Wilayah Adat

Huta Langge Langge, Talian Lumban Nahor, Bius Lobu Tua.

 Teregistrasi

Nama Komunitas Op. Parlanggu Bosi Situmorang
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota SAMOSIR
Kecamatan Palipi
Desa Saor Nauli Hatoguan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Huta Langge Langge, Talian Lumban Nahor, Bius Lobu Tua.
Kondisi Fisik Dataran,Perairan
Batas Barat Wilayah adat Sumba (Sungai Riman)
Batas Selatan Wilayah adat Parbulanan dan Wilayah Adat Tangga Bosi (Pal Batas dan Kebun Kopi Lintor)
Batas Timur Wilayah adat Sinaga dan Wilayah adat Situmorang Lumban Nahor (Sungai Rau)
Batas Utara Wilayah adat Situmorang Lumban Nahor (parik yang berupa lahan yang ditinggikan)

Kependudukan

Jumlah KK 28
Jumlah Laki-laki 59
Jumlah Perempuan 50
Mata Pencaharian utama Petani kopi dan Peternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Bahwa dulunya (sekitar 250 tahun yang lalu) nenek moyang mereka yang bernama Op. Parlanggu Bosi Situmorang berangkat dari Desa Parmonangan ke daerah Lobu Tua-Huta Godang, yakni daerah atau tanah marga Situmorang Lumban Nahor. Dulu Op.Parlanggu Bosi Situmorang memiliki ilmu (datu/dukun), yang sampai saat ini peninggalannya berupa alat-alat atau barang pusaka (Sangge atau alat berburu jaring babi, Sapa atau tempat meramu obat yang terbuat dari kayu) masih bisa ditemui di rumah pusaka peninggalannya. Op.Parlanggu Bosi Situmorang memiliki istri yakni br Sijabat. Setelah di Lobutua ia kemudian menikah untuk yang ke dua dan ketiga kalinya, keduanya br Simbolon dari huta Simbolon.

Suatu ketika di daerah Lobu tua terjadi perselisihan (pertikaian) antara Sumba dan Lontung dalam memperebutkan batas wilayah. Op.Parlanggu Bosi Situmorang berperan dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan menentukan tapal batas wilayah Sumba dan Lontung. Demikian Op.Parlanggu Bosi Situmorang membantu marga Situmorang Lumban Nahor yang menguasai/menduduki sebagian wilayah Lontung yang berbatasan langsung dengan wilayah Sumba. Akhirnya setelah perselisihan berakhir, untuk membalas kebaikan Op.Parlanggu Bosi Situmorang, oleh Situmorang Lumban Nahor (saat itu sebagai Raja Tano) memberikan sebidang tanah untuk dipilih Op.Parlanggu Bosi Situmorang (Situmorang Suhut Nihuta) menjadi areal perkampungannya beserta keturunannya.

Demikian Op.Parlanggu Bosi Situmorang akhirnya menunjuk kampung ini (Langgelangge) menjadi perkampungannya atau wilayah kekuasaannya.

Sesuai dengan kebiasaan orang Batak saat membuka perkampungan, Raja tano memberikan:
1. Parhutaan (tambak/parumasan tempat penyatuan tulang belulang nenek moyang, parit huta sebagai perbatasan huta).
2. Saba (areal persawahan).
3. Pangulaan Butu Raja (perladangan yang berjarak ±1 km dari Langgelangge ).
4. 4. Parjampalan (tempat yang sengaja tidak diusahai untuk dijadikan tempat penggembalaan ternak).

Lalu Op.Parlanggu Bosi Situmorang mengadakan pesta peresmian huta Langelangge dengan mengundang Raja Bius, natu-tua huta (para tetua adat) di Lobutua serta raja bius tetangga sesuai adat yang berlaku pada masa itu. Demikian Op.Parlanggu Bosi Situmorang mulai menata perkampungannya, dan keturunannya semakin banyak. Saat ini keturunannya sudah banyak yang merantau. Sampai sekarang keturunan Op.Parlanggu Bosi Situmorang sudah 5-6 sundut (generasi). Saat ini, perkampungan ini didiami 28 KK turunan Op.Parlanggu Bosi Situmorang. Keturunan dari Op Parlanggu Bosi terdiri dari beberapa ompu seperti
- Op. Ampamasa
- Op. Bunga Jadi
- Op. Bilangan
- Op. Runti
- Op. Rajaniain
Tanah yang luasnya sekitar 172.15 Ha, yang disebut dengan Pangulaan Buntu Raja, oleh pihak Kehutanan menyebutnya dengan Dolok Panantanan, mereka kelola sebagai areal perladangan secara tradisional, yakni masa penanaman 3 tahun untuk bertanam padi gogo, dan tanaman lainnya, setelah itu tanah diistirahatkan selama berpuluh tahun, membiarkan tanah ditumbuhi ilalang agar unsur hara tanah pulih untuk penanaman berikutnya. Selama masa istirahat tanah, mereka berpindah berladang ke lahan sekitarnya, dan lahan ini dijadikan tempat penggembalaan ternak, begitulah cara mereka berladang saat itu.

Tanah ini terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk antara Huta Paningkiran dengan Huta Langge-langge (keduanya masih di Kecamatan Palipi). Tanah tersebut diapit lahan masyarakat, dan hanya dibatasi gundukan tanah yang sengaja dibuat Dinas Kehutanan (tidak ada tanda batas seperti pilar).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Parhutaan adalah areal yang digunakan sebagai perkampungan.
2. Pakaisan ni manuk adalah areal pekarangan rumah yang diperuntukan untuk tempat unggas mencari makan.
3. Jalangan adalah tempat pengembalaan ternak yang berupa hamparan lahan berupa padang rumput.
4. Balian adalah kebun kebun masyarakat yang diperuntukan untuk menanam tanaman seperti kopi, pisang, bawang putih dan tanaman lainnya
5. Tombak adalah hutan yang digunakan untuk tempat mengambil kayu hasil penanaman masyarakat.
 
Setiap rumah yang ada di parhutaan sudah terbagi kepada setiap kepala keluarga, namun setiap keluarga ini tidak memiliki tanahnya namun hanya diberikan izin tinggal pada parhutaan. Izin diberikan oleh tunggane huta. Sehingga rumah ini tidak bisa dijual kepada orang lain. Setiap kepala keluarga dapat mewariskan rumahnya kepada anaknya, dan yang berhak untuk mendapatkan warisan berupa rumah adalah anak laki laki bungsu.

Balian yang ada di wilayah adat Op. Parlanggu Bosi sudah dibagi rata berdasarkan keturunan Op. Parlanggu Bosi yang terdiri dari
- Op. Ampamasa
- Op. Bunga Jadi
- Op. Bilangan
- Op. Runti
- Op. Rajaniain
namun hak yang diberikan hanya sebatas pengelolaan balian, masyarakat bebas menentukan tanaman apa yang akan ditanam baik kopi, bawang putih, jahe dan tanaman lainnya. Tanah yang ada di balian bersifat komunal dan tidak dapat diperjual belikan, namun tanah ini dapat diwariskan kepada anak anaknya. Dalam konteks ini yang mendapatkan hak pewarisan terhadap balian ini adalah anak laki laki sulung dan perempuan

Pada jalangan semua keturunan Op. Parlanggu bosi dapat memanfaatkan seluruh jalangan yang ada. Jalangan bersifat kepemilikan bersama. Dalam pengelolaannya jalangan tidak dibatasi oleh pagar untuk menunjukan areal per kepala keluarga. Hal yang dilakukan adalah dengan memagari balian agar ternak ternak tidak merusak tanaman yang ada. Jika ada keluarga yang belum memiliki balian untuk bercocok tanam maka masyarakat dapat meminta lahan di jalangan ini untuk dijadikan balian kepada tunggane huta. Berdasarkan informasi terdapat lebih dari 50 ekor kerbau, empat ekor sapi dan 3 ekor kambing, serta ditemukan lima ekor kuda liar,

Tombak secara pengelolaan sudah terbagi kepada seluruh keturuna Op. Parlanggu Bosi namun tanah di tombak ini bersifat kepemilikan bersama. Masyarakat banyak menanam pohon durian dan jengkol disekitar parhutaan. Kegiatan penebangan pohon sangat jarang dilakukan, karena penebangan pohon tidak dilakukan untuk kebutuhan komersial namun hanya untuk keperluan membangun prasarana maupun rumah.

 

Kelembagaan Adat

Nama Tunggane Huta
Struktur Struktur lembaga adat yang ada di Op. Parlanggu Bosi hanya di kepalai oleh seorang tunggane huta. Dalam beberapa kegiatan Tunggane huta dapat menunjuk perorangan untuk membantu kegiatannya seperti dalam melakukan acara adat.
Mengatur pranata sosial maupun pengelolaan wilayah yang ada diwilayah adat parlanggu bosi
1. Memberikan izin untuk membangun rumah baru di parhutaan
2. Memberikan persetujuan untuk membuka lahan baru untuk balian
3. Memimpin musyawarah
 
Dalam mengambil keputusan yang penting, tunggane huta selalu melibatkan seluruh masyarakat adat Op. Parlanggu Bosi dalam musyawarah.

Tidak setiap orang dapat menjadi tunggane huta, hanya kepada keturunan dari tunggane huta yaitu anak sulungnya yang dapat menjadi tunggane huta. Namun apabila anak sulungnya pergi merantau bisa diturunkan ke anak selanjutnya.
 

Hukum Adat

Untuk membangun rumah baru pada parhutaan harus meminta izin lewat tunggane huta, kemudian tunggane huta akan membuat acara adat
Hak pewarisan yang diberikan kepada anak laki laki bungsu berupa rumah, sedangkan anak laki laki sulung berupa lahan yang harus dikelola baik berupa balian maupun tombak, dan untuk anak perempuan hanya diberikan untuk mengusahakan lahan berupa balian dan tombak
Alih fungsi lahan dapat dilakukan adalah dari jalangan ke balian. Alih fungsi lahan ini dapat dilakukan dengan cara meminta izin ke tunggane huta, lalu keputusan akan diambil dalam musyawarah dengan warga yang dipimpin oleh tunggane huta.

 
Pernikahan
1.) Tidak boleh pernikahan satu marga.
Sanksi = dikeluarkan dari adat.
Pencurian

 
Ada pelecehan seksual kemudian korban pelecehan mengadu ke penatua kampong, lalu penetua kampong mengumpulkan orang selingkungan untuk menyelesaikan persoalan.
Kemudian pelaku membawa makanan dan memotong babi dan kemudian memberikan denda berupa sejumlah uang yang disepakati kedua belah pihak yang disaksikan panatua kampong.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan -
Papan dan Bahan Infrastruktur Pinus dan damar
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bawang putih, jahe, cabe, cengkeh,
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, kerbau, kambing, sapi, kuda