacaan kuputusan.
4. Tondo
Tondo adalah orang yang dipercayakan sebagai penjaga keamanan, baik dalam proses sidang adat maupun kemanan Ngata ( desa )
 
Motangara, Mototo, Mopoti dan Mobotohi ( Membicarakan Masalah, Menganalisa Masalah, Menimbang Masalah Secara Bersama dan Pengambilan Keputusan ) 

Hukum Adat

Proses yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah atau kawasan hutan dan pemanfaatan sumber daya alamnya dilakukan secara arif dan bijaksana sebagaimana yang sudah diatur dalam aturan adat dan disepakati secara bersama.
Aturan adat yang dimaksud dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah atau kawasan dan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Alamnya adalah :
1. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, sperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
2. Memperbolehakn mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua. 
Aturan adat yang mengatur pranata sosial adalah :
1. Ada Mpojama
Yaitu pengaturan kerja, Baik itu kerja bakti desa atau kerja kebun
2. Ada Mpompinaturu
Yaitu aturan untuk penggembelaan, baik secara kelompok maupun secara perseorangan. Penggembelaan secara komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut dengan Lambara. Juga mengatur perselisihan kepemilikan hewan ternak.
3. Ada Mpopanta
Yaitu aturan untuk mekanisme pembagian harta, baik harta orang tua maupun harta suami istri
4. Ada Mpobetuvuri
Yaitu aturan yang mengatur tatanan social, seperti gotong royong dan saling tolong menolong.
5. Ada Mporongo
Yaitu aturan yang mengatur perkawinan
6. Ada Mpampontumpu
Yaitu aturan yang mengatur tentang kepemilikan lahan atau tanah
 
Givu: Denda
Penamaan Givu atau denda berlaku untuk semua pelanggaran yang sudah diatur oleh dewan adat. Aturan itu juga berlaku bagi semua orang yang sudah masuk dalam wilayah adat tersebut.

Contohnya :
1. Masuk kedalam kamar wanita yang belum kawin tanpa permisi atau tanpa persetujuan tuan rumah ( orang tua wanita ) dan wanita tersebut. Maka akan dikenakan sanksi berupa 1 ekor kerbau atau 1 ekor babi. Sanksi yang akan dikenakan tergantung berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan.
2. Mosalara ( berzina ) : akan dikenakan denda 4 ekor kerbau

Mosalara :
Mosalara adalah aturan adat yang mengatur tentang perzinahan.

Contohnya :
Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahui melakukan perzinahan atau disebut biasa dengan selingkuh, maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau tersebut akan dibagi yakni 3 ekor buat istri pelaku dan 1 ekor buat suami pelaku.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu dan ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tainyara : untuk Penyakit dalam Tavo’o : Penurun panas ( bisa diminum semua usia ) Pakumba : Untuk menyembuhkan bisul dan panas tinggi Lumut : untuk memberhentikan darah atau pendarahan Katumbara : untuk luka dalam Tomanara : Diperuntukan bagi ibu yang selesai melahirkan Untuk percepatan penyembuhan, pengeringan dan anti racun atau bakteri. Caranya : 1. Daun Tomanara tersebut dihangatkan diatas api lalu ditempelkan pada alat kelamin wanita. 2. Daun Tomanara tersebut dimasak lalu airnya diminum
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun Rumbia untuk atap rumah adat, kayu bulat untuk tiang
Sumber Sandang Pakaian Adat : Pakaian adat yang digunakan masih berasal dari kulit kayu yang biasa disebut dengan kayu Umayo. Kulit kayu Umayo dan Kuva, kemudian diolah menjadi baju yang disebut dengan Inodo. Pewarna : Pewarna untuk baju adat masih menggunakan pewarna alami yaitu berasal dari buah pohon Ula. Warna yang dihasilkan adalah warna coklat. Warna yang dihasilkan juga bisa coklat tua dan coklat muda.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Untuk bumbu dan rempah-rempah masih mengambil dari hutan, misalnya : 1. Daun Lemon 2. Arogo 3. Onco 4. Rampantobu 5. Bombo Rempah-rempah tersebut digunakan untuk penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kelapa, padi dan cengkeh

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen