Wilayah Adat

Sadei Air Lanang

 Terverifikasi

Nama Komunitas Kutei Air Lanang
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota REJANG LEBONG
Kecamatan Curup Selatan
Desa Air Lanang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.947 Ha
Satuan Sadei Air Lanang
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat 1. Desa Tanjung alam Kabupaten Kepahian mulai dari Pungguk Pinnag Belapis sampai ke Air Gegas. 2. Desa Rena Kanis Kabpaten Bengkulu Tengah mulai dari Air Gegas sampai ke Bukit Kerbau
Batas Selatan Desa Tanjung Dalam Kecamatan Curup selatan mulai dari Air Tik Napal sampai ke Pungguk Pinang Belapis
Batas Timur Desa Tanjung Dalam Kecamatan Curup selatan mulai dari Air Bulak sampai ke Air Tik Napal
Batas Utara 1. Desa Gading Bengkulu utara mulai dari Bukit Kerbau sampai ke Ulu Ai Lemau. 2. Desa Karang Jaya Kecamatan Bermani Ulu Raya mulai dari Ulu Ai Lemau sampai ke Air Bulak

Kependudukan

Jumlah KK 680
Jumlah Laki-laki 1020
Jumlah Perempuan 1080
Mata Pencaharian utama Petani,Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Suku Rejang berasal dari semenajung vietanam / Yunan, Cina selatan, sekitar 1.200 tahun yang lalu melalui Kalimantan mereka pindah ke Sumatera, mereka berlayar menuju Serawak dan sebagian menetap di sana. Sebagian lagi belayar melalui Pulau Bangka menduduki Sugai Musi menuju Sungai Rawas hingga ke daerah paling hulu, kemudian memudiki Sungai Rawas melalui Gunung Hulu Tapus sehingga menetap disana. Yang memudiki Hulu Sungai Musi menetap di wilayah Dusun Sawah dan Air Lang (Hulu Sungai Temau), mereka menetap di wilayah Air Lanang kira-kira abad ke-1 sampai abad ke-5 masehi. Zaman tembikar dari tanah liat yang banyak terdapat di Desa Air Lanang hulu Sungai Lemau mereka menetap disana cikal-bakal kerajaan Sungai Lemau. Jadi Kerajaan Sungai Lemau mewakili suku bangsa Rejang dengan raja pertama kerajaan Sungai Lemau Maha Raja asli tunjang Kutei / Desa Air Lanang. Terdapat bukti peninggalan zaman batu dan tembikar dari tanah liat bekas Kutei zaman dahulu.
Penduduk rejang bermani menerima pengaruh peradaban Hindu Buddha dari India pada abad ke-4 – abad ke-5 masehi. Buni dan peti mati yaitu kebudayaan tembikar atau guci dari tanah liat berkmbang di Rejang Bermani / Kutei Air Lanang banyak ditemukan kuburan dari guci tanah liat.
Asal usul kerajaan Rejang Sungai Lemau berasal dari keturunan Kutei Air Lanang. Kutei Air Lanang bermani hulu Sungai Lemau di Bukit Mulang abad ke-5-7 masehi. Mereka turun ke pesisir menyusuri Sungai Lemau menuju sampai ke barat, ke muara Sungai Lemau yang sekarang bernama Kecamatan Pondok Kelapa.Kerajaan Sungai Lemau itulah yang mewakili suku Bangsa Rejang, karena banyak peninggalan dari zaman batu, peninggalan tembikar dari tanah liat, kerbau batu, orang kerja sedang menggesek kayu semua terbuat dari batu yang terdapat dari Bukit Mulang sampai Bukit Kerbau. Sejak zaman batu sampai dengan abad ke-5 masehi telah ada perkampungan di wilayah Air Lanang.
Baginda Maha Raja Sakti menjadi Raja Ulu Bengkulu dan petulainya diberi nama Samitua atau Samitul yang dalam bahasa melayu artinya guruh. Nama Semi tua diberikan karena sewaktu penobatan baginda Maha Raja Sakti berbunyilah guruh. Sebagai tempat kedudukan kerajaan, raja memilih wilkayah di muara Sungai Lemau, berdekatan dengan Dusun Pondok Kelapa yang sekarang, bukan Muara Sungai Bengkulu. Adapun barang-barang pusaka yang beliau tinggalkan untuk anak keturunannya (jurai) terdiri dari dua pucuk meriam kecil bernama Si Corang dan si Curik, sebilah pedang bernama Jabatan, sebuah tembak, kesemuanya tersimpan di musium di Bengkulu.
Pada tanggal 1 Juli 1695, Gubernur Inggris Charles Bort Well 1695-1696 mengundang Raja Sungai Lemau, pada waktu Raja Sungai Lemau diterima dengan penuh kebesaran (Barcsad kehormatan pukulan tambur dan letupan meriam). Dan diadakan pula jamuan makan dengan memotong dua ekor kambing.
Pada tahun 1710 sehubungan dengan besarnya gelombang di Muara Sungai Lemau, dan tempat itu penuh rawa-rawa selain itu juga kurang strategis, Inggris memindahkan kantor dagangnya ke Ujung Karang (tahun 1714) di bawah pemerintahan wakil Gubernur Joseph Collet (1712-1716) di Ujung Karang dididirikan satu benteng yang kuat dan kokoh yang terkenal dan nama benteng tersebut adalah Benteng Forth Mariboro, sisa benteng tersebut hingga saat ini masih dapat di Kota Bengkulu.
Kerajaan Sungai Lemau ini mewakili Suku Bangsa Rejang. Ketika John Marsden menjadi Residen Inggris di Lais (1775-1779), ia pernah bertemu dengan Pangeran Sungai Lemau yang bernama Pangeran Mohammad Syah’i. Marsden menganggap Pangeran Mohammad Syah’i sebagai seorang muslim yang sangat berbedadan penuh dengan sopan santun. Jhon Marsden juga menggambarkan keadaan Suku Bangsa Rejang pada zaman itu sebagai berikut:
“The Rejang are distinauishedinto tribes (Rejang Ulu Sungai Lemau). The Deswend ants of different pooyang or ancestor of the ade four principal tribes. Bermanie your call sloopu and too bye side to derive their origint from four brothers, and to hart been from time immorial in a langue og finst and devensife...There and sereal inferior trebes.”
Pada tahun 1770 Inggris membentuk suatu dewan Pangeran di Bengkulu, dengan nama “Pangeran Cours” sebagai wadah banding terhadap keputusan-keputusan dalam perkara yang di alami oleh kepala-kepala dusun.
Raja Kerajaan Sungai Lemau, Pangeran Linggam Alam, (klan orang Lanang Poyang Linggar Alam) duduk dalam dewan pengadilan, pada tanggal 22 maret 1818 dewan kapal Inggris, “The Lady Raffles” sampai di kota Bengkulu. Raffles dan istrinya Sophia Hull yang kemudian menjalankan pemerintahan Inggris di Bengkulu sebagai Gubernur.
Dalam perjalanan ekspedisi ke Timur, Raffles ke Air Lanang (Air Land) di daerah Bukit Mulang dan sekitarnya (tahun 1818) yang disertai istrinya dan jiuga Dr. Arnold, pada tahun 1818 dalam perjanjian tanggal 7 Juli 1818 Letnan Gubernur Inggris, Raffles meresmikan peleburan Kerajaan Sungai Lemau dengan Raja diserahkan oleh Pangeran Linggam Alam. Pada waktu penyerahan pemerintahan jajahan Inggris atas daerah Bengkulu kepada Pemerintahan Jajahan Belanda pada tanggal 17 Maret 1825, berdasarkan traktad London bertanggal 17 Maret 1884.
Maha Raja Sakti dalam Bahasa Rejang pernah bersumpah dan minum air ditulung keris tidak akan menganiaya satu sama lain dengan disertai ucapan sumpah seperti berikut, “Barang siapa munakir dimakan kutuk bisu kawi di bawah tidak berakar, di atas tidak berpucuk, kedarat tidak boleh dimakan, ke air tidak boleh diminum.”
Zaman Belanda-Inggris
P. Wink Kontrolis Lais (1924-1929) dalam memorinya mengenai “Het Vroet Pangeran Bestoor Van” Sungai Lemau bahwa penetapan Baginda Maharaja Sakti di Sungai Lemau dapat dianggap baru pada awal abad ke-17.
Anak Baginda Maharaja Sakti adalah Baginda Sebayam yang memakai gelar Tudu Pati Banaun Negara. Pada tahun 1668 masehi (1079 H) Tuan Pati Bangun bersama-sama dengan Depati Bangso Radin dari Kerajaan Si Lebar (Bengkulu), pergi ke Banten untuk menyatakan bahwa kerajaan mereka mau bekerjasama dengan kerajaan Banten pada masa zaman Sultan Dgena Tirtayasa (1651-1685).
Tuan Pati Bangun Negara, Raja Kerajaan Sungai Lamau mendapatkan gelar Pangeran Raja Muda, dan mendapatkan piagaram dari Letnan Gubernur Jendreral Inggris, SIR TH ST. Raffles pada tahun 1824 di Bana dan di Hilana.
Menurut Banyamin Bloomt (Inggris), penduduk Kerajaan Lemau Pangeran Raja Muda (1685) telah menganut agama Islam. Karena pada waktu mereka datang bertepatan dengan Bulan Puasa Ramdhan. Penduduk sedang berpuasa, selain itu, jika bersumpah penduduk juga menggunakan Kitab Suci Al-qur’an.
Berkata Benyamin Bloomt dalam suratnya, “We coming just about the time of their Ramadhan or time of fasting. He must the fort as the had dont swear upon the al-qur’an to be truth and fartful to the honourable Company.”
Tiga bulan sesudah pedagang Inggris menetap di Sungai Lemau, perdagangan beretambah maju dan ramai. Dalam waktu singkat telah banyak rumah dan toko didirikan di sekitar Fort York. Ini berdasarkan catatan pada tahun 1712.
Pada tanggal 5 Juli 1660, pedagang Belanda di bawah pimpinan Komisaris Bolthasar Bort mengadakan perjanjian dagang dengan Raja Selebar, disusul dengan pendirian benteng Belanda di Kandang sampai sekarang masih dapat dilihat sisa-sisa benteng tersebut, yaitu dua pucuk meriam VOC, bertanggal 11 Agustus 1915.
Pangreran dari Sungai Lemau mengangap diri mereka merdeka penuh pada tahun 1695. Kemudian Inggris mengadakan perjanjian dengan Raja Sungai Lemau. Intisari dari perjanjian tersebut adalah monopoli hasil-hasil alam dan rempah-rempah kepada pedagang Inggris.
Pangeran dari Sungai Lemau mengaku sebagai Kepala Suku Bangsa Rejang. Kerajaan Sungai Lemau yang berada di bawah Pangeran Linggam Alam dan wilayahnya adalah Lais, Keretapati, Air Besi, Air Padang, Padang Betua, Sungai Lemau Ulu (Air Lanang, Tanjung Alam, Pungguk Lalang, Curup Selatan).
Setelah Pangeran Linggam Alam meninggal dunia pada bulan Juli 1833, beliau digantikan oleh anaknya yang tertua yang bernama Pati Negara (Pati Pudu/Pudau), dengan keputusan pemerintah jajahan Belanda tertanggal 3 Agustus 1836, No. 5. Pati Negara diberi gelar Pangeran Mohammad Syah II.
Raja Pati Negara / Pati Pudu balik ke tanah asalnya, Kutei Air Lanang/ Lanang Nian. Wilayah Bukit Mulang, Bukit Kerbau dan sekitarnya. Raja kembali ke tanah leluhurnya sampai akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan di Air Lanang. Inilah asal-usul Kutei Air Lanang sekarang. Bukit Mulang artinya kembali ke tanah asal nenek moyang. Inggris menamai Kutei Air Lanang dengan sebutan Air Land (Negeri di atas awan), karena wilayah Kutei Air Lanang yang sering ditutupi kabut.
Pada tahun 1861-1865 asisten Reseiden Belanda J. Willand di pindahkan dari Palembang ke Bengkulu. J. Willand menggantikan Regent/Kecamatan tersebut dengan marga-marga, seperti yang dijumpainya di keresidenan Palembang.
Beliau menetapkan suatu undang-undang sumber daya untuk semua pengadilan asli di Keresidenan Bengkulu. Semua tindakan J. Walland tersebut sebenarnya bertentangan dengan kehendak masyarakat Suku Rejang, karena mereka mempunyai hukum adat sendiri.
Adapun pengadilan Adat Suku Rejang Bermani:
1. Rapat Dusun/Kutei yang diketuai oleh Kepala Dusun
2. Rapat Magra diketuai oleh Kepala Marga
3. Rapat Kecil
4. Rapat Besar
Dalam prakteknya di zaman kemerdekaan Republik Indonesia, ialah rapat Dusun Kutei. Pengapusan pengadilan adat tidak berarti penghapusan hukum adat Suku Rejang. Hukum Adat Rejang tetap diakui, karena telah diatur oleh undang-undang No. 14 tahun 1970.
Dengan demikian timbullah satu masyarakat hukum adat yang disebut dengan istilah Tuai Kutei. Kutei berasal dari Bahasa Hindu, yang apabila diterjemahkan kedalam Bahasa Melayu memiliki arti Dusun Yang Berdiri Sendiri (Otonom).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Hutan (imo)
Merupakan kawasan yang dilindungi yang tutupan lahannya berupa kayu-kayu besar, tempat keramat dan sumber mata air.
2. Sawah (sawe”ak)
Merupakan Areal yang dijadikan sawah aktif yang digunakan untuk bercocok tanam padi. Sebelum dikelola menjadi saweak lokasi ini bernama jamai. Yaitu bekas kebun yang ditanami padi yang sudah ditinggalkan selama setahun atau lebih.
3. Kebun (dumei)
Merupakan areal perkebunan aktif masyarakat dengan tutupan lahan berupa tanaman kopi, palawija dll. Dalam dumai atau kebun terdapat sakea yaitu: lokasi bekas tanaman palawija yang sudah ditinggal dan ditumbuhi rumput, batang kayu dan semak belukar.
4. Pemukiman (talang)
Merupakan areal pemukiman bagi yang masyarakat yang didalamnya berisi tegakan bangunan tempat tinggal, pekarangan, dan sarana fasilitas umum seperti: sekolah, balai kesehatan, masjid, dll.
 
Sistem kepemilikan ada yang menjadi milik Bersama dan juga milik pribadi. Adapun yang menjadi milik Bersama berupa Hutan (Imo). Dan yang menjadi
Milik Pribadi berupa: Kebun (Dumei), Sawah (Sawea”ak) dan Pemukiman (Talang). Mekanisme atau tata cara dalam memperoleh tanah di wilayah adat setempat adalah: tanah yang belum pernah dibuka masih dalam bentuk hutan atau imo merupakan milik Bersama. Tetapi setelah di racas (dibersihkan) itu hak kepemilikan masih menjadi milik adat. Setelah diurus hak izin kepada Lembaga adat maka baru bisa menjadi hak milik pribadi. Dalam tata cara pemberian penguasaan hak tanah, lembaga adat melakukan sejenis ritual “Semsak Sawo” untuk menerangkan kepada Kutei Natet (warga Adat) bahwa tanah ini sudah diserahkan kepada orang tertentu. Dasar hukum kepemilikan sebuah tanah pada zaman dahulu tidak memakai perjanjian tertulis tapi dengan “semsak Sawo” sudah dianggap sebagai pengikat sebuah perjanjian ini. Begitu juga kalau orang yang tersebut ingin mengembalikan tanah tersebut kepada Lembaga adat, maka akan dilakuan ritual “semsak sawo” kembali. Dalam kepemilikan individu pemindahan lahan terjadi dalam pewarisan dan juga jual beli dengan masyarakat sekitar. Peralihan tersebut dilakukan secara lisan antar kedua belah pihak namun diketahui oleh Lembaga adat dan perangkat desa setempat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kutei Air Lanang
Struktur Struktur kepengurusan lembaga adat di Kutei Air Lanang mengalami perubahan. Awalnya terdiri dari: 1. Ketua adat/Tuei kutei 2. anak kutei 3. Depati 4. Penggawa 5. Imam atau sarak 6. Khatib atau Bilal 7. Garim Namun seiring dengan penyesuaian Perda yang ada tentang BMA yang ada. Saat ini (2018) strukturnya meliputi: 1. Ketuai BMA 2. Wakil Ketuai BMA 3. Pengurus BMA Ketuai BMA dipilih dengan melalui penunjukan 3 calon oleh Kepala Desa, Ketiga calon tersebut berembuk untuk menentukan ketua BMA. Periode jabatan dalam BMA mengikuti suksesi pemerintahan desa.
Struktur Lama
1. Ketua adat/Tuei kutei:
a. Mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan adat baik itu ritual adat dan juga perkara adat.
b. Mengatur tentang pembagian tanah.

2. Anak Kutei: Membantu Ketua dalam urusan adat
3. Depati: Membantu Anak Kutei.
4. Penggawa: Membantu Depati
5. Imam atau sarak: Membantu Penggawa
6. Khatib atau Bilal: Membantu Imam atau Sarak
7. Garim: Membantu Khatib atau Bilal

Struktur Baru:
Ketua BMA: Pengambilan keputusan bersama dengan kepala desa/patai Sadie terkait segala urusan, Memimpin peradilan adat, Bertanggungjawab dalam pelaksaan ritual/tradisi adat.

Wakil Ketuai BMA: Mengurus administrasi dan Mengurus keuangan
Pengurus BMA: Membantu Ketuai BMA dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
 
Cara mengambil keputusan dengan cara Basen (musyawarah). Basen atau musyawarah di beberapa tingkatan yaitu Antar-Keluarga, Tingkat Dusun, dan Tingkat Desa/Sadei.
Basen memiliki beberap tujuan yaitu:
1. Diskusi pelaksanaan tradisi/ ritual (Perkawinan, dll),
2. Penyelesaian sengketa/perselisihan,
3. Peradilan Adat,
4. Pengambilan keputusan terkait segala urusan, dan lain-lain.
Pihak-pihak yang hadir pada Basen-basen di tiap tingkatan itu mengikuti pihak-pihak yang sesuai dengan tingkatan dan dianggap perlu untuk hadir di dalam Basen tersebut.
 

Hukum Adat

1. Melaksanakan Kedurai. Kedurai adalah aturan adat sebelum pembukaan
hutan untuk lahan baru.
2. Nsepoa adalah prose pembakaran lahan supaya tidak
melebar kelahan orang lain.
3. Beto'ok adalah prose penanaman didarat dengan
pola organic.
4. Dilarang menebang Kiyeu Setimbang Alam (penyebutan untuk kayu
yang dilindungi)
5. Hutan Adat yang dilindungi biasanya hutan adat ini terdapat
dipinggiran Ulu Sungai tidak bisa dibuka untuk lahan masyarakat.

Aturan- aturan tersebut jika dilanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan adat yang berlaku.
 
Dilarang berselingkuh dan Berzina, bagi yang melanggar maka dikenakan sanksi “Punjung Mateak” yaitu membayar 1 ekor kambing atau 1 ekor ayam biring (berwara kuning), beras, dan rempah-rempah. Untuk kasus perselingkuhan ditambah dipukul pakai lidi daun kelapa hijau. Kedua pelaku harus meminta maaf ke tokoh-tokoh masyarakat untuk kemudian merekalah yang mencambuk pelaku itu.

Cepalo Tangen: Dilarang merugikan orang dengan tangan (pelecehan atau perkelahian), jika dilanggar maka dikenakan sanksi yaitu Punjung Mateak ditambah denda uang senilai yang disepakati oleh kedua pihak melalui pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Kaki: Dilarang masuk ke rumah/kamar orang tanpa izin, jika dilanggar maka dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mato: Dilarang mengintip orang (Istri, anak gadis, dll.), jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mulut: Dilarang memfitnah, mengancam, dan menghina orang lain, jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.
Dilarang membunuh, jika melanggar maka dikenakan sanksi berupa denda penuh berupa uang 25 juta dan Punjung Mateak.
Dilarang membawa lari anak orang (Kawin Lari/Bemaling), bagi yang melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing dan Punjung Mateak.
Kedurei (Kenduri)
 
Pada tanggal 11 Bulan November tahun 2019 terjadi kasus seorang pria yang belum menikah membawa kabur anak gadis orang. Dalam istilah adat ini disebut dengan “Bemaling”. Akhirnya penyelesaiannya secara adat. Kedua orang tersebut akhirnya dinikahkan dengan tata cara adat yang berlaku. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan 1. Karbohidrat: Padi, Ubi, Jagung, Singkong, Keladi, Sagu, Aren. 2. Protein Nabati: Kacang Tanah, kedelai,kacang ijo, kacang merah, 3. Protein Hewani: Ayam, Kambing, kijang,rusa, tapir, kancil, Kerbau, Bebek, Itik, Ikan Tidin, Ikan Putih, Ikan Baung, Ikan Nila, Ikan Puyuh, Udang, Belut, Ikan Mas, Ikan Tiluk, Ikan Kepyoa 4. Sayuran: Daun Singkong (Katubek), Pucuk Sayur Manis (Sejenis Kol), Pucuk Lumai, Genjer, Kangkung, Terong, Timun, Pakis, Kacang Panjang, Kacang Buncis, Pucuk Kates, Jengkol, Petai,unji, umbut, rebung. 5. Buah: Pisang, Kelapa, Nangka, Kates, Duku, Rambutan, Durian, Alpukat, Sirsak, Mangga, Belimbing, Jambu Telung (Jambu Biji), Slukut, Kisip, jambu mete, jambu bol, jeruk bali, jeruk gergah.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Jahe (Merah dan Putih) untuk obati Panas Dalam. Brotowali untuk obati malaria. Bawang Putih untuk obati masuk angin (dibakar dan dimakan). Rumput Kerak yang direbus untuk obati wasir. Selaseak (selasih) untuk obati panas dalam. Kunyit dan sedikit kapur untuk obati infeksi usus/maag, sariawan, dll. Jeruk nipis, bawang merah dan sedikit gula, dan sirih untuk obati batuk. Rumput Beling untuk obati batu ginjal (direbus dan minum). Buah pegeo untuk obat cacingan Sansea untuk obat cacingan Krue untuk obat asma Buah sudung untuk luka perut Kunyit putih untuk masuk angin Kunyit belanda untuk sakit gigi Kunyit kuning untuk maag Kayu hinono untuk obat mati layu Lidah buaya untuk rambut Beras untuk jadi bedak Kemiri untuk minyak rambut Tanah liat untuk lulur Buah limboa untuk ketombe
Papan dan Bahan Infrastruktur Atap: Kayu Sengon, Kayu Afrika, bambu,rumbia, alang-alang, sirap Dinding, Tiang, dan Lantai: Kayu Medang, Kayu Meranti, Kayu Sengon, Kayu Sien, Kayu Durian, Kayu Bembang Lanang, Kayu Mlung Tiang: medang batu,medang,meranti batu,meranti merah,jati.
Sumber Sandang Kulit kayu,getah karet,ginseng,gunjing,culumai,kulit pulai. Batang uber/pewarna,pinang/pewarna
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Lengkuas, Jahe, Lada, Cabe, Bawang Daun, Jeruk Lemeu, Pala, Kayu Manis, Daun Salam, Daun Sereh, Daun Sirih, kapulaga, unjei, tempoyak, cabe jawa
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Lada, Pinang, Pala, Kapulaga, Durian, Alpukat, Jengkol

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Air Lanang sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong 180.69.I Tahun 2020 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Air Lanang sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong No 5 Tahun 2018 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
3 Keputusan Bupati Rejang Lebong Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2019 Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Keputusan Bupati Rejang Lebong Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2019 SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen